2- And the story goes

Cowok-cowok tampan dari Fox-T, sebuah grup vokal yang terkenal dengan fanbased terbesar di Korea. Mereka menyabet banyak penghargaan bergengsi sejak debut mereka 5 tahun lalu. Menjadikan mereka sebagai artist paling dicari dan ditunggu-tunggu kemunculannya. Setelah memantapkan posisinya sebagai no. 1 di Korea dengan menyabet 3 penghargaan sekaligus, Best Album, Best song dan Best Artist di acara penghargaan musik paling bergengsi di Korea, mereka pun melebarkan sayapnya ke China dan Jepang.
Seluruh anggota Fox-T tinggal bersama di apartment yang disiapkan oleh perusahaan. Tidak ada yang memprotes akan hal tersebut. Bahkan mereka menganggapnya sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan mereka. 5 tahun sudah berlalu sejak pertama kali mereka bertemu. Begitu banyak derai tawa, keringat dan airmata yang mereka lalui bersama, melahirkan hubungan yang lebih kental dan erat daripada saudara sekandung.

Alex berdiri di samping Keiko memencet tombol lantai tujuan mereka. Hari ini, mereka datang ke TV-B untuk menghadiri talk show. Dengan tubuh setinggi 184cm, badan bidang dan garis wajahnya yang tegas, Alex terlihat begitu gagah. Dia terpilih sebagai leader bukan karena dia yang tertua tapi karena ia memiliki rasa tanggung jawab dan solidaritas yang tinggi. Ditambah dengan pembawaan yang luwes membuat dia lebih mudah bersosialisai dan lebih sering muncul di variety show dibanding yang lainnya.
Max, anggota termuda di Fox-T tapi memiliki tubuh tertinggi diantara mereka. Dia juga sangat tampan. Menjadi yang termuda tidak berarti dia selalu dilindungi oleh senior-seniornya. Malah sebaliknya, ia menjadi assisten Alex dan melindungi hyung nya saat mereka butuhkan. Pembawaannya yang paling tenang dan dewasa. Akan sulit menemukan ia sedang bercanda atau tertawa terpingkal-pingkal. Tapi dongseng tetaplah dongseng, ia tetap menghargai dan menghormati seniornya dan tidak ragu untuk bertanya serta mengandalkan mereka dikala dia tidak sanggup.
Seperti kali ini, ia memaksa seluruh hyung nya untuk menemaninya mencari mantel yang dipinta oleh adik perempuan kesayang selama seminggu penuh. Sialnya, dicari kemana pun jaket panjang warna hitam dengan model yang dipinta adiknya itu tidak terlihat.

Ia sudah putus asa sampai ia mendengar Micky berkata, “Yo, Max, itu bukannya baju yang dipesen sama adek lo?”
“Eh, betul juga.” Heran bagaimana mungkin ia tidak memperhatikan apa yang dikenakan cewek yang sedari tadi dipandanginya. Mungkin karena seluruh pikiran Max sudah tersita untuk memperhatikan wajah Keiko saja. Ia tidak sengaja melihat Keiko berdiri di lobby tadi saat ia menyusul hyung-nya setelah memarkirkan mobil. Yang menarik perhatiannya tidak lain adalah perubahan wajah cewek itu, dalam 5 menit terakhir, Max sudah melihat wajah terpesona, tegang dan lega dari cewek itu. Dia jadi penasaran apa yang sedang dipikirkan cewek ini sampai ekspresinya beerubah-rubah terus seperti itu.
“Lo ga mau tanya, dia beli dimana?” tanya Jack santai, senior yang paling dihormati Max. Cowok dengan kecantikan luar biasa, wajahnya terlihat feminim tapi tubuhnya memancarkan aura maskulin yang kuat. Kemanapun ia pergi pasti membuat orang-orang berkumpul mengerumuninya. Kalau ia sedang bersama laki-laki, maka berita bahwa ia gay akan muncul di internet atau surat kabar. Apalagi jika ia berduaan dengan perempuan, bisa gempar.

