Chapter 5 – Bait and Fish

Akan pas sekali jika arti nama Yunna adalah ikan, seperti Miki yang artinya umpan.

Micky tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Yunna di Jepang. Terlebih setelah ia mencoba mencari cewek ini lagi setelah melihat cewek itu di kantor agency-nya. Bahkan teman-temannya tidak ada yang memiliki kontak pribadi dengan Yunna selain nomor dan alamat kantornya. Intel-nya bahkan tidak bisa menembus jaringan perlindungan yang dibuat oleh pengawal Yunna. Padahal selama ini Intel-nya tidak pernah gagal.

Hal ini hanya membuktikan kalau perlindungan dan identitas Yunna lebih ketat dari yang ia duga. Dan ia semakin penasaran untuk mengenal Yunna lebih dekat. Ia tidak pernah sesering ini memikirkan seorang cewek bahkan sampai bermimpi mengenai cewek itu.

Oh, Yunna sering kali mampir dalam mimpi Micky. Dan mungkin hanya itu satu-satunya tema dalam dalam mimpinya sebulan terakhir ini. Jadi bisa dibayangkan betapa senangnya ia saat melihat ada cewek itu sedang berdebat dengan supir taxi. Tidak peduli apa yang menjadi topik perdebatan mereka, ia menghampiri mereka. Lagi-lagi keberuntungan memihaknya, masalah kecil yang melibatkan sejumlah uang receh. Bukannya sombong, tapi hidup mengajarinya pelajaran penting. Segala sesuatu yang bisa diselesaikan dengan uang adalah masalah mudah. Tentu saja juka ia memiliki jumlah uang tersebut.

Berkat selembar 10,000 yen, ia bisa bertemu dengan Yunna. Berkat uang itu juga ia bisa memaksa cewek itu untuk ikut dengannya. Memberi dia kesempatan agar bisa mengenal cewek ini lebih baik. Walau cewek ini duduk di hadapannya, memperhatikannya dengan penuh prasangka.

Ia melemparkan senyumannya yang terkenal maut. Maksudnya agar cewek ini tersenyum balik dan mencairkan kekakuan diantara mereka. Tampaknya pesonanya tidak mempan untuk gadis ini. Cewek ini bahkan tidak mengenali dia yang seorang artis. Memperlakukan dia selayaknya orang biasa.

Ada sedikit perasaan kecewa karena masih saja ada yang tidak mengenalinya tapi lega juga. Lebih mudah untuknya bersikap normal ketika berhadapan dengan orang yang tidak menganggapnya seorang artis. Lebih mudah pula untuk mengenali niat orang padanya kalau mereka tidak mengetahui pekerjaannya itu.

Untuk alasan yang sama, ia tidak menambahkan Fox-T di ujung namanya. Lebih baik Yunna mengenalnya sebagai seorang Micky dibanding si artis Micky. Dengan begitu, ia lebih mudah melakukan pendekatan.  Tapi sekarang, salah satu pengemarnya datang, menodong dirinya untuk memberi tanda tangan dan berfoto. Ia tidak mungkin berkelit lagi.

Ia tersenyum, menerima pen dan menandatanganinya. Senyum komersil yang sudah dilatihnya bertahun-tahun lalu berfoto dengan anak perempuan itu. Bukan kebiasaannya menaggapi pengemar seperti ini. Tapi dengan adanya Yunna di hadapannya, ia tidak bisa menatap galak anak cewek itu seperti yang biasa ia lakukan.

“Apa selalu seperti itu?” tanya Yunna mengejutkan Micky. Rasa terkejut yang wajar karena suara Yunna mendadak terdengar dalam dan menusuk. Ia merasa sedang duduk di ruang audisi dan berhadapan dengan juri akhir.

“Selalu seperti apa?” ia bertanya balik, pura-pura tidak mengerti pertanyaan Yunna.

“Yah, seperti itu. Dikenali orang-orang?”

Pernyataan yang ironis. Orang lain mengenal dirinya, sedangkan orang yang paling diharapkan untuk mengenalinya malah berada dalam kebutaan. Bingung melihat ketenarannya. “Lumayan. Tapi biasanya fans Jepang tidak terlalu agresif.”

“Hidup kamu pasti membosankan yah.” ujar cewek itu sambil tersenyum sinis.

Itu bukan komentar yang biasa dilontarkan orang-orang. Biasanya mereka malah iri melihat ketenarannya bukan malah merasa terganggu. Dan Micky merasa Yunna makin menarik.

