5-Action and C..ut!

Selesai menelpon, Keiko kembali ke dalam. Lalu duduk di bangkunya lagi.

“Jadi, qta ke rumah elo untuk syuting?” tanya Doc.

“Yah, itu yang paling aman.” ucap Ben.

“Okey, kalau gitu qta ketemu di sana. Gw anter Anna ambil barangnya dulu. Kei, lo ikut mereka aja, biar bisa ngecek setting dan props nya.” Doc memberi pengarahan.

Maka mereka berpisah. Ben dan Micky naik mobil Alex. Mereka harus mengambil surat kontrak dan pernyataan tertulis dulu di kantor management mereka. Sedangkan Max dan Keiko naik mobil Jack.

“Lho, kok jadi bersih begini?” tanya Jack melihat isi mobilnya yang sudah tertata rapi sekarang. Jack langsung mengecek laptopnya, memastikan masih dalam keadaan menyala. Keiko sudah memberi kode pada Max untuk merahasiakan kalau dialah yang merapikan mobil tersebut.

Jadi Max memjawab, “Malu gw, bawa mobil berantakan jemput cewek.”

“Masih mending mobil gw lah, daripada mobil elo kan, yang masuk bengkel mulu.” ledek Jack tidak mau kalah.

“Yah, itu mah perawatan rutin kali, bukannya rusak.” Max membela diri.

Keiko duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan mereka. Max dan Jack terlihat akrab, padahal tadi di dalam mereka tidak banyak berbicara.

Mereka sudah memberitahunya kalau mereka semua tinggal bersama di kondo yang diberikan agency mereka. Merekak juga memberinya gambaran betapa berantakannya tempat mereka itu. Keiko cukup maklum, dia yang perempuan saja, kadang bisa malas untuk merapikan rumah. Apalagi kalau penghuninya 5 cowok super sibuk seperti mereka.

Doc menelfon, menyela pembicaraan mereka.

“Kei, tolong tanya, mereka ada v-cam? V-cam gw mati.”

“Lo orang punya video camera?”tanya Keiko menyampaikan ucapan Doc.

“Pinjem punya Jack aja, dia ada kok.” usul Max.

“Jack mau minjemin. Ehm, Ok, ok, ok. Gw cek. ”Keiko membertitahu Doc lagi lalu menutup telponnya.

“Doc nanya lo orang ada lampu sorot?”

Max dan Jack mengeleng.

“Papan klip?” tanya Keiko lagi.

“Board message?”

Max dan Jack malah saling tatap-tatapan, tidak mengerti istilah yang sedang Keiko ucapkan.

“Ga mungkin ada yah.” akhirnya Keiko menjawab sendiri. “Ga apa deh. Ntar gw bikin pake karton aja. Kalo karton kardus ada kan?”

“Ada. Ntar gw bantu elo buatin.” ucap Max.

Jack menatap Keiko dari kaca spionnya, lalu menarik nafas. Ia melakukan itu dengan hati-hati agar tidak ada yang memperhatikannya. Lalu ia menatap Max, menyuruhnya untuk menyelesaikan misinya tadi siang.

“Kei, adik gw ulang tahun minggu depan, dan dia pengen banget jaket yang elo pake itu. Gw uda cari kemana-mana ga ada juga. Kalau elo mau berbaik hati, please kasih gw itu blazer. Anggep aja sebagai bayaran bantuan qta.” ucap Max dalam satu tarikan nafas.

Jack menatap Max, kecewa. Kenapa cara mintanya aneh begitu. Tuh, si Keiko ampe kebingunan. Ia menarik nafas lagi. Duh, masa masalah begini aja, harus dia yang turun tangan. Padahal tadinya Jack sama sekali tidak mau ikut campur.

“Maksudnya gini Kei, Lo tahu dong tadi siang kita pas kita ketemu, kita nanyain baju yang elo pake?” ucap Jack mengulang perkataan Max.

“Iyah, terus?” tanya Keiko.

“Adik Max, pengen banget sama baju itu. Sudah seminggu ini Max ngudek-ngudek Seoul untuk cari itu baju. Ga ketemu juga, kalau mau pesen dan sebulan lagi barangnya diantar. Nah, seperti kata Max tadi, ulang tahun adiknya itu minggu depan. Dia ga mau ngecewain adiknya dengan bawa kado lain.”

