Chapter 15 – Cemburu

“Dia masih cekikikan?”

Jack yang sedari tadi menjadi mata Micky, mengangguk. Ia dan teman-temannya terkejut luar biasa, ketika Yunna datang tadi. Tidak terpikirkan kalau cewek itu akan kembali muncul di hadapan mereka. Setelah apa yang terjadi dulu. Bukankah sikap mereka sudah cukup jelas saat Yunna datange bersama Keiko di konser mereka dulu? Kenapa cewek ini masih berani datang.

“Apa dia berencana untuk menyaksikan kamu melakukan kesalahan?” tanya Alex ikut nimbrung. Tidak ada yang simpati dengan Yunna saat ini. Terlebih karena Yunna sudah membuat Micky patah hati. Well, tidak sepenuhnya salah Yunna sih. Tapi cowok mana yang masih mau dengan cewek licik seperti Yunna.

“Apapun tujuannya, aku tidak akan membiarkan dia mendapatkannya!” ucap Micky dingin. Ia tetap tersenyum dan melakukan tugasnya. Menyembunyikan semua perasaan yang sedang berkecambuk di hatinya.

Ia mengutuki dirinya sendiri karena tetap merasa senang ketika melihat Yunna datang tadi. Merasa lega ketika cewek itu tertawa dengan riangnya. 2 bulan ini, ia mati-matian menghapus keberadaan cewek itu. Konyolnya semakin ia menekan perasaannya, ia malah semakin ingin bertemu. Tentunya secara sembunyi-sembunyi. Akan sangat memalukan baginya jika teman-temannya ini mengetahui dia tetap menginginkan Yunna bahkan setelah perlakuannya dulu.

Tapi ia tidak kuasa menahan perasaannya sendiri. Ia bahkan tidak bisa berhubungan dengan cewek lain jika yang diinginkannya hanya menyentuh Yunna. Dan hanya Yunna.

“Kita MULAI lagi!” panggil Marco mengumpulkan para pemain dan crew. Ia memberi perhatian khusus ketika Micky sedang berakting. Ia tidak curiga sama sekali sebelumnya kalau penolakan Yunna untuk hadir di sini karena Micky. Untung BaeWon memberitahunya, jadi dia masih sempat memaksa Yunna datang. Ia perlu melihat dengan mata kepalanya sendiri karena Micky sama sekali berbeda dengan standard persyaratan yang bisa dikumandangkan Yunna. Cowok macho ala Tom Cruise. Well, Micky defenitely sexy and charismatic. Must be very gentle with women tapi jelas tidak macho. Ia tidak melihat otot yang luar biasa di balik kemeja yang dikenakan Micky. So, what is about Micky yang membuat teman perempuannya ini gundah.

“Baik, kita mulai lagi. Micky tolong untuk adegan terakhir ini, tatap JunJin seperti kamu menatap pacar yang sudah lama kamu rindukan. You know, madly in love.” ucap Marco memberi pengarahan. Kagum juga dengan kinerja Fox-T. Ini pengambilan gambar terlancar yang pernah ia lakukan. Tidak ada repeat scene sejauh ini.

Dan, kemana Micky memandang? Ia menarik lurus dari mata Micky ke, ya ampun, Yunna? dengan matanya. Biar tidak ada yang tahu kalau dia sedang memperhatikan cowok itu. Jadi Micky masih suka dengan Yunna? Tapi dari tadi Micky bersikap dingin. Malu-malu tapi mau?

Ia tersenyum licik semakin licik. Ide di otaknya berubah makin liar. BaeWon akan membayar mahal untuk jasanya kali ini. Mungkin BaeWon akan bersedia menemaninya satu hari di Ibiza. Abang Yunna terlalu sexy dan keren jika hanya untuk dikuasi oelh satu wanita saja.

“Cut, ulangi lagi.” perintah Marco, padahal ia tidak melihat akting Micky walau matanya menempel di depan layar.

“Menurut aku lumayan kok.” kemonetar Yunna, sangat tidak penting. Marco memberinya tatapan jangan ikut campur.

“Sejak kapan Marco puas dengan lumayan? Kamu menyewaku untuk karya yang sempurna.” bantah Marco.

Yunna cuma bisa diam kalau Marco sudah ngotot seperti itu. Mulai lagi deh sifat perfekionisnya. Rasanya ia mendengar teriakan ‘Cut’ lebih dari 10 kali. Amrco bahkan sudah berdiri sambil marah-marah. Meneriaki mereka.

“Apa kamu tidak pernah jatuh cinta Micky-ssi? Lalu JunJin tolong hentikan tatapan terpesonamu itu. Please, kalau aku perlu seorang amatiran, aku akan menyuruh hairdresser untuk berdiri di sana!”Bentak Marco. Lalu kembali duduk. “Yunna, kamu coba gantikan JunJin. Tunjukan pada mereka apa itu akting.” perintah Marco tiba-tiba.

