14- Doomsday

Ternyata, Jack membooking room khusus untuk mereka makan siang. Mukanya kusut luar biasa. Tapi ia tetap tersenyum saat menyambut Keiko dan teman-temannya datang.

“Makan, makan. Gw uda pesenin favorite elo orang. Tinggal Keiko, mau makan apa?” tanya Jack.

“Gw minta kimchijjige aja.” uajr Keiko setelah melihat menu, ia tidak tertarik untuk makan apa-apa.

Jack menyampaikan pesanan Keiko pada waitress.

Ia bersikap seperti biasa, mengurus makanan teman-temannya. Tersenyum dan ikut tertawa pada setiap lawakan yang dilontarkan Ben. Orang yang tidak mengenalnya dengan baik, pasti tidak menduga kalau saat ini, otaknya mampet, jiwanya sudah setengah melayang memikirkan jalan keluar dari semua masalah yang dia buat.

Walaupun Ben sudah menyampaikan kalau mereka berhasil menemukan calon tersangka, tetap saja tidak membuat rasa panik dan ketegangannya berkurang. Ia perlu memastikan dengan tangan dan mata kepalanya sendiri kalau foto-foto tersebut tidak akan pernah beredar di masyarakat.

Yang paling disesalinya adalah, keterlibatan Keiko. Cewek ini bukannya duduk tenang di rumah atau di tempat persembunyiannya malah ikut mondar-mandir dengan teman-temannya. Sebetulnya ia berharap Max dapat lebih berperan untuk mengontrol Keiko. Tapi maknae-nya itu malah terlihat senang karena waktu yang bisa ia habiskan dengan cewek itu lebih banyak.

Rasanya Jack tidak akan terkejut kalau seandainya dua orang itu berpacaran, pihak ceweknya jauh lebih dominan. Kalau dia yang mengejar Keiko, ia tidak akan membiarkan cewek itu dalam bahaya. Ironis sekali, bukannya saat ini yang ia yang membuat Keiko terjepit?

“Gw balik dulu yah. Besok masih harus kerja.” kata Keiko setelah ia menyelesaikan kimchi-jjigenya dengan paksa. Max terus menyuapinya.

“Untuk sementara, mendingan elo dandan begini dulu. Jangan sampai ada yang ngenalin elo.” nasehat Alex.

“Ga masalah sih. gw kerja di studio terus, ntar gw minta Yunna anter-jemput deh.” jelas Keiko. Ia juga tidak mau mengambil resiko dikeroyok para pengemar Jack.

Keiko menolak untuk diantar oleh mereka. Situasi akan semakin rumit kalau sampai ada yang menyadari mereka bersama dengannya. Lagipula, ia juga sanggup melindungi dirinya sendiri. Sudah saatnya jurus-jurus aikido yang dulu dipelajarinya digunakan.

Sahabatnya menyambutnya hangat begitu ia tiba di rumah. Yunna sedang senang-senangnya karena omsetnya terus meningkat tajam sejak iklan baru dengan Fox-T beredar. Melihat dandanan Keiko yang terlewat aneh, ia hanya menunggu sampai Keiko sendiri yang bercerita. Sebab, percuma saja mendesak dia kalau dia memang tidak ingin mengatakan apa-apa.

“Tumben ga nanya kenapa dandanan gw norak begini?” tanya Keiko. Ia sudah melepas jaket, topi dan kacamatanya. Berbaring di paha Yunna.

“Karena elo bakal cerita sendiri, so buat apa, gw nanya.”jelas Yunna enteng.

“Yun, gw cape banget…” keluh Keiko. Selanjutnya cerita mengalir dengan lancar dari mulut Keiko. Yunna tidak bermenunggu Keiko selesai bercerita untuk memaki BaeWon yang tidak bisa menjaga temannya ini. Ia juga mengeluarkan semua sumpah serapah yang diketahui untuk memarahi Jack. Tapi ia juga sempat memuji Max karena menolong Keiko dari om-om mesum.

Keiko merasa lebih tenang setelah mendengar tanggapan Yunna. Sahabatnya itu seperti sudah mengantikan dirinya mengatakan semua itu.

“Tumben elo ga bela oppa? Biasanya kalau gw hina dia dikit, elo pasti langsung kayak landak. Durinya naik semua.” tanya Yunna heran.”Belakangan juga elo ga pernah ngomongin oppa lagi.”

