11- Jealousy

Keiko menuju PubTeen di daerah, Apgujeong. BaeWon menelponnya tadi pagi, memintanya datang untuk menggantikan karyawannya yang tidak masuk. Ia tidak mungkin menolak permintaan BaeWon.

Posisi PubTeen ada di underground restoran Koreana. Dua-duanya milik Bae Won oppa. PubTeen terkenal karena 2 hal, yang pertama adalah keunikan seragam para pelayannya, mereka selalu mengenakan cosplay.

BaeWon sengaja mengaturnya demikian agar para tamu tidak dapat mengenal para waitressnya. Tapi hal ini malah membuat PubTeen jadi terkenal. Pelayannya tidak menemani tamu minum. Yang kedua, PubTeen tidak menerima tamu sembarangan, hanya mereka yang mendaftar sebagai member. Para member juga tidak boleh membawa tamu baru tanpa persetujuan dari PubTeen. Jadi tempat ini makin terkenal untuk artis, politikus atau pasangan selingkuh untuk bertemu dan hangout.

PubTeen memiliki hall yang memainkan musik R&B, tempat ini biasanya dipenuhi oleh anak-anak muda. Lalu beberapa ruang VIP yang lebih tertutup dengan DJ house sendiri. Tentunya menyewa ruang VIP memakan biaya yang tidak sedikit. Herannya daftar tamu PubTeen tidak pernah menyusut, malah semakin bertambah dan menggunung.

Costum hari ini, pakaian anak SMA, tapi dengan versi imut. Rok mini kotak-kotak, kemeja sailor dengan dasi merah. Keiko memakai kacamata dan wig dengan rambut panjang untuk penyamarannya. Ia bekerja di sini karena iseng dan di sini juga satu-satunya temapat ia bisa bertemu dengan BaeWon tanpa harus bertemu dengan onni.

“Key, Lo telat banget?” sapa Mario, orang Nigeria yang bekerja sebagai barteder. Tubuhnya tinggi besar, seperti tukang pukul. Mereka semua memanggil Keiko dengan Key di sini, nama samaran, tiap orang berhak mendapat satu nickname.

“Selamat sore juga Mario.” sapa Keiko yang sudah mengenal kebiasaan Mario untuk bersikap sok galak. Mario tersenyum padanya.

Begitu melihat dengan jelas siapa tamunya itu, Keiko langsung membungkuk memberi hormat. Kenapa FOX-T bisa ada di sini, runtuk Keiko. Bukannya mereka masih ada di Jepang.

“Mau pesan apa?” tanya Keiko dengan suara yang dibuat jadi imut dan berbeda dari suaranya yang biasa.

“Soju untuk semua orang. Hari ini hyung yang traktir.” kata Boom.

“Wah, kalo gitu pesan blue vodka dan Hennesy sekalian. Masing-masing sebotol.” seru Jack semangat. Jarang-jarang managernya mentraktir. Pasti bonusnya besar kali ini. Hal itu wajar saja, karena album terakhir mereka sudah menembus angka 500,000. Suatu hal yang jarang terjadi di dunia musik Korea.

“2 botol soju, 1 Botol Blue Vodka dan 1 botol Hennesy.” Keiko mengulang semua pesanan mereka masih dengan suara tiruannya. Lalu membungkuk dan undur diri.

“Keiko, tambah satu omelette rice yah. Gw lom makan.” panggil Jack lagi.

“1 omelette rice…” Keiko menjawab spontan.

Muka Keiko langsung bersemu merah, menyadari kebodohannya. Ia membongkar penyamarannya sendiri. Jack tersenyum puas karena berhasil mengerjai Keiko. Dia sama sekali tidak menyangka kalau cewek dengan seragam SMA ini benar-benar Keiko. Mungkin beginilah Keiko kalau rambutnya sudah panjang. Jauh lebih manis dan approacble dibanding dengan rambut bobnya.

Keiko memasukan pesanan mereka ke mesin order.

“Key, gw yang bawain untuk mereka yah.” pinta Tracy, salah satu koleganya. Yang langsung disetujui Keiko dengan senang hati. Ia sudah hopeless karena dia pasti akan dikerjai lagi oleh FOX-T kalau ia kembali ke meja mereka.

Karena Tracy melayani mejanya, Keiko harus melayani meja Tracy. Ia membawakan pesanan ke meja Om-om gendut yang emang doyan minum. Keiko hanya mengenal 2 dari 5 orang yang duduk di meja tersebut, Sepertinya malam ini banyak yang membawa tamu baru.

“Key, Key, sini.” panggil om 1.

“Ya…”

“Minum 1 gelas yah.” pinta Om 1.

