19- Shopping with Mr. Fashionable

Keiko berhasil meyakinkan Fox-T untuk membiarkan dirinya keluar dan berbelanja. Bagaimanapun ia memerlukan baju ganti karena pakaian pestanya semakin tidak layak pakai.

Bukan perkara mudah, Max dan Jack menentang habis-habisan dengan seribu satu kekhawatiran mereka yang berlebihan. Dua orang itu baru menyerah begitu Micky mengusulkan dirinya untuk mengawal Keiko dan memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang akan mengenali Keiko dalam penyamaran.

Micky mengantarnya ke tempat ia biasa pergi untuk menemani ibunya berbelanja. 3 stories shop dengan berbagai pilihan merk, koleksinya juga sangat beragam, dari underwear sampai baju pesta.

“Tumben ajak cewek ke sini.” sambut manager toko pada Micky.

“Ssttt….” Micky menyuruh manager mengecilkan suaranya. Manager memberi kode mengerti dan mengantar tamu agungnya ke ruang VIP di lantai atas.

Ia memboyong Keiko masuk ke dalam kamar ganti yang tidak kalah luas dengan ruang tunggu yang ia masuki dengan Micky tadi.

Keiko memiih 2 pasang lingerie yang diserahkan oleh manager padanya. Tidak sampai di situ, baju, dress, celan terus diantar masuk ke ruang gantinya. Ada satu yang paling menarik perhatian Keiko. Dress hitam sifon dengan potongan leher V, belt kepang berwarna senada dibawah bustline. Aksen belt di pinggulnya yang membentuk pita sehingga dari pinggul kebawah terkesan flurry.

Ia buru-buru ingin mencobanya, tapi begitu melihat merk Chanel di sana, ia langsung cembetut. Dress dari Chanel tidak mungkin dibawah 16 juta, apalagi dengan cuttingan rumit seperti ini. Diletakkan kembali gaun itu dalam gantungan, dan mulai mencoba pakaian yang lain.

“Bisa tolong bantu?” Keiko memanggil manager itu untuk mengancingkan resleting bagian belakang rok yang sedang dicobanya. Selesai itu, sang manager membuka gorden. Memamerkan penampilan baru Keiko. Atasan tangan pendek dari katun dengan rok hitam ketat karena dari kulit. Micky mengangkat jempol.

Keiko kembali dengan kemeja salem dari satin dengan celana jeans hitam dan jaket bikerz.

“Kayaknya kurang apa yah…” komentar Micky. “Ah, boot.” Micky mengambil boot berwarna hitam. “Nah, begitu ok.”

“Udah? kayaknya tadi gw kasih lumayan banyak. Kok cuma dua doang?” tanya Micky begitu melihat Keiko keluar dengan pakaian cowoknya lagi.

“Udah. Yang lain gw ga suka.” Keiko memberi alasan.

“No, no, no. Lo pasti bagus pake ini.” Micky mengangkat dress Chanel yang tadi.

“Mahal Ky, gw ga sangggup bayarnya.” elak Keiko padahal matanya terus menatap kagum pada gaun itu.

“Hahahaha, tenang aja. Lo masuk dan coba dulu.” Micky mendorong Keiko masuk kembali ke kamar pas. Ia bersiul, memuji penampilan Keiko saat ia keluar dengan dress hitam. Ia menambah stocking tipis berwarna hitam dan stiletto berwarna senada. Rambut sepundak Keiko diturunkan.

“Saya tidak pernah melihat orang lain memakinya sebagus anda. Boleh saya photo?” tanya sang manager.

“Tentu saja.” Micky mengantikan Keiko menjawab. Ia berpose dengan bersama Keiko dan menandatangani struk belanjaannya.

“Udah? Gw ganti yah.” ucap Keiko berjalan kembali ke kamar pas.

“No, NO ,No. Elo pulang begitu aja. Ga akan ada yang ngenalin kalo ditambah ini.” Micky menberikan topi bercadar untuk menutupi muka Keiko.

“Tolong blazer yang itu sekalian.” Manager menurunkan Blazer Dior berwarna biru donker yang dipajang di etalase depan. Micky memakaikannya pada Keiko sebelum mereka keluar dari boutique.

“Jangan berpikir untuk mulangin ke gw. Gw ga punya ade cewek or pacar untuk pake semua barang ini. Anggap aja, ini ucapan maaf kami berlima karena udah bikin elo masuk rumah sakit, terperangkap di rumah dan semua kesalahan lainnya.”