Jack membiarkan Keiko mencerna ceritanya barusan. Ia menunggu Keiko memberikan jawaban.

“Jadi, elo mau gw kasih jaket gw, sebagai ganti kesediaan elo orang bantuin proyek gw?”

“Tepat sekali. Eye for an eye kan?” Jack memakai istilah yang agak kurang cocok. Biasanya orang mengatakan eye for an eye untuk balas dendam kan, bukannya balas budi.

Keiko diam lagi. Ini penawaran yang terlalu baik untuk dilewatkan. Selain kenyataan kalau jaket ini adalah jaket kesayangannya, ia tidak rugi sama sekali. Lagipula lebih baik ia menyerahkan mantelnya daripada harus kehilangan kesempatan bekerja.

“Okay. Gw setuju.” jawab Keiko.

“Thank you.” ucap Max.

Satu masalah selesai pikir Jack dan Max dalam benaknya masing-masing.

“Eh, tapi ntar gw pulang pake apa, kalau blazer ini lo ambil?” ucap Keiko lagi baru ingat kalau dia tidak mempunyai baju dingin lainnya saat ini.

Jack dan Max saling berpandangan, mereka juga lupa memperhitungkan masalah baju ganti ini.

Jack berpikir cepat, “Max, ada baju adek lo ga di rumah kita?”

“Mana ada? Jen kan ga pernah nginep di tempat qta. Tanya Alex deh, barangkali pacarnya pernah ninggalin baju.”

Jack lalu ia menelpon Alex.

“Lex, ada mantel ga? Buat Kei. Cewek lo ga ninggalin apa-apa di rumah? Oo, Okey, Kasih tau Micky, Thank you.” Jack memutuskan sambungan.

“Ada mantel nyokapnya Micky. Ntar gw cariin, kata dia sih di kamar.” ujar Jack, lalu tersenyum pada Keiko. Kalau senyum Max telihat manis, maka senyuman Jack lebih tepat dikategorikan sexy. Pipi Keiko sampai merah merona. Kenapa ia merasa semalu ini, padahal Jack hanya tersenyum padanya, bukan sedang meledeknya.

Mereka sampai di rumah dua lantai dengan model minimalis. Jack turun duluan dan membuka pintu rumah, sedangkan Max membukakan pintu untuk Keiko dan membantunya keluar dari mobil. Duduk di bagian belakang mobil sport memang menyedihkan. Sudah sempit masih barus berbagi dengan tumpukan barang Jack.

Jack langsung masuk ke kamarnya yang terletak di ujung sebelah kanan dari pintu masuk. Max menyuruh Keiko duduk di ruang tengah mereka. Sementara dia naik ke atas. Keiko betul-betul suka dengan rumah ini, nyaman. Tapi yang paling menarik adalah dapurnya. Dengan konsep open kitchen, pan fry digantung di atas electric kompor. mereka memiliki alat-alat termutakhir yang biasa terlpampang dikatalog atau di electronic store.

“Ini dicoba, muat nga.” Jack melempar jaket coklat dari kulit ke pangkuan Keiko.

Keiko sempat mendelik melihat merknya. Marc Jacobs tidak pernah mengeluarkan baju dengan harga di bawah 20 juta. Dengan hati-hati dicobanya jaket itu, pas.

“Untung muat.” ucap Jack, lalu tersenyum lagi sebelum berjalan ke arah dapur.

Lagi-lagi Keiko seperti tersihir oleh senyuman itu.

Jack menyuguhkan air minum pada Keiko. Gadis itu langsung menegak satu gelas habis.

“Mau lagi?”tawar Jack menilai Keiko sangat kehausan.

Keiko mengangguk dan meneggak gelas kedua. Jack perhatikan, Keiko memang tidak memesan minum atau makanan selama di Starbucks. Ia mendpat ide untuk membuat Max terlihat lebih baik dimata Keiko.

Ia naik ke atas, menghampiri kamar Max dan memanggilnya, “Max.”

“Ya, Hyung. Masuk aja.” jawab Max dari balik pintu.

Jack masuk seperti yang disuruh Max, “Max, kayaknya Keiko belom makan deh. Lo masak apa gih.”

“Masak apa?” tanya Max bingung. Selama ini dia hanya kebagian menghabiskan makanan bukan menyiapkan makanan seperti Jack.

