Into Your Arm – Chapter 9

Acara akhir tahun Kampus Juliette ditutup dengan sempurna, seperti yang sudah diduga semua orang Gina muncul sebagai Homecoming Queen. Ia memang cewek tercantik di kampus itu dan yang paling diincar semua orang. Namun yang sedikit di luar dugaan, Randy terpilih sebagai Homecoming King.

Sesuai tradisi, King and Queen akan menjalankan kencan kilat dan berdansa sebagai puncak acara. Pasangan tersebut sudah berada di atas panggung untuk menerima penghargaannya.

“Sekarang, seperti yang sudah-sudah, kalian boleh menolak kencan singkat ini, kalau ada yang keberatan.” tanya si MC.

Gina buru-buru mengacungkan tangan, “Maaf, aku harus menolak. Aku tidak mau pacarku salah paham.”

Penonton berteriak kecewa karena sekarang Gina sudah memiliki pacar. Mereka bisa menebak siapa pacar tersebut, menurut gosip yang beredar, ada yang melihat orang mirip dengan Ben dari Fox-T datang ke tempat ini bersama Gina dan Gina pulang bersamanya. Kecewa karena bunga kampus mereka tidak lagi bisa diganggu.

“Baik kalau begitu, King Randy, anda berhak memilih pasangan baru. Bagi yang terpilih tidak boleh menolak.”

Rendy menyebut nama Ren dengan enteng. Ren sahabat perempuan terdekatnya, kencan buta ini bisa berubah menjadi acara pergi yang menyenangkan dengan cewek itu. Lagipula ia sama tidak inginnya kencan dengan Gina. Ia tidak melihat segi menariknya cewek itu selain kecantikannya yang maha.

“Acara kencan kalian akan direkam untuk memastikan kalau kalian keluar dari konsep. Kalau begitu silahkan King and Queen untuk mengambil alih lantai dansa. Music let’s gaga…” seru si MC asal.

Randy mengambil tangan Gina dan mereka berdansa waltz singkat sebagai pembukaan dan sebelum acara dansa itu berubah menjadi acara disko. Randy dan Gina segera undur diri sebelum terlibat dalam kegilaan tersebut.

“Terima kasih karena sudah bersedia mengantikan aku.” ucap Gina ketika ia menemukan Ren yang sedang mengurus mesin DJ. Ia sedikit mengendik melihat pakaian yang dikenakan Ren. Celana army cargo dengan jaket hiphop. Ini betul-betul fashion terrorist.

“Tidak apa. Selamat sudah jadian dengan Ben.”

Gina tidak menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana Ren tahu ia pacaran dengan Ben, apa dua orang ini bertemu tanpa sepengetahuannya.

“Hei, jangan pasang tampang seperti itu. Aku tahu kamu dengan Ben karena, dia cowok yang datang kemarinkan?” ujar Ren buru-buru, ia lupa kalau tidak ada orang yang tahu bahwa ia juga mengenal Ben. Ia tidak berpikir panjang tadi, saat menyelamati Gina.

“Oh, kamu kenal dengan Ben.”

“Tidak, hanya kebetulan beberapa kali terlibat masalah. Kamu tahu yang pas di MusicStore dulu dan kemarin pas di sini.”

“Iyah, aku ingat. Aku pikir kalian kenal.”

Ren tertawa dan mengibar-ngibas tangannya, “Jangan khawatir, walau dunia ini tinggal satu cowok bernama Ben. Aku tetap tidak ingin berkenalan dengannya. Aku tahu dia Ben yah karena dia Ben dari Fox-T. Jadi tidak lebih dari itu.”

“Benar, Ren kan denganku….” sahut Randy sambil merangkul Ren. Ia tidak tahu kenapa mendadak menjadi protektif terhadap Ren. Tidak suka saja melihat sahabatnya ini dikait-kaitkan dengan cowok lain.

“Kalian bersama?” gantian Gina yang terkejut.

Ren buru-buru menyikut perut Randy, memaksa cowok itu melepaskan rangkulannya. Kalau dia mengerti candaan Randy belum tentu dengan Gina.

“Enggak, jangan dengarkan orang gila ini. Aku tidak kenal dengan Ben dan aku tidak berpacaran dengan Randy.” ujar Ren tegas. Ia tidak tahu mengapa perlu bicara seperti itu kepada Gina.

“Hey, boleh dong aku berusaha? Sudah terlalu lama jomblo neh.” ujar Randy dengan tampang memelas dan berusaha merangkul Ren lagi. Tapi dengan tangkas Ren mendorong kepala Randy hingga cowok itu terhuyung ke belakang.

