Chapter 6 – Me and My Big Mouth

Sampai di lobby hotel, pengawal Yunna menyambut kedatangannya di lobby hotel. Menyerahkan surat-surat yang harus ia tanda tangani dan mendampinginya masuk ke dalam lift. Mengecek kamarnya terlebih dahulu sembelum mempersilakan Yunna masuk. Prosedur rutin yang selalu dilakukan oleh pengawalnya tanpa letih.

“Maaf yah Big.” ucap Yunna pada pengawalnya itu. Mereka sudah masuk ke kamar Yunna. Big tidak tidur satu kamar dengannya. Pengawalnya itu mendapat ruangan peersis di sebelah kamarnya. Tapi Yunna memintanya masuk karena masih ada beberapa masalah  yang perlu dibahas. Seperti alasan dan kemana ia pergi tadi.

“Saya betul-betul panik saat mendengar anda pergi sendiri.” erang Big. Hubungan mereka memang cukup dekat hingga mereka tidak lagi menggunakan bahasa formal. Terutama ketika hanya ada mereka berdua. Yunna memaksanya untuk melepaskan formalitas diantara mereka sejak ia mulai bekerja sebagai pengawal Yunna.

“Maaf, aku bertindak impulsif. Kamu tidak melaporkannya ke oppa, kan?” tanya Yunna tiba-tiba panik. Ia lupa betapa setianya Big pada abangnya itu. Sesetia apapun Big padanya, tetap saja Big melaporkan seluruh kegiatannya pada abangnya itu. Maklum, tadinya Big adalah pengawal pribadi abangnya. Nama asli Big, adalah Kang Dong In, Big adalah panggilan yang diberikan Yunna padanya, karena tubuhnya yang tingi besar seperti beruang. Tadinya Yunna ingin memanggil dia polar bear, tapi kesannya jadi imut banget. Yunna membatalkan niatnya tersebut dan kembali memanggilnya Big.

“Tidak, saya tidak mau Tuan muda khawatir. Dia pasti akan langsung terbang kemari kalau mendengar anda hilang, lalu menyibukan seluruh kepolisian Tokyo hanya untuk mencari gadis bandel dengan rambut sebahu yang bersembunyi di cafe dengan cowok tak dikenal. Maaf, cowok terkenal, maksud saya.”

Yunna memasang muka terkejut yang dibuat-buat. “Oh, ketahuan.”

Big tersenyum memandang nona-nya ini. Sudah hampir 10 tahun ini ia mengikuti nona kemana-mana tanpa pernah melepaskan matanya. Hidup di sekitar Nona Yunna jauh lebih menarik, karena Nona nya sering kali bertindak impulsif. Memberikan tantangan tersendiri untuk menemukannya atau ikut berpetualang juga di negara antah berantah. Sejauh yang dikenal Big, Nona Yunna tidak pernah kekurangan pria, tapi ia juga tidak pernah melihat nonanya ini serius menanggapi cowok-cowok tersebut. Ia sedikit mengerti alasan Nona-nya ini tidak tertarik dengan cowok-cowok itu. Semua cowok itu terlalu penurut, terlalu berusaha untuk memberi kesan yang baik pada Nona-nya ini. Hingga Yunna merasa kehilangan minat.

Tidak ada hal yang membuat Yunna lebih tertarik selain tantangan. Selama ia mengikuti Yunna, ia makin sadar bahwa segala sesuatu selalu dianggap sebuah tantangan olehnya. Tantangan untuk membuat perusahaannya berhasil, tantangan untuk menjadi pemimpin yang baik, tantangan untuk tidak jatuh cinta.

“Bagaimana kamu tahu, aku sedang bersama Micky?” tanya Yunna penasaran.

“Jadi namanya Micky?” ucap Big, menangkap Yunna basah. Ia sudah mengorek semua informasi mengenai pria itu saat ia menemukan mereka berduaan berjam-jam lamanya di dalam cafe. Setelah menilai kalau Yunna bersama orang yang cukup aman, ia meninggalkan mereka berdua. Lagipula ia senang melihat reaksi Yunna ketika bersama cowok itu. Yunna jadi terlihat begitu hidup, ia dapat menangkap banyak emosi memancar dari wajah Yunna ketika bersama Micky. Begitu hidup.

Yunna tertawa sumbang, pada sindiran Big yang khas. “Ayolah Big, ada informasi apa yang kamu dapatkan soal dia. Aku yakin, kamu bahkan sudah tahu Micky punya berapa tahi lalat di tubuhnya atau kakinya bau tidak.”

