Into Your Arm – Chapter 12

Ren seharusnya menarik diri di saat dia bisa, seperti mengatakan kalau dia sakit, tidak enak badan atau mengantuk, dengan demikian dia tidak perlu benar-benar berperan sebagai pasangan Samuel. Ia seharusnya meringkuk di kamar mandi seharian jadi Samuel tidak menemukan dia. Ia bisa melanjutkan permainan ‘seharusnya’ ini seumur hidupnya tapi tetap saja tidak akan merubah keadaannya kalau sekarang ia harus digendong oleh Samuel dan bertanding dengan pasangan lainnya dalam adu lari ini.

Kalau semua pasangan tampak bahagia dan menikmati gendongan pacarnya, tidak begitu ceritanya dengan Ren. Samuel dengan sengaja berlari dengan cepat tanpa sungguh-sungguh memegangnya hingga ia merasa tubuhnya bisa setiap saat mengelincir jatuh kalau ia tidak berpegang erat pada tunggangannya itu.

Hasil pertandingan ini sudah jelas, Ben dengan Gina yang tubuhnya paling kecil pasti keluar sebagai pemenang. Tapi kenyataan itu tidak membuat Samuel patah semangat, cowok itu malah tetap berlari secepat kilat. Walau akhirnya tetap mendapat juara kedua. Yang membuat Ren sebal, cowok itu langsung melemparnya ke pantai begitu mencapai garis finish. Memperlakukannya seperti barang bukannya orang.

Ren menepuk celananya yang penuh pasir dan mendengus kesal. Jika yang diinginkan Samuel adalah adu ketahanan fisik, ia akan menganggapi dengan senang hati. Kebetulan di pertandingan kedua, cewek yang lebih banyak berperan. Jadi ketika mendengar ancaman Samuel, Ren makin semangat untuk membalas dendam.

Para cewek harus berlari untuk mengambil tali dan mengikat tangan pasangannya lalu berlari lagi berlari lagi dan mengambil makanan dan menyuapi pasangan mereka. Siapa yang habis duluan dia yang menang.

Ren menyerigai selebar wajahnya, mendengar tugas tersebut. Mengikat dan menjejalkan mulut Samuel rasanya akan sangat menyenangkan. Apalagi kalau bakpau itu diberi sentuhan tambahan seperti rasa asin dan pasir. Pikiran liciknya itu membuat Ren terkikik geli dan dipelototi oleh Samuel.

“Sebaiknya kamu serius, kalau kita sampai kalah, aku akan memastikan malam ini akan jadi malam yang tidak akan dilupakan olehmu.”

Ren tidak mempedulikan ucapan Samuel. Kemenangannya bergantung pada kerelaan cowok itu memakan bakpau darinya. Ia berlari sekuat tenaga, mengambil tali dan mengikat Samuel. Cowok itu malah membantunya melilitkan tali, jadi mereka cukup unggul. Ren berlari kembali mengambil bakpau dan berlari kembali.

Kemudian ia terjatuh, membuat bakpau tersebut bergulir dengan indahnya di antara pasir. Ia buru-buru memungut bakpau itu dan berlari menuju Samuel.

“Bagaimana, kamu masih akan memakannya?” tanya Ren dengan sengaja. Ia tersenyum puas ketika Samuel tetap menelan setiap gumpalan bakpau berikut dengan pasir-pasirnya. Terlebih lagi ketika mereka juga memenangkan lomba tersebut.

Ia melompat-lompat saking senangnya. Ia bebas dari ancaman Samuel sekaligus membalaskan dendamnya. Samuel masih memasang tampang galak ketika Ren membantunya membukakan ikatan.

Cewek-cewek langsung kecapaian sehabis berlari tadi. Terutama Gina, ia memang tidak kuat berlari dan tadi ia sudah melakukan yang terbaik. Sekarang ini ia merasa jantungnya bisa meloncat keluar. Ia tidak enak dengan Ben karena tidak berhasil mencetak kemenangan untuk kelompok mereka. Ben malah dengan perhatian membantu mengipasi dirinya dan memberikannya minuman. Membuat ia semakin tidak enak hati karena ia tahu Ben ingin sekali menang.

Ia terkejut melihat kekompakan Ren dan Samuel. Sepertinya sepupunya itu serius dengan ucapannya untuk mendekati Ren, karena ia bisa melihat bagaimana dua orang itu terus berbicara berdua saja. Bahkan ketika mereka sudah kembali ke cottage milik Yunna sekarang.

Yunna memberikan kunci kamar untuk masing-masing pasangan. Gina menduga, kalau Yunna dan Keiko tidak tidur bersama, karena dua pasangan itu berjalan ke arah yang berbeda. Mukanya bersemu merah memikirkan apa yang akan dilakukan pasangan itu. Tapi ia tidak bisa berbuat hal yang sama. Maka dengan sopan ia meminta satu kamar dengan Ren sedangkan Ben terpaksa tidur dengan Samuel.