“Lo tanya sama dia la, Max.” jawab Micky malas. Konyol juga dongseng1-ku ini, kan bukan gw yang beliin itu baju, pikir Micky dalam hati.
“Ah, hyung2, tolong tanyain dong.” pinta Max dengan sedikit memelas. Menjadi member Fox-T yang termuda selalu mendatangkan keuntungan bagi Max. Salah satu dari hyung-nya pasti akan turun tangan membantunya.
“Nope, lo tanya sendiri.” tolak Micky. Biasanya Micky akan dengan senang hati membantu teman-temannya berkenalan dengan perempuan, menanyakan nomor telpon, alamat dan informasi lainnya tanpa beban. Kali ini terpaksa ditolaknya dengan tegas. Ia memang terkenal karena wajahnya yang murah senyum dan keramahannya. Ia mempunyai perasaan yang jauh lebih halus dan sensitif untuk ukuran cowok. Ia bisa dengan mudah menangis hanya karena menonton film drama atau ketika mereka menyelesaikan tour konser yang mereka kerjakan dengan susah payah. Tapi bukan berarti dia tidak bisa marah atau kesal. Ia sudah cukup lelah beberapa hari ini menemani Max berkeliling dan mencari mantel itu. Sekali ini, Micky ingin juniornya itu untuk bertindak sendiri.
Sayangnya Alex tidak sepaham dengannya, ia memilih cara lain untuk menuntaskan penderitaan mereka. Kalau memang cewek ini tahu dimana harus membeli jaket kramat yang telah membuat ia dan teman-temannya menjelajahi seluruh mall dan butik yang ada di Seoul, maka ia tidak akan sungkan-sungkan untuk menyapa cewek di sampingnya itu, “Hei.”
Cewek berjaket hitam itu tetap membisu.
“Kok dia ga nyahut sih?” tanya Alex bingung.
Jack, yang berdiri tepat disamping Alex, menunjuk earphone di kuping Keiko.
“Jadi bagaimana?” tanya Alex resah, karena dia merasa sungkan untuk mengusik Keiko yang sekarang ikut bersenandung mengikuti irama musik dari kupingnya.
“Toel aja hyung.” saran Ben.
Ben tidak seganteng Max, atau secantik Jack atau sekarismatik Micky atau Gentlement seperti Alex. Tapi Ben punya rasa humor yang tinggi. Karekter suara Ben juga jauh lebih kuat dengan jangkauan nada yang lebih luas. Tidak salah kalau dia sering disebut sebagai suara Fox-T.
Alex menoel bahu Keiko, seperti yang disarankan Ben.

“Ya?” tanya Keiko bingung tapi segera berubah terkejut begitu mengenali siapa yang memanggilnya, Alex dari FOX-T. Keiko menarik earphone dari kupingnya dan mengidarkan pandangnya sekilas. Bukan hanya Alex, tapi seluruh anggota Fox-T ada bersamanya. Untung Keiko bukan Yunna yang tergila-gila pada cowok-cowok ini. Kalau tidak saat ini Keiko pasti akan berlaku seperti para pengemar mereka — minta tanda tangan, mengambil foto bersama dan memeluk mereka.
“Boleh tanya, jaket yang elo pake beli dimana?” tanya Alex lagi.
Keiko menaikan alisnya bingung, kenapa seorang cowok mau repot-repot menanyakan baju yang dikenakannya, tapi karena pertanyaan itu bukan pertanyaan yang tidak wajar, maka Keiko menjawab, “Gw bikin sendiri.”
“Eh, bikin sendiri?” tanya Max terkejut. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan jaket itu. Pantas saja ia tidak berhasil menemukan jaket ini kemanapun ia cari. Sekarang dia merasa kesal pada adiknya karena meminta membelikan barang yang tidak mungkin bisa dibeli.
Membaca raut kecewa Max, Keiko melanjutkan ucapannya “Sebetulnya ini gw tembak dari Chanel season ini kok. Coba cek aja, barangkali masih ada.”
“Oh, okey. Thanks.” ucap Max kembali bersemangat. Belum sempat Max bertanya namanya, Keiko sudah keluar dari lift dan meninggalkan mereka.

“Elo mau cari lagi itu jaket?” tanya Micky frustasi. membayangkan dirinya harus keluar masuk butik lagi membuatnya mengedik.
“Mending ga usah deh. Bukannya kita udah datengin semua butik yang kita tahu?” timpal Jack panik.
“Jadi gw harus gimana dong?” pikiran Max sudah buntu.
“Ntar elo tungguin aja di sini. Tanya aja, dia bisa ga bikinin yang sama persis untuk adik elo. Atau kalau mau lebih cepet, yah beli aja jaket itu dari dia. Toh, Jenny juga ga akan tahu itu baju bekas atau engga.” ucap Micky santai.
Max mempertimbangakan saran Micky sejenak. “Yah, ga ada salahnya gw coba.”
“Bagus, kalau masalah itu udah beres. Sekarang gw minta kita konsentrasi untuk talkshow. Kalian semua tahu kan kalau ini penting banget untuk promosi album baru kita?” komando Alex.
Semua mengangguk setuju. Setelah hampir 2 tahun mereka di Jepang, kali ini mereka kembali ke Korea dengan album dan konsep baru. Target mereka menjual 500,000 keping. Untuk itu mereka harus melakukan banyak kegiatan promosi termasuk menghadiri acara talkshow dan membawakan lagu mereka di sana. Tidak ada satupun dari mereka mengungkit lagi masalah jaket ataupun Keiko. Setidaknya sampai mereka selesai shooting.