Gina tertawa melihat kekonyolan dua orang ini. Mungkin ia bisa berteman dengan Ren jika mengenyampingkan cara berpakaian Ren yang kacau. Atau malah ia bisa membantu Ren untuk memilihkan baju.

“Ngomong-ngomong, kamu ambil kelas apa?’ tanya Gina mulai membuka diri.

“Art. Mungkin kamu lupa, tapi kita pernah satu kelas dulu.”

Gina berpikir keras, ia tidak ingat soal yang ini, tapi tidak penting karena ia mengingat hal lain. Mereka satu gereja dan ia melihat Ren naik mobil Ben. Seketika itu juga ia merasa waspada. Kalau tadi ia merasa bisa berteman, sekarang ia harus berteman dengan Ren. Letakan musuh sedekat sahabatmu, entah orang pintar mana yang pernah mengatakan hal itu tapi ia merasa itu yang paling tepat untuk dilakukan.

Gina menempel lengket dengan Ren malam itu dan hari-hari berikutnya. Ben belum pulang dari Jepang jadi ia bisa memakai waktu senggangnya untuk mengenal Ren lebih baik. Selama beberapa hari itu, ia tahu kalau Ren adalah pelukis berbakat, tinggal dengan ayah dan ibu tiri. Kerja di MusicStore dan ingin sekali pergi ke Venice. Punya banyak teman cowok dan nihil teman cewek. Hanya dia satu-satunya sahabat perempuan Ren.

Harus diakui, Gina senang berteman dengan Ren. Ren baik dan amat tenggang rasa. Tidak pernah marah walau ia sering telat datang ketika berjanji bertemu. Walau ia sering memprotes cara berpakaian Ren, cewek itu tidak pernah membalasnya. Mungkin kalau ia menghapus masalah Ben diantara Ren dan dirinya, maka ia bisa lebih tulus berteman dengan Ren.

Berbulan-bulan menjadi teman Ren, membuat Gina lupa kalau sebetulnya ia hanya pura-pura berteman. Ia jadi peduli dan menganggap Ren teman yang berarti. Dengan Ren, ia merasa seperti memiliki orang yang melindunginya. Bahkan Ren lebih protektif dibanding Ben yang pacarnya sendiri.

Ren menemaninya pergi kursus, membantunya mencari kerja sambilan. Ia menjadi guru les piano untuk sepupu Ren yang baru berusia 10 tahun. Anak perempuan yang berbakat sekali.

Ia yakin Ren juga menganggapnya sebagai teman baik, karena tidak sekali Ren membatalkan pergi dengan Randy, karena ia meminta ditemani pergi. Randy kan sahabat baik Ren, kalau Ren sampai membatalkan janji dengannya otomatis kedudukan Gina setara dengan cowok itu.

Teman-temannya sempat bingung melihat ia berteman dengan Ren, tapi ia tidak peduli. Ia menikmati setiap menit yang ia habiskan dengan sahabat barunya ini, bahkan bersedia menjadi model untuk membantu Ren menyelesaikan tugas akhirnya.

“Benar kamu mau menjadi modelku? Ini patung telanjang lho, walau cuma setengah badan. Tadinya aku mau pakai model cowok, karena lebih mudah.” tanya Ren sekali lagi, memastikan keputusan Gina.

“Telanjang??” tanya Gina gugup, ia tidak masalah untuk membuka bajunya dihadapan Ren. Yang jadi masalah adalah, apa yang akan dikatakan orang setelah melihat patungnya. Tapi ia ingin membantu Ren.

Ren tersenyum melihat Gina. Ia tidak pernah berpikir kalau bersahabat dengan cewek seperti Gina bisa menyenangkan. Sahabat perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Sekarang ia punya teman ke kamar kecil, menceritakan mengenai PMS nya yang menyebalkan atau sekedar tertawa cekikikan membicarakan cowok-cowok. Seperti waktu mereka mentertawakan foto Randy yang diambil dari sudut mematikan saat berkencan dengan Ren. Adegan Ren menyelamatkan Randy saat cowok itu nyaris terjatuh di arena ice-skating.

“Begini deh, aku untuk minta tolong pada Samuel, abangku itu punya otot-otot yang bagus untuk dijadikan model.” saran Gina senang dengan ide cemerlangnya.

Senyuman Gina makin melebar ketika Ren menyetujui idenya tersebut. Jadi mereka berjanji untuk bertemu dengan Sam sore ini.


Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 9

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s