9- I wish for another me

“Anda diminta hadir di ruang rapat 3, sekarang juga.” ujar assisten Keiko yang irit bicara begitu ia tiba di luar ruangannya. Ia jadi sedikit kesal karena pemberitahuan assisstannya ini selalu last minute. Ia buru-buru menuruni tangga menuju lantai 3 dari kantornya yang terletak di lantai 5.

Ia masuk ke dalam ruang rapat, mereka sednag membahas proyek-proyek berjalan dan yang akan direalisasikan. Banyak proyek tertunda yang akhrinya dipangkas oleh Mrs. Joo. Ia menyimak semua dengan konsentrasi. Menganalisa setiap masalah, supaya jangan sampai proyeknya juga ikut tereliminasi.

“Jadi, TOP 10 masih tetap mau dijalankan?” tanya Mrs. Joo pada Ivan yang sekarang mengkerut. Masalah TOP 10 ini terus menerima kritikan karena tidak mengangkat rating.

Ivan mengangguk lemah. Keiko sedikit kasihan padanya, tapi acara TOP 10 garapan cowok itu  memang tidak menarik, terlalu datar dan biasa.

“Bagaimana kalau, kita lakukan seperti acara MUSIC STATION di TV ASAHI?” celetuk Keikotak tahan karena Ivan semakin dipojokan oleh pertanyaan Mrs. Joo.

“Teruskan.” ucap Mrs.Joo tertarik.

“Jadi kita kumpulkan TOP 10 artis dengan sales single tertinggi di minggu itu, mereka berkesempatan menyanyikan lagu yang direlease, kita akan mengumumkan artis yang paling banyak mendapat respond dari penonton yang hadir di ruangan saat itu. Kita serahkan piala juga. Pasti itu akan mendongkrak rating, karena para penggemarnya pasti ingin idolanya menang kan?” Keiko memberi penjelasan sesingkat mungkin.

“Menarik, kalau begitu mulai sekarang acara TOP 10 dipimpin oleh Lee Keiko-ssi. Rapat selesai.” ucap Mrs. Joo. lalu setiap orang-orang keluar.

“Lee Keiko-ssi.”

“Saya senang dengan hasil kerja anda. Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan tapi Han RyuJun-ssi langsung membeli 15% saham kita. Padahal saya kira paling banyak dia hanya ingin 10%. Anda betul-betul dewi keberuntunganku. Nah, ijinkan saya memanggilmu dengan Keiko saja yah.” ucap Mrs. Joo senang lalu meninggalkan ruangan.

Hari-hari berikutnya Ia disibukan dengan penyusunan acara TOP 10. Dari memilih MC, menyusun panggung, memili piala dan sebagianya. Keiko terus berlarian di seluruh studio TV-B. Sebentar di kantor, sebentar ke ruang edit, atau berkeliaran dari satu acara ke acara lain untuk mencari MC yang sesuai dengan keinginannya.

Doc dan Anna terus menerus melaporkan setiap kejadian di sana. Max juga menelpon tiap hari, walaupun makin lama makin singkat karena jadwal Max juga mulai padat. Syuting CF di Jeju lalu kembali ke Vila. Terkadang mereka juga harus ke Jepang dan China untuk kegiatan Fox-T.

Satu pesan baru di email. Dari Jack.

Keiko langsung membukanya. Ternyata isinya lagu OST yang dulu dibuatnya. Lagu berdurasi 4 menitan. Ia makin jatuh cinta dengan lagu itu. Sayang belum ada liriknya. Ia menelpon Jack untuk menyampaikan hal ini.“Kenapa belum ada liriknya?”

Jack malah tertawa. “Selamat pagi juga, Kei-chan.” sapa Jack. Keiko melirik jam, sudah pagikah? Jam di ujung laptopku, jam 5 pagi. Ternyata ia begadang lagi hari ini. Sudah semingu ini ia memang kurang tidur kerena pekerjaan makin berambah. Mrs.Joo menyerahkan acara baru lagi, lagi-lagi karena mulutnya yang iseng, acara date dengan selebritis. Bahkan kali ini ia harus menjadi MC-nya sendiri.

“Pagi Jack.” sahut Keiko malu

“Lo suka lagunya?” tanya Jack.

“Suka? Gw jatuh cinta.” Jack tertawa lagi. Kerja kerasnya terbayar oleh pujian Keiko tadi. Ia terus merampungkan lagu itu di sela-sela kesibukannya. Terlalu semangat untuk menyelesaikan lagu ini secepat mungkin agar ia punya alasan untuk menelpon Keiko.

“Judulnya, Na leul bwa.” jelas Jack.

“Na leul bwa? Look at me?” ulang Keiko sambil meresapinya.

“Benar look at me, Kei-chan.” ucap Jack seakan sedang menyuruh Keiko melihatnya.

