Chapter 14 – Hallow

Yunna tidak pernah tahu kalau hari-harinya bisa membosankan. Tidak ada gairah sama sekali. Musim panas telah berganti menjadi musim gugur. Bikini dan sendal berganti mantel dan boots. Jatuh cinta beralih menjadi patah hati.

Big berhasil menyelamatkan ibu dari Ara dan melalui kesaksiannya, Jung Sung Ho ditangkap. Dari tuduhan melakukan penculikan, berbuntut menjadi kasus korupsi. Jung Sung Ho dihukum 30 tahun penjara dan seluruh assetnya diserahkan kembali ke negara sesuai dengan jumlah dana yang dia selewengkan. Berita tersebut langsung mengemparkan Korea Selatan. mengangkat pamor ayah Yunna. Semua berjalan sesuai dengan rencana.

Hanya satu, ia tidak pernah berhubungan dengan Fox-T sama sekali. Ia menghindar sebisa mungkin. Ia sampai melarang Big untuk memutar radio dan TV supaya ia tidak perlu mendengar sama sekali berita tentang Fox-T. Hanya mendengar kata miki yang artinya umpan ketika ayahnya membicarakan acara mancingnya saja, bisa membuat Yunna sesak nafas. apalagi jika ia melihat orang itu langsung.

Tapi ia tidak bisa menghindar ketika mendengar Keiko akan memakai Fox-T untuk acaranya. Ia tidak mungkin tutup kuping dan pura-pura tidak tahu jika Keiko yang membicarakan orang itu.  Dan, salahkan mulutnya yang comel, ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk menawarkan diri membantu temannya itu. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertarik pada informasi yang diberikan Keiko. Dan dengan gilanya ia menyetujui ide Keiko untuk memakai Fox-T sebagai promoter koleksi winternya.

Ketika ia melaporkan rencananya ini ke meja direksi dan anak buahnya, banyaknya orang yang mengerutkan dahi. Model cowok untuk memasarkan pakaian wanita. Ide gila apa itu? Tapi tidak ada yang berani membantah. Ia adalah pemimpin perusahaan, dan selama ini ide dari Yunna tidak pernah gagal. Mungkin saja ide gila dan irrasional itu malah menjadi brilliant.

“Dan kalau aku berpikir kamu belum gila, rasanya aku perlu memanggil dokter kejiwaan sekarang.” keluh Big saat mereka berada di kantor Yunna.

Yunna tidak perlu menanggapi sindiran dan keluhan Big. Ia sendiri mempertanyakan kewarasan dirinya. Kalau ia bisa begitu percaya diri saat menyampaikan ide ini ke pihak Fox-T dan managementnya. Ia tidak terlalu yakin bisa meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku rasa kali ini aku akan rugi besar.” erang Yunna. Ia mendesah berkali-kali. Otoknya mengalami krisis. Ia tidak pernah sebuntu ini. Bagi Yunna, kalau tidak ada lagi pintu, ia akan mencari jendela. Kalau jendela juga tertutup, maka ia akan mendobrak langsung dengan buldoser. Tidak pernah ada kata menyerah dan selalu ada jalan keluar.

“Apa kamu segitu inginnya bertemu dengan dia yang namanya tidak boleh disebutkan?”

Ia tidak berani menatap langsung ke arah Big. Nanti pengawalnya itu pasti meledeknya habis-habisan.

“Oh, tidak Yunna. Kamu tidak sebodoh itu kan?”

“Tentu saja tidak. Aku membantu Keiko untuk memuluskan jalannya. Apa aku seputus asa itu sampai-sampai harus memakai urusan bisnis untuk bertemu dengan dia?” bantah Yunna. Ia tidak sepenuhnya berbohong. Tapi itu alasan yang lemah, Big mengenal Keiko sebaik dirinya. Jadi Big tentu tahu sahabatnya itu sama sekali tidak memerlukan campur tangan darinya.

“Kamu masih tidak percaya?Aku tidak akan datang saat pembuatan CV mereka.”

