Chapter 13 – Cheating Death

Keesokan harinya, berita tersebut sudah disiarkan di TV kemarin malam dan terus mendapat sorotan di internet dan media lainnya. Tapi tidak ada yang menyebut nama Han Yunna. Tidak ada yang mengaitkan nona muda itu dengan insiden kali ini.

Demi keamanan, Yunna tetap menjaga jarak dengan Fox-T dan menghabiskan pagi itu sendirian di kamar. Menonton TV, menerima laporan dari Big dan melakukan rapat darurat dengan ayah dan abangnya.

“Menurut Big, sekertaris Oppa yang paling memungkinkan untuk menjadi mole. Ia satu-satunya orang yang mengetahui nomor kamarku dan kepulangan Big yang mendadak ke Seoul.” lapor Yunna, mereka sedang melakukan telpon converse sekarang.

“Tapi, Ara tidak terlihat sedang ada masalah.” bantah BaeWon tidak percaya.

“Menurut Big, beberapa orang sempat mendengar kalau Ara sedang mencari ibunya yang mendadak menghilang dari panti jompo. Sebaiknya oppa cek sendiri.” ucap Yunna tajam. Ia tidak senang mendengar abangnya meragukan hasil kerja Big.

“Tepat sekali keputusan kamu untuk menyuruh Big mengantarkan barang itu kemari. Kamu memang anak papa yang dapat diandalkan. Sekarang apa rencana kamu?”

“Aku sudah membahas semua dengan Big. Tidak cukup aman untuk membicarakannya melalui telepon. Kita tidak tahu apa saluran ini dipasang bug tidak.”

“Lalu sekarang siapa yang mengawal kamu?” tanya Papa Yunna realistis. Ia tidak mau putri kesayangannya ini kembali terlibat masalah. Sudah cukup pengalaman yang dialami putrinya ini. Heran sekali jika mengingat betapa seringnya Yunna lolos dari masalah. Apa musuh-musuhnya berpikir karena Yunna seorang perempuan maka lebih mudah untuk menaklukannya? Dia mendengus. Salah besar! Yunna adalah satu diantara segelintir perempuan yang harus ditakuti oleh orang-orang. Putrinya ini tidak kalah cerdik dari abangnya. Ia tidak pernah khawatir, Yunna akan salah melangkah. Walau terkadang putrinya ini bisa luar biasa liar dan keras kepala.

“Papa tenang saja. Di sini ada orang yang cukup kompeten melindungiku. Aku akan pulang malam ini.” ucap Yunna meyakinkan ayahnya. Ia tidak bisa menyebut nama Micky di sini. Ayahnya bisa langsung mengirim sekompi bodyguard tambahan kalau mendengar ia ditemani oleh amatiran. Bisa berantakan nanti rencananya untuk memancing musuhnya keluar.

“Kamu yakin?” tanya BaeWon. Ia tidak semudah ayahnya untuk langsung mempercayai omongan adiknya itu. Sebab menurut keterangan dari Big, yang menjaga adiknya adalah pacar baru Yunna.  Dan siapa pacar Yunna ini? Kenapa adiknya bisa tiba-tiba mempunyai seorang pacar? Big juga tumben-tumbennya menutup mulutnya rapat-rapat.

“Tenang saja. Buktinya dia sudah berhasil melindungiku kan? Sudah dulu yah.” tutup Yunna, menghindari introgasi lebih lanjut.

Ia meletakan ponselnya di atas meja dan menatap kasur Micky. Lalu tersenyum. Dimana cowok itu sekarang? Ia belum mengucapkan terima kasih untuk bantuannya kemarin. Mungkin ia harus membelikan sesuatu untuknya sebagai ucapan terima kasih. Biar cowok itu juga bisa terus mengingatnya. Barang yang pasti akan dikenakan Micky. Sesuatu yang principle dan essential.

Benar, lebih baik begitu. Yunna mengenakan mantelnya, menarik koper dan mengenakan kacamata hitam. Agar wajahnya tidak dikenali orang. Ia menelusuri pusat perbelanjaanya yang tersedia di sekitar Hotel. Keluar masuk dari satu toko ke toko yang lain. Ia sampai menggunakan jasa porter untuk membawakan barang belanjaannya yang cukup banyak.

