21- The other woman

“Kei, ada Max nih.” panggil Yunna, ia sedang menonton acara Jepang. Keiko buru-buru keluar dari kamarnya. Max sudah di Jepang selama seminggu, Jack dan Micky juga sudah menyusul mereka.

Sang MC membuka acara talkshownya dan memperkenalkan Fox-T sebagai artis yang paling digandrungi saat ini. Mereka juga menyebutkan beberapa kegiatan terakhir Fox-T, termasuk film mereka.

“Benar, dengan penghasilan 13 juta Won di minggu pertamanya, film ini pasti masuk box office Korea.”

“13 Juta Won? Di minggu pertama? Wah… Luar biasa.”

“Kalau gitu, mari kita sambut FOX-T.” Mereka berlima datang dengan mengenakan pakaian casual. Sekarang sudah memasuki musim semi, jadi mereka hanya menambahkan aksen sweater dan cardigan.

Penonton bertepuk tangan dan mengelu-elukan mereka. Sang MC melanjutkan pertanyaannya “Bagaimana perasaan kalian dengan film pertama ini?”

“Kami senang sudah berhasil menunjukan bakat kami yang lain.” ucap Alex diplomatis.

“Kami dengar jam shooting kalian cukup singkat yah?”

“Benar hanya 1 bulan.”

“Wah…. cepat sekali. Biasanya mereka shooting 2 bulan untuk film seperti ini.”

“Kami dengar ada banyak kejadian lucu saat kalian shooting?”

Jack dan Ben tertawa berbarengan.

“Jack, ada cerita apa?”

“Ben kehilangan boxernya.”

“Heh! Boxer?”

“Benar, sebetulnya kami semua kehilangan beberapa barang semasa shooting, Tapi yang paling konyol adalah boxer Max. Boxer itu bergambar twetty.”

“Twetty? Boleh tahu, sekarang umurmu berapa Max?”

“21.”

“21 tahun dan masih memakai boxer Tweety?”

Penonton tertawa. Max berusaha membela dirinya, “Bukan begitu, karena kami sering meminjam barang satu sama lain, jadi saya berusaha untuk tidak meminjamkan boxer saya, dengan memakai sesuatu yang imut seperti itu.”

“Ne..Ne…Ne… Tentu Max, apa kamu juga punya Sylvester dan bugs bunny?” ledek MC. Penonton kembali tertawa.

“Mencintaimu adalah hal terbaik dalam hidupku. Walaupun aku harus kehilangan segalanya.” Itu dialog yang diucapkan Max pada Tiffany, bukan?”

Mereka serempak menjawab, iyah.

“Saya yakin banyak perempuan yang menangis karena ucapanmu.”

Penonton menjawab, iyah….

“Bagaimana perasaanmu saat itu Max? Ada teknik khusus supaya lebih bisa menjiwai aktingnya?”

“Hahahaha, saaat itu saya hanya berusaha memikirkan orang yang saya cintai saja.”

Penonton berteriak lagi, saya cinta Max…

“Hoooo… Orang yang dicintai? Apa saat ini ada orang yang Max suka?”

Penonton mulai ribut. “Jangan…”

“Max hanya milik kami!”

“NOoo…”

“Tunggu jawabannya setelah iklan berikut ini…”

Penonton berteriak kembali…..

Yunna dan Keiko saling bertatapan. Mereka ikut tegang. Apa berita kalau Max berpacaran dengannya juga sampai ke Jepang? Bagaimana kalau mereka juga bereaksi keras seperti fans Fox-T di sini?

Iklan selesai. Yunna dan Keiko kembali menatap layar TV

“Selamat datang kembali di acara STRONG HEART.”

“Tadi kami menanyakan, apa Max mempunyai seseorang yang disuka?”

Kamera menyorot Max, close up.

Max mengangguk.

“HOOOUA… Benar ada? Wah, berarti ini pertama kalinya Max mengumumkan? Wah…”

Reaksi Yunna dan Keiko sama seperti penonton yang hadir di sana, gusar.

“Apa wanita itu adalah dia?”

Kamera mengclose up, seorang perempuan dengan rambut panjang dan memakai topeng.

“Siapa tuh?” tanya Yunna.

