Into Your Arm – Chapter 6

Dan memang seharusnya Ben sudah berada di rumah, bukannya dimana ini? Ia bahkan tidak tahu ada di tempat apa. Jorok dan bau. Semua gara-gara cewek bar-bar itu. Kalau Ren tidak tiba-tiba meloncat ke depan mobilnya. Ia tidak mungkin sampai terjeduk dan pingsan. Ia meraba keningnya, astaga kenapa ada perban. Ia menengokke kiri dan ke kanan. Mencari cermin. Tapi di sekelilingnya hanya ada buku, baju dan patung-patung yang tidak jelas bentuk dan namanya. Ia mengenali beberapa diantaranya berbentuk orang, tapi sepertinya belum sempurna.

Ia menengok ke belakang kasur, melirik ke tangga dan asal suara. Ren datang dengan mangkuk yang pasti berisi ramen, karena ia bisa mencium wanginya. Pertunya mendadak merasa lapar. Bukan hanya itu, Ren juga mengigit bandaid di mulutnya. Ben kembali menaikan alis dan mengerang kesakitan. Sepertinya lukanya ada di atas alis sebelah kanan karena itu yang terasa sakit tadi.

“Jangan bergerak dulu. KIta tidak tahu kamu geger otak ringan atau tidak.” ucap Ren dan ia menghampiri Ben setelah meletakan makan malamnya di nakas samping kasur. Ia membuka perban sementara yang dipasangnya di kepala Ben ketika cowok itu pingsan. MEngeceknya dan mengantinya dengan Bandaid.

“Tidak terlalu parah dan mudah-mudahan tidak berbekas.” komentar Ren yang dijawab dengan makian dan sumpah serapah dari Ben. Cowok itu bahkan mengancam akan meminta ganti rugi jika sampai ada bekas luka di wajahnya dan mulai berkoar tentang betapa pentingnya wajah itu untuk seorang artis. Ren hanya mendengus, tidak mengacuhkan cowok itu. Ramenya bisa keburu dingin jika menunggu Ben selesai menceramahinya.

“Sini, aku lapar.” perintah Ben, salah, Ben langsung menyerobot mangkuk ramen dari tangan Ren dan menikmatinya dengan lahap. Ren pasti menganggap ia sedang menatap seroang pengemis yang tidak makan 1 minggu jika tidak mengingat bahwa orang itu dalah Ben. Cara makannya sungguh mencengangkan. Ia mencibir ketika meliaht mangkuknya bersih, bahkan tidak ada kuah dan kimchi yang tersisa.

Ia sudah siap mengerutu dan mengusir Ben keluar dari kamarnya kalau cowok itu tidak mendahuluinya berbicara.

“Bisa cerita kenapa kamu tiba-tiba melompat ke jalan? Apa kamu sengaja mencari gara-gara karena kejadian tadi siang?”

Ren membisu mendengar tuduhan Ben. Satu karena heran bagaimana cowok itu membuat segala sesuatunya selalu mengenai cowok itu. Kedua karena dia tidak merasa harus menceritakan kejadian menyebalkan. Ia bertemu dengan Sandra, dan cewek itu sengaja bermanis-manis di hadapannya dengan mengundangnya makan malam bersama teman-teman Sandra. Tentu saja Ren menolak dan kabur. Sialnya, ia sudah berada di pinggir jalan ketika mendapat kesempatan untuk menghindar dari Sandra. Niatnya hanya ingin menyeberang jalan, mana ia tahu kalau tiba-tiba ada mobil yang lewat di jalanan sempit seperti itu.

“Kamu sendiri kenapa bawa mobil di gang sempit? Memangnya tidak bisa parkir di pinggir jalan dan berjalan kaki?” tanya Ren balik.

Ben membuka mulutnya tapi tidak ada yang keluar dari sana, karena kesal. Ia memang bisa turun dan mengantar Gina tadi dengan berjalan kaki, tapi melihat banyaknya kantong yang harus Gina tenteng, ia tidak tega membiarkan cewek itu membawanya sendiri. Apalagi Gina peduli padanya dan takut kalau ada orang yang mengenali dia mengantarnya pulang. Bisa menjadi skandal baru.

