3-Kok bisa?!?

Keiko memutuskan untuk jalan sendiri ke Starbucks yang dikatakan Lee Minjung tadi. Sebetulnya ia sama sekali tidak tahu dimana itu. Sialnya lagi, ia belum menanyakan nomor telpon mereka. Tapi hal itu bukan masalah besar untuknya karena ia tahu harus bertanaya pada siapa. Keiko menghampiri lagi meja resepsionis untuk menanyakan hal tersebut.
Sang resepsionis menjawabnya dengan sopan, “Di seberang sana.” menunjuk pada palang Starbucks di gedung seberang TV-B.
Kalau di seberang, kenapa mereka harus naik mobil, pikir Keiko tambah bingung. Ia sudah berjalan ke luar gedung ketika ada orang yang memanggilnya.
“Yosh, sudah selesai?” sapa Max yang sedang duduk di ruang tunggu lobby.
Ia hampir putus asa, karena cewek yang ditunggunya tidak juga keluar padahal hari mulai sore.  3 temannya masih ada di atas, melanjutkan talkshow lain tanpa dirinya dan Jack. Ia bukannya bersikap tidak profesiaonal tapi, mereka memang mempunyai jadwal yang berbeda setelah talkshow tadi. Jack harus melakukan rekaman dan dia kosong sampai acara radio besok. Tepat saat Max ingin menyerah, cewek itu keluar dari lift, berjalan menuju resepesionis lalu berjalan keluar lobby. Ia harus segera menyapanya kalau tidak mau kehilangan jejak cewek ini lagi.
Cewek dengan jaket hitam itu tidak langsung menjawab pertanyaannya. Malah sebaliknya dia terlihat terganggu. Alisnya terangkat sedikit. Max jadi khawatir kalau misinya untuk mendapatkan jaket dengan cuma-cuma terancam gagal. Ia harus memikirkan taktik baru, karena cewek ini tidak senang bertemu dengannya lagi. Hal yang cukup langka mengingat biasanya cewek-cewek selalu berebut untuk berdekatan dengannya.
“Anda bicara dengan saya?” Keiko menunjuk dirinya sendiri.
“Ga ada orang lain kan?” Max menahan senyumnya ketika melihat cewek itu menengkok ke kiri dan kanan untuk memastikan kalau memang tidak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua.
“Ada apa?” tanya Keiko sedikit sewot.

Berdiri berhadapan seperti ini, Max baru sadar kalau cewek ini cukup tinggi, mungkin hampir 170cm.
“Lo masih belum jawab pertanyaan gw.” Max melemparkan senyum mautnya.
Keiko hampir saja tersedak oleh ludahnya sendiri saat melihat senyuman Max. Ia tidak menyangka kalau seorang cowok dapat menampilkan senyum imut dan manis seperti yang dilakukan oleh cowok dihadapannya ini. Cukup lama Keiko mematung sebelum berhasil mengingat kembali kalau saat ini ia bukan sedang menikmati lukisan. Ia lalu menjawab, “Belum, masih ada meeting.”
Ia pasti terlihat seperti orang bodoh tadi, cowok ini pasti menganggapnya salah satu dari penggermar mereka. Padahal ia bukan gadis yang suka mengelu-elukan cowok sampai bersedia menikahi mereka.

Max senang bukan main saat melihat reaksi cewek itu terhadap senyuman yang dilemparkannya tadi. Ternyata cewek ini tidak sepenuhnya kebal dengan pesonanya. Berarti kembali ke rencana awal, jaket gratis.
“Perlu diantar?” taktik ‘cowok baik hati’ Max mulai dilancarkan. Cewek ini tidak mungkin menolak diantar olehnya kan?

Tapi lagi-lagi Max salah menerka, bukannya senang, cewek itu malah mengangkat alis tinggi-tinggi. Jelas terlihat di wajahnya kalau ia merasa terganggu dengan keramahan Max. Wajah Max tetap relax sambil terus tersenyum, walau hatinya sudah gelisah dan malu bukan main.