“Ga tahu.” ucap Keiko, ia memperhatikan reaksi Max dan yang lainnya. Mereka mengenali cewek itu.

Perempuan itu duduk di sisi berlawanan dari FOX-T.

“Anda bisa menebak siapa wanita ini, Max?”

“Pastinya bukan mama saya.” Max berkelit dengan leluconnya. Penonton tertawa mendengarnya.

“Benar, mama Max kan lebiih pendek.” lanjut Ben.

Max mengeplak paha Ben.

“Jangan hina mama gw.” ujar Max setengah bercanda setengah marah.

“Sorry sorry.”

Penonton kembali tertawa.

“Sepertinya kenal. Kim Yuna?” tanya Max

Sang wanita mengeleng.

“Memangnya Max suka Kim Yuna, skater nasional kita itu?”

“Suka, bahkan jadi wallpaper laptopnya.” bocor Micky.

“Hoooo. Sayang sekali. tapi wanita ini bukan Kim Yuna. Ada tebakan lain?”

“Lee Hyori?” Alex menebak.

“Lee Hyori sunbae mah lebih montok, ga kurus tinggi langsing begitu.” celetuk Ben.

“Ah.. betul juga.”

“Bagaimana?”

“Kami menyerah. Siapa cewek ini?” jawab Jack.

Keiko bisa membaca rencana mereka. Mereka semua sedang berpura-pura tidak mengenali cewek itu. Perut Keiko terasa mulas.

“Silahkan dicopot topengnya.”

Waktu topeng diturunkan, reaksi penonton langsung histeris.

“Apa kabar, Max?” sapa Lena.

Max hanya tersenyum kecut.

“Lena kebetulan datang ke Jepang untuk mempromosikan film barunya dengan Jet Lee dan Owen Wilson. Film action Hollywood kedua, setelah Run or Die tahun lalu.”

“Benar. Film kali ini Lena berperan sebagai apa?”

“Saya menjadi pembunuh bayaran dan dikejar oleh detektif Owen dan Jet Lee.”

‘Oh, jadi anda banyak melakukan adegan stunt?”

“Betul, saya berusaha sebisa mungkin untuk melakukan semua adegan sendiri. Tapi untuk adegan yang terlalu berbahaya, mereka tetap mengangtiku dengan stuntman.”

Lalu mereka memutar beberapa adegan film yang dibintangi Lena. Max dan Lena saling bertatapan canggung.

MC sama sekali tidak menyunggung kembali mengenai hubungan Max dan Lena. Sepertinya tadi itu hanya untuk memberi gebrakan untuk comeback-nya Lena. Mudah-mudahan tidak akan ada yang menyinggung masalah mereka lagi. Acara ditutup dengan Fox-T menyanyikan “Look at Me” Japanese version.

Yunna membuka laptopnya dan mencoba mencari tahu siapa Lena. Begitu hasil pencarian mereka keluar, nama Lena dengan Max berada urutan teratas. ”Lena, pacar Max”, “Max putus dengan Lena” dan headline-headline serupa lainnya.

“Sekarang gw inget, Ben pernah bilang kalau dulu mereka bertunangan.” seru Keiko sampai bangun dari tempat duduknya.

“Menurut elo, dia bakal balik sama Lena?” pancing Yunna. Sampai saat ini, ia masih belum pasti akan perasaan Keiko pada Max atau Jack.

Keiko tidak sempat menjawab, ponselnya keburu bergetar, ada pesan masuk dari Jack. Cowok ini bawel sekali yah. Kayaknya hari ini dia sudah sms 3x. SMS paling banyak yang pernah diterimanya dari Jack. Pikirannya langsung teralihkan. Ia jadi penasaran, ppa lagi yang mau dikatakan cowok nyebelin itu.

“MINUM obat. JANGAN pulang malem-malem.” sms singkat tapi tetep menyebalkan. Keiko memonyongkan mulutnya dan membalas sms Jack, “BAWEL!!!”

Jauh, dari sana, di Negeri Sakura, Jack sedang tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi Handphonenya. Ia membuat Micky marah karena menggangu jam tidurnya. Temannya ini sedang melancarkan hidup sehat. Tidur lebih awal dan bangun pagi.

