Chapter 22 – With All My Heart

Yunna segera datang ke rumah Micky, begitu pacarnya menelpon. Padahal ia baru saja mendarat dari Paris. Hari ini sudah seminggu sejak pertengkaran mereka. Ia sudah berniat untuk bertemu dan meminta maaf. Dan syukurlah Micky menelponnya duluan. Ia tidak menghubungi Micky karena terus berada di Paris-Milan, dimana show untuk Pre-Autumn season sedang berlangsung. Label fashionnya mendapat kehormatan untuk melakukan show bersama perancang dunia.

Andre Kim, Marc Jacobs, Philip Lim, dan banyak lagi perancang terkenal menyambut hangat koleksinya. Memuji bahwa rancanggannya merupakan membawa angin segar di dunia fashion. Bahkan Calvin Klien mengharapkan kolaborasi project untuk spring and summer collection tahun depan. Pokoknya sukses besar.

Jadi jangan salahkan Yunna, kalau ia masuk ke rumah Micky dengan wajah semuringah, mengecup pipi Micky kiri dan kanan, serta memeluknya erat.

“Miss youu so much…” erang Yunna. Kalau tidak berdekatan seperti ini, ia tidak akan sadar betapa ia merindukan Micky.

Micky tidak membalas pelukan Yunna. Ia malah melepaskan diri dan mundur beberapa langkah dari nya. Ia jijik terhadap Yunna. Ia masih tidak habis pikir bagaimana ia bisa pacaran dengan cewek tidak berhati sepertinya.

“Ada apa? Kamu masih marah?” tanya Yunna bingung. Bukannya Micky ingin mengajaknya berbaikan, jadi menyuruhnya kemari.

“MARAH?! Aku merasa jijik! Bagaimana mungkin kamu membuat sahabat kamu sendiri terluka?”

“Aku pikir aku sudah menghentikan niatmu untuk menyuruh preman mengerjai Keiko! Tapi aku salah, kamu memang wanita berhati dingin. Tapi tenang, aku tidak memberitahu Jack, kalau ide kamu yang membuat Keiko terbaring di ranjang sekarang.”

“Keiko terbaring di ranjang? Apa yang terjadi padanya?” Ia menatap Micky bingung. Ada apa ini? Big tidak memberitahu apa-apa. Tapi bagaimana mungkin pengawalnya itu bisa mengetahui kejadian di Seoul, sedangkan Big sibuk mengamankannya dari paparazi.

“Putus. Aku minta putus. Sebelum aku semakin tidak menghargai kamu.”

“Kamu tidak mau mendengar penjelasan aku dulu?” tanya Yunna. Ia memicingkan matanya, menahan airmata yang sudah bertumpuk di pelupuk matanya. Seburuk itukah dia dimata Micky, sampai cowok itu berpikir ia mampu menyakiti Keiko.

Melihat Micky tidak menjawab, juga tidak mengelang. Yunna menegangkan mukanya. “Baik. Selamat siang Micky-ssi.”

Ia meninggalkan kotak berisi sepatu yang khusus ia pesan dari Marc Jacobs. Perancang itu sudah berbaik hati mengabulkan keinginannya. Marc tidak pernah mengeluarkan sepatu cowok untuk umum. Hanya untuk kalangan sendiri. Dan sepatu itu seharusnya menjadi hadiah ulang tahun yang istimewa untuk Micky. Namun, karena mereka putus hari ini – artinya dia tidak mungkin di samping Micky saat cowok itu berulang tahun 2 minggu lagi, maka ia harus memberikannya sekarang.

Sampai di mobil, ia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua perasaannya. Tidak peduli Big menatapnya bingung dan bertanya padanya apa yang terjadi. Yunna hanya mengatakan satu kata, Inchoen. Maka Big sudah mengerti kalau Yunna ingin menghilang. Satu-satunya obat yang bisa menenangkan Yunna adalah sky diving. Tempat terdekat untuk melakukannya adalah di Incheon.