“Tanya aja sama dia, mau makan apa. Ntar gw bantu deh.” ucap Jack tidak sabar. Heran, Max kenapa jadi lemot gini.

“Gw turun dulu yah.” pamit Jack, tidak enak meningalkan tamu lama-lama sendirian.

Hyung, sekalian bawa ini.” Max menyerahkan V-cam yang tadi sedang dichargenya.

“Okay. Jangan lama-lama. Gw juga mau ganti baju.” pesan Jack.

Jack turun ke bawah dengan V-cam ditangannya. Keiko masih duduk di minibar. Ia meletakkan V-cam di depan Keiko. Lalu berjalan ke depan kulkas. Ia mengecek bahan makanan, masih cukup untuk membuat sandwich.

“Kei, elo mau makan ga?” tanya Max begitu tiba di samping Keiko. Sekarang ia sudah mengenakan kaos dan celana training panjang.

“Ga usah repot-epot lah.” jawab Keiko malu-malu.

“Ga apa, kebetulan kita juga laper.” ucap Max, lalu ia menghampiri Jack yang sudah di dapur.

“Bikin apa hyung?” bisik Max.

“Sandwich ato French toast aja?” tanya Jack yang ikutan berbisik.

“Sandwich aja. Gw ga kenyang kalo cuma french toast.” jawab Max. Nafsu makan Max emang gila banget. Ia selalu menghabiskan jatah 2 orang, maklum masih masa pertumbuhan.

Jack menepuk lengan Max kesal.” Yang mau makan elo atau Keiko sih?”

“Sekalian. Laper Hyung.” jawab Max tanpa dosa.

Ga lama, 14 tangkap sandwich selesai dibuat. Jack menyiapkan juga jatah untuk yang lainnya. Ia membiarkan Max keluar dulu untuk membawakan jatah Keiko. Sengaja memberikan waktu untuk mereka berduaan.

“Yoooo.” sapa Alex memasuki ruangan, ia langsung mencopot satu tangkap sandwich dari piring Keiko. Micky dan Ben juga melakukan hal yang sama.

Jack memperhatikan mereka dari pintu dapur, dugaannya benar, teman-temannya ini kelaperan. Mungkin dia harus membuat lagi. Karena piring di depan sudah kosong.

“Jaketnya muat yah?” komentar Micky melihat Keiko mengenakan jaket ibunya. Jaket itu terlihat lebih cantik ketika dikenakan cewek itu dibanding ibunya.

“Ntar gw pulangin kok.” ucap Keiko, karena ia melihat Micky masih terus menatapnya.

“Buat elo aja, nyokap gw uda ga pake. Dia uda gendut sekarang.” ucap Micky santai.

“Tapi ini kan…” sebelum Keiko menyelesaikan ucapannya, Micky berkata, “Bu-at elo. Jangan dibantah,OK?”

Keiko tak berani membantah lagi kalau tidak mau dicap tidak sopan.

“Kei, elo uda pikirin kostumnya Jack?” tanya Micky.

“Belum. Emangnya dia harus ganti baju?” jawab Keiko polos, ia lupa kalau Jack akan menjadi pemeran video clipnya.

“Dia jadi orang sakit kan?” sahut Micky jadi tidak yakin.

“Hmm, betul juga.” Keiko membenarkan.

“Kalo gitu, kita ke kamar deh, elo pilih langsung aja.” usul Micky yang menarik Keiko dari bangkunya.

Mereka semua berbondong-bondong masuk ke kamar Jack. Di dalam ada dua ranjang. ukuran quenn. Dengan 2 set laptop, keyboard dan meja belajar.

Micky mengaduk-aduk lemari Jack. Keiko mengidarkan padangannya sekilas. Kamar ini cukup rapi untuk ukuran kamar cowok. Tidak ada baju bekas ataupun sampah berserakan. Kalau kamarnya bisa rapi begini, kenapa mobil Jack bisa berantakan begitu?

Micky masih belum menemukan pakaian yang ia cari. Jack menunggu di pinggir ranjang dengan Alex sambil ngobrol. Sedangkan Ben sudah tengkurep di ranjang satunya yang lebih dekat dengan jendela.

“Ga usah pake baju aja.” teriak Alex ga sabar, lalu mulai melucuti pakaian Jack.

Jack tidak sanggup memberontak karena Ben mengunci kakinya di atas kasur. Alex berhasil mencopot jaket yang dipakai Jack dengan sudah payah, karena Jack terus mengeliat dan memukulnya.

