Chapter 7 – Oh, I thought…

Well I should thought about it anyway. I have made my promise back then, why should I break it now? – Han Yunna

Yunna pasti sedang bermimpi, atau mungkin ia belum sepenuhnya terbangun. Karena tidak mungkin Micky duduk di sofanya, di kamarnya, di hotelnya.

Dimana Big? Kenapa pengawalnya tidak ada di sini? Kenapa pengawalnya itu tidak menghalangi Micky? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Sudah bangun? Big berpesan untuk tidak membangunkanmu sampai jam 8 nanti. Big ada urusan mendadak, jadi dia minta tolong padaku untuk jadi pengawal selama ia tidak ada di samping kamu.”tutur Micky yang semakin membuat Yunna sadar kalau ia tidak mungkin sedang bermimpi.

Yunna memerjam mata sekali lagi. Meyakinkan kalau matanya tidak sedang mempermainkannya. Setahunya, Big tidak mungkin membiarkan orang asing terutama laki-laki masuk ke dalam kamarnya. Micky tetap berdiri bersandar pada pintu, dengan sikap cool. Yunna kesal, karena cowok itu membuatnya tersipu malu. Padahal bukan pertama kalinya ia bangun dengan kehadiran cowok di kamarnya. Tapi tidak ada yang pernah menatapnya seperti Micky. Cowok itu seakan-akan dapat melihat ke balik selimutnya, menembus pakain tidurnya, menelanjanginya. Kulitnya terasa panas oleh tatapan intens cowok itu.

“Mana Big? Kalau yang kamu katakan barusan itu benar berarti kucing bisa mengonggong.” tanya Yunna dengan suara parau, khas suaranya ketika baru bangun tidur. Serak-serak dalam.

Ia masih bersembunyi dalam selimut. Menekan erat linen tersebut ke dadanya, memastikan tubuhnya terbungkus rapat. Ia tidak akan membiarkan Micky mendapat tontonan gratis di sini. Karena pakaiannya amat tidak pantas. Ia mengenakan lingerie setali berwarna hitam setengah paha.

Tapi cowok itu hanya menyeringai sambil tetap duduk mengeloyor di atas sofa.

“Kalau Big memang memintamu untuk gantikannya, mana buktinya?!” seru Yunna lebih lantang. Ia merasa perlu menempat dirinya di atas Micky agar cowok itu tidak bertindak macam-macam.

Dan setelah ia yakin cowok itu memperhatikan peringatannya, ia bangun dari kasur dengan selimut membungkus rapat tubuhnya. Persis seperti korban pelecehan. Ia memang merasa dilecehkan, walau oh tidak, ia tidak sedang berpikir kalau ia bersedia dilecehkan oleh cowok itu bukan?

“Nih, dia meninggalkan surat. Tadinya aku menolak karena aku pikir kamu tidak mungkin tidak mempercayaiku tapi pengawalmu memaksa.” Micky menarik amlop dari saku kemejanya. Mengacungkannya tapi tidak juga beranjak mendekatinya.

Yunna mengibas poninya kesal. Cowok ini memancingnya untuk mendekatinya. Ia tidak punya pilihan lain selain menghampiri Micky jika ia ingin tahu apa isi pesan dari Big.

Ia melangkah dengan tegap dan penuh percaya diri. Ia sengaja membiarkan jari mereka bersentuhan. Kalau ada yang harus deg-degan di sini, ia harus memastikan kalau cowok itu orangnya.

Setelah mengambil surat dari tangan Micky, ia berjalan kembali ke kasur dan duduk di sana. Menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia sama sekali tidak senang mendapati dirinya mengeleyar karena sentuhan singkat tadi. Dan lebih tidak senang lagi karena Micky berpakain rapi dan layak sedangkan dirinya hanya memiliki selimut untuk menutupi diri.

Ia membaca singkat pesan Big yang menyatakan kalau pengawalnya itu harus buru-buru kembali ke Korea. Karena abangnya yang memerintahkannya tadi pagi.

