Chapter 10 – Onsen Terpanas

Yunna sedang duduk di beranda kamarnya. Semalam, Big mengabarinya kalau ia harus segera ke Yamaguchi untuk menghadiri pameran ikebana yang tidak bisa dihadiri oleh ibunya. Tidak habis pikir bagaimana ia membiarkan keluarganya kembali mengatur jadwalnya padahal ia sudah cukup dewasa untuk menikah. Jadi sepanjang perjalanan ke Yamaguchi, ia memasang tampang cembetut paling buruk yang bisa ia berikan pada Big.

“Apa kamu akan terus memasang tampang jelek seperti itu?”

Ia memelototi Big tajam lalu kembali memandangi gunung-gunung yang tertutup embun dihadapannya. Bukan karena menarik, tapi daripada ia harus menatap Big dan kemudian marah-marah tidak jelas. Lebih baik ia melihat gunung mati tersebutkan?

“Maaf, tapi aku ga bisa membantah perintah Nyonya besar.”

“Setidaknya kamu bisa menjelaskan apa alasan dari penarikan aku kemari. BIG! Padahal aku baru saja mendapat informasi penting dari Eiji mengenai papa. Sekarang bagaimana caranya aku kasih tahu papa? Aku ga bisa mengirim email, karena terlalu riskan. Menelpon mereka pun tidak akan banyak membantu, karena buktinya masih ada di tangan aku!”

Sekali membuka mulut, ia tidak mampu mengentikan diri. Kebiasaan buruk jika ia sedang mengamuk. Ia menghela nafas kesal. Apa sih yang dipikirkan mamanya itu, sampai mengusung dia tempat terpencil seperti ini. Pameran Ikebana? Tolong deh, mama juga tahu kalau ia tidak pernah tertarik. Untuk Yunna bunga yang indah seharusnya berada di taman bukan di dalam pot.

“Katakan Big, apa alasan mama menyuruh aku kemari?” tanya Yunna dengan sedikit memaksa. Melihat keragu-raguan Big, tiba-tiba ia teringat siapa yang akan hadir di tempat ini sebagai undangan.

“Oh, jangan bilang Henry datang ke sini! Mama tidak kembali menjalankan ide bodohnya untuk menjodohkan aku dengan anak cengeng itu kan?”

Henry, teman sepermainan Yunna dulu, yang juga merupakan calon paling potensial untuk menjadi suaminya. Setidaknya bagi mama Yunna. Selain dari segi ekonomi, orang tua Henry bergerak di bidang peertambangan dan memiliki banyak sekali pembangkit tenaga listrik di China dan Hongkong. Di mata mama Yunna, Henry adalah anak yang baik, sayang orang tua, pengusaha yang berhasil, tampan dan penurut. Semua hal yang disukai mama selalu dibenci oleh Yunna. Ia tidak tahu mengapa seperti itu. Tapi begitulah kenyataannya.

Usaha menjodohkan Yunna dengan Henry sudah dimulai sejak mereka masih balita. Dengan memasukan mereka ke sekolah dasar yang sama. Tinggal bersebelahan lalu memiliki guru private yang sama. Sayang kedekatan mereka malah membuat Yunna memandang cowok itu sebelah mata. Henry kecil selalu ditindas dan coba tebak siapa yang membelanya. Benar sekali, tuan putri kita yang terhormat. Di mata Yunna, Henry tidak pernah lebih dari anak cengeng yang harus selalu ia selamatkan dari kepungan orang-orang yang mengusilinya. Ia lega, ketika ia harus kembali ke Korea saat SMA sedangkan Henry ke Jepang. Jadi ia terbebas dari tanggung jawab untuk melindungi cowok itu.

Jadi jangan salahkan Yunna, kalau ia tidak bisa mencintai cowok lembek seperti itu. Herannya mamanya tidak menyerah juga. Padahal saat dulu ia kembali ke Seoul, Yunna sudah dengan tegas menolak perjodohan itu.

“Kenapa sih Mama ga bisa menerima kalau aku ga akan pernah jatuh cinta pada Henry?”

“Aku ga tahu. Yang aku tahu sekarang, kamu harus beristirahat. Sebelum acara dimulai. Lalu mengenai masalah Tuan Besar, aku akan cari cara untuk menyampaikannya.”

