Chapter 9 – Geregetan

“Bisa jelaskan, kita mau kemana?” tanya Micky dingin. Setelah Yunna menyebutkan, “hotel”, ia menancap gas dalam-dalam, membuat mobil melaju di atas 200 km/h.

Perasaannya sedang buruk, amat buruk hampir mendekati tahap marah. Yunna sudah dengan seenaknya meninggalkannya sendiri diantar dua orang paling cerewet yang pernah ia temui. Membuat ia hampir membunuh ibu anak itu karena terus-terusan mengusiknya. Lalu memaksanya untuk tampil bersama di atas panggung, tanpa bayaran, tanpa apa-apa. Kalau bukan untuk menjaga kehormatan dan harga diri, Micky pasti sudah menolak. Malah mungkin ia langsung meninggalkan tempat itu. Semua hanya demi Yunna. Lalu dimana gadis itu?

Saat ia keluar, cewek itu malah sedang dipakaikan kalung dan tersenyum cerah. Membuat Micky makin kesal dan cemburu. Merasa bodoh dan tertipu. Untuk apa dia susah payah selama ini. Merepotkan dirinya dengan berbagai hal yang dibencinya. Sedangkan Yunna malah asyik pacaran!

Semakin dipikirkan semakin kesal jadinya. Mengapa ia mau saja diperalat oleh Yunna? Mengapa dia bersedia melakukan apa yang diperintahkan oleh Yunna dengan senang hati? Mengapa ia percaya kalau Yunna memiliki  perasaan yang sama dengannya?

Ia melirik sedikit untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Yunna. Bagai disiram air dingin, ia membeku di balik kemudi. Yunna sama sekali tidak peduli bagaimana perasaannya. Malah sibuk dengan mengetik entah pada siapa. Mungkin mengirim pesan ke cowok Jepang tadi? Ia memeras gagang kemudinya, menyalurkan kemarahannya. Ia betul-betul merasa bodoh!

Tentu Micky tidak tahu kalau saat itu, Yunna sedang menghubungi Keiko, meminta saran bagaimana caranya menenangkan cowok yang sedang marah. Karena memang selama ini, Yunna tidak pernah terperangkap di posisi harus menyenangkan seseorang selain shareholdernya, yang tentunya bila sudah menyangkut urusan bisnis. Otaknya selalu berhasil memebrinya ide-ide cemerlang. Tapi kalau sudah menyangkut laki-laki. Rasanya buntu.

Ia memang tidak pernah memikirkan apa tindakannya menyinggung pria-pria di sekitarnya atau tidak. Karena ia tidak peduli apakah orang-orang itu tetap berada di sisinya atau tidak. Berbeda dengan situasinya saat ini. Ia tidak ingin Micky marah. Alasan utamanya tentu karena ia memerlukan pendamping, pengawal dan assistant alias pengganti Big. Sejauh ini Micky terbukti sanggup melakukannya. Tidak sempurna tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Ia tidak dalam posisi untuk memilih. Alasan lainnya, ia tidak mau Micky meninggalkannya. Ia menyukai kehadiran cowok ini di sisinya, terlebih lagi ia suka dirinya saat bersama Micky.

Ia menatap ponselnya bimbang. Saran yang berikan oleh Keiko amat masuk akal. Hanya saja, diperlukan keberanian luar biasa. Yunna tidak yakin ia sepercaya diri itu.

“Turun!” seru Micky, ketika mereka sampai di lobby Four Season. Micky mengatakan hal itu sambil tetap menatap lurus ke depan. Mengacuhkan dirinya.

“Micky, boleh ikut turun?” tanya Yunna lebih lembut. Ia sendiri tidak menyangka bisa berbicara sehalus itu pada seseorang. Efeknya lumayan, Micky membelalakan matanya, lalu memerjap-merjapkannya beberapa kali.

