Chapter 2 – Keluarga Micky

Micky menunggu di pintu keluar area kedatangan di Incheon Airport. Menatap dengan was-was sekitarnya. Ini sama sekali diluar kebiasaannya, menjemput langsung keluarganya di airport. Tapi ia terlalu tidak sabar untuk menunggu di kantor agencynya dan membiarkan managernya yang menjemput. Toh, ia tidak ada kerjaan sama sekali. Rasa tak sabartengg bercampur senang timbul tengelam saat mendengar kalau pesawat yang ditumpangi keluarganya itu telah mendarat. Ia memperhatikan satu per satu orang yang keluar di balik kacamata hitamnya.

Adiknya keluar lebih dulu dengan trolly bagasi mereka, diikuti dengan ibunya yang dipapah oleh seorang gadis. Ada apa ini? Tidak sabar, ia berlari menghampiri mereka. Untungnya penjagaan airport saat itu tidak terlalu ketat, kalau tidak ia pasti sudah dihadang dan tiarap terlentang di lantai.

“Ada apa?” tanya Micky khawatir. Ia mengambil alih menopang ibunya dari gadis tersebut.

“Tidak apa, hanya sedikit pusing. Untung nona ini berbaik hati membantu.” ujar mama Micky lemah dan penuh rasa terima kasih pada gadis di sampingnya.

Ia ikut membungkuk memberi hormat pada gadis itu. Cewek ini jelas bukan orang sembarangan menilai dari pakaiannya yang berkelas. Caranya berdiri juga penuh wibawa. Wajahnya khas orang Korea, tapi tanpa mata sipit, mungkin dia melakukan cosmatic surgery yang memang hal umum di Korea ini. Tidak sampai cantik sekali seperti Julia Robert atau Scarlett Johanson tapi ada keangkuhan ningrat di sana. Membuat penampilan gadis ini makin terasa sulit didekati.

“Tidak apa, kebetulah saya juga sering sakit maag seperti itu. Nah kalau begitu saya tinggal dulu.” ucap gadis itu pamit beserta seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Dugaan Micky, itu bodyguardnya. Ia jadi makin penasaran siapa gadis itu.

“Siapa dia?” tanya Micky pada adiknya saat mereka tiba di mobil. Baik adik maupun ibunya, sama-sama tidak tahu siapa gadis yang sudah berbaik hati membantu mereka tadi. Mereka hanya tahu bahwa gadis itu pasti orang gedean, karena bodyguardnya terus mengawasi gerak-gerik mereka. Lalu mamanya juga cerita kalau si bodyguard berjalan di depan, mengecek tempat tersebut, sebelum nonanya masuk. Mencicipi makanan yang di sediakan di pesawat, sebelum memberikannya pada sang nona.

Semua cerita yang Micky dengar seperti dongeng saja. Ia tidak tahu kalau masih ada yang menerapkan penjagaan seketat itu, bahkan presiden Korea saja sepertinya tidak dijaga seekstrim itu. Pikirannya langsung larut menebak-nebak identitas gadis tadi.

“Nah, Chunie, kenapa kamu minta kita buru-buru pulang ke Korea?” pertanyaan sederhana dari Mama yang hanya ditanggapi dengan senyum penuh rahasia.

Waktu ia menelpon minggu lalu, Micky memang tidak mengatakan apapun hanya memaksa mereka untuk pulang dengan seribu satu alasan tidak masuk akal yang bisa dipikirkannya. Ia harus berterima kasih pada Ben yang memberinya masukan yang lebih masuk akal – Kakak perempuan Jack akan menikah dan mengundang mereka. Yang memang adalah kenyataan, hanya saja undangan itu untuk bulan December, which is 4 bulan dari sekarang. Mudah-mudahan mamanya tidak akan marah karena sudah ia bohongi.

“Hyung, kita langsung ke hotel?” tanya Ricky.

“Yeap, Jack uda masak di rumah, jadi mendingan kita taruh barang dulu.” ujar Micky berbohong.

Yang benar, seluruh anggota Fox-T sudah ada di rumah baru Micky. Seminggu ini mereka semua membantunya untuk membersihkan rumahnya agar layak huni. Menyapu, mengepel dan menyedot debu. Mengisi kamar Micky dengan kasur dan meja kerja. Kamar mandi sudah full furnish hanya butuh beberapa touch up agar terlihat lebih beradab. Nantinya ia akan membiar kebebasan pada mamanya untuk mengisi rumah ini. Sesuai dengan selera mamanya. Nantinya ia tidak akan terlalu sering berada di Korea. Kegiatan di Jepang akan semakin banyak seiring dengan menanjaknya popularitas Fox-T di sana.

“Ini dimana, Chun-a?” tanya mama bingung.

Mereka sekarang berdiri di depan rumah yang Micky siapkan untuk mereka. Ia masih menolak untuk menjelaskan dimana mereka ini. Keluarganya harus masuk dulu ke dalam agar rasa terkejut yang keluarganya terima nanti lebih besar.

