Chapter 8 – Ini Pesta atau Musibah?

Kenapa sih, gw selalu terlibat dalam situasi yang memusingkan terus – Micky

Senyuman Yunna langsung pudar begitu pintu tertutup di belakang mereka. Ia menangkap sosok seseorang yang paling ingin dihindarinya. Buru-buru dilepaskannya genggaman Micky dan berjalan berdampingan. Membiarkan Micky mengiringinya, atau mengekorinya mungkin lebih tepat. Menyapa beberapa kenalannya dan kenalan ayahnya. Berbincang-bincang dengan mereka, tanpa memperkenalkan Micky sedikitpun. Memperlakukan laki-laki itu tidak ubahnya seorang pengawal.

“Wah, Han Yunna-san, apa kabar…?” sapa Duta besar Jepang dan istrinya. Yunna memberi hormat, beramah tamah sejenak lalu kembali berjalan.

“Selamat siang Han Yunna-ssi, bagaimana kabar ayah anda?” sapa Mentri Kebudayaan Korea yang juga teman main golf ayahnya.

“Baik-baik, semua berkat doa anda. Ayah juga menanyakan, kapan bisa bermain golf lagi? Bagaimana kabar cucu anda?” sapa Yunna.

“Sehat. Neneknya sampai kewalahan menjaga cucu nakal itu.” ucap sang Mentri bangga.

Acara ramah tamah berlangsung, selama beberapa waktu ke depan. Ia memang sengaja menyibukan diri agar bisa terus menghindari nenek sihir itu. Ia yakin si nenek tidak akan menghampirinya jika ia sedang berbicang-bicang dengan tamu undangan lainnya. Seluruh orang di sana sudah disapanya, tidak ada yang bersisa kecuali nenek sihir tadi.

Yunna berdiri resah di sudut ruangan. Micky mendampinginya dengan baik. Sampai-sampai ia merasa kalau Big yang berada bersamanya saat ini bukan laki-laki itu.

“Kamu hebat sekali. Bagaimana caranya menghafal begitu keluarga atau hoby dari begitu banyak orang?” kagum Micky.

“Kalau kamu menghadiri 10 pesta per minggu selama 4 tahun tanpa absen, dengan sendiri kamu mengingat siapa, apa dan bagaimana.” ujar Yunna malas. Ia tidak berbohong, karena sepadat itulah jadwalnya, sejak ia membantu ayahnya bekerja.

“10 pesta per minggu? Aku ga bisa bayangin.”

“Aku minta maaf karena tidak memperkenalkan kamu pada mereka.”

“Hei, don’t worry. Aku juga tidak akan mengingat siapa mereka besok. Jadi tidak perlu repot-repot. Aku hanya mendampingi kamu di sini. Anggap saja aku ini Big, ok.” Micky kembali menyeringai. Ia memang tidak keberatan atas perubahan sikap Yunna. Malah ia cukup mengerti betapa beratnya tanggung jawab yang diemban cewek ini. Wajar jika Yunna tidak ingin terlihat lemah di antara orang-orang ini. Mereka begitu superior dan menganggap rendah orang lain.

“Apa Big mengambilkan minum untukmu di saat seperti ini?” tanya Micky, ia tidak tahu apakah dia boleh melakukan hal tersebut dan meninggalkan Yunna sendirian. Bodyguardnya tidak pernah ikut hadir di acara resmi seperti ini. Jadi dia tidak bisa menebak apa yang pantas dan tidak untuk dilakukan.

“Yah, saat aku tidak disertai pendamping. Big akan mengambilkan minuman untukku.” jawab Yunna disertai tawa renyah.

Micky senang karena usahanya cukup berhasil membuat Yunna lebih rileks. Ia pamit untuk mengambilkan minuman untuknya dan Yunna. Tapi segera dihentikannya.

“Tidak perlu, sebentar lagi pramusaji akan menghampiri kita dan menawarkan mi…num.”

Ia ikut melirik, mengikuti arah pandang Yunna. Siapa yang dilihat Yunna, sampai wajahnya berubah tegang seperti itu?

“Ada apa Yunna?” tanya Micky bingung, ia tidak tahu siapa yang dilihat Yunna. Apa ibu-ibu dengan hanbuk atau kakek-kakek yang sedang tertawa terbahak-bahak sampai perut tambunnya bergerak naik-turun.

“Oh shoot. Nenek sihir itu sudah menyeberangi setengah ruangan. Jangan berbicara apa-apa atau menjawab omongan dia. Biar aku yang urus.” perintah Yunna sambil berbisik. Micky mengangguk bingung.