Ia tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Ia mendekatkan wajahnya pada Micky, meremas tangan Micky yang masih ada di personaling lalu berkata dengan suara rendah dan lebih sexy, “Please…” Ditatapnya Micky dengan tatapan penuh harap. Membuat cowok itu menelan ludah gugup dan mengangguk seperti terhipnotis. Yunna tersenyum lega, dan membuka pintunya. Menunggu dengan sabar, sampai Micky menyusulnya di lobby.

Ia sempat mengirim pesan pada Keiko, ucapan terima kasih. Sarannya sangat efektif. Di saat-saat seperti ini, mempunyai sahabat yang pemaaf memang amat berguna. Belum lagi Keiko itu seorang impressor terhebat yang pernah dikenalnya. Keiko tidak pernah gagal memberikan first impresion yang bagus kemanapun dia pergi, dengan siapapun.

Micky mengekori Yunna dengan canggung. Masuk ke kamar cewek itu lagi. Karena Yunna tidak mengajaknya bicara, ia juga memutuskan untuk tetap diam. Ia perhatikan cewek itu membuka laptop dan menarik keluar kalungnya yang ternyata adalah USB. Saat ia merusaha menyalakan laptopnya, tiba-tiba dia memekik kesakitan. Membuat Micky berlari menghampirinya.

Ia menduga sesuatu terjadi pada tangan yang disembunyikan Yunna di balik meja. Ia harus berdebat dan memaksa Yunna untuk mengulurkan tangannya. Luka bakar kecil.

“Tadi kamu sentuh bagian mana?” tanya Micky bingung. Ia tidak melihat ada sesuatu di sana yang bisa menimbulkan luka bakar. Diambilnya es batu dari kulkas dan mengompres luka tadi. Kemudian ia mulai memeriksa tombol laptop. Mati total. Sepertinya saat Yunna menyalakannya tadi, terjadi sambungan singkat dan membuat laptop itu mati total.

“Shoot! Sekarang aku harus buka ini dimana?” tanya Yunna lebih panik pada laptopnya dibanding lukanya sendiri.

“Aku ada laptop di rumah.” tawar Micky ragu-ragu. Ia tidak yakin Yunna mau datang ke rumah laki-laki. Seberapapun butuhnya dia. Bukankah Yunna dididik cukup keras oleh keluarganya sebagimana layaknya seorang putri?

“Bagus, kalau gitu kita ke sana. Ini harus segera dibuka.” jawab Yunna mengejutkan Micky.

Yunna memberikan padnya kalung yang tadi ia lihat. Kalung yang diberikan cowok Jepang itu. Ternyata itu adalah flash disk, bukan kalung biasa. Siapa sebenarnya cowok tadi? Kenapa cowk itu memberikan flash disk ini pada Yunna secara sembunyi-sembunyi pula.

“Ky, bisa tolong bantu?” panggil Yunna. Ia menyusul ke kamar mandi setelah mengalungkan flash disk tadi.

“Bisa tolong bantu aku copotin ini?” tanya Yunna mengacu pada kimononya.

Ia berusaha mengosongkan pikirannya saat membantu Yunna melepas kimono. Selapis demi selapis, hingga tinggal lingerie dari silk putih yang menempel ketat di tubuh Yunna. Selama Yunna memakai baju biasa – dress floral dasar putih. Ia bantu mencopot sanggulan di kepala Yunna, termasuk hairpin yang dibelinya.

“Aku suka dengan hairpin itu. Sayang tidak bisa dipakai sering, sering.” puji Yunna saat melihat ia mengamati hairpin yang dibelinya.

Selesai Yunna berganti pakaian, mereka masuk kembali ke dalam mobil. Yunna kembali memintanya mengebut. Agar cepat sampai di rumah Micky.

“Memang isinya apa sih?” tanya Micky penasaran.

“Rumah kamu jauh?” Yunna tidak menjawab pertanyaan Micky. Ia tidak tahu mobil ini cukup aman atau tidak untuk membicarakan masalah perusahaannya. Jadi ia memilih mengalihkan pembicaraan.

