13- It’s sucked!

Suara ayam berkokok, bunyi alarm yang Keiko menimbulkan kebisingan yang luar biasa. Max sampai menutup kupingnya dengan bantal, terganggu. Keiko buru-buru mematikannya. Ia segera bersiap-siap. Walaupun ini hari Sabtu, ia masih harus bekerja mengantar baju hasil jahitan ke butik di dekat rumah.

Keiko hanya mengenakan jeans dan turtle neck serta jaket panjang. Mukanya dibiarkan polos tanpa riasan. Keluar dari kamarnya dan menuju kamar Yunna, masih terkunci. Ada dua kemungkinan, Yunna masih di dalam atau sudah pergi. Tadinya Keiko ingin menanyakan masalah semalam pada Yunna. Kalau begini, niatnya itu harus disimpan dulu.

Masih pagi banget. Keiko memutuskan untuk merapikan rumah dan mencuci pakaian. Ia juga menyiapkan sarapan – french toast dan susu. Untunya, Max dan Yunna dan pacarnya.  Ia melirik jam yang ditempel di atas TV. Pukul 8, lebih baik ia membangunkan Max sekarang.

Keiko kembali ke kamarnya. Max sudah bangun dan sudah mandi pula. Ia hanya mengenakan handuk yang ikat di pinggangnya. Memamerkan dadanya yang berotot.

“Hai.” sapa Max ramah.

“Hai.” Keiko jadi deg-degan melihat cowok di depannya. “Mau sarapan dulu? Gw buat french toast. Tapi mungkin lo harus makan di mobil. Gw takut Yunna keburu bangun.”

Max mengangguk setuju. Keiko mengoper lunch box bersisi french toast yang dibuatnya. Max melahapnya tanpa malu-malu. 2 sekaligus.

Keiko harus menahan diri agar dia tidak mentertawakan cara makan Max yang belepotan. Dia sudah memakan habis 8 lemabr french toast dalam beberapa menit.

Keiko marasa takjub melihat cara makan Max yang membabi buta. Ia pikir artis selalu memperhatikan porsi makannya agar tubuhnya tetap terawat. Tapi melihat gaya maka Max yang rakus begini, Keiko jadi penasaran bagaimana dia mempertahankan otot-otot menakjubkan itu.

“Enak?” sebetulnya ia tidak perlu menanyakan hal ini, tapi ia tidak tahan untuk tidak berbicara.

Keiko kembali duduk di mobil Max. Cowok itu lagi-lagi memaksa untuk mengantar.

“Banget! Lebih enak dari buatan Jack hyung.” ucap Max sesudah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.

Keiko melemparkan senyum malu-malu pada Max. Baru kali ini ada yang memuji masakannya.

Max berhenti mengunyah sesaat. Keiko tersenyum padanya. “Jangan senyum gitu lagi, orang bisa keselek.” ledek Max, menyembunyikan perasaannya.

Keiko mencubit lengan Max kesal, dasar cowok nyebelin. Masa senyumannya bisa bikin orang keselek. Emangnya senyumannya itu biji salak apa?!

“Aoouchhhh.” Max mengaduh, lalu mengelus bekas cubitan Keiko.

Keiko menjulurkan lidahnya. Masih tidak puas cuma mencubit cowok itu.

“Kurus-kurus tenaga lo badak juga yah.”

Keiko mencubitnya lagi.

“Aouuch, ok, ok. Gw ga akan meledek elo lagi. Ntar gw ada photoshot. Gw ga mau stylist gw nanya kenapa gw memar-memar. Ga keren banget kalau gw jawab – gara-gara dicubit cewek.” Max tetep meledek Keiko, ia ingin mencubitnya lagi, tapi ga jadi. Bagaimanapun ucapan Max benar, cowok itu seorang artis, dan Keiko mau dia tetep menjadi artis.

“Awas yah!” peringat Keiko, lalu Max tertawa lagi.

Max membantu membawakan kantong baju turun dari mobil. Ia tidak mengijinkan Keiko membawa barang berat begitu.

“Pagi, ajummah-ssi” panggil Keiko pada pemilik butik.

“Aigoo, Keiko-ya. Kok siang sekali hari ini.” Tante membukakan pintu untuk tamunya masuk. “Aigoooo, siapa cowok ganteng ini. pacarmu yah?” tanya tante Kim meledek.

