17- New teror begin

Sinar matahari menembus gordyn, menyilaukan mata Keiko. Kepalanya sedikit berdengung akibat pengaruh alkohol yang belum hilang sepenuhnya. Ia mengutuki dirinya karena minum terlalu banyak semalam.

Ditapakkan kakinya ke lantai dengan mata terpejam. Terlalu malas untuk membuka matanya. Lagipula ia cukup hafal bentuk kamarnya sendiri. Setelah berjalan beberapa langkah ia jatuh tersandung.

“Aduhhhh.’ pekiknya lemah. Keiko membuka mata perlahan dan mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Pemandangan yang terpampang di hadapannya kini membuat matanya membelalak.

Ini dimana? Dimana kasur putih dan gorden pinknya. Kenapa berubah jadi gaya classic begini. Ia menengok ke belakangan, mencari tahu apa yang membuatnya tersandung.

Ben?!

Kenapa ada Ben di sini. Keiko berdiri dan menatap ke arah kasur. Kali ini dia betul-betul sudah sadar. Oh, Shoot!!!!!!

Max? Ia tidur dengan Max. Reflek, Keiko meraba tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaiannya semalam, minus jaket dan syal. Ia menyimpulkan kalau tidak ada kejadian yang  menyimpang terjadi semalam.

Keiko memijit kepalanya yang tidak sakit. Ia pasti mabuk berat semalam. Sebaiknya ia membangunkan salah satu orang ini. Agar dia bisa pulang.

Tiba-tiba ada tangan terangkat dari samping Max. Keiko menjerit lantang, terkejut. Lalu segera menutup mulutnya dan mengidarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak ada yang bangun. Mereka pasti masih hangover, sampai-sampai tidak mendenger jeritannya tadi.

Apapun yang bergerak tadi, Keiko tidak ingin mencari tahu. Jantungnya masih berdebar terlalu kencang. Ia tidak sanggup menerima kejutan lainnya. Keluar dari kamar, Alex dan Anna tertidur di sofa yang berbeda

Setelah meneliti sebentar, ia yakin kalu ia berada di sebuah penthouse, atau apartment. Tempat ini terlalu besar untuk hotel. Ada kamar lain di ujung satunya. Keiko masuk dan melihat Micky dan Yunna di atas kasur. Lalu menutup pintu kembali.

Keiko memilih untuk membersihkan dirinya sambil menunggu mereka bangun. Ia kembali mengenakan bajunya karena tidak ada pilihan lain yang tersedia.

“Hai…” sapa Keiko ceria saat ia keluar dari kamar mandi. Teman-temannya sudah bangun. Tampang mereka sama semua, kusut, berlipat-lipat dengan mata merah. Hangover berat tampaknya.

“Hai…” jawab Yunna tidak antusias. Ia menopangkan kepalanya ke pundak Micky.

TV sedang menyiarkan berita siang. Lalu menyorot seorang bapak-bapak yang sedang berpidato.

“FOX-T akan bermain dalam film yang disponsori oleh TV-B. Dengan Jack sebagai pemeran utama dan Narsha sebagai pemeran utama wanitanya. Judul filmnya 18th.” Lalu cowok itu terus berbicara menjelaskan siapa saja yang akan ikut serta dalam film ini.

Hyung.” panggil Ben meminta teman-temannya menonton TV.

“Itu…” Alex memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

Wartawan dalam TV, tiba-tiba bertanya.” Siapa wanita ini?” sambil menunjukan seorang cewek sedang dicium oleh Jack. Keiko menutup mulutnya, kaget.

“Sapa tuh?” tanya Anna. Cowok-cowok terus menatap TV, tidak mengubris Anna sama sekali.

“Apa dia pacar Jack?” tanya wartawan lainnya, lalu semua berebut bertanya. Keadaan menjadi sedikit tidak terkendali. Untungnya bapak itu berhasil turun dari podium dengan selamat.

Micky membiarkan TV terus menyala. Di layar terlihat kalau wartawan-wartawan belum menyerah. Mereka mengerumuni mobil yang dimasuki pria tadi.

“Sialan!!!.” maki Micky.

Hyung, lihat ini.” Ben menunjuk laptopnya yang sedang memutar video, Jack mencium Keiko lalu berganti dengan adegan Max membopong Keiko keluar dari gang. Kamera kembali menyorot wajahku yang sedang masuk ke mobil Max di depan Rumah Sakit. Muncul tulisan, “IS IT THE SAME GIRL????!!!”

“Itu…Ke..i…ko? KEIKO!” Anna sampai bangun dari tempat duduknya.