Sebetulnya di PubTeen tidak diharuskan untuk menemani tamu, tapi terkadang ada juga permintaan-permintaan seperti itu. Para pelayan berhak memutuskan sendiri untuk melakukannya atau tidak. Menurut Keiko, ini kebetulan sekali. Dia perlu sedikit minuman untuk menenang diri. Keiko mengambil gelas tersebut dan menegaknya tanpa ragu.

Rasa panas langsung membakar kerongkongan Keiko. Makanya dia tidak pernah suka soju. Whiskey jauh lebih manis dan enak diminum. Keiko hendak pamit ketika Om 2 memintanya untuk menegak satu gelas lagi. Satu gelas lagi tidak akan membuat Keiko mabuk. Jadi dia meneguknya lag, lalu membungkuk dan mohon diri.

Keiko kembali ke meja bartender sambil menunggu pesanan meja lain.

“Lo jangan kebanyakan minum.” nasehat Mario.

“Tenang, gw ga pernah mabok gara-gara soju.’”

“Yah, bukan elo yang gw takutin mabok, tapi tamunya tuh, ntar bisa minta lebih.”

Keiko berterima kasih karena Mario mau mengkhawatirkannya. Tapi keadaan masih dalam kendali Keiko. Lagipula dia yakin, tamu-tamunya ini tidak akan bertindak terlalu jauh. Mereka tidak mau nama baiknya tercorengkan.

Meja Tracy kembali memanggil Keiko. Keiko menghampirinya.

“Hait.. Mau tambah apa?” tanya Keiko sopan.

“Saya mau buka gold 2 botol, tapi Key harus duduk disini.” pinta Om1.

Keiko menatapnya dan mengangkat alis bingung. Ini mulai kelewat batas. Tapi Keiko tidak mau bertindak terlalu keras pada tamunya. Tamu adalah raja bukan.

“Hait… Sebentar saya tanyakan dulu, mereka ada stok tidak.”

Keiko bermaksud menghindar dari mereka dengan mengulur waktu. Tapi ternyata Om 2 memeluk Keiko dari belakang dan menariknya ke pangkuan Om tersebut. Spontan Keiko berteriak dan meronta. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan om2 yang sudah mabuk itu. Keiko mulai panik. Dia berusaha mendorong lagi. Sia-sia, tenaga om ini terlalu kuat. Dia bisa saja melakukan gerakan aikidonya, tapi apa kata para pelanggan kalau seorang pelayan membanting tamunya.

Tiba-tiba Keiko merasa tubuhnya terangkat dan pelukan si om terlepas dari tubuhnya. Ternyata Max.

Sejak Jack mengatakan kalau waitress yang tadi melayani mereka, pandangannya tidak pernah lepas dari Keiko. Dengan dandanan Keiko sekarang, ia bukan saja khawatir kalau cewek itu akan dikerjai orang tapi ia juga khawatir kalau ia tidak sangup lagi menahan keinginannya untuk membawa kabur Keiko sekarang. Penampilan Keiko saat ini betul-betul berbeda dengan yang biasa. Kalau biasanya Keiko begitu rapi dan terkesan jutek. Kali ini, ia terlalu ramah. Max tahu kalau semua itu memang sikap yang seharusnya ditunjukan oleh seorang waitress. Tetap saja, ia baru kali ini melihat Keiko tertawa lepas dan tersenyum terus. Ia jadi kesal karena selama bersamanya Keiko tidak pernah ceria seperti ini.

Ia terus menahan keinginannya untuk menampol semua cowok yang akrab-akraban dengan Keiko. Suasanya hatinya semakin buruk saat Keiko diminta meminum satu gelas denga om-om itu. Max sudah ingin melompat dan menarik Keiko pergi.

Max harus terus mengingatkan dirinya untuk menjaga sikap agar tidak bertindak di luar batas. Ia seorang artis, kalau ia benar-benar ingin hubungannya dengan Keiko berjalan lancar maka ia tidak boleh menciptakan skandal.

Sayang, semua akal sehatnya hilang begitu ia melihat Si Om memeluk paksa Keiko. Max melesat bagai macan mengamuk. Dalam satu tarikan,  Keiko sudah terangkat dari rangkulan si Om mesum. Ia berdiri di depan Keiko, melindunginya dari amukan kalap Om2.

“Hey, apa-apan ini?!” teriak Om 2 marah.

Keiko mengintip sedikit dari balik punggung Max. Si Om2 menarik kerah baju Max. Ia melihat Si Om2 harus naik ke atas bangkunya karena dia jauh lebih pendek dari Max. Keiko pasti sudah mentertawakan mereka kalau saja keributan ini tidak menyaktut dirinya. Ia meneggelamkan kepalanya di balik punggung Max, menahan tawa.