“Justru kamu harus datang. Buktikan kalau dia memang tidak berarti apa-apa padaku.” tantang Big sambil menyeringai licik. Harapannya cuma satu, Yunna bisa berpikir lebih jernih setelah menyelesaikan segala urusannya dengan Micky.

2 bulan terakhir ini, Yunna seperti mayat hidup. Selain kenyataan bahwa Yunna tetap pergi bekerja dan tetap makan 3 kali sehari. Tapi tidak ada gairah. Ia tidak suk amelihat Yunna seperti ini. Yunna itu cocoknya marah-marah, bersikap licik, mengerjainya dan pergi menantang bahaya. Bukannya duduk manis dan memutar-mutar kursi seperti yang sekarang dilakukan oleh nona itu.

“Tidak Big. Aku tidak akan datang ke sana. Pertemuan terakhir kami sudah cukup jelas nyampaikan sikap dia. Dia berharap tidak pernah mengenalku. Ironis sekali bukan? Rencana yang aku pikir bisa menyingkirkan Henry dan mempermudah hubunganku dengan dia. Malah membuat dia menjauh.”

Yunna tertawa sumbang. Lebih konyolnya lagi ia tidak merasa menyesal. Ia tetap akan melakukan hal yang sama jika dia diperhadapkan yang sama. Kalau Micky tidak bisa menerima dia yang seperti ini, maka lebih baik ia mengetahuinya dari sekarang. Sebelum perasaannya berkembang lebih dalam. Untung dia belum memperkenalkan Micky ke orang tuanya. Kalau tidak mereka pasti akan kembali menjodohkan dia dengan Henry atau malah akan mengerjai Micky. Karena cowok itu berani-beraninya membuat putri semata wayang mereka patah hati.

Memikirkan tindakan apa saja yang akan dilakukan oleh keluarganya, terutama abangnya itu, membuat Yunna terkikik geli. Mungkin seharusnya dia memberitahu mereka, jadi dia lebih lega? Tidak, ia pasti akan berbalik marah pada keluarganya kalau sampai terjadi sesuatu pada Micky.

Ini, menyebalkan!

“Big, kita ke Maldives sekarang. Pinjem jet sama oppa saja. Aku mau pergi diving!” seru Yunna tiba-tiba.

Membuat Big berdiri. Ia tersenyum senang. Ini dia baru Yunna. Kemanapun Yunna ingin pergi, dia akan menemaninya. Asal Yunna bisa kembali tersenyum. Ia bergegas membuka pintu dan mengambil mobil. Mengurus segala keperluaan mereka agar bisa segera terbang ke Maldives. Tidak peduli, Yunna ingin pergi berapa hari, ia akan menyiapkan keperluan untuk satu bulan Benar 1 bulan.

Ia kembali menjemput Yunna di kantornya, melaporkan kalau semua persiapan sudah beres. Mereka bisa langsung berangkat saat ini juga. Namun ia merengut ketika Yunna terlihat bimbang.

“Big, anak lapangan baru kasih laporan kalau produser kita tidak akan memulai shooting jika aku tidak datang ke sana.”

“Siapa produser yang berani kurang ajar seperti itu?”

“Masa kamu tidak bisa menebaknya?” erang Yunna malas. Ia menyesal sekali sudah meminta bantuan Marco, producer yang dikenalnya di Italy. Hasil karya Marco selalu unik dan khas. Ada personal taste tersendiri. Ia merasa cocok dengan gaya Marco. Tapi yah, itu, Marco selalu menuntut kehadirannya.

Pundaknya lemas seketika. Ia tidak bisa menjawab tatapan Big yang menunggu keputusannya. Lama sekali ia duduk di bangkunya. Memutar-mutar kursi, melipat kertas dan menerbangkannya ke tong sampah.