Yunna meremas surat itu dengan geram. Ini tidak masuk akal. Kenapa abangnya mendadak membutuhkan jasa Big? Sedangkan BaeWon memeliki selusin assistent yang lebih baik daripada Big.

Ia mengeluarkan ponsel, langsung menghubungi abangnya.

“Oppa!” seru Yunna, begitu telponnya tersambung. Belum sempat ia bertanya, abangnya langsung menjelaskan sendiri permasalahannya hingga memerlukan bantuan Big. Membuat Yunna semakin cemberut. Ia tidak mungkin membantah sekarang terlebih lagi karena Big pasti sudah sampai di Seoul saat ini.

Ia mendesis dan menyisir poni kesal. Merasa tidak berdaya. Tapi kembali teringat Micky masih ada di dalam kamarnya dan ia tidak ingin terlihat kesusahan tanpa kehadiran Big. Maka ia sengaja mengatakan, “Oke, oppa saranghae

.” pada telepon yang sudah terputus. Ia ingin Micky mengira kalau dirinya sudah mempunyai pacar atau kalau perlu suami. Sehingga Micky akan berpikir seribu kali sebelum berniat macam-macam padanya.

“Sudah percaya?” seringai Micky. Sama sekali tidak bertanya kepada siapa Yunna mengatakan cinta atau siapa cowok yang dipanggil oppa oleh Yunna.

Yunna tidak menjawab, ia kesal karena sepertinya Micky tidak terpengaruh dengan permainanannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi, tapi keluar lagi untuk mengambil baju. Perlu waktu 10 menit untuk menentukan pakaian apa yang cocok dikenakan. Ia menarik rok pensil sedengkul berwarna putih dengan atasan kemeja bermodel kimono dengan pita besar di pinggangnya. Harap maklum kalau dia jadi lambat berpikir, sebab biasanya Big yang menyiapkan segalanya.

“Kamu yakin mau pakai baju seperti itu? Menurut jadwal di sini, kamu harus ke pesta kebudayaan?” Micky mengacung-acungkan PDA hitam yang biasa dipakai Big.

Yunna mencibir kesal, bahkan benda itu juga ditangannya sekarang. Sepertinya Big tidak main-main saat berkata bahwa ia diserahkan pada Micky.

“Kalau begitu coba kamu lihat, dia tulis apa lagi dong.” ucap Yunna sengit. Ia mengipas poninya kesal dengan satu tangan menjepit selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Dia bilang dia sudah memanggil orang untuk merias dan membantu memakaikan kimono. Jam 9. “ Micky melirik jam tangannya, “Jadi kamu punya waktu 30 menit untuk mandi.”

Astaga, Micky terdengar seperti managernya sekarang. Padahal ia selalu membenci managernya itu jika sudah mulai mengatur-atur jadwal hidupnya. Tapi reaksi Yunna amat berbeda. Cewek itu langsung masuk ke kamar mandi dan ia bisa mendengar bunyi kucuran air.

Ia tersenyum lega, dengan menghilangnya Yunna ke dalam kamar mandi ia memiliki waktu untuk menata ualng debar jantungnya.

Ia tidak menyangka jika bisa begitu bergairah hanya dengan melihat Yunna tidur. Ia sudah tiba 15 menit sebelum Yunna terbangun. Waktu yang seharusnya cukup panjang untuknya merasa nyaman dan mengontrol gairahnya. Tapi ternyata ia salah besar, ia semakin tidak sabar untuk membangunkan Yunna dan dengan sengaja memanggil cewek itu tadi.

Tapi malah semakin gawat, ia hampir tidak bisa menyembungikan bukit tinggi diantara selangkangannya jika saja ia tidak duduk mengeloyor. Yunna yang hanya dibalut selimut dengan tali tipis berwarna hitam di pundaknya sama saja baginya dengan melihat cewek itu dalam keadaan telanjang.

Ia menyalakan TV utnuk mengalihkan perhatiaannya dari suara-suara dari dalam kamar mandi. Ia mengerang saat mendengar suara air dan mulai membesarkan volume TV ketika mendengar teriakan nyaring dari kamar mandi.