Yunna sampai tersedak minumannya. “Aku???” tanya Yunna tergagap. Jadi ini rencana busuk Marco. Seharusnya dia memberitahunya dulu, bukannya langsung menyeretnya seperti ini.

“Nah, show ‘em gal. Jangan bikin malau piala di kamar kamu yang berjejer itu.” ledek Marco.

Yunna tidak membalas ledekan tersebut, karena Micky sedang menatapnya lekat. Mata itu, bibir itu. Yunna mengehela nafas, menghirup sebanyak yang ia bisa. Bahkan untuk sekedar mengucapkan hai saja ia tidak sanggup. Jadi ia hanya mengulurkan tangannya, menjabatnya sebentar sambil berkata, “Mohon bimbingannya.”

Ia membalikan badan, dan memberi kode pada Marco kalau dia sudah siap. Adegan ini sangat sederhana. Ia hanya perlu berjalan dengan penuh percaya diri, melewati Micky, lalu cowok itu akan menangkap tangannya dan mereka bertatapan.

Jadi Yunna berjalan, seperti biasa, cara jalannya memang selalu berwibawa dan penuh percaya diri. Melewati Micky dengan angkuh, lalu membalikan badannya dan mereka saling bertatapan. Ia menunggu Marco berteriak cut, tapi ditunggu selama apapun temannya itu tidak juga berteriak. Malah, Micky mencondongkan wajahnya dan mengecup bibirnya. Membuat ia membelalakan mata, terperangah, terkejut dan loncat ke surga. Yunna tahu itu ungkapan yang berlebihan tapi sungguh, saat bibi mereka saling bersentuhan, ia tidak lagi berada di bumi.

“CUT!” teriak Marco puas. Micky langsung menjauh dari Yunna, kembali ke tempatnya. Sedangkan Yunna berjalan ke tempat Marco. Kali ini Marco harus membayarnya karena sudah menjadikannya tontonan publik.

“Sudah lihat JunJin? Tolong lakukan sama persis seperti tadi.” perintah Marco. Dan memang itu yang dilakukan Micky dan JunJin.

“Dan kamu Yunna, kamu berhutang lingerie padaku untuk ciuman tadi.” bisik Marco, membuat Yunna bersemu merah.

Akhirnya pengambilan gambar ini selesai persis ketika matahari menyelinap, berganti bulan. Yunna sudah bersiap untuk pergi ketika lagi-lagi temannya yang centil itu menyuruh dia bergabung dan pergi minum. Mengancamnya akan membakar hasil rekaman hari ini, jika Yunna tidak ikut.

Dan di sinilah Yunna, duduk berseberangan dengan Micky dan Junjin. Di sebelah Marco. Kalau meja ini hanya di isi oleh mereka ber-empat. Yunna yakin, akan terjadi pertumpahan darah dan airmata. Setidaknya darah JunJin. Karena model itu dengan santai bermanja-manjaan pada Micky. Menempelkan dadanya yang montok ke lengan Micky setiap kali ada kesempatan.

“Dan saya baru tahu kalau anda bisa cemburu, Yunna” ucap Marco kembali dalam bahasa italy. dan dibalas dengan sengit oleh Yunna, “Kalau kamu melihat cowokmu ditempeli buah melon sebesar itu, kamu juga akan bereaksi sama Marco!”

Marco tertawa, “Tapi Lee tidak suka dengan melon. Dia lebih menyukai dada berbulu seperti milikku.”

Ia menahan cubitan yang dilancarkan Yunna dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya mengelitiki Yunna. Ia tertawa makin keras ketika melihat Micky memelototi mereka dengan penuh kecemburuan.

“Kamu sangat beruntung.” ucap Marco dalam bahasa Korea yang tentunya dimengerti semua orang di sana. Tapi tidak ada yang mengira kalau Marco mengatakan itu pada Micky. Dan jelas kepada Micky, karena Marco menatap cowok itu ketika berbicara tadi.

Micky bingung. Apa sih yang bicarakan producer ganjen ini.Yunna juga mau-maunya saja, lengket-lengket begitu dengan cowok perlente ini.

“Okey, saya pergi dulu. Lee sudah datang.” ucap Marco, sambil melambai pada cowok ganteng yang berada di pintu masuk restaurant. Semua mata menatapnya ketika Marco berpelukan dan berciuman mesra di sana.

“Bye, gal…!” teriak Marco centil sebelum masuk ke mobil Lee dan menghilang. Membuat orang-orang mengunjingkan kejadian heboh tadi.

“Di..dia gay?” tanya Ben pada Yunna.

Karena tidak yakin, Ben berbicara dengannya Yunna hanya diam saja. Dia baru menjawab ketika Ben menambahkan namanya di pertanyaan yang sama. “Yah, Marco gay. Memangnya ga kelihatannya? Dia lebay sekali kan?”

