Into Your Arm – Chapter 15

Waktu cepat sekali berlalu jika banyak kegiatan yang dilakukan dan jika kegiatan itu dilakukan dengan banyak orang. Tidak terasa mereka sudah menghabiskan 2 malam di pulau dan belum sekalipun menceburkan diri ke dalam laut. Dan semua itu karena Yunna melarang mereka. Pacar Micky itu berkata kalau menikmati laut itu harus tepat di tengahnya.

Oleh karena itu, subuh di hari ketiga mereka, 4 pasang itu naik ke dalam yatch milik Yunna dan berlayar ke tengah laut.

“Kalian tidak akan menyesal. Tapi sekarang, ijinkan aku kembali tidur. I need my beuty sleep.” erang Yunna, lali masuk ke dalam kamarnya dengan Micky.

Di dalam kapal ini ada 3 kamar tamu berikut kamar mandi dan jacuzzi di buritan depan. Sama sekali bukan perahu kecil dan murahan.

Ren tidak bisa kembali tidur jadi dia duduk di pinggir buritan, kembali melakukan aksi coret-coret. Ia tidak mengharapkan ada yang menemaninya tapi kalau ternyata ada, dan orang itu Ben. Ia tidak menolak.

Sejak malam itu, mereka belum pernah berbicara lagi, bahkan saling menyapa pun tidak. Dengan adanya Gina di sisi Ben terus dan dirinya yang sibuk menghindar dari Samuel. Mereka nyaris tidak saling bersinggungan.

“Hai….” sapa Ben sebelum duduk di samping Ren. Ia sudah terlalu sadar untuk kembali tidur. Dan mungkin ini satu-satunya kesempatan untuknya bisa berbicara dengan Ren. Walau cewek itu terkadang melintas di sekitarnya tapi ia merasa amat jauh.

“Hai, tidak tidur?”

“Kurang kamar. Selain itu, kapan lagi bisa menikmati udara segar seperti ini.”

“Walaupun amis?”

“Walaupun amis.” jawab Ben sambil tersenyum.

Makin mengenal Ren, ia makin merasa lebih mudah untuk berbicara dengan cewek ini deibanding dengan Gina. Gina memang pendengar yang baik, tapi topik yang bisa mereka bahas sangat terbatas. Kalau tidak mengenai musik, maka mengenai kehidupan mereka.

Sejauh ini ia tidak pernah bertengkar dengan Gina. Hubungannya sangat datar, sampai kadang ia merasa bosan. Sedangkan jika dengan Ren, ia bisa berdebat semaunya. Membicarakan banyak hal yang tidak mungkin dibicarakan olehnya dengan Gina. Seperti mengenai bau amis ini.

“Menurut kamu, kenapa air laut rasanya asin?” tanya Ben asal. Ia hanya senang melihat dahi Ren mengerut kebingungan dengan pertanyaan bodohnya.

“Kamu ingin aku menjawab serius?”

“Apa saja? Aku hanya ingin tahu apa yang kamu pikirkan mengenai asin dan amis ini.”

Ren meletakan pensil dan melipat bukunya, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi pertanyaan sederhana dari Ben ini menurutnya lebih menarik dari pada mengambar. Satu lagi hal yang tidak pernah terjadi dalam hidup Ren.

“Asin karena banyakk endapan. Kamu pikir saja sendiri kalau semua sampah mendarat di dasar laut ini, belum lagi mahluk hidup yang mati. Amis karena…. entahlah…”

“Amis karena putri duyung lagi pada mens…” ucap Ben kemudian tertawa bodoh.

Ren ingin sekali menjitak Ben. Cowok ini kelewatan konyol. Putri duyung katanya… Ia ikut tertawa, setelah membayangkan ratusan putri duyung, PMS bersamaan dan membuat  udara dipenuhi bau amis.

Ben mengulurkan tangannya untuk menyelipkan rambut Ren ke balik kuping Ren. Sedari tadi ia merasa terganggu dengan rambut nakal yang terus menari-nari ditiup angin.

“Terima kasih.” ucap Ren lalu kembali menatap ke arah laut.

Ia merasa jengah dengan keakraban tiba-tiba dari Ben. Ia merasa kesulitan bernafas padahal angin terus bertiup dan menawarkan kelegaan.