“Omo, bukannya ini Max dari FOX-T?” ucap tante Kim terkejut. Hebat, bahkan tante-tante mengenal FOX-T. Tampaknya pengemar mereka melampaui batasan umur.

“Aigooo, Keiko-ya, kamu pintar mencari pacar yah.” tante Kim, terus-terusan meledek sambil sesekali melirik genit pada Max.

Keiko meminta Max meletakan tentengannya di lantai. Lalu ia sendiri yang menajangnya di etalase. Beberapa coat panjang tembakan Chanel dan Bulbery. Jaket pendek dan kaos printed. Semua hasil kerjaannya sebulan terakhir ini.

“Aigooo, kamu gerak cepat yah? Kali ini hampir semua pesanan sudah kamu bawa?” ucap Tante Kim.

Pertanyaan retorikal, Tante Kim memang suka begitu, bicara ngorol-ngidul. “Bagaimana kabar Yuri? Tante belum bertemu dengannya sejak dia menikah 2 tahun lalu. Sudah hamil?” tanya tante kemudian, lalu menghitung uang untuk dibayarkan pada Keiko. 3 juta Won, lumayankan?

“Sudah, anaknya perempuan.”

“Aigoo, kenapa tidak pernah dibawa ke sini? Tante kan juga mau lihat. Kapan kalian mau menyusul?” tante mengedip centil pada Max.

Keiko merasa sudah saatnya meluruskan kesalahpahaman ini, “Doeh, tante, kami tidak berpacaran.” .

“Iyah, tante. Kami belum berpacaran. Nanti aku tanyakan lagi padanya, kapan dia mau menerimaku.” canda Max lalu balas mengedipkan mata pada Tante Kim.

“Aigoo, Keiko-yah. Buruan kamu terimalah Max ini.” saran tante Kim. Keiko hanya tersenyum sopan lalu mendorong Max keluar.

Begitu masuk kembali ke dalam mobil, Keiko kembali mencubiti perut Max.

“Oaucch.” Max mengusap-usap perutnya.

“Jangan bikin orang salah paham.”

“Lho, gw emang ngejer elo kok. Elo nya aja yang ga sadar-sadar.”

“Yah yah, gw percaya.” Keiko mengibas-kibaskan tangannya meminta Max menghentikan gurauannya yang tidak lucu.

Max tidak sempat membalas karena hpnya berbunyi. Karena hpnya dipasang car-mode, Keiko juga dapat mendengar Max dimarahi melalui speaker mobil. Manager Max menanyakan keberadaan Max dan memintanya untuk segera tiba di sana.

Sebagai teman yang baik dan orang yang masih memiliki hati urani, Keiko turun dari mobil. Dilambaikan tangannya pada Max dan berjalan ke bus stop. Ia berencana untuk pulang ke rumah.

Beberapa orang menatapnya lalu berbisik-bisik. Keiko balik menatap mereka bingung. Ada apa? Perasaan tidak ada yang salah dengan dirinya. Ah, biarkan sajalah. Mungkin mereka sedang membicarakan orang lain.

Hp-nya berbunyi. Keiko sudah menganti ringtone “bae-by, bae-by”-nya dengan musik Jack. Melodynya enak banget, mengalahkan  ‘Love’s Hurt by Yiruma’. Padahal Keiko pernah bersumpah bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan lagu itu.

Ia tidak mengenal nomor telpon yang tertera di layar hp-nya. Jadi ia menolak mengangkat. Keiko takut itu telpon teror seperti yang dulu sering ia terima.

Sekarang ganti sms yang masuk. Dari nomor yang tadi.

“Kei, ini Jack. Tolong angkat telponnya.” selesai Keiko membaca, telponnya kembali berbunyi.

Dari nomor yang sama.

“Hallo?” jawab Keiko takut-takut.

“Keiko?” tanya suara cowok yang memang mirip banget dengan suara Jack.

“Yah, siapa nih?”

“Jack.”

“Jack? Jack siapa?” tanya Keiko mengerjainya.

“Jackson.”

“Jackson, who?”

“Jackson FOX-T, Kei-chan…..” Jack mulai tidak sabaran.

“Ooo, ada apa?” Keiko ingin tertawa  karena ia berhasi membuat Jack kesal. Hari ini ia pasti sedang happy sampai bisa usil seperti ini.

