Into Your Arm – Chapter 10

Ren menunggu di luar kelas Gina sesuai janji mereka. Walau kampus mereka sama, tapi kampus untuk jurusan vokal seperti ada di dimensi yang berbeda. Letaknya ada di atas bukit dan lebih eksklusif. Lantainya terbuat dari kayu, mungkin berfungsi sebagai peredam suara dan memperkecil gaung.

Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sam. Kalau benar apa yang dikatakan Gina, bahwa cowok itu berotot maka ia tidak perlu repot-repot lagi mencari model. Konsepnya adalah Achellis, si dewa perang itu.

“Ren…. mihanee…” erang Gina. “Ben datang menjemputku hari ini. Tapi aku sudah janjian dengan Samuel di Bernie’s. Dan dia sudah ada di sana sekarang.”

“Tapi aku kan tidak tahu orangnya yang mana.”

Benar juga, batin Gina. Mungkin ia harus meminta Ben untuk bertemu di Bernie’s juga. Jadi ia bisa memperkenalkan Samuel pada Ren terlebih dulu. Untungnya Ben setuju, walau mengerutu karena perubahan mendadak itu. Gina sengaja tidak menyebut tentang Ren. Ia tahu apa pandangan Ben tentang sahabatnya ini belum berubah, masih benci. Ben jelas tidak senang ketika melihat foto Ren dengan Randy yang ia kirim lewat email.

Sampai di Cafe, Gina menemukan Samuel sedang bermain billiard. Ia menghambur ke pelukan abangnya itu dan memperkenalkan dia dengan Ren.

“Ini pelukis yang kamu bilang?” tanya Samuel sambil menilai Ren dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan pandangan menghina.

Ren mendengus melihat gaya Samuel yang perlente. Khas model-model norak. Ia siap menolak cowok ini. Lebih baik ia kembali mentap gambar atau film-film jaman kuno daripada satu ruangan dengan cowok itu. Bisa-bisa ia sakit dan muntah-muntah duluan sebelum patungnya selesai dibuat.

Jadi setelah meminta maaf pada Gina dan Samuel, ia keluar dari tempat itu. Berkeliaran di daerah sekitar untuk mencari ilham. Mungkin ia bisa menemukan model yang cocok tanpa harus meminta bantuan seseorang, seperti membeli poster aktor Hollywood. Merasa ia sudah mendapatkan ide yang bagus, memengobok isi tasnya mencari dompet. Ia melakukan itu sambil terus berjalan, sehingga ia tidak melihat ada orang di depannya dan menabrak cowok itu dengan sukses hingga terjatuh.

“Brengsek! TIDAK PUNYA MATA YAH?” teriak cowok yang ditabrak Ren.

Dari pakiannya saja, Ren bisa menebak kalau cowok itu adalah preman. Ia masih terduduk di lantai karena terlalu takut pada preman tersebut. Pipinya direngkuh dengan kasar dan ditarik berdiri oleh si preman.

“Kamu lihat bajuku ini!” unjuk si preman ke pakaiannya yang kotor karena terjatuh, sama seperti celana Ren yang kotor. “Kamu harus menganti biaya cuci pakaian ini. 50,000 Won. Cepat!” perintah si preman.

Lutut Ren lemas karena ketakutan, ia tidak bisa menyerahkan uang yang diminta. Itu satu-satunya uang yang ia miliki saat ini. Tapi kalau ia tidak menyerahkan uang itu, ia pasti tidak bisa pergi dari tempat ini. Ia melirik ke kiri dan kanan, berharap ada orang yang lewat untuk membantunya.

Mendadak, ia melihat kayu diayunkan ke kepala si preman dan membuat penjahat itu terjebam. Ren tidak mengerti apa yang terjadi. Penyelamatnya menarik tangannya lalu melemparkan helm untuk dipakainya. Ia naik ke atas motor masih dalam keadaan setengah sadar.

Motor Ben berhenti di rumah lamanya, bukan tempat tinggalnya dengan anak-anak Fox-T. Ia tidak mungkin membawa cewek gila ini ke rumahnya. Sebuah studio kecil dengan 1 kamar mandi dan tempat tidur. Tanpa jendela. Tempat khas bujangan.

Setelah sukses turun dari motornya, cewek itu melempar helmnya dan menendang kakinya. Spontan ia menangkap cewek itu dan membawanya masuk dengan paksa ke dalam tempat tinggalnya.

Ren memelototi Ben dan melipat tangan di dada, “Kalau lain kali ingin mengajakku pergi, kamu bisa menjelaskan tujuan kita terlebih dulu. Bukannya menculikku seperti tadi.” omel Ren. Sebenarnya yang membuat ia kesal bukan hal itu, penyelamatan yang dilakukan oleh Ben membuat ia merasa kalah. Terlebih ia menjadi sadar kalau ternyata badan Ben begitu kekar, sukses melindunginya dari terpaan angin. Ia baru menyadari kalau Ben itu seorang cowok. Bukannya dia buta hingga tidak mengetahui jenis kelamin Ben, tapi baru hari ini ia mengakui kalau Ben itu memang MAN, lelaki sejati.

