Chapter 12 – Kalau Bulan Bisa Ngomong

Dia pasti akan mengaku telah melihat percintaan terpanas sepanjang sejarah.

“Jadi kamu mau ngomong apa?” tanya Yunna ketus.

Ia cukup kesal diseret-seret seperti tadi oleh Micky. Bukan karena lengannya sakit tapi lebih karena malu. Ia tidak bisa berhenti berdebar-debar. Cengkraman tangan Micky memberi sensasi aneh pada dirinya. Rasanya ia tidak bisa mengacuhkannya sama sekali. Ia tidak suka merasa tidak berdaya.

“Kenapa kamu lari tadi?”

Yunna tidak bisa menjawab. Jadi ia hanya memalingkan wajahnya. Menatap kosong ke arah danau.

“Kamu tidak mau menjawab?” tanya Micky tidak senang. Ia menarik Yunna dan merapatkannya ke dinding. Mengurungnya dengan kedua tangannya. Dengan demikian Yunna tidak bisa menghindar darinya. Ia menyentuh dagu Yunna, menaikkan wajahnya agar mereka bisa saling bertatapan.

Tempat ini jauh lebih sunyi dari tadi siang. Ia yakin tidak akan ada yang mendengarnya sekalipun ia berteriak. Mungkin dia tidak boleh memancing emosi Micky terlalu jauh. Jadi ketika mereka saling bertatapan. Yunna berusaha melempar senyuman padanya. Walau sulit, karena jantungnya makin berdebar kencang. Tapi tidak ada salahnya mengancam cowok ini. Bukankah Micky juga punya reputasi yang harus dijaga? Barangkali saja, ada orang yang kebetulan lewat dan mendengar ia berteriak.

“Ja….”

Belum selesai ia berbicara, Micky sudah kembali menciuminya. Bukan ciuman lembut seperti tadi, tapi ciuman panas dan sedikit kasar. Ia bisa merasakan satu tangan Micky pindah ke tengkuknya, menahan kepalanya. Satu tangan lainnya lagi berada di pinggangnya, menariknya. Membuat tubuhnya melekat sempurna dengan tubuh Micky. Seketika itu juga, ia merasa lemas luar biasa. Ia merasa melayang. Tidak pernah ia tahu kalau tubuhnya akan beraksi seperti ini hanya karena sebuah ciuman. Tapi mungkin tidak ada hal yang sama jika sudah menyangkut Micky.

“Jadi, tadi kamu mau ngomong apa?” tanya Micky, ketika akhirnya ia berhenti melumat bibir Yunna. Lagi-lagi ia memaksa dirinya untuk menjauh. Kalau ia tidak ingin meledak saat ini juga dan melakukan tindakan tidak terpuji terhadap Yunna. Cewek ini sama sekali tidak membantu. Apa Yunna sepolos itu, hingga tidak tahu kemana semua ciuman panas yang baru saja terjadi.

Melihat Yunna menggigit bibirnya, Micky jadi tertawa. Cewek ini terlalu mengemaskan. Ia melepaskan kungkungannya dan mundur beberapa langkah. Lalu mengelengkan kepala. Ia merasa seperti serigala yang sudah menjebak korbannya.

“Jangan pernah sekali-kali kamu mencium aku lagi!”

“Jadi kamu tidak menikmatinya? Aku pikir kamu malah meminta lebih tadi.” ledek Micky. Tentu saja Yunna memelotinya karena ia sudah berbicara sembarangan. Ia mendekati cewek itu lagi. Merengkuh kedua pipinya. “Jangan cemberut seperti itu atau kamu mau aku cium lagi.”

Yunna langsung menarik bibirnya setelah mendengar ancamannya. Membuat Micky kembali tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita kembali. Batas 2 jam yang diberikan Henry sudah hampir berakhir. Aku ga mau dia menyebarkan gosip kalau aku menculikmu. Bisa runyam urusannya.”

Jadi mereka kembali ke arah hotel. Mencari teman-teman Micky dan Henry. Tidak ada orang di lobby. Bahkan mereka tidak menemukan siapa-siapa kecuali bapak-bapak tua di balik meja resepsionis. Menurut Micky, kemungkinan besar teman-temannya itu sudah kembali ke kamar. Jadi lebih baik Yunna juga kembali ke kamarnya.

Dan di sinilah mereka, kembali berdiri dengan canggung di depan pintu kamar Yunna. Namun akhirnya Yunna berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya, “Kamu ga mau masuk dulu? Sekedar minum kopi?”

Micky tertawa mendengar ajakan Yunna. Apa dia boleh berharap kalau itu sebuah undangan untuknya? Ia membantu Yunna membuka pintu.

“Selamat malam tuan putri. Lebih baik aku tidak ikut ke dalam. Aku tidak menjamin aku tidak akan bertindak lebih jauh dari sekedar menciummu nanti.”