Keiko tidak percaya dengan tingkah cowok-cowok di depannya ini. Bukannya mereka kurang lebih seumur denganya, kenapa kelakuannya masih kayak anak kecil. Apa  idiom — boys will always be boys itu benar? Keiko terus melongo sambil sesekali ikut tertawa melihat kelakuan mereka.

“Maklum, mereka memang konyol banget.” ucap Max yang tiba-tiba ada di sisi Keiko. Keiko baru sadar Max sama sekali tidak bergabung dengan teman-temannya untuk mengerjai Jack. Sekarang Jack berusaha melindungi dadanya yang sekarang dicubiti. Secara otomatis mata Keiko menyelusuri perut Jack yang membentuk 8 pack sempurna, lalu naik ke dadanya yang bidang dan kokoh. Keiko jadi membayangkan bagaimana rasanya kalau dipeluk oleh Jack. Matanya terus menatap naik, sampai ia bertubrukan dengan mata Jack. Keiko langsung membalikan badannya ke luar kamar, untuk menyembunyikan mukanya yang sekarang terasa panas. Malu banget, ketawan kalau dia sedang memandangi Jack.

“Ada apa?” tanya Anna tertarik. Ia menyelonong masuk karena mendenger suara tawa dari arah kamar Jack.

Rupanya mereka sudah sampai. Doc menyusul di belakang Anna sambil menarik koper besar. Apa sih yang dibawa Anna? Bukan hanya Keiko yang penasaran, cowok itu juga berpikiran sama. Sekarang mereka semua mengelilingi koper besar yang sudah dibuka lebar. Meninggalkan Jack yang masih mengatur nafasnya di atas kasur.

Jack bukan kehabisan nafas karena dikerjai teman-temannya. Ia kehabisan nafas karena jantungnya berdebar tidak karuan saat matanya tidak sengaja bertemu dengan milik Keiko.

Anna membuka kopernya. Isinya pakaian Anna, rasanya dia membawa seluruh pakaian terbaiknya. Keiko mendecak kagum dengan koleksi pakainnya, Semuanya bermerk. Tampaknya Anna berasal dari kalangan yang sama dengan Yunna.

Doc mengecek seluruh isi koper, tak ada satupun yang sesuai dengan deskripi pakaian kerja yang Doc katakan tadi. Terlalu berlebihan lah, terlalu heboh lah, terlalu sexy lah. Anna sampai cape bolak-balik ganti baju.

“Gimana kalau pakai bajunya Keiko saja?” usul Micky tiba-tiba, menilai penampilan Keiko sangat sesuai dengan kebutuhan mereka. Tanpa menunggu jawaban Doc, ia langsung mengulurkan tangannya, meminta Keiko berdiri. Lalu memutar badan Keiko untuk meminta persetujuan teman-temannya. Ben dan Alex mengangguk setuju. Keiko cuma cemberut, tadi mantel sekarang Keiko harus mencopot bajunya.

Ia masuk ke toilet bersama Anna, lalu menyerahkan pakaiannya serta membatu mengenakannya pada Anna. Roknya terlalu panjang untuk Anna, sedangkan kemeja terlalu ketat di bagian dada. Keiko heran bagaimana mungkin badan mungil seperti Anna bisa punya payudara cup C. Keiko melirik dadanya, tidak rata tapi juga tidak bisa disebut luar biasa. Sekarang Keiko mengenakan dress berwarna putih milik Anna. Seharusnya jatuhnya di dekat lutut, tapi karena Keiko lebih tinggi, dress jatuh setengah paha.

Keiko memakai jaket kulitnya untuk menutupi belahan dada yang cukup rendah. Anna keluar dulu. Keiko masih berusaha mencari sesuatu untuk menutupi pahanya yang terbuka. Ini pakaian terpendek yang pernah dikenakan Keiko. Tidak ada legging atau celana yang cocok untuk gaun ini. Keiko menyerah. Dia keluar juga.

“Yah, kalau rok sih, ntar gw syut setengah badan aja, jadi ga keliatan kepan…” Doc menghentikan kalimatnya saat melihat Keiko keluar.

“No, jangan komentar.” Keiko keluar sambil menunduk dan buru-buru duduk di samping Max. Ben bersiul meledek. Keiko menatapnya kesal. Tapi Ben hanya tertawa.