Keiko masuk duluan karena Micky masih harus memarkir mobilnya.

“Cari siapa ya?” tanya Ben saat melihat Keiko mengebel pintu. Keiko sengaja tidak menjawab dan hanya tersenyum memandang Ben.

“ALEX hyung….” Ben berteriak memanggil Alex. Alex datang dengan Max dan Jack.

“Kenapa sih?” tanya Alex lalu mereka bertiga terdiam melihat Keiko.

“Micky, kok elo malah bawa cewek pulang sih? Mana si Keiko? Lo tinggal di jalan?” Alex mencecer Micky yang sudah datang menyusul Keiko. Micky malah cuek aja dan membantu Keiko meletakan sepatunya ke rak.

“Tunggu. Kayaknya gw kenal ini cewek.” ucap Max curiga. Keiko tetap tidak bersuara.

“Itu Keiko, bloon!! Pacar sendiri ga ngenalin.” seru Jack.

“HEH!!!” teriak Max, Ben dan Alex bersamaan. Keiko dan Micky tertawa, sukses mengerjai teman-temannya.

“Kok bisa berubah jadi begini?” tanya Alex.

“Gw gitu….” ucap Micky bangga.

Ben menyuruh Keiko berdiri dan berputar.

“Ckckckckckck. Kenapa bisa begini yah?” tanya Ben antara bingung dan terpesona.

“Kamu jadi cantik.” puji Max.

“Jadi sebelumnya aku jelek gitu?”.

“Cantik juga. Tapi begini, jaul lebih revealing.” yang disambut dengan Keiko pukulan di lengannya.

“Tapi Jack, kok elo ngenalin gw sih?” tanyak Keiko bingung.

“Muka elo ga berubahkan.” jawab Jack enteng.

“Cehhhh…..”, cibir Keiko kesal. Tidak mungkin berubahlah, masa dia operasi plastik dalam waktu 2 jam.

“Hey, kita disuruh datang ke Hotel Grand Hyatt sekarang.” perintah Alex. Keiko baru ingat kalau malam ini, mereka harus menghadiri malam première film mereka.

Cowok-cowok itu langsung bubar masuk ke kamarnya masing-masing. Setengah jam kemudian, mereka sudah memakai tux. Berdandan rapi. Gantian Keiko yang terpesona oleh mereka. Dengan peampilan mereka sekarang, rasanya Keiko tidak percaya kalau mereka ini orang yang sama dengan cowok-cowok tadi siang yang berfoto dengannya.  Mereka terlihat gagah dan berkharisma.

“Now, we’re ready. Siapa yang nyetir?” tanya Max.

“Manager kita yang jemput.” jawab Alex.

“Keiko keluar begitu?” tanya Jack.

“Yeap. Mereka sudah menyiapkan skenario untuk kita. Betulkan Micky?”

Alex tersenyum pada Keiko, dan memintanya menggandeng lengannya.

“Jadi hyung sudah tahu?” tanya Max pada Micky.

“Yeap. Dia sms gw, waktu di toko. Tapi dia cuma bilang untuk menyiapkan Keiko juga. Gw ga tahu deh, dia ada rencana apa.” Micky menerangkan.

Alphard hitam datang mendekat. Boom membukakan pintu untuk mereka. Jack masuk, lalu Keiko dan Max. Mereka duduk di bagian belakang. Berikutnya Ben, Micky dan Alex yang terakhir.

“Okey, untuk mengklarifikasi skandal kalian, kami sudah menyiapkan cerita bantahan. Fakta bahwa Jack mencium Keiko tidak bisa dielakkan, tapi bukan berarti tidak bisa dijelaskan. Nanti kita akan mengupload bagian dimana Jack minum, mabok, mencium Ben dan lainnya.”

Boom melanjutkan, “Jadi fans kalian tahu, itu hanya tindakan spontan, dan tidak ada hubungan apa-apa antara Jack dengan Keiko. Lalu mengenai Max menjemput Keiko. Kalian dapat mengatakan itu sebagai tindakan bertanggung jawab, karena Keiko adalah orang yang dia tolong, jadi dia harus menuntaskan aksi pertolongannya sampai tuntas. Sekali lagi membantah kalau ada hubungan antara Keiko dengan Max.”

