Chapter 21 – Badai Datang dan Pergi

3 bulan kemudian

“HERAN! Mereka itu manusia bukan sih? Seenaknya banget!” maki Yunna saat Micky mempersilahkannya masuk.

Ia tahu Yunna bukan sedang memarahinya. Jadi ia tidak ambil pusing dengan semua itu. Toh kalimat itu sudah ribuan kali diulang Yunna sejak insiden lepasnya video Jack dan Keiko. Sudah hampir 3 bulan berlalu, skandal itu masih tidak mau hilang. Ada saja yang mengungkitnya. Terlebih ketika film garapan Keiko meledak di pasaran, melesatkan pamor Fox-T ke puncak. Single mereka pun laris manis terjual di pasaran.

Seharusnya semua orang berbahagia saat ini, menuang champage dan mengadakan pesta syukuran. Tapi kenyataannya tidak. Ketegangan terus meliputi mereka. Kalau-kalau sesuatu terjadi pad Keiko. Saat malam tiba, mereka menarik nafas lega karena tidak terjadi apa-apa. Namun keesokan harinya, mereka akan kembali cemas. Begitu terus selama 3 bulan terakhir ini.

“Big pergi lagi? Belakangan ini kelihatannya cukup sering.” komentar Micky begitu diberitahu kalau pengawal Yunna tidak ikut menginap di rumahnya. Walaupun dia senang karena bisa berduaan dengan Yunna tapi di saat seperti ini ia lebih mengharapkan bantuan professional untuk menjaga Yunna demi keamanaan semua orang.

“Banyak masalah di New York. Anak buah yang di sana tidak becus semua. Jadi Papa menyuruh Big ke sana.”

“Orang tua kamu tahu, kamu menginap di sini?” tanya Micky was-was.

“Yah enggalah. Mana mungkin dia ngijinin anak gadisnya menginap di rumah cowok?! Tapi oppa tahu.”

“Terus?” tanya Micky. Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang. Selama ia berpacaran dengan Yunna. Mereka tidak pernah membahas masalah keluarga Yunna. Ia juga belum pernah dikenalkan ke keluarganya. Padahal dia sendiri sudah mempertemukan Yunna “dengan Mama dan adiknya.

“Yah dia sempet marah sih, tapi memangnya apa hak oppa untuk melarang aku? Toh dia sendiri sudah menggakui kalau kamu cukup kompeten untuk melindungi aku.”

Yunna terus mondar-mandir di sekitar dapur. Dia sudah sering datang kemari jadi, rumah ini sudah serasa rumahnya sendiri. Mama dan adiknya sedang ke luar negri. Liburan awal tahun.

“Kamu cari apa sih?” tanya Micky bingung. Yunna sudah membuka hampir seluruh lemari di dapurnya.

“Dimana sih kamu taruh pisau, aku perlu potong ini.” erang Yunna sambil mengangkat ttoek.

Micky menunjuk deretan pisau di samping tempat cuci piring. Yunna mengambil satu dan mulai memotong-motong. Ini pertama kalinya ia melihat Yunna masak. Kelihatannya cukup terbiasa. Ia merasa tersanjung, Yunna mau memasak untuknya. Walau cuma sebuah ttoekpokkie.

“Mau aku bantu?” tawar Micky agar masakan Yunna cepat selesai dan ia bisa segera mencicipinya.

“Kamu punya rantangan?”

Micky mengerutkan dahi, rantangan? Untuk apa rantangan? Mereka bisa makan di sini, bahkan langsung dari kualinya. Tapi ia mengambilkan juga tempat makan tahan panas untuk Yunna. Seluruh isi kuali pindah ke tempat itu. Tanpa bersisa.

“Selesai. Kita siap berangkat.”

Micky makin bingung, “Kemana?”

“Aku belum bilang? Nyamperin Keiko. Itu anak belum pulang 3 hari ini. Aku jamin makannya juga ga teratur. Aku mau bawain ini untuk dia.”

Ucapan Yunna, langsung membuat Micky kesal. Ia duduk melipat tangan di dada. Sudah cukup omong kosong mengenai Keiko. Dia pacar Yunna, tapi kenapa dia harus selalu di nomor dua kan. Ia tidak beranjak dari posisinya, walau Yunna sudah jalan sampai ke pintu.

“Ayo dong, Ky. Nanti Keiko keburu shooting lagi.” panggil Yunna masih tidak menyadari kalau Micky sedang merajuk. “KY…..” panggil Yunna mulai kesal.

Micky tetap duduk. menatap pacarnya cemberut. Tega sekali Yunna sudah membuat ia berpikir kalau Yunna sedang memasakk untuknya.