“Sayang dari tadi body lo dibungkus rapet gitu Kei. Sexy banget booow.” ledek Micky, Keiko terlihat makin tidak senang.

“No comment please.” Keiko berusaha mengalihkan pembicaraan, “Doc, Anna uda oke?”

Selesai memberi pengarahan pada Micky yang memegang kamera, Doc memandu Anna untuk berakting. Di adegan pertama, Anna mengebel dan Jack membukakan pintu dengan wajah pucat karena sakit.

Ben berinisiatif untuk memegang lampu dan kabel kamera, sedangkan Max, Alex dan Keiko menonton dari pinggir dan melalui TV.

“Take 1, ACTION!!.” teriak Doc, yang ga penting banget. Keiko menutup kupingnya karena suara Doc cukup kencang. Rasanya tetangga sebelah juga bisa ikut terbangun, mendengar teriakan Doc.

“Ini uda malem dodol! Jangan teriak-teriak.” protes Ben.

Doc mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengulang dengan sedikit berbisik.

Anna memulai aktingnya. mengebel agak lama. yang disyut dulu Jack yang sedikit limbung dan membuka pintu. Saat itu Anna seharusnya menunjukan ekspresi khawatir bukannya senang seperti sekarang.

“CUT!!!!” kali ini giliran Max yang teriak. Keiko sampai melompat dari tempat duduknya. Karena Max berteriak persis di sebelah kuping Keiko.

Max berteriak lagi, “Lo jangan seneng gitu dong. Kan pacar elo lagi sakit.”

Anna mengangguk seram. Mungkin dia tidak menyangka akan dibentak oleh Max. Keiko juga sedikit terkejut melihat Max serius banget.

“Dia emang begitu. Jangan terlalu kaget yah.” Alex memberitahu Keiko.

Alex sudah terbiasa dengan sifat Max yang keras. Sebagai leader, Alex benar-benar beruntung memiliki anggota sepertinya. Max amat detail dan perhatian. Dia juga selalu serius dengan pekerjaannya. Dengan adanya MAx, Alex bisa menjamin kalau seluruh anggotanya tetap disiplin walau dia tidak ada.

“Take two, action.” bisik Doc. Saking kecilnya, Ben tidak mendengar.

“Action, Ben.” kali ini Doc mengeplak lengan Ben. Alex tertawa lagi. Kayaknya Alex yang paling senang malam ini. Dia yang paling santai.

Kamera langsung menyorot muka Anna, close up. Annanya malah bengong.

“CUT!” teriak Max lagi. “Anna, lo ga ngerti yah?” bentak Max. Anna makin menciut dan sepertinya sudah ingin menangis. Keiko mendapat ilham. Dia berjalan menghampiri Anna dan mulai mengatakan perkataan-perkataan yang menyakitkan, seperti Anna lemak lo keliatan dari balik baju elo, rambut lo juga acak-acakan. dalam sekejap Anna langsung menampilkan mimik khawatir, Keiko memberi kode pada Doc untuk merekam saat itu juga.

“Oke, cut.” teriak Max.

“Ekspresinya bagus.” puji Max. Anna langsung senyum kembali. Nah, ga sia-sia semasa SMA dulu aku ikut kelas drama. Anna tersenyum pada Keiko, berterimakasih untuk bantuannya.

Adegan selanjutnya Jack makin limbung dan hampir jatuh. Anna memeluknya dan membantunya berjalan. Ini jadi makin sulit, karena Anna memiliki postur yang petite, biarpun cukup tinggi tapi keliahatan banget dia ga pernah olahraga. Begitu Jack merapat padanya. Anna malah jatuh, karena tidak sanggup menopang tubuh Jack. Max kembali berteriak. Adegan diulang berkali-kali, tetep ga bisa. Doc terpaksa merubah alur, Jack diminta merapat ke tembok saja, dan Anna membantunya berjalan ke mini bar yang letaknya di depan dapur. Jack harus duduk menghadap ke dapur. Sedangkan Anna mulai menyiapkan masakannya.

Adegan tiga, Anna berlagak memasak. Karena harus menunjukan dia memotong sayur. Anna malah mengiris jarinya. Kecelakaan kecil yang jadi konyol, karena Anna berteriak-teriak kesakitan. Fox-T mengerubuninya untuk mengecek lukanya yang tak seberapa. Hanya Jack yang duduk diam di tempatnya, Keiko pikir dia tertidur, tapi ternyata dia sedang memegangi perutnya menahan tawa. Max juga hanya mengeleng-geleng kepala.

