Chapter 19 – I Could Do Better Than This

Saengkil chuka hamida, Keiko-chan…….!” seru Yunna, membangunkan sahabatnya. Hari ini ulang tahun Keiko yang ke-23. Biarpun ia masih ngantuk dan belum mandi. Ia tetap mendatangi Keiko dan mengucapkan selamat. Memeluk Keiko dan membanjirinya dengan kecupan-kecupan konyol. Membuat Keiko tertawa terpingkal-pingkal saking gelinya.

“Nah, ini hadiah dari gw.”

Ia melempar kantong berisi wig berambut pirang. Ia memesan wig ini untuk dikirimkan subuh tadi. Ia tidak tahu bagaimana cara Big bisa mendapatkan benda ini saat tengah malam tadi. Yang pasti ia harus ingat untuk berterima kasih untuk kinerja anak buahnya yang hebat itu. Coba, kerjanya secepat itu untuk menemukan VC, ia pasti akan memikirkan reward yang lebih besar dibanding sepotong kata terima-kasih.

“Penyamaran yang sempurna adalah menjadi mencolok sampai tidak terlihat.” ucapnya sambil memasangkan wig tersebut di kepala Keiko. Ukurannya pas dan tidak terlihat aneh.

“Ini lebih baik daripada baju elo yang kemarin. Cara memasangnya juga tidak terlalu rumit. Jadi elo   bisa copotin ini kalau sekiranya situasi cukup aman. Walau gw nyaranin banget untuk tidak melakukan hal tersebut. Jadi, tolong jadi anak baik dan pulang ke rumah tepat waktu.  Atau gw akan menyuruh Big untuk mengawal elo.”

“Baik nenek peri….” goda Keiko.

“Ya sudah, elo mandi gih. Ntar gw yang anter elo. No, jangan bantah gw! Ini bukan saatnya elo tawar-menawar atau bersikap malu-malu! Apa elo betulan pengen Big mengekori elo seharian?” ancamnya, mengenal jelas betapa Keiko membenci segala hal tentang pengawal.

Ia keluar, setelah membuat Keiko berjanji padanya. Mereka sama-sama bersiap-siap untuk bekerja. Big sudah menunggu mereka di luar. Ia mengantar Keiko terlebih dahulu baru menuju kantornya.

Begitu Keiko keluar dari mobilnya, ia menuntut laporan lengkap Big akan tugas pencarian VC.

“Aku belum berhasil menemukan mereka. Geng Black Scorpio memang terkenal, tapi unit mereka termasuk kecil. Berdasarkan penyelidikan, hanya terdiri dari 8 orang, termasuk ketua mereka.”

“Kamu sudah tahu nama mereka?”

Big mengangguk, “ Ketua mereka bernama Oh Bang Chul, pernah dituntut atas tindakan penyerangan, pemerasan dan penipuan. Targetnya selalu artis atau selebritis yang sedang naik daun. Tujuannya uang. Aku dengar dia terlibat banyak hutang, makanya ia melakukan pemerasan tersebut atau menjualnya kepada siapapun yang ingin membeli informasi tersebut.”

Yunna meremas genggamannya, berita ini sama sekali tidak baik. Bisa saja pemeras ini tetep membocorkan foto Keiko, walaupun sudah mendapatkan uang dari management Fox-T.

“Big, pancing Oh-ssi ini keluar dengan menyebarkan informasi kalau ada seseorang yang ingin membeli berita tersebut. Atur pertemuan dengannya, dan tangkap dia dan seluruh anak buahnya saat klise sudah kamu dapatkan. Selesaikan masalah ini sebelum matahari terbenam.”

“Baik.”

Ia tidak menyangka sama sekali kalau rencananya yang sempurna itu bisa gagal.

Sore hari, ia menerima laporan kalau anak buah Big berhasil menghubungi Oh Bang Chul dan mengatur pertemuan di salah satu cafe di daerah Itaewon. Cafe yang selalu padat dengan pengujung. Cake Lover.

Ia memantau sendiri transaksi yang sedang berlangsung diantara Oh Bang Chul dan anak buahnya. Semua berjalan mulus sesuai dengan rencana. Mereka akan kembali bertemu di markas Black Scorpia sore nanti.

Namun keadaan berubah begitu telpon dari Keiko masuk. sahabatnya ini berkata bahwa ia melihat Oh Bang Chul dan siap mengejarnya.

“Yun, gw lihat orang yang mirip si kalajengking. Tolong kirim bantuan ke sini yah. Di daerah Itaewon, Cake Lover. Kasih tahu Fox-T sekalian.”

