8-Me, myself, and you

Hari-hari berlalu dengan cepat sejak Keiko berhasil mendapatkan kontrak untuk filmnya. Sepanjang akhir tahun ini, ia disibukan dengan jadwal shooting yang padat. Keiko tidak hanya terlibat di bagian perencana tapi juga di lapangan. Sekali-kali, Keiko ikut ke lokasi shooting film bersama dengan Fox-T, sekedar untuk mengecek props, setting dan kinerja bawahannya.

Seperti hari ini, ia berangkat bersama Fox-T menuju Vila Air, tempat mereka menshooting adegan sekolah.Pagi-pagi benar, mereka sudah berangkat, meninggalkan Seoul. Jarak tempuh yang panjang menjadi waktu yang tepat bagi Keiko dan Fox-T untuk membayar jam tidur mereka yang kurang.

Keiko terbangun akibat rasa pegal di pundak kanannya. Ia menengok, kepala Jack menumpang di pundaknya. Ia sangat ingin memindahkan kepala cowok itu, tapi Max menggengam tangan kirinya erat. Membuat Keiko tidak berkutik.

Ia menengok ke depan memperhatikan posisi tidur Alex dkk, lucu sekali. Tadi sebelum mereka tidur, mereka memang sengaja memutar kursi mereka menghadap ke belakang karena space kakinya lebih luas. Tapi kalau melihat posisi tidur mereka sekarang, luas kaki kayaknya ga penting.

Micky tertidur dengan kedua kaki dinaikkan ke atas bangku dan kepala di paha Alex. Sedangkan Ben mengangkat kedua kakinya ke tatakan tangan dan menyandarkan kepala ke bahu Alex. Alex sendiri tidur dengan tangan terlipat di dada dan mulut terbuka. Tubuh Keiko mulai bergerak naik turun menaha tawanya. Ia mengeluarkan HPnya dan memoto mereka satu per satu.

Suara jepretan cukup keras, membuat Max mengulet sedikit dan melepaskan genggamannya. Keiko buru-buru mengunakan kesempatan itu untuk  memindahkan kepala Jack ke sandaran bangku.

Nah, beres. Sialnya Jack menangkap tangan Keiko persis saat Keiko ingin melepaskan pegangannya dari kepala Jack.

“Jangan pergi.”

Mata Keiko melotot dan jantungnya berhenti berdetak sesaat karena terkejut. Tangannya tertahan di pipi Jack. Keiko jadi terkesima. Kulitnya begitu halus dan bersih. Ia jadi iri, kulitnya saja tidak seputih Jack. Rambutnya juga halus banget, bulumatanya panjang dan batang hidungnya tinggi. Mukanya begitu sempurna.

Keiko sebal karena ia jadi mengagumi Jack. Ia memastikan sekali lagi kalau cowok itu kembali tertidur sebelum ia menarik tangannya.

Tiba-tiba ia punya ide konyol untuk mempercantik pangeran tidur ini. Ia mengeluarkan spidol dan mendandani mereka satu per satu. lalu memotonya lagi. Keiko terkikik geli melihat hasil karyanya.

“SAMPAI!” teriak Boom.

“Hait, FOX-T mida!” teriak Alex dan meloncat bangun. Menjatuhkan Ben ke atas kepala Micky.

“ADuuuh!!” teriak Micky dan Ben bersamaan. Membangunkan Max dan Jack.

Keiko cuma ketawa dan buru-buru turun. Ia harus melarikan diri sebelum pangeran tidur berubah menjadi Shrek.

“KEIKOOOOO….” teriak Fox-T bersamaan.

Ia terus tertawa-tawa sambil lari menjauhi mobil menuju vila yang letaknya di atas bukit.. Shoot, kenapa sih vilanya harus di atas bukit begini. Kecepatannya mulai menurun karena jalanan semakin terjal dan berbatu. Sebentar Keiko sudah tersusul oleh Ben dan Alex. Mereka memotong langkah Keiko dan berdiri di depannya.

“Lo…he…ehh…” ucap Ben sambil mengatur nafasnya. Bangun tidur langsung lari seperti tadi membuat jantungnya bekerja terlalu keras.

3 cowok itu berdiri mengelilingi Keiko, tidak memberinya ruang untuk melarikan diri. Jantung Keiko berdetak kencang, keringat dingin menyucur di keningnya, dan kakinya mulai lemas.

“Kei, Kei lo kenapa??” tanya Micky ikut berjongkok di samping Keiko.

Jack dan Max berlari menyusul mendengar teriakan khawatir teman-temannya.

“Ada apa, hyung?” tanya Max masih terengah-engah.