“Love it. Cocok banget sama karakter lo di film ini. Dom yang mengharapkan Narsh untuk melihatnya.” ucap Keiko antusias. “Jadi, sekarang tolong buat liriknya biar bisa gw kasih ke produser gw, kalo dia ok, langsung dipake.“

“Ya, ya… Gw usahain. Ada ide untuk liriknya?  Gw rada bolot kalo untuk nentuin lirik yang pas.” kelakar Jack. Ia hanya tidak ingin pembicaraannya dengan Keiko berakhir.

“Maafkan aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu.” Keiko menjawab dengan cepat. Kalimat itu selalu ia ucapkan tiap malam ketika memikirkan BaeWon.

“Apa Kei?” tanya Jack kebingungan.

“Lirik untuk lagu elo, moga-moga bisa mengilhami. Itu perasaan gw waktu denger lagu elo.” suara Keiko melembut.

Jantung Jack sempat berhenti saat ia mendengar ucapan Keiko tadi, dipikirnya Keiko sedang menyatakan perasaan padanya. Ia tersenyum kecut. Jelas-jelas ia tahu Keiko dekat dengan Max.

“Sibuk terus Kei-chan?” tanya Jack berusaha menyambung pembicaraannya dengan Keiko.

“Lumayan.”

“Max, udah uring-uringan tuh. Kangen kali sama elo.” Jack mengumpat tak bersuara menyesal karena sudah membawa Max dalam pembicaraan mereka.

“Max?” desis Keiko, tiba-tiba meresa terbebani.

“Hmm, Alex, Micky dan Ben sih cuma bilang pengen nyubit elo kalo elo dateng. Tangan mereka uda gatel ga ada yang bisa dikerjain disini. Narsha terlalu galak.” kata Jack untuk memperbaiki mood mereka yang tiba-tiba terasa berat.

Keiko tertawa mendengarnya, di kepalanya terbayang tatapan nyolot Narsha waktu dikerjai oleh Fox-T. Pasti mata Narsha uda meloncat keluar, suaranya naik 3 oktaf dan gaya menghentak buminya sudah meretakan beberapa keramik lantai.

“Gw juga…” sambung Jack tanpa sadar.

“Apa?” tanya Keiko lagi. Ia tidak mendengar jelas.

“Bawain pizza, Gw udah bosen makan stew atau bee bim bab. Bye.” ucap Jack menutup telpon.

Keiko setuju dan berjanji untuk datang secepatnya.

Mengendap-endap Keiko masuk ke dalam Vila. Sesuai janjinya, Keiko datang ke Vila Air.  Keiko menyerengit melihat betapa berantakannya villa itu. Piring bekas, baju kotor, jemuran dan sampah-sampah yang berserakan dimana-mana.

Keiko meletakan pizza yang dibawanya ke dalam oven, dan mulai mencuci piring dan gelas.

“Pagi”, sapa Alex yang baru keluar dari kamar tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi sambil mengaruk-garuk perutnya.

“Pagi Kei.” Kali ini Ben dan Micky yang keluar dari kamar, saat Keiko menyapu.

“Pagi Ben, pagi Micky.” sapa Keiko. Tadinya ia pikir cowok-cowok itu akan terkejut dengan kehadirannya tapi ternyata reaksi mereka biasa-biasa saja. Ia jadi kecewa.

“KEI?!!!!!?” teriak Ben kaget.

“KEI…WAAAAAA” Ben berlari memutari meja dan memeluk Keiko.

Alex keluar kamar mandi. “Turunin Keiko, Ben. Dia udah mau mati kehabisan nafas tuh.”

“Kenapa teriak-teriak sih, Ben. Masih pagi ini.” Max keluar dari kamar dengan Jack. Jack menyender kepalanya kepundak Max.

“Hai Max,” Keiko melambaikan tangannya. Lalu melempar bungkusan kotak, yang ditangkap dengan sempurna oleh Max.

“Apa ini?” tanya Max penasaran.

“Merry Christmas.” seru Keiko mengucapakan selamat.

“Curang, masa cuma Max doang yang dapet.” keluh Micky. Keiko mengangkat tasnya dan mengeluarkan kotak-kotak coklat yang sudah ia bungkus rapi dan membagikannya pada mereka. Ada satu bungkus yang isinya berbeda, untuk Jack. Ia kehabisan coklat, jadi terpaksa membeli di pasaran. Ia menuliskan note kecil untuk meminta maaf di dalamnya.

Pizza yang tadi dipanaskan sudah jadi. Keiko mengeluarkannya dan wanginya langsung menyebar ke seluruh ruangan. Padahal tadi ia memanaskan 2 loyang sekaligus dengan piring susun. Tapi kecepatan member FOX-T menghabiskan pizza lebih mengesankan lagi. Satu loyang sudah lenyap dari piringnya. Tampaknya ia harus memanaskan lagi 3 loyang lainnya dan mengopernya langsung ke vila staff, kalau tidak mau mereka habiskan semua.

