4-Superstar 101

Keiko menatap mobil Max tidak percaya. Bagaimana mungkin dia membiarkan cowok itu berlaku seenaknya. Cowok itu bukan hanya tidak menjawab pertanyaannya. Tapi berani meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan. Benar-benar bikin marah.

Keiko membalikkan badannya kesal, dan dia melihat palang Starbucks. Mukanya memerah karena malu, rupanya mereka sudah sampai. Pantesan, Max menurunkannya di sana.Dia berjalan cepat ke arah pintu masuk Starbucks karena salju masih turun dengan deras.
Kakinya melangkah lurus menuju sepasang mahluk yang dikenalnya. So Anna dan Shim Minjung sudah ada di dalam, duduk di pojok kiri, persis di depan kaca, sedang menempelkan kepala. Entah apa yang sedang mereka diskusikan sampai harus menempel seprti itu. Keiko menghela nafas panjang sebelum melangkah masuk. Rasanya malam ini, akan jadi malam yang panjang.

Keiko tidak memilih minuman sama sekali, dan langsung menuju tempat duduk rekan kerjanya. Secepat mungkin Keiko ingin menyelesaikan tugas interviewnya agar bisa datang ke tempat kerjanya di PubTeen pukul 8, Keiko mendapat shift malam, hari ini.

“Yosh, sorry.” sapa Keiko dan duduk di salah satu puff yang ada di hadapan mereka, Posisi mereka sangat strategis, selain letaknya persis di sebelah jendela, set table ini memiliki 2 sofa panjang dan 1 puff kecil. So Anna dan Lee MinJung duduk menghadap ke kaca di salah satu sofa panjang tersebut.

“Lama amet.” protes Anna.

Keiko tidak berusaha menjawab pertanyaan Anna, karena ia merasa kesal sudah berpikir kalau dua partner nya ini akan melakukan sesuatu yang bermanfaat selama menunggu kedatangannya. Bukannya malah pegang-pegangan tangan seperti ini.

Ia mulai meremas-remas lehernya lagi, melemaskan otot-otot yang makin tegang. Sekarang ini ia bukan hanya kesal dan kecewa tapi juga panik bagaimana kalau ia gagal diterima di TV-B karena mereka tidak berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan.

Sabar, Kei, sabar, kamu butuh mereka untuk pekerjaan ini. Tapi kalau seandainya mereka memang tidak peduli, ia bisa setiap saat pergi dan mengerjakan tugas itu sendiri. Mugkin dia bisa meminta bantuan Yunna nanti. Sahabatnya pasti tidak akan menolak untuk membantunya.

“Jadi, sudah dape…” suara Keiko langsung ditenggelamkan oleh ribut-ribut dari arah pintu masuk.

“Maxx…….” teriak salah satu cewek yang sedang mengantri di counter. Cewek itu langsung meningalkan pegawai starbucks yang sedang memberikan kopinya dan berlari ke arah Max.

“Jack……” teriak yang lain antusias

“Alex, tanda tangan dong.” kerumunan semakin ramai. Bahkan orang orang di luar jalan pun mulai berjelal masuk dan mengambil foto.

“Yah, ada Micky di Starbuck, yeh betul, lo dateng aja kalo ga percaya.” ucap cewek di meja sebelah.

“Ben, nengok dong.” teriak cewek lain.
Reaksi ini sangat wajar kalau kamu berada di Korea. Para fans bisa langsung mengumpul dan memotret, merekam video dan langsung menguploadnya ke internet. Mereka bisa ada dimana-mana dan mereka selalu berhasil menemukan idolanya. Seperti sekarang, di Starbucks, tempat minum kopi paling umum di dunia. Keiko sedikit kesal akan kenyataan kalau Fox-T sama sekali tidak berusaha menutup wajah mereka dengan apa kek, agar mereka tidak dikenali. Sepertinya mereka memang sengaja agar orang tahu akan keberadaan mereka.

