Into Your Arm – Chapter 2

“Maaf, aku jadi merepotkan.” ujar Ren. Ia tahu Ben terpaksa mengantarnya karena tidak mungkin itu ide Ben sendiri. Jelas cowok ini tidak tertarik padanya karena sepanjang perkenalan panjang lebar yang diutarakan oleh Papa, Ben tidak menyimak. Ia juga ragu, Ben mengingat namanya.

“Tidak apa, aku tidak ada kerjaan.” sahut Ben acuh. Ia tidak berbohong walau kalau boleh memilih, ia lebih suka mengikuti cewek tadi.

“Maaf yah jadi menganggu pembicaraan kamu dengan Gina.” pancing Ren.

“Kamu kenal dengan dia?”

“Satu kampus.”

“Oh yah? Memang kamu kuliah dimana?”

“Julliette, Universitas khusus wanita. Kalau kamu mau bertemu dengannya, datang saja ke kampus tanggal 31 nanti. Kita ada acara, dan Gina juga akan menyumbang menyanyi di sana.”

“Akhir tahun? Aku tidak bisa. Aku harus ke Jepang.”

“Betul juga, acara akhir tahun itu yah?”

“Kamu tahu?” tanya Ben polos. Agak tidak perlu sebenarnya, karena informasi mengenai Fox-T yang akan mengisi acara akhir tahun di Jepang itu diberitakan di halaman utama beberapa surat kabar di Korea. Tidak mungkin ada orang yang tidak membaca berita tersebut kecuali mereka buta huruf.

“Yah, mungkin lain kali. Masih ada kesempatan lain. Mau aku kabari?”

Ben menjawab dengan memberikan ponselnya, meminta Ren untuk mencatat nomor telpon dan alamat emailnya, malah sekaligus nomor telpon Gina. Untuk permintaan yang terakhir, ia tidak bisa membantu. Ia tidak seakrab itu dengan Gina. Tapi demi kesopanan, ia berjanji untuk mendapatkan nomor itu untuk Ben.

“Kamu tahu dia jurusan apa?”

“Musik.“ jawab Ren singkat.

Ia yakin sekali sekarang kalau Ben menyukai Gina. Ia tidak terlalu mengenal Park GiNa hanya kebetulan mereka satu kampus dan satu klub. Gina memang terkenal karena dia cantik dan jago menyanyi. Berbeda dengan dirinya yang lebih banyak berada di balik kanvas. Ia seorang pelukis yang cukup terkenal, tapi ia ragu Ben tertarik untuk mengetahui hal itu. Terutama jika yang ingin diketahui Ben hanyalah mengenai Gina. Buktinya Ben tidak menanyakan lebih lanjut dia mengambil kelas apa.

Ironis.

Jangan salah sangka, Ren tidak tertarik pada Ben. Tapi tidak ada salahnya sedikit berharap, toh dia yang lebih dulu diperkenalkan pada Ben. Ia tidak merasa kecewa, sungguh. Serius, beneran, ehmmmm kenapa jadi begini sih? Ren menyerengit, bingung sedari tadi ia sedang meyakinkan siapa.

“Ada apa? Apa ada yang bau?”

Ren sempat melongo sebelum akhirnya tergelak, mentertawakan kesalahpahaman Ben. Ia mengeleng sambil tertawa. Ia baru tahu kalau tampangnya waktu menyerengit seperti orang kebauan.

“Bukan, bukan begitu, aku hanya sedang berpikir.” ujar Ren lalu menutup mulutnya agar tidak kembali tertawa. Ben terlihat malu karena sudah salah tanggap. Kalau seperti ini Ben tidak terlihat seperti artis. Tidak ada kesan angkuh.

“Kamu kalau tertawa, heboh juga yah.” komentar Ben untuk menutupi rasa malunya. Mana ia tahu kalau cewek itu sedang berpikir dengan hidung dikerutkan seperti itu. Aneh sekali. Dan, caranya tertawa. Ampun deh, tidak ada kalem-kalemnya.

“Yah, banyak yang bilang seperti itu. Tapi menurutku masih lebih baik dari pada hanya terkekeh. Kita tertawa karena senang dari hati kan? Malah kalau bisa, aku ingin orang lain ikut tertawa denganku.”

Ben hanya diam mendengar penjelasan Ren yang memang cukup masuk akal. Ia juga pernah berpikir untuk menyebarkan kebahagian dengan segala leluconnya. Tapi harus diakui belakangan ini ia kehilangan sentuhan humornya. Kapan terakhir kali ia membuat orang lain tertawa?

Tidak terasa mereka sudah tiba di kampus Ren, tempat yang mereka tuju. Cewek itu turun dan mengucapkan terima kasih. Ben mengecek ponselnya, mencari nomor telepon Ren dan mengabungkanya ke kelompok friends agar tidak kebingungan jika kebetulan ada nama orang yang sama di ponselnya.