Berpacaran dengan Yunna membuat Micky banyak berubah. Dia jadi lebih sedikit merokok dan minum, jarang bergadang, dan banyak berolahraga. Jack jadi kehilangan teman untuk menghabiskan waktu. Makanya sekarang ia lebih banyak menggangu Keiko. Cewek ini betul-betul asyik untuk dikerjai. Reaksi darinya selalu beragam, membuat ia semakin tertantang untuk mengerjainya. Ia sudah lama menyerah untuk melupakan cewek ini. Lebih baik ia terus mencintai dan menjaganya. Kalaupun itu berarti selamanya.

Ia menatap layar handphonenya, tiba-tiba niat isengnya muncul lagi. Cewek itu lagi ngapain yah, telpon ah, paling dia marah-marah, uda ganguin dia malem-malem.

Jack, menunggu sambil tersenyum-senyum.

“Jack…“Jack, elo sama Max?” jawab Keiko panik.

Jack cemberut, Max lagi, Max lagi. Kapan cewek ini akan berhenti memikirkan cowok lain, dan mulai memandangnya. “Engga. Telpon aja kalau emang nyari dia. Bye…”

“Tunggu, Jack…” cegah Keiko.

Ada apa lagi, jangan bilang ia mau mulai menceritakan masalah Max padanya. Tidak, Jack tidak mau mendengar bagaimana perasaan Keiko pada dongsengnya.

Tapi, Jack mendengar dirinya kembali berkata, “Ada apa lagi Kei?”

“Kenapa telpon?” tanya Keiko polos.

“Ga tauk, gw lupa!”semprot Jack panik.

“Kok marah sih? Ya udah. Gw tutup nih.” Keiko mematikan HPnya. Tapi ponselnya berbunyi lagi. Masih dari Jack.

“Kenapa?!” tanya Keiko sewot, cowok ini super nyebelin.

“Kenapa cari Max?” gantian Jack yang bertanya. Ia tidak bisa membiarkan Keiko kebingungan.

“Bukan urusan elo!” bentak Keiko geram.

“Kei, kita mau ribut terus?” Jack menyerah, ia menyerah pada cewek ini. Lebih baik ia tersiksa dan membiarkan Keiko tetap tersenyum. Muka sedih Keiko tidak pernah enak dilihat.

Keiko mengigit ujung bibirnya. Kalau dia memang ingin mengetahui keadaan Max, sebaiknya ia menahan diri untuk tidak mengajak Jack bertengkar. Ia sendiri heran, kenapa gampang sekali tersinggung dengan ucapan Jack.

“Sorry.”

“Ga apa. Jadi kenapa dengan Max?”

“Dia lagi sama Lena?” tanya Keiko hati-hati.

“Mungkin. Kita pisah habis dinner tadi. Elo uda di rumah?” tanya Jack, mengalihkan pembicaraan.

“Udah. Jadi elo ga tahu dia sama Lena atau engga.” Keiko mengulang pertanyaannya.

“Engga, gw ga tahu. Elo uda makan?” elak Jack sambil terus menanyakan keadaan Keiko.

“Uda, sama Tae tadi. Kira-kira siapa yang tahu sekarang Max ada dimana?” Keiko tetap bertanya.

“Siapa yah, Alex mungkin…? Makan apa tadi?” sahut Jack cuek.

“Kimchijjige. Jack, stop tanya-tanya masalah gw. Gw jadi bingung.” keluh Keiko merasa dipermainkan oleh pertanyaan Jack. Cowok itu seperti sengaja menolak membicarakan Max.

Jack tertawa senang. Seperti inikah perasaan Max ketika ia berbicara dengan Keiko, makanya mereka betah banget ngobrol lama-lama? Dulu ia selalu menahan diri untuk tidak berhubungan terlalu akrab dengan Keiko, membatasi obrolan mereka agar berkisar di masalah pekerjaan saja.

“Jack, serius dong. Tadi gw telpon Max, tapi si Lena yang angkat. Mereka kenapa bisa berduaan?” tanya Keiko sedikit mendesak.