Perut Keiko mendadak terasa mual seperti dikerubuni oleh banyak kupu-kupu yang terus mengibas-ibas sayapnya, tidak mau diam.

“Tunggu, jadi Jack mencium Keiko, tapi Max, kenapa lo yang jemput dia pas keluar dari RS?” tanya Anna menuduh.

“Jadi elo pacaran sama Max?” tanya Anna makin sewot.

“Engga.” Keiko yang menyahut.

“Jadi elo pacaran sama Jack?” tanya Anna, suaranya makin tinggi.

“Engga.” jawab Keiko lagi.

“Kalau gitu kenapa Jack nyium elo? Kenapa Max ampe peduli banget untuk jemput elo?” tanya Anna makin gencar.

“Anna, Jack kalo mabok emang doyan nyium.” ucap Micky santai.

“Tapi semalem dia ga nyium siapa-siapa?” ucap Anna menuntut penjelasan.

“Berarti semalem dia ga mabok.” jelas Ben singkat dan jelas.

“Masa? Dia kan minumnya banyak banget.” tanya Jenny tidak percaya.

“Itu belum seberapa buat Jack. Kamu tahu lah bagaimana Jack itu.” Max menepuk-nepuk pundak Jenny, memintanya untuk tidak bertanya lagi.

“Jadi, hyung?” tanya Ben menatap Alex. Meminta panduan dari leadernya itu.

“Kita siap-siap aja. Things will get ugly.” peringat Alex yang dijawab dengan anggukan oleh Ben, Micky, dan Max.

Keiko terus meremas-remas tengkuknya. Saat dulu mereka tidak berhasil menemukan kamera sang pemeras. Keiko sudah ada firasat kalau masih ada komplotan lain yang menyembunyikannya. Sayang pemeras itu keras kepala banget dan tetep membungkam mulutnya. Dia malah mengancam balik.

“Kei, hari ini lo tinggal sama kita dulu dan jangan pergi ke tempat umum sendirian. Elo ga tahu betapa sadisnya fans kita.” Alex mendesak.

“Sialan, gw udah duga, pasti begini. Sialan. Sialan!” maki Micky.

Hyung….” panggil Ben. Alex menatap layar laptop dan ekspresi wajahnya seperti orang yang melihat setan, pucat pasi. Micky juga ikut, dan sekarang semua orang mengelilingi laptop Ben. Keiko mendekat untuk melihat apa yang sedang mereka tonton.

Puluhan pengemar Fox-T berkumpul di depan gedung agency mereka. Berteriak-teriak meminta penjelasan. ada yang menangis histeris, lebih banyak yang marah dan melempar barang. Bahkan beberapa diantara mereka membawa spanduk besar dengan tulisan, “Kill this girl.” dan foto Keiko dicoret dengan cat merah.

Kaki Keiko mendadak lemas. Ia terjatuh ke lantai dengan suara cukup keras. Max dan Alex buru-buru membopongnya duduk di atas sofa. Yunna merangkul pundaknya sekarang.

Pintu kamar hotel tiba-tiba dibuka dari luar. Ben dan Micky meloncat ke depan, bersiap menghadang siapa saja yang masuk. Max dan Alex menyembunyikan Keiko di balik punggung mereka. Sedangkan Anna dan Jenny berpelukkan saking takutnya.

“Hei…” sapa Jack terkejut karena disambut dengan muka gahar dongsaengnya.

“Sial, lo bikin kaget aja!!.” umpat Micky.

“Brengsek! Hyung, kemana aja sih?” tanya Ben kesal.

“Apa kata Mr.X?” tanya Alex. Hanya ia yang tahu kalau subuh tadi Jack dipanggil oleh boss besar.

Mereka semua terdiam, menunggu jawaban Jack. Tidak ada yang lebih penting dari keputusan Big Boss mereka.

Jack tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan masuk ke kamar Micky tadi. Seluruh member Fox-T mengikutinya. Pintu ditutup.

“Jadi?” tanya Max, dia yang paling tidak sabar mendengar berita apa yang akan dibawakan Jack. Sejak photo Jack dan Keiko datang ke kantornya, ia tidak pernah tidur pulas. Walaupun, mereka berhasil menangkap biang keroknya dan membakar semua foto dan film yang berhasil mereka dapatkan. Ia tetap tidak tenang, firasatnya mengatakan kalau semua ini belum selesai.

“Kita ga bisa apa-apa.”

