Into Your Arm – Chapter 13

Setelah berpisah dengan teman-temannya, Ren berputar-putar ke daerah pertokoan yang letaknya tidak jauh dari restoran. Ia mencari kamera instan atau sekedar buku sketsa. Pemandangan di tempat ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan.

Ia merasa beruntung karena menemukan satu kamera terakhir di tempat itu dan segera membayarnya. Ia keluar dengan wajah puas dan mulai berkeliling untuk memotret. Nantinya foto itu akan menjadi refrensi warna untuk lukisannya.

Ia berhenti di depan pantai yang tidak jauh dari cottage Yunna karena ia memang memilih arah balik agar tidak tersesat. Tapi karena ia terlalu asyik dengan kegiatannya. Ia tidak sadar jika sedang diikuti.

“Kamu sendirian manis?” tanya cowok sambil cekikikan mesum.

Ren membalikan badan terkejut. Ada 3 orang cowok dengan tubuh besar, semua memegang botol minuman keras di tangannya. Ren merasa takut melihat ketiga cowok itu berjalan mendekatinya. Ia mundur semakin ke arah pantai. Kamera yang tadi terlepas dari tangannya sudah terongkok ke dalam pasir.

Ren mengerahkan seluruh tenaganya untuk berteriak minta tolong. Tapi suaranya hanya kembali kepadanya sia-sia. Mengema kembali karena tempat itu terlalu sunyi. Bahkan suara tawa ketiga cowok itu mulai menenggelamkan teriakan Ren.

Ia semakin panik ketika ketiga cowok itu mengeruminya dan mulai berdoa dalam hati. Berharap akan ada orang lewat dan melihatnya. Ren memejampak matanya ketika salah satu cowok itu menyentuh dagunya dan menariknya hingga badannya menempel ke cowok tersebut.

Bau alkohol langsung tercium di hidung Ren. Ia berusaha mendorong, namun tenaganya terbuang percuma. Cowok itu terlalu besar dan kuat. Tapi ia belum menyerah, dalam satu ayunan, kakinya menghantam selangkangan cowok itu persis di tempat yang paling menyakitkan.

Ketiga cowok itu terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Ren dan sempat terbengong sesaat. Namun tidak cukup memberi waktu untuknya melarikan diri. Salah satu cowok itu menarik jaket Ren, membuat ia terjungkal ke pasir. Ia melepaskan jaket tersebut dan kembali berlari.

Namun, dalam sekejap ia kembali tertangkap dan ditahan di atas pasir. Salah satu cowok itu menciumnya dengan paksa. Rasanya air mata sudah merambat di matanya, membuat pandangannya semakin rabun. Ia masih berusaha untuk menendang cowok di atasnya, tapi pahanya terjepit dan ia tidak mampu melepaskan diri.

Sesaat ia mendengar bunyi pukulan dan suara benda berat menghantam tanah. Ia dan cowok di atasnya sama-sama menengok ke arah suara.

Samuel menghampiri cowok yang ada di atas Ren menyingkirkannya dari cewek itu dan menghantam perut cowok tersebut hingga pingsan.

“CEWEK INI MILIKKU!!! BRENGSEK!!” maki Samuel dan meludahi cowok tadi.

Cowok yang tadi ditendang oleh Ren mengambil inisiatif untuk menarik dua temannya pergi. Tidak ada gunanya membuat mereka semakin babak belur lagi. Terleih jika mereka tidak ada kemungkinan menang dan juga tidak bisa mendapatkan cewek itu.

Melihat musuhnya kabur, Samuel melirik pada Ren. Mengambil jaket cewek itu yang berada di dekatnya dan menyuruh Ren menutupi tubuhnya. Kemudian ia membantunya duduk.

Ia tidak menyangka akan benar-benar bertemu dengan Ren. Terlebih dalam keadaan seperti ini. Ucapannya di restaurant tadi hanya bualan semata. Ia terlalu lelah setelah perlombaan bodoh tadi siang dan hanya ingin pulang tidur. Ia menghampiri pantai karena mendengar teriakan dan amat tidak menyangka kalau yang berteriak itu adalah REN.

Samuel mengusap-usap punggung cewek itu dan menunggunya selesai mengangis. Ia memeluk Ren dengan enggan. Membayangkan air mata dan ingus Ren akan menempel di kaos Fred Perry nya membuat Samuel mengendik.

