1- Hi to Earth

Lee Keiko mengintip jendela kamarnya, matahari bersinar cerah hari ini. Salju yang turun tadi malam hampir tidak bersisa sama sekali. Wajahnya tersenyum cerah. Ini pertanda baik untuk interviewnya hari ini.
Ada beberapa hal yang paling dibencinya ketika musim dingin tiba di Seoul, suhu mendekati nol derajat, angin kencang dan salju. Tiga hal itu yang selalu membuat tubuhnya mengigil dan selalu membuat moodnya buruk. Kalau sudah memasuki musim dingin, sering kali ia berpikir untuk pergi menyusul orang tuanya di Amerika atau bermain ke Australia atau daerah lain dengan udara yang lebih hangat. Sayang, ia tidak sekaya Yunna, sahabatnya untuk bisa membiayai acara melarikan dirinya itu.
Ia kembali menatap sosoknya dalam cermin yang bertubuh ramping dengan rambut bob sebahu. Kemeja dengan pita bludru di bagian leher dipadu dengan rok pencil selutut berwarna hitam membalut tubuhnya. Tidak ketinggalan legging hitam yang membuat tungkainya terlihat makin jenjang dan jaket hitam panjang. Seulas senyum puas kembali menghiasi wajah Keiko.
“Keiko….. Udah siap belum?” panggil Yunna, roommate, sekaligus sahabat karibnya.
Keiko buru-buru keluar dari kamarnya. Karena sahabatnya itu akan mulai berteriak-teriak memanggilnya kecuali Keiko segera muncul dihadapannya. Daripada membuat mereka diusir oleh para tentangga, lebih baik ia bertindak bijaksana bukan?
Khusus untuk hari ini, Yunna yang akan mengantarnya. Keiko sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengagalkan rencana sahabatnya ini. Dari alasan jauhnya jarak antar TV-B — tempat interview Keiko dengan kantor Yunna, sampai alasan konyol lainnya sudah Keiko utarakan. Tapi Yunna tetap bersikeras untuk mengantarnya. Temannya ini menapik semua alasan Keiko dan meyakinkannya kalau kehadiaran seorang sahabat selalu bisa membuat dia lebih tenang dan percaya diri. Yunna berhasil memenangkan hatinya dan membuatnya menyetujui segala keinginannya.

Selalu seperti itu dari dulu.

Keiko masih ingat saat pertama bertemu dengan Yunna semasa SMA dulu. Keiko yang baru kembali dari Amerika tidak mempunyai teman sama sekali. Yunnalah orang pertama yang menyapanya. Memperkenalkannya dengan teman-teman lainnya dan klub berita yang dipimpinnya. Awalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan semua ide Yunna untuk membentuk tim baru bersamanya, tapi karena Yunna terus menerus bercerita tentang betapa seru dan menantangnya proses broadcasting, ia jadi tergoda untuk mencoba.
Sifat mereka sangat bertolak belakang. Kalau Yunna selalu blak-blakan, Keiko lebih sering menahan perasaannya dan bertindak sebagai pemikir diantara mereka. Rambut Keiko panjang sepinggang, sedangkan potongan rambut Yunna tidak pernah melewati bahu. Keiko juga lebih kalem dibanding Yunna. Anehnya, selera mereka bisa sama. Mereka sama-sama pengemar warna putih. Doyan orange juice, makan Tteokbokki (Stir Fried Rice Cake) dan bercita-cita menjadi anchor, pembawa acara.
Mereka menciptakan banyak acara untuk meramaikan suasana sekolah. Dari acara festifal, liputan sekolah sampai acara-acara aneh lainnya. Mereka menciptakan hari-hari khusus, seperti hari pudding, hati jajjangmyun, hari hiburan dan lainnya. Mereka tidak pernah kehabisan ide. Sampai-sampai teman-temannya memanggil mereka “sang duo NaKo”, the creator.
Permintaan yang tinggi untuk kemunculan NaKo membuat Yunna dan Keiko terus berimprovisasi. Mereka mulai  memakai kostum-kostum khusus untuk memperkuat image peran mereka. Namun alasan budget, mereka tidak bisa selalu membeli peralatan baru, bagaimanapun juga ini hanya kegiatan ekstrakulikuler di sekolah yang tidak menghasil keuntungan apa-apa, selain rasa puas. Jadi, Keiko mulai menjahit sendiri kostum-kostum tersebut.
Teman-teman mereka terus memuji hasil rancangan Keiko dan mulai memintanya untuk membuatkan baju. Tentu Keiko tidak memungut bayaran apapun juga, karena kebanyakan hasil jahitannya hanya tembakan dari majalah. Bukan murni hasil pemikirannya. Tapi Yunna tidak berpikir demikian, menurutnya minimal Keiko harus mendapat ongkos jahit, karena Keiko harus mengorbankan waktu dan tenaganya untuk tersebut. Atas bujuk rayuan Yunnalah, Keiko menjadikan keahliannya itu sebagai pekerjaan sampingan dan menerima pesanan teman-temannya.

Keiko sering sekali menginap di rumah Yunna, untuk membahas ide-ide mereka atau hanya sekedar main dengan sahabatnya itu. Orang tua Yunna, amat bersyukur kalau anak perempuannya ini bisa mendapatkan seorang sahabat yang dapat diandalkan seperti Keiko.
Lulus dari SMA, Yunna dan Keiko sama-sama memutuskan untuk tidak tinggal bersama keluarganya. Karena lokasi tempat kuliah yang dituju mereka lumayan jauh dari rumah orangtua mereka. Awalnya orang tua Yunna tidak mengijinkan. Tapi karena Keiko ikut tinggal bersama Yunna, mereka merasa lebih tenang.
Mereka tidak selalu tinggal berdua. Terkadang kakak perempuan Keiko menginap di sana kalau kebagian jatah lembur. Acara menginap berubah menjadi tinggal bertiga sampai akhirnya sang kakak menikah 2 tahun yang lalu.