“MICKY!!!” teriak Yunna dari dalam kamar mandi. “Airnya dingin, aku tidak bisa mandi!!!” protes Yunna.

Spontan Micky tertawa geli, astaga, apa Yunna ini seorang cewek manja? Bahkan untuk menyalakan air panas, cewek ini memerlukan bantuannya. Ia pikir Yunna ini tipe cewek perkasa yang mandiri.

Buru-buru ia masuk ke dalam kamar mandi. Niatnya hanya untuk menunjukkan cara menyalakan Heater. Tapi kalau ternyata ia mendapat bonus dengan melihat Yunna telanjang bulat berdiri di samping shower. Ia tidak mengeluh.

Micky keluar dari kamar mandi seiring dengan teriakan dan lemparan barang dari Yunna,. Cewek itu tidak mengejarnya sampai keluar. Mungkin malu atau mungkin juga malas. Ia tidak tahu, yang pasti ia cukup lega karena artinya ia tidak perlu melarikan diri sampai keluar kamar.

Ia baru melangkah kembali ke sofa ketika teringat kalau dia belum memberitahu Yunna cara menyalakan Heater. Jadi ia melangkah kembali ke balik pintu kamar mandi dan berteriak di depan pintu kamar mandi, “Oper kenop kran ke air panas, biarkan menyala untuk beberapa saat. Nanti air panasnya keluar sendiri!”

Setelah mendengar suara air kembali mengalir, ia duduk di sofa sambil menonton TV dengan colume maksimal. Meredam suara pancuran air yang mulai menganggunya. Apa yang dilihatnya di layar sama sekali tidak membantu. Kenapa disaat seperti ini, ia harus menonton adegan mesra? Ia menganti saluran TV, frustasi karena sebagian besar menampilkan adegan serupa. Bahkan animal planet pun menayangkan dokumentasi pengembangbiakkan Gajah.

30 menit berlalu dengan lambat. Rasanya ia seperti kaset rusak. Setiap beberapa menit sekali mengulang kemolekan tubuh Yunna yang baru dilihatnya. Lalu mengerang dan menghapus ingatan tersebut.

Ia terus membenamkan tinju ke arah bantal untuk menyalurkan hasratnya. Sampai ia mendengar suara air dimatikan dan pintu terbuka. Ia menengok reflek. Yunna keluar dalam balutan bathrobe hotel. Wangi rose menyerbak ke seluruh ruangan. Dengan sanati cewek itu mengusak-usak rambutnya dengan handuk, sambil duduk di depan meja rias. Punggung Yunna terlihat begitu seksi dari sini. Ia buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke TV ketika pandangan mata mereka bertemu.

Walau hanya sedetik pandangan mereka bertemu. Tapi cukup membuat jantung Micky kembali berdebar dengan kencang. Satu detik sengatan yang kembali meningkatkan adrenalin, libido dan pikiran kotornya. Membuat hasratnya semakin bergejolak.

Ia bangun dari tempat duduknya, menuju pintu keluar. Ia menyerah. Kalau ia tidak ingin menyerang Yunna, masuk ke dalam kamar mandi cewek itu, lebih baik mereka tidak berada dalam satu ruangan. Setidaknya sampai cewek itu berpakaian lengkap, hingga ia tidak perlu terus menerus berpikir untuk meniduri perempuan tersebut.

Tepat saat ia membuka pintu, di hadapannya berdiri dua orang perempuan dengan pakaian nyentrik dan menenteng koper-koper kecil. Tampaknya ia mengagetkan dua orang tersebut. Karena salah satu perempuan itu melepas koper tentengannya, hingga terjatuh ke lantai.

Micky membungkuk dan mengambil koper tersebut. Menyerahkannya kembali ke perempuan tadi. Lalu tersenyum ramah. Ia mengenali perempuan ini. Haruka sang stylist yang biasa Fox-T pakai untuk photoshoot cover album mereka. Riasan Haruka bisa soft ataupun artistik. Seorang make-up artist profesional dan pastinya bayarannya lumayan.

“Kamu Micky kan?” tanya Haruka. “Jean, benar alamat yang kamu tulis ini?” pertanyaan Haruka ditujukan untuk assistentnya yang buru-buru mengecek catatan.