Dengan sukses, ia membuat Yunna masuk ke dalam dan membanting pintu di hadapannya. Ia kembali tertawa. Mengoda Yunna sama menyenangkannya dengan mencium cewek itu. Ia sudah berbalik, melangkahkan kaki ke lorong ketika ia mendengar Yunna menjerit.

Tergesa-gesa, ia mendobrak pintu tersebut. Untungnya hotel ini hotel tua dan bergaya Jepang. Jadi setelah beberapa dorongan, ia berhasil mendobrak masuk.

“YUNNNA?!?” teriak Micky, ia tidak berhasil menemukan cewek itu dimana pun juga. Ia berlari menuju beranda yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Kalaupun seandainya Yunna diculik, tidakmungkin secepat itu menghilang. Kemudian ia mendengar suara beling pecah dan erangan keras. Dari arah kamar mandi.

Setengah berlari, Micky membuka kamar mandi tersebut. Di dalam sana sudah tergeletak seorang berpakaian seperti ninja dengan pecahan pot di sekitar kepala, dan ia dapat melihat aliran darah mengalir deras dari tengkuknya.

Diidarkan pandangannya mencari Yunna. Cewek itu terduduk di dekat closet. Kelihatannya cukup shock. Siapa yang tidak. Jantungnya saja barusan berhenti berdetak ketika tidak menemukan Yunna di dalam kamar.

Ia merengkuh Yunna dan membantunya berdiri. Memeluknya hingga getaran dari tubuh Yunna berkurang. Ia tidak mau mendesak Yunna untuk menceritakan apa yang terjadi. Cukup jelas baginya, kalau orang yang terbaring di lantai itu adalah penjahat.

“Kamu tunggu di sini, aku akan menelpon anak-anak untuk kemari. Apa aku perlu melapor pada polisi?”

“JANGAN!” pekik Yunna tercekat. “Aku perlu menanyainya dulu. Saat aku menemukannya tadi, dia sedang mencari sesuatu di koperku.”

Micky melirik lemari di dekat closet, tempat Yunna meletakan kopernya. Terlihat seperti habis digeledah. Sedangkan tempat lainnya masih tertata rapi. “Kamu tahu kira-kira apa yang dicari olehnya?”

“Bisa apa saja. Aku ke sini membawa semua pekerjaanku. Karena ini kunjungan mendadak.”

Suaranya terdengar lebih tenang sekarang. Otaknya sudah kembali bekerja. Bahkan ia sudah kembali memerintah Micky, untuk segera memanggil teman-temannya. Tapi jangan sampai diketahui Henry. Cowok itu pasti akan melapor ke orang tuanya dan masalah kecil ini bisa semakin besar.

Sambil menunggu kedatangan teman-temannya, Micky kembali ke kamar mandi. Mengecek si ninja. Tampaknya Yunna menghantam kepala dia cukup keras. Orang itu masih pingsan. Max masuk membantunya mengikat dan rendamkannya ke bathtub. Mereka semua berdiri mengelilinginya. Alex memukul pipi penculik itu sampai ia terbangun. Dengan mulut tersumpal, sang penculik hanya bisa mengeluarkan erangan tertahan.

“Siapa yang menyuruh anda?!” tanya Alex. Sang Ninja bergugam tidak jelas.

“Dicopot dulu Lex.” perintah Max. Magnae Fox-T terlihat garang saat memelototi penculik.

“Apa kalian pikir saya amatiran?!” ucap penculik meledek Max dan Alex. sama sekali tidak takut.

Micky mengeluarkan shaver elektrik yang sudah disambungkan ke kontak listrik. Sekejap, sang penculik memicingkan matanya, tapi kembali memasang tampang galaknya.

“Kalau elo pikir kita ga berani nyemplungin ini ke dalam sana. Elo salah besar.” ucap Micky dingin. Si penculik tetap berdiam. Micky meluncurkan shaver dari tangannya.

“ASOKA…ASOKA yang menyuruh!” pekik ninja persis sebelum shaver masuk ke dalam bathtub.

“Siapa Asoka?” tanya Ben lagi.

“Saingan gw. Ia akan menyesal sudah melakukan ini.” ucap Yunna sebelum membalik badan, keluar dari kamar mandi.

Fox-T tidak mendengar apa yang Yunna katakan di ponselnya di luar. Mereka sibuk mengorek keterangan lebih banyak dari sang penculik. Selesai introgasi singkat, mereka mulai membahas mengenai nasib si penculik.

“Menurut elo, Asoka bakal diapain sama Yunna?” tanya Jack pada Micky.

