Into Your Arm – Chapter 11

“Jadi oppa ingin aku mengatur kencan untuk oppa dan Ren?” ucap Gina mengulang permintaan Samuel. Ia masih tidak percaya sepupunya ini datang ke rumahnya pagi-pagi dan membicarakan mengenai sahabat perempuannya. Ia menyerengit memandangi Samuel, berusaha menebak jalan pikir sepupunya tersebut. Melihat pakaiannya yang masih sama dengan kemarin, ia menduga Samuel tidak pulang semalam. Bukan cerita baru untuk Gina kalau sepupunya ini sering main gila dengan perempuan manapun. Berdasarkan hal itu saja, ia merasa heran kenapa Samuel tertarik untuk menaklukan Ren. Ia tidak mengerti apa sih menariknya Ren di mata cowok, bahkan Ren sudah menarik perhatian seorang playboy.

“Kamu tidak serius kan? Aku meminta bantuan kamu karena aku pikir kamu tidak akan jatuh hati padanya, Samuel!”

“Hey, siapa yang mengatakan aku suka padanya. Kamu ingin aku menjauhkan Ren dari cowokmu itu kan? Walau aku tidak mengerti kenapa kamu mengawatirkan mereka. Cewek kumel seperti Ren tidak akan pernah bisa bersaing dengan kamu.”

“Kamu tidak mengerti!” erang Gina.

“Baiklah, aku tidak perlu mengerti alasan kamu. Yang penting, kalau Ren disibukan denganku, dia tidak mungkin ada waktu dengan Ben. Jadi kamu atur saja, ok? Sekarang aku pulang dulu.”

Gina melempar bantalnya ke punggung Samuel. Sepupunya itu sudah keluar dari kamarnya. Ia tidak suka dengan perkembangan ini. Tapi Samuel benar, jika ia ingin menyingkirkan Ren, maka sahabatnya itu harus segera mempunyai pacar. Walau ia tidak terlalu yakin, Ren akan menyukai idenya ini.

Ia berjalan bolak-balik di kamarnya, mempertimbangkan segala kemungkinan dari rencana Samuel tersebut. Sampai lupa kalau hari ini ia berjanji untuk pergi dengan Ben. Ia baru sadar ketika Ben sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan memanggilnya.

“Aku pikir kamu sudah siap. Apa kamu sakit? Wajah kamu terlihat pucat, Gina.”

Ben mengulurkan tangannya untuk menangkup pipi Gina. Ceweknya ini bahkan cantik tanpa make-up. Tuhan pasti begitu menyayanginya karena sudah menyerahkan perempuan sebaik ini padanya. Dan mana mungkin ia bisa marah pada cewek itu jika ternyata Gina lupa kalau hari ini ia akan mengajaknya jalan-jalan. Jadi ia membantu Gina merapikan barang bawaannya sementar Gina bersiap.

“Boleh aku mengajak Ren? Aku tidak mau pergi sendiri di antara teman-teman kamu.”

Lagi-lagi Ben menyerah dengan tampang memelas Gina. Ia rela melakukan apa saja untuk cewek ini. Termasuk mengijinkan Ren dan Samuel ikut dengan mereka. Ia hanya perlu  mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan cewek itu agar tidak tertimpa kesialan.

Kemarin, saat ia ingin mengejar Ren dan Samuel, kakinya terantuk pinggir meja dan sakitnya bukan main. Kalau tidak ada Gina di sana, ia pasti sudah mengobrak-abrik tempat itu dan mengajak Samuel berkelahi. Terpujilah Tuhan karena ia memilihi Gina, sehingga ia tidak jadi mempermalukan dirinya.

Tiba di airport, Ben langsung bersatu dengan pasaangan Micky dan Jack. Alex dan Max tidak ikut, mereka ada acara keluarga. Ben membawa Gina menuju lounge VIP milik Yunna. Tidak ada pers atau orang lain yang bisa masuk ke tempat itu kecuali orang yang telah disetujui oleh Yunna. Jadi Ben memberitahu pacar temannya itu soal tambahan penumpang mereka.

“Bisa diulang lagi namanya Ben?” tanya Yunna, sambil memegang walkie talkie.

“Ren dan Samuel.”

“Dan mereka itu…?”

“Ren teman Gina dan Samuel itu sepupunya.” ucap Ben malas.

Yunna mengangguk dan melaporkan nama itu pada Big. Pengawalnya menunggu di pintu masuk demi keamanan. Hari ini mereka akan pergi ke Maldives dengan pesawat pribadinya. Melarikan diri ke tempat yang lebih hangat berhubung Fox-T mendapat hari libur. Ia harus mengatur kamar tambahan untuk tamu ekstranya tersebut jadi sedikit menyingkir dari kerumunan orang.

Pacarnya yang tersayang memakai kesempatan tersebut untuk menjelaskan identitas sesungguhnya dari tamu tambahannya itu dan membuat Yunna mengerutkan dahi. Ia bahkan memanggil Keiko dan sahabatnya itu memberi respon serupa.

“Aku bisa meramalkan kalau liburan kita akan jauh dari rasa jenuh, bear darling? Sayang Henry tidak jadi ikut, kalau tidak kita bisa melihat banyak aksi pembunuhan.”

Ledekan Yunna membuatnya menerima kelitikan dari Micky. Ia memang sengaja memancing kecemburuan Micky dengan menyebut nama mantan tunangannya karena Micky sudah lama sekali tidak menunjukan sikap posesifnya itu. Bercandaan mereka segera terhenti begitu melihat pasangan yang terakhir tiba.

