Into Your Arm – Chapter 7

Terkutuklah udara dingin, karena esok paginya Ren mengigil terus menerus. Ia tidak berani menutup jendela semalam padahal jendela itu persis di atas sofanya. Semua salah Ben! Cowok itu malah masih asyik tidur ketika Ren bangun. Ia harus ke kampus hari ini, ada lukisan yang harus dinilai sebelum masuk pameran. Bukan pameran tunggal, ia belum sehebat itu. Tapi ini pameran pertamanya. Jadi buru-buru Ren memasukan buku sketsanya dan meninggalkan rumah. Ben bisa pulang sendiri, karena ia sudah meninggalkan kunci serep rumah dan catatan kecil untuknya.

Sebetulnya agak sulit baginya melewati kerumunan dengan membawa 2 lukisan berukuran 60 cm. Tapi ia berhasil juga sampai di kampus tanpa kecelakaan yang berarti. Menabrak kepala anak kecil tidak bisa dihitung kecelakaan terlebih jika yang membuat luisan itu meluncur dari tangannya adalah rem mendadak dari bus yang ditumpanginya.

“Itu karya kamu?” tanya assisten dosen Ren yang bertugas mengumpulkan karya untuk pameran. Ren mengangguk dan menyerahkan lukisannya.

“Kamu mau mengikut sertakan lukisan kamu di pasar lelang? Hasilnya lumayan lho, sekaligus bisa menjadi tolak ukur nilai jual kamu.”

“Apa lukisanku bisa masuk seleksi?” tanya Ren malu-malu.

“Tentu saja, kamu kan murid kesayangan dosen. Mana mungkin tidak layak.” ujar assisten tersebut sambil tergelak. Membuat Ren makin malu. Ia mengiyakan dan mengucapkan terima kasih, lalu kembali ke aula. Tidak ada jadwal kuliah hari ini, tapi ia belum menyelesaikan balihonya.

Ren berlari menuju aula, ia yakin setidaknya beberapa temannya sudah berkumpul disana. Mereka berjanji untuk mulai kerja pukul 8. Namun kalau ternyata aula masih kosong dan balihonya masih terbentang di lantai persis seperti yang ia tinggalkan kemarin, seharusnya Ren mengerti. Tidak mungkin teman-temannya itu datang tepat waktu. Jaman sekarang tidak banyak yang menghargai waktu. Dan siapa sih yang rela datang pagi-pagi untuk pekerjaan yang tidak dibayar.

Ia melemaskan otot-otot tangan dan pinggangnya sebelum mengambil cat perak dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.

“REEEENNNN…. Sorry telat. Sini, aku bantu…” pekik Randy dari luar aula, suaran mengema karena tempat itu terlalu sepi. Ren tersenyum, setidaknya datang satu bala bantuan. Beberapa saat kemudian, teman-temannya mulai berdatangan, mengerjakan tugas masing-masing.

Ren selesai dengan balihonya dan pergi menenteng kain besar itu dengan beberapa cowok, memasangnya di pagura utama kampus. Cukup repot karena banyaknya orang yang berlalu lalang di tempat tersebut. Ia harus berteriak mengarahkan hingga baliho tersebut terpasang persis di tengah.

Mendadak orang yang berlalu-lalang berkurang ganti dengan ketenangan yang cukup mencekam kemudia berganti dengan bisik-bisik. Ren tidak tahu mengapa ia merasa terganggung dengan semua itu, dan menengok ke belakangnya. Gina datang ke kampus dengan Ben. Dengan Ben, ulang Ren dalam hati. Ia membalikkan badannya setelah melihat pasangan tersebut dan pura-pura tidak ambil pusing.

Tapi tidak bisa terlalu cuek juga, sebab dua orang itu melintas di depannya, denga Giana yang mengelayut manja di sisi Ben. Cowok itu tidak menyapanya jadi Ren juga melakukan hal yang sama. Ia meneruskan memasang baliho. Setelah selesai kembali menuju aula.

Keputusan yang salah, karena Gina ada di sana dengan Ben. Ia lupa kalau Gina harus melakukan gladi resik. Cukup terkesan melihat kesopan dan sikap Ben pada Gina. Berbeda sekali dengan sikapnya ketika bersama Ren. Ia mendengus, semua cowok yang sedang pendekata pasti terlihat seperti cowok gentleman.

Melihat Ren masuk dengan cowok-cowok ke dalam aula, membangkitkan kemarahan sendiri dalam diri Ben. Ia tidak suka melihat cewek itu beredar di sekitarnya karena tidak ada hal baik yang terjadi jika ada di sekitar Ren. Ia pasti terlibat masalah atau tertimpa kesialan. Hal lain yang membuat Ben sebal, Ren selalu tertawa dengan suara besar bukannya mengikik seperti Gina.