Selesai mengucapkan hal itu, Big keluar dari kamar Yunna. Memberi waktu cukup panjang baginya untuk beristirahat. Kesalnya, Yunna tidak bisa tidur sama sekali. Perasaannya terlalu buruk. Ia perlu sesuatu untuk menyegarkan diri. Tapi tidak mungkin dia minum-minum saat matahari masih tinggi kan? Belum lagi, nanti malam ia harus datang ke acara formal. Ia tidak mau sampai tampil memalukan di hadapan kenalan mama.

Bagaimana kabar orang itu? Dia pasti kebingungan mencarinya pagi ini. Mudah-mudahan Micky mencairkan cek yang dia berikan jadi ia tidak merasa berhutang karena sudah merepotkanya kemarin. Dia sedang apa yah sekarang….

“ARRGHHHH…” teriak Yunna kesal dengan keadaannya saat ini.

“Ada apa? Ada masalah apa?” tanay Big yang buru-buru masuk ke kamarnya. Yunna lupa kalau teriakannya bisa membuat pengawalnya itu panik mendadak.

“Big, aku mau jalan-jalan sebentar di luar. Ga bisa tidur.”

“Baik, saya aku menunggu di luar.”

“Jangan! Aku cuma mau jalan-jalan sebentar. Lebih baik kamu bawa ini ke Papa. Urusan ini lebih cepat diselesaikan lebih baik.”

“Tapi….”

“Hei… Han Yunna tidak memerlukan pengawal hanya untuk jalan-jalan di onsen. Kamu ga perlu khawatir ok? Semakin cepat kamu pergi, semakin cepat kamu bisa kembali.” ucap Yunna menenangkan pengawalnya. Melihat keraguan Big, ia melanjutkan, “Dan aku ga mungkin kabur, ok? Aku perlu bertemu dengan Henry dan menolak perjodohan ini langsung.”

Sepertinya ia berhasil meyakinkan Big, karena pengawalnya langsung undur diri dengan membawa kotak berisi kalung darinya. Ia sendiri memakai yukatanya dan memulai jalan-jalan siangnya.

Untung hari ini tidak terlalu terik, jadi Yunna merasa cukup nyaman berjalan-jalan mengitari taman dan danau di dekat hotelnya. Ia berhenti di pondokan yang tersedia di sekitar danau. Kemudian duduk di atas tatami, menghadap danau. Tempat itu amat tenang dan sunyi. Hanya suara desiran angin menyapu pepohanan yang terdengar di sana. Tempat yang cocok sekali untuk menenangkan diri atau melamun.

Lamunan Yunna hanya berkisar di satu orang yang sama. Yang berulang kali dihapus dan diredamnya. Karena ia merasa tidak ada harapan dengan orang itu. Micky tidak menyukainya seperti yang ia duga. Cowok itu bahkan tidak terangsang ketika membantunya melepaskan pakaian. Bagaimana mungkin Micky tertarik padanya kalau secara seksualitas saja dia tidak menganggap Yunna perempuan yang mengoda.

“Anda lebih suka ocha dingin atau panas?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Yunna. Ia membalikkan badan siap memarahi orang tersebut karena sudah menganggunya. Tapi betapa terkejutnya Yunna ketika mengetahui siapa yang sudah iseng menganggunya tadi.

“Kamu? Bagaimana cara kamu menemukan aku di sini?!” seru Yunna terkejut, ia sampai berdiri dan mengacung-acungkan telunjuknya.

“Saat check in, aku lihat ada cewek cantik dengan yukata berjalan ke sini.” ucap Micky sambil menyeringai.

“Bukan itu, bagaimana kamu tahu aku ada di Yamaguchi?” tanya Yunna, jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Ia selalu kehilangan ketenangan kalau bersama Micky. Cowok itu seperti bisa menarik sisi dirinya yang lain.

“Mudah, kalau kamu mengenal orang-orang yang tepat untuk memberikan informasi.” ucap Micky sombong. Ia duduk tanpa disuruh dan menarik Yunna untuk duduk di sampingnya. “Jadi, coba jelaskan cek ini untuk apa?”

Micky merangkul bahu Yunna dan menariknya mendekat agar ia bisa menjangkau amplop di saku kemejanya. Sekejap wangi mawar memenuhi paru-paru Micky, kembali menciptakan sensasi yang mengelitik perutnya.

Yunna menepis tangan Micky dan memutar badannya hingga ia duduk menghadap danau. Kakinya ia taruh keluar, menggelantung di udara. Berada terlalu dekat dengan cowok ini membuat ia sesak nafas dan merasa mual. Rasanya ia tidak mencium bau yang aneh dari Micky, tapi enak kenapa perutnya bereaksi seperti itu.