Keiko jadi ikut berpikir, benar sejak kapan ia tidak pernah memikirkan BaeWon. Mungkin karena ia sibuk dengan pekerjaannya atau karena sekarang ada Max yang mengantikan posisi BaeWon menemaninya? Atau karena ia terus merindukan pria satunya, yang lebih jarang menghubunginya tapi setipa kali selalu membuat jantungnya berdebar?

“Tok, tok, tok, Who’s there?” canda Yunna iseng, melihat Keiko mengerutkan dahi.

“Yun, siapa nama cowok yang paling sering gw omongin sekarang?”

“Hemmm, Max, Jack, Tae?”

“Paling sering?”

“Mungkin Max, tapi Keiko waktu elo ngingau, elo lebih sering manggil Jack.” jawab Yunna jujur, belakangan mereka tidur bareng, karena kamar Yunna sedang didekor ulang.

JACK? Lipatan di dahi Keiko makin banyak.

“Buat gw yang mana aja boleh Kei, asal elo udah ga mikirin  Oppa. Menurut gw dua-duanya sama-sama baik.” Yunna menutup muka Keiko dengan bantal. Gemas pada temannya ini. Ia sudah mengunci mulutnya terlalu lama untuk mengatakan kalimat tadi.

Ia tidak pernah bercerita pada Keiko kalau saat mereka bertemu dengan Fox-T. Ia menemukan beberapa hal menarik. Rasa kagum di wajah Jack saat ia mendengarkan Keiko bernegosiasi dengan manager mereka. Mata Max yang terus mengekori setiap gerak-gerik Keiko. Yunna yakin kalau Max sudah terpesona dan mungkin jatuh cinta.

Max kelihatannya lebih agresif melakukan pendekatannya, menelpon Keiko setiap hari, mengajaknya makan, atau hanya sekedar datang ke rumah mereka. Dia juga tidak malu-malu mengirim bunga atau menjemput Keiko di tempat kerjanya. Karena status keartisan Max, mereka selalu pergi bertiga agar para pengemarnya tidak curiga. Di mata Yunna, Max jauh lebih bisa melindungi Keiko dibanding abangnya. Dan jauh lebih sering membuat Keiko tertawa.

Sedangkan Jack, dia hanya sesekali menelpon dan pembicaraan mereka tidak pernah jauh dari masalah pekerjaan. Kadang ia melihat Keiko sering termenung setelah pembicaraan mereka. Yunna tidak bisa menebak perasaan Keiko pada Jack, tapi saat dia mendengar Keiko memanggil Jack ketika tidur. Ia yakin, sebetulnya jauh di lubuk hati Keiko, Jack sudah meninggalkan jejaknya. Tapi Yunna tidak bersimpati sama sekali, tidak setelah apa yang didengarnya barusan.

Ia membiarkan Keiko masuk ke kamar. Diam-diam ia menelpon Micky. Dulu ia sempat bertukar nomor telpon dan email dengan Micky di pertemuan mereka dulu. Aliansi mereka berdua didirikan hanya untuk satu tujuan, melindungi teman-temannya ini supaya tidak saling tikam.

“Hallo Micky-ssi.”

“Hei, what’s up gal?”

“Not so great, my baby lost her faith.”

“Di sini juga sama suramnya. Raven sedang tengelam dalam jerami, sedang Eagle sibuk menendus-endus.” Raven adalah Jack, eagle adalah Max.

“Sudah ada kabar tentang Kalajengking?” tanya Yunna mengenai tersangka pemeras.

“Baby udah cerita yah? Belum, spy gw belum kasih kabar. Gw sedikit hopeless. Jangan-jangan kita salah orang.”

“Ga mungkin, elo boleh percaya insting Baby untuk masalah ini. Dia ga pernah luput memperhatikan detail sekecil apapun.”

“Mudah-mudahlah. Kalau masalah ini ga bisa diselesaikan baik-baik. Segitiga ini bisa makin bengkok. Ngerti kan maksud gw?”

Yunna tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengerti ucapan Micky. Ia juga sangat mengerti kalau video itu sampai tersebar luas ke masyarakat, Keiko pasti ditentang habis-habisan oleh para pengemar Jack. Lalu Max juga tidak bisa berhubungan dengan Keiko, karena percintaan segitiga mereka akan makin mencoreng nama Keiko di mata publik.

“Perlu gw turun tangan? Mungkin kenalan gw ga sebaik elo, tapi gw punya banyak orang yang bisa berkeliaran mencari kalajenking ini.” tawar Yunna, ia juga tidak bisa berpangku tangan saja, menunggu pengejaran Micky.

