Chapter 4 – Who, siapa?

Atau Dugyu jika mengarah pada MC favorite Yunna.

Pagi ini benar-benar bencana untuk Yunna, ia terlambat bangun, tidak sempat sarapan, mengejar pesawat menuju Tokyo hanya untuk mendengarkan laporan keuangan yang mengerikan. Bagaimana mungkin perusahaannya memiliki begitu banyak pending project? Yunna mendengar penjelasan manager lapangan dengan kepala senut-senut. Tangan terlipat di dada dan muka tanpa ekspresi. Ia terus memperingati dirinya untuk tidak meledak saat itu juga.

“Jadi ada berapa product yang masih belum direlease?” tanya Yunna lagi dengan suara setenang mungkin. Marah atau panik di hadapan anak buahnya hanya akan membuat ia terlihat lemah dan kalah. 2 hal yang paling dibencinya!

“Ada 4. Satu kosmetik line, 2 appareal dan 1 lagi body lotion.” terang anak buahnya takut-takut. Mengerti dengan pasti dirinya akan segera dipecat. Semakin tenang Boss-nya itu bicara semakin gawat situasinya. Itu satu hal yang selalu dicamkan oleh teman-teman kerjannya selama ini.

“Kalian sudah melakukan test produk?” pertanyaan sederhana namun langusng membuat karyawan Yunna mengelap keringat dengan sapu tangannya berkali-kali dan sepertinya nyaris kencing di celana. Yunna tidak ingin melihat insiden lagi jadi buru-buru menambahkan, “Sudah ada consumer yang order? Atau kalian sama sekali belum melakukan pers release untuk semua product tersebut?” tanya Yunna tidak puas walau manager produknya menangguk, sakit kepalanya tambah parah.

Tidak ada yang berani menjawab. Ia menatap anak buahnya satu per satu. Lalu mengambil nafas sebanyak yang ia bisa untuk menenangkan dirinya. Ingin sekali  ia harus membiarkan anak buahnya bertanggung jawab dan belajar menangani masalah ini. Tapi tengat waktu terlalu singkat. Kalau ia tidak ingin melihat angka merah di pembukuannya. Ia harus turun tangan sendiri dan menyelesaikan masalah ini.

“Baik. Kalau begitu, tolong dicatat. Untuk appareal, cukup adakan photoshoot, lempar ke majalah partner, Clothing line kita sudah cukup kuat. Body lotion? Bukannya itu harus sudah direlease bulan Juni kemarin? Kenapa masih ada di sini?”

“Kitagawa-san yang bertindak sebagai penanggung jawab sedang cuti hamil.” jelas sang manager terbata-bata.

“Penggantinya?” potong Yunna ketus.

“Saya… Sa…” ucap manager tadi terbata-bata. Ia bisa melihat dengan jelas butiran keringat yang kembali mengalir di kening si manager. Padahal manager itu berdiri cukup jauh darinya.

Ia menelengkupkan tangannya di atas meja. “Lakukan yang bisa anda lakukan untuk menjual habis Body Lotion itu. Saya tidak mau melihat ada satu botol pun yang tersisa di gudang. Matsuda-san, hidup anda bergantung pada penjualan lotion ini.”

Yunna menatap sang manager tajam, menekankan betapa seriusnya dia saat ini. Last impression selalu lebih kuat tertinggal dibanding segudang kata-katanya.

Lalu ia kembali memberi pengarahan, “Untuk kosmetik, hubungi Han Ga In. Katakan saja pada dia, kalau saya yang meminta ia langsung. Suruh dia datang, tandatangan kontrak. Hubungi Director Kim MinHo untung menjadi producernya. Dalam 1 minggu, iklan itu sudah tayang dan produk sudah lepas ke pasaran. Jangan memberi saya alasan apapun juga. Semua ini bukan hal baru untuk kalian. Dan…” Yunna mengambil jeda panjang, sebelum melanjutkan, “Tidak akan ada libur akhir tahun kalau semua kekacauan ini belum selesai.”

Ia keluar ruangan dengan terburu-buru. Malas mendengar keluh dan protes anak-anak buahnya itu. Bisa-bisa ia melunak dan membatalkan setiap instruksinya tadi. Kepalanya berdenyut kencang. Membuktikan ketegangan yang berlebihan sedang menimpanya. Ia memerlukan suntikan adrenalin untuk menyalurkan denyutan di keningnya kalau tidak ia akan berteriak di sana dan memecat semua orang. Suatu hal yang nantinya akan ia sesali.