“Yang pasti bukan diundang makan malam. Elo tahu, gw pernah denger dari sepupunya pas di Jepang. Dia pernah mengebiri salah satu penculiknya. Bukan sama dia sih, pengawalnya yang kebiriin. Katanya waktu itu luka Yunna rada parah jadi dengan emosi dia suruh Big mengeksekusi di tempat.”

“Gila! Serem banget nih cewek. Orang kaya memang beda yah.” komentar Ben lagi.

Mereka menghentikan pembicaraan ketika Yunna masuk kembali ke dalam.

“Tolong buka sumpalannya.”

Alex yang berdiri paling dekat dengan si penculik, membukakan sumpalan mulutnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar hebat karena terus direndam dalam air dingin dan setelah mendengar cerita cowok-cowok tadi, ia yakin kalau Yunna adalah ancaman yang sesungguhnya. Sang pencuik menatap Yunna ketakutan.

“Melihat tampang elo sekarang. Elo pasti udah tahu apa yang terjadi!” gertak Yunna.

Apa yang dia denger barusan dari Big sama sekali tidak sesederhana yang ia kira. Menurut Big, orang ini mengincar data plan yang akan diserahkan ayahnya. Bisa dibilang rahasia negara, karena ayahnya seorang politisi. Yunna diminta untuk mengecek kembali kebenaran data plan tersebut sebelum ayahnya menyerahkannya ke pengadilan.

Perhatiannya tertuju penuh pada sang penculik. Ia harus mencari tahu kebenaran dibalik kasus ini. Walaupun belum pernah turun tangan sendiri, Yunna sudah sering melihat Big melakukan intrograsi, jadi sedikit banyak, ia memahami cara mengertak orang.

“Elo mau jawab pertanyaan gw atau perlu gw panggilin algojo gw ke sini?” ancam Yunna melihat sang penculik masih tidak bergeming, hanya menunduk ketakutan.

Si penculik menelan ludah dengan susah payah lalu mengangguk pelan.

“Siapa yang menyuruh elo ke sini? Siapa yang kasih tahu kalau CD itu gw yang bawa? Dan siapa yang kasih elo info gw di kamar ini?” tanya Yunna tanpa ekspresi. Mukanya dipasang kaku.

“Masih tidak mau menjawab??” suara Yunna mengaung di kamar mandi. Ia mengambil botol shampoo, “Elo tahu ini apa? Kalau cairan ini masuk ke perut elo, gw yakin elo ga akan bisa keluar dari ruangan ini tanpa sakit perut dan berak-berak. Dalam waktu 3 jam, elo bakal muntah darah dan berak tanpa henti. 10 Jam, usus elo bakal jebol. Dan percayalah, elo ga akan mati dengan cepat. Seumur hidup di atas kasur.”

Karena Yunna mengucapkan semua penjelasannya tanpa mengubah nada suara. Sang penculik  makin ketakutan. Ia semakin yakin kalau perempuan dihadapannya ini adalah salah satu dari pembunuh berdarah dingin yang ada di dunia ini. Karena hanya orang-orang seperti itu yang sanggup menciptakan suasana mencekam dan membicarakan kematian seseorang setenang ini.

“SIAPA?!” bentak Yunna lagi. Ia menangkup bibir sang penculik, siap menuangkan isi shampoo ke dalam mulutnya.

“Ju… Jung Sung HO.” ucap si penculik panik, ia masih ingin hidup.

“Apa yang dia cari?” lanjut Yunna.

“Data Z.”

“Bagaimana Jung SungHo tahu data itu ada pada saya?! Siapa yang memberikan informasi?!! Berapa orang partner anda?!”

“Sa…saya hanya bekerja sendiri. Jung SungHo mengontek saya langsung. sata tidak tahu apa-apa soal informan nya. Saya hanya tahu seorang yang keluarganya berhasil ditangkap oleh Jung Sung Ho.” ucap sang penculik dalam satu tarikan nafas. Membocorkan semua yang ia tahu.

“Sebaiknya apa yang elo ngomong tadi itu benar.” Seulas senyum licik dilemparkan Yunna padanya. Ancaman terakhir yang dirasa perlu oleh Yunna, kalau-kalau penculik ini kembali menipunya.

Yunna keluar dari kamar mandi diikuti oleh Fox-T. Semua yakin, ancaman Yunna tadi sudah membuat penculik itu ketakutan. Dia tidak akan berani macam-macam ataupun berpikir untuk kabur. Setelah pintu tertutup dan berada cukup jauh dari kamar mandi.

Ben dengan polos bertanya pada Yunna, “Memang shampoo seserem itu?”

“Yah, kalau memang elo telen semua. Tapi paling parah juga keracunan. Ga separah yang gw bilang tadi lah.” ucap Yunna santai, ia sudah kembali ke Yunna yang biasa.

“Oh, gila. Nyaris gw percaya sama omongan elo. Ckckckckck, elo sih nyeremin loh.” tambah Ben.