“Maaf, tapi aku harap kamu mengerti.” ucap Gina ketika melihat muka Ben yang berubah masam setelah mendengar ia mau tidur satu kamar.

“Bukan itu, Gina. Aku tidak marah karena kamu menolak satu kamar denganku. Tapi membayangkan harus tidur dengan cowok itu….” Ben menunjukan mimik jijik tapi buru-buru tersenyum untuk menenangkan Gina, “Tapi tidak apa, mungkin aku bisa meminta kamar satu lagi.”

Ben bersungguh-sungguh ketika mengatakan ia tidak marah dengan keputusan Gina. Ia malahlebih menghargai cewek itu karena masih mempertahankan prinsip kuno tersebut. Tapi ia mulai menyesali keputusannya dengan tidak memaksa agar mereka tetap satu kamar karena ternyata di cottage ini hanya ada 4 kamar.

Sudah terlambat untuk menarik keputusannya tadi. Ren dan Gina sudah membongkar tas mereka di dalam kamar mereka, sedangkan Samuel. Ben mendengus ketika mengingat cowok itu sudah tertidur di kasur dengan tanpa berganti pakaian. Ia berani bertaruh, kasur itu sudah dipenuhi pasir dan bau keringat.

Mungkin ia terpaksa tidur di sofa malam ini, erang Ben dalam hati. Ia berhasil menyembunyikan masalah tersebut dari Gina. Ia tidak ingin cewek itu pusing memikirkan dirinya. Karena hari ini mereka seharusnya bersenang-senang.

Ia cukup mengenal teman-temannya dan tahu kalau Micky dan Jack tidak akan keluar kamar sampai besok pagi. Tadinya ia juga akan melakukan hal yang sama dengan Gina. Menghabiskan malam dengan berduaan dan bermesraan. Sejauh ini, ia bahkan belum perna mencium Gina. Kedekatan fisik mereka hanya sebatas kecupan ringan di pipi dan pelukan biasa.

Jadi ia harus menjadi kreatif jika tidak ingin menghabiskan malam hanya dengan menonton TV. Ia menghamipir kamar Gina untuk mengajak pacarnya pergi jalan-jalan. Tolong dicatat hanya dengan Gina. Bukan dengan tambahan orang bernama Ren dan Samuel.

Walau Gina yang bersikeras untuk mengajak teman-temannya itu, dan dia sendiri tidak memiliki alasan cukup kuat untuk membatalkan niat Gina. Ia sedikit berharap Ren mengerti pelototan darinya untuk menolak ikut serta. Tapi bukannya ia sangat mengenal cewek yang bernama Ren ini. Cewek yang selalu saja membuat ia susah dan tertimpa kesialan. Bagaimana tidak, kehadiran Ren saja cukup menganggu apalagi kalau ditambah dengan Samuel!

Mereka bertemu di ruang tamu, Samuel baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Masih mengunakan pakaian yang sama, dan tampangnya semakin amburadul karena rambutnya kini acak-acakan. Cowok dengan senang hati bergabung dengan mereka ketika Gina mengajaknya.

Berempat mereka jalan-jalan ke cafe terdekat untuk makan malam. Ben menemukan satu restaurant dekat pantai yang menyediakan hidangan laut. Tempat itu terdiri dari pondokan-pondokan yang letaknya cukup berjauhan. Pas sekali untuk orang berpacaran. Memadu cinta sambil menikmati matahari terbenam.

Ia merasa kesulitan bernafas ketika berada bersama Ren dan Samuel. Dua orang itu terus menerus bertengkar dan saling menghina. Tidak jarang mereka juga saling menyikut atau menendang. Setiap kali Samuel berhasil menangkap tinju yang Ren layangkan, setiap kali itu juga Ben merasa perutnya diremas-remas. Rasanya sangat tidak nyaman dan membuatnya pusing.

Tapi begitu mendengar Gina memuji tempat pilihannya ini, ia merasa sedikit membaik, karena kupingnya tidak perlu mendengar lagi sumpah serapah Ren. Ben merapatkan tubuhnya pada Gina, merangkulnya dari belakang dan berbicara sambil berbisik berduan. Ia perlu kedekatannya dengan Gina sekarang supaya ia bisa mengalihkan pikirannya dari Ren untuk senjenak.

Dua orang itu baru berhenti ketika pramusaji menawari mereka makanan. Ren tidak ikut makan, katanya dia masih kenyang sedangkan Samuel memesan lobster, smoked salmon dan sup udang. Semua untuk dimakan Samuel sendiri. Ben sempat tercengang melihat makanan yang bertebaran di depan cowok itu ketika semua pesanan mereka keluar. Porsi makan Samuel cukup untuk dimakan oleh Fox-T berlima, itu pun sudah menghitung Max yang sedang kelaparan dan Alex tidak sedang berdiet.