“Apa kabar sayang?” sapa Baek Ji Yung, duta besar Korea sekaligus tante Yunna. Orang paling menyebalkan dan suka ikut campur yang pernah dia kenal.

Tapi demi menjaga sopan santun, ia tetap tersenyum dan menyambut ciuman kiri kanan yang dilempar tantenya itu. Yunna heran, kenapa tantenya ini tidak pernah terlihat tua, mungkin gosip bahwa nenek ini menyuntikkan botox 3 kali dalam sebulan betul. Sayang tidak ada yang pernah berani membuktikan kebenarannya.

“Baik. Tante. Bagaimana dengan tante? Bagaimana kabar HyeYoen?” tanya Yunna basa basi. Hye Yeon anak nenek sihir ini, harus selalu ditanyakan kalau tidak ingin mendengar sang nenek sihir meracau.

“Baik, itu dia ada di sana.” Yunna mengikuti telunjuk Baek Ji Yung yang mengarah pada seorang gadis cantik dengan kimono berwana merah anggur dan di kelilingi oleh banyak pria. Ia tersenyum, sebentar lagi nenek ini pasti akan mulai membandingkan dirinya dengan anaknya. 1, 2, …

“Hooohooo, sepertinya undangan pernikahan Hyeyoen akan tiba lebih dulu, melihat betapa populernya ia saat ini. Ah, maafkan saya. Anda datang dengan pendamping yah. Saya pikir dia pengawalmu yang lain.” ralat si tante, begitu menyadari kehadiaran Micky.

Yunna hanya membalas sindiran tantenya itu dengan tersenyum sopan. Dia ingin membela Micky, tapi cowok di sampingnya ini pasti akan besar kepala nanti kalau mendengar ia memuji-mujinya.

“Mama…” panggil HyeYoen, ia mencium pipi mamanya. Salam yang sama persis seperti yang dilakukan oleh mamanya tercinta tadi. Kedatangan HyeYoen membuat Yunna terkejut, karena ia tidak melihat kapan sepupunya itu datang. Seperti biasa, sepupunya tidak pernah membuang waktu untuk berkenalan dengan pasangan-pasangan Yunna. Bahkan kali ini HyeYoen tidak repot-repot memberi salam padanya terlebih dahulu.

“Anda Micky. Micky dari Fox-T kan?” tanya HyeYoen sok akrab, dan suara yang membuat kuping Yunna berdengung. Ia melirik pada Micky, cowok itu hanya tersenyum dan mengangguk.

“Kamu kenal dengan dia?” tanya Baek Ji Yoeng mengerutkan dahinya. Sepertinya tante ini betul-betul tidak tahu siapa Micky. Wajar sih mengingat bagaimana tantenya itu memandang rendah profesi penyanyi dan artis. Mana mungkin dia membaca majalah gosip atau menonton acara musik di TV. Walaupun reputasi Fox-T sangat mengaggumkan.

“Oh, mama, aku penggemar berat Micky. Mama tahu Fox-T kan, dia terkenal sekali lho. Bahkan sampai ke Amerika.” ucap HyeYoen sarat kekaguman.

Yunna yakin tantenya itu pasti merasa ditampar bolak balik, karena ia melihat nenek sihir itu memelototi anaknya tajam. Mungkin maksudnya ingin membungkam mulut HyeYoen. Tapi sepupunya itukan tidak punya urat malu. Ia malah melingkarkan lengannya ke lengan Micky, mengeluarkan kamera dan melakukan selca untuknya dengan Micky.

Yunna yakin ia melihat asap keluar dari kepala tantenya itu. Mau tidak mau Yunna tersenyum senang. Ternyata cowok ini ada gunanya juga. Ia ingin sekali merebut camera HyeYoen untuk memotret wajah tantenya yang berubah menjadi ungu saking geramnya. Foto itu akan diperbesar sampai ukuran A5 dan dipajang di kamar mandinya. Supaya ia bisa tertawa terbahak-bahak dan mengenang hari ini.

Sepupunya ini memang paling bisa diandalkan, karena berikutnya, HyeYoen menarik mamanya dan Yunna untuk ikut berfoto dengan Micky. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali dan berbagai pose. Senyum Yunna makin lebar. Ini benar-benar kemenangan sempurna. Tidak lupa ia meminta HyeYoen mengirimkan hasil jepretannya itu.