“Denger suara elo yang happy begini, berarti lo belum tahu apa-apa.” ucap Jack sinis.

“Emang ada apa?” tanya Keiko bingung.

“Masalah semalam.” ucap Jack singkat. Keiko langsung teringat ciuman itu dan perkelahian itu.

“Semalam? oh, itu, ga apa. Max sudah cerita, lo emang mesum kalo mabok.”

“Bukan, bukan itu yang gw mau gw bahas sekarang.”

Keiko makin bingung, kalau dia bukan mau minta maaf, lalu untuk apa menelponnya?

“Ada yang ngirim video dan foto kita ke agency gw. Kita belum tahu siapa orangnya. Padahal semalem temen-teman gw uda sweeping, ternyata masih ada yang lolos juga. Gw harap lo mau bekerja sama biar masalah ini ga makin besar. Hyung sedang memikirkan beberapa rencana, jadi tenang aja. Gw pasti akan beresin masalah ini sampai tuntas.”

Keiko coba untuk mereka ulang kejadian semalam. Betul, terlalu banyak orang yang menyaksikan kejadian semalam. Biarpun gelap begitu, pasti ada saja yang berhasil melakukan ninja shoot. Mendadak perutnya terasa diremas-remas. Bagaimana kalau onni sampai melihatnya…

“Kei-chan? Keiko? Masih di situ? Lo denger apa yang gw katakan barusan?” panggil Jack gusar.

“Yah, eh, engga?” jawab Keiko bingung.

“Kei, elo ada dimana?”

“Di bus.”

“Mau kemana?”

“Pulang.”

“Jangan. Sekarang elo turun dari Bus. Cari taksi dan minta dia anter elo ke tempat yang gw sms ntar.”

Keiko mengangguk, lupa kalau Jack tidak bisa melihatnya.

“Kei? Ngerti gak?” tanya Jack tidak sabar.

“Iyah.” jawab Keiko.

Sambungan terputus.

Keiko buru-buru turun dari bus yang ditumpanginya dan naik ke dalam taksi pertama yang dilihatnya.

“Tolong ke ….” Keiko menyebutkan alamat yang diberikan Jack.

Ia mencuri-curi pandang ke supir taxi. Mencari tahu apa supir ini mengenalinya. Ternyata tidak. Keiko menari nafas lega. Kelihatannya masalah ini belum separah yang dikatakan Jack. Berarti kemungkinan kalau kakaknya belum mengetahui ini juga masih ada.

Keiko sampai di alamat yang diberikan Jack. ternyata ini kantor agency Fox-T. Cowok dengan seragam keamanan menyambutnya.

“Cari siapa?” tanya pria itu galak.

“Jack, hmm saya mau bertemu dengan Fox-T.”

“Maaf, fans dilarang masuk.” tolak petugas keamanan tegas.

“Tapi, mereka menyuruhku datang.” ujar Keiko putus asa. Bagaimana ini, kalau dia tidak berhasil masuk?

Beberapa cewek di sekitarnya mulai mengerumi Keiko.

“Pak, dia juga sudah janji dengan kami untuk bertemu. Ijinkan kami masuk.” ujar salah satu cewek. Lalu mereka mulai berteriak-teriak saling mengaku kalau mereka diundang oleh Fox-T.

Keiko berjalan menjauh. Ia menelpon nomor yang tadi dipakai Jack untuk menghubunginya.

“Hallo?” jawab Jack.

“Jack, gw udah di bawah, tapi ga bisa masuk. Gimana nih?” tanya Keiko sambil berbisik. Ia harus hati-hati agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya.

“Bentar, gw suru orang jemput elo. Elo pake baju apa?”

Keiko menyebutkan pakaian yang dikenakannya. Lalu menunggu di dekat telepon umum seperti yang diperintahkan Jack. Jantungnya tidak mau berhenti berdetak kencang.

Tiba-tiba ada seseorang menyergap pundak Keiko dari belakang. Keiko reflek membantingnya.

“Auuuh, ini gw Jack.” ucap cowok dengan kacamata hitam dan berjaket kulit. Keiko sempat melihat mukanya sebelum cowok itu mengenakan topinya lagi.

Keiko mengulurkan tangannya untuk membantu Jack berdiri. “Oops.” lalu tersenyum.