“Anda yang apa-apan?!”ucap Max sedikit lemah.  Pikirannya tidak lagi terpusat pada pertikaian yang sudah di depan mata. Ia tidak dapat berkonsentrasi dengan tubuh Keiko begitu rapat menempel dengan dirinya. Si Om melayangkan tinjunya sambil menarik kerah Max lebih dekat. Muka Max terhantam telak, tapi ia tidak bergeming. Terdorong mundur pun tidak. Hanya bibi bawahnya pecah dan berdarah sedikit.

Ia kembali tersadar, kalau saat ini ia sedang berkelahi. Tinjunya langsung diarahkan ke rahang si Om. Si Om terpelanting ke lantai dan tidak bangun lagi. Teman-temannya langsung berdiri, tidak senang temannya diperlakukan demikian.

Max makin merapatkan Keiko dengan dirinya dan berjalan mundur sedikit.

“KURANG AJAR!” teriak salah satu om, Keiko tidak tahu yang mana. Tapi ia mdengar suara botol dipecahkan. Otaknya langsung kaku.

“Om seharusnya tahu diri dan tidak menganggunya.” ucap Max sambil terus mundur. Tujuannya sekarang ini, segera mengeluarkan Keiko dari kepungan mereka. Dimana sih, teman-temannya. Masa mereka ga lihat, Max membutuhkan mereka saat ini.

“Ada apa ini?” tanya Mario yang tiba-tiba sudah bergabung di belakang Max. Max dan Keiko sama-sama menoleh. Bukan cuma Mario tapi teman-teman Max sudah berdiri di sana juga. Max langsung merasa lega. Ia mengoper Keiko pada Ben dan Alex. Lalu kembali menatap kumpulan Om mabuk di depannya. Siap melanjutkan pertarungan.

Suara Mario yang ngebass dan menggelegar membuat semua orang nengok dan menatapnya. Postur tubuh Mario yang besar dan kokoh seperti beruang berhasil membuat para om kehilangan nyali. Mereka kembali duduk.

“Bagus kalau tidak ada masalah. Tracy akan mengantikan Key melayani anda.” ucap Mario lalu memboyong Keiko keluar lounge.

“Key, are you alright?”

Mario menopang Keiko dan membawanya masuk ke ruang staff. Max mengikuti dari belakang.

“Istirahat dulu aja di sini, ntar gw kasih tau B.” ucap Mario khawatir. Mario memanggil BaeWon oppa dengan singkatan B. Keiko mengangguk dan berbaring di bangku panjang.

Jantung Keiko berdebar tidak teratur. Ketegangan masih menyelimutinya. Keiko sangat berharap saat ini BaeWon ada di sini.

“Fighting Keiko! AJA! AJA!” teriak Keiko menyemangati dirinya sendiri. Ia berusaha menahan air matanya.

“Lo ga perlu maksain diri, Kei.” pinta Max dengan suara parau. Bibirnya senut-senut terasa sakit.

Keiko membuka matanya terkejut. Sejak kapan Max ada di sana? Ia tidak menyadari kehadiaran cowok itu. Airmatanya langsung menguap karena terkejut.

“Lo ga perlu maksain diri lo, denger ga?” suara Max makin tercekat.

Cewek itu mengedip-kedipkan matanya, memandang Max aneh. Max, marah?

“Bae-by? Masih di dalam?” panggil BaeWon dari balik pintu. Keiko buru-buru membukakan pintu. BaeWon langsung memeluk dan merengkuh kedua pipi Keiko, memastikan Keiko baik-baik saja. BaeWon tidak akan pernah memaafkan dirinya, kalau Keiko sampai mengalami pelecehan di tempat ini.

Begitu menerima telpon dari Mario, ia melesat secepat mungkin menuju kemari. Dia betul-betul panik tadi, sampai-sampai dia meninggalkan pesta direktur yang sedang dihadirinya.

“Maaf, lagi-lagi aku ga bisa lindungin kamu.” ucap BaeWon menyalahkan dirinya.

Keiko mengeleng, dia tersenyum kecil, senang karena BaeWon masih tetap perhatian dengannya. Padahal saat ini, ia tidak lebih seorang adik ipar yang kebetulan bekerja padanya.

BaeWon sudah ingin memeluk Keiko lagi kalau saja dia tidak sadar ada cowok lain di sana.

“Ah, ada temanmu toh. Saya Han BaeWon, pemilik tempat ini.” Bae Won oppa mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Max.

“Max dari Fox-T.” jawab Max. Ia memandang BaeWon sengit walau ia tetap menjabat tangan BaeWon ramah. Siapa cowok ini? Kenapa akrab sekali dengan Keiko?