Sendirian, ia naik taxi pertama yang tersedia di lobby. Tidak peduli kalau para assistant dan Big berlari mengejarnya. Tidak juga peduli bahwa saat ini ia tidak membawa tas atau ponselnya. Untuk sesaat ia hanya berfokus untuk melarikan diri. Menjauh sebisa mungkin dari kehidupan nyata.

“Selamat Siang, mau kemana, Nona?” tanya sang supir ramah.

“Menuju Beetles. Tolong secepatnya.” unjuk Yunna pada cafe yang berada di daerah Shibuya. Cukup jauh dari kantornya. Cukup jauh dari sumber ketegangannya. Dan kopi di tempat itu biasanya bisa menjadi obat yang manjur untuk membasmi semua kedutan di kepalanya.

Shibuya, distrik yang ramai dan padat dengan pengunjung. Tempat yang tepat untuk bersembunyi. Karena Big tidak mungkin memutuskan untuk langsung datang ke tempat ini dengan adanya puluhan tempat lain yang biasa ia kunjungi ketika suntuk.

Setelah cukup jauh, ia membuka jendela, mengeluarkan tangannya dan merasakan hembusan angin melalui ujung jemarinya. Begini lebih baik. Perasaannya semakin ringan, ketika taxi yang ditumpanginya melaju lebih cepat, membuat hembusah angin mencapai wajahnya, mendinginkan kembali otaknya. Mungkin dia harus menyewa mobil convertible dan pergi mengungsi ke gunung atau bersiar ke Maldives. Kembali berpetualang?

Lamunannya langsung buyar, ketika supir taxi melapor padanya, mereka sudah tiba di depan Beetles. Ia meraba bangku di sampingnya, mencari tas. Tidak ada. Gawat, tadi dia memang langsung kabur. Tasnya masih dipegang Big. Bagaimana ini? Ia meraba dirinya, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membayar ongkos tersebut. Ada gelang, anting dan bros. Ia memutuskan untuk menyerahkan bros yang nilainya paling murah diantara perhiasan launnya. Sebaiknya ia turun dulu, agar si supir taxi tidak  bisa berdebat dengannya.

Sesuai rencana, ia turun dan mengulurkan bros kecil berbentuk kucing dengan mutiara hitam kecil menghiasi badannya. Berharap sang supir akan menerima dengan senang hati. Untuk ongkos yang hanya beberapa ribu yen. Bros nya jauh lebih berarti, setidaknya jika digadaikan berharga 80,000 yen. Tapi sang supir malah ikut keluar dari mobil dan menolak bros miliknya. Membuat mereka berdebat di pinggir jalan.

“Maaf, tapi saya hanya menerima uang kontan.” tolak sang supir.

“Tinggal anda gadaikan, hasilnya 10x lipat dari ongkos yang seharusnya saya bayarankan.” ucap Yunna kesal. Ia mulai mengibas poninya geregetan.

“Tapi saya tidak bisa. Tolong uang kontan saja.” ucap sang supir ngotot.

Yunna mengibas kembali poninya. Kemudian melipat tangan di dada dan menatap si supir taxi tajam. Bagaimana ini, ia tidak punya uang sama sekali. Masa dia harus menelpon Big. Itu sih sama saja dengan menyerahkan diri. Saat sedang bimbang seperti itu, tiba-tiba ada cowok yang datang ke arahnya.

Cowok dengan rambut hitam, berkacamata hitam, jaket hitam dan untungnya tidak bercelana hitam, atau Yunna akan berpikir cowok itu yakuza. Cowok itu mengenakan Noody jeans dan sepatu Louise Vuitton. Maafkan Yunna kalau dia terlalu mempedulikan apa yang dipakai cowok itu terlebih dari wajah si pemakai. Selain karena profesinya sebagai pengusaha di bidang fashion, jarang sekali ia melihat cowok berpenampilan rapi tapi tetap terlihat nakal seperti cowok ini.

“Bayar dengan ini dulu saja.” ujar seorang cowok itu tentunya dengan bahasa Jepang, menyelak di antara Yunna dan supir taxi.

Si supir menyambut lembaran 10,000 Yen dengan penuh berterima kasih dan memberikan kembalian pada cowok itu. Yunna hanya menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia baru saja dibantu oleh seorang cowok tidak dikenal dan berhutang 9,500 Yen pada orang tersebut.

Rasa terkejut dan kesal tidak nampak di raut wajah Yunna. Ia malah dengan tenang menyodorkan bros mutiara tadi pada cowok itu.

“Ini.” ujar Yunna dengan bahsa Jepang yang lebih fasih, tapi tidak meninggalkan keangkuhannya. Ia tahu seharusnya ia bisa bersikap lebih ramah pada penolongnya ini, hanya saja ia tisak suka cara cowok itu menyeringai. Seakan-akan ia adalah tontonan menarik.