Ren menetup matanya, mendongkakan wajahnya ke langit, membiarkan siraman sinar matahari menghangatkan dirinya. Walau ia memejamkan matanya, ia masih bisa merasakan kehardiran Ben. Ia bisa melihat, cowok itu ikut mendongkak, ia bisa merasakan senyuman Ben. Dan ia bisa merasakan cowok itu mendekatkan wajahnya ke Ren. Ia membuka matanya dan mendapati wajah Ben hanya bertaut beberapa cm.

“Jangan menutup matamu kalau ada di sekitar cowok Ren. It’s provoking….” tegur Ben kemudian bangun dan masuk ke dalam geladak.

Lagi-lagi dia nyaris mencium Ren. Kenapa dengan dirinya belakangan ini. Ia bahkan lebih ingin menghabiskan waktu dengan Ren dibanding dengan Gina. Ia lebih khawatir dengan keadaan Ren ketika tertimpuk pasir dibanding dengan Gina yang sudah terisak-isak. Ini tidak benar. Pacarnya adalah Gina, bukan Ren.

“Kamu sudah bangun??” tanya Ben ketika melihat Gina sedang duduk di atas ranjang kamarnya. Cewek itu tidak menjawab, tapi wajahnya terliat pucat.

“Kamu mabuk laut? Ada yang sakit? Perlu aku ambilkan obat?” tanya Ben langsung panik.

“Tidak apa, bisa panggilin Ren, sepertinya aku datang bulan.”

Ucapan Gina membuat wajah Ben memerah. Ia terlalu berlebihan dan panik. Kalau hanya datang bulanan, memang lebhih baik jika Ren yang membantu Gina sekarang.

Ia keluar dan mencari cewek itu. Ren tidak ada di tempatnya tadi. Ia mengelilingi kapal, dan menemukan Ren sedang berbicara dengan Samuel. Kapan cowok itu keluar? Ia tidak jadi memanggil Ren karena sepertinya cewek itu sedang bicara serius. Tapi ia menghentikan langkahnya, karena penasaran. Ia berlindung di balik perahu karet dan memasang kupingnya.

“Kamu menolakku karena apa Ren?” tanya Samuel, ia tidak terima cewek ini menolaknya begitu saja. Selama ini tidak ada cewek yang menolaknya. Dia adalah Samuel, cowok dengan penampilan sempurna dan uang berlimpah.

“Aku tidak bisa berpacaran denganmu.” jawab Ren singkat, ia tidak merasa nyaman ditarik ke tempat sepi seperti ini berduaan dengan Samuel.

“Yah, aku sudah dengar itu. Tapi kenapa? Ada cowok lain yang kamu suka?”

“Tidak ada. Dan apa urusannya dengamu kalau seandainya memang ada yang aku suka? Yang penting aku tidak suka padamu.”

“Kamu tidak suka padaku? Kalau masalah sikap aku yang menyebalkan, maaf deh, aku terpaksa melakukan itu supaya kamu risih. Tapi aku bisa menjadi amat manis kalau memang aku mau.”

“Aku tidak tertarik.” ujar Ren.

Samuel menyeringai, penolakan Ren tidak berarti apa-apa untuknya. Dia tidak memerlukan persetujuan cewek ini untuk menjadikannya pacar. Ia tahu kelemahan Ren dengan pasti. Dia tidak bisa menolak permintaan orang jika dipaksakan padanya. Sama seperti cewek itu tidak bisa menolaknya ketika diculik dan dibawa ke airport.

“Jangan salah paham, aku hanya perlu kita pergi kencan beberapa kali, aku butuh seseorang untuk mengusir lalat-lalat penganggu. Jadi anggap saja kamu membantuku. Aku akan memberi bayaran. Kamu perlu uang kan?”

Ren mengedik mendengar ucapan Samuel. Cowok ini terlalu menuntut bahkan bersedia berbohong hanya untuk membuatnya menyetujui keingannya. Mana mungkin dengan tiba-tiba, Samuel punya banyak lalat yang menganggunya. Cowok itukan gahar, mana mungkin ada cewek gila yang mengejar-kejarnya setelah dipelototi olehnya.

“Kamu gila.” tolak Ren, ia berbalik badan. Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan diantara mereka. Ia lebih baik kembali ke kamar.

Samuel menangkap tangan Ren dan menahannya, “Kamu tidak akan menolak permintaanku. Aku akan membayar 10,000 won per jam dan kamu boleh menulis persyaratan lainnya. Aku betul-betul butuh bantuan kamu.”

Ren menepis tangan Samuel, lalu menatap wajah Samuel, mencari tanda-tanda jika cowok itu berbohong, tapi tidak ada yang meragukan dari Samuel. Ia mendesah dan berkata, “Kalau kamu memang butuh bantuan, aku akan membantumu. Simpan uangmu.”