Karena gerakan tiba-tiba tadi, Ren mendongkak dan melepaskan diri dari pelukannya. Ia buru-buru mencopot pakaiannya dan melemparnya ke samping Ren.

“Pakai itu untuk mengelap hidung kamu, terus buang itu baju ke tong sampah. Aku tidak tahan melihat muka kamu yang jorok.” erang Samuel.

Ren berkedip beberapa kali, tidak percaya ada orang yang membuat pakaian hanya karena terkena ingus dan air mata.

“Yah, terima kasih untuk lapnya.” sindir Ren, ia tidak menyia-nyiakan baju Samuel, bahkan dengan sengaja menyemprot ingus dari hidungnya kiri dan kanan hingga bersih. Kemudian melempar baju itu kembali Samuel dan langsung ditapik, terbang kembali ke pasir.

Sikap belagu Samuel, membuat Ren mendengus. Ia melirik kembali ke arah pantai, angit sudah terlalu gelap sekarang untuknya mengambil gambar. Teringat dengan kameranya yang terjatuh tadi, ia mulai mencari. Merangkak sambil meraba-raba di tempat ia jatuh tadi. Dan berteriak kesal karena tidak bisa menemukannya.

“Cari ini?” tanya Samuel yang sudah memegang kamera instannya. Ren menghampiri Samuel dan memeriksa kameranya. Untunglah, tidak ada yang rusak.

“Kamu di sini untuk ambil foto dengan kamera jelek itu? Pantas saja cowok-cowok itu mengikuti kamu. Terlihat sekali kalau kamu itu turis. Kalau aku tidak datang membantu kamu, kamu pasti sudah jadi sampah di sini.”

Ren membalas ucapan Samuel dengan menendang betis Samuel sekuat tenaga, sampai cowok itu mengerang kesakitan. Tapi bukannya pergi meninggalkan Ren, Samuel malah meringkus Ren. Tentu saja Ren memberontak, tapi Samuel sudah mengunci dirinya, membuatnya tidak berdaya dalam bekapan cowok itu.

“BRENGSEK!!!”

Teriakan Ben datang di sertai tonjokan ke pinggang Samuel, melepaskan ringkusannya dan membuat cowok itu mengerang lagi. Ben masih belum puas dan mulai meninju ulu hati Samuel.

“STOPPP, STOOOP BEN, ini cuma salah paham!!!” teriak Ren sambil memeluk Ben dari belakang berharap ia bisa menahan cowok itu dan bukannya ikut terseret.

“BRENGSEK!!! Kenapa aku ditinju?! Sialan!” erang Samuel.

“Kamu masih TANYA KENAPA?!”

“AKU yang menolong dia, sialan!”

Satu kalimat itu cukup untuk menghentikan tinju Ben dan membuat cowok itu menatap Ren yang sedang memeluknya, mencari pembetulan dari cewek itu. Melihat Ren mengangguk, ia menjauh dari Samuel.

Mungkin tadi ia sudah gelap mata begitu melihat Ren yang pakaiannya robek dalam bekapan Samuel yang bertelanjang dada.

“Dia benar Ben, Samuel yang menolong aku. Itu tadi hanya salah paham. Aku membuatnya marah. Jadi tadi…”

Ben merasa dadanya sakit mendengar Ren membela Samuel. Walau mungkin benar ucapan Ren bahwa Samuel sudah menolong cewek itu tapi tetap saja itu tidak membenarkan tingkah Samuel yang seenaknya memeluk Ren.

Melihat kaos Ren yang robek di sana sini, Ben membuka kemeja dan memberikannya pada Ren. Penampilan cewek itu semakin awut-awutan. Ia berjalan ke arah Samuel, membantu cowok itu berdiri. Meminta maaf karena sudah menonjoknya.

Gina menghampiri Ren dan membantunya mengancingi kemeja Ben. Ia terlalu terkejut untuk berbicara. Satu karena keadaan Ren, dua karena Samuel menolong Ren dan tiga karena Ben meninju Samuel. Ini semua terlalu memusingkan. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Jadi dalam kebisuan berjalan kembali bersama Ben ke cottage.

Mengucapkan selamat malam dan masuk ke kamar dengan Ren. Sekali lagi membantu temannya mencopot pakaian. Ada beberapa memar di tubuh Ren, sepertinya dia cukup memberi perlawanan. Ia mengendik melihat luka tersebut. Membayangkan kalau dia yang ada di ada di posisi Ren.