Big menyewa trainer dan pesawat kecil untuk menemani aksi Yunna. Big mengantikan dirinya menjawab semua telpon yang masuk. Ia tidak ingin digangu.

Setelah satu minggu penuh dengan petualangan. Yunna bahkan pergi ke Capetown dan berburu rusa. Ia kembali ke Seoul. Kembali ke sisi Keiko seakan tidak ada yang terjadi. Ia kembali sibuk dengan semua pekerjaannya.

Kali ini, ia tidak menutup diri. Ia membiarkan media memotretnya ketika ia hadir diberbagai acara. Menerima wawancara singkat dan memamerkan senyum mengkilatnya. Yunna juga selalu hadir dengan pendamping yang berbeda-beda. Kembali ke dirinya yang dulu.

Seperti malam ini. Ia datang menonton opera. Dengan pendamping orang asing yang rupawan. Anak teman papanya. Anak Duta Besar dari Perancis. Pierre apa lah itu, Yunna malas menghafal nama orang-orang yang hanya beredar di sekitarnya untuk 4 jam ke depan. Tentu saja ia kembali menjadi sorotan. Ia memang sengaja menjadi sorotan. Ia perlu menunjukan pada cowok itu, kalau dia hidup sehat dan bahagia. Putus dengan Micky tidak berpengaruh apa-apa untuknya. Setidaknya tidak jika ia sedang berada di depan umum. Cukup Big dan bantal tidurnya yang tahu berapa banyak airmata yang sudah ia berikan untuk cowok itu.

“Kamu pasti suka acara kali ini. Kata teman-temanku, penyanyi yang satu ini berbeda dengan penyanyi opera kebanyakan. Tiketnya paling laris. Aku sampai perlu membujuk kenalanku untuk mendapatkan tiket hari ini.” cerita Pierre.

Yunna sama sekali tidak tertarik. Ia menatap panggung dengan tatapan kosong. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya saat lampu dipadamkan.

“Nah itu, itu dia penyanyi yang aku bilang tadi. Yang jadi Mozart. Kalau tidak salah namanya Ben dari vokalis dari Fox-T.”

Yunna tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya. Matanya langsung membelalak begitu mendengar nama Fox-T. Yunna mengunakan teropongnya untuk memastikan kalau yang berdiri di atas panggung adalah Ben yang sama dengan yang dikenalnya. Benar itu Ben yang sedang bernyanyi. Yunna lalu mengeser pandangannya, masih dengan teropong untuk menyisir barisan penonton. Mencari sosok seseorang. Tidak bisa, terlalu gelap.

“Bagus, aku memang tidak ingin bertemu dengannya.” gugam Yunna.

“Apa?” tanya Pierre, mengira Yunna berbicara dengannya.

“Oh, aku bilang, Ben memang penyanyi yang hebat. Tapi setahuku dia bukan penyanyi opera.”

“Ah, Ben.” ucap Pierre kemudian menepuk-nepuk punggung tangan Yunna.

Cowok itu memang sedari tadi mengenggamnya. Kebiasaan orang Eropa, tangan meraka rajin menjamah. Kalau tidak memandang papa, Yunna pasti sudah membuat tangan cowok ini terkilir. Pierre tidak malu-malu merangkul dan mencium keningnya saat di sorot wartawan tadi.

1 Babak sudah selesai. Mereka diberi istirahat sejenak. Yunna memakai kesempatan itu untuk ke toilet. Kantung kemihnya nyaris meledak menahan kencing. Setelah lega, ia mencuci tangan dan memeriksa kembali senyumannya di kaca. Setelah yakin, ia keluar dari restroom. Big menyerahkan selembar kecil surat padanya. Dan mengangkat alisnya setelah selesai membaca.

“Dari dia.”