Narsha, Jessica dan Tiffany keluar dari kamar, mereka sudah mandi dan berdandan. Mereka wangi banget. Beda banget dengan dirinya yang memakai sweater belel dan skinny jeans.

Mereka menyapa Keiko ramah, tapi menolak untuk memakan pizza. Jadi Keiko menawarkan untuk membuatkan french toast. Selesai dengan para artis, Keiko pindah ke vila crewnya.

“DOC….” seru Keiko, mengedor vila kru-nya yang terletak bersebelahan.

“Keiko…….”desah Doc memelas seakan melihat Dewi pertolongannya tiba. Keadaan di vila mereka sama kacaunya dengan vila air tadi. Keiko mendorong Doc masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk.

“Sekarang sambil elo makan ini pizza, ceritain ke gw. Ada apa ini? Kenapa bisa ga karuan begini?”

“HmMA.. haba(ada) hanyak hasala…” ucap Doc sambil makan.

“Habisin dulu, baru ngomong, gw ga ngerti.”

Doc menelan makanan dalam mulutnya.

“Ada banyak masalah Kei. Kita kurang staff. Gw ga tahu darimana itu fans nemuin lokasi syuting. Sampe sekarang, gw ga berani syuting di sekolah. Karena di daerah vila ini aja, keadaan ga terkontrol banget. Bukannya mereka menggangu jalannya syuting. Tapi banyak barang yang ilang. Ntar handuk Max, celana Ben atau kaosnya Alex. Sedangkan yang cewek-cewek kehialngan pakaian dalam atau malah kena prank. Pokoknya kita sama sekali ga tahu siapa yang iseng banget. Staff sampai kecapean jagain props.”

“Jadi, kalian belum maju-maju untuk shoot di sekolah? Bukannya 75% adegan ada di sekolah?” kepala Keiko mulai pening.

“Ijin sudah disetujui belum sama pihak sekolah?” tanyaku lagi

“Sudah, sudah ditandatangani, ijin untuk 1 bulan. Sekarang kita sudah rugi 1 minggu.” Aku meremas-remas tengkukku.

“Okay, biar gw yang urus. Gw bawa 4 orang tambahan untuk props, gw tahu lo org pasti kurang OB. Mereka masih di mobil. Semalam baru kelar shooting Keygayo.”

“Ah, Keykigayo, gw nonton tuh, Ide lo menarik banget. MC-nya juga bagus. Nemu dimana? Dia orang baru kan?”

“Kenalan, tapi dia lulus seleksi tanpa koneksi gw kok. Yah, Key, berbakat banget. Rencananya gw pengen dia bawain beberapa acaralain. Tapi masih belum ada proyek baru.”

Doc mengangguk-angguk mengerti.

“Gw langsung ke sekolah deh, biar gw urus propsnya dulu. Kasih tahu Anna untuk nyusulin gw di sana.”

Doc mengangkat jempolnya, menyetujui.

Kutenteng tas laptopku dan masuk ke dalam mobil.

“Kei, mau kemana?” tanya Jack. FOX-T sedang duduk-duduk di teras depan. Mereka sudah selesai mandi semua.

“Ke sekolah.”

“Ga bareng aja?”

“Lo orang sama Anna aja. Gw masih harus mampir ke banyak tempat.” hindarku.

“Oooo. Ok.” Jack sedikit kecewa karena aku menolaknya. Ini lebih baik, daripada Max mikir yang engga-engga antara aku dengan Jack. Memang sih, aku belum berpacaran dengan Max, tapi aku betul-betul ingin hubunganku dengannya berhasil.

Aku langsung ke rumah kepala desa untuk merevisi ijin kami menggunakan vila, balai desa dan menetapkan tanggal-tanggal untuk penutupan jalan di daerah tertentu. Setelah itu aku ke sekolah. Trailer props sudah ada di sana, artinya Anna dan yang lainnya juga sudah tiba.

Ada kerumunan anak-anak perempuan di halaman di sekitar trailer FOX-T. Lalu anak-anak cowok di sekitar trailer Narsha dkk. Bahkan ada beberapa orang dengan tulisan staff yang tidak kukenal berkeliaran di area shooting. Anna melambai padaku, jadi aku berjalan menghampirinya.

“Kei, tolong bantu gw urus kostum dulu. Gw harus ngecek kelas yang mau dipake.” Anna melempar papan list ke pangkuan Keiko dan menghilang dengan cepat. Keiko masuk ke dalam mobil trailer khusus untuk baju-baju dan kelengkapan lainnya. Dari sepatu, tas sampai aksesoris. Semua tertata cukup rapi dalam box dan hanger sesuai dengan nama pemain. Ia mengambil barang-barang yang tercatat di daftar panjangnya. Mengoper pada staff untuk dibawakan ke setiap pemainnya.

