Into Your Arm – Chapter 14

Ren bangun dengan tampang kusut sambil mengaruk-garuk kepala, ia sudah mandi tapi tidak menganti pakaiannya. Tidak berpikir kalau teman-temannya akan berkumpul di sana. Sudah berpakaian rapi dan menikmati sarapan mereka.

Karena sudah terlanjur, ia tetap menuju meja makan, menyapa mereka dan duduk di meja makan.

“Morning, Ren. Mau makan?” sapa Yunna dan mengoper piring untuk Ren. Ia sudah mendengar insiden Ren semalam dan ingin bertanya lebih banyak mengenai para penganggu tersebut. Ia tidak bisa membiarkan penjahat kelas teri seperti mereka berkeliaran di dekat cottagenya.

Ren menerima piring tersebut, mengisinya dan melahapnya pelan-pelan. Bukan karena ia tidak lapar, tapi ia tidak terlalu berminat untuk makan setelah melihat para pasangan itu saling memperhatikan. Termasuk pasangan Gina dan Ben. Dua orang itu berbagi piring dan Gina dengan santainya menyuapi Ben karena cowok itu seru dengan ipod di tangannya.

Ketika Yunna dan Keiko menanyainya soal kejadian semalam, Ren menjawab dengan penjelasan yang mendetail. Dengan senang hati juga mengambar wajah ketiga cowok kurang ajar itu untuk Yunna. Samuel muncul dan ikut menambahkan cerita tersebut dan mengoreksi gambar Ren. Membuat mereka kembali bertengkar akan siapa yang lebih benar mengingat wajah dan pakaian si penjahat.

Tapi ketika Keiko berceletuk bahwa mereka menjadi akrab, Ren dan Samuel sama-sama membantah.

“Siapa yang akrab dengan dia!!!!” bantah mereka bersamaan. Membuat mereka makin terlihat akrab.

Ren mendengus pada Samuel dan berkata pada Keiko sekali lagi, “Dia dan aku tidak ada hubungannya.” lalu pergi dari tempat itu, menuju pantai.

Angin pantai yang asin menyambutnya, membuat rambut Ren yang tidak dikuncir, berterbangan semaunya. Bukan seperti iklan-iklan shampoo, ramutnya tidak menari-nari. Ren menarik karet rambut yang kadang beralh fungsi menjadi gelang, mengikat rambutnya. Ia sempat membawa buku sketsanya dan pensil, dan memang hanya itu yang ia perlukan.

Duduk di atas pasir dan cukup dekat dengan hempasan ombak. Ia tidak peduli kalau terkadang, ombak tersebut mencapai tempatnya, membuat celana atau kakinya basah. Mata dan tangannya terus mengores lembaran putih di hadapannya, mewarnainya dengan pastel dan memindahkan laut, ombak dan mercusuar yang terlihat di ujung sebelah barat dari tempatnya duduk.

“Kalau aku tahu kamu jago mengambar, aku akan memaksa lebih keras untuk menjadi modelmu.”

Ren menoleh pada Samuel yang menunduk di sebelahnya, ekor rambutnya menyabet pipi cowok itu, dan membuatnya memaki nyaring. Ren tersenyum senang karena sudah membuat cowok itu terluka.

“Aku serius, gambar kamu sangat kompleks. Kamu tidak hanya mengambar pantai, tapi juga menyerap ketenangan yang disuguhkan oleh suasana tempat ini. Aku suka dengan warna yang kamu pilih, walau atu tidak bisa melihat ada warna hijau di tempat ini. Tapi aku yakin, warna hijau selalu menjadi bagian dari laut.”

Dahi Ren mengerut mendengar komentar Samuel. gaya bicaranya teramat mirip dengan dosen pembimbingnya, sampai-sampai ia pikir saat ini dosennya itu yang berbicara.

“Aku juga lulusan sekolah seni rupa kalau kamu penasaran. Tapi aku sadar bakatku bukan di sana dan beralih menjadi model.”

Cowok itu duduk di sebelah Ren dan mengambil bukunya. Meneliti setiap gambar yang ada di buku itu. Lalu mengembalikan padanya. Kemudian berbaring di sampingnya.

“Kamu lebih cocok mengambar manusia dibanding alam. Kenapa tidak mencobanya? Mumpung ada model nganggur di samping kamu.”

“Kamu mau membayar berapa untuk mengambar badan kamu yang jelek itu?”

“Tentu saja gratis, karena aku hanya membantumu di sini. Dan jangan coba-coba mengusirku dari sini. Aku sama berhaknya dengan dirimu.”