“Ben minta tolong mampir ke rumah temannya, ambil barang apa gitu.” sahut Micky, ia berjalan di depan dan membukakan pintu untuk adik dan mamanya masuk.

Teman-temannya langsung menyambut mereka dengan girang dan teriakan “WELCOME HOME….!”

POPP….. Meletuskan  dan mengiring keluarganya masuk.

Micky menatap puas wajah terkejut adik dan mamanya yang langsung berubah menjadi isak tangis haru. Airmata mampir di pipi Micky juga. Ia tidak bisa menahan perasaaannya. Padahal ia benci sekali untuk bersikap cengeng seperti ini. Adiknya merangkulnya erat sebelum mama memeluknya dan menangis di dadanya. Ia merasa puas, semua jerih payahnya berbuah manis.

Ia membiarkan adik dan mama mengeskplorasi rumah baru mereka, mengomentari setiap sudutnya. Mama sudah sibuk mencatat apa yang perlu dibeli dan ditambahkan di sana.

Seandainya sekarang ia punya pacar, pasti kebahagiannya lengkap sudah. Bukan yang untuk main-main dan melewati malam seperti yang selama ini dia lakukan. Tapi betul-betul pasangan untuk menghabiskan sisa hidupnya, yang bisa merawat ibunya dan bersikap sebagai kakak perempuan untuk adiknya. Menjadi ibu dari anak-anaknya. Mendadak ia merasa kesepian.

Lucu sekali, bagaimana mungkin ia merasa kesepian diantara hingar bingar dan teriakan teman-temannya. Adiknya bercanda dengan Ben. Jack menemani ibunya, memberi masukan mengenai ini dan itu. Alex dan Max sibuk berebut menentukan kamar mana yang akan mereka jadikan ruang tamu, tempat mereka akan menginap.

“Ky, kita disuruh ke studio sekarang.” ucap Alex, sang ketua Fox-T, membuyarkan lamunan Micky. Ia menurut dan meninggalkan rumah. Mereka sepakat untuk menunggu jemputan manager mereka di sana. Untuk mengirit biaya bensin dan polusi udara. Selama menunggu, perasaan Micky tiba-tiba berubah buruk. Ia memang moody, tapi biasanya itu terjadi saat dia kurang tidur atau terlalu letih. Sedangkan hari ni, ia tidur cukup, makan enak, dan sama sekali tidak dalam keadaan tertekan.

Masuk ke dalam mobil, mereka mengambil posisi masing-masing. Seperti ada tag tidak tertulis di sana. Alex, Ben dan Micky duduk di depan. Jack dan Max di belakang. Micky sudah siap memasang earphonenya ketika, Ben mencoleknya.

“Kok kayaknya kamu tidak bahagia sih?” tanya Ben yang duduk di sebelahnya. Dan tampaknya juga memperhatikan dirinya yang uring-uringan. Ia selalu uring-uringan sejak bertemu dengan cewek airport itu. Rasanya ia hampir mendekati frustasi karena tidak berhasil menemukan cewek itu dimana pun juga kecuali dalama mimpinya. Apa gunanya pertemuan-pertemuan tidak nyata dalam dunia maya tersebut kalau yang diinginkannya adalah sosok nyata cewek itu di sisinya.

“I don’t know, kayaknya ada yang kurang.” erang Micky semakin frustasi. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa ia, seorang Micky telah jatuh hati pada cewek yang tidak dikenalnya.

“Ada yang kurang? Apa? Adik and Mamamu sudah di sini kan? Atau kamu butuh tante and paman kamu untuk hadir juga?” tanya Ben polos. yang seperti biasa mengundang jitakan dari teman-temannya.

Mereka mengantung pembicaraan sampai sana karena mereka sudah sampai di gedung Lime Agency. Agency tempat Fox-T bernaung. Fox-T merupakan salah satu grup tersukses di agencynya. Membuat mereka diperlakukan lebih istimewa. Seperti memiliki studio rekaman sendiri, tempat latihan khusus dan kamar untuk beristirahat. Perlakuan staff terhadap mereka juga berbeda. Manager mereka memastikan setiap kebutuhan Fox-T terpenuhi dalam sekejap. Semakin Fox-T jarang keluar masuk gedung, semakin cepat juga segala kegiatan yang bersifat preparasi selesai dilakukan.

“Jadi kita disuruh rekam apa?” tanya Micky kembali ke tujuan mereka berkumpul di kantor.

“Dengar-dengar kita dapet iklan Samsung. Kira-kira mereka bakal kasih kita produknya for free tidak yah?” ungkap Max blak-blakan.

“Dasar Max, maunya.” ledek Ben.

“Memangnya kalian tidak mau dapet Handphone gratis?!” seru Max tidak terima dikatai aji mumpung oleh Ben.

“Mau lah. apalagi kalau dapet model yang baru itu tuh. Touch Screen dengan kamera 12 MP.” kata Alex menimpali.

