Into Your Arm – Chapter 5

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ben sewot begitu melihat Ren ada di MusicStore. Cewek itu bukannya menjawab malah melongos pergi. Tentu saja Ben tidak membiarkan Ren kabur. Ia tidak suka diikuti.

“Aku kerja di sini, kalau kamu masih belum menyadari seragam yang aku pakai.”

Ben menilai pakaian Ren, cewek itu memang mengenakan seragam biru muda MusicStore, ia tidak tahu bagaimana ia tidak melewatkan detail itu tadi. Mungkin karena ia terlalu terkejut menemukan Ren di tempat ini sedangkan Gina masih belum menampakan batang hidungnya. Sedangkan ini sudah jam 11 lewat.

“Perlu sesuatu? Atau cuma sekedar melihat-lihat?” tanya Ren basa-basi, ia melakukan ini karena itu service yang harus ia lakukan karena ia pegawai. Bukan karena tertarik dengan urusan Ben. Terserah cowok itu mau jungkir balik atau main petak umpat di sini. Urusan dia hanya apa Ben berencana untuk membeli sesuatu atau tidak.

“Aku butuh lagu My Way dari Frank Sinatra tapi dalam bentuk piring hitam, bukan CD atau MP3. Kamu punya?” kelakar Ben, ia sengaja meminta hal yang tidak masuk diakal. Piringan hitam Frank Sinatra sudah hampir punah, hanya tinggal beberapa dan harganya elangit. Terlebih lagi mencarinya bukan di toko seperti MusicStore, harus menuju tempat collector.

“Maaf, kam tidak menjual piring hitam. Apa ada permintaan lain?”

Ben bisa menangkap nada sinis dari Ren, ia makin tidak senang. Mungkin ia harus mencari gara-gara dengannya agar cewek ini tidak terlalu sombong.

“Apa maksud nada bicara kamu? Panggilkan manager!”

Ren menaikkan alisnya melihat laga Ben yang angkuh. Ia menarik nafas dan meminta maaf serta merubah nada bicaranya. Ia suka bekerja di tempat ini dan amat tidak rela jika harus berhenti hanya karena seorang BEN. Benar, seorang BEN!

“Tidak aku tidak perlu dilayani oleh orang kasar seperti kamu. Panggil managermu, aku akan mengajukan protes.”

Ren melipat tangannya di dada, tidak bersedia melakukan permintaan Ben. Tapi ketika Ben mulai berteriak-teriak, mau tidak mau Ren membekap mulut Ben dan memarahinya, “Tolong yang waras sedikit!” Ia bisa melihat kilatan kemarahan di mata Ben dan jujur saja ia takut. Bahkan Ren sampai menelan ludah, tapi ia juga tidak berani melepaskan tangannya dari mulut Ben. Cowok ini bisa semakin nekad dan membuat onar di tempat ini.

“Be…n?” tanya Gina yang tiba-tiba muncul di depan mereka, membuat Ren dan Ben menoleh bersamaan dan bisa ditebak, kepala mereka terjedut. Tinggi mereka kan memang tidak jauh berbeda apalagi, Ren memakai sepatu berhak kali ini. Dan, entah bagaimana Ben mendorongnya hingga menabrak etalase CD dibelakang Ren.

Sekujur punggung Ren sakit bukan main. Sewaktu Ren mengaduh, Ben hilang dari hadapannya. Cowok itu sudah sampai pintu keluar dengan Gina. Ren mengepalkan tinjunya kesal. Lihat saja, kalau lain waktu ia bertemu dengan cowok itu lagi, ia harus memastikan Ben yang terluka.

Kemarahan Ben belum reda ketika ia berhasil membawa kabur Gina dari Music Store. Mereka duduk di cafe yang letaknya berseberangan dengan toko musik tadi. Ia sudah mempermalukan dirinya di hadapan orang banyak karena cewek bodoh itu. Bahkan Gina sampai terlihat ketakutan sekarang.

