10- My Obsession

“Keiko, hari ini elo, harus pulang. Gw udah bosen makan ramen sendirian.” keluh Yunna saat Keiko sedang makan siang.

“Belum bisa Yun. Gw masih harus ngawasin proses editing.” sesal Keiko. Ia juga sudah kangen dengan kasur rumahnya.

“Tapi besok elo harus pulang. Kalo engga, kamar elo gw sewain ke orang lain.” ancam Yunna.

“Iyah, besok gw pasti pulang. Kamar gw jangan elo apa-apin. Gw juga uda kangen sama bantal marou gw.” kata Keiko menenangkan sahabatnya. Selesai Yunna, gantian Max yang menelponnya.

“Mosh, mosh.” sapa Max ceria. Ia sedang ada di Jepang sekarang. Sudah 1 minggu sejak pertemuan mereka di vila.

“Hai juga.” jawab Keiko senang. Ia baru saja bertanya-tanya, kapan cowok ini akan menelponnya.

Setelah beberapa bulan ini, Max menelponinya siang dan malam, Keiko seperti kecanduan. Ia harus mendengar suara cowok itu walaupun hanya sekedar hello.Kalau tidak, Keiko bisa ga susah tidur atau kayak ayam kurang dikasih makan.

Max selalu bisa membuat Keiko tertawa terpingkal-pingkal dengan gurauannya. Menjadi obat manjur menghapus kelelahannya. Tidak jarang cowok itu menjadi telinga yang baik untuk semua keluh kesah Keiko. Dia juga tahu kapan harus memanjakannya dan kapan harus menegurnya. Keiko tidak perlu menutupi apa-pun juga dihadapannya, menjadikan Max sama berartinya dengan Yunna.

Max tidak bisa berhenti tersenyum setelah ia selesai menelpon dengan Keiko. Orang yang melihatnya dari pinggir jalan, pasti berpikir kalau ia sakit jiwa. Ia duduk di samping beranda kamar hotelnya. Hari ini mereka berada di Okinawa, Jepang, untuk keperluan MV.

Perasaannya pada Keiko sudah siap meledak kapan saja, tapi ia tidak tergesa-gesa untuk mengajak Keiko berpacaran dengannya karena ia takut malah membuat cewek itu menghindar darinya. Ia sedikit kesulitan untuk menjaga emosinya sejak ia berada di Jepang. Kadang, ia kelepasan dan menyatakan perasaannya pada Keiko. Untungnya Keiko tidak marah dan terkadang juga menanggapinya dengan mengatakan kalau ia juga kangen padanya.

“Habis nelpon Keiko?” duga Ben kerena Max senyum-senyum sendiri. Beberapa hari ini, tampangnya selalu seperti itu kalau sudah menyangkut Keiko. Bahkan Ben sampai hafal, kegiatan harian Keiko, saking seringnya Max bercerita tentang cewek itu.

3 temannya sudah bergabung dengan mereka sambil membawa Heineken dan rokok. Acara rutin mereka yang belakangan ini makin sering mereka lakukan karena ada saja topik menarik untuk dibahas

“Si Narsha cakep juga yah.” ucap Ben tentang lawan main mereka di MV kali ini.

“Cakep, tapi judesnya ga tahan.” komentar Jack.

“Masih galakan Jessica, mantan elo kali.” Micky mengingatkan.

“Masa? tapi kayaknya Sica ga pernah melotot ampe matanya mau oncat gitu deh.”

“Daripada dia, gw lebih suka Tiffany. Orangnya asyik.” Alex sedikit tertarik dengan cewek jangkuk yang berperan jadi teman Narsha.

“Nah, kalau yang itu masih mending. Kayaknya cocok juga tuh sama lo, Lex.”

“Gw malah lebih demen sama temennya Keiko. Siapa namanya, Max, yang waktu itu dia ajak ke konset kita.” kata Micky.

“Yunna?”

“Iyah dia, kira-kira dia udah punya cowok belum yah.” tanya Micky lagi.

“Coba telpon dia aja. Tanyain nomor telponnya.” usul Ben.