Selain selera fashion mereka yang tidak dapat dimerngerti oleh Keiko. Kekuatan fans di sini juga sama ajaibnya. FOX-T, grup band yang terdiri dari 5 cowok keren yang saat ini sangat teramat digandrungi di Korea. Setiap personilnya mempunyai fansclub fanatik, dan official fansclubnya sendiri lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, dengan 800,000nya berasal dari Korea saja. Mereka bahkan masuk Guinness Book sebagai artis yang fotonya paling banyak dimuat di majalah, surat kabar dan di fancafe.

Keiko memeperhatikan hamburan manusia di depan sana, ada yang sibuk mengambil photo, ada juga yang sibuk menelpon. Yang paling menakjubkan, Anna tidak mau kalah, dia ikut terjun ke arena perang, sambil membawa handphonenya, tentu saja. Kenapa Keiko tidak berpikir kalau Anna akan menggunakan kesempatan ini untuk bisa berkenalan dengan Fox-T dan melebarkan sayap pergaulannya.

Melihat Shim MinJung tetap duduk di bangkunya, Keiko jadi sedikit lega, karena tidak semua rekannya ini gila.

“Shim Minjung-shi, jadi bagaimana, sudah ada ide untuk video kita?”

“Hey, panggil gw Doc, itu nickname gw. Semua temen gw juga manggilnya begitu. Anna juga sama.” ujar Lee Minjung a.k.a Doc. Lalu kembali memperhatikan kebuasan cewek-cewek mencari perhatian FOX-T.

Keiko langsung lemas, ternyata Shim MinJung sama saja. Dia begitu tertarik dengan Fox-T. Mungkin yang menahan dia agar tetap duduk di sini adalah kenyataan kalau dia seorang cowok dan amat memalukan bukan kalau cowok nge-fans dengan cowok?

“Ok, Doc. Gimana?” Keiko menggilnya sesuai keinginan Doc. Tapi yang dipanggil tetap tak bergeming. Doc terus menatap Anna dan FOX-T, yah lebih tepatnya sih pada kerumunan cewek yang makin heboh. Ada yang sampai membuka bajunya untuk minta ditanda tangani dibagian dada.

Keiko menghela nafasnya kesal karena tidak berhasil mengalihkan perhatian Doc. Ia menyerah dan memutuskan untuk ikut melihat kerumunan itu juga. Tepat saat ia membalikkan tubuhnya, Anna dan FOX-T sedang berjalan ke arah tempat duduk mereka.

Oh, shoot, kenapa mereka berjalan ke sini. Ngapain sih Anna bawa-bawa mereka kemari?, runtuk Keiko dalam hati. Keiko buru-buru berbalik dan pura-pura sibuk dengan laptop Doc.

“Geser Doc.” usir Anna, lalu dia mendudukan Ben, Alex dan Micky di sofa panjang tempat tadi Anna duduk, sedangkan Jack, Max dan dia sendiri duduk di sofa satunya. Keiko terpaksa membagi puff kecil yang didudukinya dengan Doc.

“Ini, Lee Keiko, itu Shim Minjung ato Doc. Dan gw So Anna. Kami bertiga bekerja di TV-B.” Anna memperkenalkan rekan-rekannya.

Dalam hari Keiko mengagui kepandaian Anna untuk mengangkat derajat mereka. Hebat, kami bekerja lho, bukannya melamar.

“Kei, bolehkan qta manggil lo gitu?” tanya Alex.

Keiko mengangguk, apa ajah, terserah. Dari dulu juga semua orang memanggil Keiko begitu. Yang aneh cuma Ko-chan, panggilan guru SMA nya, dan Bae-by dari BaeWon.

“Lo pindah ke sini deh. Kasihan banget nyempil gitu.” usul Micky melihat Keiko duduk nyempil di puff kecil.

Belum juga Keiko mengangkat pantatnya, Anna sudah memotong, ‘“Doc, lo pindah dong ke sini. Kasihan kan si Keiko.”

Anna menarik Doc untuk duduk di sofanya. Keiko tidak jadi pindah. Mereka mulai bercengkrama, tukeran no handphone, e-mail, foto bareng. Bahkan Doc pun tanpa malu-malu meminta tanda tangan mereka di kemeja yang dipakainya sekarang.

