Chapter 3 – Han Yunna

Yunna menghela nafas lega ketika akhirnya ia bisa meninggalkan ruangan tadi. Sikap Fanny tadi sama sekali tidak profesional. Heran, padahal mereka seumuran, tapi kenapa cewek itu manja sekali? Apa semua idola seperti ini? Kalau memang begitu keadaannya, ia akan mencoret semua nama grup idola untuk berperan dalam iklan-iklannya. Bikin kepala pusing saja.

Tiba-tiba ia merasa ada yang sedang menatapnya, seketika itu juga bulu kuduknya merinding. Ia menengok ke belakang, mencari tahu siapa kira-kira yang seudah menatapnya dengan begitu intens.

“Ada apa, Nona?” tanya Big, sang bodyguard.

“Sepertinya tadi ada yang sedang….” Merasa omongannya tidak masuk akal, Yunna membatalkan dan meralatnya, “Tidak, hanya perasaanku saja.”

Penasaran, Big ikut menengok, tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa. Mungkin Nona Yunna hanya terlalu sensitif hari ini. Ia maklum, ia sendiri tidak tahan mendengar rengekan Fanny. Ia bersyukur jika mengingat Nona Yunna tidak pernah bertingkah manja seperti itu.

“Coba hubungi Lindsay dari Pop Model, mereka menyiapkan beberapa model untuk winter collection kita. Lalu hubungi berberapa majalah yang siap luncur bulan November ini. Saya yakin daftarnya cukup panjang. Jadi ambil yang skalanya paling luas, saya tidak mau kita kalah start dari competitor lainnya.” perintah Yunna pada padanya, setelah mereka mencapai lobby.

Big mengangguk mengerti. Ia menghubungi supir melalui microfonenya. Di sekitar mereka ada banyak anak sekolahan berkumpul, tampaknya mereka fans dari idol grup. Big menatap mereka intens. Menilai apakah mereka akan menjadi ancaman untuk Nona Yunna. Setelah yakin, kumpulan gadis itu tidak akan menganggu Nona-nya, ia kembali mengkonsentrasikan padangannya pada Yunna.

Yunna menyisir poninya yang berbelah tengan dengan tangan kanannya untuk membebaskan pandangannya agar bisa melihat dengan jelas papan-papan yang dibawa oleh gadis-gadis muda tersebut. Agak tidak perlu sebenarnya, karena belum selesai ia membaca, mereka sudah meneriakkan nama Fox-T bergantian dengan nama kelima personilnya. Alex sang leader, Jack vokalis utama, Ben bariton, Max tenor dan Micky another bariton. Top idol grup di Korea yang punya sejuta pengemar yang tersebar di seluruh Asia.

Dulu saat masih kuliah ia sendiri termasuk salah satu pengemar mereka. Hanya saja bukan fans fanatik, ia menghargai kualitas vokal dan power mereka yang selalu sanggup menyedot ratusan orang.

Sayang mereka cowok, sekeren dan seganteng apapun tidak mungkin ia meyuruh mereka mengenakan rok dan atasan kembang-kembang berenda lalu berharap orang-orang akan membeli barangnya. Ia tersenyum simpul akan bayangan yang timbul di otaknya. Ia harus mencerita hal ini pada Keiko, sahabatnya, lalu mentertawakannya berdua.

“Silahkan masuk Nona.” ucap Big membiarkannya masuk terlebih dulu ke dalam mobil. Pengawalnya menyediakan air putih dingin, mengingat kebiasannya yang selalu membutuhkan minuman ketika sedang kesal. Air putih dikenal lebih efektif untuk mengendurkan syaraf dan ketegangan tanpa perlu kehilangan akal sehat.

“Terima kasih.” ucapnya untuk pengertian Big. Ia meneguk habis satu botol tersebut. Perasaan lega langsung mengerayapi tubuhnya seiring turunya cairan tadi ke perut. Sekarang ia siap menerjang kembali jadwal kerjannya yang super padat.