“Elo ga kangen sama Keiko, Max?” tanya Micky tiba-tiba beralih dari topik Yunna.

“Gw telponan sama dia kok tiap hari.”sahut Max datar.

“Huuuu, buru jadian deh. Gw yang liat udah gerah.” komentar Ben, ga penting.

“Hahaha, maunya juga gitu. Masalah si Keiko suka belaga bego.”

“Elo kali yang kurang agresif.” kata Alex.

“Wah, kalau Alex sampe bilang begitu, berarti emang elo kurang inisiatif Max. Ntar kayak kasus si Lena lagi.”

“Sial, jangan sebut-sebut itu nama.” ucap Max ketus.

“Max, gimana kabarnya Lena?” pancing Micky.

“Mana gw tau, sial.” Max makin gelisah.

“Elo masih suka yah sama dia?” pancing Micky lagi.

“Cuma orang gila yang bisa suka sama cewek egois begitu.”

“Sabar, Max. Kita cuma nanya doang.” Ben menenangkan.

“Jadi sebetulnya gimana sih, kenapa kalian bisa putus?” tanya Jack penasaran.

Max masuk ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Semua cuma mengulang rasa sakit.

“Dia beneran marah?” tanya Micky.

“Biarin aja. Sooner or later dia harus ngadepin juga kan?” ucap Ben.

“Sebetulnya gimana sih? Kenapa mereka bisa putus?” tanya Jack lagi.

“Emang elo ga tahu? Kan rame banget tuh beritanya.”

“Gw lagi di Jepang kan? Yang gw tahu cuma, Lena harus ke Hollywood. Max tidak ikut, lalu putus.” jawab Jack.

“Ga sesederhana itu. Lo tahukan mereka tunangan?” tanya Ben. Jack menangguk.

“Lena minta Max untuk ikut dengannya.”

“Ah, gila banget!” pekik Jack tidak percaya.

“Tentu saja Max, nolak. Kita tahu banget gimana Max kalau sudah menyangkut pekerjaan. Jadi sebagai gantinya Max minta Lena untuk jalanin LD dulu sementara, Lena di sana. Eh, itu cewek bukannya setuju, malah marah-marah.”

“Betul, gw ampe takut lihatnya. Barang-barang dibantingin semua.” timpal Micky.

“Lena ngotot, kalau dia ga mau LD. Dia kasih alesan yang konyol-konyol. Biasalah cewek. Dia bilang ntar Max nyeleweng lah. Ntar dia pasti was-was lah. Pokoknya ga masuk akal banget. Kalau dia emang cinta sama Max aturan dia percaya dong. Max ga mungkin bakal ninggalin dia demi cewek lain. Lagipula, ke Amrik juga cuma 3 bulan. Masa begitu aja, heboh banget.”

“Terus?”

“Terus, Lena minta break.” ganti Micky yang menjawab.

“Break gimana?

“Break, putus sementara, sampai waktu yang tidak ditentukan.” Ben menjelaskan.

“Max mana mungkin mau?” ujar Jack yang kenal banget sifat Max.

“Awalnya Max setuju.”

“HEH!?” Jack kaget.

“Betul, tapi 1 bulan, Lena makin bertingkah. Nelpon tiap malem, kalau mau pergi harus nelpon dia dulu. Giliran telponnya ga diangkat, langsung ngoceh-ngoceh dan nuduh Max ga setia, ada cewek lain lah. Siapa juga ga tahan lah. Apalagi status mereka ga jelas begitu. Akhirnya mereka betul-betul putus. Max meledak waktu kita mau pergi ke acara Award itu.”

“Oh, yang pas dia nangis itu?” tanya Jack.

“Iyah, tadinya gw pikir dia bener-bener terharu. Tapi malemnya dia cerita, kalau mereka betul-betul putus. Max dikirimin foto, Lena lagi ciuman sama cowok lain.”

“Dia yakin itu bukan lawan mainnya.”

“Bukan, cowok itu orang korea juga. Produser yang bawa Lena ke Amrik. Elo inget kan? yang botak itu.”

“Ah, yang itu.”

