15- Happy belated birthday, gal

Beberapa hari kemudian Keiko sudah bisa keluar rumah sakit. Tangan kanannya masih digibs tapi sudah bisa digerakan sedikit, hanya perlu kontrol setiap minggunya.

Max menjemput Keiko hari itu.

“Kok kamu yang dateng?” tanya Keiko, ia masih celigukan mencari Yunna yang biasanya menemaninya.

“Cari Yunna? Dia lagi diculik Micky. Hyung udah marah-marah sama gw, gara-gara elo nyulik pacarnya melulu.”

“Lho, kenapa marah sama elo?” cibir Keiko. Jadi sekarang dia harus saingan sama Micky untuk mendapatkan perhatian sahabatnya sendiri.

“Kata Micky, aturan gw yang ngurusin elo bukannya Yunna.” ungkap Max, sambil membantu Keiko merapikan tasnya. “Elo yakin ga mau balik sama gw?”

“Dan dikeroyok pengemar elo? No way.” tolak Keiko setengah bercanda.

Max mencubit pipi Keiko gemas. “Baru sembuh udah berani ngeledek yah.”

“Er HEm.” deham BaeWon.

“Oppa?” tanya Keiko cepat, untuk menyembunyikan kecanggungannya. Mereka saling bertatapan.

“Gw bawa turun barang elo dulu yah. Jangan lama-lama.” Max mengangkat tas Keiko dan keluar kamar. Ia tidak tahu kenapa ia tidak ingin berada di antara dua orang itu.

“Kamu betul udah sembuh? Bener-bener udah kuat?” tanya BaeWon. Ia berdiri di samping Keiko, sama-sama menyandar pada pinggiran ranjang.

“Udah kuat. Lagipula bosen banget di Rumah Sakit. Ga bisa ngapa-ngapain.”

“Oppa denger, kamu godain kakek-kakek terus adu lari sama anak-anak terus…” ledek BaeWon

“Oppaaa…..” sanggah Keiko, lalu mencubit lengan BaeWon dengan tangannya yang tidak digibs.

“Kamu pacaran dengannya?”

“Oppa sekarang jadi suka nguping?”

“Kebetulan denger aja.”

“Iyah. aku pacaran dengannya.” ujar Keiko berbohong. Ia hanya ingin menuntaskan perasaannya dengan BaeWon.

“Kamu suka padanya?” tanya BaeWon yang langsung mendapat tatapan galak dari Keiko.

“Oppa cuma ga mau kamu salah pilih. Your happiness is my concern.” ucap BaeWon prihatin. Saat tadi ia mengintip mereka, tak sengaja ia menatap mata Keiko dan ia melihat sedikit keraguan di mata Keiko.

“No. my happiness is my concern.” sanggah Keiko sopan. Ini pertama kalinya ia bisa bersikap biasa saja di sebelah BaeWon. Tidak ada letupan cinta, ataupun amarah. Betul-betul hanya memandang dia sebagai kakak ipar.

Ia membantu Keiko memakai sanggahan lengan dan menemaninya turun. Mereka bertemu dengan Yuri dan anaknya sebelum Keiko masuk ke dalam mobil Max.

“Udah beres?” tanya Max saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Keiko.

“Hmm? Apanya?” tanya Keiko bingung.

“Urusan dengan kakak ipar-mu.”

Keiko tersenyum melihat gaya Max yang pura-pura cool. “Cemburu?” tanya Keiko iseng.

“Sedikit.” awab Max datar. “Kei, serius ga mau pacaran sama gw?” pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakan Max dan jawaban dari Keiko selalu sama, “Belum Max. Belum.”

Max tidak berani mendesak lebih jauh. Mungkin dia memang harus bersabar menunggu perasaan Keiko berpaling padanya. “Nah, uda sampe. Masuk duluan aja. Barang lo biar gw yang bawain.” ujar Max, setelah membukakan pintu untuknya.

Keiko turun dan memutar kunci rumahnya dengan tangan kiri. Sedikit sulit, karena Keiko jadi bingung, harus memutarnya ke arah kiri atau kanan. Max langsung merebut kunci dari tangannya dan membukakan untuk Keiko.

“SUPPPERRRISESEEEE….” teriak Yunna, Micky, Ben, Alex dan Jack bersamaan ketika pintu berhasil dibuka.

Keiko memeluk Max saking kagetnya. Lalu memukul dada Max, karena cowok itu malah mentertawainya.

“Elo udah tau?” tanya Keiko. Max hanya mengangguk kecil. Lalu ia mendorong Keiko masuk ke dalam rumah berikut tasnya.

“Happy belated birthday..!!!” teriak Yunna lagi. Micky membawakan kue chocolate dengan lilin 23 di atasnya.