Ren tidak akan mengusir Samuel, ia lebih senang dia yang menyingkir. Omongan Samuel amat tidak masuk akal. Dosennya saja menganggap lukisan impressionistnya lebih baik dibanding … . Ia sudah membungkuk hendak bangkit, tapi Samuel dengan seenaknya mendorongnya kembali duduk. Dan ia terjatuh begitu saja, padahal Samuel mendorong sambil tetap berbaring.

“Kamu tidak mau aku tiduran di pahamu kan?” ancam Samuel, lalu kemudian memerintahnya untuk mulailah mengambar.

Ia tidak berani melawan kata-kata Samuel. Cowok ini pasti akan melakukan apa yang dikatakannya tadi. Bah, seandainya tubuhnya lebih besar dari Samuel, dia pasti berani melawan cowok ini.

Ren mulai menggambar struktur Samuel, dan seperti tadi, ia kembali masuk dalam dunia sendiri. Menarik lengkungan, garisan dan coretan di atas kertas. Melupakan waktu dan ruang.

Menggambar Samuel lebih mudah dan lebih cepat. Seluruh aura Samuel berwarna   coklat kemerahan ada sedikit hitam. Tapi kebanyakan merah. Rasanya berbeda ketika ia mengambar Ben, Ben memiliki banyak warna walau ungu gabungan antara biru dan merah di berbagai tempat.

Kenapa juga ia harus memikirkan Ben di saat seperti ini?

Setelah menorehkan warna terakhir, Ren merobek gambarnya dan menyerahkan pada Samuel. “Puas?” tanyanya, sudah tidak ada kemarahan. Ia merasa lebih mengenal Samuel sekarang setelah mengambar cowok itu.

“Jadi menurut kamu aku berwarna coklat?” tanya Samuel yang sekarang terduduk dan memandang ke arah Ren. Ia pikir dirinya berwarna kuning keemasan. Seperti dugaannya, Ren menarik sesuatu dari objek yang digambarnya. Cewek itu tidak hanya mengambar, tapi Ren melukis seperti menceritakan tentang dirinya. Bahkan luka kecil di pelipisnya tidak luput dari mata Ren. Walau ia digambar sedang berbaring di atas pasir, tapi ia seperti melihat hempasan ombak dan tiupan angin juga yang memang amat ia nikmati tadi.

“Ini untukku kan.” ia melipat gambar tersebut dan memasukannya ke kantong kemeja tangan pendeknya. “Masih perlu gambar lain? Aku bisa berpose untukmu kalau kamu mau.” ucap Samuel semangat.

“Tidak usah, aku tidak suka mengambar manusia.” tolak Ren. Ia tidak suka mengambar sesuatu yang memiliki banyak emosi dan bisa berubah-rubah. Karena ia tidak akan pernah puas pada hasil karyanya jika ia tidak bisa menangkap jiwa sang objek.

Samuel mengulurkan tangannya, “Ayolah, kamu tidak takut lagi padaku kan? Setelah kejadian kemarin?”

Ren memandang tangan yang terulur itu, berpikir cukup lama, sampai akhirnya memutuskan kalau Samuel dapat dipercaya. Ia meletakkan tangannya di sana dan berdiri dalam satu tarikan. Kepala menabrak dada bidang Samuel, membuat ia sedikit sempoyongan. Tapi Samuel dengan siggap menopang pinggangnya, membuat ia kembali berdiri dengan tegak. Hanya saja, jarak mereka terlalu dekat sekarang. Ren bahkan bisa merasakan perut Samuel yang keras berotot menempel di dadanya. Kedekatannya dengan Samuel membuat Ren mengingat Ben. Mengingat kehangatan tangan Ben dan pelukan cowok itu.

Melihat cewek itu tertegun dalam pelukannya hanya membangkit hasrat Samuel. Ia hanya melakukan apa yang biasa ia lakukan ketika ada seorang perempuan dalam pelukannya. Menariknya lebih rapat dan menciumnya. Melihat Ren tidak mendorongnya, ia semakin berani dan menekan bibir Ren lebih dalam, memaksa cewek itu membalas ciumannya.

PLAAAAKKK.

Ren menampar Samuel. Butuh beberapa saat untuk menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Samuel adanya, karena ia sempat berpikir kalau dirinya ada dalam pelukan Ben. Dadanya naik turun karena emosi.

“Dan kamu bilang kamu bisa dipercaya?” tuduh Ben mengulang ucapan cowok itu.

Samuel benar-benar tidak bisa ditebak. Ia lagi-lagi salah menilai cowok itu. Samuel malah menyeringai padanya dan terawa.

“Apa yang lucu?!”

“Kamu, Park Soe Ren. Kamu yang lucu. Kamu cewek paling galak yang pernah aku temui tapi sekaligus cewek yang paling tidak bisa menjaga diri kamu. Aku tidak tahu bagaimana orang lain menilai kamu, tapi untukku, kamu cewek yang tidak bisa diajak bermain. Sekali-sekali santailah sedikit. Hidup terlalu singkat, jadi kamu harus menikmatinya selagi bisa.”