“Apa maksudnya dengan kita ga bisa apa-apa?” tanya Max dengan nada tinggi. “Mereka selalu bisa melakukan apa saja kalau mereka mau.” sindir Max lagi.

Bertahun-tahun mengeluti dunia entertainment, ia mengerti dengan jelas permainan kotor di dalamnya. Media selalu bisa menyebarkan gosip atau menjernihkan masalah. Tergantung bagaimana mereka menyampaikan berita tersebut.

“Maksudnya, mereka memang sengaja membiarkan foto ini keluar.” Jack meninju dinding di sampingnya.

“Mereka sengaja? Untuk apa??” emosi Max meletup, matanya sudak berkilat-kilat.

“Promosi film kita.” ucap Jack pahit.

Mereka saling bertatapan, tidak percaya dengan ucapan Jack. Selama ini agency memang sering memakai cara-cara ajaib untuk mempromosikan mereka. Tapi tidak sekalipun, mereka merugikan orang lain.

“Mereka sudah gila yah?” ucap Max penuh kebencian. Kenapa hanya untuk mempromosikan film ini mereka harus mengumpankan Keiko.

“Pokoknya, hyung berpesan untuk menyembunyikan Keiko dulu sementara waktu. Sampai keadaan lebih tenang.”

“Bukannya itu malah bikin keadaan makin parah?!” Ben ikut kesal.

“Gw juga uda bilang begitu ke mereka. Kalau kita come clean ke pengemar kita, mereka pasti bisa merespon lebih tenang. Tapi mereka melarang kita untuk melakukan sesuatu  diluar perintahnya. Mr.X sampai datang dan ngomong sama gw langsung, untuk tidak bertindak gegabah.”

“SIALAN!!! Mana mungkin kita bisa diem aja, Hyung…” erang Max.

“Sekarang yang penting, kita harus lindungin Keiko dulu dari fans dan media.” Micky harus melindungi Keiko kalau ia ingin melingdungi Yunna.

Fans mereka selain terkenal solid mendukung idolanya juga terkenal mampu menghancurkan image idola lain yang berani memperlakukan Fox-T seenaknya. Mereka bisa membuat gosip, mengkritik habis-habisan atau memborbardir blog orang-orang tersebut. Tidak jarang, serangan fisik juga terjadi.

Sinar matahari menembus gordyn, menyilaukan mata Keiko. Kepalanya sedikit berdengung akibat pengaruh alkohol yang belum hilang sepenuhnya. Ia mengutuki dirinya karena minum terlalu banyak semalam.

Ditapakkan kakinya ke lantai dengan mata terpejam. Terlalu malas untuk membuka matanya. Lagipula ia cukup hafal bentuk kamarnya sendiri. Setelah berjalan beberapa langkah ia jatuh tersandung.

“Aduhhhh.’ pekiknya lemah. Keiko membuka mata perlahan dan mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Pemandangan yang terpampang di hadapannya kini membuat matanya membelalak.

Ini dimana? Dimana kasur putih dan gorden pinknya. Kenapa berubah jadi gaya classic begini. Ia menengok ke belakangan, mencari tahu apa yang membuatnya tersandung.

Ben?!

Kenapa ada Ben di sini. Keiko berdiri dan menatap ke arah kasur. Kali ini dia betul-betul sudah sadar. Oh, Shoot!!!!!!

Max? Ia tidur dengan Max. Reflek, Keiko meraba tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaiannya semalam, minus jaket dan syal. Ia menyimpulkan kalau tidak ada kejadian yang  menyimpang terjadi semalam.

Keiko memijit kepalanya yang tidak sakit. Ia pasti mabuk berat semalam. Sebaiknya ia membangunkan salah satu orang ini. Agar dia bisa pulang.

Tiba-tiba ada tangan terangkat dari samping Max. Keiko menjerit lantang, terkejut. Lalu segera menutup mulutnya dan mengidarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak ada yang bangun. Mereka pasti masih hangover, sampai-sampai tidak mendenger jeritannya tadi.

Apapun yang bergerak tadi, Keiko tidak ingin mencari tahu. Jantungnya masih berdebar terlalu kencang. Ia tidak sanggup menerima kejutan lainnya. Keluar dari kamar, Alex dan Anna tertidur di sofa yang berbeda

Setelah meneliti sebentar, ia yakin kalu ia berada di sebuah penthouse, atau apartment. Tempat ini terlalu besar untuk hotel. Ada kamar lain di ujung satunya. Keiko masuk dan melihat Micky dan Yunna di atas kasur. Lalu menutup pintu kembali.