Jantung Ren rasanya ingin melompat keluar ketika melihat cowok itu lagi. Ia lupa kalau Gina akan dijemput oleh Ben. Jadi bisa saja cowok itu melihatnya dan menghampirinya. Tapi bukannya Ben benci padanya, kenapa cowok itu mau repot-repot membantunya.

Ben tidak peduli, ia mencopot bajunya dan menghempaskan tubuh besarnya ke atas kasur. Badannya cukup pegal-pegal tadi karena melakukan banyak gerakan begitu mendadak. Padahal ia baru saja turun dari pesawat. Bertemu dengan Ren memang selalu membawa sial, gerutu Ben dalam hati.

“Kamu meminta aku untuk mengambar dengan apa? Bahkan cahaya di sini saja tidak cukup terang, Ben!” dengus Ren kesal. Ia harus marah dan terus melontarkan kata-kata kasar agar bisa mengalihkan pikirannya dari tubuh polos cowok itu. Dadanya berotot, lengannya terlihat kekar dan ia mulai memikirkan patungnya.

“Waktu aku berkata aku ingin menjadi modelmu, itu hanya alasan saja untuk pergi dari tempat tadi. Kamu bukan cewek bodoh jadi kamu pasti bisa menghitung kemungkinan kita memenangkan pertandingan tadi. Aku hanya menyelamatkan harga diri saja.” ucap Ben enteng. Ia bersungguh-sungguh dengan alasannya itu, walau ada juga keinginan untuk menyekap Ren di tempat ini, tapi ia tidak akan memaksa orang yang tidak ingin bersamanya.

“Brengsek! Kalau memang kamu cuma sekedar ingin kabur. Kamu bisa menurunkan aku di jalan tadi. Uangku tidak cukup untuk memanggil taxi.” omel Ren lagi. Ia keluar dari rumah Ben dan menendang motornya. Motor itu tetap tegak berdiri di tempatnya sedangkan kakinya malah kesakitan.

“Sialan!!!” teriak Ren lagi. Lalu pergi dari tempat itu. Ia berjalan kaki menuju halte bus terdekat. Dan entah dimana tempatnya. Ia tidak yakin dimana ia berada sekarang, rasanya di daerah …. Ia kembali mengerang karena udara dingin. Walau sekarang sudah bulan Febuari, suhu di Seoul masih mendekati nol.

“Naik!” perintah Ben sambil melempar helm kepada Ren.

Walau kesal, Ren mengenakan helm itu juga dan melompat ke motor Ben. Tidak ada banyak pilihan untuknya selain menumpang motor cowok itu jika ingin kembali ke rumah dan meringkuk di dalam selimutnya yang hangat. Ia menyebutkan alamat rumahnya dan Samuel mengantarnya ke sana dalam kecepatan yang lebih gila dari sebelumnya.

Ia tidak langsung mengembalikan helm saat mereka tiba di depan rumahnya. Berperang dengan dirinya antara mengundang Ben masuk atau menyuruhnya ke neraka karena sudah membuat ketakutan.

“Aku membutuhkan helm itu, Ren.”

Ia sudah menduga Ren akan memelototinya lagi karena ia sudah mengodanya, tapi ia tidak tahan untuk tidak usil pada cewek ini. Apalagi tadi, saat Ren memeluk ia erat, rasanya begitu menyenangkan.

“Aku tidak akan mengembalikannya sebelum kamu menyetujui untuk menjadi modelku. Aku tidak punya banyak waktu untuk mencari model lain, dan kamu memang model yang cocok.”

Senyum Ben kembali mengembang, kalimat itu cukup membuat ia merasa berbangga hati. Cewek ini baru saja memuji tubuhnya. Ia turun dari motor dan menyuruh cewek itu membuka pintu rumahnya. Memberi alasan kalau ia hanya punya waktu 3 jam untuk melakukan permintaan Ren. Walau sebenarnya ia rela memberikan seluruh sisa hidupnya untuk cewek itu.

Ia sangat terkejut ketika melihat Ren masuk melalui pintu garasi dan lebih terkejut lagi mengetahui kamar cewek itu ada di sana. Walau ia harus mengakui kamar ini cocok dengan Ren. Sangat berkarakter. Tidak ada pernak-pernik imut di situ.

“Kamu harus berdiri dan membiarkan aku mengukur tubuh kamu. Buka pakaian kamu dan jangan bergerak.” perintah Ren, sambil meletakan tasnya dan mengambil buku sketsa nya.