“Kenapa? Kurang yah? Aku bisa menambahkan nominalnya kalau kamu mau.”

“Apa aku kelihatan seperti orang yang memerlukan uang?” tanya Micky tersinggung. Dia ikut memutar posisi duduknya agar bisa melihat Yunna.

“Well, kalau bukan masalah nominalnya, kenapa kamu ga mau menerima? Aku tidak suka berhutang. Kamu sudah banyak membantu aku kemarin.”

“Kalau begitu aku terima dengan senang hati. Lumayan untuk mentraktir teman-temanku di sini.”

Yunna menatap Micky bingung. Semudah itukah menyelesaikan masalah ini? Walau tidak percaya, toh Micky memasukan kembali amplop itu ke saku kemejanya. Lalu tersenyum-senyum seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen.

“Kenapa mengerutkan dahi seperti itu?”

“Kamu.” Yunna terdiam, ia perlu memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia rasakan pada Micky, tapi tidak ada yang tepat jadi ia berkata, “Aneh.”

“Micky aneh? Bagian mananya?” tanya Jack, membuat kedua orang itu memutar kepala mereka dan terjeduk.

“Yang lain mana?” tanya Micky.

“Yang lain lagi ganti baju di kamar. Kita dapet 2 kamar. Tadinya Ben maksa untuk ambil vila saja, tapi Max berhasil menahan teman kita itu dan Alex buru-buru check in.” ungkap Jack. Dia duduk di samping Micky.

“Maaf deh, tapi kapan lagi Micky traktir kita, ga salah dong, gw maksa dapet perlakuan istimewa.” cibir Ben.

“Tapi kan ga dengan cara, membuat Micky bangkrut. Emang elo mau masuk berita, anggota fox-T tidak sanggup membayar kamar mereka hingga terpaksa bekerja di Hotel untuk menganti biaya tersebut?” sindir Max usil.

“Sudah-sudah, Yunna bingung tuh liat elo orang berisik banget. Kenalin gw Alex. Kalau Micky belum cerita, gw kepala mereka di Fox-T.”

Yunna menjabat tangan Alex. Jabatan yang hangat dan kuat. Menurut papa, orang yang memiliki jabatan seperti itu biasanya terlahir untuk menjadi pemimpin.

“Gw Ben, homoannya Micky.” ucapan yang mengundang Yunna untuk tertawa dan geplakan tangan dari Micky.

“Itu Jack dan gw Max.” ucap Max.

Cowok-cowok itu duduk berseberangan dengan Yunna, Micky dan Jack. Setelah duduk berhadapan seperti ini, Yunna baru menyadari kalau cowok-cowok ini memang luar biasa tampan dan menarik. Tidak heran banyak perempuan jatuh cinta pada mereka, termasuk dia dulu.

“Ada rencana apa malam ini?” tanya Jack membuka obrolan setelah selesai memesan minuman untuk mereka ber-enam. Tadinya Yunna pikir mereka akan ribut dulu sebelum menentukan apa yang mau mereka pesan. Tapi ternyata, Jack mengambil alih semua itu dan memesankan untuk semua orang termasuk dirinya. Ocha panas.

“Nanti aku harus hadir di hall 2, melihat ikebana. Undangan resmi.”ucap Yunna malas. Dia bisa membayangkan dirinya menatap bunga dan rumput selama 2 jam tanpa bisa melarikan diri.

“Siapa sih ikebana?” tanya Ben salah mengartikan.

Hyung, Ikebana itu seni merangkai bunga. Bukan orang.” terang Max. Mengundang Yunna kembali tertawa.

“Maaf, saya sudah tidak sopan mentertawakan anda.” ucap Yunna tidak enak, tapi ia masih tidak bisa menghentikan tawanya. Lucu sekali, ikebana dianggap orang oleh Ben. Oh, perutnya sakit karena tertawa.

“Ga usah bicara terlalu sopan sama mereka. Nanti mereka malah bingung nanggepin kamu.” celetuk Micky membuat Yunna berhenti tertawa dan kebingungan.

“Serius. Tuh, kamu udah bikin Alex bengong dan rahang Max hampir copot.”

Mendengar penjelasan Micky, mau tidak mau Yunna melirik pada cowok-cowok di hadapannya itu. Dan betul, ekspresi mereka persis seperti yang dikatakan Micky.

“Tolong lain kali jangan bicara seperti tadi Yunna. Gw pikir kita lagi ada di rapat perusahaa.” ucap Alex setelah berhasil mengembalikan dirinya.