Cowok metroseksual dengan tingkat feromon mematikan plus cewek dengan wajah jutek. Yunna sampai menganga melihat kombinasi ajaib itu. Ia tidak perlu bertanya lebih banyak lagi karena wajah kesal Ben sudah menunjukan bahwa cerita Micky benar. Ben terganggu dengan kehadiran pasangan tersebut. Tapi yang mana yang lebih membuat Ben kesal, yang perempuan atau yang laki-laki. Otomatis ia bertanya pada Micky yang masih memeluknya, “Dan kamu bilang mereka berkenalan dimana tadi?”

“Hai, maaf, kami terlambat. Info dari Gina terlalu mendadak. Aku Samuel. Dan itu Ren.” ucap Samuel sambil memamerkan gigi putih cemerlangnya. Menjabat semua cowok yang ada di sana dan melambaikan tangan pada Gina.

Sedangkan Ren masih memantung berdiri di pojokan, menyilangkan dada dan memelototi Samuel. Ia diculik paksa oleh cowok itu. LAGI! Samuel menjebaknya dengan menyuruhnya bertemu di depan kampus, menyuruhnya masuk ke dalam mobil dengan alasan terjadi sesuatu pada Gina.

Ia siap kabur dari tempat itu jika saja tidak bertabrakan dengan cowok tinggi besar seperti beruang.

“Maaf Nona. Kita akan berangkat sekarang. Silahkan naik ke pesawat.” ucap Big dan mengiring Ren ke dalam pesawat bersama teman-temannya Yunna. Mengatur agar para penumpangnya itu duduk dengan manis. Duduk dengan pasangannya masing-masing. Pesawat lepas landas dalam selang waktu beberapa menit menuju pulau Maldives.

Perjalanan yang cukup panjang memberi waktu untuk semua orang saling berkenalan.  Dengan cepat mereka menjadi akrab. Cowok-cowok dengan Samuel, sedangkan Ren dengan para perempuan. Sampai mereka tiba di tempat tujuan, mereka sudah begitu akrab hingga melupakan ketidak nyamanan Ben dengan kehadiran Ren dan Samuel.

Sampai di Maldives, mereka mendapat 2 mobil. pas untuk 4 pasang. Tentu saja, pasangan Ben dan pasangan Ren dipisahkan. Tidak baik membiarkan mereka dalam satu mobil di hari pertama mereka. Terlebih tidak ada Big di sana untuk melerai, pengawal Yunna itu harus kembali ke Korea dan baru akan menjemput 3 hari kemudian.

Angin sejuk dan terik matahari menyambut Ren, ia menghirup dalam-dalam kesejukan itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak pernah menikmati udara sebersih ini. Pemandangnya juga begitu menakjubkan. Pohon kelapa, langit biru nan cerah serta teriknya matahari begitu sempurna baginya. Tapi yang paling menakjubkan adalah resort mereka yang memiliki pantai dengan pasir putih. Ren langsung berlari menuju pantai dan melepas sepatunya. Menjejalkan kakinya diantara pasir yang hangat. Ia menyesal tidak membawa kamera untuk mengabadikan tempat ini. Mungkin ia bisa menemukan buku dan pensil untuk mengambar.

Saking terhanyutnya Ren dengan pemandangan di sekitarnya, ia tidak sadar Samuel sudah berdiri di sampingnya. Ia mendengus ketika Samuel berbasa-basi membicarakan betapa cerahnya cuaca di tempat ini dan ia ingin berbaikan dengan Ren. Ia menyetujui usul tersebut namun langsung menyesalinya karena Samuel langsung memeluk dan mengangkatnya. Membuat Ren terkejut dengan sentuhan fisik yang mendadak.

Ia tidak bisa meronta untuk melepaskan diri karena pelukan Samuel terlalu kencang. Tapi begitu ia mendarat kembali ke tanah, ia menendang tulang kering cowok itu dan membuatnya mengerang kesakitan.

“Aku bukan cewek murahan jadi berhenti memperlakukan aku seperti salah satu dari mereka. SAMUEL!” bentak Ren, ia membalikan badannya siap pergi. Tapi Samuel menariknya dan membuat ia menempel dalam pelukan Samuel.

“Kalau kamu tidak ingin aku bertindak lebih jauh, tolong tahan sedikit emosimu, manis. Kamu sadar kalau semua orang di sini berpasangan dan tidak akan ada yang mempedulikan kamu seandaikan kamu menghilang di tempat ini bersamaku.”

Bulu kuduk Ren meremang, mendengar ancaman Samuel. Cowok itu benar. Tidak akan ada yang peduli bagaimana nasibnya di tempat ini. Mencari gara-gara dengan Samuel hanya akan membawa masalah untuk dirinya sendiri. Jadi ia mengangguk dan pasrah ketika Samuel mengecup tengkuknya dan memutarkan badannya.

“Nah, untuk saat ini kamu adalah pacarku. Jadi bertingkahlah seperti salah satunya. Kita tidur sekamar. Tapi tenang aku tidak akan menyentuhmu asal kamu tidak membuatku kesal.” ucap Samuel sambil mengelus pipi Ren dan menambahkan, “Sekarang tersenyum, kita akan kembali ke dalam ok.”

Ren mengangguk, ia takut setengah mati. Ia telah bertemu dengan cowok yang sangat berbahaya. Ia tidak tahu kalau sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya dari balik jendela dan menjadi geram melihat keakrabannya dengan Samuel.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 11

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s