“Dan maksudmu dengan bersenang-senang…?”

“Berpacaranlah denganku, kamu akan mengerti nanti.”

“Teruslah bermimpi Samuel!” maki Ren. Dasar cowok gila. Ia meninggalkan pantai, berjalan kembali ke cottage. Derai tawa Samuel masih terdengar di belakangnya. Ia ingin sekali melempar sesuatu ke kepala cowok itu. Sayang tidak ada apa-apa di sana selain pasir yang banyak. Ia tidak bisa melempar pasir.

Oh, tentu saja bisa.

Ia melepas kaos yang dia kenakan. Menyisakan tank top hitamnya. Kemudian mengunakan kaos itu untuk membungkus  pasir. Tawa Samuel masih terdengar dan cowok itu sedang menghadap ke arah pantai, membelakanginya.

Ren mengayunkan kaos berisi pasir tersebut memutarnya seperti ketapel kemudian melepasnya tepat mengenai punggung Samuel.

“BRENGSEK!! Ren!! Jangan kabur!” teriak Samuel

Tentu saja Ren tidak menuruti Samuel, ia berlari sekuat tenaga masuk ke dalam cottage. Sampai di depan pintu cottage, Ren mengedornya. Entah kenap pintu itu terkunci.

“Darimana kamu?” tanya Gina yang membukakan pintu.

Pertanyaan itu tidak keburu dijawab Ren.Samuel sudah datang dengan kaosnya dan sepertinya juga sudah diisi oleh pasir.

“Kamu tidak akan melempar itu di sini kan?” tanya Ren.

Samuel tersenyum licik dan melempar ‘kantung pasir’ buatannya ke arah Ren, tapi cewek itu menunduk, dan ‘kantong pasirnya’ mendarat ke muka Gina, menumpahkan isinya ke badan sepupunya itu dan sebagian lagi mendarat di kepala Ren dan pintu masuk cottage.

“Nah sekarang impas.” erang Samuel senang.

Teriakan yang pertama terdengar dari mulut Gina, dan diikuti oleh Yunna yang baru bergabung. Ren cukup mengerti, tidak ada orang yang akan senang jika rumahnya dibanjiri oleh pasir. Pasti sulit membersihkannya karpet yang sekarang dipenuhi oleh pasir.

“Maaf, Yunna, aku dan Ren akan membersihkan tempat ini. Maaf sekali lagi.” ucap Samuel sambil menarik Ren dan menyuruh cewek itu ikut membungkuk minta maaf. Ren harus ikut bertanggung jawab karena sudah membuatnya melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti tadi.

“Sebaiknya kalian berdua merapikan tempat ini. Aku tidak membawa pembantu untuk membersihkan tempat ini.” tukas Yunna kesal pada dua orang itu. Dan mereka kembali saling menuding dan menyalahkan di depan Yunna, membuat kepalanya pusing. Untung Micky menariknya masuk dan menenangkannya. Kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan pada Samuel dan Ren.

Keadaan di dalam juga sama memusingkannya. Gina menangis karena matanya perih kemasukan pasir. Ben dan Keiko sedang membantu membersihkan tubuh Gina. Kondisinya memang cukup berantakan tapi rasanya tidak perlu sampai menangis. Ia lihat tadi kondisi Ren juga parah, tapi kelihatannya cewek itu tidak terlalu peduli kalau tubuhnya dipenuhi pasir. Malah sekarang sudah bersiul-siul merapikan pintu masuknya.

Ia menarik Micky dan berbisik, “Kamu tahu, aku lebih suka pada Ren. Cewek itujauh lebih menyenangkan dibanding Gina. Ky, seharusnya kamu memanggil Gina tuan putri dan bukannya aku.”

“Well, Gina memang seperti putri karena terlihat lemah dan harus dilindungi. Tapi kamu Mi Casa, kamu memiliki keangkuhan putri yang sesungguhnya dan aku cukup setuju. Ren memang jauh lebih menyenangkan dibanding Gina. Tapi setahu aku, Ben lebih suka dengan yang tipe Gina itu. Seorang cewek yang membuatnya melakukan segalanya.”

Ucapan Micky tidak salah. Tipe cewek yang disukai Ben adalah yang sperti Gina itu. Karena menurut Ben, seorang perempuan seharusnya menyukai dan menikah dengan cowok yang lebih mencintainya. Atau dengan kata lain, seorang cowok harus melindungi dan lebih banyak berkorban untuk ceweknya.

Advertisements

One thought on “Into Your Arm – Chapter 14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s