Ia tidak memungkiri bahwa terkadang ia juga bosan dan jengah dengan perhatian orang-orang di sekelilingnya. Ia tidak bisa keluar rumah dengan pakaian kumal karena itu pasti mengundang kritikan. Ia tidak bisa memasang wajah masam, sesedih apapun dirinya. Always look presentable. Ia cukup lelah dengan semua itu.

Ia tidak bisa mengatakan kalau ia sependapat dengan Yunna. Jadi ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan, “Kamu sendiri, apa pekerjaanmu? Habis darimana sampai tidak membawa uang?”

“Itu bukan urusan kamu tentunya. Tapi saya tetap berterima kasih untuk bantuan yang anda berikan.”

Micky tersenyum mengenali jarak yang dibuat oleh Yunna. Karena biasanya ia yang membuat jarak tersebut. Dan lagi-lagi ia merasa tertantang untuk menaklukan Yunna. Menghapus jarak tersebut. Tapi sebelum itu, ia harus tahu apa yang membuat Yunna bersikap super sinis padanya.

Dan menurutnya tidak ada cara yang lebih cepat untuk meluruskan masalah di antara dirinyad an Yunna, selain bertanya langsung pada cewek itu. Itu pun jika seandainya masalah itu ada.

“Apa anda selalu seperti itu?” tanya Micky setelah menyesap minumannya. Rasa kopi itu menjadi lebih pahit setelah mendengar jawaban sinis dari Yunna.

“Seperti apa maksud anda?”

Penampilan cewek itu tetap tenang. Micky tidak bisa menebak emosi yang tersimpan dibalik topeng es Yunna. Ia suka teka-teki dan permainan puzzle, tapi tidak tertarik jika harus menebak-nebak perasaan seseorang terhadapnya. Ia orang yang amat blak-blakan, terutama bila menyangkut perasaannya sendiri.

“Jual mahal…” jawab Micky enteng, tanpa merubah ekspresi wajahnya yang tetap tersenyum ramah. Bahkan senyumannya tampak lebih terang dan cerah dibanding sebelumnya. Menyembunyikan semua emosinya yang dengan polos ia tampilkan tadi. Jika Yunna play it cool, ia juga bisa.

Topeng es milik Yunna sukes menyembunyikan parasaan berdebar-debarnya. Sumpah, kalau ia masih anak bau kencur, mukanya pasti sudah memerah kerena malu. Lalu ia pasti akan terpaku dan melogo menatap Micky dengan bodoh. Sepenuhnya terpesona oleh senyum Micky. Tapi sekarang ini, ia adalah Han Yunna yang sudah berusia 24 tahun. Seorang player sejati yang tidak pernah tertalukan dan lebih sering membuat para pengejarnya kebingungan. Bukan dirinya.

Jadi Yunna melemparkan senyuman mautnya, yang kalau menurut surat kabar, senyuman 1juta watt yang bisa membuat semua cowok berubah menjadi patung mimisan. Lalu memulai aksinya. Taktik jual mahal sudah selesai, sekarang babak kedua, mengoda dan memancing.

“Apa saya terlihat mahal?” tanya Yunna sambil membetulkan poninya. Ia menegakkan posisi duduknya, hingga dadanya terlihat lebih busung, dan karena brosnya belum terpasang kembali, belahan dadanya terlihat menyembul sedikit. Ia tahu ia cukup berhasil membuat jantung Micky melompat sedikit, karena cowok itu menegak minumannya. Yunna tersenyum puas dalam hati. Satu sama.

Yunna ikut menyesap kopinya. Ia mulai memotong-motong cake dihadapannya tanpa nafsu. Pikirannya terfokus penuh pada babak berikutnya.

“Apa artinya saya tidak akan mengetahui nama anda?” tanya Micky, setelah berhasil menata kembali perasaannya. Ia memaki dirinya sendiri karena kehilangan ketenangannya saat melihat gaya Yunna yang mengoda. Ia menyadari saat itu juga, betapa berbahayanya situasi tadi jika saat ini mereka hanya berduaan. Ia pasti sudah menerjang dan mencium Yunna.

“Kurang lebih begitu.” jawab Yunna enteng.

Micky tersenyum semuringah. Ia tida pernah merasa selega ini. Ternyata Yunna sedang bermain tarik ulur dengannya. Ia tidak menduga sama sekali kalau ternyata cewek ini terpikat olehnya. Ia pikir, Yunna hanya bersikap dingin. Tapi jelas dari kalimatnya yang terakhir tadi kalau cewek ini memang mengodanya. Memaksanya untuk berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian Yunna.