Jack menerima uluran tangan Keiko dan kembali berdiri. Ia memaafkan cewek ini, karena senyumannya terlihat cukup tulus. Kalau dia bisa membanting orang seperti tadi, kenapa kemarin dia ga banting om mesum itu?

Jack memboyong Keiko masuk ke dalam ke gedung, menuju markas Fox-T yang bertempat di lantai 4. Didekor sesimple mungkin tanpa mengurangi fungsi dan kegunaannya. Ada ruangan latihan tari, nanyi, rekaman bahkan gymasium.

Ruang tunggu terletak di tengah-tengah, dibatasi dengan kaca tembus pandang dan kedap suara. Keiko duduk di sana, dikelilingi seluruh member Fox-T.

Di luar ruangannya, beberapa orang sibuk mengangkat telpon yang tidak berhenti berdering. Keiko tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, karena ruangan tempat ia menunggu dibuat kedap suara.

Max duduk di samping Keiko. Ben, Micky dan Alex di seberang mereka. Hanya Jack yang terus menerus menerima telpon dan jalan mondar-mandir. Dari beberapa kalimat yang meluncur dari mulut Jack, Keiko mendapat kesimpulan kalau saat ini, mereka sedang hold the leak.

“Sorry yah, gw jadi bikin masalah.” sesal Keiko.

“Bukan salah elo kok.” ujar Max menenangkan.

Ia menatap Ben, Micky dan Alex. Tampang mereka tidak lebih baik dari dirinya atau Jack. Pagi tadi, mereka memulai photoshoot seperti biasa. sampai managernya menelpon Jack dan meminta mereka segara datang ke markas.

Ada orang yang mengirim beberapa lembar photo Jack sedang mencium Keiko disertai dengan surat ancaman. Walaupun wajah Keiko tidak jelas terlihat, tetap saja orang bisa mengenali kalau yang dicium Jack adalah seorang perempuan. Permintaan orang ini sederhana, mereka hanya perlu membayar 5 juta Won. Bukan jumlah yang menjadi masalah. Tapi kepastian kalau orang ini bertindak jujur dan menyerahkan semua rekaman dan film tersebut.

Max merasa kesal luar biasa. Malam itu ia dan Alex sudah memastikan kalau mereka telah menghapus semua gambar dari orang-orang yang ada di sana. Bagaimana mungkin ada yang terlewat seperti ini.

“Max, boleh lihat photonya?” tanya Keiko

Ben yang menyodorkan lembaran photo pada Keiko. Keiko menelitinya. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi karena rambutnya diikat seperti itu orang pasti tahu kalau ini seorang perempuan. Sebetulnya, tanpa photo, ia yakin pengunjung PubTeen saat itu juga pasti menyebarkan gosip kalau Jack mencium cewek saat mabok. Hanya saja, dengan adanya photo, posisi Jack jadi sulit, karena mereka tidak bisa membantah kalau kejadian ini tidak terjadi ataupun tidak disengaja.

“Hanya ini?” tanya Keiko.

“Hanya ini. Mudah-mudahan tidak ada rekaman videonya.” sahut Micky. Ia sudah berusaha menyuruh intel yang dikenalnya untuk mengusut masalah ini. tapi masih belum ada titik cerah.

“Hmmm, gw ada usul sedikit.” ucap Keiko ragu-ragu, ia tidak tahu apa rencananya bisa berhasil atau tidak. Mereka langsung menatap Keiko.

“Di PubTeen pasti ada rekaman jelas kejadian ini. Dari awal kalian sedang adu minum, Jack mencium gw, Ben dan Micky.” Keiko berhenti sejenak, melihat reaksi Fox-T.

“Terus?” tanya Micky tidak sabar.

“Kita bisa cari orang yang photo melalui rekaman itu. Kalau gw salah tebak. seharusnya orang ini duduk ga jauh dari meja kalian. Posisinya mungkin persis di samping Max dan aku. Kerena photonya terlalu dekat.”

Wajah mereka langsung berubah cerah setelah mendegnar penjelasan Keiko. Mereka sama sekali tidak terpikir untuk mengecek rekaman di lounge.

“Biar gw yang telpon hyung,” ucap Alex, lalu ia mengambil HPnya

“Gw ambil mobil.” ucap Max. Keiko sudah berdiri siap mengikuti Max.

