Chapter 11 – Festifal Musim Panas

Manisan apel, permainan tangkap ikan mas, kembang api, rasanya belum lengkap tanpa cinta dan persaingan…

Yunna mengusulkan untuk bertemu kembali di lobby. Ia menolak menyaksikan kembali persaingan kedua cowok bodoh itu. Ia menganti pakaiannya dengan kaos, celana jeans dan sepatu kets. Rambutnya juga diikat cepol keatas. Berbeda 180 derajat dengan Yunna yang tadi. Ia bergegas menuju lobby hotel karena hari mulai gelap.

Sampai di lobby, ia melihat 5 cowok dengan tinggi di atas rata-rata, berdiri membentuk lingkaran. Semua memakai pakain casual kecuali Henry yang tetap mengenakan yukatanya. Selera berpakaian Henry memang kolot dan kuno tapi malah terasa cocok dengan wajah Henry. Ia melirik anak Fox-T, mencari sosok cowok yang menghilang di sana. Kemana Micky.

“Cari siapa?” bisik Micky dari balik kupingnya, membuat Yunna menengok padanya. Sedikit lagi, ia mencium pipi Micky. Ia mundur sedikit, memberi jarak aman di antara mereka. Micky juga menganti pakaiannya, celana pendek dari jeans, kaos dan flipflop. Astaga, ia tidak tahu ada artis menyukai flip-flop dan tetap terlihat keren mengenakannya.

“Cari cowok norak.” jawab Yunna asal.

“Oh yah? Rasanya aku tidak pernah mengenal cowok norak. Jadi maaf, aku ga bisa bantu kamu untuk cariin dia.” sama asalnya dengan omongan Yunna. Lalu Micky merangkul pundaknya dan mengiring Yunna berjalan menuju teman-temannya. Hebat, Yunna tidak menepis tangannya. Kemajuan yang melegakan.

“Cuma ada 2 mobil golf, satu mobil cuma muat 4 orang. Jadi siapa dengan siapa?” tanya Max, begitu Yunna dan Micky sampai. Tapi malah mengundang keributan. Henry mati-matian ingin duduk dengan Yunna. Ben tidak mau pisah dengan Max dan Micky, untuk melanjutkan game yang terputus tadi. Jack tidak berkomentar. Sementara Yunna dan Alex hanya menatap kericuhkan di depan mereka.

“Kenapa mereka sampai ribet begitu?” gugam Yunna lebih ditujukan untuk dirinya sendiri, tapi ternyata Alex mendengarnya karena cowok itu menjawab.

“Memang selalu seperti itu, makanya kadang gw juga pusing ngurus mereka.”

“Maaf, gw ga bermaksud untuk meledek.”

“Ga, mereka memang konyol. Tapi karena itu gw sayang banget sama mereka.”

Yunna bisa menangkap rasa bangga dari ucapan Alex. Ia belum mengerti apa yang dilihat Alex sampai segitu bahagiannya membicarakan Fox-T. Mungkin setelah ia mengenal mereka lebih baik? Tapi sebelum itu, lebih baik dia turun tangan menenangkan itik-itik ini. Kalau Alex bisa tahan mendengar kwek-kwekan mereka.

“Stop! Micky, Ben, Max dan Henry karena kalian picky, kalian satu mobil. Gw, Jack dan Alex di mobil yang lain.” perkataan Yunna kembali mengundang kericuhan.

Menyerah, Yunna memutuskan untuk keluar sendiri dan berjalan ke arah mobil. Terserah mereka, deh. Ia menyalakan mesinnya. Cukup berisik, lalu melambaikan tangan pada cowok-cowok itu yang berteriak memintanya kembali. Yunna tertawa puas. Biar tahu rasa mereka. Ia sudah bersenandung riang ketika melihat beberapa orang mengejar mobilnya dari belakang. Ben berhasil menyusulnya diikuti Max dan Jack.

“Buru-buru, biar mereka naik mobil yang lain.” erang Ben. Ketika mereka mendaratkan berhasil mendaratkan pantat mereka dengan mulus di mobil Yunna. Yunna hanya menyeringai dan dngan senang hati menancap gas. Meninggalkan Micky dan Henry yang masih berlari di belakang.