Sebalnya lagi, Yunna menjadi penasaran dengan wajah cowok itu. Ini pertama kalinya ia merasa tertarik dengan orang asing dan itu saja sudah membuat Yunna merasa tidak nyaman.

“No, tidak perlu.” tolak cowok itu sopan.

Karena tidak suka berhutang budi, ia mencopot gelang emas putih berbentuk kupu-kupu dan menyodorkannya kembali pada cowok itu. “Apa ini cukup?” tanya Yunna salah paham akan penolakan Micky.

“Tidak, itu terlalu banyak. Begini saja, bagaimana kalau anda menemani saya minum dan kita anggap lunas. Harga secangkir kopi dan cake rasanya cukup seimbang?” tawar cowok itu disertai dengan senyuman yang pasti sudah membuat banyak perempuan bertekuk lutut di hadapan cowok itu. Karena Yunna sendiri nyaris melakukan hal yang sama kalau saja ia tidak dikagetkan oleh suara klakson mobil. Akal sehatnya tidak kembali dalam hitungan detik dan membuatya pipinya merona karena malu,

Malu karena ia merasa seperti anak remaja kembali yang terpesona pada senyuman seorang cowok. Malu karena ia bahkan bertindak konyol dan lupa dirinya masih berdiri di tengah jalan dan membiarkan cowok itu menariknya ke pinggiran.

Yunna berkata disela-sela giginya, “Apa anda sedang merayu saya?”

Ia harus menahan diri untuk tidak menyemburkan tawa. Ia tidak menyangka akan dirayu dengan cara murahan seperti ini dan senang karenanya.

“Kalau diijinkan, Nona.” balas cowok itu tidak malu-malu. Malah tersenyum nakal padanya.

Yunna berhasil mengubah desakan tawanya menjadi senyuman sensual, yang menurut pengakuan cowok-cowok, membuat mereka mabuk. Kalau cowok ini ingin merayunya maka ia akan meladeni dengan senang hati. Ia perlu sesuatu untuk menyalurkan adrenalinnya yang kepalang tinggi.

Dan yang dilemparkan cowok itu jelas sebuah tantangan. Ia ingin tahu siapa duluan yang akan bertekuk lutut diantara mereka. Ia atau cowok itu. Ia juga ingin tahu siapa cowok yang berani-beraninya merayu dirinya. Seorang Han Yunna. Putri konglomerat dan man-killer.

Merasa cukup lega karena tempat yang dituju adalah cafe Beetles. Ia mengenal cafe ini dengan baik jadi dia tahu kemana cowok ini mengiringnya. Di pojok belakang cafe ini, ada taman buku dengan satu meja pendek dan sofa duduk yang nyaman. Bagian depannya tertutup oleh pohon yang rindang hingga tidak akan terlihat oleh pengunjung lainnya. Tidak banyak yang tahu tentang tempat terpincil ini, hanya beberapa langganan tetap dan pencinta kesunyian seperti dirinya. Tentu cowok ni juga, karena buktinya dia tersenyum akrab pada pemilik cafe. Sedangkan si pemilik cafe menatap Yunna canggung.

Ia bisa melihat tampang terkejut Lily, si pemilik cafe saat melihat ia digiring oleh cowok di depannya. Yunna hanya menaikan bahu dan memberi isyarat padanya bahwa keadaan berada di bawah kendalinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Nah, mau pesan apa? Machiatto di sini enak.” tawar cowok itu ramah.

“Sebelumnya bagaimana kalau bapak mengatakan siapa nama anda? Saya merasa tidak nyaman terus menerus menyebut bapak pada orang seusia anda.” potong Yunna mulai mengorek informasi.

“Micky. Rasanya kita seumuran, jadi lupakan saja pemakaian kalimat formal.” ujar Micky sambil tersenyum, ia tidak langsung memanggil waitress. Berbicara dengan cewek di depannya ini lebih penting dibanding tenggorokannya yang haus. Maklum ia baru saja berlari ketika melihat Yunna a.k.a cewek airportnya itu di jalan sedang berdebat dengan tukang taksi. Ia kebetulan sedang mampir ke toko buku di daerah tersebut.

“Han Yunna. Yah sepertinya kita seumuran, anda lahir tahun 86?” tanya Yunna, padahal ia tahu kalau Micky lahir tahun 86. Tadinya ia pikir, Micky akan menyebutkan embel-embel nama Fox-T saat berkenalan. Dan karena Micky tidak melakukannya, ia semakin penasaan. Apa dia tidak ingin dikenal sebagai artis?