Jack menghela nafasnya, kesal karena Keiko tidak berhenti memikirkan Max. Ia cemburu, “Gw ga tahu Keiko. Ntar gw coba tanyain Alex atau besok pas ketemu dia, gw tanyain ok. Apa dia sama Lena atau tidak?” ucapnya sewot.

Jack tidak bisa menjawab. Dongsaengnya itu terlalu lemah hati. Baru beberapa hari ditempelin Lena, Max sudah kleper-kleper. Tapi dia ga bisa bilang pada Keiko mengenai hal ini. Ia tidak mau ikut campur. Kalau Keiko sampai tahu mengenai hungunan Max, maka dari mulut Max juga Keiko harus mendengar penjelasannya.

“Elo belum tidur?” tanya Keiko, mengembalikan Jack dari lamunannya.

“Belum, ga bisa tidur.” Senyum kembali mengembang di wajah Jack karena Keiko berhenti membicarakan Max.

“Oooh, mikirin apa?” tanya Keiko lagi.

Mikirin kamu, gimana reaksi Keiko kalau Jack menjawab demikian. Mungkin telponnya langsung ditutup yah, jadi Jack hanya menjawab “Lagi bikin lagu.”

“Oh yah? Lagu apa?” tanya Keiko tertarik.

Pembicaraan terus berlanjut mengenai lagu yang sedang Jack buat, beralih ke show-show Keiko, lalu mereka membicarakan hal-hal lainnya. Sampai Keiko tertidur.

Jack mencari Max keesokan harinya, bagaimanapun ia tidak bisa tidak menanggapai pertanyaan Keiko kemarin. Max tidak pulang tadi malam, Jack memastikannya sendiri, karena ia menunggunya semalaman. Tapi dongsaengnya itu tetap tidak menunjukan batangnya hidung pada latihan siang mereka. Alex sampai harus berbohong kalau Max sedang sakit.

Jack bersumpah akan meninjunya kalau seandainya Max benar-benar menghabiskan malam dengan Lena. Melepaskan tanggungjawabnya pada pekerjaan dan pada saudara-saudaranya.

Max datang diantar Lena sore harinya. Jack menyambutnya dengan garang tapi sikapnya langsung berubah ketika melihat wajah murung Max.

“Ada apa?” kalimat yang sama-sama dilontarkan oleh seluruh member Fox-T ketika Max masuk. Tentu tanpa Lena, cewek itu tidak turun hanya mengantar Max pulang.

Max menonjok bantal sofa berkali-kali, “Cewek bajingan!” umpat Max mengagetkan mereka semua.

“Siapa yang bajingan?” tanya Ben bingung.

“LENA!” umpat Max garang.

Teman-temannya saling bertatapan tidak mengerti. Yang mereka tahu, Max cukup dekat dengan Lena beberapa hari terakhir. Mereka tidak mengatakan apa-apa, karena mereka pikir, Max sedang melakukan rencana pengalihan mereka. Mereka sama sekali tidak tahu kalau Max sesebal ini bersama Lena.

“Dia ngomong sama Keiko, kalau gw sama dia pacaran! Anjing!” Max kembali mengumpat. Ia kemudian bercerita, bagaimana kemarin ia dibuat mabuk oleh Lena dan diajak menginap di hotel. Ia tidak tahu apa ada yang mengenali mereka saat itu. Ia terlalu mabuk saat itu. Tadi siang saat dia bangun, Lena cerita kalau ada cewek yang menelponnya dan menyuruhnya menghubungi Jen. Sedangkan saat ia menelpon Jen, adiknya sama sekali tidak mencarinya.

“Jadi elo curiga kalau Keiko yang nelpon semalam?” tanya Ben, mengulang cerita Max.

Max mengangguk lemah. Ia tidak menceritakan semua, ia meninggalkan satu fakta kecil. Ia meniduri Lena. Saking mabuknya ia sampai berpikir kalau Lena adalah Keiko.

“Tapi Keiko ga mungkin percaya kalau elo pacaran sama Lena dong.” ucap Alex sedikit menghibur.

“Gw ga tahu. Gw belum nelpon dia. Hari ini dia ada shooting sampai malam. Dia ga pernah angkat telpon kalau lagi shooting.” Max meremas rambut dan kepalanya. Pusing. Bagaimana ia harus meluruskan masalah ini. Mudah-mudah tidak ada yang merekam saat Max masuk ke hotel dengan Lena, dengan begitu akan lebih mudah untuk menjelaskan semua ini pada Keiko.