“Doc.” panggil Keiko gerah, ini usaha terakhirnya untuk membuat partnernya mengurus pekerjaan mereka dengan serius. Kalau mereka memang ga peduli, ia akan pulang. Keiko memberinya tatapan— qta mau kerja ga sih?
Doc merasakan tatapan Keiko yang menusuk, lalu seperti tiba-tiba teringat, ia bertanya pada Fox-T, “Ah, iyah, iyah. Hey, lo orang mau bantu qta?”

“Bantu apa?” tanya Ben.

“Gini, qta ada job kecil, tapi ini hanya untuk percobaan, jadi qta ga bisa ngasih bayaran apapun ke lo orang. Kita mau membuat video dengan durasi 3-5 menit. Video yang qta buat ga akan keluar ke public. Cuma untuk kalangan sendiri.” ucap Doc mulus dan meyakinkan.

Keiko terpana dengan kemampuan rekan-rekannya ini untuk berbohong. Mungkin mereka memang terbiasa untuk bluffing seperti itu. Walaupun harus diakuinya ide Doc tidak buruk, tapi tetap saja bukan hal terbaik untuk interview mereka. Kalau Keiko disuruh memilih, lebih baik dia membuat iklan sabun colek dengan ibu-ibu gembrot dan menjadi adegan komedi daripada dengan cowok-cowok keren ini. Bikin kepala pusing.

“Clip 5 menit?” tanya Micky tertarik.

“Betul, ceritanya salah satu dari kalian, kalau bisa si Jack, elo cocok banget sama konsep gw, sakit dan cewek lo dateng ke rumah, jengguk. masakin bubur elo, terus elo meluk dy dari belakang sebagai ucapan terima kasih. As simple as that.” cerita Doc mulus.

Kali ini Keiko benar-benar menyimak setiap kata dari Doc. Idenya boleh juga. Adegan percintaan dengan cowok keren selalu menjadi topik hangat untuk segala usia. Mereka bisa membuat iklan pendek atau bahkan trailer drama mini. Bukan hanya menarik tapi clip ini akan sangat manaikan nilai jual kelompok mereka. Tapi masalahnya, tidak mungkin FOX-T mau membantu orang yang tidak dikenalkan? Apalagi tanpa bayaran!

“Kok gw sih?” tanya Jack bingung.

“Wah, cocok tuh cocok Jack emang mellow banget. Cocok cocok.” dukung Micky, meledek Jack.

“Resek lo! Gw ga mau ah, elo aja Ky.” balas Jack.

“Tapi Hyung, lo kan emang udah pernah main film, dibanding qta yang ga ada pengalaman, mendingan elo kan.” Ben menendang kaki Jack, memberinya isyarat kalau mereka harus membantu Keiko agar Max mendapat kesempatan bersama lebih banyak.

Jack menatap Ben sewot, kenapa tiap kali harus dia sih yang maju, tapi benar kata Ben, ini demi Max, “Gw ga tanggung jawab yah kalo akting gw jelek. Tapi mending tanya manager kita dulu deh. Boleh ga kita kerja beginian.” jawab Jack akhirnya.

“Eh, Alex-hyung, boleh kan qta bantu mereka?” tanya Ben basa-basi, menurutnya mereka tetap harus membantu dengan atau tanpa persetujuan sang manager. Toh, video ini hanya untuk kalangan pribadi. Ben bisa mengatur mereka untuk menandatangani perjanjian tertentu untuk memastikan mereka tidak mempublikasian video tersebut.

“Ga masalah, tapi kalian harus menandatangani beberapa surat pernyataan.” jawab Alex professional. Ben lega karena leadernya berpikiran sama.

“Jadi, siapa yang jadi ceweknya?” tanya Ben kembali antusias.

“Gw dong, masa Keiko? Kebanting dong Jacknya.” ucap Anna percaya diri.