“Tidak. Untungnya.” ucap Micky kembali marah. Lagi-lagi cewek itu memperlakukannya seperti orang luar.

Dalam beberapa menit, mereka suda sampai di rumah tempat Micky tinggal bersama teman-temannya dari Fox-T. Sebuah condominium 3 kamar yang dipinjamkan oleh perusahaan agency selama mereka beraktifitas di Jepang.

Fox-T tidak pernah membawa perempuan pulang ke rumah. Kecuali perempuan itu keluarga mereka. Jadi ia cukup mengerti arti tatapan teman-temannya ketika melihat ia datang bersama Yunna. Tapi ia merasa tidak perlu repot-repot memperkenalkan perempuan ini pada teman-temannya. Toh, cewek ini bukan siapa-siapanya juga. Hanya orang yang numpang pinjem komputer, ujar Micky getir. Sebatas itukah  hubungannya dengan Yunna?

Ia memboyong Yunna masuk ke dalam kamarnya. Mempersilahkan Yunna memakai komputernya, sementara ia keluar. Ia tidak terlalu terkejut mendapati dirinya dikepung di ruang tamu. Serta langsung diinterogasi oleh teman-temannya itu. Ia punya waktu cukup untuk memikirkan jawabannya dalam perjalanan singkatnya tadi. Tidak ada yang perlu dirahasiakan di hadapan 4 “saudaranya” ini.

“Siapa? Siapa?” seperti biasa yang paling pertama mengajukan pertanyaan adalah Ben.

“Orang Jepang atau Korea sih?” tanya Max.

“Dia cewek yang kamu ceritaain dulu yah??” tanya Ben polos. Dia memang yang paling polos diantara mereka. Jadi Micky bersabar dan menjelaskan pertemuan dia dan Yunna serta apa yang terjadi hari ini diantara mereka. Sekaligus menjelaskan kalau dia dan Yunna hanya kenalan. Status yang seharusnya bisa ia rubah hari ini kalau saja tidak ada seribu satu bencana menghalangi.

Teman-temannya lalu menanyakan mengenai jati diri Yunna dan karena Micky sendiri tidak tahu lebih banyak dari apa yang sudah ia ceritakan, ia hanya mengulang kembali perkataannya, “Han Yunna, orang Korea, direktur perusahan Han. Co.”

“2 bersaudara. Ayahnya politisi, kadet dari partai … Abangnya pengacara tapi sepertinya lebih fokus di perusahaan keluarga sekarang.” sambung Jack, yang mengundang tatapan kaget dan pertanyaan “Bagaimana kamu tahu?” dari teman-temannya, termasuk Micky.

“Aku pernah bertemu dengannya saat menemani Ayah.” jelas Jack singkat. Micky lupa kalau temannya itu juga punya latar belakang luar biasa. Ayah angkatnya seorang pengusaha sukses.

“Kalau tidak salah denger, perusahaannya yang di Jepang sedang ada masalah. Sepertinya ada sabotase.” ucap Jack, yang lagi-lagi membuat teman-temannya terkejut.

“Dia tidak kelihatan seperti orang yang sedang ada masalah.” gugam Micky.

“Siapa yang ada masalah?” tanya Yunna mengagetkan mereka semua. Ia bersembunyi di balik dinding ketika mendengar namanya disebut-sebut dalam pembicaraan 5 cowok itu. Dan karena penasaran ia memilih menguping pembicaraan mereka. Ia ingin tahu apa pendapat cowok-cowok itu mengenai dirinya. Jadi ia menatap Jack lebih lama, berusaha mengingat siapa orang ini.

“Sudah selesai?” tanya Micky.

“Sorry, ini tetap tidak bisa dibuka. Sepertinya perlu di encrypted. Sedangkan aku tidak mengerti apa-apa.” jawab Yunna malu-malu. Ia tidak pernah bisa mengakui kekurangannya dengan mudah, Tapi ia lebih tidak suka berbohong. Setidaknya bukan kebohongan yang tidak mendatangkan keuntungan.

