22- God, help! I miss him.

4 bulan kemudian.

“Kei, lo ga mau ikut jemput?” tanya Yunna yang sedang bersiap-siap untuk menjemput Micky. Hari ini Fox-T pulang. Keiko masih bermalas-malasan di ranjangnya. Ada banyak alasan kenapa dia malas menjemput mereka. Satu, penggemar Fox-T pasti mengenalinya. Kedua, Max membawa Lena pulang. Jack sudah memastikan hal ini untuknya. Tiga, dia cape berat. Hari ini ia pergi ke lokasi Shooting MV LSG.

Tidak memberitahunya kalau tema dia adalah cewek pendekar. Hari ini dia seperti mengikuti latihan militer. Naik turun tangga, berlari kesana kemari, pura-pura berkelahi dengan banyak orang. Badannya pegal-pegal semua. Mudah-mudahan tidak ada yang harus diulang.

“Ayolah, temenin gw.” Yunna menarik tangan Keiko. Lalu mendorongnya masuk ke kamar mandi. Memilihkan dress putih dengan aksen kembang-kembang potongan halter. Keiko membeli minggu lalu, tapi sampai hari ini masih juga belum dipakainya.

Selesai mendandani Keiko, mereka berangkat. Yunna membawa mobil Land Cruiser barunya. Dengan 4000cc, kaca film gelap, nomor plat khusus dan body anti peluru, Yunna yakin tidak akan ada yang bisa menghentikannya untuk menculik Fox-T. Keiko sampai tertawa mendengar kelakar Yunna untuk menculik cowok-cowok itu. Ia juga bilang sudah meminta Micky untuk bersumpah membantunya.

Seperti yang sudah diduga, ada puluhan, mungkin juga ratusan penggemar Fox-T yang tersebar di area kedatangan Gimpo Airport. Beberapa orang mengenali Keiko, tapi mereka cukup ramah. Hanya menyapanya dan menayakan kesediaannya untuk bergabung dengan mereka menunggu Fox-T. Yunna buru-buru menyetujui. Menurut dia, lebih aman berada diantara pengemar yang mendukung Keiko dibanding berdiri berduaan dan nanti dikerjai sama fans yang lain.

Keiko berdiri di barisan pertama bersama puluhan fans. Penampilannya banyak berubah, karena rambutnya diextention panjang untuk keperluan MV kemarin. Dengan dress putih pilihan Yunna, ia terlihat lebih feminim dan lembut.

Saat Fox-T keluar, mereka mulai berteriak-teriak dan mengangkat handphone serta kamera mereka. Keiko dan Yunna berdiri di sana dengan anggun. Micky dan Ben yang keluar pertama, mereka menghampiri  Yunna dan Keiko. Lalu berjalan bersama keluar, dengan bodyguard mereka. Jack dan Alex menyusul. Lalu Max dan Lena.

Begitu pasangan terakhir keluar, fans mereka langsung mengerumuni. Mereka mulai mendesak dan mendorong. Micky dengan sigap melindungi Yunna. Keiko berjalan di antara para bodyguard jadi dia cukup aman. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Max sedang melindungi Lena.

Perasaannya sedikit tidak enak melihat kedekatan Max. Ada perasaan kehilangan tapi lebih banyak perasaan senang karena akhirnya Max bisa bersama orang yang dia sukai. Ia tersenyum pada Max dan Lena. Keiko tersandung kakinya sendiri, karena terus terdesak oleh orang-orang di sekitarnya. Jack menangkapnya dengan cepat. Keiko tidak tahu kapan cowok itu ada di sampingnya, yang pasti ia bersyukur Jack sudah menolongnya. BIsa dipastikan ia akan rata dengan tanah kalau sampai terjatuh tadi. Habis diinjaki massa.

Micky duduk di depan dengan Yunna. Max, Lena, dan Alex di tengah. Sedangkan Keiko, Jack dan Ben di belakang.

Awalnya tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya  Micky dan Yunna yang terus bertukar cerita, sambil sesekali diselak oleh Ben atau Alex.

“Kei, elo jadi cantik banget, gw sama sekali ga ngenalin kalau elo ga berdiri di samping Yunna tadi.” puji Ben.

“Gara-gara jadi model di MV-nya LSG nih. Rambut gw jadi panjang begini.” sanggah Keiko cepat.