Keiko memilih untuk membersihkan dirinya sambil menunggu mereka bangun. Ia kembali mengenakan bajunya karena tidak ada pilihan lain yang tersedia.

“Hai…” sapa Keiko ceria saat ia keluar dari kamar mandi. Teman-temannya sudah bangun. Tampang mereka sama semua, kusut, berlipat-lipat dengan mata merah. Hangover berat tampaknya.

“Hai…” jawab Yunna tidak antusias. Ia menopangkan kepalanya ke pundak Micky.

TV sedang menyiarkan berita siang. Lalu menyorot seorang bapak-bapak yang sedang berpidato.

“FOX-T akan bermain dalam film yang disponsori oleh TV-B. Dengan Jack sebagai pemeran utama dan Narsha sebagai pemeran utama wanitanya. Judul filmnya 18th.” Lalu cowok itu terus berbicara menjelaskan siapa saja yang akan ikut serta dalam film ini.

Hyung.” panggil Ben meminta teman-temannya menonton TV.

“Itu…” Alex memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

Wartawan dalam TV, tiba-tiba bertanya.” Siapa wanita ini?” sambil menunjukan seorang cewek sedang dicium oleh Jack. Keiko menutup mulutnya, kaget.

“Sapa tuh?” tanya Anna. Cowok-cowok terus menatap TV, tidak mengubris Anna sama sekali.

“Apa dia pacar Jack?” tanya wartawan lainnya, lalu semua berebut bertanya. Keadaan menjadi sedikit tidak terkendali. Untungnya bapak itu berhasil turun dari podium dengan selamat.

Micky membiarkan TV terus menyala. Di layar terlihat kalau wartawan-wartawan belum menyerah. Mereka mengerumuni mobil yang dimasuki pria tadi.

“Sialan!!!.” maki Micky.

Hyung, lihat ini.” Ben menunjuk laptopnya yang sedang memutar video, Jack mencium Keiko lalu berganti dengan adegan Max membopong Keiko keluar dari gang. Kamera kembali menyorot wajahku yang sedang masuk ke mobil Max di depan Rumah Sakit. Muncul tulisan, “IS IT THE SAME GIRL????!!!”

“Itu…Ke..i…ko? KEIKO!” Anna sampai bangun dari tempat duduknya.

Perut Keiko mendadak terasa mual seperti dikerubuni oleh banyak kupu-kupu yang terus mengibas-ibas sayapnya, tidak mau diam.

“Tunggu, jadi Jack mencium Keiko, tapi Max, kenapa lo yang jemput dia pas keluar dari RS?” tanya Anna menuduh.

“Jadi elo pacaran sama Max?” tanya Anna makin sewot.

“Engga.” Keiko yang menyahut.

“Jadi elo pacaran sama Jack?” tanya Anna, suaranya makin tinggi.

“Engga.” jawab Keiko lagi.

“Kalau gitu kenapa Jack nyium elo? Kenapa Max ampe peduli banget untuk jemput elo?” tanya Anna makin gencar.

“Anna, Jack kalo mabok emang doyan nyium.” ucap Micky santai.

“Tapi semalem dia ga nyium siapa-siapa?” ucap Anna menuntut penjelasan.

“Berarti semalem dia ga mabok.” jelas Ben singkat dan jelas.

“Masa? Dia kan minumnya banyak banget.” tanya Jenny tidak percaya.

“Itu belum seberapa buat Jack. Kamu tahu lah bagaimana Jack itu.” Max menepuk-nepuk pundak Jenny, memintanya untuk tidak bertanya lagi.

“Jadi, hyung?” tanya Ben menatap Alex. Meminta panduan dari leadernya itu.

“Kita siap-siap aja. Things will get ugly.” peringat Alex yang dijawab dengan anggukan oleh Ben, Micky, dan Max.

Keiko terus meremas-remas tengkuknya. Saat dulu mereka tidak berhasil menemukan kamera sang pemeras. Keiko sudah ada firasat kalau masih ada komplotan lain yang menyembunyikannya. Sayang pemeras itu keras kepala banget dan tetep membungkam mulutnya. Dia malah mengancam balik.

“Kei, hari ini lo tinggal sama kita dulu dan jangan pergi ke tempat umum sendirian. Elo ga tahu betapa sadisnya fans kita.” Alex mendesak.

“Sialan, gw udah duga, pasti begini. Sialan. Sialan!” maki Micky.

Hyung….” panggil Ben. Alex menatap layar laptop dan ekspresi wajahnya seperti orang yang melihat setan, pucat pasi. Micky juga ikut, dan sekarang semua orang mengelilingi laptop Ben. Keiko mendekat untuk melihat apa yang sedang mereka tonton.