“Terima kasih. Permisi sebentar.” balas Yunna menerima pujian Ben.

Setelah jelas motif kehadiran sang musuh bukan menculiknya atau membunuhnya, Yunna merasa cukup aman untuk keluar ke beranda. Angin dingin menyambut Yunna membuat tubuhnya sidikit menggigil. Ia merasa lebih baik. Di dalam tadi ia terlalu tegang. Mengancam bukan sesuatu yang suka ia lakukan walau ia menyukai adrenaline yang dihasilkan dari ketegangannya. Dikeluarkan ponselnya dan memencet nomor Big. Menceritakan apa yang dia ketehui dan ternyata informasinya sama dengan hasil penyelidikan Big.

“Jadi ninja tidak berbohong?”

“Sepertinya begitu. Aku penasaran apa yang kamu lakukan padanya sampai dia mengaku. Sebodoh-bodohnya Jung SungHo, dia tidak mungkin mengirim amatiran ke sana.”

“Melihat kamu bekerja selama bertahun-tahun, aku rasa aku mendapat guru yang hebat. ” sindir Yunna. “Yang paling penting Big, kamu harus mencari mole diantara kita. Aku datang ke sini hanya diketahui oleh segelintir orang. Tepatnya 1 orang itu selain kita berdua. Si penculik bilang kalau keluarga mole ditahan oleh Jung Sung Ho. Kamu bisa mulai pencarian dari situ. Urus sampai tuntas.”

“Baik.”

“Big, hati-hati. Jung Sung Ho, bukan orang pandai. Tindakannya kali ini menunjukan ia cukup depresi. Tolong atur supaya papa tidak menyampaikan masalah ini dulu, sampai kita berhasil mendapatkan kembali keluarga yang disandera. Aku ga mau sampai ada korban. Lalu, nanti aku akan mengirim si penculik ke penjara. Pastikan media meliput, telpon beberapa kenalan kita. Jadikan headline news. Tapi jangan sebut mengenai ia tertangkap karena usaha penculikan. Buat alasan lain.”

“Kalau begitu aku ke sana malam ini.”

“Tidak bisa Big. Begitu berita bahwa orang suruhannya tertangkap, Jung Sung Ho pasti akan mengirim orang lain. Kalau kamu muncul, orang itu pasti tidak akan menampakan batang hidungnya. Jangan khawatir, aku akan coba meminta Micky mengawalku. Cowok itu lumayan.”

“Dia sama sekali tidak bisa diandalkan! Coba kalau kamu ga bisa bela diri, atau orang yang dikirim adalah pembunuh bayaran. Kamu pasti…” sudah mati, Big tidak sanggup menyelesaikan ucapannya. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu pada Yunna.

“Micky bisa diandalkan.” ucap Yunna tenang dan tegas. Tidak ingin dibantah.

Kejadian tadi tidak akan terjadi kalau Micky melakukan tugasnya seperti yang Big lakukan. Masuk lebih dulu ke kamar, mengecek setiap pelosoknya, setelah aman baru Yunna masuk. Jadi insiden ini tidak sepenuhnya kesalahan Micky. Ia juga salah tidak mengajari Micky.

Selesai menelpon, Yunna kembali ke dalam, menyampaikan rencananya seperti yang sudah ia susun dengan Big.

“Jadi nanti saat pihak keamanan datang. Dia harus ditangkap dengan alasan stalker. Sama sekali tidak ada urusannya dengan gw. Untungnya kamar ini ga dibooking dengan nama gw, jadi kita bisa bilang ini kamar salah satu dari kalian. Gw ga mau Jung Sung Ho ataupun mata-mata di perusahaan gw curiga kalau dia sudah gagal dan jadi waspada. Bagaimana, kalian setuju?”

“Bilang aja ini kamar Jack. Dia kan paling banyak stalkernya jadi orang ga akan terlalu curiga.” saran Max. Teman-temannya mengangkuk setuju. “Dan kalau ga keberatan, untuk malam ini, elo tidur  di kamar kita. Biar gw sama Jack di sini, biar lebih menyakinkan.”

“Thanks, sorry banget udah bikin repot.” ucap Yunna tulus. Ia tidak berpikir kalau akrab dengan Fox-T akan mendatangkan keuntungan. Terutama dari penggemar Fox-T yang obsessive.

“Hei… Jangan begitu, kita bertemankan? Teman harus saling membantu.”

“Kalau gitu, gw ambil barang dulu. Pindahin ke sini.” ucap Jack segera setelah Yunna mengangguk setuju. Max mengikutinya. Alex dan Ben keluar memanggil manager mereka dan menceritakan kejadian ini agar tidak bingung dengan perubahan kamar mandadak ini.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 12 – Kalau Bulan Bisa Ngomong

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s