“Bagus-bagus. Biar mereka satu mobil dengan Alex. Sayang Micky kalah cepat, kalau engga pasti mereka sengsara. Alex itu bodoh banget nyetirnya.” tutur Ben super senang berhasil mengerjai teman-temannya.

“Jack, tumben elo lebih cepet daripada Micky?” Max kebingungan melihat Jack lari cepat sekali tadi. Dia saja hampir kalah.

“Micky terlalu peduli sama Henry sih. Jadi ga konsen larinya.”

“Iyah, itu Henry siapa si? Sombong banget!”

Yunna tidak bisa menyalahkan Ben, tampang Henry memang belagu dan dia yakin Henry pasti tidak banyak berbicara tadi.

“Anaknya memang kalem. Maklum, dia rada unik. Tahu nama aslinya? Lin Su Han. Sudah hutan berkayu pula. Beratkan, makanya di lebih senang dikenal sebagai Henry.” cerita Yunna, merasa perlu meluruskan citra Henry.

“Tapi nama Henry sendiri kan berarti … Tidak membantu kalau menurut gw.” tutur Max tidak setuju.

Dan kalau Yunna mau mengakui, memang ada benarnya juga.

“Hubungan Henry sama elo apa sih? Kelihatannya dia posesif banget ke elo?”

“Teman kecil. Calon tunangan. Ortu gw berusaha jodohin gw ke dia.” ungkap Yunna malas.Tapi kalau tidak dijelaskan malah makin ribet. Tindakan Henry ketara sekali tadi. Memelototi dia dan Micky saat cowok itu merangkulnya tadi. Yunna sih senang-senang saja, karena artinya dia berhasil membuat Henry tahu kalau ada cowok lain yang ia pertimbangkan untuk menjadi pacar.

“Jaman sekarang masih ada perjodohan? Kalau omiai gw pernah denger.” tanya Jack. Ia yang juga berasal dari kalangan atas, sedikit mengerti situasi yang dialami Yunna.

“Kita ga punya banyak pilihan jika sudah menyangkut Jodoh. Banyak yang menikah untuk kepentingan bisnis. Sebagai anak, apalagi anak perempuan, kita lebih dituntut untuk menerima perjodohan. Tapi itu tidak berlaku untuk gw. Setidaknya ga akan semudah itu untuk memaksa gw menerima perjodohan.“

“Apa perlu bantuan kita? Dengan senang hati kita akan membuat Henry pulang ke rumah orang taunya. Sekali-kali anak mama sepertinya perlu diberi pelajaran.” tawar Max.

“Tidak perlu, gw bisa menangani Henry dengan baik. Gw ga mau menyeret kalian ke masalah ini. Bagaimanapun juga Henry anak orang yang berkuasa, dia sanggup mengencet kalian atau keluarga kalian. Kalian pernah nonton Boys of Flower? Nah kurang lebih Henry itu sekelas So Ji Yung ditambah dengan uang yang lebih banyak.” Yunna tidak main-main ketika membicarakan status Henry. Teman kecilnya itu memang powerful dan berduit. Ia sering mendengar dari papa kalau ayah Henry mengambil alih perusahaan-perusahaan dengan cara yang tidak terpuji.

“Yah, kalau memang perlu, jangan segan-segan. Kita dengan senang hati membantu, yah ga Ben.” ulang Max, mengingatkan Yunna.

Mereka sudah tiba di ujung jalan tempat diadakan bazzar. Dari sini, mereka harus jalan kaki. Yunna turun berikut dengan yang lain. Menunggu kedatangan mobil satunya lagi. Herannya, selang 15 menit berlalu, mobil itu masih belum tampak juga.

“Mereka dimana sih? Micky tidak mungkin membiarkan Alex menyetir, kan?” tanya Ben resah. Ia cukup mengenal teman-temannya itu dan kadang Alex bisa cukup memaksa. Ditambah lagi, ketuanya itu pasti memilih untuk turun tangan jika dua orang arjuna cinta itu kembali ribut memperebutkan kemudi.

“Ini lagi gw telpon. Alex ga angkat-angkat. Apa gw perlu telpon Micky?” tanya Jack pada teman-temannya.

“Ga perlu, itu mereka sampai.” unjuk Max ke mobil golf yang berjalan pelan menuju tempat mereka.

