Into Your Arm – Chapter 8

Gina menghampiri Ben ketika mendapati cowok itu berdiri di luar aula. Agak lebih cepat dari janji mereka, tapi tidak masalah. Ia memang sudah malas lama-lama di kampus. Bagian dia sudah lama selesai. Ia memeluk lengan Ben dan tersenyum pada cowok itu. Rasanya menyenangkan memiliki cowok ganteng dan keren seperti Ben. Ia bisa melihat tatapan iri orang-orang yang melihatnya.

“Kamu sudah datang?” tanya Gina dengan gaya yang manis. Ia tahu cowok menyukai cewek imut dan ia imut.

“Kamu sudah selesai?”

“Iyah, kita mau kemana?” tanya Gina lagi,masih dengan manja.

Tiba-tiba ada suara teriakan yang cukup heboh dari arah panggung yang dipakai oleh anak drama. Drama komedi musikal. Dan yang berteriak tadi adalah Ren. Gina belum buta melihat Ben yang mendadak terpaku ke arah panggung. Mau tidak mau ia ikut menonton adegan konyol di sana. Ren berperan sebagai bibi gila yang suka bernyanyi, tentu menyanyi layaknya orang gila, walau suara Ren sebetulnya lumayan kalau tidak sengaja dibuat serak dan compreng seperti sekarang. Dan Ben, terlihat cukup menikmati adegan Ren dilempari batu – bohongan.

“Kamu mau nonton dulu?” tanya Gina menuntut perhatian Ben kembali, tapi cowok itu tidak menjawab, tetap menatap ke arah panggung dan tergelak ketika melihat rok Ren diangkat-angkat dan cewek itu marah-marah persis seperti orang gila.

Gina tidak suka situasi ini. Kalau kemarin dan tadi Ben terlihat terganggu dengan kehadiran Ren, sekarang sama sekali tidak terlihat begitu. Ben malah menikmati kebodohan dan kehebohan yang dibuat Ren. Ia mendecak, apa sih yang menarik dari cewek kasar seperti itu? Yah, mungkin Ben hanya menganggap Ren lucu. Benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ujar Gina meyakinkan dirinya sendiri.

“Dia memerankan orang gila?” tanya Ben di sela-sela tawanya.

“Benar, ini pementasan untuk akhir tahun. Aku juga ikut tampil sebagai keponakan bibi gila itu. Kamu benar-benar tidak bisa datang hari itu?”

“Aku harus ke Jepang dari tanggal 10 dan baru kembali ke Seoul tanggal 2. Maaf…”

Gina langusng memasang tampang kecewa, hari itu akan ada kontes memperebutkan Queen and King, kalau Ben bisa hadir mendampinginya, tentu gelar itu bisa dengan mudah jatuh ke tangannya. Ditambah lagi ada hadiah ciuman untuk pasangan terbaik malam itu. Ia tidak keberatan jika berciuman dengan Ben.

Tidak tega melihat muka kecewa Gina, Ben mengusulkan agar Gina merekam pementasannya jadi ia bisa menonton nanti. Dalam sekejap Gina sudah memasang kembali senyumannya. Benar, cewek seharusnya seperti ini, manis, manja dan menyejukkan. Bukannya membuat ia marah dan kesal.

Ia memeriksa ponselnya yang bergetar, Jack mengajak makan malam bareng. Ini kesempatan yang baik untuk memperkenalkan Gina ke teman-temannya. Gina tidak menolak, malah terlihat antusias untuk bertemu dengan teman-temannya.

“Kamu yakin aku tidak perlu menganti bajuku?” tanya Gina untuk kesepuluh kalinya dan Ben terus mengangguk. Perempuan dan fashion, erang Ben dalam hati. Tapi masih lebih baik daripada tidak peduli. Perempuan memang harus rapi dan tampil cantik. Ia bersedia kok menunggu mereka bersiap-siap yang penting harus tepat waktu.