“Kata Max, awalnya mereka ngomong baik-baik, tapi Lenanya langsung sewot dan terus menerus nuduh kalau Max juga pasti sama, udah ada cewek lain.”

“Gilanya lagi, Lena ngaku kalo uda tidur sama cowok itu.”

“Gila. Gila. Itu cewek pasti orang sakit. Ga heran, Max jadi ikutan gila.”

“Yah, sejak itu sih, setahu gw mereka udah ga pernah hubungan. Tapi ga tahu lah.” Ben menutup ceritanya.

“Gw ga pernah kontek lagi sama dia.” ucap Max dari beranda.

“Sorry Max. Kita ga ada maksud untuk ngomongin Lena.”

“Ga apa. Dia cuma masa lalu.” ujar Max yakin. Di hatinya sudah tidak ada tempat yang tersisa untuk Lena. Semua sudah berganti dengan Keiko, Keiko dan Keiko.

“Gw tanya Max, elo serius ga sama Keiko?” tanya Jack.

“Gw ga mau buru-buru.”

“Soal elo buru-buru ato engga, itu pilihan elo. Yang gw tanya elo suka ga sama dia? Cinta ga?”

“Cinta?” Max tertawa sinis. “ Ga tahu. Yang pasti gw ga bisa kalau ga denger suara dia. ga bisa berhenti mikirin dia, ga bisa jaoh dari dia. Menurut elo, itu cinta?” Max nanya balik.

“Baguslah.” Jawaban itu sudah cukup untuk meyakinkan Jack.

“Kalo elo Jack? Lo suka sama Keiko?” tanya Max balik.

“Ga masalah, gw suka sama dia atau engga. Yang penting gimana elo sama dia.” elak Jack. “Serius Max. Buat gw, dia cuma adik perempuan yang manis. That’s all.”

“Kalo gitu, hyung, mohon restunya.” canda Max.

“Jangan bikin dia nangis.” jawab Jack mengikuti candaan Max. “Gw keluar dulu yah. Rokok gw habis.”

“Gw ikut, Jack.” ujar Micky. Lalu mereka sama-sama meninggalkan kamar.

“Akting lo jago juga.” bisik Micky.

“Maksud elo?”

“Keiko, lo anggep ade? Ayolah, kalau Max bisa elo kibulin, elo ga bisa bohongin teman  yang udah tidur satu kamar dengan elo selama 6 tahun ini.”

“Ssstt…” Jack membungkam mulut Micky.

“Tenang, ga bakal ada yang denger. Kita uda di bawah ini.”

Mereka naik sepeda. Jack yang membonceng. Mini market yang menjadi tujuan mereka berada di bawah bukit.

“Tapi elo yakin, ga apa?” tanya Micky dari balik punggung Jack.

“Kalau cowoknya Max, gw yakin, Keiko bisa bahagia.”

“Elo masih menghukum diri elo? Percaya kalau elo, ga pantes bahagia? Ayolah Jack. Masa elo percaya kalo elo bawa sial untuk cewek-cewek elo. Itu kan cuma candaan kita doang.”

“Buktinya si Hanna bisa jatuh di tempat yang ga ada apa-apanya, sampai patah tulang, begitu dia jadian sama gw. Terus Sica jadi sakit-sakitan mulu? Jolin, keserempet mobil, Soyoung, keserempet motor, semua pacar gw mengalami hal yang sama, ga mungkin cuma kebetulan?” ujar Jack frustasi. Dia sendiri awalnya tidak percaya, tapi karena pacar-pacar selalu sial. Mau tidak mau Jack jadi curiga.

“Tapi kan, ga mungkin karena kutukanlah, Jack? Ini jaman apa, masih percaya begituan”

“Yah, bener atau engga. Gw ga mau Keiko ngalamin hal yang sama.”

Micky tertegun, sesayang itukah Jack pada Keiko, sampai-sampai dia rela cewek yang dia suka pacaran dengan cowok lain? Mereka memang sering mengolok Jack dan mengatainya kalau dia membawa sial untuk pacar-pacarnya. Tapi itu kan hanya bercandaan. Walaupun memang banyak kebetulan aneh. Semua cewek itu baik-baik saja saat masa pendekatan. Tapi begitu berubah status menjadi pacar, ada saja kejadian pelik yang menimpa mereka.