“Kei.” panggil Doc melalui HT.

“Wat’s up Doc?” jawabnya dengan logat bugs bunny.

“Naik ke lantai 3, kelas paling ujung sekarang.” ucap Doc serius. Dia sama sekali tidak tertawa mendengar candaan Keiko. Ada apa ini? Buru-buru ia lari keluar dan menaiki tangga. Sama sekali lupa membawa mantel dan syal yang tadi ia lepaskan.

“Ha….hau…Hadah apah…?” tanya Keiko terengah-engah.

“Gimana menurut elo?” tanya Doc.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kelas. Kita memakai 2 kelas paling ujung yang letaknya dekat dengan perpustakaan di lantai paling atas dari sekolah ini. 2 kelas ini khusus didesign ulang untuk keperluan shooting. Kami menganti meja dengan bahan melamin bukan plastik seperti sekolah pada umumnya. Papan tulis juga diganti dengan chalkboard hijau, bukan hitam, untuk meminimalkan efek cahaya.

“Loh…. ngerjain gw yah?” ucap Keiko kesal. Orang ampe lari-lari ke atas, kirain ada yang genting. Tahunya dia cuma nunjukin kelas.

“Hahahaha, sorry, sorry. Abis gw uda ga sabar pengen kasih liat elo, kelasnya. Bagus kan? Viewnya juga pas banget. Di sebrang ruang musik. Di bawah lapangan bola. Jadi ceritanya ini kelasnya Narsha. Dia duduk di sini.” Doc menepuk bangku paling belakang yang ada di sebelah jendela. Narsha dan dayang-dayangnya, KI, DH, Alex satu kelas.

“Sekarang kita ke kelas satunya.” Doc mendorongku ke kelas sebelah. Di sana sudah ada Jack, Max dan Ben. Ini kelas mereka. Sedangkan Micly teman lain sekolah.

Anna kelihatan panik dan terus mondar-mandir di pojok belakang bersama kru.

“Ada apa, Na?”

“Masala Kei, masalah.”

“Kenapa? Ada apa?”

“Kepseknya cabut ijin kita.”

“HEH!!!! kenapa bisa begitu? Katanya sudah setuju kan?” ada apalagi ini.

“Itu dia, per hari ini mendadak dicabut.”

“Alasannya?”

“Alasannya, karena kalian tidak konsisten dan menyebabkan kegiatan belajar mengajar menganggu.” suara perempuan paruh baya yang sekarang sudah berdiri di pintu kelas. Nenek-nenek dengan rambut keriting dan baju suster.

“Ibu Teresa…..” panggilku girang. Dia wali kelasku dulu saat SMA.

“Ko-chi?” panggil Ibu Teresa, tidak kalah kaget. Keiko sudah memeluk ibu gurunya. Dia guru pembimbing Keiko dan Yunna. Beliau selalu menanggil Keiko dengan Ko-chi sendangkan Yunna dengan Na-chan.

“Ko-chi, mantel kamu dimana? Kamu tidak sedang berbuat nekad lagi kan?”

“Ketinggalan bu, tadi.”

“Jangan bertindak bodoh lagi, Keiko.”nasehat Ibu Tere. Ia tidak mau murid kesayangannya ini melakukan tindakan konyol seperti dulu, mencoba melawan stalker sendirian.

“Bu, mengenai shooting?”

“Asalkan, kamu yang memantau, ibu yakin tidak akan ada masalah. Ingat, jangan sampai menggangu.” lalu Ibu Tere meninggalkan kami.

Keiko tersenyum senang, satu masalah selesai tanpa perlu banyak membuang waktu.

“Jadi kita udah bisa mulai syuting?” tanya Doc masih belum nyambung.

“Iyah Shim MinJung-ssi.” kata Keiko sarkastik. “Gw tinggal yah, kerjaan gw masih banyak di bawah.” kata Keiko lalu kembali berlari ke trailer.

Ia kaget luar biasa karena di dalam sana ada orang sedang mengobrak-abrik kardus-kardus yang tadi disusunnya.

“HEI!”

Cowok itu, menoleh, Keiko tidak bisa melihat wajahnya karena ia mengenakan topeng. Saat cowok itu menerjangnya, Keiko langsung membantingnya keluar trailer dan menarik lengan jaket cowok itu hingga robek. Ada tatoo kalajengking di sana. Cowok itu buru-buru lari. Keiko tidak berhasil mengejarnya.

Merasa tidak perlu ambil pusing, Keiko segera melupakan cowok kalajengking itu. Kembali sibuk dengan segala urusannya.


Advertisements

One thought on “9- I wish for another me

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s