“Bisa aku lihat?” tanya Max.

Yunna sedikit ragu-ragu, karena ia tidak tahu seberapa pentingnya masalah yang dia hadapi, tapi ia perlu informasi itu. Ia menyerahkan USBnya pada Max. Mereka semua kembali ke kamar Micky. Memperhatikan Max yang mulai mengutak-utik diagram-diagram aneh. Selama berdiri menunggu, ia mengidarkan pandangannya. Memperhatikan tata letak barang-barang di kamar tersebut. Cukup rapi, tidak ada pakaian yang bertumpuk. Ia juga tidak melihat debu di rak pajangan. Kasurnya ada dua. Berarti Micky berbagi kamar dengan salah satu diantara mereka.

“Ada apa?” tanya Micky ketika melihat Yunna yang kelihatannya sedang mencari sesuatu.

“Boleh pinjem kamar mandinya sebentar?” tanya Yunna kembali malu-malu.

Micky menunjukan kamar mandi yang letaknya di luar kamar. Lalu ia sendiri menuju dapur, mengambil gelas berisi air dan beberapa kimbab yang ada di meja. Ia yakin Yunna sama laparnya dengan dirinya. Karena cewek itu sama sekali tidak menyentuh makanan sehariaan ini.

“Kamu yakin itu cukup? Perlu aku masak sesuatu untuknya?” tanya Jack begitu melihat Micky membawa beberapa kimbab sisa makan malam tadi.

“Tidak apa, kelihatannya dia bukan tipe yang doyan makan. Tapi nanti kita tanya saja ke orangnya langsung.”

Panjang umur, cewek itu keluar dari kamar mandi. Micky bisa mencium wangi sabun miliknya ketika cewek itu duduk di sampingnya. Ia mengambil kimbab yang Jack sodorkan dengan terlebih dulu mengucapkan terima kasih dan minta maaf karena sudah merepotkan mereka. Ia perhatikan Yunna kembali ke Yunna yang kaku dan professional.

Kalau dipikir-pikir Yunna selalu bersikap kaku seperti itu, kalau bukan sedang berduaan dengannya. Ia jadi merasa lebih baik. Tapi hanya sesaat karena ia teringat Yunna juga bersikap ramah terhadap cowok Jepang, yang siapa namanya tadi, Meiji? Itu mah, bumbu dapur. Eiji? Eipi?

“Ada apa?” bisik Jack pada Micky, melihat Micky mengerutkan dahi.

Ia mengeleng, menolak memberi penjelasan, lagipula ia tidak bisa menjawab dengan adanya Yunna di sini. Penolakan halusnya malah membuat Jack menatapnya makin bingung, berusaha menebak apa yang sedang ia pikirkan. Enggan membuat Jack ikut pusing, ia melemparkan senyum menenangkan. Meminta Jack untuk tidak khawatir berlebihan.

“Selesai…!” teriak Max girang, membuat semua orang mengerubuninya.

“Apa ini?” tanya Ben serempak dengan Alex.

Yunna membaca kata demi kata di layar. Pekerjaan Eiji memang tidak pernah mengecewakan. Nama setiap orang yang terkait dengan sabotase perusahaannya, bahkan jumlah dana yang mengalir keluar masuk lengkap tertulis di sana. Dengan bukti-bukti ini, orang-orang tersebut tidak dapat mengelak. Ada satu nama yang menarik perhatiannya tapi berhasil ditutupi dengan baik olehnya. Satu nama yang tidak berhubungan dengan dirinya tapi dengan ayahnya.

“Terima kasih.” ucap Yunna singkat. Ia meminta USB-nya kembali dan ijin pamit. Mengucapkan terimakasih pada Max lagi lalu meminta maaf karena sudah menyusahkan mereka. Basa-basi ala Han Yunna yang sudah dilatihnya selama 5 tahun bekerja.