“Yah, kalau itu keputusan elo, gw ga akan ngomong apa-apa lagi.”

“Lo jangan kasih tahu yang lain yah.”

“Tenang aja. Kapan sih, rahasia elo bocor?”

Micky masuk ke dalam mini market sendiri, karena sepeda Jack tidak bisa diparkir. Mereka lupa membawa gembok sepeda. Jack berdiri di samping sepedanya yang diparkir di depan mini market.

“Lagi ngapain?” tanya Micky, melihat Jack cuma mandengin layar handphonenya saat dia keluar mini market.

“Hm… ga. Bagi rokoknya sini.” Jack memasukan handphonenya dan menarik kantong belanjaan dari tangan Micky. Setelah menemukan apa yang dicari, dikembalikan kantongnya dan langsung menyalakan sebantang rokok.

“Jalan kaki aja yuk.” ajak Jack. Saat ini dia ingin menikmati jalan-jalan malamnya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya supaya perasaan sesak di dadanya bisa berkurang.

“Ga, gw yang boncengin aja. Udah kebelet nih.” tolak Micky.

Mereka naik ke atas sepeda. Micky sedikit menyesali keputusannya, untuk membonceng Jack. Berat badan Jack lebih berat darinya. Apalagi belakangan Jack terus-terusan melatih ototnya biar tambah kekar. Micky jadi harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengenjot sepedanya.

“Ky, tadi Keiko sms. Kalau elo ga keluar tadi. Gw pasti uda nelpon dia balik.” ujar Jack dari balik punggung Micky. Dia tidak perlu melihat bagaimana tampang Jack sekarang untuk menebak perasaan Jack. Senang, rindu dan perasaan bersalah pasti merudung Jack sekarang.

“Makanya gw, bilang, elo jangan sampe nyesel.”

“Ga bakal Ky. Keiko deserves a better man. And that man is Max.” ucap Jack tidak seyakin tadi.

“Pikirin baik-baiklah. Sebelum semuanya terlambat. Gw ga mihak siapapun dari elo orang. Pesen gw cuma satu, jangan sampe gara-gara cewek, persahabatan kita ancur. Walaupun, cewek itu Keiko.”

“Maksud lo?”

“Yah, gw, Ben dan Alex, sedikit mengerti kenapa elo berdua bisa naksir sama dia. Menurut gw dia, pintar dam menarik. Bukan cewek sembarangan ataupun cewek egois. Menurut info dari Ben, dia juga bisa masak. Pas kan sama selera lo berdua. Yang paling penting, orangnya ga norak dan ga pernah ngambil keuntungan dari orang lain. Ini Alex yang ngomong, tapi gw setuju banget sama poin yang terakhir. Ga pernah gw seseneng ini punya temen cewek. Malah gw udah mulai nganggep dia adik gw.”

“Dia lahir tanggal 27 January. Jadi dia nunna.”

“Elo tahu dari mana?”

“Ga sengaja baca resume dia waktu pertama ketemu dia di lift.”

“Ooo, yah jadi nunna juga ga apa deh. Pokoknya she’s my sister.”

“Hahahaha, asal elo tahu, kemarin Ben juga ngomong yang sama. Bedanya dia bener-bener ngarepin gw mundur.”

“Gw cukup ngerti kenapa Ben bisa ngambil kesimpulan seperti itu. Dia yang nemenin Max selama ini, jadi dia pasti ngarepin kali ini Max bisa bahagia.”

Micky menungu Jack menanggapinya. Tapi lawan bicaranya itu hanya diam.

“Ga usah dipikirin Jack. Elo yah elo, Max yah Max. Sama-sama manusia bebas yang boleh ngejer kebahagiannya. Kenapa sih, elo ga mau bersaing aja sama Max?”

“Max is the better man.” ucap Jack berulang-ulang, seperti sedang mengingatkan dirinya.

“Elo ga pernah tahu itu. Cuma Keiko yang bisa nentuin.”erang Micky putus asa.

