Chapter 1 – FOX-T

Micky menatap layar komputernya kesal, menunggu koneksi internet yang berjalan super lambat. Padahal hari ini ia sudah berjanji untuk berbicara dengan adiknya yang ada di Amerika. Digertakkan giginya seiring rasa kesal yang semakin menumpuk. Hari ini jadwalnya acara sudah sengaja dikosongkan khusus untuk online dengan adiknya, Ricky. Bahkan ia sudah menolak ajakan Jack,, sahabat terdekatnya, soulmate.

-nya, untuk pergi karaoke. Sepuluh menit berlalu, masih belum tersambung juga. Micky menyamber ponsel yang sedang dicharge dan mengetik dengan penuh emosi pada adiknya, membatalkan pertemuaan mereka.

Ia mengintip sedikit ke luar jendela. Tidak hujan juga tidak bisa dibilang terik. Sepertinya musim semi benar-benar sudah berlalu. Tiba-tiba perasaannya makin memburuk. Ia tidak suka musim panas, karena artinya akan ada banyak kegiatan di luar ruangan. Micky tidak suka matahari, keringat dan panas. Karena semua itu membuat penampilannya jadi awut-awutan, belum lagi rambutnya menjadi lepek dan membuat dahinya yang cukup lebar terekspos.

Ia kembali mengerang, bukan karena ia malu dengan luasnya jidatnya itu. Tapi karena ia jadi membandingkan penampilannya dengan teman-teman Fox-T. Grup band tempat ia tumbuh dan berkembang sejak menekuni dunia musik secara serius.

Ia menatap pantulan bayangannya di layar komputer. Ia tidak pernah diharuskan memiliki tubuh berotot seperti Jack atau Max. Ia juga tidak terobsesi untuk menguasi gerakan tari yang akrobatik, ia cukup bisa melakukan gerakan seperlunya. Walau ia iri dengan suara Ben yang selalu stabil ketika bernyanyi. Ia cukup puas dengan sense of musik yang dimilikinya. Ia tidak memerlukan waktu berjam-jam untuk menghafal sebuah lagu. Ia bisa dengan cepat melakukan improvisasi nada atau menciptakan harmonisasi baru.

Micky kembali ke Korea 7 tahun yang lalu, saat menerima kontrak dari agency mereka. Meninggalkan ibu dan adiknya di Amerika. Keputusan yang terus menerus disesalinya karena hidupnya tidak pernah sama tanpa kehadiran keluarganya. Tapi berkat dukungan teman-temannya ini juga ia berhasil menyelesaikan masa training dan bertahan di dunia entertainment.

Selama tumbuh dewasa bersama Fox-T, Micky jadi makin mengerti banyak hal mengenai Korea dan bagaimana menjaga keharmonisan dalam grup. Terlebih lagi jika masing-masing personel memiliki karakter yang berbeda-beda. Seperti Jack, yang paling tua diantara mereka, bertindak sebagai pengurus rumah dan koki. Perawakannya sangat cantik – ini menurut fans mereka, walau dengan berat hati disetujui juga oleh Micky. Tapi karena ia mengenal Jack sampai jumlah tahi lalat yang dimiliki Jack, penampilan Jack tidak lagi membuat ia canggung. Malah makin kenal makin merasa kalau Jack itu malu-maluin.

Cowok itu sanggup melakukan segala tindakan aneh dan eksentrik seperti mengumpulkan foto dirinya dan teman-temannya dalam posisi yang memalukan. Kalau itu masih belum cukup aneh, Jack bahkan sering tidur dengan mimik mengerang. Bukan mengerang biasa, tapi seperti orang yang kesakitan kaerna kakinya tertimpa durian.

Lain lagi dengan Ben yang sering dikaitkan dengan karisma, tapi entah kenapa orang malah menilai dia imut, belum lagi Ben sering membuat lelucon tidak jelas dimana letak kelucuannya. Ben juga tidak malu-malu menunjuk pantatnya yang bulat sebagai sumber kekuatannya serta menamainya duck-butt

. Micky tidak habis pikir darimana asal kepercayaan diri berlebih milik Ben itu. Walaupun bukannya tidak mendasar, tapi tetap saja, aneh mendengar seseorang memuji-muji dirinya sendiri. Ia cukup dekat dengan Ben, mereka seumuran dan ia merasa cukup aman untuk bertukar pikiran mengenai keluarga, cinta dan sebagianya. Terutama pekerjaan. Ia banyak belajar dari Ben untuk urusan musikalitas.