Semua menanti dengan sabar sampai manager mereka datang dan memberi penjelasan.

“Anak-anak, ini product baru untuk kalian. Ini jinglenya, hafalkan sekarang. Dalam waktu 1 jam, kita turun untuk rekaman.” perintah Boom, sang manager dengan tegas, yang langsung dituruti oleh anak asuhnya tanpa mengeluh.

Micky menatap notes di depannya tanpa ekspresi. Menghafalnya dengan tenang sambil mendengar teman-temannya bersenandung. Untuk jingle 30 detik ia kebagian 2 baris dan sisanya ia harus menyelaraskan nada dengan Jack, Alex, dan Ben. Ia dan Max memang lebih banyak bertindak sebagai penyelaras dan menyeimbangkan flow dalam lagu.

Ia tidak memerlukan waktu panjang untuk menghafal bagiannya yang pendek. Bosan di dalam ia jalan keluar, menuju tempat merokok favoritenya. Di atas atap.

Saat melewati lorong, ia melihat juniornya sedang menagis tersedu-sedu, merajuk pada managernya.  Karena tertarik, ia melambatkan langkahnya. Memasang kupingnya lebih tajam untuk mendengar permasalahan juniornya tersebut.

“Saya tidak mau, kenapa tidak suruh EunHye saja? Dia kan lebih banyak waktu daripada saya.” isak Fanny.

“Tapi klien kita minta anda yang membintangi. Boss sudah setuju dan menandatangi kontrak.” rayu sang manager.

“Tidak mau, saya tetap menolak. Toh bayaran yang masuk kan sama aja.” raung Fanny makin kencang.

Masalah kontrak lagi. Agencynya ini memang agak pelit jika sudah menyangkut pembagian hasil. Ia sedikit mengerti alasan Fanny menolak melakukan CF karena memang pembagian hasil tetap sama rata untuk semua anggota grupnya, walaupun seandainya hanya Fanny sendiri yang membintangi CF tersebut. Kecuali, kontrak ini dibuat dengan nama perorangan.

Micky sudah hampir melewati mereka ketika ia mendengar suara perempuan yang cukup lantang dan tegas berbicara. Ia melirik sedikit ke dalam. Cewek itu…

“Mengenai masalah pembayaran, saya sudah menawarkan 40% untuk pihak agen anda. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup untuk semua iklan kecil seperti ini. Harap dicatat, saya akan menuntun balik jika kontrak ini dibatalkan.” ucap gadis itu tajam.

Fanny membelalakan mata mereka, tidak percaya kalau klien yang sama-sama perempuan seperti dirinya tidak tersentuh dengan airmatanya. Manager Fanny menatap sang klien melalui sudut matanya, terlalu takut untuk menatap kedua perempuan yang menjadi lawan bicaranya langsung. Ia sudah dengar kalau Han Yunna adalah perempuan bertangan besi yang tidak pernah montoleir kesalahan. Saat ini posisinya benar-benar terpojok. Ia tidak bisa memberitahu padanya kalau bagian artist untuk sebuah CF hanya sebesar 30% apalagi untuk one shoot seperti ini, bagian Fanny akan lebih kecil lagi.

“40%?” pekik Fanny setelah sadar dari rasa terkejutnya. “Oppa bilang hanya 20%?” mata Fanny menatap managernya dengan punuh tuduhan. Sang manager dengan gelagapan, mengelap dahinya yang tidak berkeringat.

Gawat, ini gawat sekali. Setelah Fanny mengetahui pembagian sesungguhnya dari pembagian hasil, ia tidak akan sanggup mengelak. Boss pasti akan marah besar kalau mengetahui kebocoran ini. Doeh, kenapa juga Han Yunna ini harus mengungkit-ungkit masalah fee.

“Oppa, ayo jawab! Kenapa pembagiannya berbeda? Apa selama ini kami ditipu?” tuntun Fanny meminta penjelasan.

“Hmmm, hmmm itu… ah…” ucap sang manager terbata-bata, otaknya tumpul dan mampet. Tidak bisa berpikir dengan cepat untuk mencari alasan. Ia melirik Han Yunna-ssi yang duduk di hadapannya. Cewek itu tidak membantu sama sekali untuk menyelesaikan masalah ini. Terus mengetuk-ngetuk meja dengan kukunya yang lentik polos tanpa kutek mencolok. Tidak sadar kalau sikapnya membuat suasana semakin tegang. Apa Han Yunna ini sengaja memancing di air keruh?

“Tolong diputuskan. Saya sudah mengatur jadwal shooting 2 hari lagi. Harap keputusannya sudah sampai ke saya besok. Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan kewajiban apa yang harus anda tunaikan jika kontrak ini batal. Selamat siang.” ujar Yunna singkat dan perempuan itu melangkah keluar. Membiarkan Fanny dan managernya kembali ribut dan bertengkar.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 2 – Keluarga Micky

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s