“Pergi saja sendiri. Kamu bisa nyetir kan?”

Ia melempar kunci mobil ke arah Yunna, yang ditanggap dengan sukses. Ia menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 2.

“Ky,…… Tunggu…” kejar Yunna. “Ky……” Yunna berhasil menangkapnya dan membuat dia berhenti. “Kok marah sih?”

Menatap wajah bingung Yunna. Apa pacarnya ini benar-benar tidak tahu alasan Micky marah?

“Kamu betul ga tahu kenapa aku marah?” pertanyaan itu keluar mulus dari mulut Mcky tanpa kemarahan. Ia berhasil meredam emosinya.

Yunna menggeleng, “Engga.”

“Aku bosan selalu kamu nomor duakan, Yun. Keiko, Keiko dan Keiko. Apa kamu pernah menanyakan soal aku? Atau membicarakan soal kita?”

“Apa kabarmu Micky? Sudahkan, ayolah, aku betul-betul harus bertemu Keiko.”

Micky menepis tangan Yunna yang menariknya. Kesabarannya sudah habis. “Kalau kamu mau bertemu dengan Keiko. Pergi saja sendiri. Aku cape.”

Hebatnya, Yunna betul-betul pergi sendiri. Micky menonjok gagang tangga, “SIALAN!!!”

Ia berlari menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasurnya yang empuk. Terserah cewek itu! Ia sudah cukup bersabar selama ini. Egonya tidak bisa menerima lebih banyak lagi. Ia tidak mau dinomor duakan. Ia harus menjadi yang terpenting untuk Yunna. Seperti ia selalu menggangap Yunna nomor satu baginya.

Ia menyalakan TV. Seorang reporter sedang melaporkan berita, “Beberapa penggemar Fox-T terlihat berkumpul di luar TVB sambil berteriak- meminta Lee Keiko-ssi, pegawai TVB untuk keluar. Beberapa minggu yang lalu sempat tersebar foto Lee Keiko-ssi berciuman dengan Jack. Pihak management Fox-T sudah meluruskan masalah tersebut dan berkata kalau itu sepenuhnya hanya permainan. Lee Keiko-ssi tidak memiliki hubungan apapun dengan Jack. Tapi mengapa sekarang para penggemar Fox-T ini kembali berkumpul di sini? Apakah mereka masih tidak puas? Mari kita tanya mereka.”

“Nona, apa alasan kalian berkumpul di sini?” tanya reporter ke salah satu anak perempuan yang menutupi sebagian wajahnya dengan papan bertulisan ‘LEE KEIKO, WITCH.’

Micky menjadi geram. Apalagi sih yang diributkan orang-orang gila ini? Ia sudah tidak mengakui para pengemar yang bertindak kelewatan seperti mereka. Orang-orang yang tidak mempedulikan perasaan idolnya bukanlah seorang penggemar, mereka adalah ‘antis’.

“Kami menemukan gambar ini. Lee Keiko tidak hanya berhubungan dengan Jack tapi juga dengan Max. Kami menuntut penjelasan.” unggap anak perempuan itu. Gambar Keiko yang masuk ke dalam mobil Max disorot close up.

“Shooot!!!! Kapan semua ini selesai!!!”

Mereka benar-benar gila. Ia harus menghubungi Keiko, menyuruhnya agar tidak keluar dari gedung. Sial, Yunna juga sedang menuju ke sana. Buru-buru Micky mengambil kunci mobil milik adiknya dan meninggalkan rumah dengan terburu-buru.

“Sial!! Kenapa telponnya ga diangkat! Kamu dimana Yunna….” erang Micky makin gelisah.

Ia menyalakan TV yang ada di dalam mobil, memutar saluran yang sama. Reporter itu masih di sana. Tapi bukan itu yang dia cari. Ia memicingkan mata, mencari Yunna. Ia tidak berharap menemukan pacarnya di antara kerumunan orang-orang tesebut.

“Jangan macam-macam Yunna. Semoga dia belum sampai.” ratap Micky.

Gedung TVB sudah nampak di ujung jalan. Ia memacu mobilnya lebih cepat, sambil sesekali melirik ke layar TV.

“Oh, tidak. Itu Yunna…” erang Micky.

Ia melihat mobilnya tersorot. Terpakir sempurna di lapangan parkir depan lobby.

“Mudah-mudahan dia masih di dalam mobil.”

Sia-sia, Ia bisa melihat Yunna sedang berjalan menuju kerumunan dengan mantel merah menterengnya itu. Ia tidak lagi berpikir ketika meninggalkan mobilnya dalam keadaan menyala, berlalu keluar, menghampiri Yunna.