Keiko menggangkuk kencang, menyetujui. Ia tidak mau berakting bersama mereka. Duduk bersama dengan mereka saja sudah membuat mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi kalau harus beradu akting dengan mereka, bisa-bisa banyak cewek yang memandangnya sinis. Selain itu, memang seperti kata Anna. Penampilan Keiko tidak cukup glamour untuk mendampingi Jack. Paras Jack jauh lebih cantik darinya dan tinggi mereka tidak sepadan. Dengan sepatu, tinggi Keiko hampir sama dengan Jack. Sedangkan Anna yang bertubuh kecil terlihat lebih pas.

Max tiba-tiba tertawa. Semua jadi menatapnya bingung.

“Lo ga setuju?” tanya Micky kesal.

“Engga, gw setuju kok.” ujar Max sambil menahan tawanya. Dari tadi dia sama sekali tidak menyimak pembicaraan. Yang dikerjakannya hanya memperhatikan tingkah laku Keiko. Cewek itu benar-benar terlalu polos. Max dapat menebak apa yang sedang dipikirkan Keiko hanya dengan memperhatikan perubahan mimik di wajah cewek itu. Betul-betul kelewat polos.
“Terus apa yang lucu?” tanya Micky lagi sedikit kesal, karena Max sama sekali tidak membantu mereka di sini. Padahal mereka sedang membantu Max.
“Ga, ga apa sorry.” Max menggeleng dan meminta kami tidak memperdulikannya.
Keiko jadi memperhatikan Max, sikapnya terlalu aneh sepanjang sore ini. Apa dia sedang membicarakan sesuatu dengan Jack? Ia berganti mengarahkan padangannya pada Jack. Cowok itu  malah asyik dengan handphonenya. Sama sekali tidak berbicara dengan Max.
Sebetulnya Max tidak ingin sampai menarik perhatiaan teman-temannya. Tapi tawanya betul-betul tidak dapat ditahan lagi ketika Keiko menganguk-angguk seperti tadi. Mata Max betul-betul tidak bisa lepas dari Keiko barang sekejap pun. Dari gayanya ketika mengelengkan kepala, atau meremas-remas lehernya saat panik, bahkan saat Keiko mengangkat alisnya karena bingung. Semua begitu menggemaskan. Max tidak habis pikir, bagaimana mungkin tingkah pola cewek biasa seperti Keiko bisa jadi begitu menarik di matanya.
Pembicaraan terus berlanjut hingga larut. Doc dengan serius menceritakan tentang pengaturan setting serta plot dengan FOX-T, Anna juga menimpali dalam setiap kesempatan. Keiko yang memang tidak terlalu paham dengan dunia perfilman jadi dia tidak mengomentari mereka sama sekali.  Ia dengan serius mencatat semua hal penting yang disebut mereka. Tiba-tiba handphone-nya bergetar. Keiko melompat sedikit saking kagetnya.
Tawa Max kembali mengumandang.

“Kenapa sih lo?” tanya Micky sewot.

“Hahahahha, ga. Ntar aja gw cerita.” Max terus tertawa sambil memegangi perutnya. Sudah lama dia tidak tertawa selepas itu karena seorang cewek. Ia semakin yakin kalau ia telah jatuh hati pada Keiko.

Keiko menyingkir sebentar ke luar Starbucks. Lalu mengangkat handphonenya. Dari BaeWon,  abangnya Yunna, “Hallo, oppa4?” jawab Keiko.

“Bae-by, kamu dimana? Kamu bisa datang ke PubTeen? Oppa butuh karyawan tambahan nih.”

“Sorry, malam ini aku ga bisa.”

“Masih ngurus interview?”

Keiko menduga, BaeWon tahu mengenai interviewnya dari Yunna. Karena ia belum menceritakan soal ini pada kakaknya yang telah menjadi istri BaeWon.

“Iyah, mereka kasih tes tambahan. Besok juga masih harus kembali.”

“Ok, ya udah. Oppa ngerti kok. Bae-by. Hwating5!” Bae Won memberi semangat pada teman adiknya itu sebelum menutup telpon. Disambut dengan tawa renyah dari Keiko

Advertisements

2 thoughts on “4-Superstar 101

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s