Into Your Arm – Chapter 1

Untuk seorang Ben sampai menahan nafas dan berhenti bersenandung, yang jarang sekali terjadi. Tapi toh hal itu yang terjadi saat ini. Ia terdiam, bahkan sampai membisu ketika melihat cewek berpakaian santa di depannya bernyanyi. Tidak tepat di depannya, karena cewek itu kan ada di atas panggung, sedangkan dia duduk di area penonton. Ben sampai harus memastikan kalau ia tidak sedang menatap bidadari. Suara cewek itu terlalu indah dan ia yakin semua orang di sana juga sependapat dengannya, karena terbukti tidak ada yang berbicara sepanjang cewek itu bernyanyi. Ia juga tidak mendengar suara minuman disemprut atau makanan dikunyah. Semua seperti tersedot lagu Greatest Love yang dinyanyikan cewek itu.

Ia berdiri dan bertepuk tangan ketika lagu selesai dinanyikan, rasanya malu juga karena panggung ini bukan panggung umum tempat biasa dia tampil. Hanya panggung kecil di gerejanya. Namun efeknya lumayan, orang-orang ikut berdiri dan bertepuk tangan bersamanya. Sambutan termeriah sepanjang malam ini, dan cewek itu tersenyum malu di atas sana. Lagi-lagi Ben menahan nafasnya. Kalau suara cewek itu membuat ia tersedot dalam dimensi lain, maka senyuman cewek itu membuat ia meleleh. Itu senyuman paling tulus yang pernah ia lihat. Ia jadi bertanya-tanya sendiri, kapan terakhir kalinya ia tersenyum setulus itu. Pastinya bukan akhir-akhir ini. Tekanan dalam pekerjaannya bahkan membuat ia merasa bernyanyi adalah sebuah beban. Terlebih ketika ia harus menyanyikan lagu-lagu Fox-T. Rasanya ada batu tersumbat di kerongkongannya jika ia harus menyanyikan lagu Fox-T.

Ben menarik nafas panjang, ia tidak pernah berpikir sebelumnya kalau Fox-T akan sampai besar seperti hari ini. Tapi semakin melambungnya nama Fox-T, semakin besar tekanan yang ia dan teman-temannya terima. Menyanyi tidak lagi seasyikan dulu. Tidak ada perasaan mengebu-gebu dan rasa tegang yang melilit tubuhnya. Sering kali ia bertanya-tanya, apa perasaan jenuh ini juga dialami oleh penyanyi lainnya.

Lamunannya terhenti ketika sang ibunda tercinta memanggilnya untuk segera pergi dari gereja terebut. Ben lupa kalau ia pergi dengan ibunya, padahal ia sudah berniat untuk mencari cewek tadi. Setidaknya ia harus mengetahui nama dan nomor telepon cewek itu hari ini. Mungkin nanti, setelah ia menyelesaikan urusannya dengan Mama.

Ben melangkahkan kakinya menuju sang Mama, yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa kenalannya. Ia tidak mengenali mereka, maklum, selama setengah tahun terakhir ini Ben sama sekali tidak pernah datang ke gereja.

“Ben, sini, Mama kenalkan ini Park Tae Hoon. Dia teman mama waktu kuliah dulu.” ujar Mama Ben saat ia tiba di sisinya, tentu Ben mengulurkan tangan dan menjabat om itu ramah. Sopan santun selalu dijunjung tinggi oleh keluarganya.

“Wah, anak kamu sudah besar yah. Umur berapa?”

“Tahun ini 24.” jawab Mama Ben sambil tertawa bangga.

“Ah, seumuran dengan anak laki-laki saya. Tapi dia sedang di Amerika, tapi, sebentar, Ren….”

Om itu berteriak memanggil seoran cewek yang ada di belakang Ben jadi, Ben memutarkan kepalanya untuk melihat. Cewek dengan rambut panjang yang langsung menunduk memberi hormat dan menjabat tangannya dan Mamanya. Kemudian berdiri di sisi Om tadi.  Ben tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh Om itu karena perhatiannya tertuju ke tempat lain.

Cewek berbaju santa itu berkeliling membagikan kado kecil. Tersenyum ramah pada orang yang menerima dan seru tertawa pada yang mengenalnya. Mata Ben terus mengikuti cewek itu sampai cewek itu tiba-tiba menengok padanya. Ben tidak sempat memalingkan wajah jadi ia terpaksa melemparkan senyum sopan dan membungkuk.

Ia pasti sudah membuat Mamanya bingung karena, ia merasa lengannya ditoel, ia mengengok dan Mamanya dengan tersembunyi memberinya tatapan untuk menyimak kembali pembicaran orang di hadapan mereka. Ben mengaruk kepalanya, sebal. Tapi ia tetap menurut dan berusaha menyikap sebisa mungkin, walau matanya terus melirik kembali ke santa merah setiap ada kesempatan.

n. Ia pasti sudah kehilangan akal sehatnya ketika mendapati dirinya berjalan menuju cewek berpakaian santa itu. Menarik tangan cewek itu hingga berbalik menatapnya.

“Maaf, tapi rasanya aku belum kebagian kadonya.”

Ben tidak tahu apa yang merasukinya hingga berani berbuat nekad seperti itu. Tapi ia terlalu panik ketika melihat sang santa yang berjalan menuju pintu keluar. Ia sudah siap jika sampai menerima tamparan atas ketidak sopanannya. Namun, nasib baik masih memihak padanya, karena cewek itu malah tersenyum dan memberikan satu bungkus kado padanya.

“Selamat Natal.”

Ia berani bersumpah, itu adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Bahkan ia merasa seluruh darahnya ikut bergejolak ketika mendengar suara cewek itu.

“Boleh tahu siapa nama kamu? Aku Ben.”

“Park Gi Na. Senang berkenalan dengan anda.”

Belum sempat Ben memperpanjang pembicaraan mereka, Mamanya sudah datang dan menyelak di antara mereka, “Senang juga berkenalan dengan anda. Nah, kalau boleh Tante permisi sebentar. Ben, ayo!”

Dengan pasrah Ben mengikuti Mamanya berjalan kembali ke tempat mereka dan Om tadi. Ia bisa melihat kedutan di sekitar mata mamanya yang biasa terlihat kalau mamanya sedang menahan kemarahan. Ben menggaruk kepala cemas, mungkin dia memang sedikit kelewatan. Tapi dia kan bukan anak kecil lagi yang harus dijaga olehnya.

“Ma, apa-apaan sih? Aku kan sedang bicara dengannya.” protes Ben sambil berbisik. Tapi itu tidak membuat mamanya menghentikan langkah untuk berbicara pada Ben. Malah mendorong dirinya untuk mengantar pulang anak perempuan temannya itu. Ia tidak bisa menolak permintaan seperti itu. Jadi ia mengambil mobilnya dan mengantar cewek itu.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 1

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

  2. wah.., keren kak! serasa kayak nonton film,
    o.iya, salam kenal kak, aku pembaca br… tau blog kakak ini dr grup..
    ok.. aku lanjut next part, tambah penasaran nih, i like this ff n_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s