Into Your Arm – Chapter 8

Gina menghampiri Ben ketika mendapati cowok itu berdiri di luar aula. Agak lebih cepat dari janji mereka, tapi tidak masalah. Ia memang sudah malas lama-lama di kampus. Bagian dia sudah lama selesai. Ia memeluk lengan Ben dan tersenyum pada cowok itu. Rasanya menyenangkan memiliki cowok ganteng dan keren seperti Ben. Ia bisa melihat tatapan iri orang-orang yang melihatnya. Continue reading

Advertisements

Link to novel Into Your Arm

Synopsis:
Ben tidak pernah sempat untuk berpacaran, alasannya cukup sederhana, ia tidak punya waktu. Sebagai, vokalis dan pemusik dari grup Fox-T, ia sibuk dengan berbagai kegiatan di dalam dan luar negri.
Tapi kalau menurut teman-temannya, Ben tidak berpacaran karena selera Ben terlalu tinggi. Ben menyukai cewek cantik, dengan penampilan dan pembawaan yang anggun. Cewek yang juga jago bernyanyi, berrambut panjang dan memiliki senyum malaikat.
Ben paling benci dengan cewek urakan, tomboy dan jorok.
Ketika Ben kembali ke Korea, ia bertemu dengan 2 perempuan sekaligus. Yang satu langsung dijadikan pacar dan satu lagi dijadikan musuh. Semua terjadi dalam waktu singkat karena Ben memang bukan tipe orang yang bertele-tele.
Tapi apa jadinya, jika ternyata wanita idaman tidak selalu seindah mutiara, dan jika musuh bebuyutan berubah menjadi menyenangkan? Continue reading

Into Your Arm – Chapter 7

Terkutuklah udara dingin, karena esok paginya Ren mengigil terus menerus. Ia tidak berani menutup jendela semalam padahal jendela itu persis di atas sofanya. Semua salah Ben! Cowok itu malah masih asyik tidur ketika Ren bangun. Ia harus ke kampus hari ini, ada lukisan yang harus dinilai sebelum masuk pameran. Bukan pameran tunggal, ia belum sehebat itu. Tapi ini pameran pertamanya. Jadi buru-buru Ren memasukan buku sketsanya dan meninggalkan rumah. Ben bisa pulang sendiri, karena ia sudah meninggalkan kunci serep rumah dan catatan kecil untuknya. Continue reading

Into Your Arm – Chapter 6

Dan memang seharusnya Ben sudah berada di rumah, bukannya dimana ini? Ia bahkan tidak tahu ada di tempat apa. Jorok dan bau. Semua gara-gara cewek bar-bar itu. Kalau Ren tidak tiba-tiba meloncat ke depan mobilnya. Ia tidak mungkin sampai terjeduk dan pingsan. Ia meraba keningnya, astaga kenapa ada perban. Ia menengokke kiri dan ke kanan. Mencari cermin. Tapi di sekelilingnya hanya ada buku, baju dan patung-patung yang tidak jelas bentuk dan namanya. Ia mengenali beberapa diantaranya berbentuk orang, tapi sepertinya belum sempurna. Continue reading

Into Your Arm – Chapter 4

Ben memandangi baju-baju yang bertebaran di ranjangnya. Sudah setengah jam ia memelototi mereka, tapi Ben masih juga tidak bisa memutuskan akan mengenakan yang mana. Ini konyol sekali. Seandainya ia punya fashion sense sebaik Micky, ia pasti bisa lebih mudah memutuskan untuk mengenakan jeans dengan sweater atau kemeja dengan pantalon. Biasanya ia tidak pernah peduli dengan apa yang harus ia kenakan, tapi khusus hari ini, ia dibuat pusing dengan isi lemarinya. Continue reading

Into Your Arm – Chapter 3

Ben pergi meninggalkan Ren yang masih mematung tidak mengerti apa yang terjadi. Ren sudah sengaja menghampiri Ben hanya demi secarik informasi yang diinginkan cowok itu. Bahkan meninggalkan teman-temannya dan mencari Gina, menahan rasa malunya untuk menanyakan nomor telpon cewek sombong itu. Dan apa tadi yang Ben katakan? Ia sudah mendapatkan sendiri nomor telpon Gina. Bah, memangnya dia orang kurang kerjaan apa dan mau bela-belain untuk mengurus hal ini jika bukan karena ia sudah berjanji pada Ben. Continue reading