“Kalau kamu tidak mau cerita, kamu bisa menjawab bagaimana kamu mengantar aku ke tempat ini? Ini dimana sih ngomong-ngomong? Bau dan jorok sekali!” ucap Ben sambil mengibas-kibas tangan di depan hidungnya. Bau cat dan terpatin makin menyengat.

“Kamarku. Dengan mobil kamu lah. Tidak mungkin meninggalkan mobil mewah seperti itu di gang kecil.” ujar Ren sambil membuka 3 jendela kecil untuk melancarkan sirkulasi udara. Ia tidak pernah berpikir kamarnya bau, tapi mungkin karena ia sudah biasa mencium bau cat minyak. Sedangkan Ben tidak.

“Kamu menyetir mobilku? Memangnya kamu bisa menyetir?” tanya Ben tidak percaya dan mulai khawatir mobil kesayanganya itu lecet. Kepalanya sudah benjol dan kalau mobilnya ikut lecet, ia akan menuntut ganti rugi. Ia pasti menuntut ganti rugi.

“Yah, bisa, cuma mobil automatic. Tidak ada yang sulit.” dengus Ren, ia duduk di sofa panjang yang letaknya berseberangan dengan kasurnya. Biasanya sofa ini ia pakai untuk membaca, namun tampaknya malam ini akan berubah fungsi karena ia tidak tahu bagaimana mengusir Ben sekarang. Cowok itu mendadak tertidur. Mungkin karena bau cat yang memang bisa membuat orang mengantuk atau mungkin juga karena obat yang ia masukan ke dalam ramen tadi. Bukan obat tidur, hanya obat pilek tapi memang mengandung obat tidur. Tapi kan ia tidak sengaja, seharusnya Ren yang memakan ramen itu, dan ia memang tidak suka minum obat, jadi selalu mencampurnya ke dalam makanan.

Ia mengecek lagi luka di dahi Ben. Sudah lebih baik, darah tidak lagi keluar. Diam begini, Ben jadi terlihat manis. Coba sering-sering seperti ini, pasti Ren akan bersikap ramah padanya. Bukannya terus-terusan bersikap sinis.

Iseng, Ren mangambil buku sketsanya dan mengambar Ben. Mumpung ada model manusia yang bisa ia gunakan. Ren tidak suka mengambar manusia tapi kalau ia ingin lulus, maka ia harus menyelesaikan patung manusia yang menjadi tugas akhirnya. Ren memulai gambarnya dari kepala, memperhatikan seluruh bagian wajah Ben dengan seksama dan dari jarak yang cukup dekat, sampai ia bisa melihat kotoran hidung Ben.

Maaf, tapi ini lucu sekali, mungkin karena udara cukup dingin hari ini sehingga hidung Ben berair dan meninggalkan kerak di sana. Ren nyaris mengakak melihat hal itu. Ternyata Ben manusia biasa. Ia memang tidak menganggap Ben seorang dewa atau manusaia super karena cowok itu seleberitis tapi ia pikir Ben akan lebih bersih dibanding cowok-cowok lain yang dikenalnya.

Setelah hidung, Ren menatap bibir Ben yang tebal ada kerutan kecil di ujung kanan bibir Ben, mungkin cowok ini sering mengusapnya. Lalu ia meneliti mata Ben, bulu matanya panjang-panjang dan lentik. Kulitnya juga halus, pasti perawatan kulitnya mahal, dengus Ren. Puas melihat wajah, ia beralih ke dada, lengan dan kaki Ben. Mengukur dan memindahkannya ke kanvas. Setiap bagian tersebut digambar di lembar yang berbeda. Agar lebih mudah untuknya mengukur skala perbandingan antara manusia asli dengan patungnya nanti.

Ben, betul-betul objek yang bagus. Mungkin nanti ia bisa minta tolong pada cowok ini lagi untuk menjadi modelnya. Ia perlu melihat tubuh atas dalam keadaan telanjang. Memikirkan Ben tanpa baju, membuat pipi Ren memerah seketika. Buru-buru Ren kembali ke sofa dan masuk ke dalam selimut.

Ia pasti masuk angin dan kepalanya terlalu panas sampai bisa memikirkan hal mesum seperti tadi. Kalau ia ingin melewati malam ini dengan kewarasan yang sama, lebih baik dia tidur dan melewati malam ini dengan cepat.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 6

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s