Setelah keluar dari lift, Keiko langsung mencari ruang tunggu interviewnya. Perutnya seperti melorot saat menatap puluhan orang yang sudah hadir. Walaupun tidak ada satupun dari mereka yang dikenalnya tapi penampilan mereka tampak jauh lebih profesional darinya. Ia duduk di bangku paling pojok, karena hanya itu tempat yang tersisa lalu mulai memperhatikan lagi saingannya satu per satu. Pakaian mereka sangat glamour dan sepertinya berasal dari designer terkenal, ia dapat mengenal beberapa diantaranya, Gaun dari Marc Jacobs, Louis Vuitton dan Balenciaga. Tanpa sadar Keiko membandingkan pakainnya dengan mereka. Lalu menunduk malu. Kalau sampai TV-B mencari creative director berdasarkan penampilan, maka ia sudah kalah satu babak.
Setelah duduk agak lama, akhirnya giliran Keiko tiba juga. Dia masuk berbarengan dengan cowok perlente dan cewek kribo. Keiko mengangkat alis tinggi melihat gaya jalannya yang too much.

“Shim MinJung?” panggil juri.
Cowok perlente itu menggangkat tangannya.
“So Anna?” gantian cewek heboh itu mengangkat tangannya.
“Dan Lee Keiko?”
Keiko menggangkat tangan.
“Kalian semua peranakan? Lee Keiko, Korean-Japanese?” tanya Juri yang duduk di tengah. Wanita dengan kacamata frameless, rasanya Yunna pernah menunjukan padanya di majalah, merk Gucci.
“Shim Minjung, American-Korean?”
Cowok itu menjawab “Yeap.”
“So Anna, Chinese-Korean.”
Cewek itu mengangguk.
“Tapi Lee Keiko, anda menguasai, Bahasa Jepang, Chinese, Inggris dan Spanish?”
Keiko merasa tidak perlu menjawab pertanyaan retorikal yang diajukan juri perempuan tadi. Dugaannya tidak meleset karena Mrs Joo langsung menanyakan pertanyaan lain, “Boleh saya tanya, anda mendapat ijasah tertentu untuk membuktikan kemampuan anda?”
Keiko mengeleng kepalanya, dia memang tidak mempelajari semua bahasa itu secara resmi. Mamanya yang orang Jepang, memaksa Keiko untuk menggunakan bahasa Jepang dan Korea ketika berbicara di rumah. Tapi karena nanny Keiko orang Mexico, bahasa Spanyol ikut meluncur dari mulut Keiko. dan Inggris dengan teman-teman sekolahnya. Bahasa Chinese dipelajari setelah kembali ke Korea. Ayah Keiko sama sekali tidak mengetahui kalau dia membeli rumah di daerah pemukiman orang Cina. Dia pikir hanya salesnya saja yang Cina.
“Kalau gitu coba anda artikan kalimat ini ke seluruh bahasa tadi, Mendirikan suatu bangsa lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan golongan dan kemampuan menekan golongan.” perintah juri perempuan.
Keiko mengartikan kalimat itu dengan tenang, tentu saja aksennya juga lumayan baik untuk semua bahasa, kecuali Chinese. Harus diakui, mempelajarinya secara autodidak, membuat aksennya terdengar sumbang dibeberapa kata. Sekejap rasa takut dan tegang kembali menghampirinya.
“Seharusnya kamu menggunakan  untuk kata golongan bukannya kelompok. Penduduk China tidak pernah mengolongkan diri. Semua adalah satu dan sama rata.” protes So Anna.
Shim Minjung ikut-ikutan mengoreksi penggunaan kata dalam bahasa Inggris Keiko.
Keiko mengangkat alisnya memandang mereka, tersinggung dan bingung. Belum pernah sekalipun Keiko menemui interviewee yang berusaha menjatuhkan lawannya secara langsung seperti ini. Perutnya kembali mulas karena tegang. Takut, penilaiannya akan terpengaruhi.