Ren juga larut dalam kebisuan, ia merasa tidak enak pada Gina. Cewek itu tidak berkomentar atau bertanya apa-apa padanya. Ia merasa kalau Gina juga mempertanyakan sikap Samuel dan Ben tadi. Ia tidak mengerti kenapa dua cowok yang selalu bertengkarnya mendadak begitu peduli dan menacungkan tinju untuk alasan yang sama. Melindunginya…

Walau mereka sudah naik ke atas ranjang, dan ia yakin Gina sudah tertidur pulas. Ren tidak bisa terlelap. Pikirannya begitu kacau, menyusun ulang semua kejadian hari ini dan menilai kembali hubungannya dengan Gina, Ben dan Samuel.

Menyerah pada pikirannya, Ren keluar kamar. Mungki segelas susu hangat bisa membuatnya mengantuk. Dibukanya kulkas dan menuang susu ke dalam panci, mengodoknya hingga cukup panas. Dalam keadaan bengong, ia merasa ada orang yang menepuk pundaknya, membuat ia menengok dan nyaris berteriak. Untung Ben dengan cepat membungkam mulutnya.

“Sssttt…. Jangan berteriak, nanti pada bangun…” bisik Ben. Ia penasaran dengan Ren yang tiba-tiba keluar kamar sambil celingukan dan menuju dapur. Jadi mengikutinya dan malah ikut bengong. Ia tidak mengerti mengapa Ren jadi terlihat seksi dalam kaos gombrong ukuran cowok yang mencapai setengah pahanya, membuatnya bertanya-tanya apa cewek itu mengenakan celana dibaliknya.

Jari Ben mulai terangkat dari mulut Ren tapi tidak sepenuhnya pergi, malah jemari itu memulas bibirnya dan pindah ke pipinya. Menyelip di balik rambutnya yang setengah basah. Satu tangan Ben yang lain mendarat di pinggang Ren, menariknya lebih dekat. Mengalirkan rasa hangat yang menjalar dengan cepat. Mata Ben terus menatap matanya tanpa berkedip. Membuat Ren merasa malu dan mengalihkan pandangannya lebih ke bawah. Tapi ia menyesal, karena sekarang ia menatap bibir Ben dan merasa desakan untuk mencium cowok itu.

Kalau dulu dia bisa menahan diri saat mengambar cowok itu, sekarang ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Tangannya merasa gatal ingin merangkul Ben dan menariknya mendekat. Membuat bibir mereka saling bersentuhan.

“Kamu tidak sedang merayuku kan Ren?” tanya Ben dengan suara dalam dan serak, Ia berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Cewek itu menepis tangannya dan kembali memusatkan pikiran ke isi pancinya. Ben tersenyum melihat Ren yang tidak membantah tuduhannya. Setidaknya bukan hanya dia yang menginginkan sesuatu terjadi tadi.

Ren menawarinya susu juga dan ia menerimanya. Satu gelas susu tidak akan membuatnya gemuk. Mereka keluar dari dapur, menuju teras di luar cottage. Duduk di papan kayu dan menikmati hembusan angin pantai. Tidak saling berbicara. Hanya menikmati kebersamaan mereka. Rasanya ini pertama kalinya mereka berdua hanya diam saja. Tidak ada makian atau kata-kata kasar yang keluar.

Ben memundurkan badannya dan mendongkak ke langit, bintang cukup banyak bersinar di atas sana. Membuat Ben mulai bersenandung. Lagu Stary Stary Night yang dinyanyikan oleh Don Mclain. Ia berhenti bersenandung ketika Ren ikut bernyanyi dengannya. Ia tidak tahu cewek itu bisa bernyanyi. Suara Ren berubah menjadi lebih bening dan tinggi. Ia mengikuti Ren bernyanyi dan mendadak tersedak. Membuat Ren ikut terdiam kemudian tertawa bersama.

“Penyanyi bisa fals juga?” ledek Ren.

“Tentu saja, apalagi ini sudah pagi, apa kamu pikir pita suaraku tidak perlu istirahat?”

“Yah, aku pikir kamu manusia super.”

Mulailah mereka kembali berdebat dan saling mencela. Sampai akhirnya Ren benar-benar marah dan meninggalkannya di depan. Ia memang sengaja mengusir cewek itu karena sekarang ia mulai menginginkan hal-hal yang tidak seharusnya dengan Ren. Hal-hal yang hanya boleh ia lakukan dan tunjukan pada pacarnya.


Advertisements

3 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 13

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s