“Jangan terlalu gegabah dan jangan sampai membuat kalajengking masuk sarangnya. Nanti makin sulit mencari dia.”

“Yes Sir.”

“Satu lagi Yun, hati-hati.”

Yunna merasakan kehangatan dari ucapan Micky yang terakhir. Cowok ini memang licik dan banyak akal. Yunna sendiri harus berhati-hati agar tidak sampai terjebak dan terpancing untuk melibatkan diri lebih jauh dengannya. Tapi setiap kali ia berpikir untuk menjauh, justru magnet Micky semakin kuat menariknya. Kalau ia sampai jatuh cinta pada cowok ini, maka tamatlah sudah. Ia pasti akan terus patah hati dan terbakar rasa cemburu.

Yunna menutup pembicaraan dengan mengingatkan Micky akan suprise party untuk Keiko besok, jam 7 malam.

Keiko bangun pagi, menjalani harinya seperti biasa. Beberapa rekan kerjanya memberinya selamat untuk ulang tahunnya yang ke-23. TaeMin juga memberinya kalung berbentuk angel dari white gold. Kado yang manis banget.

Pulang dari studio, Keiko mampir ke toko kue di daerah Itaewon. Tentunya, Keiko menggunakan wig panjang pirang dengn dandanan eksentrik. Menurut Yunna, penyamaran paling bagus adalah menjadi mencolok sampai tak terlihat.

“Minta chocolate devil ukuran 25cm yah.” ucap Keiko pada pramusaji yang menatapnya seperti melihat bule nyasar. Ia menyuruh Keiko menunggu setelah menerima pembayaran.

Keiko berdiri di dekat etalase roti, sambil mengecek e-mailnya. Ada beberapa cowok yang menabraknya dari belakang.  Membuat ia oleng sedikit. Ditatapnya cowo-cowok itu yang terus jalan tanpa meminta maaf. Menilai dari pakaian mereka yang berantakan seperti itu, pasti mereka bukan orang baik-baik. Termasuk, om dengan tato kalajengkin yang menemuinya di luar. Tato kalajengking?

Keiko memicingkan matanya, tinggi pria itu kurng lebih sama dengan si kalajengking. Keiko membuka fotonya lagi, mencari beberapa kesemaan lainnya. Dizoom lagi, kedua orang ini sama-sama punya tali lalat besar di dekat pipi kanan bawah. Ga salah lagi, inipasti orang yang sama.

Keiko menelpon Yunna, memberitahunya ia akan mengejar Kalajengking. Ia meminta Yunna untuk menyampaikan masalah ini pada Fox-T.

Ia membuntuti si kalajenking sampai ke dalam pub. Memesan kopi sambil memperhatikan gerak-gerik si kalajengking. Pria itu menemui beberapa orang yang berbeda. Keiko tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang-orang itu, karena ia hanya dapat melihat punggung mereka. Tapi Keiko tidak kehabisan akal, ia tetap mengamil foto mereka. Ia perhatikan, restoran ini juga punya CCTV. Nanti ia tinggal mencari alasan untuk meminjamnya. Oh, shoot, si kalajengking keluar. Keiko buru-buru membayar dan berlari keluar menyusul dia.

Ia mengangkat handphonenya, telpon dari Max.

“Dimana Kei?”

“Masih di daerah Itaewon, deket Mcd. Udah dulu ya. Telpon jangan dimatiin. Buruan ke sini. Kayaknya dia buronan kita.” Keiko segera memasukan HPnya ke dalam tas dan keluar dari restoran.

Kelajengking sudah tidak terlihat. Keiko melihat ke kiri dan ke kanan, sekilas, ia melihat punggung sasarannya yang berbelok ke kanan di ujung gang. Ia berlari menyusul, ternyata gang buntu.

“SIAPA KAMU?” tanya Kalajengking tiba-tiba dari balik pungung Keiko. Mengagetkannya. Shoot, ia terjebak!

“Maaf, saya salah mengenali orang. saya pikir anda paman saya.” kelakar Keiko, ia berjalan melewati kalajengking. Dari dekat begini, tampangnya makin seram. Matanya merah seperti orang mabuk.

Kalajengking mendorong Keiko kembali ke posisi awal.