“Apa kamu mau menenggelamkan kantor ini dengan pesawat terbang?” tanya BaeWon. Ia mendapat laporan aneh dari Big mengenai kondisi adiknya. Jadi ia memutuskan untuk mampir. Hubungan dengan adiknya sudah lama retak, sejak ia menikah dengan kakak Keiko. Tapi itu tidak berarti ia berhenti mempedulikan adiknya ini.

“Ngapain Oppa ke sini?” desis Yunna tidak senang. Ia masih belum memaafkan abangnya itu.

“Untuk memukul pantatmu. Apa kamu akan membiarkan Micky membuat kamu seperti ini?”

“DARI mana oppa tahu? Oh, aku lupa, kamu punya mata-mata paling setia yah.” ia melempar tatapan kesal pada BIg. Pengawalnya ini terlalu ikut campur.

“Jadi kamu akan membiarkan diri kamu hancur sedangkan MIcky gets all the glory and fame? Never knew that my little sister so generous!” sindir BaeWon. Ia sudah duduk sambil menyilangkan kaki di sofa tamu. Kalau dalam kondisi biasa, adiknya itu pasti sudah mengusirnya bukan malah duduk-duduk saja. Tampakanya masalah ini cukup serius. Ia tidak menyangka adiknya bisa sedilema ini. Menurut laporan yang dia terima, Micky ini biasa-biasa saja. Selain status keartisannya dan jumlah pengemar yang membludak. Tidak ada yang istimewa. Apa yang adiknya lihat dari cowok standar seperti Micky?

Yunna berdiri, menarik tasnya dan melempar senyuman liciknya ke BaeWon. Ia membalas dengan tersenyum lega. Beres sudah masalahnya. Ucapannya tadi setidaknya sudah membakar sebagian semangat yang ada. Ia yakin setengahnya lagi dapat ditemukan oleh Yunna saat bertemu langsung dengan mahluk bernama Micky itu.

“Aku harap oppa akan puas melihat hasilnya nanti.” sindir Yunna. Yang tentu saja membuat BaeWon tertawa. Oh, dia tidak sabar menunggu laporan Big. Ia bahkan memberi mandat khusus ke anak buah kepercayaannya itu untuk membiarkan adiknya sendiri tapi tetap dalam jarak aman. Tahulah, mengawal Yunna tanpa disadari adiknya itu. Setelah insiden Yamaguchi, ia tidak ingin Yunna lepas dari penjagaan.

Tidak sampai 30 menit, Yunna sudah tiba di lokasi shooting. Konsepnya amat sederhana. Seorang cewek biasa diubah penampilannya dengan koleksi pakaiannya. Menjadi percaya diri tanpa kehilangan jati diri. Sesuai motto Cleo.

Saat ia memasuki ruangan. Fox-T sedang dirias, jadi ia tidak perlu menyapa mereka. Walau tidak bisa disangkal matanya mencari-cari sosok orang itu. Puas hanya dengan melihat punggung Micky. Ia meneruskan perjalanannya sampai ke tempat Marco duduk bersama crew.

Dasar orang Italy. Marco memeluknya, mencium pipi kiri dan kanannya lalu mengenggam tangannya sepanjang mereka berdiskusi.

“Nah, sekarang kita bisa mulai Shooting.” ujar Marco riang.

“Kamu mau memberitahuku mengapa aku harus darang hari ini? Bukannya kemarin kamu sudah setuju dengan ketidakhadiranku?” bisik Yunna. Ia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya.

Tapi dasar iseng, Marco malah menjawabnya dengan lantang, “Dan kamu mau aku bekerja sendirian, Baby? Aku jadi kejam sekarang?” Marco bahkan mencubit pipinya dan merangkul-rangkulnya. Ia ingin sekali menjitaknya, terlebih semua itu Marco lakukan tepat saat Fox-T datang.

Ia tidak perlu melihat untuk mengetahui Micky dan teman-temannya itu menatapnya tajam. Ia juga tidak memerlukan kode dari Big untuk menebak siapa yang memberi tatapan membunuh.