“Ga jadi masalah, apa pilihan Keiko. Asal gw ga pernah nunjukin kalau gw mau sama dia. Dengan sendirinya dia pasti milih Max.” uca[ Jack getir.

Micky tidak bisa membantah Jack lagi. Biarlah, kalau memang itu sudah jadi pilihan Jack. Toh, Max juga terlihat serius dengan Keiko. Prioritasnya saat ini adalah menjaga persahabatan mereka.

Mereka sudah kembali di depan hotel. Jack mengantikan Micky memarkir sepeda mereka. Ia sendiri buru-buru masuk dan menuju kamarnya.

“Hyung, beli apa aja?” sapa Ben yang berdiri di pintu masuk kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Jack dan Micky. Ben mengekori Jack masuk ke kamar mereka.

“Rokok, roti, susu” jawab Jack.

“Susu? Emang siapa yang minum susu?”

“Hmm, betul juga. Micky, kenapa elo beli susu?”

“Bukannya tadi elo nitip? Gimana sih?” sahut Micky dari kamar mandi.

“Kalau ga ada yang mau, buat gw deh. Gara-gara si Keiko, gw juga jadi doyan susu.” Ben mengambil susu dari kantong dan menegaknya.

“Dia lagi ngapain yah?” tanya Ben.

“Tanya Max lah.” ujar Micky, lalu melirik Jack. Dia penasaran akan reaksi Jack.

“Mau gw telponin?” tanya Jack tiba-tiba.

“Emang elo punya nomornya?”

“Emang elo orang ga punya? Kan ada di halaman pertama script.”

“Oh yah?” Ben berlari ke meja kerja di dekat jendela kamar. Kalau tidak salah, tadi dia melihat ada satu copy script di sana.

“Bener, ada nomornya dia.”

“Jadi, mau ditelpon?” tanya Jack. Tangannya sudah gatel, ingin memencet nomor telpon Keiko yang sudah dihafalnya diluar kepala.

Ben, mengeluarkan Hp-nya, lalu menekan semua angka yang tertera di kertasnya.

“Hallooooo. Keichaaaaan….” sapa Ben kelewat semangat. Dia kangen banget sama cewek satu ini. Bukannya apa, bagi Ben, Keiko satu-satunya cewek yang tidak marah kalau digodain, malah cewek ini sama isengnya dengan dia.

“Hahahahahah..” tawa Keiko mengelegar di ruangan. Ben sengaja put his phone on speaker mode.

“Kalian sedang nelpon Keiko?” tanya Max yang baru ikut bergabung. Alex menyusul di belakang Max.

“Hai Max.” sahut Keiko dari handphone Ben.

“Lo lagi sibuk yah?”

“Iyah, kita lagi mau shooting Keykigayo.”

“Acara apa tuh?” tanya Ben, rasanya dia belum pernah denger judul begitu.

“TOP 10 gitulah.”

“Oooo, siapa yang bawa acaranya?”

“Tae.” jawab Keiko singkat yang kembali membuat Ben bertanya, “Sapa lagi tuh?”

“MC baru, temuan Keiko.” Max gantiin Keiko, menjawab.

“Iyah. hahahaha” tawa Keiko mendengar mereka membicarakan mengenai MC nya seperti itu..

“Jack, lagunya uda kelar belum?” tanya Keiko tiba-tiba.

“Dikit lagi. Gw masih nyangkut di liriknya.” jawab Jack gelagapan. Dia tidak menyangka akan diajak ngomong sama Keiko.

“Lagu apa sih?” tanya Max tidak mengerti.

“Lagu OST yang dibikin Jack.” Micky menjelaskan. Sebenarnya dia hanya menebak, tapi melihat reaksi Jack tadi. Micky bisa menarik kesimpulan kalau itu lagu Jack.

Jack mengehela nafas lega. Penyelamatan yang sempurna oleh Micky. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga kalau sebetulnya lagu itu rahasia kecil antara dia dan Keiko.

“Tenang Kei, gw juga lagi bantuin die. Tapi dasar orangnya perfeksionis.  Jadi ga beres-beres.”