Alex sang leader tentu harus berwibawa, mengatur ini dan itu, bertanggung jawab dan sebagainya. Dia juga dancer paling canggih diantara mereka, kalian harus melihat dia meniru Micheal Jackson. Super mirip. Tapi yang paling Micky hargai dari leadernya itu adalah rasa kesetiakawanannya yang tinggi. Alex masih tetap menjaga hubungannya dengan teman-temannya dari sebelum debut sampai sekarang.

Max yang paling kecil diantara mereka, tapi paling gahar dan sama sekali tidak imut. Ia lebih terkenal sebagai si tukang makan, si Powerful or Lord Vodermoth – musuh Harry Potter yang menakutkan dan licik. Seorang cowok yang all out dalam segala hal yang dia lakukan. Our secret protector. Dia sering diremehkan karena paling muda diantara mereka. Tapi orang yang dekat dengan Max pasti tahu kalau dia bisa diandalkan dan cukup kuat untuk menanggung masalah.

Sedangkan Micky sendiri, ia cukup bangga karena dikenal sebagai Mr. Gentlemen. Ia tahu bagaimana melakukan fan-services dengan baik. Menghargai setiap pemberian mereka, membalas beberapa surat mereka melalui minihompynya (web-blog). Tapi alasan paling kuat, mungkin karena gosip yang beredar mengenai dia dan mantan-mantannya atau pengakuan para wanita yang pernah dekat dengannya.

Jangan salah, semua personil Fox-T adalah penakluk wanita, terlepas bagaimana mereka memperlakukan wanita-wanita tersebut. Micky tidak perlu membahas berapa banyak pacar-pacarnya tapi teman-temannya itu yakin kalau dia memiliki daftar terpanjang. Tentu saja ia sudah sering membantah hal tersebut, tapi karena sepertinya sia-sia. Ia memilih membiarkan saja semua gosip itu berlalu.

Alasan resmi atas semua permainan cintanya, sangat gombal. Ia merasa paling produktif selama memiliki cinta yang berbunga-bunga dan pasca percintaan itu sendiri. Tepat, saat dia patah hati. Ia menguasai beberapa alat musik tapi piano yang paling dicintainya. Menurutnya dentingan piano lebih bisa menyuarakan perasaannya dibanding alat musik lainnya.

Alasan lainnya sering bergonta-ganti pasangan amat klise, ia hanya belum bertemu dengan orang yang tepat. Tapi kalau dia boleh lebih jujur semua itu karena ia terlalu cepat bosan ketika berhubungan terlalu lama dengan wanita yang sama. Lalu ia juga terlalu sibuk dengan segala kegiatannya untuk mencari uang. Cita-cita dia, terakhir kali ia cek, masih sama, membahagiakan orang tua dan keluarganya. Membalas budi tantenya yang dulu sudah membantu menyambung hidupnya sekeluarga.

Micky tersenyum lega jika mengingat kalau cita-citanya hampir terwujud. Setelah bekerja keras selama 6 tahun ini, ia mempunyai cukup tabungan untuk membeli rumah, mobil dan membuka usaha untuk ibunya.

Beberapa waktu yang lalu ia menemukan rumah 2,5 lantai dengan 4 kamar tidur dan kamar mandi pribadi. Ruang tamu yang cukup lapang. Plus Attic yang pas sekali untuk dijadikan sebagai ruang composernya. Ia membeli rumah ini dengan cicilan, terlalu mubazir jika harus mengeluarkan uang hampir 2 milyar hanya untuk rumah sedangkan ia masih bisa melakukan investasi dengan return yang lebih tinggi dari bunga pinjamannya.

Ia tahu dengan pasti kehidupannya sebagai artis tidak bisa berlangsung selamanya. Suatu saat ia akan menjadi tua dan tidak menarik lagi. Ia tidak akan berhenti berkarier, musik sudah menjadi nafasnya. Mungkin dia akan menjadi composer. Tapi sebelum masa itu tiba, ia harus menyiapkan diri dan merencanakan masa depannya dengan seksama.

Menyerah pada koneksi internet yang ngadat. Micky mematikan komputernya. Lalu menelpon Jack, berkata akan menyusulnya dimanapun teman-temannya itu berada.

“Dimana Jack?” tanya Micky begitu mendengar kata Hallo dari Jack.