Puluhan pengemar Fox-T berkumpul di depan gedung agency mereka. Berteriak-teriak meminta penjelasan. ada yang menangis histeris, lebih banyak yang marah dan melempar barang. Bahkan beberapa diantara mereka membawa spanduk besar dengan tulisan, “Kill this girl.” dan foto Keiko dicoret dengan cat merah.

Kaki Keiko mendadak lemas. Ia terjatuh ke lantai dengan suara cukup keras. Max dan Alex buru-buru membopongnya duduk di atas sofa. Yunna merangkul pundaknya sekarang.

Pintu kamar hotel tiba-tiba dibuka dari luar. Ben dan Micky meloncat ke depan, bersiap menghadang siapa saja yang masuk. Max dan Alex menyembunyikan Keiko di balik punggung mereka. Sedangkan Anna dan Jenny berpelukkan saking takutnya.

“Hei…” sapa Jack terkejut karena disambut dengan muka gahar dongsaengnya.

“Sial, lo bikin kaget aja!!.” umpat Micky.

“Brengsek! Hyung, kemana aja sih?” tanya Ben kesal.

“Apa kata Mr.X?” tanya Alex. Hanya ia yang tahu kalau subuh tadi Jack dipanggil oleh boss besar.

Mereka semua terdiam, menunggu jawaban Jack. Tidak ada yang lebih penting dari keputusan Big Boss mereka.

Jack tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan masuk ke kamar Micky tadi. Seluruh member Fox-T mengikutinya. Pintu ditutup.

“Jadi?” tanya Max, dia yang paling tidak sabar mendengar berita apa yang akan dibawakan Jack. Sejak photo Jack dan Keiko datang ke kantornya, ia tidak pernah tidur pulas. Walaupun, mereka berhasil menangkap biang keroknya dan membakar semua foto dan film yang berhasil mereka dapatkan. Ia tetap tidak tenang, firasatnya mengatakan kalau semua ini belum selesai.

“Kita ga bisa apa-apa.”

“Apa maksudnya dengan kita ga bisa apa-apa?” tanya Max dengan nada tinggi. “Mereka selalu bisa melakukan apa saja kalau mereka mau.” sindir Max lagi.

Bertahun-tahun mengeluti dunia entertainment, ia mengerti dengan jelas permainan kotor di dalamnya. Media selalu bisa menyebarkan gosip atau menjernihkan masalah. Tergantung bagaimana mereka menyampaikan berita tersebut.

“Maksudnya, mereka memang sengaja membiarkan foto ini keluar.” Jack meninju dinding di sampingnya.

“Mereka sengaja? Untuk apa??” emosi Max meletup, matanya sudak berkilat-kilat.

“Promosi film kita.” ucap Jack pahit.

Mereka saling bertatapan, tidak percaya dengan ucapan Jack. Selama ini agency memang sering memakai cara-cara ajaib untuk mempromosikan mereka. Tapi tidak sekalipun, mereka merugikan orang lain.

“Mereka sudah gila yah?” ucap Max penuh kebencian. Kenapa hanya untuk mempromosikan film ini mereka harus mengumpankan Keiko.

“Pokoknya, hyung berpesan untuk menyembunyikan Keiko dulu sementara waktu. Sampai keadaan lebih tenang.”

“Bukannya itu malah bikin keadaan makin parah?!” Ben ikut kesal.

“Gw juga uda bilang begitu ke mereka. Kalau kita come clean ke pengemar kita, mereka pasti bisa merespon lebih tenang. Tapi mereka melarang kita untuk melakukan sesuatu  diluar perintahnya. Mr.X sampai datang dan ngomong sama gw langsung, untuk tidak bertindak gegabah.”

“SIALAN!!! Mana mungkin kita bisa diem aja, Hyung…” erang Max.

“Sekarang yang penting, kita harus lindungin Keiko dulu dari fans dan media.” Micky harus melindungi Keiko kalau ia ingin melingdungi Yunna.

Fans mereka selain terkenal solid mendukung idolanya juga terkenal mampu menghancurkan image idola lain yang berani memperlakukan Fox-T seenaknya. Mereka bisa membuat gosip, mengkritik habis-habisan atau memborbardir blog orang-orang tersebut. Tidak jarang, serangan fisik juga terjadi.Terbayang di benak mereka, semua teror dan aksi keras yang akan dialami Keiko. Wajah kelima cowok itu berubah muram dan panik



Advertisements

One thought on “17- New teror begin

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s