Sampai di restorant Nobu, mereka masuk ke ruang VIP. Tempat biasa yang memang selalu mereka booking. Di dalam sudah ada Jack dan Keiko, MIcky dan Yunna dan Alex serta Max. Lengkap. Ben tersenyum melihat wajah mereka yang usil. Pasti tidak ada yang menyangka ia akan membawa cewek secantik Gina.

Ia memperkenalkan mereka lalu menyuruh Gina duduk di sampingnya. Ini pertama kalinya ia membawa pasangan di antara teman-temannya. Sedikit kikuk, tapi Ben tidak membiarkan dirinya dipermalukan. Ia membiarkan Gina memilih sendiri makanannya. Ceweknya tampaknya cukup mengerti masakan Jepang, karena ia mendengar Gina memesan Hiyashi Chuka –  mie denggan banyak topping, pilihan yang cukup unik karena mie itu mengunakan banyak topping sayuran dan seafood. Ben tentu saja memesan Hitsumabushi kesukaannya, belut dengan saus teriyaki dan nasi putih.

“Kalian kenal dimana?” tanya Jack.

“Di gereja.” jawab Gina santai, ia tidak percaya kalau saat ini sedang makan malam dengan seluruh anggota Fox-T dan pacar mereka. Ternyata gosip mengenai Jack berpacaran dengan Keiko itu benar. Cewek itu cantik sekali, dan katanya seorang produser. Mungkin ia bisa meminta bantuan Keiko untuk mendapatkan peran kecil di film atau acara yang dibuatnya.

Lalu Micky dengan Yunna. Ia iri dengan pakaian yang dikenakan cewek itu. Dari atas kepala sampai ke ujung kaki tampak berkilauan. Gina memang belum melihat setengah tubuh Yunna ke bawah karena mereka sedang duduk saat ini. Tapi pasti Yunna mengenakan sepatu yang sama hebatnya dengan kalung berlian yang dikenakannya sekarang. Menjadi anak orang kaya memang enak.

“Dia jago menyanyi lho. Kalian pasti akan terkejut mendengar suara dia.” puji Ben. Yang dijawab dengan koor “oOOO” oleh teman-temannya. Tidak puas dengan jawaban sederhana seperti itu, Ben mengajak mereka untuk pergi karaoke untuk membuktikan ucapannya.

“Kita lomba, nilai siapa yang paling tinggi. Tentu saja berpasangan.” tantang Ben.

Alex mewakili teman-temannya menerima dengan tantangan tersebut, walau saat ini ia hanya berpasangan dengan Max. Tapi setidaknya masih lebih baik daripada Micky atau Jack. Pacar mereka kan tidak bisa bernyanyi. Jadi setidaknya ia tidak akan berada diurutan terbawah.

“Aku ke toilet sebentar yah.” ucap Gina, ia makan terlalu banyak malam ini. Yang tidak diduga, Yunna serta Keiko ikut dengannya ke kamar kecil. Mereka menanyai Gina soal Ben. Bagaimana mereka bisa berkenalan dan sebagia-sebagainya. Dari pembicaraan itu, Gina tahu kalau dua cewek itu bersahabat.

“Tapi kita tidak pernah berpikir akan berpacaran dengan mereka, ya kan Kei. Cukup banyak masalah dulu. So, kamu siap-siap saja, pacaran dengan artis bisa penuh resiko.” cerita Yunna.

“Tapi sebandingkan dengan perasaan kalian? Aku lihat kalian bahagia sekali dengan Jack dan Micky. Aku mau deh seperti itu nanti.”

“Yah, mungkin kalau kamu tidak akan terlalu bermasalah. Pengemar Ben tidak suka heboh seperti pengemar cowok kita. Ngomong-ngomong tas yang kamu pakai lucu sekali. Iti limited edition kan.” seru Yunna. Ia memang sudah ingin bertanya soal tas Gucci yang dikenakan Gina. Harganya lumayan dan sulit untuk mendapatkannya.