“Hindari menjawab pertanyaan langsung, jangan terlalu menempel, berusahalah berbaur dengan orang lainnya. Sebisa mungkin tidak terlalu lama berbicara dengan seseorang. Kalian paham?”

Anak asuhnya menngangguk.

Sampai di pintu masuk hotel, sudah banyak wartawan dan pengemar FOX-T. Keiko dapat membaca nama member di setiap sign board yang para fans. Ben turun terlebih dulu, disusul Micky dan Alex lalu Max. Max memberikan tangannya dan membantu Keiko turun. Lalu Jack.

Kamera terus menjepret. Fans mulai ribut melihat Keiko ada di antara mereka dan diapit oleh Jack dan Max. Mereka mulai ribut.

“Oppa, jangan…” teriak salah satu fans Jack.

“Siapa itu cewek?” bisik cewek-cewek lain.

“Nooooo, jangan dekat-dekat dengan Jack oppa.” Teriak kumpulan di kiri dan kanan, membuat keadaan sedikit tidak terkendali.

Keiko yang tidak terbiasa dengan semua kilatan kamera dan banyaknya mata memelototinya, menjadi limbung dan panik. Max dan Jack menguatkan pegangannya, menopang Keiko melewati karpet merah sambil terus tersenyum dan melambaikan tangan.

“Gimana? Lo baik-baik aja?” tanya Max khawatir, saat mereka sudah masuk ke dalam ballroom.

“Not bad kan?” ucap Jack sambil tersenyum.

“Kerja yang bagus.” ucap Micky menepuk pundak Keiko.

Ben mengacungkan jempol untukku sedangkan Alex merengkuhku. Kekuatan mereka segera menulari Keiko. Ia jadi lebih percaya diri dan sanggup berjalan tanpa didampingi.

Ballroom Grand Hyatt dipenuhi dengan karangan bunga dan disulap menjadi bioskop mini. Keiko duduk bersama Anna dan Doc. Berpisah dari Fox-T.

Film diputar selama 1.45 menit. Keiko sibuk melirik ke kiri dan ke kanan, menilai reaksi penonton. Ia cukup puas karena melihat beberapa orang ikut tertawa, menangis dan marah sesuai dengan perubahan alur cerita. Tinggal menunggu kritikan dan komentar para kritikus. Mudah-mudahan mereka juga semudah para penonton untuk memberikan pujian. Para penonton berdiri dan memberi tepuk tangan meriah saat film selesai diputar.

“Sekarang kami akan memperkenalkan orang-orang yang berperan dalam film ini. Sutradara, Shim MinJung, Director, Lee Keiko, Pemeran utama pria, Park Jackson. Pemeran utama wanita, Narsha. Pemain pendukung, Fox-T. Film ini disponsori oleh….” Mrs Joo, menyebutkan perusahan-perusahan pendukung film. Semua nama yang disebut, naik ke atas panggung satu per satu. Lalu berfoto bersama. Selesai itu turun kembali.

Mrs.Joo sengaja mengabaikan pertanyaan dari para wartawan dengan pernyataan bahwa hari ini, dia hanya memperkenalkan film “18th” dan berharap semua mendukung film ini. Keiko cukup tegang selama di panggung. Ini pertama kalinya dia difoto dengan begitu banyak kamera dan menjadi pusat perhatian.

Yunna menghampirinya saat mereka turun panggung. “Selamat, gw ga nyangka filmnya seru begitu. Lucu banget lagi. Gw ga bisa berhenti ketawa waktu Ben sama Max rebutan makanan.”

“Thank you.” Keiko mengecup pipi sahabatnya.

“Lo masih ga bisa pulang?” bisik Yunna.

“Belum, elo sendiri? Banyak yang nelpon ga?”

“Gw di rumah BaeWon. Waktu sampe rumah tadi, uda dikepung, jadi Max nganter gw ke rumah BaeWon.”

“Sorry yah Yun.”

Yunna memukul lengan sahabatnya, memarahinya karena sudah bersikap sungkan padanya.

“Bae-bae yah. Ini hp elo. Telpon gw kalo butuh apa-apa.” pesan Yunna, sebelum mereka berpisah. Keiko didatangi oleh banyak orang baru yang dikenalkan oleh Mrs. Joo. Kebanyakan dari mereka memuji hasil pekerjaannya.

Malam sudah larut saat Keiko kembali ke penthouse Jack. Beberapa pengemar Fox-T masih bertahan di luar sana, saat mereka pulang. Alex sampai harus meminta mereka untuk pulang karena udara masih cukup dingin walaupun ini sudah masuk musim semi.