“Dia punya 26 tahi lalat, dan tidak, kakinya tidak bau.” jawab Big dengan ketenangan luar biasa, padahal ia sudah ingin tertawa karena wajah Nona Yunna berubah terkejut dengan gemasnya.

“Aku pikir dia punya lebih banyak dari itu, yakin informasi kamu up to date?” tanya Yunna meledek Big. “Lalu ada info apalagi?” tanya makin tertarik, ia tidak bisa menutupi perasaannya jika dihadapan Big. Lupa kalau dulu pernah ada sesuatu diantara mereka. Ia sudah membangkitkan rasa cemburu di dalam Big. Ia melihatnya dengan jelas di mata pengawalnya itu.

“Apa yang ingin kamu ketahui Aegashi?” tantang Big yang sedikit menjengkelkan Yunna. Ia tidak pernah suka Big memanggilanya seperti itu. Ia bisa mentolerir bila mereka ada di tempat umum. Tapi saat ini mereka hanya berduaan kan.

“Yunna.” ujar Yunna galak, membetulkan ucapan Big.

“Tidak, Aegashi. Karena anda memang Nona Muda yang saya layani.” ucap Big menjelaskan omongannya. Sengaja menarik garis tegas diantara mereka. Mengingatkan dirinya untuk melupakan apapun perasaan yang saat ini sedang kembali mengamuk di dadanya.

Yunna yang sedang membersihkan make-upnya di depan kaca sampai membalikkan badan dan menatap Big lebih serius. “Benar aku memang Nona Muda. Tapi apa aku hanya sekedar nona muda bagimu?” Yunna menatapnya lebih intens.

Big enggan menjawab. Yunna menghampirinya dan merengkuh pipi Big. “Kamu pikir kamu bisa berbohong padaku?” tanya Yunna lalu mengulek-ulek pipi Big gemas.

Big mengenggam jemari Yunna dan menempelnya lebih dalam ke pipinya, membuat Yunna itu terkejut. Tapi karena Yunna juga tidak menarik tangannya, Big merengkuhnya lebih erat. “Aku cemburu.” bisik Big.

“Bagus. Tapi cukup sampai di situ. Kamu masih ingat apa yang aku katakan dulu bukan?”

“Betul, tapi kamu ga bisa minta aku berhenti mencintai kamu.” Big mengantar jari Yunna ke bibirnya bermaksud menciumnya. Namun Yunna buru-buru menarik tangannya. Lalu mundur beberapa langkah, menjaga kembali jarak mereka. Big ingin memberontak, menarik kembali majikannya tersebut ke dalam jangkauannya. Tapi, tatapan Yunna membuat ia mengurungkan niatnya. Ia tidak pernah melihat Yunna terlihat begitu terluka. Ia menyesal sudah mengungkit masa lalu mereka.

“Big, please…. Kita sudah membahas ini puluhan kali. Keputusan aku tetap sama. Lagipula apa sih yang kamu cemburuin. Sepanjang perbincangan aku dengan Micky, hanya ada saling menjatuhkan dan saling mempermainkan.” ia kembali ke meja rias dan membersihkan wajahnya.

Dulu Yunna pernah melakukan kesalahan besar. Jatuh cinta pada pengawalnya ini. Berpacaran lalu berpisah sampai setelah sadar kalau hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Ia menghapus perasaannya dan memaksa Big untuk melakukan hal yang sama itu. Ia mengancam akan memecat Big jika pengawalnya ini tidak mau melakukannya. Setelah masalah yang ia timbulkan dengan Big, ia berjanji tidak akan jatuh cinta lagi, kecuali dengan orang yang sepadan menurut status sosialnya.

“Justru itu yang membuat aku cemburu. Kamu ga pernah ngobrol dengan cowok lebih dari 1 jam. Kamu ga pernah menunjukan emosi apaun pada cowok-cowok lain sebelum ini. Sedangkan dengan dia… Aku tidak perlu menyebutkan apa saja yang kalian lakukan di sanakan? Lalu wajahnya itu, ayolah kamu harus mengakui dia cukup tampan kan?” tuduh Big tidak tanggung-tanggung.

“Yah, Micky memang tampan. Tapi hanya itu.” ia mencibir lalu mengangkat pundaknya. “Kamu sendiri tahu, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Aku terlalu rasional untuk semua perasaan cengeng seperti itu.”