“Itu Henry yang nyetir? Kenapa jalannya kayak siput begitu?!” tanya Ben sampai memicingkan matanya. Apa yang terjadi? Apa kedua temannya itu tidak bisa melawan anak mami itu? Jangan-jangan dia memang perlu turun tangan untuk menghadapi Henry.

Sepertinya yang berubah dari Henry bukan cuma penampilannya. Tampaknya dari segi mentalitaas, Henry sudah lebih berani. Ia jadi penasaran. Di setiap festifal ada rumah hantu kan?

Akhirnya, Micky, Alex dan Henry bergabung dengan mereka. Yunna mendengar bisik-bisik Alex yang bercerita pada Jack. Henry memohon pada mereka untuk mengijinkannya menyetir. Katanya dia tidak pernah mengendari apapun juga selama hidupnya. Tidak bisa menyetir? Ia masih ingat dengan jelas mereka berdua sama-sama mengambil kelas mengendarai mobil saat di Washington dulu. Apa Henry juga berubah menjadi licik? Mungkin dia harus lebih hati-hati menyiapkan rencananya.

Karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Yunna tertinggal di belakang. Tapi ia tidak takut sampai tersesat, setiap kali menoleh, ia bisa menemukan Micky dengan mudah. Entah karena cowok itu begitu mencolok dengan kaos kuningnya atau Micky sengaja jalan berlambat-lambat hingga ia bisa mengejarnya. Mereka berhenti di papan pukulan.

“Ayo taruhan. Siapa yang paling kuat? Yang kalah, traktir makan takoyaki.” tantang Ben. Tidak perlu diragukan, cowok-cowok pasti langsung terpancing untuk berpartisipasi. Lagi-lagi Yunna terkejut, Henry ikut mengacungkan tangannya.

Permainan pukulan ini menggunakan palu dari kayu dan pin. Semakin kencang pukulannya, semakin tinggi pin itu terbang. Top hit di angkat 200.

“Skor tertinggi hari ini adalah 180. Kalau ada yang bisa melewati rekor tersebut, saya akan memberikan bonus. Makan malam untuk 2 orang di Laluna.” tutur si penjaga permainan.

Semua mengangguk setuju, dengan adanya rekor untuk dilewati, mereka semakin tertantang. Yunna tidak mau kalah, ia juga mendaftarkan diri.

“Khusus untuk perempuan, kalau melewati 160, saya akan memberikan gelang pasangan ini. Buatan istri saya lho. Katanya manjur untuk mengikat cinta.”

Yunna tersenyum mendengar hadiahnya. Ia tidak percaya hal-hal semacam itu. Tapi daripada tidak mendapat apa-apa. Karena dia perempuan, ia diberi kesempatan untuk memukul lebih dulu. Yunna mengayunkan palu tersebut membentuk satu lingkaran penuh dan menghantam pin tersebut terbang. 160 persis dilewati oleh Yunna. Membuat para penonton menyorakinya. Ia tersenyum malu-malu. Sejak kapan orang-orang berkumpul di sekeliling mereka. Ia melihat beberapa orang disana memotret Fox-T. Yunna mencibir. Benar, dimana ada Fox-T pasti ada nyamuk penguntit. Kenapa dia bisa lupa hal sesederhana itu.

“ Ini hadiahnya. Kecil-kecil kuat juga yah.” tutur si penjaga, membuat muka Yunna merah padam.

“Sekarang giliran gw!!!” seru Ben tidak sabar. Ia bergaya dulu dan melemparkan ciuman ke arah penonton dan meminta mereka menyorakinya. Yunna sampai geleng-geleng kepala melihat aksi konyol Ben.

“GO…GO….GO…..” teriak BEn ketika pin terbang dengan kecepatan tinggi. sayangnya begitu menyentuh angka 190, langsung turun dengan cepat.

“Yaaaaahhhh….” erang Ben dan penonton.

Alex dan Jack juga mencoba. Masih belum berhasil. Hanya melewati angka 185. Giliran Micky.

“Gw rasa gw ga akan melewati 170.” ucap Micky merendah. Lalu palu diayunkan. Bukan rekor yang baik, 180.

“Tenang kita masih ada Max. Magnae kita bisa diandalkan kalau masalah tenaga.” ucap Ben menghibur.

Henry maju lebih dulu atas desakan anak-anak Fox-T. Semua terlihat tegang ketika Henry mengayunkan palunya. Berharap pin tidak akan melampaui 180. Dengan demikian prestasi mereka tidak terlalu memalukan.