HyeYoen terus menempel pada Micky, mengacuhkan cowok-cowok yang tadi mengerubuninya. Membuat senyum Yunna makin lebar karena kali ini wajah tantenya sudah hitam legam.

“Selamat siang. Baek Ji Young-nim, Han Yunna-ssi, Baek HyeYoen-ssi.” ucap pria Jepang tampan dengan bahasa Korea yang kaku. “Ah, Selamat siang juga Micky-ssi.” tambah pria itu ketika melihat Micky. Tante, sepupu dan Micky membalas salamnya dengan sopan.

“Selamat Siang. Eiji-san. Apa kabarnya?” sapa Yunna ramah pada teman abangnya ini.

“Luar biasa. Saya baru saja kembali dari Capetown.”

“Capetown? Capetown itu dimana sih? Ada apa di sana?” tanya HyeYoen polos.

Ia dan Micky harus menahan diri untuk tidak tertawa. Takut membangunkan sang nenek sihir. Nanti mereka malah akan dikutuk menjadi kodok kalau sampai mentertawakan anak semata wayangnya.

“Capetown, Afrika Selatan. Saya pergi untuk berburu rusa sebelum musim berburu ditutup tahun ini.” ujar Eiji memberi penjelasan.

“Berburu? Kamu masih sering berburu? Kenapa tidak mengajak saya, Ei-pi…” selak Yunna. Ei-pi adalah panggilan yang dia dan abangnya berikan untuk Eiji.

“Rencana dadakan. Tapi jangan khawatir, aku membawakan kepala raindeer yang sudah diawetkan untuk kamu. Kamu mau lihat?” tanya Eiji sambil mengedipkan matanya centil.

“Tentu saja.” angguk Yunna antusias. Senang sekali kalau Eiji memang betul-betul membawakan kepala kijang yang sudah diawetkan untuknya. Itu akan menjadi hiasan sempurna untuk ruang tamunya. Tapi rusa yang disebutkan Eiji tadi adalah sandi yang berarti suspect, tersangka.

“Anda tidak mengatakan kalau anda membawa bangkai ke sini kan?” tanya nenek sihir panik.

“Saya meninggalkannya di luar di dalam kotak.” jawab Keita polos.

“Ayoo ayooo, bawa aku ke sana, aku mau lihat.” sosor Yunna tidak sabar, lalu merangkul lengan Eiji dan berjalan menuju pintu keluar.

“Anda mau kemana?” susul Micky, menghentikan langkah Yunna dan Eiji.

Ia lupa kalau saat ini Micky yang mendampinginya bukan Big. Ia tidak mungkin membawa Micky ikut serta dengannya. Micky adalah orang luar. Sedangkan informasi yang dibawa oleh Eiji sangat confidential, rahasia. MEnyangkut perusahaanya, abangnya dan ayahnya. Tidak boleh sampai tersebar keluar. Saat bingung seperti itu, HyeYoen datang.

“Tidak apa. Micky biar saya temani di sini. Onni pergi saja dengan Eiji-san.” potong HyeYoen. Membuat Yunna memandang mereka kaku. Ia tidak suka Micky berlama-lama dengan HyeYoen. Kalau tadi ia senang sepupunya menempel akrab pada Micky, itu murni untuk memanas-manasi tantenya. Tapi sekarang? Sepupunya inikan rubah cilik, bagaimana kalau Micky tergoda padanya? Tapi lagi-lagi ia tidak sempat meresponi, Eiji sudah menyelaknya.

“Kalau begitu, saya pinjam pasangan anda sebentar.” Eiji langsung menarik Yunna, tanpa menunggu jawaban Micky.

“Ei-Pi, tunggu sebentar.” ucap Yunna, menghentikan langkahnya.

Ia berbalik dan berbisik di kuping Micky, meminta cowok itu mengunggunya. “Please…” pinta Yunna sungguh-sungguh lalu kembali ke menyusul Eiji.

Eiji memboyongnya ke sudut terpencil yang jauh dari pandangan orang. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Eiji di sini. Walau Eiji memang selalu muncul tiba-tiba tapi tidak pernah di tempat umum seperti ini. Masalahnya pasti serius sekali

“Jadi ada informasi apa?” tanya Yunna.

“Tidak ada, aku hanya rindu sekali padamu.” ucap Eiji kembali dengan bahasa Koreanya yang pas-pasan. Sambil memberi isyarat kalau ada orang yang memperhatikan mereka di belakang Yunna.