Sangat disayangkan Ren tidak punya nomor Gina, tapi mungkin nanti dia bisa mengusahakannya. Ia bisa mengatur untuk menjembut cewek ini lagi.

Ponselnya berdering, panggilan dari Micky.

“Yosssh, Ben, aku sama Yunna lagi di Yo-mart. Mau titip sesuatu?” tanya temannya dari Fox-T.

“Yo-Mart yang dimana? Aku susul saja deh.”

Setelah mendengar keterangan dari Micky, Ben memutar mobilnya menuju KangNam yang letaknya berlawanan dengan arahnya sekarang. Yo-Mart itu kedia yogurt yang dikelola Micky untuk ibunya. Tempatnya sangat strategis dan selalu penuh oleh pengunjung. Hubungan Yunna dan Micky sudah diketahui oleh publik jadi mereka bisa berpacaran lebih terbuka sekarang. Nanti kalau dia punya pacar, dia juga ingin pengemarnya merestuinya seperti itu. Pacaran sembunyi-sembunyi seperti Jack (temannya yang lain) dan Keiko terlalu melelahkan untuknya.

Tidak sampai 10 menit, Ben sudah sampai di Yo-Mart. Menghampiri Micky dan Yunna yang duduk di bagian paling belakang cafe. Dua orang itu sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius, karena Ben melihat Micky sedang melipat tangannya di dada. Apalagi sih yang diributkan dua orang itu. Sepertinya ia tidak pernah menemukan mereka akur.

Ben duduk di samping Micky mendengarkan perdebatan pasangan itu sambil menyuap yogurt dari gelas Micky.

“Tapi kan aku tidak suka kalau kamu pergi sendiri. Memangnya Big tidak bisa ikut denganmu?” tanya MIcky.

“Ky, Big sekarang bukan pengawal lagi. Sudah naik pangkat jadi assistent resmi oppa.

“Terus kamu sekarang tidak ada pengawal?”

“Ada, tapi orangnya super bodoh. Jadi aku suruhpulang tadi pagi. Sudahlah, toh ada Keiko ini. Dia kan jago aikido. Lagian Ky, aku cuma ke Tokyo untuk 2 hari.”

Ben melihat Micky cemberut, kesal mungkin karena tidak bisa membalas ucapan Yunna. Ia bingung melihat pasangan yang ini. Sebetulnya ceweknya yang mana dan cowoknya yang mana? Mengenai sifat Micky yang posesif, Ben memang paling mengerti tapi rasanya agak tidak perlu jika berususan dengan Yunna. Itu cewek kan kuat banget ditambah Keiko lagi. Ia sudah menyaksikan kehebatan dua cewek ini membela diri.

“Memang perginya kapa?” celetuk Ben, membantu Micky.

“Hari Selasa.”

“Kenapa kamu tidak ikut saja. Kita tidak ada jadwal kan sampai hari Jumat.”

“Tidak bisa. Harus menemani Mama ke dokter.” erang Micky.

Ternyata masalahnya seperti itu. Ia tahu Micky pasti dilema karena harus memilih salah satu dari 2 orang terpenting dalam hidupnya kali ini. Ia juga pasti bingung jika harus memilih menemani Mama atau pacarnya. Kadang Ben bersyukur karena ia belum punya pacar.

“Kalau begitu minta Jack saja yang menemani mereka, beres kan?” celetuk Ben lagi, ia sudah menghabiskan yogurt Micky. Ia celingukan melirik staff yang berdiri di balik counter, mengangkat gelasnya dan meminta 1 gelas yang sama persis. Strawberry yogurt memang paling mantap. Ia mengambil gelas yang disodor sang pramusaji dan mendengarkan pembicaraan Micky dan pacarnya sambil lalu.

Mendadak pikirannya kembali ke Gina karena radio di cafe memutarkan lagu Greatest Love. Kalau dia menelepon Ren dan memintanya untuk mencari nomor telpon Gina, kesannya terlalu memaksa tidak yah? Cuma Ren satu-satunya harapan yang dipunya Ben sekarang. Karena sudah pasti ia tidak mungkin datang ke gereja minggu depan.

Jadi, Ben mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ren. Ia tersenyum mendengar nada dering yang dipakai cewek itu. Ia tidak tahu lagu My Boo – Usher masih terkenal sampai sekarang.

“Hallo? Siapa nih?” tanya Ren.

“Ben, Hei masih di kampus?” jawab Ben sedikit bingung. Memangnya Ren tidak mencatat nomor ponselnya?

“Ben? Oh, iyah masih. Ada apa?”

Mendadak ada suara ribut di sekitar Ren yang berteriak-teriak dengan heboh, kalau saat ini, Ben sedang menelelpon Ren. Ben menyerengit namun tersenyum juga. Sedikit memahami mengapa tadi cewek itu menolak diantarnya masuk. Rupanya teman-teman Ren sama norak dan hebohnya dengan Ren.