“Tenang saja, Big sudah ada di depan. Tadi aku mengiriminya pesan untuk menjemput di sini. Karena Big sudah kembali, kamu tidak perlu lagi mengawalku.” tolak Yunna meliha Micky berjalan keluar mengantarnya sambil menenteng kunci mobil. Ia pasti terdengar kasar karena memutuskan hubungan di antara mereka seperti itu. Tapi ia perlu secepatnya mengurus permasalahannya. Dan tidak mungkin ia melibatkan Micky. Orang yang jelas-jelas tidak ad hubungan dengan dirinya maupun perusahaannya.

Micky tidak bisa membantah. Ia tidak mempunyai alasan yang masuk akal untuk menahan Yunna agar tidak pergi bersama Big. Jadi ia hanya bisa membalas lambaian Yunna saat cewek itu meninggalkan rumahnya. Menatap mobil mereka menjauh pergi.

“Kamu yakin tidak mau menyusul dia?” tanya Ben yang tahu-tahu sudah ada di sampingnya.

“Nanti menyesel lho.” timpal Max. Ternyata keempat temannya itu sudah berdiri bersamanya semua.

“Sejak kapan kalian di sini?” tanya Micky sinis. Ia merasa tidak nyaman karena tertangkap basah.

“Sejak kamu berdiri dengan tampang patah hati!” ledek Ben. “Sudah dikejar saja.”

“Bener Ky. Ntar kamu marah-marah tidak jelas lagi. Bikin kita ikut uring-uringan.” dukung Alex.

Micky mengeleng. Ia tidak yakin apakah masih akan memberi perubahan kalau ia menyusulnya sekarang. Sehariaan ini ketika bersama Yunna, ia tidak bisa menebak bagaimana perasaan Yunna kepadanya. Ia tidak mau melakukan hal yang sia-sia seperti mengejar cewek itu jika hanya untuk mendengar penolakan. Ia perlu sesuatu yang lebih pasti sebelum memutuskan untuk mengejar Yunna kembali.

“Jangan mengkerut begitu. Kalau memang kamu belum yakin dengan apa yang mesti kamu lakukan, kamu boleh masuk dan memikirkannya dulu. Kita semua siap mendengar cerita kamu.” saran Jack.

“Dia kan udah cerita tadi.” selak Ben.

“Cerita Micky, bukan penjelasan siapa Yunna.” ujar Max memberi penjelasan pada hyung nya yang bolot itu.

Micky menyeringai melihat kebodohan Ben. Temannya yang satu ini memang tidak pernah gagal membuat ia tersenyum.

“Masuk-masuk.” seru Micky, mengajak teman-temannya ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu, di tempat favorite masing-masing. Jack di sofa dengan Alex. Max duduk di lantai brsebrangan dengan Ben. Sedangkan dia sendiri duduk di sofa single. Semua orang menunggunya bercerita.

“AKu harus mulai dari mana?” tanya Micky bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dia ceritakan.

“Mulai dari kapan kamu pertama ketemu dia.” usul Alex.

“Di airport, waktu jemput Mama, kebetulan dia ada di sana juga, membantu Mama yang sakit maagnya kumat.”

“Berarti dari 4 bulan yang lalu.” ulang Max, “Kok kamu tidak pernah cerita?”

“Aku mau cerita apa? Namanya juga tidak tahu.” ungkap Micky jujur.

“Kamu udah naksir dia bahkan sebelum tahu siapa dia?” tanya Jack bingung.

Tak heran, Micky sendiri juga bingung, kenapa dia bisa begitu tertarik pada perempuan yang baru pertama kali ia temui.

“Entah, yang pasti aku penasaran banget siapa itu cewek.”

“Terus? Ketemu lagi di sini?” tanya Ben tidak sabar.

“Aku tahu nama dia pas masih di Korea. Kebetulan dia pernah datang ke kantor kita.” ia menceritakan mengenai insiden Fanny dan pertemuannya kembali dengan Yunna di Jepang. Juga tentang pengalamannya menjadi bodyguard.

“Gila! Ini….” Jack kembali kehilangan kata-katanya.