Keiko meremas-remas lehernya, panik. Bagaimana cara menolaknya tanpa terlihat kasar. Ia betul-betul tidak ingin menciptakan skandal. Skandal? Nah, sekarang Keiko yakin kalau otaknya betul-betul ga beres, memangnya dia siapa, sampai Max mau membuat skandal dengannya.
“Ga usah. Cuma di seberang doang kan.” Keiko menolak sambil tersenyum manis. Semanis biang gula. Ia tidak mau menyinggung perasaan siapapun juga. Ia membungkukkan badannya, memberi hormat lalu melangkahkan kakinya lagi. Tapi Max malah mencengkram pundak Keiko, menahannya.
Sebelum Keiko sempat membuka suara untuk protes. Max sudah berkata, “Oh, gw ga akan menolaknya kalau gw jadi elo.” suara Max sedikit keras. Ia sedikit panik karena penolakan yang diterimanya. Seandainya ada Micky atau Jack, mereka pasti bisa membantunya untuk merayu cewek ini. Ia sudah terlalu lama tidak pernah merayu cewek, karena biasanya ia hanya cukup tersenyum, memasang aksi cool, dengan sendirinya cewek-cewek menempel dan merayunya. Tidak pernah sebaliknya.
Keiko jadi kesel, ia sedang terburu-buru untuk menyusul kelompoknya yang entah saat ini sudah membicarakan apa saja. Sedangkan cowok ini malah menahannya di sini.
Keiko menepis tangan Max dari pundaknya kencang. “Apa yang membuat elo berpikir begitu?” suaranya terdengar sinis.
“Nona, biarpun Starbucks ada di situ, lo ga akan bisa nyebrang langsung. Kecuali elo mau bunuh diri ditabrak mobil. Then, be my guest.”  ucap Max santai. Ia tahu dia sedikit kelewatan dalam penyampaiannya barusan, tapi cewek ini tidak memberikan banyak pilihan selain bersikap kasar. Ia jadi sedikit merasa tertantang untuk menaklukannya.
Keiko tidak mengubrisnya lalu tetap berjalan menuju lobby. Tiba-tiba salju turun dengan deras. Ia cuma bisa cemberut menatap pintu kaca lobby. Ia benci salju, karena itu akan membuat cuaca makin dingin dan pakaiannya basah. Menurutnya salju hanya untuk dinikamati dari balik jendela bukan dengan berlarian di bawahnya.
Ia terpaksa membalikka badan dan menghampir Max. “Sebaiknya elo jangan berpikir macam-macam. Gw ikut sama elo karena gw butuh tumpangan tidak lebih dan tidak kurang dari itu.”ucap Keiko dengan nada sedikit mengancam.
“Nah, kalau begitu. Silahkan sebelah sini, nona… Nama elo siapa?”
“Lee Keiko.” jawab Keiko ketus. Dia masih tidak senang dengan kenyataan kalau dia harus ikut dengan Max. Ditambah dengan rasa malu karena tadi ia sudah sombong banget dan tidak mempercayai Max.
Senyum Max kembali mengembang. Bukan karena ia berhasil meyakinkan cewek itu untuk ikut dengannya. Tapi karena ia berhasil mengetahui namanya. Lee Keiko, kurang cocok untuknya karena dia sama sekali tidak imut dan tidak seperti anak kecil. Keiko terlalu tinggi untuk ukuran cewek imut dan sikapnya terlalu dewasa untuk gadis seusianya. Ia tebak Keiko paling berusia 19 tahun.
Max membukakan pintu mobil audi R4, mobil Jack yang ia kendarai dari rumah tadi. Cewek itu tidak langsung masuk. Matanya mengikuti arah tatapan Keiko dan mendarat pada tumpukan baju, cd, sampah dan sepatu di jok belakang.
“Ini mobil Jack, jadi jangan menatap gw seperti itu. Gw juga ga betah banget ngeliatnya” Entah apa sebabnya, Max merasa perlu menjelaskannya pada Keiko kalau bukan ia pemilik mobil berantakan ini.
Max mencoba membaca pikiran Keiko, karena cewek itu terus mengerutkan keningan, kelihatannya ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Apa dia ingin membatalkan niatnya ikut dengan Max? Max kembali panik.
Keiko menatap lama tumpukan barang di jok belakang sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta ijin dan merapikan sedikit barang-barang tersebut. Untung, Max tidak menolak sikap lancangnya dan membiarkan ia membereskan semua itu sendiri.
“Lo cewek pertama yang peduli dengan isi mobil ini. Mungkin lo cocok sama Micky yang clean freak juga.” “Anyway, thank you udah ngerapiin mobil ini.” ujar Max saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Max memasangkan seatbelt untuk Keiko, karena sepertinya cewek itu kesulitan untuk menarik belt itu dari tempatnya.
Max tidak sengaja menghirup wangi tubuh Keiko, saat memutarkan badannya untuk menggapai seatbelt milik cewek tersebut. Wangi yang lembut, seperti wangi jasmine and lily. Tidak menyengat tapi tetap membuat pikiran Max kacau balau.
Ia menyalakan musik untuk menghindarinya berbicara dengan Keiko, agar ia juga terhindar untuk bertatapan langsung dengan wajah Keiko. Max merasa aneh, biasanya perempuan-perempuan yang berada di dekatnyalah yang salah tingkah ketika berduan dengannya. Tidak seperti sekarang, otak Max dibuat hanya untuk memikirkan cewek yang duduk di sebelahnya saja.
Sedari tadi ia tidak dapat berhenti mencuri pandang melihat Keiko. Kulitnya putih, hidungnya cukup mancung, garis tengkuknya sexy. Sexy?! Dahi Max mengekerut, kaget dengan pikirannya
“Sebenarnya ada perlu apa dengan gw?” tanya Keiko, tiba-tiba.
Max jadi gelagapan, ia pikir cewek itu menyadari kalau ia sedang memperhatikannya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Keiko. Otaknya masih ribet, ia benar-benar lupa tujuannya mengajak Keiko ikut dengan mobilnya. Max melirik wajah cewek di sampingnya. Raut wajah Keiko terlihat kesal menunggu jawaban darinya.
Max berusaha keras untuk mengingat kembali apa tujuan dia, sampai rela mengantar cewek ini. Mengajaknya kencan? Sepertinya bukan. Mengantarnya pulan? Lebih ngaco lagi. Ah, mengantar cewek ini ke Starbucks.
“Turun dulu, ntar gw susul.” perintah Max, dan membukakan kunci mobil. Saat mereka tiba di depan Starbucks. Keiko langsung turun dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Cewek itu pasti benar-benar kesal padanya.