Setelah bunyi keras terdengar akibat hantaman palu Henry, pin melesat tinggi.

“190…… aaah, sayang sekali sedikit lagi padahal…” erang si penjaga stand memberi semangat.

“Giliran gw yah.” ucap Max tenang. Ia merenggangkan otot-otot tangan dan pinggangnya. Sekarang permainan ini berubah menjadi serius. Nama Fox-T sedang dipertaruhkan sekarang. Ia tidak mungkin membiarkan Henry itu lebih unggul. Ia mengayunkan palu itu beberapa kali sebelum menghantam sasarannya. Yunna dan Fox-T menahan nafas sekejap lalu berteriak ketika bendengar bunyi ding.

“Dua ratus… Dua ratusss!!!” seru penonton berikut Yunna.

Ben memeluk Max begitu juga dengan member lainnya. Merayakan kemenangan Max.

“Hebat… Kalau begitu sesuai janji, saya berikan tiket diner ini. Silahkan digunakan.”

Max mengucapkan terima kasih untuk hadiah yang dia terima. Lalu Fox-T sepertinya masih senang berhasil mengalahkan Henry. Mereka terus berteriak-teriak, menyelamati Max.

“Sekarang kemana?” tanya Ben, belum puas bermain.

“Tangkap ikan, tangkap ikan…”

“Boleh, bleh. Siap yang berhasil duluan, ditraktir sama yang kalah. Jadi cuma 1 pemenang.”

Tidak ada yang membantah. Berlari serentak menuju stand tangkap ikan, mengelilingi kolam kecil dan siap dengan jaring masing-masing. Karena tidak bisa semua sekaligus. Maka mereka membagi diri menjadi 2 kelompok.

“Sesuai dengan kelompok mobil lagi saja.” usul Alex dan disetujui oleh semua orang. Jadi, Jack, Ben, Yunna dan Max turun duluan. Masing-masing memiliki 3 kesempatan. Tidak ada yang berhasil kecuali Yunna. 1 ikan kecil berwarna orange yang bisa dibawa pulang. Giliran Micky, Henry dan Alex. Sesuai dugaan Ben yang bisik-bisik dengan Max dan Jack, Alex gagal duluan. Menurut mereka, Alex tidak sabaran dan kasar. Jadi jaring Alex pasti cepet jebol. Tinggal dua cowok ulet itu. Henry sudah kehilangan 1 jaring, karena dia memaksa menangkap ikan yang cukup besar. Micky kemudian menyusul kehilangan 2 jaring sekaligus.

“Gimana, kalau diantara mereka ada yang lolos, apa pemenangnya diadu lagi?” tanya Jack yang melihat kemungkinan tersebut.

“Ga usah, kita kasih tiket ini aja. Kan pas 2 orang.” usul Max, mempertaruhkan hadiahnya.

“Tapi itu kan hadiah elo, ga sayang?” tanya Ben, tidak biasa melihat Max menyerahkan makan gratis, tapi Max mengedip padanya dan ia cukup mengerti kalau Max sedang mengakali agar Yunna dan Micky berduaan. Kalau begitu, ia juga harus melakukan sesuatu agar Henry gagal.

Yunna melihat semua itu tapi memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Serahkan pada nasib sajalah. Kalau dari pengalamannya, Henry pasti gagal. Dia akan terlalu tegang di saat-saat terakhir. Sedangkan Micky, ia tidak cukup mengenalnya untuk mengetahui batas kesabaran cowok itu.

“Dapat, dapat, dapat..” teriak Micky, mengagetkan semua orang. Henry sampai gemetar dan plash, habis sudah jaringnya yang terakhir.

“Jadi, Yunna dan Micky pemenangnya?” Jack mengumumkan.

“Betul, karena kita pelit, jadi tiket ini gw oper ke elo orang. Mohon digunakan sebaiknya…” ledek Max.

“Wah ga bisa begitu dong, kan perjanjiannya 1 orang doang.” protes Henry, mencium ada yang tidak beres.

“Kalau gitu kita pungut suara.” usul Ben. Sudah pasti anak Fox-T mendukng ide mereka dan Henry terpaksa manyun sendiri.