Kadang ia heran, bagaimana ia bisa berubah 180 derajat dari dirinya yang dulu suka hura-hura saat SMA. Berdua dengan Keiko menciptakan banyak kekonyolan dan kenangan indah di SMA. Dengan berbekal nekad dan kreativitas membuat club surat kabarnya selalu dibanjiri peminat dan pekerjaan. Mereka berdua lebih terkenal dibanding cewek tercantik di sekolah, atlit nasional ataupun calon artis yang kebetulan satu sekolah dengan mereka. Herannya mereka tidak pernah punya pacar, walaupun penggemar mereka segudang.

Ia mengendik sedikit ketika teringat dengan insiden stalker saat kelulusan mereka. Keiko berhasil mengelabuhi bodyguard suruhan kakaknya yang biasa menempel 24/7 pada dirinya. Bukannya terbebas, mereka malah dikepung oleh segerombolan cowok tak dikenal. Kalau saja ia dan Keiko tidak pernah belajar beladiri, dijamin, mereka tidak mungkin keluar dengan tubuh utuh. Sejak hari ini, Orang tua dan abangnya selalu memastikan ia pergi dengan pengawasan penug bodyguard.

Bently hitam miliknya meluncur mulus ke seantaro Seoul, keluar masuk dari satu hotel atau tempat pertemuan ke tempat pertemuan yang lain. Memberinya sedikit rasa amat, jauh dari wartawan ataupun stalker dan ganguan lainnya. Selesai menjalankan tugasnya, ia kembali ke rumah, tempatnya dan Keiko.

Sahabatnya masih duduk di depan mesin jahit, saat Yunna tiba. Pekerjaan sambilan Keiko yang dulu ia paksakan padanya. Sebetulnya ia merasa tidak enak pada Keiko, karena ia sibuk bekerja sedangkan Keiko masih berstatus pengangguran. Ia sempat menawarkan pekerjaan pada Keiko, tapi dirolaknya mentah-mentah. Ada sedikit kecurigaan kalau Keiko tidak ingin bertemu dengan Yuri onni a.k.a kakaknya Keiko tapi menikah dengan abang Yunna. Tidak ada orang yang ingin bekerja sama dengan saingan cintanya bukan?

“Kei…..” panggil Yunna seceria mungkin. Tapi Keiko malah terus memperbaiki mesin jahitnya, sepertinya mesin itu kembali mogok kerja.

“Kenapa? Ngadat lagi?” tanya Yunna prihatin, ia menghampiri Keiko setelah mengambil satu botol air dingin dari kulkas.

“Iyah, nih. Kayaknya aku harus beli yang baru.” ucap Keiko yang masih mengeker-ngeker lubang sepatu.

Yunna tidak tertarik dengan jahit menjahit dan ia juga tidak mengerti soal mesin, jadi ia tidak tahu harus berkomentar apa. Ia terus memperhatikan Keiko yang serius sekali memperbaiki. Keiko pasti akan menolak kalau ia menggantikan mesin jahit tua itu dengan yang baru.

“Yun, itu analysis yang kamu minta sudah selesai.”

“Mana?”

Keiko menunjuk berkas file di sampingnya dengan kepala kerena kedua tangannya sibuk memereteli mesin jahit. Yunna mengambil file itu dengan antusias. Suasana hening beberapa saat karena dua orang penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi tak lama kemudian, salah satu cewek itu berteriak kencang.

“OUUCH!!!” pekik Keiko kesakitan, telunjuknya tertusuk jarum.

“Shoottt….!” Yunna menarik tissue dan menekan erat telunjuk Keiko yang terluka.

“Udah deh, mesinnya diganti ajah. Ga lucu tahu gara-gara mesin tua gitu, tangan elo sampe diamputasi.” keluh Yunna. “Jangan protes, anggap saja itu hadiah buat elo karena uda bantu gw nulis ini. Pegawaiku tidak mungkin bisa menyelesain analisa ini dalam waktu 2 hari seperti yang kamu  lakukan dan dengan akurat pula.” ujar Yunna cepat untuk membungkam Keiko. “Kamu yakin tidak mau kerja di tempatku?” tawar Yunna sekali lagi.