“Sekarang jadi model MV? Pasti akting nonjok orang.” ledek Jack. Ia suka banget dengan penampilan baru Keiko. Cewek ini jadi terkesan imut. Rambut panjangnya makin mempertegas sisi kewanitaan Keiko.

Keiko memukul lengan Jack, kesal. Baru ketemu cowok ini sudah meledeknya lagi.

“Ngeledek melulu!” omel Keiko.

“Bener ga Max, Keiko jadi cantik kan?” tanya Ben, lupa kalau ada Lena di sini.

“Eh, hm yah…” ucap Max canggung. Ia tetap merasa tidak enak pada Keiko walau cewek itu sama sekali tidak keberatan dengan hubungannya berama Lena sekarang. Keiko bahkan bersedia mendengar segala keluh kesah tentang hubungannya.

Keiko duduk dengan gelisah. Ia tidak bisa melepaskan matanya dari Jack. Lama tidak berjumpa dengan cowok ini, membuat Keiko salah tingkah. Suara husky cowok terdengar lebih sexy dibanding ketika mereka berbicara melalui telpon. Sentuhan-sentuhan yang tidak sengaja mengenai Keiko membuat ia panas dingin. Keiko memalingkan mukanya ke arah jendela. Ia terus berdiam, hanya sesekali menimpali ketika ditanya. Sebisa mungkin tidak menatap cowok di sampingnya.

Jack yang duduk di samping Keiko, mengira Keiko jadi bad mood karena melihat Max sedang merangkul Lena. Ia tergerak untuk membuat Keiko tertawa. Ia tidak mau melihat cewek itu mengkerut seperti jeruk dan menempel ke kaca seperti sekarang. Dengan sengaja ia mengoda Keiko dengan menyentuh pipinya berulang kali meski Keiko terus menepis tangannya, memelototinya dengan galak atau memukul pahanya.

Bosan dengan menunjuk, ia menarik-narik rambut Keiko.

“YAH! Jack!” teriak Keiko kesal. Jack cuma tersenyum gemas, ia menekan kedua pipi Keiko dengan telapak tangannya, membuat mulut Keiko monyong. Keiko kembali memukulnya, kali ini cukup keras sampai terdengar bunyi PLAK.

“OUCH!” pekik Jack kesakitan dan melepas tangannya dari pipi Keiko. Teman-temannya menatapnya kesal kecuali Max. Dongsengnya itu tetap menatap ke depan. Jack curiga, kalau Max betul-betul sudah kepicut sama Lena sampai tidak peduli dengan Keiko.

“Nyampe-nyampe.” seru Micky, mereka mampir dulu ke restaurant seperti keinginan Ben. Katanya ia udah kangen banget pengen makan ssondegudang (sup usus babi).

Keiko melihat Max menggandeng Lena turun. Ia merasa ditusuk-tusuk. Jack membantunya keluar dari mobil. Ia menahan Jack di luar untuk mengajaknya berbicara.

“Gw ga pengen masuk.” ujarnya pada Jack.

“Lo ga laper?” Keiko mengeleng.

“Perasaan gw ga enak.”

“Sakit?” Jack meletakan tangannya di kening Keiko, membandingkannya dengan tubuhnya. Suhunya normal, sepertinya. “Ga enak sama dia? tanya Jack melihat Keiko terus memandangi Max. Cowok itu sedang menarik kursi untuk Lena. “Ga usa peduliin lah. Ada gw kan?” tanya Jack meyakinkan Keiko, lalu ia merngkuh pundak Keiko dan mendekatkan pada dirinya. Cewek itu masih manyun.

Teman-temannya sudah memesankan makanan untuk mereka. Keiko duduk di antara Max dan Jack. Posisi paling buruk. Max sama sekali tidak melihat padanya, hanya terus mengurus Lena. Sedangkan Jack, asyik bercanda dengan Micky. Keiko mengaduk-aduk supnya yang sama sekali belum berkurang.

Ia pamit ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Siapa sangka Lena menyusulnya ke dalam dan mengajaknya berbicara. “You are Keiko right? Gw udah sampein pesen elo dulu.”

Pesan yang mana? Oh, mungkin maksudnya mengenai pesan Jen, karangannya? “Thank you.” sahut Keiko dengan bahasa Inggris juga.