“Haruka-san tidak salah alamat kalau memang yang dicari adalah Han Yunna. Orangnya sudah menunggu di dalam.” Micky menuntun Haruka dengan merangkul bahunya sampai ke depan cewek yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Lagi-lagi

“Oh, annyeonghaseyo

, Han Yunna-ssi.” salam Haruka sambil membungkukkan badan penuh hormat. Sikapnya berbeda 90 derajat dengan saat bersama Micky tadi. Membuat Micky heran. Biasanya Haruka tidak pernah sesopan itu malah Haruka yang dikenalnya amat cuek. apa Yunna lebih dari yang diceritakannya kemarin? Seorang pengusaha tidak akan membuat Haruka, orang Jepang yang berusia jauh lebih tua utnuk membungkuk dalam seperti itu.

Ia keluar saat proses mendandani Yunna dimulai. Karena ia memang tidak dibutuhkan di sana. Dan tidak bijaksana jika ia memperhatikan Yunna ketika cewek itu dirias.

Tidak ada tujuan, ia berputar-putar di area shopping selama 2 jam. Tidak ada yang istimewa sampai ia melihat toko kerajinan tangan Jepang. Ia menemukan hiasan rambut yang serasi dengan motif kimono milik Yunna. Ia sempat melihat sebentar tadi saat Haruka-san mengeluarkannya. Hiasan dari bunga sakura yang menjuntai terbuat dari crystal dan dirangkai diatas hairpin kecil. Ia tidak peduli kalau harganya mencapai 12,000 Yen. Ia langsung minta dibungkus dan membayarnya.

Ia tahu ini merupakan pemborosan tapi, menyematkan sesuatu pada Yunna lebih penting dibanding uang saat ini. Ia ingin memastikan untuk meninggalkan kenangan diantara mereka, sesuatu yang lebih konkrit dibanding ingatan.

Micky kembali tepat saat kedua stylist itu sedang mengepak alat-alat yang tadi mereka gunakan. Sedangkan Yunna berdiri menghadap jendela hotel. Dengan rambut disanggul ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang jenjang. Dibantu dengan pantulan sinar matahari, sosok Yunna dari belakang persis seperti seorang geisha. Micky tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Yunna. Lidahnya kaku, lupa berkata-kata.

“Lama sekali.” celetuk Yunna begitu menyadari ia sudah kembali.

Ia menyeringai mendengar celetukan Yunna barusan. Walau berubah menjadi cantik, mulut Yunna tetap sama menyebalkannya. Seringaian di mulut Micky berubah menjadi melongo. Terpana pada kecantikan Yunna. Setelah membalikkan badannya, Micky melihat kalau riasan Yunna cukup normal tidak putih seperti Geisha pada umumnya. Rambutnya juga tidak dihias berlebihan, hanya sebuah sirkam kecil. Sepertinya hairpin yang tadi ia beli bisa dipakai.

Micky mengulurkan tangannya agar Yunna dapat mengapit lengannya tersebut. Cewek ini tidak mungkin berjalan tanpa menjatuhkan dirinya dengan mengenakan kimono panjang, geta setinggi 10 cm itu. Walau Yunna tidak merubah mimiknya ketika mengapit lengan Micky. Tapi ia bisa merasakan cewek itu memeluk lengannya erat-erat. Mengantungkan keselamatannya pada Micky.

Mau tak mau seulas senyum mampir ke bibir Micky. Orang-orang pasti berpikir kalau mereka sepasang kekasih. Ia membusungkan dadanya, bangga karena mengandeng cewek cantik seperti Yunna. Ia bisa merasakan pandangan iri setiap laki-laki yang melihat mereka ketika mereka menunggu mobilnya diantarakan oleh Valet-Boy. Sekali ini ia amat menikmati tatapan orang-orang tersebut. Karena bukan dirinya yang menjadi sorotan.