“Baik, mari kita mulai. Micky kamu berdiri di sini dan JunJin di sini.” ucap Marco memberi pengarahan. Hanya saat seperti ini Yunna terbebas dari Marco. Ia mencondongkan badannya ke belakang dan memanggil Big.

“Dia cemburu?” bisik Yunna.

“Kalau itu bukan cemburu, aku tidak tahu apalagi namanya. Setidaknya kamu tidak bertepuk sebelah tangan.” ledek Big. Ini akan menjadi tontonan menarik, mungkin sekarang saat yang tepat untuk ‘menghilang’. “Yun, aku harus kembali ke kantor, tadi abang kamu pesen untuk mengurus proyeknya di Inchoen. Ada preman lagi.”

Yunna membelalakan matanya terkejut. Big akan meninggalkannya sendirian di antara buaya dan singa ini. “Tidak, aku tidak mengijinkan kamu untuk pergi. Kasih tahu oppa!” tolak Yunna panik.

Big tersenyum, Yunna jadi tampak lemah sekarang. Tapi dia harus tega, toh dia cukup aman berada di sini. Ada Marco yang pasti menjaga Yunna lebih baik dari dirinya. Cowok itukan posesif. “Maaf, Nona Muda. Saya lebih takut dipecat.” ia tidak menunggu Yunna membalas ucapannya dan buru-buru kabur dari sana. Bersembuyi cukup jauh tapi tetap bisa mengawasi gerak-gerik Yunna.

Yunna sudah ingin mengejar Big kalau saja Marco tidak kembali di saat yang bersamaan. Ia menghela nafas berat. Ini akan menjadi hari yang melelahkan.

“Kamu mau cerita kenapa lead actor kita terus-terusan memelototi saya?” ucap Marco dalam bahasa   Italy. “Jangan pura-pura tidak mengerti, aku yakin ilmu yang aku turunkan untukmu tidak secepat itu luntur.”

“Jadi kamu ada affair dengannya?” tanya Marco lagi tidak membiarkan Yunna kabur.

Pasrah ditodong seperti itu oleh Marco, ia menjawab, “Hanya masalah kecil.”

“Kecil tapi belum tuntas? Mau aku bantu?” ucap Marco sambil mengedipkan mata padanya. Yunna ingin menjewer kuping Marco lagi. Perlu diketahui, cowok macho ini gay. Tidak tertarik dengan perempuan cantik manapun. Marco juga tidak malu-malu membawa pacarnya ke tempat pertemuat mereka dulu ketika Yunna sedang di Italy. Tapi di Korea, catatan dia bersih. Tidak ada yang mengetahui rahasia kecil tersebut.

“Dengan cara apa Yang Mulia Marco? Cowok itu bahkan tidak mau repot-repot menyapaku.”

“Well, tapi temannya yang cantik itu tidak berhenti melaporkan padanya setiap tindak tanduk kita. Termasuk kalau saat ini aku mengecup pipimu dan merangkulmua, Nona Yunna yang terkasih.” ledek Marco centil. Yunna hanya bisa tertawa menanggapi keisengan Marco. Ia tidak bisa membantah, Marco ini punya keahlian khusus. Membaca gerak bibir seseorang dan pengetahuan bahasa Korea Marco sudah sebanding dengan anak SMA Korea. Termasuk setiap kata-kata joroknya.

“Apa menurut kamu, aku masih ada harapan?” tanya Yunna sambil mengerlingkan matanya dan mencubit pingang Marco. Ia perlu membalas keramahan Marco bukan? Supaya terlihat lebih meyakinkan.

“Tentu, kamu percaya dengan instingku kan?”

Marco membisikan padanya rencana bulusnya, membuat Yunna cekikikan. Briliant. Ia yakin siapapun akan setuju jika sudah mendengar rencana yang diajukan oleh Marco tadi.

“Never mess with gay’s girlfriend.” ucap Marco dengan serius dan kembali membuat Yunna tertawa terbahak-bahak.


Advertisements

2 thoughts on “Chapter 14 – Hallow

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s