Puas dengan hasil buruannya, Yunna duduk di lobby hotel, menunggu rombongan kru tiba. Ia harus ikut pulang dengan mereka, karena cuaca terlalu buruk untuk mengunakan helikopter pribadinya.

Ia mengeluarkan secarik kertas catatan yang diberikan Micky kemarin. Menekan 11 angka yang ada di sana dan mengirimkan pesan yang berbunyi, “Wanted! Cowok dengan mata sipit, rambut hitam belah samping dengan tinggi sekitar 180cm, berkulit putih. Diyakini cowok tersebut meninggalkan barang berharganya di lobby hotel.”

Yunna tersenyum-senyum sendiri memikirkan reaksi Micky saat cowok itu membaca pesan darinya.

“Yunna, kamu sudah mau pulang?” tanya Henry melihat barang belanjaan yang bertumpuk di samping Yunna. Ia bangun kesiangan. Semalam ia bertanding ping-pong habis-habisan. Sampai pingsan. Begitu terbangun tadi pagi, ia sudah ada di kamarnya sendiri dan matahari sudah melewati kepala. Buru-buru ia menyusul ke kamar Yunna, tapi ternyata cewek itu ada di lobby.

“Ehm, engga sih. Aku cuma berbelanja sedikit.”

“Erh Hem!!” deham Micky. Menyelak diantara Yunna dan Henry.

“Kamu suruh aku ke sini, ada apa?” tanya Micky tanpa basa-basi. Bahkan dia tidak repot-repot memandang ke arah Henry.

“Ehm…” Yunna jadi kebingungan. Dengan adanya Henry di sini, ia tidak bisa dengan mudah menyerahkan kantong-kantong berisi hadiah untuk Micky. “Tolong bantu aku bawa barang-barang ini ke kamar.”

Ia tahu Micky pasti terlihat seperti pegawainya saat ini, tapi ia tidak bisa memikirkan cara apapun agar bisa menyerahkan barang-barang itu ke tangan Micky tanpa dicurigai Henry. Yang penting, barang-barang itu sampai ke tangan pemiliknya, ia akan menjelaskannya nanti. Setelah berhasil menghindar dari Henry.

Tanpa menoleh, Micky menenteng semua belanjaan Yunna dan berjalan pergi. Masuk ke kamarnya dan Yunna, membanting semua belanjaan itu ke lantai.

“Ada apa?” tanya Jack yang sedang berada di kamarnya. Tadi dia dan Jack sedang menyusuri kamar itu, mencari bug.

“Sialan! Kapan-kapan itu cewek bakal gw cekik juga!”

“Ada apa? Bukannya tadi elo seneng-seneng nyamperin dia?” tanya Jack bingung.

“Dia nyuruh gw ke sana cuma untuk bawain tentengan dia!”

Jack melirik tumpukan kantong yang isinya sekarang berhamburan di dalam bagasi mobil Micky. Ia memungut salah satu kotak yang terlempar keluar. “Ini buat cowok kan?” tanya Jack menujuk dompet yang ada di tanggannya sekarang.

Penasaran, Micky membongkar isi kantong lainnya. Sweater, kacamata hitam, kemeja, sepatu semua untuk laki-laki. Semua sesuai dengan seleranya. Ukurannya juga pas. Ia mendengus. Apalagi yang direncanakan Yunna. Kalau dia berpikir dengan sogokan ini dia akan melupakan perjanjian semalam. Ia harus memberitahu Yunna kalau dia salah besar.

Jack tersenyum melihat peringai Micky yang marah-marah seperti kebakaran jenggot. Salut juga pada Yunna yang dengan cerdik menyerahkan semua hadiah ini pada Micky tanpa membuat orang lain curiga. Sepertinya kali ini, dia yang harus membantu Micky.

“Hai, Jack.” sapa Yunna ketika Yunna masuk ke dalam kamar tanpa Henry.

Jack melemparkan senyum padanya dan memberi isyarat kalau Micky sedang merajuk. Yunna berkata, “aku tahu.” tanpa suara padanya dan membuat Jack kembali tersenyum. Ia melirik Micky yang sedang berdiri kaku di sampingnya.

“Kalian pernah cliff diving?”

“Cliff apa?” tanya Jack bingung.