Tiba di tempat pesta, mereka kembali menjadi pusat perhatian. Para wartawan mengerumuni mereka. Mengambil sebanyak mungkin gambar yang mereka bisa. Mendekatkan diri sebisa mungkin agar dapat melemparkan pertanyaan pada pasangan tersebut. Kemunculan mereka menjadi sensai tersendiri di acara membosankan berjudul “Pertukaran Kebudayaan Jepang-Korea Selatan”.

Reaksi ini wajar mengingat yang tiba adalah Han Yunna, heiress dari Han.Co. Semua orang penasaran, siapa kira-kira yang akan menjadi pedamping tuan putri itu kali ini. Selain tidak pernah didampingi oleh pria yang sama, para pendamping tersebut selalu pria-pria luar biasa yang menjadi rebutan banyak wanita. Pria-pria yang termasuk dalam daftar most wanted man. Alasan lainnya, karena berita apapun mengenai Han Yunna pasti menjamin naiknya jumlah oplah, rating dan penghasilan para wartawan tersebut. Selebritis dunia bisnis.

Bisa dibayangkan betapa terkejutnya para wartawan tersebut, ketika mendapati Micky-Fox-T yang mendampingi Tuan Putri Han. Artis yang sedang naik daun dan menjadi sorotan belakangan ini. Si Mr. Gentlement! Tidak ada yang percaya kalau akhirnya Tuan Putri tersebut akan muncul dengan seorang artis. Daftar pria pendamping Tuan Putri Han tersebut selalu berkisar antara pengusaha, raja minyak, atau putra makhota. Tidak pernah menyentuh dunia entertainment. Ini berita besar!

Yunna cemberut karena tidak senang karena kehadiran mereka telah mengundang sensasi. Kalau saja saat ini Big yang mendampinginya pasti tidak akan menjadi skandal Tapi karena Micky yang ada di sebelah, artis yang baru saja beralih profesi menjadi pengawal, tentu ia akan menjadi sorotan.

Saking gugupnya, ia tidak memperhatikan langkahnya. Ia tersandung karena tidak biasa berjalan dengan geta super tinggi dan lilitan kimononya begitu sempit membatasi gerakan kakinya. Bagus sekali sekarang ia sukses mempermalukan dirinya. Jatuh terjebab dalam balutan kimono dihadapan wartawan.

Oh, dia bisa membayangkan headline berita besok. Han Yunna jatuh terjebam dengan muka terlebih dulu. Lalu video tersebut akan diputar berkali-kali di berita siang, malam dan berita pagi. Abangnya akan kembali menganggap ia anak kecil yang tidak bisa menjaga diri. Papa dan mama pasti akan memintanya mengasingkan diri. Lalu teman-temannya akan mentertawakan dirinya.

Ia memejamkan mata, tidak berani melihat sekitarnya. Ia menunggu suara kedebum dan tertawa mengelegar. Tidak ada. Ia tidak terjatuh, malah ia dipeluk oleh kehangatan yang menyesakan. Lalu ia mendengar bisikan Micky. Otomatis ia membelalakan matanya ketika mendapati wajah mereka hampir bersentuhan.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Micky menggunakan bahasa formal lagi pada Yunna. Ia berhasil menyangga Yunna dengan kedua tangannya. Membuat mereka berpelukan. Ia menyelipkan beberapa rambut di dekat kuping Yunna yang dengan bandel ikut melompat dari sanggulannya. Melemparkan senyuman karismatik sekaligus menenangkan.

Melihat Yunna mengangguk dengan gugup. Ia sadar kalau ia tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki situasi ini, para wartawan akan mencatat bahwa Han Yunna tersandung dalam pengawalan Micky. Sama sekali bukan berita yang ia inginkan. Jadi ia mengeluarkan hiasan rambut tersebut, dan memasangkannya di rambut Yunna. Memberi pertunjukan lain untuk dijadikan berita.

“Nah sekarang lebih baik. Mari kita masuk.” Micky merangkul lengan Yunna dan berbisik memintanya tersenyum. Yunna menurut dengan sigap tidak memprotesnya sedikitpun. Kilatan blitz terus mengiringi mereka sampai mereka menghilang di balik pintu.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 7 – Oh, I thought…

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s