Ia memekik dengan keras, sampai terngorokannya terasa sakit ketika membalikan badannya dan mendapati Samuel sedang membuka celana panjangnya.

“Kamu sedang apa?!”

“Membuka pakaian kan?”

“Cukup bajumu saja!”

Sisa malam itu dihabiskan Ben dengan mematung di kamar Ren. Cewek itu dengan sadisnya tidak mengijikan ia duduk. Bahkan untuk pergi ke toilet ia harus memohon-mohon. Sepertinya itu hukuman dari Ren karena tadi ia sudah bertindak ugal-ugalan. Ia ingin sekali menganggu cewek itu tapi rasanya Ren tidak berada di dimensi yang sama denganya. Yang paling parah, Ren tidak merasa terganggu dengan ketelanjangan dadanya. Ren begitu terhisap untuk menyalin dan mengambar ulang berkali-kali seluruh bagian dirinya. Yang membuat Ben tersiksa, cewek itu tidak mengajaknya berbicara sama sekali, hanya memberinya ipod untuk mendengarkan musik atau apapun juga yang ingin ia lakukan dengan benda itu.

Puas dengan posisi berdiri, Ren menyuruhnya tidur. Cewek itu sudah sampai di tahap wajah dan tidak membutuhkan bagian lain dari tubuhnya itu. Tapi ia tidak boleh menutup wajahnya. Entah karena ia mengantuk atau karena bosan, Samuel tertidur dengan cepat. Sampai suara alarm berisik membangunkannya.

“Brengsek, suara apa sih itu!” maki Ben, ia bergerak-gerak dari kasur dan mencari sumber suara. Saat melihat patung di hadapannya, ia lupa dengan bunyi berisik itu. Ia berdiri dan menghampiri patung tersebut. Dari gibs dan masih basah. Ia terpaku dan tidak bisa melepaskan matanya.

“Biasanya aku tidak pernah membiarkan orang melihat hasil karyaku sebelum selesai. Tapi karena terlanjur. Silahkan.”

Ben mengengok pada Ren. Cewek itu seperti habis mandi karena ia melihat rambutnya masih basah. Ia baru tahu kalau rambut cewek itu panjang sebahu. Dimata Ren sembunyikan rambut itu kemarin.

“Bagaimana? Ini pertama kali aku membuat patung manusia. Tapi kamu model yang sempurna untuk sebuah Alchilis. Kamu tahukan dewa perang itu.”

Ben tidak mendengar dengan baik. Ia tahu siapa Alchilis tapi bukan itu yang mengusiknya, patung yang dibuat Ren, seperti mengambarkan dirinya yang berbeda. Tubuhnya memang kekar, tapi sorot wajahnya terlihat rapuh.

“Kenapa? Ada yang tidak kamu suka?”

Ia mengeleng, bukan tidak suka. Ia tidak punya kata-kata yang tepat untuk mengambarkan perasaannya saat ini. Terkejut karena Ren seperti sudah mengenal puluhan tahun. Tidak menerima karena cewek itu bisa menangkap perasaan galaunya yang bahkan ia sendiri tidak menyadari hal tersebut.

“Kamu harus membayar untuk semua ini.” ujar Samuel akhirnya.

“Kalau aku mendapat nilai A untuk patung ini. Aku akan mengajak kamu untuk merayakannya.” balas Ren cuek. Kemudian menyuruh cowok itu pergi. Ia harus ke kampus dan menyerahkan patung tersebut.

“Hei, aku bisa membantumu membawa patung itu. Kamu tidak mungkin kuat menenteng patung setengah meter itu sendirian kan.”

“Aku sudah meminta temanku yang punya mobil untuk menjemput.”

Jawaban yang tidak bisa dibantah oleh Ben. Dengan motornya memang mustahil untuk membawa patung ini. Tapi kan dia bisa memanggilkan taxi untuk Ren dan mengantarnya sampai ke kampus.

“Berikan ponselmu, aku perlu nomor kamu untuk menangih janji. Karena hanya orang buta yang akan memberikan nilai dibawah A untuk patungku.”

“Dan siapa kamu untuk memutuskan hal itu?” cibir Ren.

Ia hanya mendengus mendengar sindiran Ren. Ia memang tidak mengerti apa-apa dan kalau cewek itu menolak menerima pujian darinya tidak menjadi masalah. Yang penting ia tahu bagaimana menguhubungi Ren. Ia keluar dari rumah Ren dan menemukan mobil jeep di luar beserta cowok bule.

Ia mengendus pada cowok tersebut dan naik ke atas motornya. Ia harus pulang dan bertemu dengan Gina. Terlalu lama tidak bertemu dengan pacarnya itu, nyaris membuat Ben gila. Ia sudah kangen berat.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 10

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s