Kalau sudah begitu, ia tidak perlu segan-segan lagi. Ia mengenggam tangan Yunna yang sendang menusuk potongan kue. Menyendokkannya ke mulutnya.

“Kue ini enak sekali. Kamu tidak mau memakannya?” pancingnya. Ia sangat berharap cewek ini marah dan memelototinya. Ia suka melihat mata cewek itu ketika sedang marah. Rasanya ia seperti tersedot ke dalamnya dan bersedia menjadi hamba. Aneh sekali, apa dia telah menjadi seorang masochist?

“Kalau begitu anda yang habiskan saja!” ujar Yunna kesal.

Cewek ini betul-betul cantik ketika marah. Seperti ada aura merah mengelilingi Yunna. Ia bahkan bisa merasakan pandangan menusuk yang dihujamkan oleh Yunna. Heran, ia malah menikmati semua itu. Semakin Yunna benci padanya, ingatan akan dirinya akan menempel lebih dalam. Kebencian lebih kuat bertahan dalam ingatan seseorang dibanding emosi lainnya.

Jadi tanpa ragu Micky menarik piring berisi cake dari hadapan Yunna ke depannya. Memasukan sendok demi sendok kue ke dalam mulutnya. Bahkan disertai dengan mimik penuh kenikmatan. Rasa nikmat itu bukan berasal dari gigitan kue tapi dari tatapan galak yang dilempar oleh Yunna. Ditambah lagi Yunna menyemprut minumannya buru-buru hingga akhirnya tersedak dan terbatuk-batuk. Ia makin girang.

Mata Yunna menyipit dan memasang tampang cemberut. Membuat Micky tertawa terbahak-bahak. Astaga, betapa mengemaskannya cewek ini. Ia makin ingin mengodanya. Han Yunna adalah perempuan yang menarik. Ia berani menyimpulkan hal ini. Ia juga menjamin kalau dalam hitungan 3 deitk, Yunna akan bangkit dan menamparnya karena sudah bersikap kurang ajar. Atau mungkin menyiramnya dengan sisa Machiato.

Betul saja, Yunna bangkit berdiri dan berkata, “Saya sudah selesai. Terima kasih untuk minuman dan cakenya.” Lalu melemparkan senyum ramah sebelum berbalik pergi.

“Dan kamu mau kemana??” ejek Micky di sela-sela tawanya.

“Itu bukan urusan anda Micky-ssi. Saya sudah mebayar lunas pinjaman saya. Jadi sekarang saya berhak untuk pergi kan?” ujar Yunna kembali menggunakan bahasa formal.

“Oh tidak, tentu saja belum selesai. Sepertinya tadi saya mengatakan dengan jelas kalau saya meminta anda menemani saya minum. Minuman saya masih terisi penuh.” ucap Micky santai. Ia bukan bermaksud untuk menjebak Yunna. Tapi ia rela dianggap sebagai orang yang licik asal ia bisa menahan cewek ini lebih lama. Masih banyak yang ingin diketahuinya tentang Yunna, kecuali bahwa cewek ini mempunyai bibir sexy, mata yang menarik dan tubuh indah.

Yunna berbalik dan melayangkan tamparan ke pipi Micky dalam satu hitungan. Tamparan itu pasti akan sukses mendarat di pipi lawannya, kalau orang itu bukan Micky. Karena dia memang sudah memprediksi hal itu bukan? Jadi ia sudah bersiap dan menangkap tangan Yunna, menarik cewek itu sedikit hingga kepalanya tertunduk cukup dekat dengan wajahnya.

“Ada yang pernah mengatakan pada anda kalau wajah marah anda sangat cantik?” timpal Micky memancing emosi Yunna lagi.

“Lepaskan.” perintah Yunna makin tidak senang.

“Hanya kalau anda kembali duduk.” tantang Micky tidak mau kalah. Ia tidak rela Yunna menginggalkannya begitu saja. Tidak sampai ia mendapatkan informasi dimana cewek ini tinggal atau menginap atau mungkin nomor teleponnya.

Walau Yunna mendecak kesal, ia kembali duduk. Dan menatap Micky garang. Sebalnya cowok itu malah tersenyum puas. Tapi bukan Yunna jika ia tidak bisa membalikan keadaan. Ia segera bangkit berdiri kembali.

“Hei, anda harus menepati janji. Kan saya sudah melepaskan anda.” protes Micky.