“Pakein handyplast yah?’ pinta Anna kesakitan. Doeh, ketawan banget noraknya, berdarah sedikit minta pake handyplast.

“Mana bisa pakai handypalst Anna! Sudah tahan dulu aja. Ntar selesai shoot, langsung diobatin.” protes Max tak sabar.

Tawa Jack meledak. Dia tertawa mengakak lebar. Tawanya menular pada Ben dan Micky. Sekarang mereka semua terduduk di lantai sambil memegangi perut. Max makin pusing melihat mereka. Senior-senoirnya ini memang terlalu suka bercanda. Mereka tidak sadar ini sudah malam apa, sedangkan film ini masih belum diedit sama sekali. Keiko bisa pulang jem berapa, Max betul-betul khawatir film ini ga akan pernah selesai.

Setelah beberapa saat, Doc berteriak, “ACTION.”

Mereka langsung menghentikan tawanya. Jack kembali memasang mimik kesakitan. Micky mengambil gambar sedangkan Ben menyorot mereka dari belakang. Ben dan Micky terlihat cukup pawai menggunakan camera dan panboard. Sedangkan Alex, diam-diam adalah seorang observator yang lihai. Dia mengingatkan posisi serta props apa saja yang dipakai, agar tidak ada perubahan setting sepanjang syuting.

Adegan terakhir, Jack memeluk Anna dari belakang. Anna sedikit terkejut tapi terlihat senang. kali ini kita ga perlu mengulang apa-apa. Karena semua berjalan sesuai dengan alur yang dibuat Doc.

Jam 1 tepat, baru selesai syuting. Anna sudah kusut banget. Doc, menawarkan untuk mengantarnya pulang dulu dan menyerahkan bagian editing pada Keiko.

Keiko menerima dengan pasrah, tidak yakin akan kemampuannya. Keiko memang sudah pernah mengedit film, tapi itu hanya untuk film keluarga, bukannya secara profesional seperti ini. Enggan menyusahkan rekannya, Keiko menyanggupi dengan tenang.

“Boleh pinjem komputernya?” tanya Keiko pada Max.

“Pakai punya Jack aja, ada program editornya.” saran Micky. Mereka juga terlihat lelah. Keiko jadi merasa tidak enak sudah membuat mereka repot seperti ini. Keiko berjanji akan membalas jasas mereka ini walaupun ternyata dia tidak diterima di TV-B.

Mereka kembali ke kamar Jack. Kamar itu sudah rapi kembali, Keiko tidak tahu kapan mereka masuk kembali ke kamar dan merapikannya. Di dalam ada 2 komputer. Satu menghadap ke jendela dan satunya lagi terhubung dengan keyboard. Keiko duduk di depan komputer yang menghadap jendela, sedangkan Jack duduk di bangku satunya. Jack menjelaskan beberapa instruksi pemakaian programnya. Sedikit tidak perlu sebenarnya. Karena programnya sama persis dengan yang bisa Keiko gunakan.

“Lo ga mau ganti baju dulu?” tanya Max, mengulurkan kaos dan celana training pada Keiko.

Keiko menerimanya dan masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya di dalam kamar. Keiko belum bertukar baju karena Anna pulang dengan pakaiannya. Keiko mengambil kesempatan ini untuk mandi. Selain untuk menyegarkan dirinya, dia sudah tidak tahan dengan mukanya yang bermake-up.

Kembali ke kamar Jack, tidak ada orang. Mungkin mereka di luar. Jadi Keiko duduk, mengibas-ibas sepuluh jarinya, memasang earphone i-pod ke kuping dan berkonsentrasi penuh. Kira-kira jam 5 subuh, Keiko baru selesai. Bayang-bayang sinar matahari terlihat dibalik gorden kamar Jack. Keiko menengok ke kasur. Micky tertidur pulas, mengelung dalam selimut. Tapi kasur Jack, kosong. Kemana dia, apa dia ga tidur?

“Sudah selesai?” tanya Jack dari meja di sampingku. Di kamar ini memang ada 2 komputer yang disusun saling menyudut. Keiko menengok, kaget.