Yunna tertawa menanggapi sandiwara Eiji, Sikap curiga Eiji lebih parah daripada Big. Selalu berhati-hati dalam bertindak. Mungkin karena itu juga keluarganya sangat percaya pada Eiji.

“Sebesar apa rindumu, Ei-pi?” mengikuti sandiwara Eiji, arti sesungguhnya dari pertanyaan Yunna adalah seberapa besar masalah yang mereka hadapi.

“Besar sekali sampai aku ingin membunuh laki-laki yang ada di sampingmu tadi.” ucap Eiji serius. Atau dengan kata lain, masalah mereka menyangkut hidup dan matinya seseorang.

“Oh yah? Memangnya apa kesalahan dia?”

“Oh, cowok itu kurang ajar sekali. Berani mendekati kamu. Untung aku datang. Nanti papa kamu marah lho, melihat kamu dengan cowok lain.” ucap Eiji canggung. Bahasa Koreanya kacau sekali. Tapi ia mengerti. Kalau Eiji mendapat masalah yang ia selidki menyangkut perusahaannya dan papanya. Mendadak ia merasa tegang dan terlalu bersemangat hingga tubuhnya gemetar hebat. Sudah lama sekali tidak ada hal membuat ia tertantang seperti ini. Kira-kira apa yang ditemukan Eiji?

“Aku beliin ini untuk kamu.” Eiji memberikan kotak perhiasan berisi kalung.

“Terima kasih. Cantik sekali.”

Ia membiarkan Eiji memakaikan kalung itu padanya. Karena rantainya cukup panjang, jadi tersembunyi dengan aman di balik kimononya yang berlapis-lapis. Kalung yang diberikan Eiji bukan kalung biasa tapi sebuah flask disk.

Selesai berpamitan dengan Eiji, ia kembali ke dalam ruangan. Acara sudah dimulai dan lampu sudah dipadamkan. IA mencari tempat duduknya dengan bantuan sang usher. Tidak ada Micky di sana. Kursi di sampingnya kosong. Ia sempat melongo ke kiri dan kanan untuk mencarinya tapi karena terlalu gelap. Yunna tidak berhasil melihat apa-apa. Ia mengigit bibirnya gugup. Pikirannya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk.

Jangan-jangan betul, Micky pergi dengan HyeYoen? Seharusnya dia tahu, tidak mungkin ada cowok yang menolak pesona sepupunya itu. Kenapa ia bisa berpikir kalau Micky berbeda dari cowok-cowok lainnya?

Ia menonton pemutaran film kolosal hingga selesai. Seburuk apapun perasaannya saat ini. Ia harus tetap berada di sana, menunaikan tanggung jawabnya. Ia tidak mengijinkan dirinya melakukan kesalahan, apalagi jika kesalahan tersebut dapat disangkut pautkan dengan nama keluarga.

Host naik ke atas panggung. Menjelaskan bahwa acara selanjutnya, akan disuguhkan oleh Hyoyeon akan memainkan sebuah sonet dengan alat musik tradiosional Korea yang berbentuk seperti gitar dengan 3 senar. Ia tidak merasa kaget, karena sepupunya itu memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya. Yang membuatnya terkejut. Mickyikut  keluar mengikuti HyeYoen dan duduk di bangku piano.

Micky mengiringi HyeYoen dengan  sempurna. Mengundang decak kagum orang-orang yang hadir. Beberapa orang malah berdiri dan bertepuk tangan. Yunna mencibir, tantenya pasti senang sekarang. Ia bisa membayangkan cerita anaknya berduet dengan Micky akan menjadi perbincangan sampai tahun depan. Sampai ada berita heboh lainnya. Tapi yang membuat suasana hatinya lebih buruk adalah kesediaan Micky untuk mengiringi HyeYoen. Ia yakin dengan pasti kalau Micky sudah terpesona oleh HyeYoen.

Ia ikut bertepuk tangan ketika penampilan mereka selesai. Menepis rasa cemburunya ketika HyeYoen mengecup pipi Micky. Kenapa sih dia cemburu seperti ini? Bukannya Micky hanya sebuah permainan? Laki-laki lain yang hanya numpang lewat dalam hidupnya?

Tapi begitu Micky turun dari panggung, ia langsung menyeretnya keluar. Memintanya mengambil mobil. Ia tidak memperhatikan kalau wajah Micky ditekuk empat. Sampai cowok itu mengajaknya bicara di dalam mobil.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 8 – Ini Pesta atau Musibah?

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s