“Jangan banyak alasan! Anda sudah mengikuti saya dari bakery. Siapa yang menyuruh anda? Apa tujuan anda?” tanya Kalajengking sengit. Ia memojokkan Keiko sampai menempel di tembok.

Keiko berpikir cepat. Ia menendang bagian kemaluan si kalajenjing keras.

“SIALAN!” teriak kalajengking kesakitan, ia sampai berguling-guling di jalanan.

Keiko buru-buru lari ke mulut gang. Cowok-cowok preman tadi muncul di hadapannya. Mendorongnya kembali ke dalam gang.

“Brengsek, apa yang Lo lakuin ke boss gw?!” hardik salah satu preman itu. Ia langsung mencekal kerah baju Keiko.  Keiko menangkap tangan cowok itu, lalu membantingnya.

“BAJINGAN!!” umpat cowok lainnya dengan mode battle on. Keiko memasang kuda-kudanya lagi.

“Tangkap cewek itu!” perintah kalajengking, membuat antek-anteknya makin beringas menyerang Keiko.

Dengan gesit, Keiko berhasil menghindari beberapa pukulan dari mereka. Tapi ia semakin terpojok masuk ke dalam gang buntu. Berapa kalipun Keiko memukul, menendang, membanting preman-preman itu. Tetap saja mereka bangun kembali. Ia kesal, seandainya saja ia cowok, tenaganya pasti jauh lebih kuat dan bisa langsung melumpuhkan mereka. Tenaganya sudah  nyaris terkuras habis. Nafasnya mulai tersenggal-sengal, memperlambat gerakannya.Doeh, kapan teman-temannya datang…

Keiko menerima pukulan lumayan keras di punggungnya. Membuat ia terjatuh. Ia masih belum menyerah. Bangkit kembali dengan susah payah. Tapi pukulan terakhir tadi, semakin memperlambat gerakannya. Ia mulai tersudut.

“KEI..!” teriak Max lantang. Membuat Keiko dan para preman menoleh padanya.

Max datang dengan teman-temannya dan beberapa orang dengan seragam polisi.

“Angkat tangan!” perintah polisi sambil mengacungkan pistol. Preman-preman itu menurut. Keiko terduduk, lega.

“KEI, awas!” teriak Max.

Kalajengking yang dari tadi tertuduk tak jauh dari Keiko,  menganyunkan balok kayu menghantam lengan Keiko yang digunakan untuk menangkis. Pecahan balok itu mengenai kepala Keiko, membuat ia kehilangan kesadaran.

Polisi meletuskan tembakan peringatan. Membuat Kalajengking menjatuhkan balok kayunya. Kerumunan orang semakin bertambah di sana. Kalau tadi mereka hanya memperhatikan FOx-T, sekarang mereka mulai menerka-nerka apa yang terjadi di sana.

Max lari menghampiri Keiko dan langsung membopongnya masuk ke dalam mobil. tidak memperdulikan berapa banyak kamera yang sedang menyorotnya. “Kei, sadar Kei…, Kei…” ucap Max berulang-ulang.

Jack menyetir bak orang gila menerobos kerumunan orang. Mengklakson semua mobil di hadapannya. Untung ada motor polisi yang membuka jalan untuknya, sehingga ia tidak perlu menunggu lampu mereah dan terus menancap gasnya sampai tiba di rumah sakit terdekat.. Ben yang duduk di sampingnya sampai harus mengingatkan berkali-kali untuk tidak berhati-hati dan Yunna terus-terus menangis dalam pelukan Micky.

“Kei, kenapa ulang tahun elo malah jadi begini….” tangis Yunna. Membuat mereka semua membisu. Menyesali keterlambatan mereka. Menyesali keterbatasan mereka.

Sampai di rumah sakit, Keiko langsung rawat oleh unit gawat darurat. Tubuh Keiko memar hampir di seluruh badan.    Tapi yang paling parah adalah luka di lengannya. Tulangnya retak dan ia terus tertidur. Dokter mengatakan kalau kepala Keiko ada gumpalan darah akibat pukulan yang diterimanya. Dan dia harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar karena mereka tidak memiliki peralatan yang memadai.

Yunna sudah mengabari BaeWon dan Yuri yang sedang ada di Amerika, mengunjungi orang tua Keiko. Mereka kembali lebih awal dari rencana bersama orang tua Keiko. BaeWon langusng mengurus kepindahan Keiko ke RS yang lebih baik dengan penangangan terbaik.