“Betulkan dugaan saya.” tanya Micky dengan bahasa Korea. Sepertinya dia tidak mau repot-repot mengunakan bahasa Jepang kembali setelah mengetahui kalau Yunna juga orang Korea.

“Lahir bulan apa? Saya Juni.” jawab Yunna menerima tantangan Micky. Permainan sudah dimulai. Dan mereka mengawalinya dengan bertanding siapa yang lebih tua. Oh, Big pasti akan mentertawakannya karena untuk sekali ini ia berharap ia sangat tua.

“Sama lagi, tampaknya kita cukup berjodoh. Saya tanggal 4, anda?”

“25.” ucap Yunna sambil mencibir. Sebal dia kalah tua. Skor 1-0 untuk cowok itu.

“Kalau begitu kita tidak perlu mengunakan kalimat formal dong? Dan kamu harus memanggil aku, oppa.”

“Maaf, lebih tua 20 hari tidak termasuk hitungan. Tapi saya setuju untuk berbicara informal saja.” tangkis Yunna, tetap tidak mau mengalah. Permainan tetap permainan walau cowok itu lebih tua.

“Untuk sementara, saya terima. Tapi nanti kamu pasti mengakui kalau saku memang lebih tua dan pantas untuk dipanggil oppa.” tuntut Micky.

Cowok itu memanggil pelayan dan mulai memesan minuman untuk dirinya sendiri, Black Taffe Coffee.

“Saya minta Machiatto dan Oreo cheesecake.” ucap Yunna begitu ditanya oleh sang pelayan. Ia memilih minuman tersebut bukan karena usul Micky tapi memang karena itu minum kesukaannya.

Tapi melihat Micky tersenyum penuh kemenangan, membuat Yunna ingin menarik kembali kata-katanya. Sayang si pelayan keburu pergi. Menggil pelayan itu kembali akan terlihat kekanak-kanakan.

“Kamu sering kemari?” tanya Yunna mencoba mencari bahan baru, sesuatu untuk diadu dan barangkali ia lebih beruntung. Bisa menang dari Micky.

“Lumayan, tempat ini kayak oase kecil. Coba dimana lagi bisa menemukan tempat sepi seperti ini di daerah Shibuya.” ujar Micky sambil mengidarkan pandangan ke sekitarnya, duduk lebih rileks.

“Yah, tempat ini memang agak tidak terduga. Banyak buku lagi. Kamu suka baca?” pancing Yunna lebih jauh. Ia mulai merasa kesal, karena ternyata mereka memiliki persamaan. Suka menyepi.

“Kalau dalam bahasa Korea atau English. Aku akan membaca dengan senang hati. Bahasa Jepang kubelum sehebat itu. Masih berjuang untuk menghafal Kanji.” ucap Micky merendah.

Mau tidak mau Yunna tersenyum. Setidaknya ia unggul karena lebih menguasai bahasa Jepang dari Micky. Tapi ia perlu membuktikan hal tersebut sebelum benar-benar merayakan kemenangannya.

Selagi ia mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu untuk dibaca, tiba-tiba ia merasakan tatapan banyak orang. Ia menoleh ke arah jendela dan melihat beberapa gadis berseragam memotret dirinya dan Micky. Salah satu dari cewek itu malah masuk ke dalam cafe.

Dalam hitungan beberapa detik, cewek tadi sudah berdiri di hadapannya. Di hadapan Micky, tepatnya sambil tersenyum malu-malu. Yunna bahkan tidak perlu bertanya apa tujuan kedatangan anak ingusan itu, melihat kertas dan kamera yang dibawa cewek itu.

“Permisi, anda Micky dari Fox-T?” tanya seorang gadis berseragam sekolah. “Betulkan anda Micky dari Fox-T? Boleh saya minta tandatangan dan berfoto?” tanya anak berseragam tadi, tidak menyerah.

Yunna menunggu reaksi Micky penuh minat. Apa cowok ini akan mengaku kalau dia artis atau malah berpura-pura? Sebab setaunya, artis tidak akan menyangkal dirinya. Mereka senang dan haus publikasi. Ia tidak pernah bertemu dengan artis yang menolak dikenali kecuali ketika mereka terlibat skandal, atau berada di tempat dan waktu yang salah.

Melihat situasi mereka sekarang, tidak ada yang patut dicurigai. Ia berpakaian rapi layaknya wanita kantoran. Dengan mudah, Micky bisa menepis bahwa pertemuan mereka hanya sebatas bisnis. Tidak ada yang akan berpikir mereka sedang berkencan atau sebagainya.

Advertisements

One thought on “Chapter 4 – Who, siapa?

  1. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s