Betul, Gina, Ben melirik, cewek di atas panggung yang sedang bersiap bernyanyi. Tadi pagi, Gina menelponnya dan minta dijemput. Ia langsung bangun dengan semangat ’45 dan menjemput Gina. Kalau seperti ini terus, mungkin sebelum tahun berganti ia sudah berhasil membuat Gina menjadi pacarnya.

Seperti biasa, suara Gina berhasil membuat Ben terpesona. Bulu kuduknya tetap merinding begitu mendengar Gina bernyanyi, tapi kali ini ia tidak bisa menyerahkan diri sepenuhnya untuk dibuai oleh suara Gina! Karena cewek bodoh itu terus tertawa nyaring di belakangnya. Ren terus tertawa walau ia sudah melemparkan tatapan kesal karena merasa terganggu. Cewek ini…. erang Ben.

Dua menit pertama, Ben berhasil mengontrol emosi dan menutup kuping dari teriakan dan gelak tawa Ren tapi ia tidak sanggup lagi. Ben bangkit berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju Ren. Sialnya, ia tidak melihat kaleng cat dan sukses mendarat dengan pantatnya lebih dulu. Kaleng cat tersebut menggelinding, menimbulkan suara lebih keras.

Ia bisa melihat beberapa orang cekikikan dan sebagian lagi tetap menjaga sikap dengan membalikan badan. Ia bisa memakluminya, tapi yang membuat ia marah, Ren tertawa terbahak-bahak hingga mengoncang seluruh tubuh cewek itu. Rasa geram dan kesal makin bertumpuk.

Jadi jangan salahkan dia jika ia menolak uluran tangan cewek itu untuk membantunya berdiri. Ia mendengus dan mengepak pantatnya. Sial, lumayan sakit.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ren yang kelihatan sekali berusaha mengontrol tawanya.

Ben memelototinya tajam, apa dia bilang tadi, berada di sekitar cewek ini hanya membawa sial. Mungkin ia harus memperingatkan Ren untuk tidak berada di sekitarnya dalam radius 3 meter.

“Aku tidak merasa ingin berdeketan sama kamu. Jadi tenang saja, kamu tidak mungkin melihatku setidaknya kalau kamu tidak datang ke kampus ini.”

Jawaban yang super menyebalkan bagi Ben, kupingnya sampai memerah karena kesal. Ia berdiri berhadapan dengan cewek itu. Lalu kembali gondok karena cewek itu langsung melenggang pergi.

“Hei!” panggil Ben dan menarik lengan Ren. Cewek itu menghantam dadanya ketika berbalik, membuat Ben kembali mengeluh.

“Ada apa lagi sih??!”

“Kamu…..” saking kesalnya Ben bingung mau ngomong apa. Dia selalu seperti itu kalau terlalu marah. Gina datang tepat waktu, tadinya Ben berpikir cewek ini tidak akan turun dan membantunya. Bukan membantu memukuli Ren, tapi membantunya keluar dari tempat ini. Ben melepaskan Ren dan ijin pamit. Ia tidak perlu berada di ruangan yang sama dengan Ren.

“Tapi kamu akan jemput aku lagi kan?” tanya Gina.

“Yah, jam berapa?”

Ben tidak mendengar jawaban Gina karena perhatiannya kembali tertuju pada teriakan Ren. Cewek itu sedang melompat-lompat kegirangan dan memeluk cowok. Ya ampun, rasanya ia tidak pernah melihat cewek se bar-bar itu. Tidak sadar ia sudah mendengus kembali.

“Ada apa sih?” tanya Gina yang melihat Ben kembali kesal. Ia mengikuti arah pandang Ben. Dan merasa cemburu karena lagi-lagi Ben melihat Ren.

“Dia memang biasa begitu. Rusuh dan heboh. Masa perempuan teriak-teriak, lompat-lompat dan peluk-pelukan dengan cowok. Kamu kenal dengan dia?”

“Tidak.” ujar Ben dan kembali menatap Gina, melihat Ren terlalu lama cuma membuat kepalanya pusing, “Nanti aku jemput, jam berapa?”

Setelah mendengar jawaban Gina, Ben keluar dari ruangan itu. Masih sempat mendengar teman Ren berceletuk, “Selamat yah, bisa laku seharga 100,000 Won.” dan Ren berteriak-teriak lagi.

Apa sih yang dihebohkan cewek itu? dengus Ben kesal. Dan apa yang dijual dengan harga 100,000? Ben berhenti di lapangan tengah kampus itu, sedang dilangsungkan lelang karya seni. Ia berdiri sebentar melihat-lihat apa yang sedang dilelang. Mamanya suka lukisan, mungkin ia bisa menemukan sesuatu untuk hadiah Natal. Lebih baik terlambat daripada tidak memberi apa-apa.