“Kamu betulan jatuh cinta yah?” tanya Alex lebih terus terang.

“Mungkin. Tapi kelihatannya aku harus menyerah. Dia sama sekali tidak bereaksi terhadap pesona yang kutebar.”

“Tidak ada reaksi bagaimana?” tanya mereka serepak

Micky terpaksa bercerita tentang ia membantu Yunna berganti pakaian. Ia pikir teman-temannya akan sependapat dengan dirinya kalau ia sudah gagal total. Yunna bahkan tidak menganggap ia seorang laki-laki yang bisa melecehkan cewek itu. Ia tidak tahu harus merasa senang dengan kepercayaan yang Yunna berikan atau merasa gagal sebagai seorang cowok normal.

“Lho, bukannya justru dia sedang menguji hyung?” ujar Max. “Maksudnya, dia juga pengen tahu bagaimana pendapat kamu soal dia. Apa dia menarik atau tidak di mata hyung! Cowok normal tidak mungkin tidak melakukan sesuatu saat melihat cewek melepas pakaian.”

“Memang kamu tidak melakukan apa-apa??!” tanya Ben tidak percaya. Micky yang Ben kenal adalah seorang bajingan, perayu wanita dan pemetik bunga. Tidak ada perempuan yang tidak akan disantapnya jika memang Micky inginkan.

“Engga. Aku betul-betul cuma membantunya dia copot kimononya. Malah aku juga liat dia pake baju lagi di depanku.” erang Micky. Sekarang ia menyesal sudah bertindak begitu beradab.

“Ini betul-betul kejadian langkah! Micky tidak meniduri perempuan yang sudah membuka baju di hadapannya!” ledek Alex, mengingatkan kembali kebodohan yang sudah dilakukannya.

“Hei! Aku tidak selalu meniduri setiap perempuan yang melemparkan dirinya padaku!” ralat Micky.

“Tapi kamu menginginkan dia kan?! Jangan berbohong, kita semua melihat dengan jelas bagaimana kamu memandang cewek itu tadi.” todong Jack.

Micky menjambak rambutnya putus asa. Kenapa dia bisa sampai sebodoh ini. Kenapa tidak terlintas dipikirannya kalau Yunna memancingnya tadi. Ia merasa harus menjedotkan kepalanya ke tembok berulang kali agar sadar kembali.

“Sudahlah. Besok, samperin bawa buket bunga dan nyatakan perasaanmu padanya. Tidak ada gunanya kamu mengutuki dirimu sekarang.” saran Jack.

Keesokan harinya saat Micky mencari Yunna kembali, pihak hotel hanya mengatakan kalau Yunna sudah check-out malam tadi. Ia tidak percaya. Bagaimana Yunna bisa merubah rencana dalam waktu semalam? Sekarang ia harus mencari cewek itu mana? Tidak ada yang bisa memastikan kalau Yunna kembali ke Korea.

“Apakah anda bernama Micky?”

Secerca harapan timbul, “Apa ada pesan untuk saya?” tanya Micky penuh harap.

“Han Yunna-san menitipkan ini untuk anda.”

Sang resepsionis menyerahkan amplop padany. Dengan terburu-buru dirobeknya. Apa Yunna meninggalkan alamat atau nomor telponnya? Isi amplop itu berupa selembar cek sebesar 3 juta Yen. Micky menduga itu gaji yang seharusnya ia terima atas pekerjaannya kemarin. Tidak senang dengan isi amplop tersebut. Ia menelpon seseorang di Korea. Seseorang yang akan memberinya informasi keberadaan Yunna saat ini.

Hyung, bisa tolong cari tahu dimana Han Yunna dari Han.Co berada saat ini? Tidak bukan masalah penting tapi cukup mendesak. Orang itu meninggalkan barangnya padaku. Barang yang cukup penting. Aku tidak mau dia kebingungan mencarinya. Terima kasih. Aku tunggu kabarnya.”