Penthouse Jack hanya punya 3 kamar, masing-masing kamar hanya ada 1 ranjang king size. Keiko mendapat hak istimewa dengan tidur di 1 kamar sendirian. Harus ada 1 orang yang tidur di sofa malam ini. Mereka mengundinya dengan menarik sedotan, yang paling pendek yang harus tidur di depan, pilihan jatuh di tangan Mikcy. Mukanya langsung melesek.

“Kalau gitu gw juga di luar deh, nemenin hyung.” kata Ben, lalu mengeluarkan selimut dan bantalnya menempati sofa panjang satunya.

“G’nite Kei.” Max mengusap lengan Keiko dan masuk ke kamar Alex. Micky dan Ben juga mengucapkan selamat malam lalu mematikan lampu.

Keiko masuk ke kamar dan mengganti pakaian nya dengan baju tidur yang dibelikan Micky. Untung ia memilih piyama bukannya gawn seperti yang disuruh Micky. Bakal ga nyaman banget berkeliaran dengan gawn tidur di sekitar cowok-cowok.

Tok tok tok… pintu kamarnya kembali diketuk.

“Ya?” sahut Keiko membuka pintu. Ia tertegun mendapati Jack berdiri di depannya.

“Mana Handphone lo?”

Keiko menyerahkan hp-nya. Jack langsung mengantunginya. “Ini HP baru elo. Untuk sementara pake nomor ini. Gw sudah kasih tahu nomor ini ke boss elo, manager gw dan seluruh orang yang bersangkutan dengan film ini. Jadi sampai masalah ini selesai, lebih baik tidak ada yang bisa melacak keberadaan elo.” Selesai bicara, Jack langsung menutup pintu. Keiko terpaksa membuka pintunya lagi, dan berteriak memanggil Jack, “Tunggu. Ajarin dulu. Gw ga pernah pake model ini.” Jack memberi Keiko, i-phone.

Akhirnya mereka masuk kembali ke kamar Keiko, karena Micky protes berisik. Mereka berdua duduk di lantai selama Jack menjelaskan bagaimana menggunakan iphone. Keiko mencoba beberapa dan ternyata cukup mudah. Malah ada fitur note dan gamesnya. Jack juga bilang bisa digunakan sebagai ganti ipod.

“Keren juga nih HP.” puji Keiko.

“Pastinya, tapi jangan sampai ketuker sama punya gw yah.”

Jack mengeluarkan hp dari kantong celananya yang ternyata sama model dan warnanya juga sama-sama putih.

“Iyeh, tenang aja, ntar gw pasangin stiker deh. Takut amet sih!”

“Terserah. Pokoknya jangan sampe ketuker.”  Jack sudah berdiri, siap untuk keluar kamar Keiko.

“Jack, lagu yang terakhir elo kirim. Boleh tau judulnya?”  tanya Keiko tiba-tiba.

Dari posisi berdirinya, Jack menatap ke dalam mata Keiko. Seakan berusaha mencari sesuatu di sana.

Jantung Keiko berdetak tak karuan menunggu jawaban Jack. Ia tidak mengerti kenapa tatapan Jack jadi intense begitu, seperti menyedotnya masuk dalam dunia Jack.

“Untitled, gw belum mutusin judulnya.” Jack mengangkat bahunya.

“Bikinnya sambil mikirin apa? Tipenya beda banget sama yang lama.”

“Mulai bikinnya waktu elo di rumah sakit. Tadinya juga mellow-mellow gitu, tapi pas lagi nyusun arrangementnya tiba-tiba berubah jadi ceria. Mungkin gara-gara mood gw lagi seneng kali.”

“Hoooo, Gimana kalau judulnya “Deluted” atau “Boom Boom” ajah. Soalnya waktu gw denger itu lagu, gw jadi nepuk-nepuk meja saking semangatnya.”

“Boom boom? Kayak nama manager gw. Mending Deluted deh. Udah tidur deh. Besok kerja kan.” ucap Jack memaksa Keiko mengakhiri pembicaraannya.

Keiko sama sekali tidak bisa tidur malam itu. Ia terus memikirkan Jack. Memikirkan perasaannya pada cowok itu dan sampai pada kesimpulan. Kalau dia memang menyukainya.

Mencintainya mungkin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s