Karena keterlibatan Fox-T, masalah Keiko masuk ke rumah sakit sudah menjadi berita nasional dengan headline, “Fox-T menolong seorang gadis yang dikeroyok preman.” Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana ceritanya bisa berkembang seperti itu, karena dari keterangan Yunna, ia tahu kejadian yang terjadi tidak seperti itu. Karena publikasi itu juga ia jadi tidak bisa menginap dan menjaga Keiko. Ia masih harus menepati janjinya pada sang ayah dengan tidak menciptakan skandal.

Kekesalannya semakin menumpuk pada Fox-T yang terus datang bergantian menjenguk Keiko. Setiap kali salah satu dari mereka datang, puluhan penggemar mereka akan  memadati RS, membuat kekacauan demi kekacauan. Sampai akhirnya kesabarannya habis dan melarang mereka untuk datang. Tidak sampai di situ, Fox-T juga menyebabkan ia bertengkar dengan Yunna. Tumben adiknya tidak setuju dengannya dan tetap mengijikan Fox-T untuk datang asal mereka bisa menutupi identitas mereka. Padahal selama ini, segala hal yang menyangkut kebahagian dan ketentraman Keiko, mereka pasti sepaham.

Satu minggu berlalu. Kondisi Keiko sudah jauh membaik, memar-memar di tubuh Keiko mulai memudar. Tapi Keiko masih juga belum sadar. Bahkan retak di lengannya berangsur-angsur sembuh.

Yunna duduk di sisi ranjang Keiko. Menggengam jemarinya erat, membagi panas tubuh dan kekuatan. Berharap Keiko meresponnya balik, mengatakan padanya kalau ia sedang bercanda.

“Yun…” panggil Jack, ia meletakan tangannya di pundak Yunna. Hari ini ia datang untuk menemui Keiko. tentunya dengan menyamar habis-habisan. Ia sampai memasang kumis palsu dan wig ubanan.

“Dia masih belum sadar Jack…” air mata Yunna kembali menetes.

Jack meremas pundak Yunna, menguatkan Yunna sekaligus dirinya. Seminggu ini, ia sibuk dengan jadwalnya. Kalajengking sudah dijebloskan ke penjara. BaeWon sendiri yang turun tangan menuntutnya dan memastikan kalau bajiangan itu hanya akan melihat matahari terbit dari balik jeruji. Sialnya, bajingan itu mengatakan kalau ia masih menyimpan satu copy video ciuman Jack. Ia itu menolak untuk mengatakan tempatnya. Seberapa keras pun mereka memaksa, Kalajengking terus membungkam. Micky sampai berpikir kalau itu hanya akal-akalan Kalajengking untuk membuat mereka panik. Jack tidak bisa tenang, walaupun usahanya seminggu ini sama sekali tidak membuahkan hasil.

“Yun,” panggil Micky. Yunna bangun dan memeluk laki-laki yang baru menjadi kekasihnya beberapa hari.

“Makan dulu yuk. Aku bawain bubur.” Micky mengajak Yunna keluar, memberi waktu untuk sahabatnya berduan dengan Keiko.

Jack berdiri menatap wajah perempuan yang dicintainya. Ia mengelus kening, pipi dan hidung Keiko. Bibirnya menyungingkan senyum.

“Kamu mau tidur sampai kapan Keiko? Biarpun aku ga pernah bosen liat tampang tidur kamu, tapi aku lebih suka liat senyum tersungging di bibir kamu. Kamu ga kasihan sama Max? Dia kurusan banyak lho, gara-gara bolak-balik nungguin kamu. Aku sampe harus suapin dia makan, gara-gara dia punya ide gila untuk puasa sampai kamu melek.” Ia menatap wajah Keiko lagi, berharap kalau ia akan bangun begitu mendengar Max mengkhawatirkannya. Tapi ekspresi wajah Keiko tidak berubah, masih sama seperti tadi. Ia menundukan kepalanya dan mengecup bibir Keiko. Airmatanya jatuh membasahi pipi Keiko. “Bangun, Kei. Kamu ga boleh pergi kayak gini. Setidaknya ijinin aku untuk bilang, kalau aku juga sayang sama kamu.” bisik Jack pelan ke kuping Keiko. Ia memejamkan matanya, menahan airmatanya agar tidak jatuh lebih banyak lagi. Menahan rasa sesak yang mengerogotinya. Ia tidak sadar kalau ada tiga pasang mata sedang menatapnya.