“Soal janji yang tadi…” ujar Ben ragu, makin dipikir makin tidak sopan kalau ia hanya menghubungi Ren hanya untuk mencari tahu tentang Gina.J adi Ben buru-buru menganti pertanyaannya. “Besok ada acara?”

“Kamu tidak perlu basa-basi, Ben. Aku akan usahakan untuk mendapatkan nomornya besok.” jawab Ren. Mungkin ia terlalu terus terang, tapi sungguh, ia tidak berharap Ben berteman dengannya hanya untuk berkenalan dengan orang lain.

“Bukan begitu. Kita bisa bertemankan?”

“Tidak. Kita tidak perlu berteman. Jadi Ben, selamat siang.”

Ben menatap ponselnya tidak percaya. Ren menutup telepon darinya. Brengsek! Ia tidak suka diperlakukan kasar, geram Ben. Ia harus membuat perhitungan dengan Ren.

“Ada apa?” tanya Micky yang memperhatikan Ben sejak temannya ini menelepon cewek bernama Ren tadi. Ini kemajuan untuk Ben, karena jarang sekali ia mendengar Ben mempunyai teman cewek.

“Aku pergi dulu. Kalian jangan ribut terus. Bosan dengarnya.” ujar Ben sambil melambaikan tangannya pada dua temannya itu.

Ia masuk kembali ke mobil dan menuju kampus Ren. Ia yakin sekali cewek itu masih di sana. Ini belum ada 1 jam sejak ia menurunkan Ren di sana. Tapi agar lebih aman, Ben memacu mobilnya secepat mungkin dan berhenti di depan gerbang kampus Julliete. Kalau suara decit yang ditimbulkan oleh mobil Ben yang dipaksa berhenti mendadak belum cukup menimbulkan keributan, maka dengan turunnya seorang Ben dalam balutan jas menciptakan keributan yang dibutuhkan.

Semakin banyak orang yang berkumpul di depan semakin baik. Ia perlu bantuan orang-orang ini untuk mencari Ren karena Ben tidak tahu jurusan apa yang diikuti cewek itu. Ia sudah siap bertanya pada salah satu cewek yang mengerumuninya itu, sampai bahunya ditepuk oleh seseorang.

“Hai, kita ketemu lagi.” sapa Gina.

“Hai… Kamu juga datang ke kampus di hari Minggu?” tanya Ben terkejut, ia senang tapi lebih banyak terkejut. Karena ia tidak tahu harus berbicara apa dengan cewek ini sekarang.

“Persiapan pentas untuk akhir tahun. Kamu mau datang? Aku punya tiket lebih.” ujar Gina manis sambil mengulurkan selembar tiket pada Ben.

Cewek ini terlalu sering memberi Ben sesuatu. Padahal yang Ben inginkan hanya cewek itu saja. Namun lagi-lagi, demi kesopanan Ben menerima tiket itu.

“80,000 Won.” ucap Gina dengan senyum lebar.

Ben mengeluarkan duit dari dompetnya, ia tidak punya pecahan kecil jadi ia menyerahkan uang 100,000.

“Aduh, aku tidak bawa kembalian. Bagaimana kalau aku traktir kamu minum kopi di kantin? Jadi aku bisa memberikan uang kembaliannya.”

Tentu saja Ben menyetujuinya. Tujuan dia datang kemari untuk bertemu dengan Gina. Saat mengikuti Gina ke kantin, ia sudah lupa dengan tujuan awalnya ke kampus itu. Apalagi berbicara dengan Gina sungguh menyenangkan. Karena sama-sama suka bernanyi, pembicaraan mereka tidak lepas dari topik musik. Dan dengan sukses, Ben berhasil membuat janji untuk pergi ke music store besok.

Puas dengan hasil pertemuannya hari ini dengan Gina, Ben melangkah kembali ke mobilnya sambil bersenandung. Ia harus bertanya pada Micky dan Jack tentang how-to-date nanti, pesan Ben pada dirinya sendiri.

Ben sudah masuk ke dalam mobilnya ketika seseorang mengetuk jendela mobilnya. Ia mendengus ketika melihat Ren yang berdiri di luar. Ia menurunkan kaca jendela dengan enggan.

“Ada apa?” tanya Ben sengit, rasa kesal pada cewek ini masih bercokol.

“Kamu butuh ini kan?” tanya Ren sambil menyodorkan kertas berisi nomor telepon Gina.

Selesai membaca tulisan itu, Ben tersenyum dan mengembalikan kertas tersebut. Pertolongan ini datang terlambat.

“Tidak perlu, aku sudah mendapatkannya tadi malah kita sudah janji untuk bertemu besok. Kamu benar, kita tidak perlu berteman. Selamat siang Ren. Semoga harimu menyenangkan.”


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 2

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s