Jawaban Yunna malah membuat restaurant semakin rusuh. Ia harus berterima kasih pada Marco, karena sudah memperlihatkan wajah cemburu dan wajah terkejut Micky padanya.

“Dia tidak terlihat gay.” gugam Max yang duduk di seberang.

“Dia berusaha menutupinya dengan baik. Tapi seharusnya kalian curiga ketika Big dan aku membiarkan Marco menempel-nempel padaku.”

“Kami pikir, dia pacarmu…” komentar Jack jujur. Siapa yang tidak? Sikap mereka terlalu terbuka. malah tadinya dia pikir Yunna ingin membuat Micky cemburu.

Yunna tertawa lebih keras sekarang. Mereka memakan mentah-mentah sandirawanya.

“Kalau aku sampai pacaran dengan Marco. Rasanya orang tuaku bisa bunuh diri! Marco itu tidak tahan dengan kotor, makanan korea dan perempuan. Jadi maaf JunJin, sikap keras Marco tadi jangan diambil hati. Dia selalu begitu jika melihat cewek yang lebih cantik darinya.”

“Tapi dia ramah sama elo, Yun.” tutur Alex.

“Gw istimewa. Gw banyak bantu dia dulu dan alasan lainnya. Menurut Marco aku ini laki-laki yang  memiliki badan perempuan.”

Mendengar Fox-T tertawa menanggapi gurauannya, Yunna menghela nafas lega. Sepertinya mereka sudah tidak marah padanya. Walau Micky sama sekali tidak ikut berbicara dan JunJin terus melancarkan serangannya pada Micky. Yunna berusaha tidak memperhatikan mereka. Ia terus tertawa dan berbicara dengan Ben atau siapapun juga yang mengajaknya bicara, dan bersulang kepada setiap orang yang mengangkat gelas padanya. Malam ini perlu dirayakan.

“Ok, kalau begitu saya pamit dulu.” ucap Yunna ketika merasa kepalanya berat.

“Elo yakin, bisa balik sendiri?” tanya Jack.

“Ehmm, rasanya tidak masalah. Gw akan memanggil taxi.” ucap Yunna mantap.

Ia keluar dan menunggu di pinggir jalan. Sedikit terhuyung-huyung. Lalu memejamkan matanya ketika ia menemukan sandaran. “Dasar bodoh…” gugam Yunna pada dirinya sendiri. Ketika melihat taxi datang, ia masuk ke dalam dan tertidur pulas.

“Nona? Kita mau kemana? Nona?” tanya si supir taxi kebingungan. Sial sekali dia harus berurusan dengan cewek mabuk. Sudah bau, tidak sadar lagi. Bairpun penumpangnya kali ini cukup cantik, tapi tetap saja ia tidak bisa menerimanya. Ia turun dari mobil dan bersiap menarik penumpang mabuknya ini keluar. Tapi keburu dihentikan oleh seorang cowok.

“Maaf, dia temanku. Menuju ….” Micky menyebutkan alamat rumahnya.

Ia menyusul Yunna setelah berhasil menyingkirkan JunJin. Ia tidak bisa membiarkan cewek ini pulang sendirian. Seberapapun kesalnya dia pada cewek ini, sebagian dari dirinya tetap menyayangi Yunna. Ia tidak memberitahu teman-temannya kalau dia menyusul Yunna. Walaupun mereka sudah kembali berbicara dengan Yunna tapi dia tidak yakin mereka akan menerima Yunna sebagai pacar Micky. Bahkan Alex dengan tegas berkata padanya dulu kalau Yunna itu wanita iblis yang terlalu licik. Tidak cocok untuk Micky yang mudah terbawa perasaan.

Tapi benarkah demikian. Walau ia tahu Yunna teramat licik, toh ia masih tetap memikirkan cewek ini. Kerinduannya pada Yunna sama nyatanya dengan kebodohannya. Kepedualiannya sama besarnya dengan ketidaksukaannya pada Yunna. Semua perasaan yang berlawanan yang mengerogoti dirinya selama ini harus dituntaskan.

Ia menatap wajah terlelap Yunna. Berkali-kali kepala Yunna menjeduk jendela. Ia tersenyum, Siapa yang menyangka cewek terlihat bodoh ini bisa berubah selicik ular. Ia menarik kepala Yunna dan membiarkan cewek itu bersandar di bahunya. Yunna minum terlalu banyak tadi. Ia sudah ingin menghentikannya tapi tidak berani. Salah-salah Yunna malah menepisnya dan menganggap ia terlalu ikut campur. Yunna pasti tidak tahu betapa leganya tadi, saat ia mendengar Marco itu gay. Artinya dia masih mempunyai harapan. Walau hanya secuil.

Setelah memastikan Yunna tertidur di kamarnya. Ia pergi lagi. Jack bilang mereka akan merayakan keberhasilan pejualan album baru mereka di PopTeen.

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 15 – Cemburu

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s