“No, Kei. Elo ikut gw.” ucap Micky lalu menarik tangan Keiko.

Mereka tiba di ruang kostum. Micky melempar jaket, celana jeans vintage, kaos baseball, topi cap dengan logo NYC.

“Ganti pake ini.” perintah Micky. Keiko menurut. Ia keluar setelah selesai berganti.

“Bagus. Dengan begini, ga akan ada yang nyangka elo cewek.” ucap Micky puas dengan penampilan baru Keiko. Lalu menarik lengan Keiko lagi menuju lobby.

“Yosh. Mana Max?” tanya Micky pada Alex dan Ben.

“Lagi ambil mobil. Mana Keiko?” tanya Ben

Micky menunjuk cocok di sampingnya dengan lirikan matanya.

“Ini?” tanya Ben dan Alex berbarengan. Lalu mereka tertawa terpingkal-pingkal. Kuping Keiko memerah. Tampangnya pasti konyol sekali dengan jaket dan kaos kedodoran seperti ini. Mana celannya kepanjangan banget. Ia sampai harus menggulugnya cukup tinggi.

Max tiba dengan mobil CR9-putih nya. Alex duduk di depan. Ben dan Micky mengapit Keiko.

“Mana Jack?” tanya Max.

“Masih di atas. Dia dipanggil Big Boss.” jawab Alex. Raut muka Micky dan Max menunjukan kekhawatiran luar biasa. Keiko bisa membayangkan kalau Jack sedang diintrogasi oleh bapak-bapak galak. Tidak, ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia harus membantu Jack.

“Oppa. Aku mau pinjem kunci Pub. Mau ngecek rekaman kamera Jumat kemarin.” panggil Keiko, ia menelpon BaeWon. “Thank you.”

Max meremas gagang stirnya. Ia sama sekali tidak senang mendengar Keiko menelpon BaeWon dan memanggilnya oppa.

“Max, kita mampir ke gedung …, di GangNam yah. Ke kantor BaeWon oppa.” ucap Keiko datar, tidak menyadari perubahan Max.

Max tidak menjawab, ia makin kesal mendengar Keiko kembali menyebut nama BaeWon. Kok dia jadi pencemburu seperti ini yah.

“Max.” panggil Alex.

“Iyah, gw denger. Ke … kan?” jawab Max sewot.

Keiko menatap Max bingung, apalagi yang menyebabkan dia marah kali ini? Dasar cowok tempramental.

“Kalau kita udah berhasil nemuin orangnya, terus gimana?” tanya Ben

“Ntar biar intel gw yang urus.” ucap Micky tenang.

“Intel?” tanya Keiko tidak mengerti.

“Hmm, ini rahasia aja yah. Micky punya banyak koneksi orang kepolisian, interpol dan mafia. Jadi begitu kita tau identitas pemeras ini, anggap masalah selesai.” Ben menjelaskan. yang dijawab dengan ooo panjang dari Keiko. Di mata Keiko, Micky terlalu kalem untuk mengenal dunia hitam. Istilah — Don’t judge a book by its cover, cocok banget dengan Micky.

“Udah nyampe.” ucap Max galak.

Keiko mencibir lalu turun dengan Micky. Yang lainnya menunggu di mobil.

“Saya ada janji dengan Han BaeWon.” ucap Micky, dia tidak membiarkan Keiko berbicara. Karena itu akan menghancurkan penyamarannya.

Si penerima tamu tersenyum lebar, melihat Micky. Keiko tebak, ia pasti pengemar Fox-T juga. Keiko sudah memberitahu BaeWon kalau nanti ia datang bersama Micky. Jadi mereka berhasil masuk tanpa dipersulit.

Keiko menekan angka 35, ruangan BaeWon terletak di lantai paling atas. Ia sudah sering datang kemari dulu, waktu ia dan Yunna bekerja untuk BaeWon sebagai translator.

Sekertaris BaeWon tidak membiarkan mereka masuk karena ia tidak mengenali Keiko yang sedang dalam penyamaran. Terpaksa, Keiko menelpon BaeWon lagi.

“Oppa, aku udah di atas.”

BaeWon segera keluar menyambut mereka. Ia tidak bertanya apa-apa sampai mereka sampai di ruangannya.