“Cliff diving, terjun dari tebing tanpa tali. Di sekitar sini, ada tempat yang terkenal untuk olaraga itu. Aku mau ke sana. Henry juga ikut. Kalian mau coba?”

Jack dan Micky saling bertatapan, cliff diving? Jack pikir Micky akan menolak ajakan tersebut. Micky memiliki phobia ketinggian. Tapi begitu mendengar persetujuan Micky untuk ikut, ia terperangah. Lebih baik ia mengajak semua temannya untuk antisipasi. Sekaligus memberi pelajaran lagi untuk Henry. Kali ini ia akan memastikan cowok itu tidak akan kembali menganggu.

Mereka naik ke mobil yang disediakan pihak hotel menuju pegunungan. Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam waktu 10 menit perjalanan mereka. Tapi Jack berhasil mengirim pesan ke 4 temannya tentang rencananya mencabut Henry. Pesan balasannya sangat sesuai dugaan. Micky bahkan menyertai tanda menggorok leher Henry.

Sampai di pinggir jurang, mereka berkumpul di tenda kecil yang digunakan sebagai tempat persiapan para cliff diver. Mereka mendapat panduan singkat. Semua mendengarkan penuh perhatian kecuali Yunna. Cewek itu malah sibuk berbincang-bincang dengan staff lain di sudut raungan.

“Kelihatannya dia sudah berpengalaman.” bisik Jack.

Micky mengangguk menyetujui. Ini akan menjadi kejutan baru untuknya. Yunna akan menjadi paket komplit jika ternyata cewek itu menyukai tantangan seperti ini.

“Kata mereka, cuaca hari ini pas sekali. Tidak terlalu berangin. Tapi aku sarankan kalian mengecek dulu ketinggiannya. Aku ga mau kalian kaget.” ucap Yunna lebih ditujukan pada Henry. Ide ini muncul ketika ia sengaja menguping pembicaraan Micky dan Jack. Kalau ingin membuat Henry menciut, tusuk langsung ke titik kelemahannya. Henry takut ketinggian, takut air dan takut berada di ruang terbuka alias berada di tempat ini. Ia sudah perhatikan bagaimana Henry mematung saja sepanjang instruktur memberi penjelasan. Lalu Henry juga tidak berani mendekat ke pinggir jurang.

Saatnya melepas pukulan terakhir, “Kamu mau ikut terjun?” tanya Yunna polos.

Henry masih berdiri kaku di sampingnya. Sepertinya pikiran Henry tidak berada di sana. Merasa tidak tega, ia menepuk pundak Henry, “Kalau kamu tidak berani, kamu tunggu di sini aja. Aku turun dulu.” seru Yunna, kemudian dia langsung mengambil ancang-ancang dan terjun.

“YAAA….! YUNNAAA?!” panggil cowok-cowok Fox-T itu. Mereka tidak menyangka Yunna akan langsung menceburkan diri seperti itu. Mereka semakin khawatir ketika kepala Yunna tidak juga menyembul.

“Hei, mana dia? Kok ga naik-naik?” tanya Ben mulai panik.

“Jangan-jangan dia terjeduk sesuatu?” tambah Alex, menyiram minyak ke dalam api. Mereka sengaja berbicara cukup kencang agar Henry yang berdiri cukup jauh bisa mendengar ucapannya.

“Ini sudah hampir 1 menit, Yunna masih belum nongol juga.”

Micky tidak menunggu lagi, ia membuka bajunya dan terjun. Apapun yang sedang direncanakan teman-temannya tidak lagi penting. Prioritasnya sekarang adalah Yunna. Air dingin menyambutnya begitu ia menyentuh dasar danau. Ia memaksa membuka matanya walau terasa perih. Untuk dia tidak mengenakan softlense jadi ia tidak peerlu khawatir lensa tipis itu terjatuh. Hanya saja pandangan dia menjadi buram. Tidak terlalu buram untuk melihat sesosok tubuh yang melayang-layang di sana.

Ia mengayuh sekuat tenaga, menghampiri Yunna. Cewek itu pingsan! Ia menariknya hingga ke tepian. Teman-temannya sudah berkumpul di sana. Alex membantunya menarik Yunna.