“Betul, ga usah terlalu formal lah. Kita semua teman dan nyaris seumuran.”

“Ok, kalau gitu jangan terlalu kaget juga. Gw kalau udah ngomong kadang ga terkendali.”

“Berarti kita berteman sekarang?” tanya Alex mengkonfirmasi.

“Friends.” ucap Yunna sambil mengangkat gelas ocha. Bersulang. Siang itu ia habiskan dengan tertawa berlebihan. Bersama Fox-T, Yunna merasa menemukan dirinya yang dulu kembali. Yunna yang bisa tertawa lepas dan menjaili orang-orang sekitarnya. Tanpa perlu memikirkan tanggapan orang-orang di sekitarnya. Namun sayang, ia harus kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menghadiri pameran ikebana. Micky mengantarnya kembali ke kamar.

“Thanks uda ngater aku balik. Sebetulnya tidak perlu juga kok.” ucap Yunna, ketika mereka sampai di depan pintunya.

“Sebetulnya aku mau tanya dimana pengawalmu itu? Biasanya dia menempel terus.”

“Aku menyuruh dia kembali ke Seoul. Ada urusan mendesak.”

“Jadi kamu sendirian? Apa perlu aku kawal kamu lagi?”

“Jangan, aku ga mau merepotkan kamu lagi. Cuma sebuah pameran ikebana. Tidak mungkin terjadi hal-hal aneh.” ujar Yunna membantah perasaannya sendiri. Dalam hati kecilnya ia sangat mengharapkan kehadiran Micky. Dengan demikian, ia bisa makin meyakinkan Henry kalau saat ini dia sudah memiliki orang lain. Eh, betul juga, itu ide yang bagus sekali.

“Ky, on second thought. Aku rasa aku perlu kamu malam ini. Kamu punya tux? Ah, lupakan, aku yakin Big tidak mungkin membawa yukatanya pulang. Kamu mau pakai itu?”

“Tux? Engga sih, tapi aku bawa jas.”

“Itu cukup. Jemput aku lagi jam 7 kurang 15. Sekarang, aku siap-siap dulu.”

Yunna masuk ke kamarnya, bergegas merapikan diri. Ia melirik gaun yang ditergantung di lemarinya. Tersenyum puas. Gaun itu pasti membuat orang-orang melirik padanya. Dress sifon dari Bottega Venetta berwana ungu pucat, one shoulder. Tidak terlalu heboh tapi mengoda.

Pukul 6.30, Yunna sudah selesai merias. Dandanan simple dan natural. Toh mereka ada di offspring bukan dinner gala. Ia tidak mau terlihat over-do untuk acara seperti ini. Sekarang ia tinggal menunggu kedatangan Micky. Ia sudah mempertimbangkan untuk tidak memberitahu Micky kalau ia akan memperalat cowok itu. Karena dia juga tidak berniat untuk mengatakan pada Henry status mereka. Cukup memperlihatkan kebersamaan saja. Cowok cengeng seperti Henry pasti sudah melempem kalau tahu dia memiliki pasangan sekarang.

Bel pintunya berbunyi. Yunna tidak lagi mengecek siapa yang datang karena hanya ada satu orang yang ditunggunya.

“Kamu datang tepat wak…tu.” sapa Yunna sambil membuka pintu.

Di hadapannya berdiri seorang cowok jangkung dengan yukata dan membawakan sebuket bunga tulip ungu. Bunga kesukaannya.

“Hai, Cupcake…” sapa Henry.

“Kamu….siapa?” ucap Yunna bingung. Ia tidak mengenali cowok di hadapannya. Walau ia bisa menerka sedikit. Tidak banyak orang yang tahu mengenai bunga kesukaannya ini dan memanggilnya cupcake. OUUHGH! Yunna benci sekali dengan sebutan itu! Dia bukan kue!

“Sombongnya, padahal aku saja masih mengenali kamu.” ujar Henry lalu mengerlingkan matanya dan menyentil hidungnya

“Tolong jaga sikap anda!” seru Yunna tidak senang. Berani-beraninya cowok ini menyentuhnya!

“Hei, ini aku Henry. Apa aku masih perlu menjaga sikap di depan kamu?” mata Henry makin berbinar-binar. Terlebih setelah Yunna melompat dan memeluknya.