“Maaf soal tadi. Kamu mau minum apa?” tanya Ben pada Gina. Cewek di hadapannya sungguh berbeda dengan cewek brutal tadi. Dengan dress pink dan mantel merah, rambut coklat panjang ikal. Gina benar-benar cewek manis seperti bidadari. Begini seharusnya perempuan, bukan bar-bar seperti cewek tadi, dengus Ben dalam hati.

Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi nonton. Ada film drama yang ingin Gina tonton dan kebetulan waktunya pas dengan jadwal mereka. Ben membelikan tiket dan bersama-sama menonton, “Remember Me”.

Jangan tanya pada Ben apa film itu tentang apa, karena hampir sepanjang film ia tertidur. Ia memang tidak suka film drama, setidaknya tidak untuk ditonton di bioskop. Karena Ben tidak tahan berada di tempat dingin dan gelap tanpa merasa ngantuk. Kebiasaan buruk yang selalu diprotes oleh teman-temannya, tapi tidak juga berhasil ia ubah.

Untungnya Gina tidak menyadari kalau Ben tertidur. Matanya terlalu terpaku menatap Robert Pattison yang ganteng dan emosian di film itu. Ditambah ia tidak perlu mengeluarkan uang sepersen pun hari ini membuat Gina merasa harus menikmatinya 100%. Tidak pusing kalau tadi ia melihat Ben dan Ren bertengkar. Menurutnya Ren memang cewek bar-bar yang amat kasar. Jadi ia tidak perlu merasa tersaingi oleh cewek itu. Ben sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya.

Ben terbangun persis 5 menit sebelum film berakhir, jadi ia cukup aman dan tidak ketahuan oleh Gina. Berkomentar betapa bagus akting Robert dan sebagainya. Yah, lebih tepatnya menyetujui semua komentar Gina. Dia kan tidak tahu apa film itu ceritanya apa. Yang penting, ia bisa melihat Gina dengan puas. Matanya terlalu berpusat pada bibir Gina. Menurutnya bahkan ketika Gina berbicarapun, cewek itu seperti sedang bernyanyi.

“Jadi sekarang kita mau kemana?” tanya Ben ketika Gina selesai mengomentari film yang barusah mereka tonton. Kalau tanya pada Ben sih, dia ingin pulang, melanjutkan tidurnya. Jadi lebih baik Gina yang memutuskan. Walaupun Gina berkata ingin melihat-lihat baju di butik, Ben setuju saja. Apa saja boleh asal, dia bisa lebih lama bersama Gina…

Jika acara melihat-lihat berubah menjadi berbelanja gila-gilaan lalu membuat Ben menenteng setidaknya 4 kantong berisi baju dan tas. Ia tidak peduli, bahkan ketika Gina memilihkan kalung perak dengan batu onyx untuknya yang sepasang dengan cincin yang dibeli Gina, Ben juga tidak peduli. Apa saja asal Gina senang.

Akhirnya setelah acara belanja dan makan malam, Ben tidak ikut makan, ia masih diet untuk menurunkan berat badannya. Dan terlebih, dia memang tidak pernah makan di bawah jam 7 malam. Ben mengantar Gina pulang.

“Terima kasih. Aku menikmati hari ini.” ucap Gina dan ia mengecup pipi Ben malu-malu kemudian turun dari mobil.

Ben meraba bekas ciuman Gina. Tidak percaya kalau ia sudah mendapat kecupan dari cewek yang diincarnya. Rasanya manis dan berbunga-bunga. Jadi seperti inikah kencan? Pantas Jack dan Micky lebih sering bersama pacar mereka. Rasanya memang jauh lebih menyenangkan dibanding memenangkan pertandingan apapun juga.

Masih dengan senyum lebar di mulutnya, Ben mengelindingkan mobilnya menuju rumah. Pulang dan cerita. Cerita dan pulang. Yang mana saja, sama saja, apa saja.

Oh, rasanya. Ben sudah gila. Ia tidak perlu lagi jadi kambing congge jika mendengar Jack dan Micky membicarakan perempuan. Sekarang ia sudah punya sesorang untuk diceritakan. Makin lebarlah senyum Ben.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 5

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s