“YUN…!!!” panggil Micky panik. Ia segera melakukan pertolongan pertama. Menekan perut Yunna, memompa keluar air yang tertelan. Tidak sampai hitungan ke 5, Yunna memuntahkan air dan terbangun.

Micky langsung memeluknya dan membantunya berdiri. Ketika kemudian Yunna menghampiri Henry, ia hanya memperhatikan kedua orang itu dari jauh.

“Maaf…” gugam Henry.

“Tidak apa, kamu kan memang tidak berani untuk terjun. Tolong rahasiakan masalah ini dari orang tuaku yah. Mereka akan menganggap aku ceroboh kalau tahu aku suka melakukan cliff diving.”

“Yah, aku mengerti. Dan aku juga akan membatalkan perjodohan kita.” melihat Yunna pura-pura tidak mengerti, Henry tersenyum dan melanjutkan, “Ayolah, itu tujuan kamu kan? Aku terlalu mengenal kamu Yun. Kamu bukan cewek gila yang mau mengambil resiko untuk terjun bebas seperti tadi lalu kembali dengan patah tulang. Kamu cuma ingin aku sadarkan kalau kita tidak cocok. Kalau kamu masih Yunna yang sama seperti dulu, yang bisa nekad melakukan aksi liar seperti ini. Sedangkan aku juga sama seperti dulu yang lebih memilih berada di dalam perpustakan, menghibaskan waktu dalam lautan buku.”

Yunna menunduk malu. Ternyata Henry mengerti dengan baik dirinya. “Maaf, aku ga bermaksud untuk menipu kamu.”

“Hei, don’t worry cupcakes. Aku lihat cowok itu cukup bisa diandalkan. Kamu tahu kalau sebetulnya dia jgua takut ketinggian? Tapi dia tetep terjun untuk menyelamatkan kamu?” Henry menyeringai melihat wajah terperanggah Yunna. “Baik-baiklah dengannya, aku rasa paman dan tante juga akan menerima dia.”

Henry mengecup kening Yunna sebelum berpamitan. Ia akan pulang ke Hongkong. Memberitahu orangtuanya untuk membatalkan perjodohan mereka. Tadinya dia pikir dia bisa mengikat Yunna dan membuatnya jatuh cinta. Kalau ternyata Yunna sudah mempunyai pilihan lain, ia tidak bisa memaksa cewek yang dicintainya itu. Ia tidak akan menghalangi kebahagiaan Yunna.

Micky menghampiri Yunna saat melihat pembicaraan Yunna dengan Henry selesai. Sedikit penasaran apa yang mereka bicarakan, kemana Henry pergi dan kenapa Yunna mengijinkan Henry mengecup kening Yunna. Mendadak ia merasa geram. Ia tidak bisa untuk menanyakan hal-hal tersebut kepada Yunna tanpa merasa cemburu. Jadi sampai emosinya tenang, ia tidak akan mendekati Yunna.

“Kalian tidak akan mencoba?”

“Setelah elo nyaris mati tadi?” tanya Ben sarkastik. “Engga deh, kita masih sayang nyawa.”

Yunna langsung tertawa terbahak-bahak. Sampai memegangi perutnya saking gelinya. Ia pasti ia sudah membuat cowok-cowok ini ketakutan tadi. Yah, siapa yang tidak akan takut, kalau melihat orang yang mengaku profesional dalam cliff diving ini sampai tenggelam. Lalu harus ditolong oleh orang lain.

Kalau dia ingin cowok-cowok ini mencobanya, ia harus meyakinkan mereka kalau melakukan cliff diving itu tidak menyeramkan. Atau menjelaskan bahwa aksinya tadi hanya kebohongan belaka.

“Apa yang lucu?” tanya Alex sampai menyilangkan tangan di dadanya. Ia tidak pernah menganggap olahraga yang mempertaruhkan nyawa ini lucu. Ia juga tidak mungkin membiarkan teman-temannya ini mencobanya. Kalau Yunna memaksa, maaf, maka ia harus menolaknya dengan keras.

“Tadi itu hanya…. Ehm, yah begini, aku akan terjun sekali lagi. Kalian bisa lihat kalau olahraga ini sama sekali tidak berbahaya. Buktinya Micky tidak apa-apa kan?”