“Sejak kapan Jack-hyung suka sama Keiko?” tanya Max datar.

“Max…” ucap Micky memelas. Ia terkejut bukan main saat menemukan Max berdiri di depan pintu. Terlebih lagi ketika ia melihat Jack mencium Keiko. Bagaimana sekarang ia harus menjelaskan semua ini.

“Sejak kapan Jack suka sama Keiko?” suara Max naik beberapa oktaf.

“Max…”desis Micky

“Dan dia bilang, kalau Keiko cuma dianggapnya adik? Coba jawab hyung, apa gw segoblok itu untuk percaya setelah apa yang gw lihat tadi!!!” kemarahan menguasai Max.

Micky menjulurkan tangannya untuk menyentu pundak Max. Tangannya langsung ditepis kasar. Ia mengerti kalau Max marah dan merasa dibohongi oleh mereka. Tapi Micky sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sudah bersumpah untuk tidak mengatakan pada siapa-siap tentang perasaan Jack.

“Kenapa lo harus bohongin gw? Apa karena gw yang paling kecil diantara elo orang, jadi elo harus ngalah? Atau elo terlalu takut untuk bersaing dengan gw?!” teriak Max.

Micky menengok, Jack sudah berdiri di sebelahnya.

“Maaf…” ujar Jack lemah.

Max langsung melayangkan tinjunya ke perut Jack. Membuat Jack mundur beberapa langkah. Ia tidak menghindar, ia merasa pantas untuk menerima pukulan ini.

“MAAF?! KENAPA minta maaf??!” Max kembali melayangkan tinjunya, kali ini mengenai bibir Jack. Bibir Jack berdarah. Ia sudah ingin melepaskan tinju ketiganya, Tapi Micky menahan pinggangnya dan menariknya mundur.

“STOP, dia emang cowok tolol! Yang mau ngerelain cewek yang disukainya untuk orang lain. Tapi kalo elo terusin mukulin dia kayak gini, elo juga bakal nyesel nyakitin sahabat elo sendiri.” erang Micky. Selama ini, ia bersusah payah untuk menghindari kejadian seperti ini. Kenapa hanya karena ia lenggah sedikit, keadaaan jadi tidak terkendali seperti ini?

“Elo orang semua diam!” teriak Yunna sambil terisak. Ia begitu ketakutan tadi melihat dua orang cowok dengan tubuh besar seperti mereka berkelahi.

“Kenapa elo orang harus ribut di sini? Gimana kalau Keiko ga akan pernah bangun, gara-gara dia lihat elo orang ribut gara-gara dia!!!”

“Yun….shhssss” Micky ganti memeluk Yunna dan menenangkannya.

Max menatap Jack yang bersandar di dinding lemah. Ia baru sadar kalau penampilan Jack tidak lebih baik darinya. Bahkan Jack jauh lebih kurus dari dirinya. Padahal hyung-nya ini selalu menyuruhnya makan. Ia membantu Jack berdiri, karena pukulan terakhirnya membuat hyungnya jatuh. “Gw ga akan minta maaf.” lalu tersenyum padanya.

“Ga apa. Gw emang pantes elo tampol.” jawab Jack, ia membersihkan darah dari bibirnya.

“Tapi hyung, elo ga perlu ngalah. Gw ga takut kok bersaing sama elo.” ujar Max sombong. Jack hanya tertawa mendengarnya Max juga ikut tertawa. Pertumpahan darah dapat dihindari. Micky lalu bergabung memeluk dua sahabatnya itu.

“Lo orang bikin gw takut.”

Max menonjok perut Micky pelan, ”Itu buat elo, soalnya elo sekongkol sama Jack.”

Micky mengelus-elus perutnya yang tidak sakit. Perasaannya betul-betul lega melihat mereka.

Yunna melirik melaui punggung cowok-cowok itu. Ada tangan yang terangkat.

“KEIKO….” pekik Yunna. Ia lalu berlari menyambut tangan Keiko yang melambai-lambai di udara.

Cowok-cowok itu juga mengerumuni ranjang Keiko. Jack dengan gesit, keluar memanggil dokter jaga.

Keiko menunjuk-nunjuk masker pernafasannya.

“Boleh dilepas ga?” tanya Yunna bingung sekaligus bahagia.

“Copotin aja.” Max berinisiatif menjauhkan masker dari hidung Keiko.