Ia bukannya dengan sengaja bersikap tidak sopan dengan tidak turun untuk membukakan pintu Keiko, tapi statusnya sebagai artis kadang-kadang harus membuatnya menahan diri. Menurunkan seorang cewek dari mobil Jack saja sudah cukup beresiko. Oleh karena ini, Max secepat kilat melaju mobilnya begitu Keiko menutup pintu mobilnya. Ia tahu Keiko pasti kesal padanya, tapi ia tidak terlalu ambil pusing. Nanti ia akan melakukan sesuatu untuk merubah hal tersebut.
Dengan pikiran yang dipenuhi dengan Keiko, Max memencet nomor telpon Ben. Walaupun ia dekat dengan semua “abangnya”, tapi Max tetap merasa paling nyaman untuk bercerita dengan Ben. Ia percaya kalau abangnya yang satu ini tidak akan mengatakan pada yang lain hal-hal yang diutarakan olehnya.
“Ben-hyung.” panggil Max, saat telponnya diangkat.
“Max, dimana lo?”
“Di Starbucks.”
“Ngapain?” tanya Ben acuh.
“Nungguin cewek tadi.” Max sudah masuk ke parkiran dan mematikan mesin mobilnya.
“Heh? Kenapa?” pekik Ben heran.
“Susah jelasinnya. Elo orang bisa ke sini?” sahut Max setengah hati.
Ben tidak bertanya lebih lanjut, ia cukup mengenal makne3-nya ini. Kalau Max merasa terlalu sulit untuk menceritakan kondisinya, ia lebih sering memperlihatkan langsung apa yang terjadi.
“Bentar,” Ben berteriak ke teman-temannya yang lain, “ Hyung… Max minta kita susulin dia di Starbucks, mau ga?”