“Oh, saya juga sudah menepati perjanjian kita, anda meminta saya untuk kembali duduk bukan? Tapi tidak meminta saya untuk tetap duduk sampai anda mempersilakan saya pergi.” elak Yunna. Membalas Micky dengan cara yang sama. Senyum licik tersungging di wajah Yunna.

Micky melipatkan tangan ke dada, “Oke, terserah. Anggap saja saya sudah memperingati anda. Bersikap kasar pada saya di depan umum sama saja mencari musuh untuk diri anda sendiri.”

Yunna melirik ke sekitarnya was-was. Benar, orang-orang mulai berbisik dan melemparkan pandangan tidak senang padanya. Arggh, kejadian ini akan menjadi alasan lain untuk mencoret daftar idola dari lingkungan pergaulan Yunna. Sakarang ia sedikit mengerti alasan orang lain untuk bersikap hati-hati pada mereka.

Ia menghempaskan pantatnya kembali ke bangku, lalu menyibakkan poninya dengan kesal berkali-kali. “Jadi mau anda apa?” suara Yunna sedikit bergetar karena amarah. Baru kali ini ia merasa amat terpojok dalam permainan yang dimulainya sendiri. Situasi kembali berbalik.

“Bagaimana kalau dimulai dengan menyebutkan anda tinggal dimana?

Yunna kembali melotot. Pertanyaan pertama saja sudah dimulai dengan tempat tinggalnya? Kurang ajar sekali, apa berikutnya cowok ini akan bertanya berapa ukuran BH-nya?

“Tinggal dimana?” tanya Micky tidak menyerah.

“Four Season Hotel no.2412.” desis Yunna.

“Kamu tinggal di hotel?” pertanyaan retorik, “Ke Tokyo ada urusan apa?”

“Bisnis.” jawab Yunna singkat.

“Ayolah, kamu tidak ingin kita berada di sini sampai malam tiba kan? Karena aku aka terus bertanya dan yakinlah pertanyaan ini akan semakin panjang jika jawaban darimu sepenggal-sepenggal seperti ini.”

Yunna tidak tahu mengapa ia percaya begitu saja dengan omongan Micky. Ia menurut dan mulai menjawab dengan sikap yang lebih ramah. Tidak hanya memberikan kalimat-kalimat pendek.

“Urusan Bisnis. Kenal produk kosmetik Crea? Kedatanganku ke Tokyo untuk mengurus cabang yang ada di sini.”

“Kamu ke Tokyo sendiri?” tanya Micky lebih untuk mengetahui status kelajangan Yunna.

“Tidak, aku dantang bersama pengawalku.”

Micky mencibir, ia tidak percaya Yunna benar-benar menyebutkan kata pengawal padanya. “Dan dimana dia? Bukankah seharusnya seorang bodyguard menempel 24 jam dengan objek yang dijaganya kan?” tanya Micky. Ia tahu mengenai hal ini karena dia sendiri mengunakan pegnawal. Tapi khusus hari ini, ia meliburkan pengawalnya tersebut.

“Ketinggalan. Aku terlalu terburu-buru tadi.” jawab Yunna enteng, seakan-akan sedang membicarakan barang yang tertinggal bukannya seorang pengawal profesional.

Micky jadi terbahak-bahak mendengarnya. Cewek ini unik sekali. Gaya bicaranya persis seperti Jack yang seenaknya.

“Tertinggal? Kamu ngomong seakan-akan pengawal kamu itu benda saja. Apa dia amatiran?”

“Tidak! Big bodyguard professional yang sudah terlatih. Hanya saja tindakanku hari ini sedikit di luar kebiasaan. Aku melarikan diri.” Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja. Yunna heran betapa mudahnya untuk berbicara terbuka dengan Micky. Cowok itu begitu menerima dirinya sampai-sampai ia lupa kalau mereka baru saja berkenalan dan bukan sudah bersahabat puluhan tahun.

“Kabur? Memang ada masalah apa?” tanya Micky heran. Seorang bisa sampai kabur dari pengawalnya sendiri, pasti bukan pekara biasa.

Kemudian cerita mengalir dengan mudah dari mulut Yunna. Ia makin terheran, ia bukan tipe orang yang dengan mudah percaya orang sampai-sampai bisa membicarakan masalah pribadinya. Sebagian besar ceritanya hanya akan didengar oleh 2 orang. Big dan Keiko. Dua-duanya sama-sama sudah ia kenal dengan baik. Tapi saat ini, ia membeberkan seluruh masalah yang ia hadapi hari ini selancar Eminem ber-rapping ria.