“Bahasa Inggris elo bagus. Pernah sekolah di luar?”

“Sampai umur 10 tahun, gw di San Fransisco.”

“Ooh, gw pernah ke sana. Udaranya enak yah.”

Lalu mereka terdiam. Keiko memperhatikan Lena yang sedang membubuhkan lipstik dan parfum. Segalanya mengenai Lena begitu terlihat glamour. Cewek itu bisa memakai high heels, celana paladine, dan make up lengkap naik pesawat. Dibandingkan dengan Keiko yang hanya mengunakan lipgloss dan dress simple. Tipe mereka terlalu jauh berbeda, ia jadi bingung, bagaimana Max bisa naksir padanya kalau selera dia dulu seperti cewek ini. Tapi Lena tidak menyebalkan, mungkin mereka bisa berteman.

“Mau?” Lena menawarkan parfumnya. Keiko menolak dengan sopan. Memakai parfum saat makan ssondegubdang, cuma akan membuat pusing kepalanya mencium baunya.

Keiko keluar bersama Lena, cewek itu mengelayutkan lengannya pada Keiko, seaakan-akan mereka sahabat akrab dan bukannya baru bertemu. Ia bisa melihat tatapan aneh Yunna dan Jack juga Max.

Lena kembali ke kursinya sedangkan Keiko berjalan lorong belakang yang mengarah ke ruang VIP untuk mengangkat telpon. LSG membertitahunya kalau hasil shooting mereka cukup baik, jadi tidak ada yang perlu diulang. Dia mengucapkan terimakasih pada Keiko dan mengatakan kalau akan mentransfer komisi Keiko.

“Kei…” panggil Max yang membuat Keiko melompat sedikit.

“Soal Lena…”

Keiko memotong Max, “Gw tahu, elo CLBK sama dia kan?”

Max tersipu, ia mengakui kalau hanya sesaat ia kesal dengan kehadiran Lena dan hanya sesaat ia merasa ersalah pada Keiko, tapi selebihnya, ia merasa menemukan belahan jiwanya kembali saat bersama Lena.

“Max…” panggil Lena, “Balik yuk. Aku ngantuk.” Lena menarik lengan Max dan mengandengnya keluar.

Keiko memegang dadanya. Jantungnya seperti mau copot saat mendengar suara Lena tadi. Tidak enak kalu Lena sampai mencurigai hubungan mereka. Padahal sekarang ini semua udah jelas. Max dengan Lena, dan ia dengan… Keiko menarik nafasnya, dadanya terasa sesak dan sulit bernafas. Seperti ada batu besar menganjal di tenggorokannya

“Kei?” kali ini Yunna yang datang. Keiko memeluk sahabatnya. Airmatanya turun juga setelah satu minggu ini entah bersembunyi dimana. Yunna mengelus-elus punggungnya, memeluknya lebih erat.

“Udahah Kei, keadaannya udah begini, bisa apa lagi.” hibur Yunna. “Masih banyak ikan di lautan. Ngapain mikirin ikan makarel kayak dia.” Isakan Keiko berhenti dan berganti dengan derai tawanya. Yunna bener-bener konyol, Max yang gede begitu disamakan dengan ikan makarel. Sahabatnya ini juga salah mengira ia sedang menangis karena Max, padahal ia mengangis karena cowok lain.

“That’s my baby. Udah jangan nangis. Elo bikin baju gw basah nih.” Yunna pura-pura mengelap pundaknya yang tadi disandari Keiko. Keiko mengelap idungnya dan memeperkan pada pipi Yunna.

“YA! LEE KEIKO! Dasar jorok!” Teriak Yunna sambil mengejar sahabatnya itu keluar.

“Mana yang lain?” tanya Yunna ketika ia hanya melihat Micky dan Jack di sana.

“Lena minta pulang. Jadi Ben sama Alex nemenin mereka.” jawab Micky. Tadi mobil Fox-T memang tetap mengekori mereka.

“Lap pake ini.” Jack menyerahkan tissue pada Yunna yang bajunya sedikit basah di pundak. Ia tebak itu pasti karena airmata Keiko. Biarpun cewek itu keluar dengan tertawa, tapi mata dan hidungnya yang merah masih bersisa. Ketahuan banget kalau dia habis menangis. Ia menyesal tidak menghentikan Max tadi. Padahal ia tahu temannya itu pasti akan menyusul Keiko.