Max dapat mendengar jawaban dari yang lain, “Okey, tapi Max yang harus traktir.”
Mendengar itu, ia menjawab dalam hati, traktir apa juga boleh, asal mereka mau ikut dengannya. Ia memerlukan dukungan dari teman-temannya saat ini.
“Mereka setuju. Lo nunggu dimana?”
“Gw tunggu di mobil deh. Ntar masuknya bareng aja. Males gw, kalo ampe dikerumunin.”
“Yah, berlima selalu lebih daripada sendiri kan?” ledek Ben. Max senang karena Ben mengerti perasaannya. Dibanding yang member Fox-T yang lain, Max memang paling sulit berinteraksi dengan pengemar.
“Hmm, okay. Elo parkir dimana?”
“Di basement Starbucks.”
“Okey, 5 menit juga nyampe. Kita udah kelar kok. Jack juga udah selesai. Gw telpon dia deh, biar ketemu di sana juga.”
“Ben..” panggil Max sedit terbata-bata.
“Yah, ada apa lagi?”
“Buruan ke sini.” kata Max tidak jelas.
“Bawel!” balas Ben keki akan ketidak sabaran Max.

Max keluar dari mobilnya. Menghisap batang rokok sambill menunggu teman-temannya datang. Ia tidak perlu menunggu lama. Tak sampai 10 menit, teman-temannya sudah ada di depannya, termasuk Jack.
“Sekarang, coba cerita, kenapa kita harus ngumpul di sini?” tanya Alex meminta penjelasan lengakap dari Max..

“Gw lagi nungguin cewek tadi. Namanya Lee Keiko. Sekarang dia ada di atas, lagi ketemu temennya.” kata Max memberi penjelasan yang minim informasi.
Alex sudah mendengar mengenai hal ini dari Ben tapi sampai saat ini ia masih tidak mengerti kenapa mereka semua harus ada di sana.
Max mengisap rokoknya sebelum melanjutkan, “Gw masih belum bilang sama Keiko kalau gw mau beli jaketnya.”
“Apa!!! Dari tadi elo ngapain aja?” gerutu Micky, ia tidak menyangka kalau Max akan selambat ini jika menghadapi perempuan. Padahal biasanya maknae-nya ini cekatan dan amat terampil di pekerjaannya.
“Sebelum kalian marah, gimana kalau kasih kesempatan untuk gw jelasin?” Max melihat teman-temannya mengangguk, “Dia baru ngongol, jem 5 tadi. Gw uda hampir karatan nunggunya. Baru juga disapa, dia udah kepengen pergi. Jadi gw terpaksa nganter dia ke sini, biar ada alasan untuk nungguin dia.”
“Dia menghindar dari elo?” tanya Ben terkesan, baru kali ini dia mendengar ada cewek yang tidak tertarik dengan Max.
“Yah, bahkan dia pasang tampang kesel sepanjang perjalanan ke sini. Gw sama sekali ga dikasih kesempatan untuk memulai pembicaraan karena dia cuma diam membisu.” Max sedikit mengubah ceritanya. Karena teman-temannya pasti meledeknya kalau tahu ia sampai speechless memandangi cewek itu. Ia punya reputasi sebagai penakluk untuk dipertahankan bukan?
“So?” tanya Micky mulai tidak sabar.
“Kalau memang cewek itu tidak mempan dengan pesona gw. Pasti ada salah satu dari kita yang bisa membuat dia terpesona bukan? Karena sebisa mungkin gw ga mau mengeluarkan sepeserpun untuk sebuah jaket bekas.” Max sengaja menekankan kondisi jaket bekas itu.
Ben dan Micky menatap Max, tidak percaya dengan ucapan magnae-nya ini. Mereka yakin kalau Max menyembunyikan sesuatu.
“Who are you trying to fool, Max?” tuduh Jack. Ben dan Micky menengok pada anggota tertua dari Fox-T itu. Karena mereka sepikiran.
“Yah, apa maksud elo yang sebenarnya, Max?” sambung Alex, pikirannya sama dengan Jack.
Max tersenyum malu, ia sudah menduga kalau kebohongan kecilnya tadi pasti tidak akan berhasil. “Gw mau kalian menilai cewek ini. Sepertinya gw jatuh cinta sama dia.”
Ucapan Max membuat teman-temannya terkejut lalu mereka mulai tertawa.
“Bhuauahahhaa, anjrit lo Max. Gitu aja susah amet ngomongnya.” ledek Micky.
“Gw pikir ada apa.” ucap Alex keki, dikiranya cewek jaket itu menyusahkan adik kecilnya ini.
“Slamet deh, kalo sekarang elo uda bisa buka lembaran baru.” dukung Ben.
Jack tidak mengatakan apa-apa, ia hanya memeluk Max erat. Memberikan dukungan moril melalui tindakan.
Max tersenyum senang, karena reaksi teman-temannya cukup positif. Ia tahu kalau mereka begitu mengkhawatirkannya belakangan ini. Karena ia belum juga memiliki hubungan serius dengan perempuan manapun juga sejak kasus dengan mantan tunangannya.
Ia dengan Lena memang tidak berpisah dengan baik-baik. Pertengkaran-pertengkaran mewarnai lembaran terakhitr cinta mereka. Membuat Max tidak percaya lagi pada cinta. Mematikan seluruh emosi dalam hatinya untuk perempuan. Walaupun teman-temannya sering menyodorkan wanita padanya, tidak ada yang pernah ditanggapi dengan serius. Ia hanya menganggap perempuan-perempuan itu sebagai selingan dan hiburan yang menyenangkan.
Tapi sekarang, ia yakin semua itu sudah berlalu. Karena hatinya kembali memberikan debaran yang sama seperti dulu.