“Hen, kamu pengen makan di sana? Apa aku kasih tiket aku ke kamu aja?” ucap Yunna penuh perhatian. Tidak terdengar nada sindiran sama sekali.

Tentu saja Henry menolaknya. Semua juga tahu kalau yang diinginkan Henry bukan tiket makan malam tersebut, tapi kesempatan makan berdua dengan Yunna.

“Jadi, kemana lagi?” tanya Yunna.

“Rumah hantu!!” seru Ben kemudian menarik lengan Max. “Max, elo harus cari akal untuk nahan Henry di dalem. Ntar bias Jack yang nahan pasangan itu di luar.” bisik Ben sambil berlari. Max mengedipkan matanya agar tidak ada yang menyadari pembicaraan mereka. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat ini selain mengerjain Henry. Ia tidak pernah suka dengan orang yang memandang remeh orang lain karena status.

Yunna yang berjalan di samping Micky, memperhatikan dua cowok itu dari belakang. “Sepertinya teman-teman kamu sedang merencanakan sesuatu.” bisik Yunna. Ia tidak ingin Henry mendengar. Walaupun saat ini Henry sedang terlibat pembicaraan serius dengan Jack.

Micky menyeringai, ia juga berpikir akan hal yang sama. Yunna cepat sekali mengenali watak-watak teman-temannya ini. Apa mereka semudah itu ditebak? Apa Yunna juga tahu apa yang sedang dipikirkannya?

“Gimana kalau kita skip saja petualan rumah hantu ini dan membeli manisan apel itu?” tanya Micky  cukup mengejutkan Yunna. Sedari tadi dia memang celingukan mencari stand penjual manisan itu. Tapi rasanya dia tidak terlalu terang-terangan.

“Bagaimana dengan Henry?”

“Sepertinya teman-teman aku sudah mengatur sesuatu untuk dia. Kamu tenang saja, temanmu itu akan diperlakukan dengan baik.” gurau Micky sarkastik.

Maka berpisahlah mereka dari rombongan. Membeli manisan apel, memesan takoyaki yang membeli beberapa kincir angin. Yunna senang sekali malam ini.

“Kamu tahu apa yang kurang?”

Yunna mengibas poninya, ia tidak tahu apa yang kurang. Semua yang ia inginkan sudah ada di sini. Makanan, mainan, Micky…

“Petasan. Tapi jangan takut, aku tahu tempat yang tepat untuk melihatnya.” ujar Micky, lalu mulai menarik Yunna menuju taman di dekan danau. Jauh dari orang-orang. Mereka berlari cukup kencang. Membuat Yunna terengah-engah. Entah apa tujuan Micky membuatnya berlari malam-malam. Tapi ia merasa lega dan plong. Dadanya terasa lapang. Yang tersisanya hanya eurofia. Letusan kembang api mulai terdengar dari seberang. Tapi Yunna tidak bisa memalingkan wajahnya dari cowok di hadapannya ini.

“Bagaimana, tempat ini sempurnakan?” tanya Micky masih tersenggal-senggal dan memicingkan matanya untuk melihat ke arah langit-langit. Dia menengok melihat Yunna, karena cewek itu tidak menjawab. Cukup terkejut ketika mendapati Yunna menatapnya dengan ia tidak tahu bagimana menjelasan tatapan Yunna itu. Tapi rasanya ia tersedot ke dalam dan tidak ingin melepaskan diri.

Waktu seperti berhenti ketika mata mereka terpaut. Ia tidak tahu siapa yang memulai terlebih dulu. Mungkin dirinya, karena dia lebih tinggi dari Yunna, tapi cukup dengan maju satu langkah dan memiringkan kepalanya sendiri, bibirnya sudah mendarat di bibir Yunna.

Bibir Yunna terasa lembut, basah dan hangat. Ia menyelipkan tangannya ke rambut Yunna yang halus. Menahan kepala Yunna agar nyaman ketika berciuman. Dari kecupan ringan berubah menjadi ciuman panjang dan memabukan. Ia tidak tahu berapa lama mereka saling bertaut hingga ia merasa limbung. Ia menarik diri sedikit dan membuka matanya. Ia tidak sadar sudah memejamkan mata. Padahal selama ini ia tidak pernah memejamkan mata ketika berciuman. Astaga, sebesar itukah perasaannya pada Yunna?