Ben menunduk dan menyelesaikan makanannya tanpa banyak bicara. Ia juga tidak mengomentari ucapan Samuel yang meledeknya dan mengatai bahwa porsi makannya seperti perempuan. Ia tidak perlu berubah menjadi orang tidak bersekolah dan menghantap muka Samuel dengan piringnya. Walau hal itu sudah pasti terjadi jika saja tidak ada Gina di sisinya. Ia membiarkan Gina mengambil alih dan memarahi Samuel.

Sedangkan Ren, cewek itu mendadak diam, hanya terus-terusan memandang ke arah pantai dan langit. Ia jadi ikut memandangi pantai tersebut dan cukup setuju dengan ucapan Gina tadi. Tempat ini memang indah. Ben semakin ingin berduaan dengan Gina di tempat ini. Otaknya mulai berpikir, mencari cara agar ia bisa memisahkan diri dari Samuel dan Ren.

“Aku balik duluan yah.” ucap Ren tiba-tiba memecahkan keheningan.

Ben menatap punggung Ren yang sudah keluar dari pondokan. Lalu menatap Samuel yang masih asyik makan. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ia ingin mengejar Ren dan meminta cewek itu kembali. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya ia ingin Ren kembali agar cewek itu bisa mengajak Samuel juga. Sebab dengan adanya cowok di depannya ini, ia tetap tidak bisa berduaan dengan Gina.

“Dia marah tuh Sam. Kamu kok tidak mengejar dia sih?” ucap Gina mewakili suara hati Ben. Walau ia tidak yakin Ren pergi bukan karena marah. Menurutnya, Ren pergi karena cewek itu memang ingin pergi.

“Aku akan menyusulnya setelah menghabiskan sup ini. Dia tidak akan kemana-mana. Dan kamu tidak perlu menunggunya kembali nanti malam. Ren ada urusan yang belum selesai denganku.”

Ben mendapat kesan kalau urusan diantara Ren dan Samuel bukan urusan sederhana dan biasa-biasa. Dari nada Samuel tadi, seperti cowok itu menyiapkan rencana buruk untuk Ren. Ia merasa khawatir tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak selama ia masih bersama Gina. Apa yang akan dipikirkan oleh Gina jika ia mendadak peduli pada Ren. Bisa-bisa ia malah bertengkar dengan Gina.

“Kamu tidak akan memcelakakan dia kan, Sam?” tanya Gina tajam. Ia sudah menahan diri cukup lama untuk tidak menegur sikap sembrono Samuel. Sepupunya ini sudah membuatnya malu dengan bertingkah kekanak-kanakan. Kalau nanti ia harus mendengar bahwa Ren dilecehkan oleh Samuel, ia meremas garpu yang digengamnya, ia akan menusuk Samuel dengan garpu ini karena sudah mencoreng namanya.

Samuel tersenyum, “Tentu saja. Ren sahabatmu kan. Aku tidak mungkin macam-macam. Nah, teman-teman selamat malam.”

Setelah Samuel meninggalkan meja makan, Ben baru berani bertanya pada Gina, “Kamu yakin dia tidak akan macam-macam?” Pertanyaan itu bukan karena Ben peduli, ia yakin ia hanya tidak ingin mendengar ada kejadian buruk apapun terjadi di tempat ini yang bisa menyangkutkan nama Fox-T di dalamnya.

“Seharusnya. Samuel bisa sangat menyebalkan tapi dia tidak terlalu berani mengambil resiko. Mudah-mudahan Ren tidak memancing emosi Samuel terlalu jauh.” ucap Gina menenangkan Ben. Ia tersenyum pada cowok di sampingnya. Akhirnya mereka bisa berduan saja.

Mendengar ucapan Gina, Ben malah semakin tidak tenang. Ren tidak mungkin mengubah sikapnya menjadi lebih lunak. Malah mungkin Ren akan terus mendorong Samuel sampai ke batas kesabarannya. Pikiran untuk bermesraan dengan Gina sudah menguap, berganti dengan kegelisahan. Sial, Ren memang cewek sial. Ada atau tidaknya cewek itu di sekitarnya tetap saja membuat ia terlibat masalah.

“Apa menurut kamu, kita harus menyusul mereka?” tanya Gina masih khawatir.

“Tidak perlu, Ren sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri.” ucap Ben tanpa menunjukan perasaan khawatir yang sudah mengerogotinya.

“Ben, please… Aku tahu kamu tidak peduli dengan Ren, tapi Samuel bukan orang yang bisa kita percaya kewarasannya jika sudah menyangkut wanita.” ucap Gina sekali lagi. Ia menyesal sekarang sudah melibatkan Samuel. Ben terbukti tidak peduli dengan Ren sepanjang harian ini. Bahkan Ben tidak peduli dengan nasib Ren.

Ben bersyukur karena Gina memaksanya untuk mencari Ren. Bersama-sama dengan Gina, mereka mengelilingi daerah sekitar pantai

Namun sia-sia, kemana pun mereka pergi tidak ada tanda-tanda kehadiran Ren ataupun Samuel di sana. Setelah berputar-putar 1 jam-an, mereka memutuskan untuk pulang. Barangkali mereka lebih mujur.

Advertisements

2 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 12

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s