Kalimat pertama yang meluncur dari mulut Keiko adalah, “Suh sah nafas gw.” Ia tersenyum lemah. Yunna langsung menangis dan memeluknya. Mata Micky juga memerah menahan haru.

“Hi, Max, Micky..” sapa Keiko sambil menatap mereka satu-satu.

Suara itu, sudah berapa lama ia tidak mendengarnya. “Hello tukang tidur.” ledek Max. Ia duduk di pinggir ranjang Keiko. Mengucek rambut cewek itu. Ia masih tidak percaya kalau Keiko sudah sadar.

“Hallo juga cowok cengeng. Bosen gw denger elo nangis di samping gw.”

Max memeluk Keiko seerat yang ia bisa

“Max, tangan gw. auuuh.”

Max lupa sama sekali kalau tangan Keiko masih digibs. Pelukannya tadi pasti sudah mengoncang tatakan lengan Keiko.

“Mana yang sakit Kei?” tanya Max khawatir.

“Pala lo yang sakit. Udah tau tangan gw masih digibs, elo sikat juga.”

Dokter jaga datang bersama Jack. Memeriksa Keiko.

“Bagus, tidak ada tanda-tanda keanehan. Kalau sudah kuat, boleh mulai gerak-gerak. Badan kamu pasti pegal-pegal karena satu minggu ini terus berbaring.”

“Satu minggu? Gw tidur selama itu?”

“Iyah, non. 1 minggu.” sahut Yunna.

“UUgh, gw pasti udah bau banget sekarang.” Keiko mengendus-endus badannya. Tidak ada bau aneh, hanya bau obat dan sterilisasi.

Mereka tertawa mendengar candaan Keiko. Cewek ini betul-betul sudah kembali. Max masih terus menemani Keiko. Berbicara dengannya, memberitakan segala hal yang terjadi selama seminggu Keiko tertidur.

Yunna dan Micky membiarkan dua orang bodoh itu, dan keluar kamar. Jack masih berdiri di samping pintu.

“Masuklah.” pinta Micky.

Jack mengeleng, “Ga, sekarang giliran Max. Gw…gw udah lega.” airmata merebak di ujung matanya. Micky menepuk pundak sahabatnya, merengkuhnya.

“Yun, kita balik dulu yah. Besok ke sini lagi sama Ben dan Alex.” pamit Micky. Ia mengecup kening pacarnya lalu berjalan pulang dengan Jack.

Yunna masuk kembali ke kamar Keiko. Max sedang membantu Keiko turun dari ranjang.

“Mau kemana?” tanya Yunna yang buru-buru membantu Max menopang Keiko.

“Tau nih, anak bandel. Dibilangin ga boleh gerak-gerak dulu.” kata Max, tapi ia terus membantu Keiko menyeimbangakan tubuhnya.

“Ke W.C. Sekalian gerak badan.” jawab Keiko sambil memasang senyum usilnya.

“Max, uda sama gw aja. Elo balik dulu gih. Bukannya elo ada jadwal jam 9 kan?” Max masih terus membantu Keiko jalan sampi depan kamar mandi, tidak mengubris omongan Yunna.

“Jung Ji Hoon, elo pulang sekarang. Gw ga mau denger Boom marah-marah ke gw, gara-gara elo telat lagi.” perintah Keiko. Max menghela nafasnya menyerah. Kalau Keiko sampai memanggil nama aslinya seperti itu, artinya ia sangat serius dengan ucapannya.

“Besok gw ke sini lagi. Lee Keiko-ssi, elo jangan kemana-mana.” balas Max dengan nada yang sama. Ia masih kangen berat sama cewek ini.

“Ngomong! Emangnya gw bisa kemana?” cibir Keiko.

Max mencium keningnya lalu buru-buru pergi. Sebelum Keiko memukulnya.

“YAH! JUNG JI HOON, cari mati yah!” teriak Keiko dari dalam kamar mandi. Badannya masih terlalu lemah untuk mengejar Max, walaupun hal itu tidak berpengaruh pada pita suaranya. Yunna sampai menutup telinga, ketika mendengar teriakan Keiko. Lalu ia membantu Keiko duduk di atas bowl.

“Tadi Jack di sini.” Ucap Yunna setelah ia membawa Keiko kembali ke kasurnya. Ia ingin tahu apa tanggapan sahabatnya kalau ia tahu cowok itu juga datang. Keiko tertegun sedikit, tapi ia kembali pura-pura sibuk dengan remote TVnya.