“Ya ampun! Kamu bercandakan? Kenapa bisa berubah seperti ini? Kamu operasi plastik?” ucap Yunna setelah selesai memeluknya. Ini tidak mungkin terjadi, kemana perginya cowok cengeng yang dulu? Pasti tidak akan ada yang percaya kalau cowok gagah dan okey, tampan seperti Henry dulu berlindung di balik punggungnya.

“Yah, aku mengubah bentuk hidungku. Lumayan kan hasilnya.” ucap Henry jenaka, membuat Yunna mengerutkan dahi. “Kamu percaya?” tawa Henry menderai begitu melihat Yunna memakan mentah-mentah gurauannya.

“Ada urusan apa sampai kemari? Kuliah kamu sudah selesai?” tanya Yunna basa-basi. Ia sengaja tidak mengundang Henry masuk dan berbincang-bincang di kamarnya. Malah, ia menutup pintu tersebut. Tidak perlu menimbulkan prasangka yang lebih banyak lagi.

“Kamu sedang menyindir lagi? Atau kamu juga lupa kalau kita seumur?”

Yunna tertawa melihat Henry mendengus. Tapi ia segera berhenti ketika melihat sesosok cowk datang menghampiri mereka. Micky, tepat waktu sekali. Dan kenapa dia jadi terlihat berbeda? Apa semua cowok terlihat begitu gagah ketika mengenakan jas?

“Hai, kamu udah dateng?” tanya Yunna, tanpa sadar senyum cerah terpampang di wajahnya.

“Kamu sudah siap?” tanya Micky seperti biasa terkesan cool. Tidak akan ada yang mengira kalau saat ini ia sudah terbakar api cemburu. Dia tidak suka bila ada cowok yang menempel-nempel dengan Yunna. Terlebih lagi ia sangat mengenal tatapan yang diberikan oleh cowok itu, penuh hasrat dan rasa kagum. Belum juga beres masalah dia dengan Yunna, sudah muncul saingan.

“Sudah. Oh, kenalin, Micky. Henry.”

Kedua cowok itu berjabatan. Sedikit aneh, karena Henry tersenyum sedangkan Micky menanggapi dengan sopan. Yunna seperti melihat kilatan petir dilemparkan oleh mereka berdua. Dasar, cowok, kapan mereka bisa dewasa.

Ditambah lagi kedua cowok ini tidak mau mengalah. Membuat Yunna berjalan terhimpit di tengah cowok raksasa itu. Lorong hotel di Jepang kan sempit, untuk jalan berdua saja pas-pasan apalagi harus bertiga seperti ini.

“Kalian berdua, kalau memang mau menempel, tolong biarkan aku jalan sendiri. Sempet tahu.” erang Yunna. Membuat dua cowok itu garuk-garuk kepala dan melangkah mundur. Mempersilakan Yunna berjalan di depan.

“Kalau tahu kalian seperti ini, lebih baik aku ga usah hadir!” runtuk Yunna lagi. Malu sekali harus melihat kedua cowok itu saling beradu tatap. Orang yang tidak tahu pasti mengira kedua cowok itu sedang marahan.

“Kalau kamu ga mau dateng, yang ga usah dipaksakan. Kita masih bisa jalan-jalan ke tempat lain.” Henry yang mengambil inisiatif duluan untuk menarik Yunna pergi. Tujuan dia berada di Yamaguchi adalah menaklukan Yunna. Tidak lebih dan tidak kurang. Kalau dia bisa berduaan saja, asti lebih efektif.

“Benar. Kita bisa ke desa sebelah. Kata Max, sedang ada bazzar musim panas.” ucap Micky tidak mau kalah. Ia siap sedia menculik Yunna dari tempat ini sekarang juga. Teman-temannya mungkin bisa membantu untuk menyingkirkan Henry. Ia menelpon Jack, menanyakan posisi teman-temannya sekarang. Syukurlah, mereka belum berangkat.

“Yun, mereka masih di lobby, mau bareng?” tanya Micky.

“Boleh, tapi dengan pakaian seperti ini?” unjuk Yunna tentang gaunnya. Pakaian ini tidak nyaman untuk diajak berkeliling.

“Kamu mau ganti dulu?” tanya Micky sedangkan Henry berkata, “Kamu cantik kok”

Yunna mengerutkan dahi melihat mereka berdua.

“Iyah aku mau ganti dulu dan terima kasih untuk pujiannya.” jawab Yunna kemudian mencibir. Ini akan menjadi malam panjang untuknya. Semoga Tuhan memberkati hingga ia tidak perlu melihat pertumpahan darah. Amin.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 10 – Onsen Terpanas

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s