“RedBox. Semua sudah di sini, mau menyusul?” jawab Jack diantara suara dentuman dan teriakan Alex. Micky yakin leadernya itu kembali mencoba lagu rock yang sangat tidak ‘Alex’.

“Iyah deh, aku ke sana sekarang. Bosen juga di rumah.”

“Okay, Room biasa yah.”

Tepat sebelum ia mengunci pintu apartmentnya, telepon rumahnya berdering. Micky terpaksa masuk kembali. Max menelpon, memintanya untuk membawakan laptop Jack. Entah apa yang sedang direncanakan oleh sahabatnya itu sampai memerlukan laptop di tempat karaoke. Jangan-jangan Jack sedang dapat ilham baru. Dulu Micky yang mengajari Jack bermain piano, ia juga yang mengajarinya cara membuat sebuah lagu. Tapi sekarang malah gantian Jack yang mengajarinya mengeksplorasi arrangement.

Iseng, Micky membuka laptop Jack untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Jack. Tapi, ada password yang harus ia masukan terlebih dahulu. Dimasukannya beberapa kata yang kira-kira dipakai Jack sebagai sandi. Seperti tanggal lahir, nama mantan Jack yang terakhir, nama ibunya, nama kedelapan kakak perempuannya, bahkan namanya sendiripun dicoba. Tidak ada satupun yang benar. Micky menutup kembali laptopnya, menyerah.

Sepertinya ia tidak pandai jika sudah berhubungan dengan elektronik.

Keluar apartment dan masuk ke dalam mobil Porshe miliknya. Ini mobil pribadinya, bukan yang berikan oleh perusahaan. Terus terang mobil ini cukup mencolok. Tapi sebagai artis bukannya mendapat perhatian dan publikasi adalah suatu pengakuan?

Ia melaju santai, tidak ada keinginan untuk buru-buru bergabung dengan teman-temannya itu. Ia juga tidak berminat untuk karaoke ataupun minum-minum. Kebutuhannya lebih pada kehadiran teman-temannya itu. Karena ia tidak pernah suka sendirian.

RedBox, Apkujeong

Setelah memberi salam pada manager setempat, Micky masuk ke dalam RedBox. Tempat karaoke ini sudah menjadi tempat tongkrongan tetap untuk Fox-T sejak masa training mereka. Selain koleksi lagunya yang lengkap, tempat ini juga aman untuk Fox-T membawa teman-teman perempuan mereka tanpa diikuti stalker. Ruang VIP 202. ruangan yang selalu mereka booking.

Ia mengambil tempat duduk di samping Jack. Menjulurkan kakinya ke depan dengan santai. Laptop sudah diserahkan dengan selamat pada Jack. Seperti biasa Jack hanya tersenyum mengucapkan terima kasih. Sifat irit bicaranya masih bersisa sampai sekarang. Alex sedang bernyanyi dengan pasangannya. Sedangkan Ben sibuk dengan ponselnya. Sedangkan si magnae, Max entah ngumpet dimana.

“Tidak jadi menelepon Ricky?” tanya Jack menilai raut wajah Micky yang tidak enak dilihat.

“Internet down. Lagi. Sebel!” jawab Micky.

“Oh, mau pakai laptopku?” tawar Jack yang langsung disambut dengan senyum cerah dari Micky.

“Kamu emang sahabatku yang paling baiiiikkkk.”

Ia memeluk Jack senang. Jangan mendelik dulu, ungkapan perasaan dengan sentuhan diantara laki-laki Korea Selatan adalah hal yang wajar. Mereka bisa saling merangkul atau menyentuh tanpa perasaan jijik, kecuali Max. Dongsaeng nya itu amat tidak suka hal-hal seperti ini. Love affectionnya hanya untuk wanita.

Micky mengambil posisi di pojok ruangan dan mulai koneksi internet. Begitu dinyalakan, kembali muncul window yang meminta password dan user name. Micky mencibir kesal dan berteriak pada Jack. Bukannya langsung menjawab balik, Jack malah mendatanginya dan mengetik sendiri password laptopnya. Membuat Micky makin penasaran. Biasanya Jack tidak pernah menyembunyikan apapun padanya. Kenapa sekarang hanya untuk sebuah password laptop saja, ia harus main rahasia-rahasian?

Layar berubah menjadi lukisan abstrak. Bukan lukisan cantik atau sesuatu yang bisa ia angggap indah. Hanya gambar oret-oretan tidak jelas. Tapi sepertinya Jack suka sekali dengan lukisan ini. yang kemungkinan digambar oleh keponakan Jack. Dan itu cukup menjelaskan betapa istimewanya gambar itu sampai dijadikan wallpaper.