“Ben yang membelikan kemarin itu. Aku tidak tahu kalau ini limited.” ujar Gina polos.

“Ben baik yah. Coba kalau Jack, dia pasti akan marah-marah dulu kalau aku membeli sesuatu yang seperti itu.”

“Memangnya Jack pelit?” tanya Yunna, ia tidak pernah ada masalah mengenai membeli barang atau uang. Karena dia sendiri mempunyai lebih dari cukup.

“Bukan pelit sih. Tapi dia lebih suka membelinya sendiri dibanding aku yang memilih. Dan, kamu tahu dong selera Jack. Kadang suka mencolok banget!” keluh Keiko.

Tentu saja Yunna tertawa, ia mengerti apa yang dimaksud Keiko tapi begitu menyadari mereka hanya berbicara berdua sedangkan Gina seperti kambing congge, ia mengajak Gina kembali bicara.

“Tenang saja, nanti kamu juga akan mengerti betapa gilanya cowok-cowok ini. Dan harus diakui, sejak mengenal Fox-T, hidup jadi lebih menyenangkan. Seperti rollercoaster. Heboh.” gelak Yunna lagi diiringi Keiko.

Gina hanya tersenyum penuh arti. Ia tidak sabar menanti perubahan hidupnya. Ia yakin kalau dirinya akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Ia lebih cantik dari dua cewek itu, ia berbakat dan ia tidak akan melakukan tindakan yang membuat ricuh. Ia akan menjadi pacar terbaik untuk Ben.

Di ruangan lain, cowok-cowok itu juga membahas hubungan Ben dan Gina. Yang paling aktif bertanya adalah Jack dan Max. Ben masih tidak tahu kalau dua orang itu mengikutinya saat kencan pertama dengan Gina. Dua orang itu lebih penasarand engan cwek yang ribut dengan Ben, tapi mereka tidak bisa mencari alasan yang tepat untuk bertanya tanpa membuat Ben curiga.

“Tapi waktu itu cewek yang kamu telepon namanya Ren deh.” celetuk Micky tanpa sadar sudah membantu Max dan Jack.

“Oh, cewek itu!” ujar Ben sewot, “Itu urusan lain.” ujar Ben singkat. Benar, Ren itu urusan lain, karena ia tidak bisa bilang mereka tidak punya hubungan apa-apa.

Para perempuan sudah kembali, jadi mereka tidak bisa melanjutkan pembicaraan. Padahal mereka masih ingin bertanya banyak soal Gina dan Ren. Ben terlibat dengan 2 tipe perempuan yang sangat berbeda. Satunya seperti bidadari dan satunya lagi tidak ada kata yang lebih tepat untuk menjabarkan cewek itu selain tipe pekerja keras. Max dan Jack jadi lebih memperhatikan cewek bernama Ren itu karena tidak pernah melihat ada yang berani berkelahi dengan Fox-T di depan umum. Kenyataan bahwa Ren adalah seorang perempuan membuat mereka semakin penasaran.

Sesuai janji, mereka pergi karaoke di RedPub. Ben senang karena Gina bisa diterima oleh teman-temannya dengan baik. Siapa juga yang akan menolak cewek semanis Gina. Yunna dan Keiko juga terlihat bisa berteman dengan Gina, bukti kalau cewek itu memang menyenangkan.

Hari ini, ia akan meminta Gina untuk menjadi pacarnya. Pendekatannya sudah cukup. Dan rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh begitu mendengar persetujuan dari Gina.

“Jadi kita pacaran sekarang?”

Gina mengangguk malu-malu. Terlebih melihat reaksi Ben yang berlebihan. Ia yakin ia sudah menemukan pacar terbaik untuknya. Ben memiliki semua persyaratan yang ia inginkan dari seorang pacar bahkan seorang suami untuknya. Tapi karena ia masih muda, ia akan menjaga hubungan ini perlahan.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 8

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s