Apa mau dikata, kedatangannya di tempat itu sama saja seperti melempar emas di kerumunan perampok. Para penggemar Fox-T langsung ribut mengerumuninya.

“Minggir…” usir Micky. Suaranya terbenam oleh kebisingan di sekitarnya. Ia terus mendesak, hingga sampai ke sisi Yunna. Pacarnya sedang bertengkar dena salah satu antis Keiko yang usianya tidak lebih dari 17 tahun.

“Cabut kembali kata-kata elo tadi!!!!”

“Kenapa??! LEE KEIKO memang SUNDAL!!!” ngotot si antis.

Micky tidak menyalahkan keberanian anak perempuan itu, mereka tidak mengenal siapa Yunna. Tepat sebelum Yunna melempar rantangannya ke lawannya. Ia maju ke depan dan menangkap rantangan tersebut dengan kedua tangannya. Lalu memosisikan dirinya diantara mereka.

“Thank you, ini buat saya kan? Bagaimana kalau kita makan bersama-sama?”

Usai berkata demikian, Micky menarik tangan Yunna dan menyeretnya sepanjang perjalanan kembali ke mobil. Para penggemarnya mengerumuni mereka dengan ketat, membuat Yunna semakin tidak mungkin melarikan diri. Sampai di mobil yang ia kendarai. Ia memilih mobil tersebut karena posisinya lebih menguntungkan baginya untuk segera kabur dari kerumunan. Ia mendorong Yunna masuk. Memutar ke

“Maaf yah, saya permisi dulu.” ucapnya kepada para pengemar sebelum masuk ke dalah mobil dan memacunya keluar area TVB.

“Kalau kamu berpikir dengan melempar rantangan ini pada cewek itu bisa membuat mereka diam, kamu salah besar Han Yunna-ssi! Kamu hanya akan berakhir dipukuli oleh teman-temannya di sana! Jangan beri alasan padaku kalau kamu bisa melawan mereka! Kamu tidak pernah dikeroyok oleh banyak orang sebelumnya, jadi kamu tidak tahu sejauh apa mereka bisa bertindak!”

“TAPI mereka sudah kelewatan! Seseorang harus menghentikan omong kosong itu! Seseorang harus membela Keiko!” seru Yunna tidak mau kalah

“Benar! Tapi tidak dengan kekerasan Yunna! Tidak dengan kamu melemparkan diri ditengah-tengah massa yang sedang marah! Kalau kamu pikir Keiko akan datang dan mengucapkan terima kasih karena sudah membela dia! Yang ada kamu malah membuat dia sedih karena sahabatnya terluka!”

Kata-katanya berhasil membungkam mulut Yunna untuk sementara. Ia melirik Yunna untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan olehnya. Yunna cemberut, tidak puas.

“Yun, tolong bertindak lebih rasional sedikit. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan kekerasaan. Apa kamu mau orang-orang mengenal Keiko dan dirimu sebagai orang bar-bar?”

“Aku bukan orang bar-bar!”

Micky tersenyum mendengar pembelaan diri Yunna yang singkat. Sepertinya pacarnya ini sudah lebih tenang. Ia menghentikan mobilnya di garasi depan rumahnya. Membukakan pintu untuk Yunna dan menggiringnya masuk.

Sampai di dalam, ia menuntun Yunna duduk di sofa.

“Yun, aku tahu kamu bukan orang bar-bar. Tapi orang-orang itu tidak. Apalagi kalau mereka melihat kamu memukuli salah satu penggemar nekad itu. Publik akan berpikir kalau Keiko dan kamu temananya adalah orang kasar, publik tidak akan bersimpati pada kalian. Lalu Keiko selamanya akan dianggap sebagai musuh oleh pengemar Fox-T.”

“Maksud kamu?”

Ia melihat Yunna mengerutkan dahi, kelihatan bingung.

“Maksud aku, kita harus membiarkan publik mengenal kepribadian Keiko, agar mereka bersimpati padanya dan berhenti mengatainya.”

“Maksudnya kita harus menciptakan image yang bagus soal Keiko? Membuat orang-orang yang memusuhi Keiko berbalik mencintainya? Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin kita sendiri yang melontarkan pernyataan ‘Keiko, cewek yang pantas untuk menjadi teman Fox-T’ dari mulut kalian atau teman-teman Keiko. Publik hanya akan berpikir kalau kalian membelanya.”

Sementara Yunna berpikir, Micky berjalan menuju piano yang terletak di sebelah kiri ruang tamu. Ia  memerlukan musik untuk menenangkan pikirannya sejenak. Setelah memainkan beberapa lagu, terbukti otaknya yang kusut menjadi lebih lurus. Ia mendapat ide sangat cemerlang.