“Iyah, tadi gw liat ujung kepalanya di balik pintu.” jawab Keiko tenang, ekspresi di wajahnya tetap sama.

“Lo ga mau ketemu dia?” pancing Yunna lagi. Keiko tertawa, karena ada adegan lucu di TV.

“Itu hak dia Yun.” jawab Keiko lagi dengan nada datar. Pandangannya terus menatap ke layar TV.

Yunna tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia benci melihat Keiko seperti ini. Ia tahu, temannya ini sedang belaga kuat, padahal ia tahu, Keiko ingin bertemu dengan Jack. Cowok itu juga, sama-sama keras kepalanya. Kenapa dia ga masuk aja tadi. Ketemu sebentar ga apa kan.

“Kei, gw pacaran sama Micky.” ucap Yunna kesal. Ia tahu seharusnya ia bisa memberitahu Keiko mengenai hubunganya dengan Micky dengan cara yang lebih baik atau di waktu yang lebih tepat. Tapi kalau ia tidak segera merubah topik pembicaraan, ia pasti akan mulai memaki Keiko dan Jack.

“OH yah? Kok bisa? Selamat yah……” ucap Keiko, lalu ia mulai menangis. Yunna langsung memeluk sahabatnya. Ia tahu dengan pasti perasaan temannya saat ini dan kenapa ia menangis. Ia memaki Jack dalam hati, mengutuki cowok bodoh dan keras kepala itu berulang kali.

Advertisements

2 thoughts on “14- Doomsday

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. Sahabatnya menyambutnya hangat begitu ia tiba di rumah. Yunna sedang senang-senangnya karena omsetnya terus meningkat tajam sejak iklan baru dengan Fox-T beredar. Melihat dandanan Keiko yang terlewat aneh, ia hanya menunggu sampai Keiko sendiri yang bercerita. Sebab, percuma saja mendesak dia kalau dia memang tidak ingin mengatakan apa-apa.

    “Tumben ga nanya kenapa dandanan gw norak begini?” tanya Keiko. Ia sudah melepas jaket, topi dan kacamatanya. Berbaring di paha Yunna.

    “Karena elo bakal cerita sendiri, so buat apa, gw nanya.”jelas Yunna enteng.

    “Yun, gw cape banget…” keluh Keiko. Selanjutnya cerita mengalir dengan lancar dari mulut Keiko. Yunna tidak bermenunggu Keiko selesai bercerita untuk memaki BaeWon yang tidak bisa menjaga temannya ini. Ia juga mengeluarkan semua sumpah serapah yang diketahui untuk memarahi Jack. Tapi ia juga sempat memuji Max karena menolong Keiko dari om-om mesum.

    Keiko merasa lebih tenang setelah mendengar tanggapan Yunna. Sahabatnya itu seperti sudah mengantikan dirinya mengatakan semua itu.

    “Tumben elo ga bela oppa? Biasanya kalau gw hina dia dikit, elo pasti langsung kayak landak. Durinya naik semua.” tanya Yunna heran.”Belakangan juga elo ga pernah ngomongin oppa lagi.”

    Keiko jadi ikut berpikir, benar sejak kapan ia tidak pernah memikirkan BaeWon. Mungkin karena ia sibuk dengan pekerjaannya atau karena sekarang ada Max yang mengantikan posisi BaeWon menemaninya? Atau karena ia terus merindukan pria satunya, yang lebih jarang menghubunginya tapi setipa kali selalu membuat jantungnya berdebar?

    “Tok, tok, tok, Who’s there?” canda Yunna iseng, melihat Keiko mengerutkan dahi.

    “Yun, siapa nama cowok yang paling sering gw omongin sekarang?”

    “Hemmm, Max, Jack, Tae?”

    “Paling sering?”

    “Mungkin Max, tapi Keiko waktu elo ngingau, elo lebih sering manggil Jack.” jawab Yunna jujur, belakangan mereka tidur bareng, karena kamar Yunna sedang didekor ulang.

    JACK? Lipatan di dahi Keiko makin banyak.

    “Buat gw yang mana aja boleh Kei, asal elo udah ga mikirin Oppa. Menurut gw dua-duanya sama-sama baik.” Yunna menutup muka Keiko dengan bantal. Gemas pada temannya ini. Ia sudah mengunci mulutnya terlalu lama untuk mengatakan kalimat tadi.

    ini sama kaya d novel k-2 chapter 17.hampir sama cuman kata”nya d ganti sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s