Mrs. Joo, juri yang sedari tadi memberikan pertanyaan sengaja hadir hari ini untuk mengetes langsung kandidat-kandidat pekerjanya. Ia mempunyai ekspetasi yang tinggi dan persyaratan yang ketat untuk setiap individu yang bekerja langsung dibawah pengarahannya.
Saat ia meminta pihak HRD untuk mencari creative director, ia terus kesulitan menemukan orang yang ia mau. Sampai ia membaca resume Keiko. Setiap acara yang ditulis di resumenya begitu segar dan menarik. Sampai-sampai ia ingin menjemput Keiko sendiri dan menawarinya bekerja untuknya. Tapi tentu saja hal itu tidak dapat dilakukan walaupun perusahaan ini miliknya sendiri. Maka di sinilah ia hari ini, menyeleksinya di ruang interview bersama calon-calon lainnya.
Ia cukup puas dengan jawaban Keiko. Ternyata penilaiannya tidak salah akan gadis ini.
Gantian dua orang itu yang diinterview. Dari pertanyaan yang diajukan untuk mereka, Keiko mendapat sedikit gambaran mengenai latar belakang “teman-teman” barunya.
Shim Minjung, sutradara sekaligus scriptwriter berbakat yang telah menerima berbagai penghargaan bergengsi di luar negeri. Dia lahir dan besar di Amerika, tapi tetap fasih berbahasa Korea.
So Anna, cewek dengan potongan rambut Rihanna, pernah menjadi VJ untuk Channel-V di Taiwan dan Hongkong. Penampilannya betul-betul menunjukan kepribadiannya yang tough dan fearless.
“Menarik, anda sangat menarik. Dengan resume luar biasa seperti ini, mengapa anda melamar di TV-B?” tanya Mrs. Joo pada keetiga kandidatnya. Sejauh ini, ketiga orang di hadapannya inilah yang memiliki prospek paling cerah.
“Saya perlu kerja.” jawab Keiko tanpa berpikir. Keiko langsung menunduk dan memerah. Nice, Keiko, kapan kamu bisa berpikir dulu sebelum berbicara.
“TV-B selalu menjadi tujuan saya ketika saya kembali ke Korea.” jawab Shim MinJung diplomatis.
“Saya percaya, saya dapat menyumbangkan talenta saya untuk membesarkan nama TV-B.” ucap So Anna penuh percaya diri.
Jawaban mereka seperti tamparan sempurna di kedua pipi Keiko. Ia yakin, kalau ia sudah menghancurkan masa depannya sendiri sekarang. Kecil kemungkinan ada orang yang akan menhargai kejujurannya tadi. Karena ini adalah ajang persaingan.
“Silahkan tunggu di depan.” ucap Mrs. Joo membubarkan mereka.

Keiko berjaan dengan tenang keluar dari ruangan, mengabaikan semua rasa tegang dan malunya. Kembali duduk di kursinya. Mengutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan sekaligus berdoa agara ada keajaiban yang terjadi.
“Lo terlalu polos.” komentar Lee Minjung yang sekarang duduk di samping Keiko. Entah apa yang membuat dia menjadi begitu nekat untuk menganggu Keiko dan merasa cukup akrab dengannya. Walaupun Keiko juga pernah tinggal di Amerika, tapi itu tidak membuatnya menjadi orang yang kurang ajar serta melupakan asal asulnya sebagai orang timur yang lebih tertutup.
“Betul terlampau polos.” sambung So Anna yang ikut duduk di depan. Sekarang mereka duduk membentuk segitiga. Orang-orang yang melihat mereka pasti mengira mereka sudah kenal lama.
“Tidak ada orang yang memberi alasan sebodoh itu. Masa elo bilang mau kerja di TV-B karena butuh kerjaan. Emangnya TV-B tempat penampungan apa?” dengus Anna meledek. “Aturan elo jawab kayak gw tadi.”
“Tapi tenang aja, elo pasti diterima. Begitu juga dengan gw.” ucap Lee Minjung membersarkan hati Keiko.
“Yah, kalau gw sih, udah pasti diterima.” celetuk Anna lagi.
Yah, mereka cocok sekali. Mudah-mudahan kalian bisa langgeng yah, cibir Keiko dalam hati. Walaupuns ebetulnya Keiko megakui kalau jawabannya sangat tidak smart, tapi itu bukan kesalahan fatal, Keiko percaya keterus terangnnya bisa memberi nilai lebih. Setidaknya mereka tahu kalau Keiko bukan datang untuk main-main.