“Ga tahu, si Keiko tiba-tiba lemes.” Ben memberi keterangan.

“Kei…?” tanya Max hati-hati. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba Keiko merasa tubuhnya terangkat. Jack membopongnya sambil lari menuju vila.

Keiko menatap wajah Jack, terkejut dengan betapa mudahnya cowok itu membopongnya sambil berlari. Ia memeluk Jack lebih erat dan menundukkan wajahnya. Berada dalam rangkulan Jack, membuat Keiko merasa aman. Pundak Jack wangi. Keiko menghirup lagi wangi citrus yang dikenakan Jack. Ia merasa lebih tenang sekarang. Tadi dia hanya sedikit kurang darah.

Jack menurunkan Keiko di atas sofa dan mereka semua mengelilinginya sambil tetap memberikan ruang gerak yang cukup untuk Keiko.

Keiko membenamkan kepala diantara lututnya yang diangkat ke atas sofa.

“Kei…”panggil Alex lagi. “Kei, ada apa? Apa yang sakit?” ucap Max berusaha menenangkan Keiko.

Keiko memaksakan diri mengangkat kepalanya dan terbahak-bahak lalu berkata “Gotcha…” Lalu kabur ke kamar mandi.

“KEIKOOO YAAAAA!!!!!.” Teriak Alex, Micky dan Ben merasa tertipu.

Di dalam kamar, Keiko duduk meringkuk di lantai. Memerintahkan dirinya untuk berhenti tertawa. Ia terpaksa menutupi kejadian tadi dengan candaannya. Ia tidak mau ada yang mengkhawatirkan dirinya. Keiko datang ke sana untuk membantu mereka bukannya membuat mereka khawatir.

Saat keluar kamar mandi, seluruh member Fox-T sudah berganti pakaian yang lebih kasual sesuai dengan adegan hari ini.

“Miss Pretender, sekarang kita lomba lari. Kalau elo menang, gw bebasin elo dari hukuman kita.” tantang Micky.

“Hukuman apa?” erang Keiko, tidak menyangka kalau bercandaannya tadi membuat ia terjebak.

“Pokoknya pastiin aja, elo nyampe di gym duluan.” ancam Micky lagi.

Keiko mendengus, ia tidak takut. Maka lomba lari antara Keiko dan Micky pun dimulai. Meninggalkan teman-teman mereka di belakang.

“Jack-hyung, menurut elo, tadi Keiko kenapa sampe gemeteran begitu?” tanya Max.

Jack mengangkat bahunya, tidak tahu. Ia yakin kalau Keiko tadi masih gemetaran saat ia membopongnya. Jadi kalau cewek itu menutupinya dengan pura-pura seperti tadi, ia tidak tahu alasannya.

“Dia ga ada penyakitkan?” Pikiran Max mulai melantur.

“Orang sakit ga bisa lari secepat itu.” unjuk Ben. Keiko mencapai garis finish lebih awal dari Micky. Hasil yang tidak diduga sama sekali oleh Ben. Biarpun Micky memegang rekor pelari tercepat setelah dirinya.

“Gimana mungkin elo menang dari gw?” tanya Micky yang masih mengatur nafasnya.

“Gw ikut interhigh dulu untuk lari 100m. Rekor gw 12 detik.” ucap Keiko bangga.

Micky menjatuhkan dirinya, duduk di depan pintu masuk gym. Sebal, seharusnya tadi ia membiarkan Ben yang lari. Jadi hukuman mengurung Keiko dengan Max bisa tetap terlaksana.

Keiko masuk duluan ke dalam gym. Mencari Doc dan Anna untuk mengetahui jalannya shooting. Adegan pertandingan antara KangIn dan temannya DongHe. Mereka pemeran antagonis, saingan Jack dalam memperebutkan cinta Narsha.

Tiba-tiba suara dentingan piano berbunyi. Semua orang menengok pada Keiko. Ia masih tidak sadar kalau HPnya yang berbunyi, ia hanya mengangkat bahu.

“HP elo Kei.” ujar Max memberitahunya. Dengan gelagapan, Keiko mengangkat HP dan menyingkir dari sana.

“Keiko-ssi, anda disuruh kembali ke Seoul besok, langsung ke Hotel Aria. Mrs. Joo menunggu anda di sana jam 7.” assistennya hanya berkata demikian dan langsung menutup telpon. Effisien sekali dia.

“Kei…..” panggil Narsha saat melihat Keiko masuk kembali ke dalam gedung “Lagunya bagus banget, gw minta dong.” Suara Narsha imut banget, ditambah penampilannya yang mungil dan imut. Rasanya sulit untuk membenci Narsha.