“Yun, Yun…” panggil Micky sambil berlari kembali ke ruang tamu. Di sana, wangi ttoekbukie tercium. Ia melihat rantangan tadi terbuka dan Yunna mengunyah dengan mulut penuh. Ia jadi tertawa melihatnya.

“Aku laper…” bela Yunna setelah menelan isi mulutnya, memberi alasan.

Micky bergabung dengannya, duduk berseberangan lala ikut mencomoti ttoekbukie.

“Jangan banyak-banyak dong…” pinta Yunna ketika melihatnya memasukan beberapa ttoekbukie sekaligus. Mereka mulai memperebutkan sisa-sisa ttoekbukie. Selesai makan, mereka ke kamar Micky di atas. Kamar Micky hanya berisi satu kasur ukuran King, meja belajar. Ia punya ruang closet sendiri untuk pakaian dan menyambung ke kamar mandi. Harap maklum, pakaiannya cukup banyak karena ia seorang cowok metroseksual sejati.

Ia menyuruh Yunna bergabung dengannya, duduk di atas kasur karena di sana memang tidak ada sofa atau cushion pendek untuk diduduki.

“Soal Keiko, aku dapat ide. Siapin bberapa preman gadungan untuk menggoda pengemar kalian yang bijak itu! Keiko pasti terpancing untuk nolongin mereka. Dan tentu saja si preman harus pura-pura melawan dan akhirnya kalah dari Keiko. Dengan begitu, Keiko akan dianggap pahlawan, terus dengan sendirinya orang-orang akan membela dia. Gimana?”

Yunna berbaring di atas ranjang dan mulai melempar-tangkap bantal kecil. Dia selalu tidak bisa diam kalau sedang berpikir. Tidak sadar kalau Micky memandanginya kesal.

“Aku pikir kamu sudah berubah….” desis Micky akhirnya.

Yunna membalikan badannya, memperhatikan perubahan suasana hati Micky. Cowok ini terlihat begitu terluka. Apa dia telah mengatakan hal yang salah? Ia menaikan alisnya, mencoba mencerna kembali kejadian tadi. Masih tidak mengerti apa yang ia lakukan hingga Micky menatapnya penuh luka.

“Kamu tidak tahu? Lagi-lagi kamu punya ide yang mempertaruhkan nyawa seseorang! Preman untuk berkelahi dengan Keiko? Bagaimana kamu bisa menjamin preman-preman tersebut tidak terpancing untuk membalas Keiko! Trus, lengan Keiko itu baru sembuh! Kalau sampai terluka lagi gimana?!” seru Micky tidak sabar.

Tapi kan preman itu bukan preman betulan, ia bisa mengatur agar pengawalnya yang menyamar. Tapi Yunna tidak berusaha menjelaskan. Ia merasa tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu pada orang yang marah. Micky sedang marah.

Jadi, Yunna hanya bangkit dan berjalan ke luar kamar.

“Mau kemana?!”

“Tidur di luar.” ucap Yunna pendek.

Ia turun ke bawah, dan tiduran di atas sofa. Mood swing Micky sangat menyebalkan. Tadi marah-marah karena ia terlalu mengurusi Keiko. Sekarang marah-marah karena ia mau menolong Keiko. Masa dia berpikir kalau ia lebih memperhatikan Keiko sih? Bukannya wajar, karena Micky kan tidak sedang tertimpa masalah, sedangkan sahabatnya itu, kapan terakhir kali Keiko bisa tidur dengan nyenyak?

Yunna semakin uring-uringan. Ia tidak suka bertengkar dengan Micky. Ia tidak suka melihat cowok itu marah. Terlebih setelah apa yang dilakukan oleh cowok itu hari ini. Yunna mengerang, ia bahkan belum mengucapakan terima kasih.

Ia mengendap-endap naik kembali ke kamar Micky. Mengintip dari lubang kunci kamar Micky. Cowok itu belum tidur, tapi sedang duduk di depan keyboard dan komputernya. Sekarang lebih mustahil lagi untuk digangu. Micky tidak suka ada orang lain di sekitarnya, ketika ia mengarang lagu.

Yunna menghela nafas. Yah, permintaan maafnya bisa menunggu. Berada di rumah Micky tidak lagi memberi manfaat. Ia menelpon Big dan segera pindah ke rumahnya yang ada di KangNam.


Advertisements

2 thoughts on “Chapter 21 – Badai Datang dan Pergi

  1. Pingback: Links to With All My Heart – Novel « Sharing love to the world

  2. Pingback: With All My Heart – Synopsis and Link « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s