“Max? Dari Fox-T?” tanya BaeWon tidak percaya dengan matanya sendiri.

“Benar.”

“Ah, istri saya pengemar berat anda. Anda pasti kenal dengannya. Han Yuri, kakak Keiko.” ucap BaeWon basa-basi. Ia sengaja menyebutkan statusnya agar Max tidak salah paham dengan sikapnya tadi. Tidak boleh membuat skandal, itukan yang dipesan ayahnya.

Max jadi makin kesal. Jangan bercanda, kakak ipar? Mana ada kakak ipar yang memanggil adik istrinya dengan sebutan baby. Keiko juga, terlihat senang sekali dengan kedatangan BaeWon. Cewek itu terus menempel dan menatapnya. Dadanya naik turun menahan cemburu.

“Wah, Bae-by. Kok ga bilang kamu sekarang berteman dengan artis?”ledek BaeWon.

BaeWon berusaha bersikap santai. Ia mendapat kesan Max sedang mempertanyakan kebenaran ucapannya. Ia jadi tidak tenang.

“Bae” BaeWon segera meralat ucapanya, “Keiko sudah seperti adik sendiri. Sayakan kakak iparnya.” ucap Bae Won oppa sambil merengkuh pundah Keiko. Ia tersenyum canggung.

Jantung Keiko seperti pindah ke perut, saat mendengar pernyataan BaeWon. Kenapa BaeWon harus setegas itu mengatakan status hubungan mereka.

“Hahahaa, tentu saja, dengan istri secantik Yuri, hyung tentu tidak mungkin merilik cewek lain.” ledek Max balik, sok akrab pula. Max betul-betul ingin menyindir BaeWon. Max yakin cowok ini tidak mungkin hanya menganggap Keiko sebagai adik iparnya saja. Tindakannya tadi sama persis seperti dirinya.

“Tentu, saya sangat beruntung memiliki bidadari secantik Yuri sebagai istriku. Nah, Bae,” lagi-lagi BaeWon berhenti dan meralat ucapannya, “Keiko, kamu pulang duluan saja. Biar oppa yang urus di luar.”

Keiko mengangguk. “Oppa, jangan kasih tahu nonna yah. Nanti dia khawatir.”

“Pasti. Ini akan jadi rahasia kita.” ucap BaeWon lalu kembali tersenyum.

“Nanti pulang dengan siapa?”tanya Baewon, lalu melirik Max yang sedang menatapnya marah, “Maaf, tentu saja dengan kamu kan Max? Betapa bodohnya saya, Saya titip adik saya yah.” pesan BaeWon lalu keluar.

Max menyesal karena sudah memandang Keiko saat ini. Karena ia jadi harus melihat wajah Keiko yang berubah menjadi kelabu begitu mendengar BaeWon tidak mengantarnya.

Max makin yakin, hubungan dua orang ini pasti tidak sesederhana yang mereka katakan. Lalu kemungkinan besar cowok ini juga yang membuat Keiko menulis 5 kalimat dari lagu Jack.

“Nah Max, gw ga perlu dianter. Gw bisa balik sendiri.” tolak Keiko tegas.

“Setelah apa yang terjadi malem ini, elo masih berani ngomong, mau pulang sendiri?!”bentak Max marah. Ia langsung menyesali tindakannya, karena sekarang Keiko berdiri ketakutan dan menjauh darinya.

Padahal Max selalu dikenal sebagai orang yang tenang dan berkepala dingin. tapi kenapa malam ini semua ketenangannya seperti di telan bumi. Ia terlalu meletup-letup akan segala hal yang menyangkut Keiko.

“Lo mau gw anter, atau gw culik? Pilih sendiri aja.” Max keluar setelah memberi ultimatum pada Keiko. Dia betul-betul marah. Marah pada dirinya yang tidak bisa bersikap dewasa. Marah karena ia merasa kalah dengan BaeWon. Ia berjanji akan memperbaiki kesalahannya saat mengantar Keiko pulang nanti.

Keiko masih terbengong-bengong, karena bentakan Max tadi. Tidak habis pikir dengan tindakan konyolnya. Beberapa hari tidak bertemu dengannya, ia tidak seperti Max yang dikenalnya. Keiko jadi ikut kesal. Tidak pernah dia diperlakukan sekasar begitu oleh orang lain.

Ia melempar baju yang baru saja dikeluarkannya dari loker. Lihat saja nanti. Max pasti menyesal sudah mengancamnya seperti itu. Dipungutnya kembali baju tadi lalu dipakainya buru-buru.

Advertisements

One thought on “11- Jealousy

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s