Into Your Arm – Chapter 4

Ben memandangi baju-baju yang bertebaran di ranjangnya. Sudah setengah jam ia memelototi mereka, tapi Ben masih juga tidak bisa memutuskan akan mengenakan yang mana. Ini konyol sekali. Seandainya ia punya fashion sense sebaik Micky, ia pasti bisa lebih mudah memutuskan untuk mengenakan jeans dengan sweater atau kemeja dengan pantalon. Biasanya ia tidak pernah peduli dengan apa yang harus ia kenakan, tapi khusus hari ini, ia dibuat pusing dengan isi lemarinya.

“BEEEEEN….. Dimana ipodkuuuuu…” teriak Jack yang mendobrak masuk ke kamar Ben. Ia menaikan alisnya melihat kekacauan yang dibuat Ben. Dalam hatinya bersyukur karena tidak satu kamar dengan Ben. Atau dia pasti harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah untuk membersihkan kamar dibanding untuk beristirahat.

“Jangan komentar kalau tidak mau membantu.” larang Ben dan dilanjutkan dengan bertanya soal Micky. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanya saat ini hanya Micky.

“Dia lagi pergi sama Yunna. Seperti tidak kenal Micky saja. Mau kemana sih?” tanya Jack, lupa dengan ipodnya.

“Kencan.” ujar Ben berbinar-binar, dan tentu saja Jack akan berteriak mendengar ia mengucapkan hal itu. Jack dan Hiperbolanya.

“SErius? YAANGG BENAR?? Dengan siapa? Dengan cewek kemarin yah?”

Ben menaikan alisnya, tidak merasa sudah bercerita pada siapa-siapa tentang Gina. “Memang aku sudah cerita soal Gina?” tanya Ben untuk menyakinkan kalau Jack tidak slah informasi.

“Jadi cewek kemarin yang teleponan sama kamu namanya Gina?” tanya Jack, ia mendengar dari Micky soal itu tadi malam, dan sudah penasaran dengan cewek yang membuat Ben sih gila kerja tertarik untuk berkencan.

“Oh bukan itu Ren.”

Mulut Jack menganga lebar. Bukan hanya satu cewek tapi dua sekaligus. Wah, Ben pasti sedang naik daun. Kalau begitu ia akan membantunya dan mengikutinya. Mungkin ia juga bisa mengajak Max.

Jack menyuruh Ben mengenakan pakaian yang casual dan nyaman setelah mendengar tujuan kencan Ben. Yang paling penting dari kencan pertama adalah menjadi nyaman dan terbuka. Mengenakan pakaian yang ribet dan heboh atau terlalu bold malah bisa memberi kesan yang salah. Dan paling penting, Ben harus datang sebagai Ben.

Walau terpaksa mengenakan pakaian yang dipilih oleh Jack, Ben mengucapkan terima kasih juga. Setidaknya ia tidak perlu menunda lagi keberangkatannya. Ia berjanji untuk bertemu di Music Store jam 11. Ini sudah jam 10. Ia tidak suka terlambat.

Setelah Ben keluar dari rumah, Jack memberitahu rencananya pada Max dan tentu saja Max bereaksi sama semangatnya dengan dirinya. Mendengar Ben berkencan itu sama dengan berita turun salju di bulan Oktober yang nyaris mustahil.

Hyung yakin Ben pergi dengan cewek?” tanya Max lagi saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Jack yang menyetir tentunya. Max tidak suka berada di balik kemudi jika tidak terpaksa.

“Dijamin. Makanya kita harus buru-buru menyusul Ben sekarang. Sial, itu anak menyetirnya cepat sekali.” gerutu Jack.

“Perlu memberi tahu Micky dan Alex?” tanya Max lagi. Tapi dia tidak menunggu jawaban Jack. Ia mengirimkan pesan singkat ke dua temannya itu untuk menyusul. Mereka tidak takut jika nanti Ben akan marah karena kecil kemungkinan bahwa Ben akan menyadari kehadiran mereka. Ben itu one track minded jadi kalau sudah berkonsentrasi pada satu hal tidak akan memperhatikan yang lain.

Max berhasil menemukan mobil Ben, dan layaknya stalker profesional, mereka menjaga jarak beberapa mobil di belakang mobil Ben. Max tidak melihat ada penumpang lain di dalam mobil Ben, jadi kemungkinan besar Ben akan menemui cewek itu di tempat janjian mereka. Beberapa kali mereka nyaris kehilangan Ben, tapi Jack berhasil menyusul lagi. Malah sekali waktu nyaris melewati mobil Ben karena temannya itu berhenti di pom bensin.

“Aku jadi mengerti perasaan orang yang suka mengikuti kita. Seru juga yah.” komentar Jack setelah mereka berhenti di tempat parkir. Mereka sampai di salah satu mall besar. Dan parkir tidak jauh dari mobil Ben.

“Kira-kira Ben kemana?” tanya Jack yang tentu tidak bisa dijawab oleh Max.

“Telepon saja, pura-pura ingin menitip dibelikan makanan.” usul Max dan dituruti oleh Jack. Ben juga menjawab dengan polos dan memberi tahu kalau dia sedang berada di toko musik dan bukannya di restorant.

“Mereka di musik store. Berarti di lantai 2 yah.” ucap Jack kemudian masuk ke dalam lift dan menekan tombol 2. Tidak sulit menemukan Ben karena cowok itu pasti akan dikerubuti oleh banyak orang seperti mereka sekarang. Karena sudah biasa, Max dan Jack tidak memusingkan cewek-cewek di sekitarnya itu.

“Kelihatan tidak?” tanya Jack, tinggi badannya tidak mendukung di saat berada dalam kerumunan seperti ini, berbeda dengan Max yang hampir menyentuh 190cm. Dengan mudah cowok itu melongo ke kiri dan kanan untuk mencari Ben.

“Kita harus lebih dekat lagi. Percuma kalau dari luar seperti ini, mencari Ben. Dia kan pendek.”

Mereka berjalan masuk ke MusicStore, meminta bantuan satpam untuk menahan gerombolan pengemarnya. Lumayan, setidaknya mereka bisa melangkah lebih tenang dan bisa bersembunyi jika berhasil menemukan Ben.

Jack menunjuk Ben yang berdiri tidak jauh dari mereka dan berbisik, ”Kita ke sana biar  bisa dengar mereka ngomong apa.”


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 4

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s