Ia tidak perlu bertanya siapa dia yang dimaksud oleh Big. Yang ia ingin tahu adalah apa tujuan orang itu memanggilnya. Dibuangnya kertas itu dan mengeleng pada Big.

“Sudah terlambat.”

Sisa pertunjukan dilalui Yunna dengan murung. Ia tidak mengerti apa penyebabnya. Padahal Ben menyanyi dengan baik tapi Yunna seperti kehilangan panca indranya. Ia tidak bisa menyimak dengan baik dan hanya mengikuti gerakan Pierre. Kalau cowok itu bertepuk tangan, ia ikut bertepuk tangan. Kalau Pierre bangkit berdiri dan ia juga. Begitu sampai di penghujung acara, ia makin tidak tenang.

Pierre menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Ia tidak punya alasan untuk menolak, jadi sekali lagi mereka melewati para wartawan sebelum masuk ke mobil kedutaan Pierre. Pengawalnya ada di mobil yang berbeda seperti kebiasaan mereka jika Yunna berkencan. Yunna menghela nafas, bahkan ini bukan kencan. Mereka berbagi cerita tentang Korea dan Perancis. Pembicaraan ringan sebelum akhirnya tiba di rumah Yunna.

“Kita masih akan bertemu lagi bukan?” tanya Pierre penuh harap. Mereka sudah berdiri di depan pintu rumah Yunna. Ini perpisahan tipikal yang selalu Yunna lakukan dengan lihai. Jadi ia tersenyum dan menjawab sopan, “Tentu saja, jika memungkinkan. Selamat malam Pierre.”

Dan pulanglah si anak duta besar, cibir Yunna. Ia masih sempat melambai penuh semangat ke arah cowok itu, sebelum Big turun dan menghampirinya.

“Ingatkan aku untuk tidak menerima tamu orang asing lagi. Tangan mereka terlalu ringan.” keluh Yunna dan mereka masuk ke rumah. Ia bukan pulang ke rumahnya dengan Keiko. Tapi ke apartment lain. Belakangan perasaannya tidak labil jika berada di sekitar Keiko. Terlalu banyak Fox-T.

“Kamu yakin tidak akan pergi? Masih ada 30 menit.”

Yunna memelototi Big, “Kamu baca suratnya?!!”

“Engga, tapi dia memastikan kalau aku juga tahu. Mungkin dia ingin aku memastikan kamu datang.”

“Sejak kapan kamu belain dia?”

“Sejak kamu tidak pernah tersenyum dari hati. Pikirkan saja dulu. Aku tunggu di sini, kalau kamu berubah pikiran.”

Yunna menjulurkan lidahnya pada Big. Kadang pengawalnya itu terlalu ikut campur. “Lebih baik kamu pulang. Aku tidak akan berubah pikiran.”

Ia melambaikan tangannya pada Big dan masuk ke rumah. Menyalakan lampu, membersihkan wajahnya dari riasan. Mengenakan pakaian tidurnya, siap naik ke ranjang. Kalau saja ponselnya tidak berbunyi. Pesan masuk dari Big. Tidak ada tulisan apa-apa, hanya file.

Ia mendownload dan membuka file tersebut. Suara beberapa orang berbicara. Tidak terlalu jelas karena latarnya amat bising. Tapi ia bisa mengenali suara orang-orang tersebut. Micky dan Big.

“Jangan macam-macam. Kalau anda berani masuk ke dalam, saya tidak akan segan-segan mematahkan tulang anda.”

“Aku perlu menjelaskan padanya sesuatu. Tolong ijinkan aku bertemu dengan dia.”

“Jawaban Nona Yunna masih sama, Micky-ssi. Nona saya tidak memerlukan ganguan dari anda, terlebih lagi di tempat umum seperti ini.”

Terdengar suara orang lain yang meminta tanda tangan Micky, pembicaraan terputus sesaat lalu kembali lagi.