Micky tidak menunggu Jack untuk menginstall program dan menjalankan koneksi internetnya. Tidak perlu ijin khusus untuk hal itu dan Jack juga sepertinya tidak menunggu Micky untuk meminta ijinnya, karena cowok itu sudah sibuk dengan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Micky tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah adiknya.

Ia sudah tidak sabar untuk mengabari adiknya tentang hal ini sedari kemarin tapi dunia seakan memberontak padanya karena lagi-lagi koneksi internet tidak tersambung. Mungkin tidak ada signal di sini. Micky menutup laptop dengan kasar.

“Kenapa sih?” protes Jack, tidak terima Mac Pro yang baru dibelinya diperlakukan dengan kasar.

“Tidak ada signal.” ujar Micky galak. ia meremas rambutnya yang mulai panjang.

“Kirim text or email saja lah.” saran Jack kasihan.

“No, aku mau lihat reaksi mereka langsung.” sanggah Micky makin uring-uringan. Jack hanya tersenyum melihat tingkah Micky yang kekanak-kanakan.

“Kalau memang mau lihat reaksi mereka langsung, dijemput saja ke Seoul. Kuliah Ricky sudah selesai kan. Kirimi mereka tiket. Selesai masalah.” saran Jack.

“Betul juga, bentar lagi kita kan libur. Jadwal end of year kita apa?”

“Biasa Christmas dan New Year Eve. Single baru kita rilis tahun depan kan?” Jack malah tanya balik ke Micky karena biasanya Micky yang jauh lebih hafal untuk urusan seperti ini.

“Hmmm, betul juga. Besok aku kirim tiket ke mereka deh. Mudah-mudahan tanteku itu memberikan ijin untuk Mama berhenti kerja. Tahu sendiri belakangan kan Mama yang mengurus pembukuan restorannya.”

Jack mengangguk, menyetujui keputusan Micky. Hubungan mereka terbilang paling akrab, berbagi satu kamar dan memiliki banyak hobby yang sama. Tapi yang paling membuat click di antara mereka. Jack tahu kapan harus mengomentari dan kapan harus diam ketika mendengarkan Micky bercerita. Jack juga amat hati-hati dalam bertindak dan cukup rapi jika dibandingkan dengan member Fox-T lainnya. Membuat Micky cukup nyaman berlama-lama satu ruangan dengannya. Satu lagi, mereka jarang bertentangan.

Seperti sekarang, Jack membiarkan dia sendiri, memberinya waktu untuk menhubungi keluarganya. Tidak seperti Ben yang datang tiba-tiba. Merangkulnya dan menarik ponselnya.

“Ngapain sih?” tanya Ben usil.

Ben memang suka mencari gara-gara dengannya. Ia cukup terbiasa dengan hal tersebut, jadi ia hanya menarik kembali ponselnya dan melanjutkan mengetik.

“Pulang ke Seoul.” ujar Ben mengulang beberapa kata yang dia baca dari ponsel Micky. “Wahhhh, Mama Micky mau balik ke Seoul??? Kita harus jemput dia, rame-rame. Biar seru….” pekik Ben persis di sebelah kuping Micky. Membuat kupingnya berdenging.

Ia mengeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kekanak-kanakan Ben. Tidak ada yang tidak seru untuk temannya ini. Melihat semut berbaris pun dianggapnya tontonan menarik. Semua yang dilakukan beramai-ramai pasti asyik, ia ingat Ben pernah berkata begitu.

“Jangan, aku butuh kalian untuk melakukan hal lain.”

Tiba-tiba ia mendapat ide cemerlang. Kemudian, ia meminta Fox-T duduk melingkar di sekitarnya. 4 cowok besar itu menempelkan kepala mereka dengan kepala Micky karena suaranya tidak terlalu terdengar. Menimpali dengan lelucon konyol sesekali dan menambahkan gagasan-gagasn baru untuk menyempurnakannya.

“Jadi semua setuju?” tutup Micky.

“Setuju…..” jawab keempat sahabatnya. Membuat ia tersenyum lebar. Ia pasti orang paling bahagia di dunia ini karena memiliki keluarga hamonis dan saudara laki-laki super gila tapi setia kawan seperti keempat temannya ini.

Advertisements

One thought on “Chapter 1 – FOX-T

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s