Lalu Micky kembali ke teman-temannya. Dan bisa diduga mereka berusaha menghiburnya begitu selesai mendengar ceritanya.
“Sudahlah. Anggap saja tidak berjodoh. Toh masih banyak perempuan lain yang bisa kamu kejar.” ucap Alex simpati.

“Aku tidak mau orang lain. Aku mau dia.” tuntut Micky. Itu pernyataan yang sangat gegabah dan tidak biasa. Tapi sepertinya itu juga pengakuannya yang paling jujur sejauh ini. Ia memang mengingginkan Yunna dan hanya Yunna.

“Jangan terlalu keras kepala. Kalau Yunna betul tertarik sama Micky, seharusnya dia meninggalkan nomor telpon atau setidaknya sesuatu biar Micky bisa menghubunginya.” tambah Alex.

“Tapi bisa saja Yunna mengetest Micky hyung lagi. Toh tidak akan terlalu sulit untuk mencari orang terkenal seperti dia. Terlebih Yunna kan pembisnis, biasanya media pasti akan memberitakan rencana orang berpengaruh seperti dirinya.” bantah Max tidak setuju.

“Menurutku juga begitu. Jadi aku sudah menyuruh orang untuk mencari dia. Seharusnya sebentar lagi sudah ada berita.”

“Kamu menghubungi T.J?” tanya Jack, menyebut salah satu detektif yang dikenal Micky.

“Iyah, aku minta tolong padanya. Setidaknya kalau Yunna memang sudah ada di Korea, aku tidak perlu mengudak-udak seluruh Tokyo.”

“Benar juga. Tapi kalau dia sudah kembali ke Korea bagaimana? Kita kan masih ada jadwal 1 bulan lagi di Jepang.” Ben angkat suara.

“Aku belum memutuskan apa-apa. Yang pasti aku harus bisa menghubungi dia dulu.”

Ponsel Micky bergetar. Semua teman-temannya mendadak terdiam, mendengarkan pembicaraan Micky.

“Hallo, hyung. Oh, orangnya masih di Tokyo?” Micky mengambil ponsel Jack yang kebetulan tergeletak didekatnya, mencatat nama hotel yang ditinggal Yunna sekarang. “Ok, terima kasih banyak hyung. Nanti saat aku kembali ke Seoul, kita pergi minum. Ok. Thanks.”

Teman-temannya tidak menunggu ia menjelaskan apa-apa, tapi langsung menarik ponsel Jack. Lalu membuka pesan yang baru masuk.

“Matsumasa Hotel kamar 204, Yamaguchi.” baca Ben.

“Yamaguchi? Kenapa dia pergi ke sana?” tanya Jack menyuarakan isi hati Micky. Ia juga ingin tahu apa yang terjadi pada Yunna. Kenapa Yunna harus sampai pindah hotel. Tidak ada cara lain selain mendatangi Yunna ke sana langsung. T.J tidak memberi nomor telpon yang bisa ia hubungi.

“Kita tidak ada jadwal mulai besok sore. Mau ke sana?” tanya Alex tiba-tiba.

“Berapa hari?” tanya Max meminta perincian yang lebih lengkap.

“Break 2 hari. Cukup kan?” jawab Alex sambil mengecek jadwal pekerjaan mereka. Selama ini memang yang selalu mengurus jadwal kegiatan Fox-T dengan manager sebelum menyampaikan ke membernya.

“Kita ikut yah. Kita kan juga pengen main ke permandian panas.”

Micky menatap Ben yang sudah memberikan tatapan puppy eyes nya. Ia ragu. Teman-temannya memang tidak akan menganggu tapi juga tidak akan membantunya. Malah bisa jadi, Yunna akan merasa tidak nyaman berada diantara teman-temannya. Di lain pihak, ia juga amat mengerti, teman-temannya ini tidak bisa dihentikan jika sudah memutuskan sesuatu. Jadi, ia mengangguk. Yang kemudian disertai dengan sorak gembira teman-temannya.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 9 – Geregetan

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s