Into Your Arm – Chapter 3

Ben pergi meninggalkan Ren yang masih mematung tidak mengerti apa yang terjadi. Ren sudah sengaja menghampiri Ben hanya demi secarik informasi yang diinginkan cowok itu. Bahkan meninggalkan teman-temannya dan mencari Gina, menahan rasa malunya untuk menanyakan nomor telpon cewek sombong itu. Dan apa tadi yang Ben katakan? Ia sudah mendapatkan sendiri nomor telpon Gina. Bah, memangnya dia orang kurang kerjaan apa dan mau bela-belain untuk mengurus hal ini jika bukan karena ia sudah berjanji pada Ben.

Ren meremas kertas itu dan melemparnya ke dalam tong sampah. Melempar sekaligus kekesalannya jauh-jauh. Ia mendengus, bagus juga. Dengan demikian ia tidak perlu lagi berhubungan dengan Ben. Mengurus acara kampus saja sudah membuat kepalanya senut-senut.

“REEEEENNNNN, naik dong, kita perlu bantuan kamu nih.” teriak JiHee, teman satu kelompoknya.

Ren mengerang dan berlari kembali ke aula. Ia bingung, kenapa setiap kali ada kegiatan, ia selalu dipanggil oleh dosennya untuk ikut serta dan selalu dia yang bekerja paling banyak. Apa ia tipe masochist, suka menyiksa dirinya sendiri? Atau dia memang terlalu lemah untuk berkata tidak?

“Ren, kita perlu tambahan cat nih. Warna kuningnya habis.” ucap JiHee ketika Ren tiba di mulut aula.

“Ren, konfirmasi dari senat belum masuk. Bisa tolong ditanyain?” ucap Randy, cowok Amerika-Korea, jadi bicaranya suka tidak jelas. Ren sampai meminta cowok itu mengulang 2 kali untuk mengerti apa yang dibicarakan Randy.

Tidak sampai 5 menit, Ren sudah dikerubuni oleh setidaknya 4 orang yang memintanya untuk keliling ke berbagai tempat. Kepala Ren semakin senut-senut. Tapi ia tidak punya pilhan lain selain menjalankan semua permintaan orang-orang itu.

Pukul 6 lewat, Ren masih berkutat di depan kain besar. Lagi-lagi ia tertipu dan harus menuntaskan gambar untuk papan utama mereka. Tapi Ren tidak protes, ia suka mengambar. Apapun medianya. Jadi kalau ia harus menghabiskan berjam-jam berikutnya di sana, ia melakukannya dengan bahagia.

Sekitar jam 9, akhirnya ia selesai juga memindahkan Starry karya VanGogh ke kain balihonya. Ren berdiri dan merenggangkan otot-otot pinggang serta lehernya. Kemudian menatap hasil karyanya puas. Gambar bernuansa biru gelap dan putih memang paling cocok untuk musim dingin, tinggal ditambah cat perak untuk efek dramatis.

“Kamu masih di sini?” tanya Randy yang entah datang dari mana.

Ren sampai memekik terkejut, ia tidak mengharapkan ada orang lain yang masih berkeliaran di aula, larut malam seperti ini. Lagipula bukannya Randy sudah pulang dari sore, kenapa dia masih ada di sini?

“Maaf. Kaget ya? Aku cuma mau ambil syall aku yang ketinggalan di sana? Oh My GOD! Kamu sudah menyelesaikan gambar itu? Sendiri?” gantian Randy yang memekik.

Ren tersenyum puas, “Bagaimana menurut kamu?”

“Kamu pasti gila!!! Anyway, pulang sama siapa, Ren? Kamu tidak drive kan?” tanya Randy kembali dengan bahasa koreanya yang kacau.

“Naik bus saja lah. Toh, rumah dekat.” balas Ren, ia masih memandangi hasil kerjanya. Mengelap tangannya yang kotor ke celemek dan merapikan barang-barangnya. Randy mengikutinya keluar kampus. Masih menawarkan tumpangan dengan motornya.

“Bener Ren, tidak mau diantar? Janji deh, tidak melebihi batas maximum.”

Ren jadi tergelak mendengar rayuan Randy, ia lupa kalau Randy pembalap motor liar. “Bener Randy, I’m fine. dan kamu lebih baik segera pulang. Sebelum makin malam dan makin dingin.” ujar Ren kali ini dengan sedikit memaksa.

“Besok, masuk kerja?” tanya Randy, masih menemaninya ke Bus-Stop sambil mengelindingkan motornya.

“Masuk. Butuh duit. Lagipula di music store kita jadi sering kebagian poster gratis kan. Lumayan kalau dijualin lagi.”

“Kamu aneh juga yah. Bukannya orang tua kamu kaya? Kenapa masih kerja sambilan seperti ini?”

“Cari pengalaman.” jawab Ren singkat, walau ia punya segudang alasan lainnya. Ia malas ada di rumah, apalagi sejak papanya menikah dengan perempuan yang hanya lebih tua 5 tahun dari Ren. Lebih pantas untuk cewek itu menjadi kakaknya dibanding ibunya. Mengingat hal ini saja, Ren sudah kesal.

“Ciaooooo Randy.” ucap Ren lalu melompat ke dalam Bus. Melambai dengan semangat pada cowok di luar. Sebetulnya Randy itu lumayan juga, kalau pakai jaket hitam dan menenteng motor besarnya itu. Apa merknya, oh benar, Ducati. Tapi rambut gondrongnya itu lho, Ren tidak tahan. Panjangnya sudah melewati bahu.

Ren tiba di rumahnya. Lampu teras menyala dan ia bisa mencium wangi makanan dari depan rumah. Orang tuanya pasti sedang makan malam. Ren masuk ke kamarnya yang letaknya di basement melalui pintu khusus, ia sengaja mengambil tempat itu, karena luas dan ia bisa melakukan semua kegiatan melukis dan memahat di sana. Alasan lainnya, yah karena ia jadi tidak perlu terlalu sering bertemu dengan Mama tirinya.

Awalanya Ren cukup akrab dengan Mama barunya itu, karena mereka sama-sama menyukai lukisan dan orang itu memang cukup menyenangkan. Tapi sejak berubah status menjadi Mama, Ren tidak mau lagi berbicara dengannya. Ia menganggap orang itu sudah mengkhianatinya. Namanya Sandra kalau kalian tertarik.

Sepatu dan baju kotor Ren biarkan tergeletak di lantai. Ia malas merapikan apa-apa malam ini. Biar besok saja. Ia ingin menyelesaikan lukisannya, gambar impressionist yang diilhami oleh Wheat Fields Van Gogh, penutannya. Tapi Ren mengambar mengambar ladang padi sebagai ganti gandum.

Ia tidak mendengar ketika ponselnya berbunyi, juga tidak peduli dengan panggilan Papa yang memintanya bergabung makan malam. Pasti Papa melihat sinar lampu yang terlihat dari balik pintu. Ren tidak peduli. Ia sudah lama tidak pernah bergabung makan malam dengan mereka, dan apa bedanya malam ini. Walau ini malam Natal.

Lukisan Ren hampir rampung ketika ia mendengar alarm ponselnya berdering. Alarm yang sengaja disetel pukul 3 pagi. Itu batas maksimal untuknya bergadang, sebab ia selalu memulai harinya jam 8. Ren meletakan kuas dan melemparkan dirinya ke kasur. Tidur.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 3

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s