Yunna membuka matanya saat mendengar Micky minta maaf. Ia mengerutkan dahi, kenapa Micky harus meminta maaf? Apakah ciuman dengannya begitu buruk, lalu kenapa ia merasa terhanyut di dalamnya. Apa hanya dia yang menikmati ciuman ini?

Terluka, Yunna membalikkan badan dan berjalan menjauh. Jadi benar dugaannya. Micky tidak ada perasaan khusus untuknya. Ciuman tadi hanya terbawa suasana. Tidak berarti apa-apa. Yunna tidak mau memikirkan lagi masalah ini. Tapi kenapa hatinya terus merasa pedih.

Ia terus berlari, kembali ke arah mereka datang. Tidak peduli Micky mengejarnya dari belakang. Berteriak memintanya memperlambat kecepatannya. Dia tidak ingin mendengar alasan Micky. Cukup ia megnetahuinya. Micky tidak perlu berkata langsung padanya, kerena itu akan jauh lebih menyakitkan. Ia baru berhenti, ketika merasa lengannya ditarik.

“Hei, ada apa?” tanya Henry.

Buru-buru Yunna menghapus air matanya dan tersenyum. “Tidak apa-apa, mungkin alergi dengan bubuk mercon. Kamu kan tahu aku dari dulu sensitif.” karang Yunna. Padahal alerginya sembuh ketika ia beranjak dewasa.

“Kamu mau pulang duluan?”

Yunna mengangguk dengan cepat lalu mengikuti Henry menuju ke mobil. Kunci mobil masih di tangannya jadi mereka bisa segera berangkat tanpa perlu menunggu yang lain. Dan Yunna tidak peduli.

“Kamu mau kemana??” seru Micky. Akhirnya dia berhasil mengejar Yunna. Heran cewek ini larinya cepat sekali.

Yunna tidak menjawab, malah buru-buru menyalakan mesin mobil. Micky tidak menyerah, ia berdiri di hadapan mobil Yunna. Menghadangnya. Ia tidak peduli Henry menatapnya bingung. Atau menjadi tontonan banyak orang. Ia harus menjelaskan kesalahpahaman tadi dengan Yunna. Ia tidak akan membiarkan cewek itu pergi dari sini. Walau ia harus mempertaruhkan badannya.

“MINGGIR!!!” bentak Yunna, matanya sudah hampir meloncat keluar karena kesal.

“Tidak, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu!” erang Micky. Sebenarnya yang paling baik adalah masuk dan duduk di dalam mobil ini. Tapi dia tidak bisa mengambil resiko meninggalkan posisinya sekarang. Bisa saja Yunna langsung menancapkan gas dan melaju pergi.

“MINGGIR!!! atau aku akan menabrak!” ancam Yunna.

“Benarkah?” tantang Micky. Ia mundur sedikit memberi jarak untuk Yunna. Yunna memberinya tatapan membunuh. Entah, dia sudah gila atau sinting barangkali. Tapi ia malah makin jatuh cinta. Mata Yunna ketika sedang marah, mengkilat-kilat dengan indahnya.

“FINE!!! Kamu mau ngomong apa?!” erang Yunna menyerah.

“Kamu harus turun dari sana, kalau memang ingin bicara denganku.”

Dengan bersungut-sungut, Yunna turun dari mobil, menghampiri Micky. Cowok itu juga tidak menyia-nyiakan waktu, menariknya menuju tempat sepi. Tapi karena mereka sudah menjadi tontonan dan mereka juga mengenali Micky, mustahil untuk mendapat tempat sepi sekarang. Seaakan tidak peduli, Micky terus menyeretnya berjalan menuju hotel.

“Ky, sakit, Ky…” erang Yunna sepanjang jalan. Genggaman tangan Micky terlalu erat. Ia bisa mendengar suara mobil mengikuti mereka. Mungkin Henry berinisiatif mengekori.

Micky tidak berhenti di lobby hotel, tapi terus menariknya ke arah pondokan. Begitu pula dengan Henry, walau ia tidak menghentikan pasangan di depannya itu. Dia terus mengikuti.

“Hen, tolong tinggalin kita berdua!” perintah Micky. Ia tidak membutuhkan kehadiran orang yang jelas-jelas akan menggangu pembicaraannya dengan Yunna. Ia memberi tatapan menengancam untuk menunjukan keseriusannya.