“Tolong…. Saya akan lakukan apa saja, tolong biarkan saya bertemu dengan Yunna.”

“Apa saja?”

Lalu terdengar suara tinju menghantam sesuatu dan erangan Micky.

“Terima kasih.”

Kemudian hening. Yunna memerjab-merjabkan matanya. Jadi selama ini Micky menghubunginya. Lalu apa maksud Big dengan dia menolak Micky. Apa selama ini Big sengaja menyembunyikan semua ini darinya? Lalu kenapa sekarang Big membongkarnya.

Yunna buru-buru berpakaian. Saat keluar dari rumah, Big tidak ada di sana. Sepertinya pengawalnya sengaja. “Big tetap tidak merestui kami sampai akhir?” desis Yunna sebal.

Jam di mobilnya menunjukan pukul 12 lewat. Ia sudah terlambat. Setelah keluar dari pekarangan rumahnya, ia menjejak gas dan memacu mobilnya secepat mungkin. Rasa tegang merayapinya dengan cepat, membuat ia semakin dalam menjejak tapal gas, menembus jalan raya Seoul yang sepi.

Sampai di Shila Hotel. Ia tidak repot-repot memakirkan mobilnya. Melempar kunci mobil ke valet-person yang berdiri di lobby hotel dan berlari menuju lift. Memencet angka 50. Setelah pintu lift tertutup. Ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Jantungnya seperti mau loncat keluar dan perutnya seperti dihinggapi seribu kupu-kupu agresif yang terus bergerak. Ia kembali berlari saat pintu lift terbuka menuju satu-satunya pintu di lantai itu. Suite 5010.

Ia merapikan kembali rambutnya, pakaiannya dan menarik nafas 3 kali. Setelah yakin kalau ia cukup tenang, dimasukanya kunci serta membuka pintu tersebut.

Di dalam, lampu sudah menyala terang. Sesosok laki-laki sedang berdiri menatap jendela besar yang menghadap kota Seoul. Laki-laki itu mengenakan setelan jas hitam dan memegang gelas wine di tangan satunya. sama sekali tidak repot-repot untuk menoleh pada Yunna.

“Hai.” sapa Yunna, suara tercekat. Matanya tidak mau  lepas memandangi laki-laki di hadapannya ini. Micky tidak berubah. Rambutnya tetap coklat tua, dibelah samping. Badannya tetap tegap, tidak terlihat kurusan. Sepertinya dia juga hidup dengan baik.

“Mau minum apa?” tanya Micky menawarkan minuman. Seharusnya Yunna yang menawarkan minuman karena tempat ini adalah miliknya bukan milik Micky. “Ada Savory 1978, kalau kamu tidak ingin vodka.”

“Savory bagus.” ucap Yunna. Ia melepas jubah panjangnya. Menyisakan dress berwarna putih gading tanpa lengan yang membalut tubuhnya sempurna. Menonjolkan lekuk tubuh di tempat yang tepat. Ia sengaja memilih pakaian ini untuk Micky. Ia tahu betapa sukanya laki-laki itu dengan warna putih.

Micky menarikkan bangku untuknya, mempersilakannya duduk. Micky sendiri duduk di kursi yang  berseberangan dengannya. Meja ini tidak terlalu besar, jadi mereka duduk cukup berdekatan. Bahkan ia kaki mereka sempat bersentuhan saat ia menyilangkan kakinya tadi. Hanya gesekan kecil, tapi seluruh tubuhnya bergetar seperti tersengengat listrik. Hanya Micky yang bisa membuat ia seperti ini. Ia lupa akan efek yang ditimbulkan Micky padanya. Diletakan tangannya di pangkuannya, agar Micky tidak menyadari kalau tubuhnya sedang bergetar hebat, karena gelisah.

“Apa kabar?” tanya mereka berbarengan. Membuat mereka sama-sama tersenyum kaku. Yunna menarik nafas lega. Micky masih mau tersenyum padanya. Menaikan sedikit harapannya untuk mereka dapat berbaikan saat ini.