Yunna harus merelakan cita-citanya dan masuk ke perusahaan raksasa yang dipimpin oleh kakak laki-lakinya. Karena ayahnya harus pensiun lebih awal dan memulai kampanye politiknya. Yunna sudah sempat menawarkan pekerjaan di perusahaannya pada Keiko, tapi Keiko menolak dengan tegas kalau dia tidak mau merepotkan keluarga Yunna lebih banyak lagi.
Jadi tinggallah Keiko sendiri yang belum bekerja padahal upacara kelulusannya sudah hampir 1 tahun berlalu.
Menjadi lulusan dari salah satu Universitas ternama di Korea tidak menjamin seseorang untuk dapat langsung bekerja. Padahal Keiko lulus dengan nilai cum laude. Dari 10 resume yang dikirim, hanya 5 yang menjawab. 4 diantaranya langsung menolak saat interview langsung karena penampilannya kalah menarik dari calon lainnya. Tinggal lamaran terakhirnya ke TV-B.
Sebagai salah satu entertainment TV terbesar di Korea, banyak orang yang berminat untuk bekerja di TV-B. Tapi tidak begitu dengan dirinya. Gosip dan selebritis adalah hal terakhir yang ingin dia bahas seandainya ia berhasil menjadi pembawa berita. Tapi lagi-lagi sahabat konyolnya itu memanasinya untuk menyerahkan resume ke TV-B.” Jaga-jaga saja” ucap Yunna saat itu.
Dengan enggan ia mengirimkan resumenya ke sana. Kebetulan mereka sedang mencari creative director. Ia mencantumkan semua kegiatan yang disusunnya bersama Yunna semasa SMA dan kuliah. Sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya harus mengantungkan harapannya pada TV-B.
“Kei, buruan!!! Gw uda mau telat nih!!!” panggil Yunna dari ruang tamu.
“Coming…” sahut Keiko setelah memastikan semua bawaannya lengkap. Tas tenteng hitam Miu-Miu hadiah dari kakak perempuannya dan kertas resume untuk interview.

Yunna menyetel lagu favorite mereka sepanjang perjalanan ke TV-B. Lagu dengan alunan menenangkan dari Yiruma. Mereka tidak banyak mengobrol karena Yunna sengaja memberi waktu tenang untuk sahabatnya ini. Berdasarkan pengalamannya, kalau pikiran Keiko sudah tenang, dengan sendirinya Keiko akan menjadi lebih percaya diri. Ia sangat berharap dengan dukungannya, sahabatnyay ini bisa diterima bekerja.
“Keiko, Figthing!” seru Yunna penuh semangat sebelum menurunkan Keiko dari mobilnya.
Keiko mengepalkan tangannya dan mengayunnya ke bawah seperti seseorang yang sudah memenangkan pertandingan. Yunna tertawa, sepertinya rencananya cukup berhasil. Sahabatnya sudah percaya diri.
Keiko melambaikan tangannya saat mobil Yunna beranjak pergi. Angin dingin bertiup cukup kencang, memainkan rambutnya ke kiri dan ke kanan. Keiko buru-buru merapatkan kerah jaketnya dan berlari masuk ke arah gedung megah di hadapannya.

Lobby sebuah perusahaan entertaiment sangat berbeda dengan gedung perkantoran pada umumnya. Orang hilir mudik dengan pakaian yang lebih santai dan penjagaannya juga jauh lebih ketat. Ia harus menunjukan surat panggilan interviewnya pada sekurities sebelum masuk lebih jauh. Ia tidak dibiarkan berkeliaran sembarangan, karena sang satpam mengantarnya langsung ke bagian HRD.
Keiko menyerahkan ID nya dan surat panggilan interview pada perempuan yang bediri di balik meja resepsionis. Tanpa berkata apa-apa, si resepsionis menyerahkan nomor urut dan memintanya langsung ke ruang interview yang terletak di lantai 12.
Keiko berjalan ke arah lift dan menunggu di sana bersama beberapa orang lainnya. Keiko memasang i-pod sambil menunggu kedatangan lift. Ia bisa merasanakan rasa tegang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya karena tangannya mulai berkeringat dingin. Ia jadi teringat pesan Yunna untuk mendengarkan musik saat ia tegang. Dikeluarkannya i-pod dari tas dan memasang earphone ke kupingnya. Ia sengaja menyetel volume sekeras mungkin, sampai tidak ada suara lain yang didengarnya selain dentingan piano Yiruma – pianis favoritenya.
Keiko yang masuk belakangan, membalilkan badannya dan berdiri paling depan dan paling dekat dengan pintu lift. Dia benar-benar tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang sedang bersamanya. Ataupun apa yang dilakukan oleh mereka. Ia terlalu sibuk dengan strategi menenangkan dirinya untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Tidak sadar kalau ada 5 cowok keren ikut masuk bersamanya.

Advertisements

4 thoughts on “1- Hi to Earth

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. Ehhhh unnie nulis juga…. Keren… Keren…. siiiº°˚˚°º aku lanjut ya….

    Jangan2 kelima cowo keren itu 東方神起 ya… *njengjeng* hehehehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s