Lagi-lagi Keiko tertawa. Tawanya seperti virus menular. Mereka semua jadi ikut tersenyum.

“Sorry deh. Gw yang kasih ultimatum ke Jack. Standardnya harus international. Pokoknya lagu itu harus jadi hit, melebihi lagu ballad yang lain. Gw pengen semua orang denger itu lagu terus jadi penasaran sama filmnya.”

“Beres bosss.” sahut Jack. Ia berusaha menahan bibirnya untuk tidak menyunggingan senyum. Dia tidak tahu kalau berbicara dengan Keiko bisa membuatnya senang seperti ini.

“KEIIIIIIII, udah mau mulai neh.” panggil suara cowok yang tidak di kenal Fox-T.

“Okay, Tae. Elo ke sono dulu aja.” jawab Keiko. “Guys, sorry yah. Gw harus kerja dulu. Ntar kalo uda sempet, gw pasti mampir ke sono deh.”

“Okay. bye….” jawab mereka.

Telpon diputuskan.

Max langsung menanyakan pada Jack mengenai lagu yang sedang digarapnya. Hyungnya menjawab dengan membuka laptopnya dan memutar lagu itu.

“Lagu lo kali ini sedih banget.” komentar Ben, saat lagu selesai diputar.

“Biasanya juga gw bikin lagu ballad kan?”

“Tapi kali ini kayaknya lebih mellow.”

“Mungkin karena gw compose langsung dengan piano kali. Jadi kesannya begitu.”

“Liriknya?”

“Nih baru dapet segini.” Jack memainkan lagi melody tadi, kali ia menyanyikan note yang dipegangnya.

Jack membuat prolog dengan berkata,

“I’m sorry

But i have to tell you this

Got to let it off my chest

Although it is too late

Still, I can’t let you go”

Lalu lagu memasuki bait pertama,

“Whenever you’re around, I always smile

When to think of you, I feel sure

That you’re the love of my life”

So, baby baby…

Please look at me

Only look at me

Even you’re with someone else right now

Even when we are apart now

Baby baby

Please only look at me

I can’t never let you go

Not now, not tomorrow”

“Baru segitu, gw stuck.” Jack berhenti bernyanyi.

“Hahahaha, gila, kata-katanya nyayat banget.” komentar Ben. Kali ini Jack sudah melampaui lagu-lagu lamanya. Biarpun sama-sama ballad, tapi Jack tidak pernah menggunakan kalimat sekeras ini. Setiap liriknya meneriakkan cinta pertepuk sebelah tangan.

“Sih Keiko yang kasih ilham. Prolog itu dari dia.”

Max tertegun sejenak saat mendengar ucapan Jack. Membaca ulang bait pertama dari lagu yang diciptakan Jack. Walaupun hanya 5 baris pendek, tapi Max seperti ditampar. Siapa yang dipikirkan Keiko saat dia mendengar lagu ini. Jelas bukan dia.

“Kenapa, Max?” tanya Ben, melihat raut muka Max yang berubah kusam.

“Ini masih belum selesaikan?” tanya Max.

“Iyah, gw kehabisan kata-kata untuk penutupnya.” jawab Jack jujur. Kalimat yang dirangkainya tidak ada yang pas.

“Gimana kalau ditambah ini”, Micky melanjutkan dari bagian Jack berhenti tadi.

“So, why can’t I fall in love with you?
Why couldn’t I grab your hand and take you?
You’re supposed to be by my side, eternally”

“Boleh juga. Rhyme-nya masuk.” jawab Jack, lalu dia mulai menyanyikan lagi lagunya. Kali ini teman-temannya ikut bernyanyi. Jack menandai siapa yang menyanyikan bagian apa, seperti yang biasanya mereka lakukan.

“Eh, Jack, gimana kalau bagian ini diubah sedikit, naikin nadanya, jadi lebih emphasizing the mood?” saran Ben.

“Terus masukin ad lib di chorus kedua, dan tailingnya.” ujar Micky.

Mereka terus memperbaiki dan mengulang lagu Jack sampai sempurna.

Advertisements

One thought on “10- My Obsession

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s