“Ada apa Baeby? Kenapa perlu rekamaan itu sekarang?”  BaeWon bertanya sambil memberikan kunci PubTeen pada Keiko.

“Ada orang yang meres mereka dengan foto ciuman itu.” Keiko memberi penjelasan singkat.

“Pemerasan? Siapa?”

“Justru kita mau cari tahu. Siapa tahu orang itu terekam di video.”

“Kamu perlu bantuan?”

“Ga apa. Oppa ga perlu khawatir.”

“Kalau perlu apa-apa, kamu telpon oppa, okey?”

“Siap Boss. Kami jalan dulu yah. Salam buat onni.”

Setelah sampai di lift, Micky baru membuka suara, “Dia ipar lo?”

“Iyah, tahu dari Max yah?”

“Engga, tadi gw lihat di meja dia ada photo elo sama cewek yang mirip elo.”

“Ahhh, photo pas pesta pernikahan mereka.” jawab Keiko. Ia tahu foto apa yang dimaksud Micky. Karena itu satu-satunya photo yang dipajang BaeWon di mejanya.

“Dia pengacara kan?”

“Iyah. tapi sekarang dia lebih fokus di perusahaan ini. gantiin ayahnya.”

“Ooooo.” komentar Micky datar. Ia punya beberapa asumsi yang harus dia tanyakan pada Max.

Mereka kembali ke dalam mobil, dan segera menuju PubTeen. Keiko membukakan pintu dan mereka langsung masuk ke ruang keamanan. ada 20 kamera yang terpasang di untuk memantau lounge. Tapi Keiko khusus memncari kamera 3,4 dan 5 yang menyorot meja Fox-T malam itu.

Micky mengambil alih komputer, karena Keiko tidak mengerti pengaturan layar dan cara kerja cctv.

“Apa yang kita cari?” tanya Alex.

“Menurut gw, orang yang ambil photo Jack pasti make kamera bukan handphone. Hasil jepretannya terlalu jelas dan fokus. Terus kemungkinan orangnya ada di sebelah kanan meja kita.”

Mereka memperhatikan setiap adegan di layar. Keiko dan Max menatap gambar dari kamera 3, Ben dan Micky dari kamera 4 serta Alex dari kamera 5.

“Stop, stop.” teriak Ben. “Mundur dikit.”

Micky menurut, dan memindahkan gambar kamera 4 ke layar yang lebih besar. Banyak tangan menjulur untuk memotret adegan heboh itu. Tapi hanya 1 orang yang mengunakan kamera bukan handphone.

“Ini bukan?” tanya Ben menunjuk cowok dengan kamera digital di tangannya. Cowok itu berdiri persis di belakang Max.

Keiko menyipitkan matanya, rasanya dia kenal. Tapi ia tidak dapat mengingat siapa namanya. Cowok ini selalu datang sendiri dan memesan soju dingin setiap kali ia datang. Dia tidak pernah meninggalkan mejanya kecuali untuk ke kamar kecil dan baru pulang kalau Pub sudah akan tutup.

“Gimana Max, ada gambaran?” tanya Micky.

“Gw sama sekali ga inget.” ucap Max kesal.

“Coba liat di camera 5, barangkali ada gambar yang lebih jelas.” ucap Keiko. Micky memindahkan gambar camera 5 dan memutarnya. Semua berkonsentrasi mencari suspect mereka. Sia-sia, karena topi yang dikenakannya, mereka jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.

“Stop, Zoom.” perintah Keiko.

Di pundak cowok ini ada tato kalajengking dengan inisial VC.

“Itu bukannya lambang Black Scorpio?” ucap Ben.

“VC. hmmm.” Micky menyingkir keluar untuk menelfon. Keiko tebak, pasti ia sedang menyuruh koneksinya untuk mencari orang ini. Keiko lalu mengeprint foto close up terbaik yang terlihat lalu mengirim sati ke HP nya sendiri.

Sekarang, ketegangan yang mereka rasakan sedikit meluntur. Petunjuk yang didapat can lead them to their suspect.

“Jack, sms. Minta kita ketemu dengannya di Nobu.” kata Micky saat dia masuk kembali.  “Keiko, elo juga ikut.” Membatalkan rencana Keiko untuk pulang dan makan sendiri.

Advertisements

One thought on “13- It’s sucked!

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s