“Sudah.” jawab Keiko dengan suara sedikit serak, akibat dari tidak berbicara sepatah katapun selama dia menatap layar komputer.

“Boleh gw tambah dengan ini?” Jack mengeluarkan usb.

“Apa itu?”

“Lagu untuk background. Hanya beberapa melody piano yang baru gw selesain tadi.”

Keiko mempersilahkan Jack memasukan USB dan menambahkan musik ke video. Keiko tetap duduk di kursinya dan menempel ke meja. Jack mengerjakan semua itu sambil tetap duduk di bangkunya dan menjulurkan tangan serta kepalanya dari balik punggung Keiko. Jack seperti memeluk Keiko dari belakang. Yang memisahkan mereka hanya sandaran bangku Jack yang diputar ke depan.

Keiko berusaha mati-matian untuk mengatur debar jantungnya. Dia betul-betul tidak biasa berada di dekat cowok. Perutnya mulai terasa mulas dan dia mulai berkeringat dingin.

“Bagaimana menurut elo?” tanya Jack persis di kuping Keiko.

Suara dan hembusan nafas Jack memberi sensasi lain ke otak Keiko. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Suara dan aroma Jack melesat dengan cepat ke dalam pikiran Keiko. Meracuni setiap tetes darah yang mengalir di tubuh Keiko. Bagaimana dia masih bisa terlihat begitu mengoda, padahal ini sudah subuh? Dan dia sama seperti Keiko, tidak tidur semalaman. rambut acak-acaknya malah menimbulkan kesan sexy, kulitnya yang sedikit pucat malah membuat Jack terlihat mempesona.

Kepala Jack tetap di samping Keiko ketika dia memutar kembali clip hasil editan Keiko yang sekarang sudah diiringi oleh melody dari Jack.

Iramanya sedih menyayat, seperti cinta tertahan. Video ini jadi seperti kisah cinta yang tak akan pernah sampai. Keiko menengok pada Jack. Apa yang dipikirkan pria ini saat menciptakan lagu ini. Apa dia juga punya cinta tak sampai seperti dirinya?

“Musiknya pas banget.” puji Keiko, dia menjauhkan sedikit badan dari Jack, takut Jack melihat air mata yang sudah sedikit mengenang di pepuluk matanya.

“Ehm?” tanya Jack. Dia menatap lurus mata Keiko. Wajah mereka hanya terpaut beberapa centi. Keiko tidak mampu melepas matanya dari Jack. Ia seperti terhisap olehnya.

Jack mendekat dan mencium bibir Keiko. Sesaat tubuhnya seperti dialiri puluhan ribu volts listrik. Ciuman itu singkat yang membakar dirinya. Membuatnya lupa akan segalanya, selain bibir itu.

“Maaf.” ucap Jack singkat lalu meninggalkannya sendiri di kamar. Keiko mengedipkan matanya berkali-kali dan mencubit pipinya. Memastikan kalau serangan kilat tadi bukan mimpi.

Merasa yakin kalau ia memang sadar dan tidak sedang bermimpi, Keiko langsung berkemas dan keluar kamar. Ia harus segera kabur sebelum Jack  kembali. Ia meninggalkan pesan, kalau ia sudah pulang, serta tidak lupa menuliskan ucapan terima kasih atas bantuan mereka semua.

Keiko keluar rumah dengan pakaian training dari Max dan jaket dari Micky. Letak apartment mereka cukup jauh dari bus stop. Jadi Keiko harus berjalan sedikit agar bisa mendapat kendaraan untuk kembali ke rumahnya.

Saat masuk ke dalam bus, Keiko baru sadar, ternyata rumah mereka tidak terlalu jauh dari rumahnya dan Yunna. 15 menit dengan bus. Sampai di rumah, Keiko langsung berganti pakaian dan memasukan pakaian Max ke laundry yang ada di mini market depan rumahnya. Keiko  langsung  tertidur begitu menyentuh kasurnya.


Advertisements

2 thoughts on “5-Action and C..ut!

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. Wat??? Whaaaatttt?!?!?! I-tu… Ituuuuuuuuuuuuuuu aertyfghjksdfghj!dfghjkLahju!!!!!! AsdfghjKla!! Lalalaljujhla!!!!! *ancur

    Apaaaaaa demi tuhan apa ituuuuuuuuuuuuu oh tuhannnnn demi demiiiii *speechless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s