Henry bergantian menatap Yunna dan Micky. Ia tidak mengerti apa yang terjadi diantara dua orang ini. Tapi ia tidak ingin meninggalkan Yunna. Sepertinya Micky yang sekarang sudah kehilangan ketenangannya. Berbeda dengan Micky yang sedari tadi dengan santai menanggapi kompetisi yang disulutnya.

“Ga apa, Hen. Tinggalin kita dulu. Kalau terjadi apa-apa dengan aku toh kamu tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” sindir Yunna. Ia mengibas poninya. Tidak terintimidasi sama sekali.

Henry lupa kalau Yunna ini bukan cewek biasa yang bisa dengan seenaknya ditindas. Lagipula apa yang dikatakan Yunna tadi cukup masuk akal.

“2 Jam. Kalau dia tidak kembali ke kamar dalam waktu 2 jam. Aku akan membuat perhitungan denganmu.” ujar Henry memberi peringatan. Lalu berjalan kembali ke arah Hotel. Ia menunggu di lobby sampai teman-teman Micky datang. Hanya Max dan Jack yang menampakan batang hidungnya. Alex dan Ben tidak tahu ada dimana.

Kemudian Jack memberitahunya kalau dua orang itu belum puas bermain, jadi memisahkan diri untuk mencari mainan baru. Biasanya di hotel permandian air panas punya beberapa sarana olaraga selain gym.

“Dimana Yunna dan Micky?” tanya Jack usai menjelaskan keberadaan dua temannya itu.

“Mereka sedang berbicara di luar. Di pondokan. Gw mutusin untuk tidak menganggu mereka.”

“Kelihatannya elo ga cemburu sama sekali melihat mereka berduaan.” ujar Max setelah mendengar cerita Henry. Ia curiga kalau masalah perjodohan itu belum didengar oleh Henry. Tapi karena MenHenry tertawa geli, ia dan Jack saling bertukar pandang.

“Tentu saja gw ga cemburu. Kenapa harus cemburu? Yunna tidak akan pernah jatuh cinta pada orang seperti Micky.” kata Henry meremehkan. Ia tidak lagi menganggap Micky saingan ketika melihat kekuatan yang dimiliki Micky. Cowok itu terlalu lembek.

Max mengeram kepalan tangannya. Ia ingin sekali meninju cowok belagu ini. Tapi ia melihat Jack memberinya signal untuk menahan diri.

“Jadi perjodohan itu betul?” tanya Jack.

“Benar, bahkan gw yang meminta orang tua gw untuk mengurusnya. Yunna, cewek yang luar biasa. Untuk itu dia memerlukan pasangan yang seimbang untuknya. Bukan cowok seperti Micky. Sekali lihatpun gw tahu, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan gw. Bahkan dari segi kekuatanpun, dia tidak ada apa-apanya.” ucap Henry meremehkan.

Tidak ada yang bisa membantah hal tersebut. Micky memang tidak terlalu kuat jika dibandingkan dengan mereka. Tapi juga bukan berarti lemah. Micky punya kecendrungan untuk mengabaikan persaingan yang dirasa tidak perlu. Kalau Micky tidak menunjukan rasa persaingannya terhadap Henry tadi, pasti ada sesuatu diantara dua orang itu yang membuat Micky berada di atas awan.

Jack ingin sekali melemparkan kenyataaan tersebut ke muka sombong Henry. Tapi tidak ada gunanya membahas sesuatu yang absurd. Lebih mudah untuk menghancurkan kesombongan cowok ini langsung ke akarnya.

“Hei, hei… Main pingpong yuk.” ajak Alex. Tidak tahu kalau ajakannya berubah menjadi pertarungan dengan Henry.

“Gimana? Kamu cukup percaya diri untuk melawan kami?” tantang Max tidak malu-malu.

“Tidak masalah. Tenis meja tidak akan terlalu berbeda dengan tenis biasa.”

Max dan Jack saling bertatapan. Kali ini mereka pasti bisa mengilas Henry. Tidak ada yang menandingi Ben jika sudah menyangkut olaraga. Alex juga sama jagonya. Kalau Henry hanya seorang pemain tenis lapangan, ia akan terkejut melihat aksi mereka nanti.

Advertisements

One thought on “Chapter 11 – Festifal Musim Panas

  1. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s