Harapan Max menguap di udara ketika ia membaca koran terbitan sore. Fotonya dengan Lena ada di cover depan berikut dengan kesaksian beberapa orang saksi mata. Habis sudah. Ia tidak mungkin bisa memperbaiki hubungannya dengan Keiko. Semua kerena cewek serigala itu!

Keiko mendapat berita yang sama saat ia tiba di rumah. Yunna berusaha menyembunyikan koran sore  darinya. Untung Keiko lebih gesit jadi ia berhasil merebutnya. Ia sangat menyesal sudah melakukannya. Kalau ia boleh mengulang kembali waktu, ia memilih untuk tidak pernah membaca berita itu.

Ia menelpon Max. Cowok itu tidak membantah ketika Keiko menanyakan kebenaran berita tersebut. Ia bahkan terus menerus meminta maaf meski Keiko sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Keiko tidak punya kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang dirasanya saat ini. Kecewakah, sedihkah, marahkah, atau lega. Semua campur aduk, ia menyudahi telponnya dan berkata kalau ia memaafkan Max. Ia sempat menyampaikan ucapan tulus memberkati hubungan Max dengan Lena, agar dua orang itu tetap lancar.

Ia berbaring di atas kasurnya dengan mata terpejam. Tapi pikirannya terus berkelana dan tidak mau diajak bekerja sama. Yunna sedang di pesawat menuju Singapura, ada urusan bisnis mendadak, membuat Keiko kehilangan teman bicara.

Ia menatap layar ponselnya, menutupnya kembali. Lalu membukanya, begitu terus. Sampai ponsel itu berbunyi. Email dari Jack. Pikiran Keiko langsung buruk. Cowok ini pasti mengiriminya sesuatu untuk meledek keadaannya sekarang.

Kosong, hanya ada 1 attachment. Keiko mendownload dan membukanya. Lagi-lagi lagu. Kali ini, Keiko dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Karena Jack memasukan lirik yang konyol sekali. Cowok itu tidak ikut bernyanyi hanya beberapa kalimat yang dibacanya seperti puisi.

“Cewek dengan hidung mancung, kalau mendengus seperti angin ribut.

Cewek dengan mata bulat, kalau melotot, anak kecil bisa berhenti menangis dan kencing di celana.

Cewek yang bisa membanting preman, aku rasa yang jadi pacarmu pasti sial.

Hei gal, kenapa sekarang kamu menangis?

Dia kembali melotot, bagiku matanya penuh warna

Dia mengenduskan hidungnya, membuat aku ingin mencubitnya

Dia membanting preman, membuat aku ingin melindunginya

Hei gal, Kenapa kamu menangis?

Bukankah masih ada aku di sini?

Atau kamu lupa?

Minta DIJEWER YAH?”

Keiko kembali tertawa sampai perutnya sakit. Mendengus katanya, kapan juga ia pernah mendengus. Ia harus segera memarahi cowok iseng ini.

“JACK! Apa maksudnya gw mendengus?!” marah Keiko dengan nada dibuat-buat, lalu mendengus hidungnya HUH.

“Lah, sekarang juga sedang mendengus kan?” ledek Jack membuktikan ucapannya.

Keiko jadi tertawa kerena malu. Sialan nih cowok, bikin malu aja.

“Thanks.” ujar Keiko, ia tahu Jack sedang menghiburnya, walaupun caranya terbilang unik dan ngeselin. Tapi cukup sukseslah untuk membuat ia tertawa.

“Masih sedih?”

“Ga, toh itu hak dia untuk memilih. Gw sama dia kan uda ga ada status.”

“Lo yakin ga mau mukulin Max? Soalnya gw siap nyampein tinju elo. Mau berapa kali?” tawar Jack kocak.

“Hahahaha, ga nar gw bakal nonjok dia sendiri, pas dia balik nanti.”

“Ah, iyah gw lupa, Elo ka doyan gebukin orang. Kalo gitu elo harus tunggu 1 minggu lagi yah,sampai kita balik ke Korea. Ntar, gw bantu pegangin, biar dia ga bisa kabur.”