Serempak, Fox-T menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada Keiko secara acapella. Membuat Keiko terharu. Ia melakukan semua yang disuruh teman-temannya. Memejamkan mata dan mengucapkan keinganannya dan meniup lilin.

“Ini dari gw sama Micky.” Yunna menyerahkan bungkusan kecil berbentuk persegi panjang berwarna merah. Keiko langsung membukanya, isinya kamera Sony yang sudah diincer Keiko dari bulan lalu. Yang bisa menambil 10 gambar dalam satu jepretan.

“Thank you…” ucap Keiko lalu memeluk Yunna dan Micky.

“Ini dari gw, Alex dan Jack.” Ben menyerahkan satu kotak besar berwarna silver dengan pita biru keemasan.

“Apa nih?” tanya Keiko pensaran, ukuran kotaknya terlalu besar untuk semua barang yang bisa Keiko pikirkan.

Ia mencopot pitanya terlebih dahulu dengan hati-hati lalu membuka kotaknya. Ada kotak lebih kecil. Keiko membukanya, lagi-lagi ada kotak dengan ukuran lebih kecil.

“Kalau sampe masih ada kotak lagi, gw bakal kasih ini hadiah ke orang lain.” ancam Keiko bercanda. Ben hanya tertawa-tawa.

Keiko membuka kotak lagi, ternyata itu kotak terakhir yang besarnya hanya selebar kepalan tangan. Ia terperangah, mereka memberikannya charm dari Tiffany&Co. Dengan bandul hati bertuliskan namanya.

“Elo orang gila yah? Kalau elo kasih gw barang mahal begini, gw harus kasih kado apa pas lo orang ulang tahun nanti?” tanya Keiko, ia mengangkat braceletnya dan mengaguminya.

“Lo harus lihat kado dari Max dulu….” ledek Ben. Keiko menengok pada Max.

“Kamu juga nyiapin kado?”

“Ini.” Max memasangkan bandul di bracelet Keiko lalu memasangkan ke lengan kiri Keiko yang tidak digibs. Keiko mengangkat lenganya dan melihat bandul berbentuk kunci dengan diamond dibagian kepalanya.

“Cause you hold the key to my heart.” ucap Max cengengesan yang lansung disambut dengan hoooooo oleh teman-temannya. Membuat pipi Keiko bersemu merah.

Masing-masing lalu menyalami Keiko, termasuk Jack.

“Selamat ulang tahun.” ucap Jack, sambil menempelkan pipi kiri dan kanan sama seperti yang teman-temannya lakukan. Darah Keiko berdesir cepat, keluar masuk jantungnya, membuat jantungnya berdegup tidak stabil. Ia baru sadar seberapa kangennya dia dengan cowok tengil ini. Jack makin tampan, tapi sedikit kurusan. Rambutnya juga sudah makin panjang, poninya mulai menutupi mata. Matanya tidak bersinar cerah seperti dulu. Keiko menatap bola mata Jack, dan melihat pantulan dirinya di dalam sana.

“Lo kurusan?” hanya itu yang bisa Keiko katakan dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya sekarang.

“Sibuk. Lo makin chubby.” canda Jack.

Keiko mencubit pipinya, masa sih dia makin gendut?

“Kenapa Kei, kok megangin pipi?” tanya Max yang sudah kembali berdiri di sisi Keiko.

“Gw gendutan, yah?” tanya Keiko polos.

“Iyah, jadi tembem.” jawab Max usil. Padahal sebetulnya Keiko tidak gendut sama sekali.

“Oppaaaa….” ucap Keiko kesal.

Semua menatap Keiko.

“OPPA?” tanya Ben tanpa bisa menyembunyikan nada senang di baliknya.

“Udah sampe ke tahap itu?!!” tanya Alex kaget. Tidak menyangka perkembangan hubungan Max bisa secepat ini.

“YAH!… Keiko elo juga harus manggil gw oppa.” tuntut Ben. Micky memukul kepalanya.

“OKEY, Oppa Ben!” kata Keiko mengikuti permintaannya. Ben tersenyum senang.

Mata Keiko tanpa sadar terus mencari Jack. Memperhatikannya ketika sedang memotong kue tart, memainkan poninya, tawanya yang unik. Hati Keiko tenggelam di pusaran badai. Sekarang ia tahu, dimana hatinya berlabuh.

Keiko tidak tahu kalau Max memperhatikannya sedang memandangi Jack. Ia bisa melihat pancaran kerinduan dimata Keiko. Seharusnya ia sudah menduga, alasan dibalik setiap penolakan Keiko. Cewek ini memang tidak tertarik padanya.