Tapi jawaban dari Keiko tetap sama, hanya gelengan kepala yang mantap. Yunna menghela nafas kesal. Mereka berdua memang sama-sama keras kepala.

“Mau kemana?” tanya Keiko saat melihat Yunna beranjak pergi.

“Mandi! It’s midnight and I’m tired.” sahut Yunna yang terus berjalan ke dalam kamarnya. Membuat Keiko tersenyum melihat gaya Yunna yang kekanak-kanakan.

Di dalam bathtub, Yunna membiarkan tubuhnya dimanjakan sejenak. Rasa pegal di betis karena hak tinggi mulai terasa merenggang. Tapi tidak dengan otaknya yang kusut. Ia harus memikirkan cara agar Keiko bisa segera bekerja. Kalau Keiko menolak bekerja untuknya, Yunna masih punya sejumlah koneksi yang bisa ia pakai untuk membuat Keiko diterima. Tapi ia tidak mau melakukan itu, Keiko pasti akan kecewa kalau tahu ia mengunakan kekuasaannya untuk membantunya. Yunna bangun dengan kesal, karena 30 menit berlalu masih belum ada ide baik yang muncul.

Selesai mandi ia mengacak-acak laci meja kerjanya. Mencari beberapa perusahaan yang pernah bekerja sama dengannya. Saat ia hampir menyerah, tiba-tiba ia teringat. Ia mengambil telpon dan menghubungi Big.

“Big, tolong masukan resume Keiko ke TVB. Kamu sudah punya data lengkap Keiko kan? Cari lowongan yang bagus. Yang gajinya menunjang. Mungkin Creative Director atau produser. Dia berbakat di bidang itu. Pastikan Mrs. Joo membaca resume itu.”

Ia mendengar informasi kalau TVB membuka lowongan saat bertemu Fanny tadi. Kebetulan pas sekali dengan jurusan yang diambil Keiko dan dirinya saat kuliah dulu. Lalu TVB juga mengunakan sistem audisi jadi Keiko tidak akan menuduhnya sudah menggunakan koneksi. Toh, pada dasarnya Keiko tidak memerlukan semua itu. Prestasi Keiko gemilang dan dia cerdas. Kalau sekarang ini dia menganggur itu karena Keiko dikalahkan oleh koneksi saingannya.

Puas dengan pilihannya, Yunna naik ke atas kasur. Baru saja memejamkan mata, ponselnya berdering.

“Hallo!” jawab Yunna kesal.

“Hei, galak amat non. Lagi dimana? Mau pergi tidak?”

Yunna melihat layar ponselnya, ia tidak mengenali suara bariton sang penelpon, sedangkan orang ini terlihat akrab dengannya. Jason Park. Entah siapa cowok itu.

“Hai Jason. Aku sudah di rumah. Siap tidur. Jadi skip dulu yah. Ciaooo….” tutup Yunna malas.

Ponselnya kembali berdering, kali ini Lee, siapa sih? kok ga ada nama lengkapnya.

“Ha.. haloo, bisa bicara dengan Han Yunna-ssi?” sahut si penelpon.

“Yah dengan saya sendiri, saya bicara dengan siapa?”

“Ehm,…. Saya… ehm…”

Yunna mendengar teriakan di latar penelponnya, “Banci looo, katanya akrab sama dia….”

Kapan cowok-cowok ini akan membiarkan dia istirahat. Berhenti mengganggunya, erang Yunna dalam hati.

“Saya tidak tahu anda siapa, tapi tolong oper telpon ini ke orang yang berteriak tadi.” perintah Yunna dengan berwibawa dan langsung dituruti. Ia mendengar suara yang berbeda menjawab telpon. “Hallo.”

“Anda tidak perlu menyuruh orang lain menghubungi saya. Kalau anda masih menyebut diri anda laki-laki dan tidak malu dengan gagang yang mengantung di selangkangan anda.”

Lalu ia mendengar suara telpon diputus. Ada-ada saja. Untuk menhindari tidurnya terganggu, Yunna mematikan ponselnya dan melemparnya ke kolong ranjang. Ia tidak membutuhkan benda itu sampai besok pagi.