Kelegaan yang dirasakan oleh para hyungnya itu jauh melebihi perkiraan Max. Selama 4 tahun ini, mereka dipaksa menyaksikan Max yang terus memaksakan dirinya untuk move on. Maknae-nya ini bekerja siang malam, terus tersenyum walau tidak ada yang lucu. Penampilan fisik dan kenerjanya semakin meningkat berbanding terbalik dengan kehidupan sosial Max. Ia menolak untuk keluar rumah dan kalau sekalinya ia pergi, ia pasti pulang dalam keadaan mabuk.
Ben yang paling tahu betapa menderitanya Max saat itu. Setiap kali mabuk, Max pasti akan memaki-maki mantannya itu tapi kemudian menangis dan menyesali semua perkataannya serta memohon kekasihnya itu untuk kembali. Ben tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Max. Yang bisa disodorkan pada Max hanya waktu dan persahabatan.
Lain dengan Micky dan Alex, mereka menyodorkan semua teman wanita yang mereka kenal pada Max di setiap kesempatan. Awalnya Max sama sekali tidak menanggapi tapi mungkin akhirnya ia menyerah juga dan mulai menunjukan ketertarikan. Max mulai melakukan kencan-kencan singkat.
Dipikir hyung nya, adiknya ini akhirnya bisa melupakan cewek bodoh itu. Tapi ternyata, Max sama sekali tidak pernah bercerita mengenai teman wanitanya. Bahkan ketika ditanya, Max hanya menjawab ala kadarnya. Sama sekali berbeda dengan reaksi Max dulu ketika dengan Lena.
Mereka pernah mengadakan rapat darurat untuk membahas masalah Max. Mereka juga berusaha mencari berita mengenai Lena, kalau-kalau ada kemungkinan cewek itu mau kembali ke Korea dan kembali pada Max. Tapi semua usaha mereka menemui jalan buntu. Adik Micky yang masih tinggal di Amerika, melaporkan kalau sekarang Lena sudah berpacaran dengan produsernya. Tentu secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui publik.
Semua setuju kalau Lena itu memang cewek brengsek yang memperalat Max. Karena dulu Lena cuma model biasa yang tidak terkenal, hanya karena ia berpacaran dengan Maxlah, Lena menjadi terkenal dan bisa menjadi bintang film di Holywood.
Kalau ternyata Max serius mengejar cewek tadi, maka mereka akan membantu sepenuh hati.

Advertisements

3 thoughts on “3-Kok bisa?!?

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. Ini latarnya korea ya. Tapi kok pakai bahasa nggak baku? 🙂 aku malah lebih nyaman ngebayangin ini di indonesia. Mian, apa aku terlalu cerewet? -.- tapi emang itu yg kupikirin .____.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s