Cowok yang tadi duduk di paling pojok di panel juri, keluar dan menempel selembar kertas. Semua calon langsung berdiri, mengerumuninya.
“Yang nomornya tertera di sana, langsung msuk kembali ke rungan.” perintah cowok itu. Total ada 9 orang yang lolos tes pertama. Kami diminta membentuk kelompok. So Anna menarik Keiko dan Shim Minjung, dan langsung memprokalimarkan kalau kami Kelompok 1. Yah, tidak jelek juga. Bersama mereka masih lebih baik dari tidak berkelompok sama sekali.
“Baik, Kalian tolong buat clip berdurasi 3-5 menit. Dengan tema bebas. Harap besok sudah diserahkan kembali jam 5 sore, tepat, di tempat ini. Bubar.” perintak PD Yo.
Tidak ada yang langsung beranjak dari tempatnya karena semua orang sibuk membicarakan rencana mereka untuk pembuatan clip. Ini benar-benar tes yang sulit. Mereka tidak hanya dituntut untuk menjadi kreatid tapi juga kemampuan mereka untuk bekerja sama dengan orang yang sama sekali asing.
Tidak ada keterangan tambahan di kertas mereka, betul-betul hanya “Clip dengan durasi 3-5 menit.” Clip ini bisa apa saja. Tema bebas untuk pekerjaan kelompok selalu menakutkan bagi Keiko karena ia tidak bisa menebak apa yang diinginkan partner barunya dan mereka bisa saja menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membahas tema tersebut.
“Jadi, kita mau buat apa?” tanya Anna tanpa basa-basi. Ia agak mirip dengan Yunna yang selalu blak-blakan.
“3-5 menit, dokumentasi? iklan?” Shim Minjung terlihat sudah hanyut dalam pikirinannya sendiri.
“Tujuan dari clip ini apa? Gw rasa itu yang harus kita cari tahu dulu.” ucap Keiko cepat dan tampaknya cukup kencang karena semua orang menatapnya balik.
“Shhhhhh. Jangan kenceng-kenceng dong.” Anna menarik Keiko dan Shim Minjung keluar dari ruangan. Ia menatap Keiko tajam, “Gw harap itu terakhir kalinya elo bersikap naif, Lee Keiko. Mohon dicatat saat ini kita sedang bersaing dengan puuhan orang lainnya. Gw ga mau mereka mendapat keuntungan apapun dari bibirmu yang tampaknya sulit untuk dikendalikan.”

“Kita ngumpul di Starbuck deh.” putus Shim Minjung, setelah perdebatan panjang dengan Anna mengenai tempat yang pas untuk kami berdiskusi. Keiko sama sekali tidak dilibatkan untuk membahas.
“Shim Minjung-shi, gw ikut lo yah. Gw ga bawa mobil.” teriak Anna dan langsung menyusul Lee Minjung yang sudah sampai di pintu lift. Keiko benar-benar terlupakan.
Keiko cuma melongo menatap pungung mereka yang segera menghilang ke dalam lift. Ia betul-betul terkejut dengan kecepatan teman-temannya bertindak. Ia sedikit tidak terbiasa dengan itu. Bukan karena ia lambat, tapi karena ia terbiasa dengan sistem musyawarah untuk mufakatnya ketika bersama Yunna.
Tapi saat ini ia tidak sedang bersama Yunna, jadi mungkin ia harus meningkatkan sedikit kecepatannya dan bersikap sama profesionalnya dengang partnernya kali ini. Keiko kembali mengertakan bibirnya, bagaimana mungkin seorang cewek bisa berlari secepat itu dengan heel setinggi 14cm. Keiko harus belajar pada Anna untuk urusan ini. Sejauh ini, Keiko hanya sanggup memakai 8cm. Itu juga dengan mempertimbangkan tinggi Keiko yang sudah 168cm.

Advertisements

5 thoughts on “2- And the story goes

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. saya tak berapa suka membaca novel bahasa Indonesia walaupun saya faham.. mungkin penggunaan bahasa yang hampir serupa dengan Melayu tapi byk juga bezanya. Apa-apa pun nice writing actually but the language make me less interested.. sorry.. Read my writing also at my blog.. well not as good as yours but feel free to visit… http://rezanx.wordpress.com/tinta-aku/karya-gua/

  3. Walaupun cara ngomong minjung salah, dia bener, nggak seharusnya keiko senaif itu. Walau biasanya karakter kayak gini banyak yg tertarik, sih. tapi kalo di dunia nyata, keiko udah kebacok-bacok kali sama anna dan minjung-_____-
    Keren, apalagi kedetilan tata masuknya. Aku ingin bikin yg kayak gini tp krn keterbatasan pengetahuan jd stuck. XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s