Tawa Keiko kembali meledak. Jack bisa lucu dan menyenangkan juga toh rupanya. Dia pikir cowok ini cuma bisa membuat dia kesal dan jago bikin lagu doang.

“Jack, sekali lagi thank you. Tapi engga perlu. Gw ga ada keinginan untuk mukulin dia. Gw merestui dia dengan Lena. Cewek itu lebih tangguh dari gw. Dia pasti lebih bisa ngadepin para pengemar Max. Ga kayak gw, yang melempep.”

“Gw ga setuju. Lena mungkin emang Tough, tapi elo jauh lebih baik dari dia. Elo satu-satu nya orang yang gw lihat pernah membanting preman yang menggangu musuhnya sampe sakit ga bangun 2 malem.”

“Nah, bukannya elo bilang itu tindakan bodoh. Kenapa sekarang malah muji-muji gw? Gw curiga nih…”

“Hahahhaaha, memang tindakan tolol, tapi berani. Elo emang terlalu baik. Max bloon kalau dia ampe lebih milih Lena.”

“Nah, bukannya elo juga bilang yang jadi cowok gw sial banget.”

“Sial, tapi juga cowok paling bahagia di dunia ini, bisa dapetin cewek bawel, sok berani, doyan mendengus dan punya ketawa yang menular.”

“terus, terus…. hina aja terus….”

“Hahahaha, dari belakang macho, tinginya boleh saingan sama cowok, kalau lagi marah bisa bikin gempa bumi, licik, maruk, bikin gw jatuh cinta setengah mati.”

Keiko terdiam mendengar serangan Jack begitu mendadak. Cowoko iti pasti sedang bercanda. Tidak mungkin duri dalam daging bisa berubah menjadi madu.

“Kei?” panggil Jack, tadi dia udah kelepasan mengutarakan perasaannya. Keiko pasti sedang bengong sambil ngedip-ngedipin mata atau ngangkat alisnya.” Maksudnya bikin gw pengen mati kalau emang bisa jatuh cinta sama elo. Jangan ke-GRan dong. Elo kan tahu gw doyannya sama yang toketnya gede. Ga kayak elo, rata kayak papan gilesan.”

“Dasar cowok gila! Dada gw ga serata itu kali! Udah ah, males ngobrol sama elo. Gw mau tidur.” erang Keiko menanggapi bercandaan Jack.

Telpon langsung ditutup sebelum Jack sempat membela diri. Ia juga tidak menelpon Keiko kembali.

Hening mengantikan suara ceria Keiko. Jack memejamkan matanya. Perasaan lelah merayapinya. Semakin lama semakin sulit untuk membendung perasaannya pada Keiko. Ia semakin serakah. Ia ingin memiliki Keiko sebagai kekasihnya, bukan sahabatnya.

“Dia ga pernah suka sama Max.” kata Micky yang tiba-tiba bersuara. Ia terbangun karena Jack berisik sekali.

Jack menatap Micky bingung.

“Dia ga pernah naksir sama Max, ga pernah pacaran sama dia. Jadi dia ga mungkin sakit hati denger Max sama Lena.” ulang Micky dari balik bantalnya.

Jack menatap Micky makin bingung, ia menduga sahabatnya ini pasti setengah tertidur. Jadi Jack hanya tertawa menimpali.

“Gw serius Jack. Mereka cuma belagak doang. Lebih tepatnya si Max yang bertingakah seakan-akan mereka berpacaran. Keiko naksir sama elo.” sekarang suara Micky lebih jelas, malah menggema di telinga Jack berkali-kali.

Mata Jack membelalak, temannya ini pasti mimpi aneh yang melibatkan dirinya dan Keiko, sehingga bisa berasumsi demikian.“Elo masih mimpi yah?” ledek Jack.

“Gw serius sialan! Yunna sendiri yang bilang sama gw. Keiko naksir elo.” melihat Jack hanya bengong mematung, Micky kembali masuk dalam selimutnya. Terserah deh Jack mau percaya atau tidak. Yang penting dia sudah bilang.

Advertisements

One thought on “21- The other woman

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s