Han Yunna, berpenampilan menarik dan memiliki kekayaan pribadi yang membuat orang-orang iri. Ramah pada orang-orang yang dirasa perlu dan tidak segan-segan bertindak tegas bagi mereka yang menganggunya. Ia selalu dikelilingi banyak pemuja atau penjilat kalau kita memakai kacamata Yunna. Ia selalu terlihat di berbagai acara dengan pasangan yang berbeda, membuat dia dikenal oleh media.Tapi dia tidak pernah peduli dengan gunjingan orang.

Keluarganya merupakan orang terpandang. Ayahnya seorang politisi, abangnya pengacara sekaligus  pewaris sebagian besar perusahaan keluarga. Yunna tidak iri dengan hal tersebut. Ia hanya mengambil 2 perusahaan, tapi 2 perusahaan yang akan dicintainya dan dibangun dengan susah payah. Dari keuangan yang minus menjadi perusahaan internasional yang membanggakan.

Ia bisa menjadi luar biasa keras kepala jika sudah menyangkut prinsip hidupnya. Tapi ia juga bisa menjadi begitu lembut pada orang-orang yang menghargainya. Ia hidup untuk dirinya dan Keiko.

Bagi seorang Han Yunna, Keiko adalah saudara perempuaannya, sahabatnya, tempat ia bersandar dan cermin kehidupannya. Hal yang paling penting adalah Keiko dan hanya Keiko. Orang yang berani macam-macam pada sahabatnya itu akan berurusan dengannya. Semua pantas dan wajar jika mengingat apa yang sudah Keiko lakukan untuknya.

Keiko melindunginya dari serangan stalker. Membantunya menemukan semangatnya kembali dalam hidupnya yang membosankan. Membuat dia tidak lagi merasa kesepian. Tapi dia malah membuat Keiko patah hati dengan memperkenalkan abangnya yang tadinya membanggakan namun akhir-akhir ini menjadi super menjengkelkan. Bagaimana tidak, BaeWon menikahi kakak perempuan Keiko alih-alih sahabat Yunna itu.

Lalu hidup seperti tidak adil. Mereka sama-sama lulus. Tapi Yunna bisa langsung bekerja sedangkan Keiko tidak. Keluarga Keiko pindah ke luar negri karena ayahnya dipindah tugaskan. Sedangkan keluarga Yunna sendiri semakin kokoh melebarkan sayap di Korea Selatan dan negara-negara lainnya.

Jadi Yunna memutuskan untuk hidup berdua dengan Keiko meninggalkan segala kenyamanannya. Hanya satu yang tidak bisa ia buang. Pengawal pribadi dan mobil. Itu persyaratan yang diajukan oleh ayahnya kalau dia ingin hidup mandiri. Ia terpaksa menyetujui. Terbukti kedua hal itu sangat ia butuhkan.

Big, pengawalnya amat berguna, karena memiliki kemampuan yang hebat.  Tangan kanan kepercayaan untuk melakukan pekerjaan kotor. Detektif pencari informasi dan tentu saja penangkis musibah. Tapi elbih sering Big menjadi orang yang diandalkannya untuk menemani dirinya ketika ia kesepian atau membutuhkan sasaran kemarahan. Pengawalnya tidak pernah mengeluhkan semua hobby gila-gilaannya yang seringkali membuat Big mempertaruhkan nyawa. Seperti skydiving, cliff climbing dan yang akhir-akhir ini ia sukai reef diving.

Ia memerlukan penyalur adrenalin untuk menghalaunya melakukan tindakan bodoh yang lebih buruk. Big bahkan pernah mengomentarinya kalau ia tidak bisa hidup dengan damai tanpa melihat pertumpahan darah dan sering kali darahnya sendiri. Namun itu tidak menghentikannya, ia menyukai tantangan dan tidak ada yang lebih seru dibanding menantang maut.

Tapi, Yunna berjanji akan menghentikan semua aksi gilanya tersebut jika ia menemukan sesorang yang bisa membuatnya berhenti. Seseorang yang bisa membuatnya mencintai hidup.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 3 – Han Yunna

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s