“Itu lagunya siapa?” tanya Narsha lagi. Keiko bingung mau jawab apa. Kalau ia menjawab itu lagu Jack, nanti mereka pasti heboh meledeknya lagi.

“Itu lagu gw. Mau gw kirimin?”Anna menjawab menggantikan Keiko. Lalu gantian mereka mengerumuni Anna. Keiko betul-betul berterima kasih sama Anna sudah menyelamatkan dirinya. Daripada ditanya-tanya lagi lebih baik ia menyingkir.

Keiko kabur dan duduk bersama Doc, memantau adegan berantem antara Jack dengan KangIn. Dari adu mulut, mereka mulai main dorong. DongHae masuk dan mendukung KangIn. Memojokan Jack yang sendirian. Tepat saat DongHae ingin mendorong Jack yang sudah terpojok ke tepi kolam, Max datang dan menarik Jack sambil menghantamkan tubuhnya ke DongHae. DongHae langsung tercebur ke dalam kolam.

“YAAA!!!!, jangan kabur!!!” teriak Kang In. lalu mengejar mereka sendirian.

“CUT!”teriak Doc.”Sekarang DongHae sendiri.” adegan DongHae tercebur ingin dibuat close-up. Keiko kembali mengelap badan DongHae dan mengeblow rambutnya.

Adegan DongHae tersebut dilakukan berkali-kali. Kasihan juga sama dia, tapi sebagai aktor profesional dia sama sekali tidak mengeluh.

“Doc, besok gw harus balik ke Seoul. Dipanggil boss besar.” ijin Keiko saat syuting DongHae kelar. “Lo gw tinggal ga apa kan?”

“Gw rasa, kita ga masalah. Kapan ke sini lagi?”

“Belum tahu. Kalau butuh gw, telpon aja.”

Hp Keiko kembali berbunyi. dari assistentnya lagi.

“Keiko-ssi, saya mau mengirim email kostun yang harus disetujui. Bisa sms, alamat emailnya. Data anda belum masuk di komputer.” Selesai kuberikan alamat emailku, sang assistent super mematikan sambungan. Orang ini betul-betul effisien.

“Ngomong-ngomong itu lagunya Jack kan?” tanya Doc mengenai ringtone Keiko.

“Lagunya enak kan? Gw pengen ini jadi OST resmi kita.” pekik Keiko senang.

“Ehmmm, iya sih. Cocok banget mood-nya.” ungkap Doc setuju.

“Kalau elo setuju, berarti gw bisa minta Jack untuk nyelesain lagunya. Mudah-mudahan keburu. Anyway, Doc, gw harusn kembali ke Vila, ada dokumen yang harus gw cek.” kata Keiko pamit.a

Ia kembali sendiri ke vila. Setelah berpindah-pindah dari kamar ke raung makan lalu ke ruang tengah, akhirnya di teras depan, modemnya mendapat signal juga. Ia membawa serta printer-scanner mini yang memang sengaja diberikan oleh kantor karena mobilitas Keiko yang tinggi. Sedangkan pihak kantor selalu membutuhkan tanda tangannya.

Dengan berbekal mantel tebal dan kopi, Keiko duduk di sana. Menunggu koneksinya berjalan stabil. 10 e-mail baru. Keiko meng-click lambang inbox untuk mengeceknya. assistenku mengirim banyak sekali kostum yang harus diapprove. 2 model seragam sekolah. 7 pakaian casual untuk setiap pemain. Aksesoris dan perlengkapan lainnya termasuk mobil, motor, sepeda dan lokasi shooting. Keiko mengeprint seragam terlebih dahulu dan mulai membubuhi komentar-komentar untuk aksesoris sesuai dengan karakter pemainnya.

Keiko melakukannya secara urut, dari Jack, yang berada di nomor urut 1 dari listnya. Dominic, nama karater Jack. Vokalis dan guitaris band Rock, orangnya cuek dan santai. Berkarakter kuat dan meledak-ledak. Keiko menyusun foto aksesoris dan ditempelkan di atas foto baju dan menulis nomor adegannya. Karena Jack pemeran utama, ia mendapat porsi lebih banyak dari yang lainnya.

Ia melakukan hal yang sama untuk pemeran lainnya. Ia mengerutkan keningnya, kepalanya mulai pusing melihat beragam aksesoris yang harus dipadu padankan.

“Jadi Keiko, coba jawab. Kenapa elo sering begitu?” seru Max mengagetkan Keiko.

Max menyentil alis Keiko yang masih terangkat.

“Sejak kapan elo di situ?” gerutu Keiko. Alih-alih menjawab, Max malah merebut kertas yang dipegang Keiko.  Sialnya, itu kebetulan mengenai karakter Max. Keiko jadi malu karena Max membaca semua catatan-catatan kecil yang dibuatnya keras-keras.