“Benarkah? Kenapa aku malah merasa kamu sudah terpikat olehnya?”

“Oh please, kamu lihat apa sih dari situasi tadi?” elak Yunna disertai dengan tawa sumbangnya.

“Micky humoris, cowok nakal, pandai bicara, dewasa, smart. Belum cukup? Apa aku perlu mengatakan dia bisa bermain piano dan bernyanyi?” tanya Big, dan setiap kali Yunna tertegun, hatinya seperti teriris. Ia tidak memerlukan Yunna untuk menjawab lebih banyak lagi pertanyaan darinya. Cukup jelas kalau Yunna terpikat oleh cowok itu.

“Terus?” Yunna menunjukan mimik tersinggung. “Micky belum tentu tertarik padaku kan? Dia artis, tentunya dia tidak kekurangan perempuan cantik dan menarik untuk dia jadikan pacar. Jadi, berhenti merengut. Aku cape.”

Big mengigit bibirnya. Ia tidak ingin mengantung pembicaraan ini, setidaknya ia ingin mendengar kalau Yunna tidak akan mempertimbangkan cowok itu. Tapi percuma, Yunna sudah menolak untuk melanjutkan pembicaraan. Percuma saja ia memaksa. Alih-alih dia malah akan terkena amukan.

“Big, kemungkinan dia akan datang besok. Tolong berikan 15,000 Yen padanya. Aku berhutang ongkos taxi.” pesan Yunna sebelum Big keluar dari kamar.

“Big…” panggil Yunna lagi, “Aku ga akan mengulang kesalahan yang sama.”

Setelah pengawalnya itu keluar. Ia menatap cermin, menatap bayangan dirinya. Ia tidak berbikir kalau ia yang akan terpikat oleh Micky. Ia akui kalau dia tertarik pada Micky tapi tertarik dan terpikat adalah 2 hal yang berbeda. 2 hal yang seharusnya tidak berjalan beriringan. Karena tertarik plus terpikat hanya bisa menghasilkan satu masalah yang bernama jatuh cinta. Ia terkikik geli.

Oh tidak, bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada cowok norak itu. Artis pula. Bukannya anti, tapi artis identik dengan playboy. Lalu orang tuanya pasti tidak akan menyetujuinya kalau ia sampai berhubungan dengan artis. Tidak, semua yang Big katakan tadi sama sekali tidak berarti apa-apa. Itu hanya permainannya dengan Micky. Perasaan yang ada di antara dia dan artis itu hanya persaingan. Bukan cinta. Ia hanya tertarik untuk menaklukan cowok itu. Karena cowok itu kelihatan begitu sombong. Merasa kalau semua perempuan akan tertarik dan bertekuk lutut di hadapannya.

Ia harus menunjukan pada cowok itu. Kalau masih ada perempuan yang tidak akan termakan oleh rayuan gombalnya. Seorang wanita yang sanggup memainkan permainan yang sama. Malah mungkin, ia lebih licik dari Micky. ia kembali terkikik.

Sudah berapa lama ia tidak sesemangat ini? Lucunya gairah bersaingnya timbul karena cowok itu muncul. Kira-kira Micky ingat tidak yang, dia pernah membantu mamanya? Waktu di pesawat itu ia tidak sadar memperhatikan adik Micky. Dipikirnya cowok itu adalah Micky sendiri, tapi ia segera sadar kalau itu adalah adiknya karena kalau diperhatikan lebih dekat, cowok yang ditemuinya memiliki mata dan rahang yang lebih kecil. Maklum, dulu kan dia juga fansnya Fox-T. Jadi cukup tahulah hal-hal normal seperti ini. Tapi dia tidak akan pernah mengakui kalau dia pernah menjadi pengemar Fox-T. Ini hanya akan menjadi rahasia kecil miliknya sendiri.

Masih dengan perasaan bahagia, Yunna tertidur. Ini pertama kalinya ia merasa begitu nyenyak dan nyaman ketika tidur. Biasanya ia memerlukan bantuan penenang dan banyak hal lainnya untuk membuatnya mengantuk. Otaknya terlalu banyak terkuras untuk memikirkan pekerjaan. Hingga tidak pernah memberinya waktu istirahat yang cukup.

Malam ini, semua berbeda. Bahkan ia bermimpi kembali bertemu dengan Micky dan menikmati perjalan ke pulau tak berpenghuni dan menjelajahi pulau itu berduaan.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 6 – Me and My Big Mouth

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s