Suara bisikan dari Keiko yang terdengar seperti gemuruh petir di kupingnya. Ia menyuruh Big mengerahkan anak buahnya dan membuntuti Keiko. Lalu buru-buru ia menelpon Micky. Lupa kalau mereka sedang bertengkar. Untungnya cowok itu mengangkat panggilannya.

“Ky, gawat!!!! Keiko ketemu Oh Bang Chul. Kamu dimana?” ucapnya berbarengan dengan ‘hallo’ dari Micky.

“Siapa Oh Bang Chul?”

Ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk bercerita panjang lebar mengenai Oh Bang Chul. Tapi ia juga tahu kalau Micky tidak akan mendengarkannya kalau tidak mengetahui duduk perkara yang terjadi. Jadi ia menjawab dengan tidak sabar, “Aku akan ceritakan nanti. Siapa yang ada di daerah Itaewon saat ini?”

“Kita semua masih di studio, di kantor pusat. Paling cepat 30 menit baru bisa sampai di Itaewon.”

“Shooot… saat itu semua sudah terlambat! Suruh Max menelpon Keiko. Gunakan loudspeaker agar semua orang bisa mendengar penjelasan darinya. Nanti aku telpon lagi!”

Ia mematikan ponselnya dan masuk ke dalam mobil. Ia menyetir sendiri karena Big sudah pergi lebih dulu. Ia memerintah pengawalnya itu untuk mencari Keiko dan menarik sahabatnya itu dari lokasi. Ia juga menelpon inspektur polisi yang dikenalnya untuk melaporkan masalah yang ia hadapi dan meminta mereka bekerja sama.

Saat ini waktu bubar kantor, seluruh jalanan padat dengan mobil. Ia menyesal tidak mengunakan helikopternya di saat seperti ini. Tentunya dari atas sana, akan lebih mudah untuk menemukan Keiko dan tentunya juga ia juga tidak akan terjebak kemacetan seperti sekarang. Ia memencet klaksonnya tidak sabar di sepanjang jalan. Berharap semua mobil menyingkir dan memberikan jalan untuknya. Sia-sia, lalu lintaas terlalu padat.

Beruang kali ia mencoba menelpon Keiko kembali, tapi tidak bisa. Ia semakin tegang. Apalagi Big baru saja memberi laporan kalau dia dan anak buahnya kehilangan jejak Oh Bang Chul dan Keiko.

Ia mencoba melpon Micky juga, tapi tidak ada yang mengangkat.

“Shoot!!!” teriaknya kesal.

Akhirnya ia sampai juga di daerah Itaewon. Memakirkan mobilnya di depan Cake Lover. Menemu Big dan bersama-sama mencari Keiko.

“Bagaimana kamu bisa kehilangan dia?!” maki Yunna kesal.

“Saat aku tiba di sini, Oh Bang Chul sudah tidak terlihat. Anak buah kita juga tidak berhasil menemukan Keiko. Padahal aku sudah menyebarkan foto Keiko agar mereka lebih mudah mencarinya”

Yunna mengerang saat melihat foto yang dimaksud olh Big, “Big, hari ini Keiko berambut pirang, ingat?!”

“Maaf, saya lupa kalau hari ini Nona Keiko sedang menyamar.” gugam Big merasa bersalah atas kebodohannya.

“Sekarang suruh anak buahmu mencari cewek dengan rambut panjang berwarna pirang. Sekarang sudah 30 menit berlalu. Kalau Keiko tidak ada di jalan besar, berarti mereka sudah menangkapnya atau memojokkannya di lorong-lorong. Suruh seseorang menggunakan helikopter menyarinya!” perintahnya lagi sambil terus berlari.

Mereka terus mencari di setiap lorong yang mereka temui. Nihil. Sampai mereka mendengar suara letusan tembakan dari ujung jalan.

“Kita ke sana. Lihat ada apa!”

Ia berlari membuntuti Big. Bagaimanapun juga Big lebih tinggi darinya, susah sekali mengikuti kecepatan langkah pengawalnya ini. Ia menubruk Big saat mereka sampai di ujung kerumunan.

“ADA APA?! KENAPA berHEnTI!!” teriak Yunna dengan suara terengah-engah.

Ia tidak perlu mendengar jawaban dari muut Big. Karena saat itu Max, keluar dari antara kerumunan sambil membopong tubuh Keiko. Nyaris saja Yunna pingsan di sana. Kalau Big tidak menopangnya.

“Ayo, kita kembali ke mobil. Susul langsung saja ke rumah sakit.” bisik Big yang hanya samar-samar di dengar Yunna.

Mereka masuk ke dalam mobil dan membuntuti mobil yang ditumpangi Jack.


Advertisements

One thought on “Chapter 19 – I Could Do Better Than This

  1. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s