“Max, balikkin!” perintah Keiko kesal, ia mencoba merebut dengan mencondongkan badannya dari bangku, tapi Keiko malah kehilangan keseimbangan.

Max menangkap tangan Keiko dengan sigap. Sesaat, mereka saling bertatapan.

“Hoooiiii!!! Jangan bikin film sendiri!” ledek Alex. Ternyata semua orang sudah ada menonton mereka.

“Terima kasih, terima kasih…” teriak Max lalu merangkul Keiko.

Muka Keiko kontan berubah menjadi kepiting rebus. Mereka langsung menyoraki. Tidak tahan dengan omongan usil mereka, Keiko kabur ke dalam duluan.

“Selamat.” ucap Narsha yang ternyata menyusulnya ke kamar. Keiko tidur sekamar dengannya dan Anna malam ini.

“Ga, kita ga jadian kok.” elak Keiko.

“Hahahaha, ga apa. Tenang aja, gw ga akan bocorin ke media. Lagipula gw ngerti kok rasanya pacaran sembunyi-sembunyi.”ucap Narsha sambil mengedipkan matanya.

“Gw malah seneng kalo elo jadian sama Max. Berarti dia uda ngelupain Lena sepenuhnya. Gw ga tahan liat dulu, minum-minum melulu kalau ga pasti gonta-ganti cewek. Max kayak dalam misi menghancurkan hidupnya.” ujar Narsha simpatik.

“Siapa Lena?” tanya Keiko merasa tidak mengenalnya.

“Oh, Elo belum tahu? Wadoeh, ga enak dong kalo gw yang cerita soal mantan tunganannya Max.” ucap Narsha dengan nada yang dibuat-buat. “Doeh, gw ga seharusnya ngomong ini. Tapi yah itu kan dulu, sekarang kan Max sama elo. Jangan khawatir, lo ga perlu takut. Lena ada jauh di Amrik, dan ga akan pulang dalam waktu dekat ini.”

Ia tidak terlalu percaya dengan ucapan Narsha. Ia curiga kalau Narsha hanya ingin menjatuhkan kepercayaan dirinya. Karena Narsha terus bercerita walaupun selalu mengakhirnya dengan ucapan rasa bersalah karena sudah membocorkan masalah Lena padanya.

Keiko tidak ambil pusing. Max dengan siapa itu bukan menjadi urusannya. Tapi ketika Narsha mulai menceritakan mengenai mantan Jack, entah kenapa ia jadi sedikit cemburu. Malam itu ia tidur sambil didongengi oleh Narsha. Membuat Keiko bangun kesiangan.

Ia pulang ke Seoul dengan terburu-buru dan tidak berpamitan dengan siapa-siapa. Dengan mengendarai mobil perusahaan, menancap gas menuju Hotel Aria.

Tepat 15 menit sebelum waktu perjanjian, Keiko tiba. Hotel Aria berbentuk satu kompleks banguan tradisional yang merupakan replika dari istana kerajaan Shila. Didirikan diatas pegunungan yang jauh dari keramaian dan dikelilingi oleh pepohonan dan ada danau kecil terletak di tengahnya.

Keiko diantar masuk ke bungalow yang menhadap ke arah danau. Si penerima tamu juga menitipkan surat dari Mrs.Joo, “Keiko-ssi, tolong jamu tamu ini dengan baik. Dia calon penanam modal baru. Saya berhalangan hadir. Jangan kecewakan saya. Tertanda, Mrs.Joo.”

Ia melipat surat dan memasukannya ke dalam tas tangan. Lalu menunduk untuk memberi hormat sambil memperkenalkan dirinya. Saat ia mendongkak, Keiko menatap laki-laki di hadapannya terkejut.

“Lho, Om…”

“Lee Keiko-ssi? Anda teman Yunna kan?” ucap ayah Yunna. “Kamu kerja dia TV-B?”

Akhirnya mereka berbincang-bincang layaknya ayah dan anak yang lama tidak bertemu. Saling bertukar kabar dan terus menerus membicarakan Yunna dan BaeWon. Ayah Yunna juga membocorkan pada Keiko, kalau atasannya itu sering memuji-muji dirinya. Menurut beliau, Keiko seperti telur emas yang akan membuat nama TV-B semakin bersinar.

Karena Keiko bekerja di TV-B, maka ayah Yunna berjanji akan mempertimbangkan masalah investasinya dengan matang. Keiko mengucapkan terima kasih sebelum mereka berpamitan.

Advertisements

One thought on “8-Me, myself, and you

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s