Samuel memeluknya dan memutar-mutarkan dirinya. Membuat ia mabuk dan marah-marah. Lalu meninju cowok itu. Bukannya mengaduh, Samuel malah tertawa kegirangan.

Dari kejauhan, Ben mengerang dalam diam. Ia tidak tahu kalau bisa merasa sesakit itu mendengar Ren berpacaran dengan Samuel atau dengan cowok manapun. Yang lebih menyebalkan lagi, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia punya Gina, benar, cewek itu sedang kesakitan.

Kemudian, Ben mendengar Gina memanggilnya, karena terlalu cepat berbalik badan, Ben menabrak kapal karet dan terjatuh. Menimbulkan suara yang cukup kencang.

“Ben…” panggil Ren lagi. Ia berjalan menuju pacarnya itu, niatnya ingin membantu Ben berdiri. Tapi ia merasa oleng karena kurang darah dan goyangan di kapal tidak membantunya. Ia tidak berhasil sampai di tempat Ben tanpa terhunyung dan akhirnya pingsan.

Ben panik luar biasa melihat Gina pingsan. Sambil berteriak memanggil Jack, ia membawa Gina kembali ke kamar. Membaringkan cewek itu. Kemudian keluar lagi, mengedor kamar Jack. Satu-satunya yang mengerti pengobatan hanya cowok itu.

“Ada apa?” tanya Jack yang masih bertelanjang dada dan rambutnya berantakan. Ben sempat melihat ke dalam sebelum Jack menutup pintunya. Keiko sedang memakai baju. Ben langsung bisa menebak, apa yang baru saja terjadi di dalam. Ia tersenyum penuh arti dan siap meledek Jack. Tapi kemudian teringat tujuan awalnya mencari Jack.

“Gina pingsan.” ucap Ben seperti mengucapkan Gina mandi. Ketegangannya sudah berlalu. Ia yakin Gina tidak mungkin sakit atau apa.

Dahi Jack menyerengit, Gina pingsan dan Ben tidak khawatir? Ini aneh! Tidak biasa! Ia masuk ke kamar Gina, memeriksa kondisi cewek itu. Membangunkannya dengan menekan philturm Gina. Cewek itu langsung tersadar.

“Kamu tidak apa? Mabuk laut?”

Gina menggeleng, “Datang bulan, mungkin kurang darah.”

“Tunggu sebenatar, Keiko sepertinya membawa pain killer dan obat lainnya.” ucap Jack dan beranjak dari kasur.

“Aku ada obat penambah darah.” ucap Ren menghentikan langkah Jack.

Ben mengerti sekarang kenapa Gina memintanya memanggil Ren. Cewek itu membawa obat yang dibutuhkannya. Dari mana Gina tahu? Mereka memang berteman sih, jadi mungkin saja, Ren yang memberitahu pada Gina. Ia memutuskan tidak ada gunanya memusingkan hal kecil itu.

Ia mengambil obat dari tangan Ren. Jari mereka bersentuhan. Hanya sekejap, tapi perasaan hangatnya terus tertinggal. Ini buruk, erang Ben. Ia bahkan tidak bisa konsentrasi mengurus Gina tanpa sesekali mencuri pandang pada Ren. Memberhatikan gerak bibir Ren ketika menceritakan kejadian tadi pada pasangan Yunna dan Keiko.

Gina kembali tertidur setelah meminum obat. Tampaknya dia betul-betul kesakitan. Ben tinggal di sana menemani Gina, walau sebetulnya ia lebih ingin keluar mengikuti Ren dan Samuel. Ia tidak suka jika dua orang itu berdekatan.

Ia menatap Gina yang tertidur pulas. Menilai kembali apa yang salah dengan hatinya. Gina amat sempurna. Seluruh hal yang diinginkannya dari seorang pacar, dimiliki oleh Gina. Cewek cantik dengan rambut panjang, bisa bernyanyi, beragama dan sangat lembut. Gina tidak pernah marah, Gina juga tidak pernah berdebat dengannya. Apa yang salah dengan dirinya?

Advertisements

4 thoughts on “Into Your Arm – Chapter 15

    • hai, met kenal, thank you uda mau baca
      seneng banget bisa bikin penasaran, XD
      anyway kalau mau baca juga novel sebelumnya, yang With All My Heart, recommend banget

  1. Pingback: Link to novel Into Your Heart « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s