Micky dengan pandai mengalihkan satu topik pembicaraan ke topik berikutnya. Dari pekerjaan, hobby, keluarga sampai cerita masa kuliah dan SMAnya. Dari sana ia juga tahu mengenai Fox-T dan keluarga Micky. Ia senang mengetahui Micky adalah cowok yang cinta keluarga dan bertanggung jawab. Menurutnya itu poin penting yang harus dimiliki oleh seorang pria sejati. Dan mengapa pula ia peduli mengenai kesejatian Micky?

Mereka terus di sana sampai malam, lupa akan waktu. Sampai Lily memberitahukan kalau mereka akan tutup. Dengan sopan Micky meminta maaf pada mereka dan membayar tagihan. Ia juga membukakan pintu untuk Yunna keluar.

“Jadi pangawalmu yang hebat itu masih belum berhasil menemukan kamu??” tanya Micky meledeknya lagi karena sudah begitu mengembar-ngemborkan mengenai kehebatan Big.

“Tampaknya begitu.” ujar Yunna enggan mengakui kalau Big bisa teledor dan gagal. Tidak biasanya Big gagal menemukan dirinya. Dan itu hanya berarti satu hal, Big sedang mengintai dirinya dari kejauhan. Berdasarkan asumsinya tersebut, Yunna melonggo ke kiri dan ke kanan. Sia-sia, ia tidak bisa menemukan sosok cowok dengan tinggi 190 cm dan berbadan besar.

“Kamu tidak akan menemukan taxi di sekitar sini.” tutur Micky melihat tingkah Yunna. Tanpa sadar ia malah langsung menawarkan diri untuk mengantar cewek itu pulang.

Yunna tidak langsung menjawab. Otaknya sedang memproses beberapa kemungkinan akibat yang akan ia tanggung jika sampai membawa seorang cowok pulang ke tempat ia menginap. Ia cukup di kenal di Hotel tempatnya menginap, secara Hotel itu milik Ibunya. Dan kalau itu belum cukup, ia juga seorang anak politikus dan demi Tuhan, ia masih muda dan single. Kombinasi terbaik untuk menciptakan skandal.

Ia menggigit bibir bawahnya semakin gelisah. Sadar kalau ia tidak tahu nomor telpon Big di Jepang. Semua tersimpan di memory ponselnya. Ia juga terlalu malas untuk menelpon taxi karena ia tidak punya uang untuk ongkosnya. Dan poin terpenting, ia terlalu malu untuk meminjam uang pada Micky.

“Atau mau aku panggilkan taxi saja?” tawar Micky seakan bisa membaca kebimbangan Yunna. Dan memang tidak terlalu sulit membacanya jika cewek itu terus menerus menyisir poninya dan mengigit bibir bawahnya.

Senyum cerah langsung terlihat di bibir Yunna, berbanding terbalik dengan wajah Micky yang berubah kaku. Terus terang ia masih berharap Yunna memberinya kesempatan untuk lebih lama bersama-sama.

“Terima kasih. Ide yang luar biasa sempurna. Besok kamu bisa datang ke Hotel dan mengambil uang yang aku pinjam hari ini. Aku tidak suka berhutang.” tutur Yunna cepat.

Suasana hati Micky langsung berubah senang. Ia masih bisa menemui Yunna besok. Tanpa perlu menciptakan alasan pula. Cewek itu sendiri yang mengundangnya datang.

Mendadak angin cukup kencang menghembus, membuat Micky merapatkan jaketnya. Padahal ini masih musim panas. Ia melihat Yunna mengigil dan bermaksud menyerahkan jaketnya untuk Yunna.

Tepat saat itu, ponsel Micky berdering dan taxi Yunna tiba. Akhirnya mereka berlambai tangan berpamitan.

Yunna sempat menengok sebentar untuk melihat Micky. Cowok itu masih terus berbicara dengan telponnya. Pikirannya terus tertuju pada Micky. Penasaran dengan siapa Micky berbicara karena mereka serius sekali. Malu mengakui kalau ia terpikat oleh cowok yang baru dikenalnya itu. Segala hal yang diceritakan Micky jadi tampak menarik baginya. Ia yakin ia pasti akan tetap mendengarkan dengan konsentrasi penuh walau Micky hanya membicarakan tentang siput dan bekicot. 2 mahluk yang dibencinya.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 5 – Bait and Fish

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s