Sialnya, ia tidak terlalu menggubris semua hal kecil yang terjadi diantara Keiko dengan Jack. Seperti telpon-telpon mereka yang membicarakan pekerjaan yang tidak diketahui Max. Keiko juga selalu menanyakan keberadaan Jack setiap kali mereka bertemu, walaupun dia juga menanyakan teman-temannya yang lain, Tapi nama Jack selalu muncul pertama. Atau ketika ia sama sekali tidak bertanya dimana Jack selama Keiko dirawat di rumah sakit.

Max minum makin banyak, menengelamkan dirinya dalam alkohol untuk meringankan sedikit penderitaannya. Ia melihat Keiko tertawa, Jack tertawa dan dua orang itu saling mencuri pandang. Ia meneguk minumannya kesal. Dua orang bodoh ini! Ia tidak akan membantu mereka. Itu hukuman karena sudah membuatnya patah hati!

Cowok-cowok itu pulang setelah menghabiskan 15 botol soju, belasan kaleng bir dan berbungkus-bungkus kacang. Mungkin mereka tidak akan pernah pulang, kalau Alex tidak mengingatkan bahwa mereka masih ada schedule besok pagi.

“Cowok-cowok itu yah! Gw ga akan ngadain home party lagi!” sesal Yunna, kebiasaan mulutnya jadi makin tidak terkontrol kalau sudah minum. Ia terus memaki dan mengumpat. Keiko hanya tertawa-tawa mendengar ocehan tidak karuan temannya. Tapi akhirnya semua selesai dibereskan juga. Yunna dan Keiko tertidur pulas di ruang tamu mereka saking capenya.

Keiko terbangun, ketika matahari naik cukup tinggi. Ia buru-buru berbenah dan berangkat ke kantor. Ini hari pertamannya bekerja sejak ia cuti sakit. Beberapa orang yang tidak dikenalnya, menyalaminya. Bahkan ada yang memintanya untuk foto bersama. Keiko sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, sampai ia tiba di kantornya.

Keiko mempunyai ruangan khusus yang berfungsi sebagai ruang rapat, tapi ia jarang ada di sana karena ia lebih suka terlibat langsung dengan proyek-proyek garapannya. Ruangannya dipenuhi dengan karangan-karangan bunga. Sampai harumnya merebak keluar.

“Seminggu lagi elo ga masuk, gw yakin kembang ini udah sampe ke lorong depan.” ucap Anna. Mereka langsung berpelukan. Ia tidak tahu kalau ia juga bisa kangen dengan musuh berbuyutannya.

“Tangan elo masih sakit?” tanya Anna menunjuk lengan kanan Keiko yang masih digibs.

“Ga tau, gw belum pergi kontrol.”

“Kalau gitu gw tandatangan dulu di sini.”

Anna mengeluarkan bolpennya dan langsung menghiasi gibs putihnya dengan coretan tangannya. Lalu ia beranjak pergi.

Keiko menatap nama-nama pengirim karangan bunganya. Kebanyakan dari relasi kerja, sponsor dan siapa ini. Fans club Fox-T? Kenapa mereka bisa mengiriminya bunga?

Ia membuka komputernya dan membaca semua berita selama seminggu ia “terasingkan”. Apa ini, kenapa berita ia masuk rumah sakit sampai heboh begini? Bahkan Fox-T diberitakkan menolongnya? Wah, wah bahkan nama film mereka ikut dibawa-bawa. Cara publikasi praktis untuk meningkatkan nilai jual.

Ada satu email masuk Keiko mengklik kotak emailnya. Email dari Jack? Tidak ada subject ataupun pesan tambahan, hanya attachment file. Keiko mendownloadnya. File itu terbuka sendiri begitu selesai didownload. Melantunkan denting piano tapi kali ini lagunya lebih ceria dan menyenangkan. Keiko tidak memerlukan lirik untuk membuatnya jatuh hati dengan lagu itu. Ia langsung menjadikannya sebagai ringtone HPnya dan menelpon Jack.

“Itu lagu baru untuk soundtrack film?”tanya Keiko semangat.

“Bukan, itu buat elo. Selamat ulang tahun.”

“Bukannya gw uda terima gelang dari elo orang?” Keiko mengangkat charms yang mengelantung di lengan kirinya.

“Yah, pokoknya begitu deh. Udah dulu yah, gw lagi rekaman. Anyway, lagu yang kemarin sudah selesai. Ntar gw kirimin juga first copynya. Bye…”

Keiko memeluk dadanya. Hatinya terasa sakit. Cowok ini masih menghindarinya. Ia tidak mengerti kenapa. Kalau Jack memang tidak peduli padanya, untuk apa dia mengirimkan lagu ciptaannya untuk Keiko!


Advertisements

2 thoughts on “15- Happy belated birthday, gal

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s