Ben duduk di bagian belakang dan menanti setiap karya yang dilelang, sejauh ini belum ada yang ditaksirnya. Kebanyakan lukisan impressionist dan abstrak. Ia membutuhkan lukisan pemandangan yang soft.

“Karya utaman hari ini dari pelukis yang sama dengan SunsFlowers tadi. Kali ini dia memakai ladang sebagai temanya.” ujar sang pelelang.

Ben bisa melihat, banyak yang tertarik pada lukisan itu, bahkan sebelum sang pelelang membuka lukisan tersebut, orang-orang mulai mengangkat tangan dan menawar. Angka bergulir dengan cepat dari beberapa ribu menanjak tajam ke puluhan ribu, Ben bisa melihat ada 3 orang yang antusia berpartisipasi. Penawaran mulai menyentuh ratusan ribu. Bahkan lukisan itu masih terbungkus.

Ben mengangkat tangannya, maksudnya ingin menyuruh si pelelang membuka bungkusannya sehingga ia bisa menaksir harga, tapi si pelelang malah salah sangka dan mengira ia ikut menawar.

“200,000?” teriak si pelelang.

“Bukan, maksud saya, bisa dibuka dulu? Aku tidak bisa ikut menawar kalau tidak mengetahui apa yang ditawarkan.”

Bukannya melaksanakan permintaan Ben, si pelelang malah tertawa, begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya.

“Rupanya anda orang baru yah. Baiklah untuk menyambut anda, saya akan membuka lukisan ini. Kalau dipikir-pikir memang tidak etis kalau tidak memperlihatkan hasil karya yang ini. Tadinya saya ingin menyimpan lukisan ini sendiri, tapi kalian tahu itu tidak mungkin. Nah, ini dia, Yellow fields karya Ren.”

Lukisan dengan pemandangan padi yang menguning, disertai langit oranye, membuat lukisan itu terbakar. Hangat sekaligus mencekam. Ben seperti ditarik ke dalam lukisan itu dan bertindak irrasional dengan menawar 500,000 won untuk lukisan itu. Tentu saja semua semua orang heboh mendengar penawarannya yang luar biasa.

“500,000 satu kali…” teriak sang pelelang antusias

“600,000” teriak satu ibu-ibu tidak mau kalah, ia sudah mengoleksi semua lukisan Ren dan tidak ingin karya yang satu ini terlepas dari tangannya.

“610,000” tambah Ben, itu jumlah duit yang dibawanya sekarang. Tidak bisa lebih dari itu. Ia juga tidak melihat ada mesin EDC untuk mengesek kartu ATM nya di tempat ini.

“1 juta Won.” ujar bapak-bapak yang duduk di samping Ben, membuat cowok itu menoleh terkejut. 1 juta Won untuk lukisan seorang amatiran yang bahkan belum lulus kuliah. Bapak ini pasti gila atau punya niat tertentu pada Ren. Ben terbatuk-batuk begitu menyadari ia hampir saja membeli lukisan yang digambar cewek bar-bar tadi. Astaga, untung saja om di samping ini menawar lebih tinggi kalau tidak ia bisa malu bukan main.

Ben menjabat tangan si bapak-bapak antusias dan menyelamatinya karena sudah berhasil membawa pulang lukisan tersebut. Bapak ini sudah menyelamatkan harga dirinya. Tapi ia harus menyerengitkan dahi ketika mendengar komentar si bapak. Ada orang yang bersedia membayar 5 juta Won untuk lukisan itu dan ia masih mengantungi keuntungan bersih 4 juta. Ben sampai menyerengitkan dahi. 5 Juta? Bahkan lebih banyak daripada yang bisa dihasilkanya dari penjualan single pertamanya. Sial, si Ren pasti tertawa senang karena mendapat banyak uang. Dan ia ikut membantu Ren untuk mendapatkan uang tersebut, erang Ben kesal.

Ia tidak tahu sudah menghabiskan banyak waktu di tempat pelelangan itu sampai ia melihat arlojinya. Sudah hampir jam 5. Ia mengerang lagi. Tidak ada untungnya jika berhubungan dengan Ren. Bahkan cewek itu sudah merebut waktu tidurnya sekarang. Sambil mencak-mencak, Ben kembali ke aula.

Heran, orang pertama yang dicarinya bukan Gina. Ia mencari cewek satu lagi. Dan merasa kecewa ketika tidak menemukan Ren di sana. Entah apa yang ingin dia lakukan jika Ren ada, memarahinya mungkin karena sudah membuat ia membuang-buang waktu untuk memuji lukisan Ren.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 7

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s