“Baik, kamu sendiri?”

“Sibuk. Seperti yang kamu bilang. Keiko perfeksionis, tapi dia sangat teliti dengan kerjaannya.” ungkap Micky singkat.

Namun cukup untuk Yunna memulai pembicaraan di antara mereka. Ia mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Membicarakan Keiko selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Micky seperti sengaja mengingatkannya kembali soal pertengkaran mereka. Jadi Yunna hanya menjawab, “Yah, dia memang seperti itu. Pekerja keras.”

Mereka kembali membisu. Tidak banyak yang bisa dibicarakan kalau mereka hanya saling menuangkan minuman lalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sibuk menentukan apa yang ingin mereka bicarakan lebih dulu. Sibuk memikirkan apa yang sedang dipikirkan lawan bicara mereka.

Micky yang memulai lebih dulu, meminta maaf karena sudah tidak mempercayai Yunna. Tidak membiarkan Yunna menjelaskan situasi dan dengan emosinya memutuskan hubungan mereka. Micky sudah tahu sekarang kalau Yunna tidak bertanggung jawab pada insiden Keiko. Ia juga sudah tahu kalau Yunna berada di Paris, puluhan kilo jauhnya dari mereka saat kejadian itu terjadi.

“Jadi maafkan aku sudah bersikap bodoh.”

Ia bangkit dan berlutut di hadapan Yunna, menarik tangan Yunna, menunjukan keseriusannya. Tapi Yunna menepisnya.

“Kamu tidak akan berada di sini kan kalau seandainya kamu tidak menyadari bahwa itu semua hanya salah paham? Kalau begitu sama saja kamu tidak percaya padaku.”

Yunna memundurkan bangkunya dan berdiri. Membuat Micky terkejut dan ikut bangkit. Ia tahu tidak akan mudah membuat Yunna menerima permintaan maaf darinya. Tapi ia juga tidak akan menyerah untuk meyakinkan Yunna.

Setelah Yunna pergi dari rumahnya hari itu, ia sudah menyesal. Ia berusaha mencari Yunna. Menghubungi kantornya, rumahnya, tapi selalu Big yang menjawab. Dan hanya penolakan demi penolakan yang ia terima. Jadi begitu ia melihat Yunna datang ke opera Ben. Ia langsung kalang kabut mencari Yunna. Tapi lagi-lagi Big menghadangnya. Membuat dia menerima pukulan di perut. Tapi semua itu seimbang. Yunna ada di hadapannya sekarang.

“Aku akui aku memang pernah menilai kamu. Tapi aku tidak pernah salah menilai diri aku sendiri. Apapun yang pernah kamu lakukan, tidak akan menjadi masalah. Karena aku ga pernah berhenti mencintai kamu. Tidak, ketika kamu menipu aku dan membuat aku terjun dari tebing. Padahal aku phobia dengan ketinggian. Tidak, ketika kamu pergi begitu saja dari rumahku. Membuat aku panik dan berpikir kamu diculik. Dan, tidak, ketika kamu mempertanyakan perasaan aku ke kamu.”

Micky berhasil memojokan Yunna hingga menempel ke tiang ranjang. Ia baru sadar, kalau ruangan ini didekor ala abad pertengahan. Ia menarik nafas panjang dan tersenyum, “Han Yunna, seluruh hati, jiwa dan raga aku sudah sepenuhnya menjadi milik kamu ketika kita pertama kali bertemu di airport. Saat kamu membantu mamaku.”

Ia menghapus airmata yang terselip di ujung mata Yunna. Ia tidak suka melihat cewek ini menangis.  Terlebih jika menangis karena dirinya. Ia mengecup kening Yunna dan mendekapnya erat.

Sarange…”

-The End-

Advertisements

2 thoughts on “Chapter 22 – With All My Heart

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s