Micky dan Jack berencana untuk menginap di tempat cewk-cewek itu malam ini. Micky masih kangen berat sama Yunna. Begitu tiba di rumah, dua orang itu tidakkeluar-keluar dari kamar. Meninggalkan Jack dengan Keiko.

“Max tadi ngomong apa sama elo?” tanya Jack. Ia membantu Keiko mencuci jeruk dan apel.

“Dia bilang, dia pacaran sama Lena.”

“Dan elo nangis gara-gara itu?” suara Jack sedikit melengking.

“Bukan gara-gara dia.”

Jack meremas apel yang dipegangnya, kesal karena Keiko terus membela Max.

“Kenapa sih, elo belain dia melulu? Sadar ga kalau dia udah nyeleweng, khianatin elo!” ucap Jack sewot.

“Ga kok. Max bukan pacar gw, jadi dia ga bisa dibilang nyeleweng dong.”

Tidak pacaran? Kok sama kayak yang Micky ngomong?

“Tetep aja, biarpun elo orang ga ada status. Kalian saling suka kan?” pancing Jack.

Keiko menurunkan pisau yang digunakannya untuk memotong jeruk. Ia lalu memandang Jack. Bimbang, haruskah ia menyatakan perasaannya sekarang? “Engga.” jawab Keiko singkat. Tidak untuk jawaban Jack dan tidak juga untuk pertanyaanya pada dirinya tadi.

“Gw ga ngerti, kalo elo ga suka sama dia, kenapa elo nangis tadi?” desak Jack.

“Karena cowok yang gw suka, sama sekali ga mandeng gw.” Suara Keiko mengecil, tapi Jack masih bisa mendengarnya dengan jelas. Kalau bukan Max apa BaeWon? Tadi Keiko pergi karena dia harus menerima telpon, apa BaeWon yang menelponnya.

“Elo masih suka sama ipar lo?” ujar Jack pahit.

“Gimana elo tahu? Dari Max?” tanya Keiko terkejut. Dia tidak pernah menceritakan masalah BaeWon pada siapa-siapa kecuali Yunna dan Max.

“Bener elo masih suka sama ipar lo?” Jack sedikit kecewa.

“Engga bukan dia.” Keiko membetulkan.

Bukan BaeWon, apa ada cowok lain yang dekat dengan Keiko selain BaeWon, Max dan dirinya? Dirinya? Jack mengulang pertanyaan itu lagi.

“OUUCH..” pekik Keiko, ia mengiris jarinya karena kurang hati-hati. Mengupas buah dengan pikiran melayang ke tempat lain memang berbahaya.

Jack buru-buru menggenggam jari Keiko yang terluka dan menyedot darah yang keluar dari sana.

Keiko terkejut diperlakukan seperti itu oleh Jack. Ia menarik tangannya dari mulut Jack, sebelum kepalanya meledak saking panasnya. Kejadian berikutnya, membuat Keiko lupa caranya bernafas.

Jack mencium bibir Keiko. Lembut dan panjang. Keiko mendorong Jack menjauh, “Elo..” protes Keiko tapi hanya itu. Karena berikutnya Jack kembali menciumnya. Kali ini lebih mendesak. Menyodotnya dala kebahagiaan. Keiko membalas ciuman Jack dan mengimbangi gerakannya. Keiko hampir pingsan karena ia sama sekali lupa mengambil nafasnya. Untuk Jack sudah memeluknya. Ia melepaskan bibirnya dari Keiko sejenak untuk berkata, “Saranghae.”

Mereka kembali berciuman dan baru berhenti ketika mereka menangkap ada dua pasang mata sedang menatap mereka sambil tertawa cekikikan. Membuat Keiko malu bukan main, ia menarik dirinya menjauh dari Jack. Cowok itu tidak mengijinkannya. Ia memeluk Keiko dari belakang dan mencium tengguknya. “She’s mine now.” ucap Jack yang membuat muka Keiko semakin merah.

Advertisements

2 thoughts on “22- God, help! I miss him.

  1. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

  2. Pingback: Links for Life Realm (1st novel) « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s