“Benar Lex. Tadi itu, Yunna hanya berpura-pura.” dukung Max. Ia buru-buru memberi penjelasaan sebelum para hyung nya memakannya hidup-hidup. “Lex hyung, masa elo ga tahu kalau sebuah CPR tidak mungkin dilakukan tanpa nafas buatan? Lalu ketinggian mulut jurang tadi sampai ke danau, tidak terlalu tinggi, bahkan tidak lebih dari 30 meter. Kedua, gw sudah tanya ke staffnya, di danau ini tidak ada karang. Yunna tidak mungkin terantuk sesuatu dan pingsan.”

“Elo cuma nakut-nakutin Henry kan?” tuduh Max pada Yunna mengena sasaran.

Yunna kembali tersenyum. Hebat juga Max ini. Tampaknya hanya dia dan Henry yang tidak tertipu akal-akalannya. “Maaf, tadi gw denger pembicaraan Jack dan Micky. Kalian sedang memukul mundur Henry? Gw cuma memberikan pukulan terakhir. Karena jujur saja, gw pengen dia menghapus perjodohan diantara kami. Cuma dia yang bisa melakukan itu.”

Alex, Ben dan Jack terpana menatap Yunna. Sama-sama berpikir kalau cewek ini pasti gila. Hanya demi mencapai tujuannya, Yunna tidak memikirkan nyawanya sendiri? Kemudian mereka bertiga menatapa Micky. Saat ini temannya itu pasti merasa tertipu. Mereka semua tahu Micky takut ketinggian. Melihat Micky melompat terjun tadi jauh lebih mengejutkan dibanding tenggelamnya Yunna. Mereka takut membayangkan kemarahan Micky.

Micky tidak berkata apa-apa. Ia sudah menduga sebenarnya kalau kejadian tadi hanya permainan lain dari Yunna. Tapi ia tidak menyangka kalau cewek ini begitu nekad. Lalu ia juga dengan bodohnya terseret dalam permainan itu. Sampai mengorbankan nyawanya dan terjun bebas dari tepi jurang. Berpikir kalau Yunna tidak akan kembali bernafas saat dia mengangkatnya keluar dari air.

Dan apa kata Yunna tadi? Sandiwara? Untuk menyingkirkan Henry? Lalu apakah Yunna juga akan memperalat orang lain jika memang dirasa perlu? Cewek ini terlalu menakutkan. Yunna bahkan berani mempermainkan kematian. Ia merasa merinding.

“Elo kedinginan, Ky?” tanya Jack yang berdiri di samping Micky. Ia melihat Micky mengigil, jadi ia pikir temannya kedinginan.

“Gw balik duluan. Kalau kalian mau mencobanya silakan.”ujar Micky dingin.

Ia tidak peduli Yunna menatapnya bingung. Mengejarnya dan ikut masuk ke dalam mobil.

“Kamu marah?”

Micky mendengus dan membuang wajahnya menatap ke luar. Hanya orang dungu yang tidak akan marah jika ditipu mentah-mentah seperti tadi. Ketika mengingat kejadian tadi, ia merasa geram, kesal dan marah.

“Baik, kalau kamu memang tidak ingin bicara denganku. Aku juga akan menutup mulut.” ujar Yunna kesal.

Ia tidak mengerti alasan di balik kemarahan Micky. Memang dia menipunya, membuat seorang cowok yang takut ketinggian menolongnya. Tapi dia juga tidak meminta Micky untuk melakukan hal itukan. Dia sudah mengatur rencana ini dengan rapi. Bahkan ia sudah meminta bantuan salah satu staff yang dikenalnya untuk pura-pura menolongnya setelah 2 menit dia meloncat. Sama sekali tidak ada bahaya yang mengintai.

Lalu bukankan ia dengan sukses mencapai tujuannya. Henry mundur dari perjodohan dan cowok itu sendiri yang akan menyampaikan ke orang tua mereka berdua. Karena Yunna yakin, mamanya tidak akan mendengar omongannya. Yang harus memutuskan perjodohan ini hanya Henry.

Jadi, kalau Micky memutuskan untuk membisu, ia tidak harus ambil pusing. Ia tidak mengira kalau sore itu akan menjadi perpisahan mereka.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 13 – Cheating Death

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s